Originali Bibliotheca

3 months ago
(Sumber: Zoë Peacers)
Zoë Peacers

by: Zoë Peacers

Bekalnya baru habis sepertiga Ia hanya menyentuh makanannya selama 5 menit sebelum terhanyut pada PC tablet di tangan kirinya selama 10 menit terakhir, menekuri informasi di sebuah blog dan keterusan menggeser halamannya. Wajahnya tampak serius.

“Sebentar lagi masuk, Sam. Makanan kamu masih banyak tuh.” Amanda mengingatkan setelah melihat jam yang menggantung tinggi di atas papan tulis.

Dennis mendengus setelah mengintip layar PC tablet Sam sambil menutup kotak bekalnya. “Kamu nggak bosan, ya?” tanyanya seraya memasukkan kotak bekal ke dalam tas lalu mengeluarkan botol minum. “Dengar, kamu pikir kita hidup di zaman apa? Ini abad 25, ilmu pengetahuan dan teknologi adalah segalanya. Tapi, kamu masih percaya mitos?” Dennis menegak minumannya. “Benar-benar nggak masuk akal.”

“Ini bukan mitos,” sanggah Sam sambil menaruh PC tabletnya di meja, berusaha fokus pada makanannya. “Kenapa ada artikel seperti ini? Pasti karena hal ini benar-benar ada, kan? Seenggaknya pernah ada.”

“Itu cuma teori. Nggak, itu cuma dongeng. Bahkan Teori Darwin lebih terasa masuk akal.”

Sam menggeleng pasrah. “Terserah, ya, Tuan Masuk Akal.”

Dennis membenarkan letak kacamatanya. “Manda, kamu percaya?”

“Hm?” Amanda menoleh dengan pipi mengembung menampung air. Setelah menelannya, gadis berambut lurus panjang poni rata itu mengangkat bahu. “Percaya nggak percaya. Gimana, ya… Percaya kalau ada suatu bangunan yang disebut perpustakaan, maksudnya yang berisi buku-buku, maksudnya buku-buku yang katanya terbuat dari kertas, rasanya seperti disuruh percaya dengan keberadaan makhluk raksasa yang disebut dinosaurus. Sejarah bilang mereka ada, tapi kita nggak pernah benar-benar lihat, nggak ada saksi hidup yang relevan untuk menceritakan tentang itu.” Amanda minum lagi.

“Dengar? Amanda yang seorang anggota pustakawan sekolah saja bilang begitu!”

“Itu karena dia pustakawan dari sebuah perpustakaan yang isinya arsip-arsip digital.”

“Tapi, seenggaknya banyak ditemukan fosil yang bisa mendukung teori keberadaan dinosaurus. Nah, coba buku yang dari kertas? Kita bahkan nggak tau kertas itu kayak apa. Katanya dari pohon? Tapi, kita juga nggak tau gimana prosesnya dari pohon bisa jadi benda yang bentuknya lembaran,” sambung Dennis yang didukung anggukan Amanda. “Nggak ada yang bisa membuktikan kalau Perpustakaan Murni itu benar-benar ada, Samudra. Seenggaknya di masa ini.”

“Soal dinosaurus, kalian harus sesekali wisata ke gua bersejarah yang ada lukisan manusia purbanya,” oceh Sam di sela-sela kunyahannya. “Lagian, kalian benar-benar merhatiin pelajaran sejarah nggak? Di pelajaran sejarah jelas-jelas ada materi tentang sejarah tulisan. Piktograf bangsa Sumeria, hieroglif Mesir, serat papyrus cikal bakal kertas, Gutenberg dan mesin cetaknya, …”

“Oke, stop! Kamu mulai lagi dengan obsesi terkait tulisan dan buku—buku kertas. Oke, sejarah mengatakan apa yang kamu cari selama ini ada. Tapi, sejarah juga mengatakan kalau buku kertas punya nasib yang sama kayak dinosaurus, sudah punah. Dan nggak seperti dinosaurus yang meninggalkan fosil, kertas buku cuma meninggalkan cerita. Aku belum pernah baca atau dengar berita ada arkeolog yang menemukan fosil buku atau kertas. Ini mirip UFO dan alien! Sejak berabad-abad lalu dunia sudah mulai membicarakannya. Banyak teori dan cerita dari para saksi tersebar di internet, entah itu benar atau rekayasa. Tapi sampai sekarang nggak ada kepastian apa mereka benar-benar ada.”

Sambil mengunyah dan tangan kanan yang sudah siap dengan satu suapan, tangan kiri Sam kembali merai PC tablet. “Ada yang menarik,” gumamnya. “Blog ini berisi tentang mitos, legenda, cerita rakyat…” Sam memasukan suapan ke mulutnya sambil menyentuh-nyentuh PC tabletnya. “Menurut salah satu artikelnya, di dunia ini ada satu perpustakaan—perpustakaan asli yang berisi buku-buku kertas, bukan rak-rak dengan milyaran arsip digital—yang terakhir. Perpustakaan Murni, satu-satunya yang tersisa di dunia. Coba baca.” Sam mengetuk layar PC tabletnya beberapa kali, kemudian keluar hologram yang menampilkan apa yang ada di layar. Dia menggeser benda elektonik tipis itu lebih dekat kepada Dennis lalu kembali melanjutkan makan.

Dennis mengamati hologram dari PC tablet itu dan membacanya cepat. Setelahnya dia menatap sahabatnya dengan tatapan mengasihani. “Mitos ini, kan, memang sudah lama ada di masyarakat, Sam.”

“Iya, aku tau. Tapi, aku penasaran. Artikel itu terlihat seperti penggalan kisah dari kitab.”

Dennis mengangguk-angguk pasrah. “Ya, terserah, silakan lanjutin pencarian Perpustakaan Murni khayalanmu itu. Tapi, jangan bilang aku nggak mengingatkan kalau kamu cuma mengejar ilusi.”

“Terima kasih peringatannya.” Sam tersenyum sambil membereskan peralatan makannya.

“Sam, di zaman sekarang siapa sih memangnya yang butuh buku atau yang di pelajaran sejarah disebut media cetak, yang fisiknya bisa memberatkan untuk dibawa-bawa saat sudah ada satu benda elektronik tipis yang bisa mengakses segalanya? Sejarah juga sudah menjelaskan sejak abad 22 segalanya berubah digital!” Dennis mengetuk layar PC tablet Sam sehingga hologram tadi menghilang.

“Mungkin nggak ada. Aku juga mungkin nggak butuh. Tapi, aku cuma merasa ingin membuktikan kalau buku kertas dan perpustakaan yang berisi buku kertas itu ada, masih ada. Dan aku merasa yakin kalau Perpustakaan Murni dan buku-buku kertas menyimpan lebih banyak hal, hal yang nggak bisa kita akses dari perpustakaan dan buku-buku yang ada di internet.”

“Misalnya?” Amanda tertarik. Dia menopang dagu dengan salah satu tangan.

“Naskah otentik proklamasi kemerdekaan Indonesia. Yang ditulistangan oleh Presiden Soekarno.”

Dennis menepuk dahi. “Kalau kamu mau lihat, di internet juga ada.”

Sam menggeleng. “Internet bisa diakses siapapun, dimanapun, kapanpun. Sesuatu menjadi berharga karena sulit didapatkan. Yang membuat sebuah tulisan menjadi berharga selain tulisan itu sendiri, adalah benda yang disebut kertas.”

***

Abad 25, sebuah masa di mana teknologi sudah semakin canggih, terutama dalam bidang digital. Di masa ini, tidak ada buku yang terbuat dari lembaran kertas. Semuanya adalah e-book. Dan tempat yang disebut perpustakaan pada masa ini, adalah sebuah ruangan besar yang berisi rak-rak yang meyimpan e-book dalam bentuk compact disk (CD). Meja perpustakaam juga dilengkapi alat pemutar CD, mirip PC tablet, bisa memunculkan layar dalam bentuk hologram.

Pada masa ini, buku yang terbuat dari kertas hanyalah mitos belaka. Sejarah memang menjelaskan bahwa benda tersebut pernah ada di masa lampau. Tapi, tidak ada bukti nyata yang dapat mendukung pernyataan tersebut membuat masyarakat pada masa ini megabaikannya dan menganggapnya sebagai mitos.

Salah satu mitos yang terkenal dan membuat Sam tertarik adalah sebuah cerita tentang keberadaan perpustakaan terakhir. Konon perpustakaan ini adalah satu-satunya yang tersisa di muka bumi, yang menyimpan buku-buku dalam bentuk aslinya. Buku-buku yang terbuat dari kertas. Mitos ini mengatakan bahwa perpustakaan tersebut berada di sebuah pulau terpencil di utara. Orang-orang menyebutnya Perpustakaan Murni.

***

Sudah lama Sam memperhatikan anak perempuan itu. Mungkin ada setahun, sejak masih di kelas 10. Duduk paling belakang, di pojok dekat jendela, membuat Sam harus menoleh ke kiri belakang hanya untuk melihatnya. Anak perempuan itu sedang melihat ke luar jendela. Penampilannya memang cukup menarik perhatian, anak itu selalu memakai jubah bertudung di luar seragam sekolahnya. Sejak masuk di kelas 10 pun anak itu tidak pernah melepas tudung dari kepalanya. Pernah ada yang bertanya, tapi anak itu mengaku cahaya matahari dan kesehatannya memiliki hubungan yang buruk.

Amanda memajukan tubuhnya, menopang kepala dengan satu tangan sambil tersenyum jahil, tangan kanannya yang bebas melambai kepada Sam. Anak laki-laki itu terkejut ketika Amanda menghalangi pandangannya. Di sampingnya, Dennis juga memajukan tubuh sambil menaruh kedua tangan di atas meja.

“Jadi, cuma seorang Sevira Norterina yang bisa mengalihkan seorang Samudra Javasean dari obsesinya terhadap Perpustakaan Murni,” gumam Dennis sedikit sinis.

“Sssttt! Apaan sih?!” Sam menoleh cepat kepada Dennis. Rasanya dia ingin menjahit mulut sahabatnya itu.

Amanda melirik sekilas teman sebangkunya dengan senyum sebelum mengambil tasnya dan pindah ke bangku di depan meja Sam dan Dennis. “Dia cukup pendiam dan nggak banyak berinteraksi dengan anak-anak lainnya. Aku kalau ngobrol sama dia saja cuma seperlunya. Memang tertutup, sih, anaknya.” bisik Amanda. “Tapi, kadang aku tetap suka ajak dia kalau mau ke mana. Meski banyak ditolaknya.”

“Kayaknya bakal susah deketin dia. Sabar ya, sobat. Kisah cintamu di SMA mungkin nggak akan berjalan mulus.” Dennis manggut-manggut sambil menepuk pundak Sam, mengasihani.

“Apa, sih…” Sam menepis tangan Dennis dari pundaknya. “Jadi ke perpustakaan nggak?” Pertanyaan Sam dijawab dengan anggukan oleh kedua temannya.

Amanda berjalan kembali ke bangkunya. Kelas mulai kosong, tapi Sevira masih betah di bangkunya, tidak ada tanda-tanda persiapan pulang. Entah apa yang dia amati di luar sana dari sudut itu.

“Kami mau ke perpustakaan. Mau ikut?” ajak Amanda.

Sam memelototi Amanda. Yang dipelototi tidak peduli.

Sevira menoleh, matanya berbinar-binar. “Perpustakaan?”

***

Selagi Sam, Dennis, dan Amanda menelusuri rak-rak, Sevira hanya terdiam kikuk di salah satu meja. Gadis itu hanya menatap lurus ke arah pemutar CD di meja. Tidak lama kemudian, ketiga orang itu kembali dengan membawa beberapa kotak CD.

“Sevira, tolong putar ini,” ujar Dennis menggeser beberapa tumpukan kotak CD ke arah Sevira. Dari posisinya memang gadis pendiam itu yang paling dekat dengan pemutar.

Sevira membuka kotak CD, setelahnya terdiam semakin kikuk.

“Kamu kenapa?” tanya Amanda.

Sam melirik Sevira dari balik PC tabletnya. Sebenarnya, yang ada keperluan adalah Dennis. Tapi, sebagai teman yang baik, Sam dan Amanda membantu. Jika tidak begitu, setidaknya menemani.

“Saya… nggak tau cara menggunakannya.”

Si Kacamata, Si Poni, dan Si Maniak Buku Kertas-Perpustakaan Murni terdiam. Dennis mengatupkan mulutnya yang terbuka karena tidak percaya.

“Hah?!” Hanya itu yang berhasil Dennis keluarkan.

Sam menyimpan PC tabletnya, berdiri dan beralih ke sebelah Sevira.

“Kamu tinggal tekan tombol ini agar terbuka. Simpan CD-nya di situ. Tutup. CD-nya akan otomatis terputar. Sekarang tinggal alihkan ke mode hologram.” Sam berniat kembali ke tempatnya semula di samping Dennis setelah membantu Sevira.

“Caranya gimana?”

Sam mendadak berhenti bergerak.

“Sevira, kamu berasal dari zaman batu, ya?” tanya Dennis terang-terangan, membuat Amanda memelototinya.

“Maaf, saya cuma nggak terbiasa. Cuma pernah sekali ke sini, waktu baru masuk pas kelas 10.” Sevira tertunduk.

“Hah?!”

“Sudah, nggak apa-apa. Gampang, kok. Ketuk dua kali di layarnya, tuh hologramnya keluar kan.” Kali ini Amanda yang membantu.

Sam sudah kembali ke tempatnya. “Tuh, Den, kerjain tugasmu sana.” Sam menunjuk hologram yang sudah tampil dengan dagunya.

“Omongan Dennis nggak usah dimasukin ke hati, ya? Dia nggak sejahat itu, kok.” Amanda membisiki Sevira. Gadis pendiam itu hanya mengangguk.

Baru 30 menit, Sevira memutuskan pulang duluan karena dia sendiri bingung apa yang ingin dilakukannya di tempat itu. Yang lain pun tidak keberatan karena tidak enak juga gadis itu hanya diam dan melamun.

Dennis meregangkan tubuhnya setelah 10 menit kepergian Sevira. “Dia itu gaptek, ya?”

“Nggak boleh gitu, Dennis. Jangan mentang-mentang anak olimpiade komputer, deh,” gumam Sam yang masih fokus pada layar PC tabletnya.

“Iya, yang naksir, sih, ngebelain. Eh, itu masa lalu, ya, di kelas 10. Sekarang olimpiade ma-te-ma-ti-ka! Tapi, serius, dia nggak bisa masang CD ke pemutarnya?”

Amanda mengedikkan bahu. “Aku nggak terlalu tau, ya. Tapi kalau kuperhatikan, waktu memakai PC tabletnya sendiri di kelas, dia kayak kebingungan gitu.”

“Dia asalnya dari mana, sih?” tanya Dennis lagi. “Gaya bicaranya juga aneh, pakai ‘saya’.”

“Katanya sih dia dari luar Jakarta, mmm… luar pulau Jawa! Tapi nggak tau dari mana,” jawab Amanda.

***

“Duluan, sana duluan!!!” Sam mengusir Dennis—Amanda jadi ikut terbawa—karena terus menentang rasa penasarannya terhadap keberadaan Perpustakaan Murni beserta buku-buku kertas.

“Kelas sudah kosong, lho. Sekolah juga sudah sepi. Kamu nggak apa-apa pulang sendirian?” Amanda mengingatkan.

“Nggak apa-apa, kalian duluan saja. Mumpung wifi gratis, nih.”

Dennis membawa tasnya dan berdiri. “Ya sudah, aku sama Amanda duluan, ya! Awas kekunci di sekolah!”

“Duluan, Sam!” tambah Amanda.

Sam terus berkutat dengan PC tabletnya hingga baterai benda itu lemah. Saat melihat jam di atas papan tulis, sudah hampir pukul lima sore rupanya. Sam mematikan PC tablet dan membereskan tasnya. Sebelum meninggalkan kelas, ia melihat ke luar jendela. Matanya membelalak begitu menemukan satpam mulai menarik gerbang sekolah, bersiap menguncinya. Sam langsung berlari meninggalkan kelasnya. Ia bergegas menuruni tangga. Tepat setelah anak tangga terakhir, saat akan berbelok, tiba-tiba saja sesuatu menghantamnya dengan keras. Sam terjatuh, sesuatu yang menghantamnya terjatuh.

Saat itulah mata Sam menangkap sesuatu di lantai. Sebuah buku yang terbuat dari kertas, tergeletak di antaranya dan seseorang di sana. Mata Sam terbelalak sekali lagi. Ia melihat benda yang selama ini hanya ditemukannya di internet.

“BUKU! ITU BUKU DARI KERTAS, KAN?!” Masih dalam posisinya yang tersungkur Sam menunjuk-unjuk benda yang tak begitu jauh darinya. Kemudian matanya menangkap siluet lain yang sedang berusaha berdiri sambil merapikan tudung di kepalanya.

“Sevira …?”

Sevira yang menyadari barangnya terjatuh segera meraih buku tersebut secepat kilat, mendekapnya di dalam jubah coklatnya yang sangat menarik perhatian. Setelah itu, Sevira segera berlari cepat, meninggalkan Sam begitu saja.

“Sevira, tunggu!!!”

Sam bangkit dan segera mengejar Sevira. Sayangnya, sampai di gerbang ia tidak menemukan siapapun. Dan gerbang sudah dikunci.

***

Sam hanya memandangi sup jagung yang ia beli seharga lima ribu rupiah di kantin dengan tatapan memelas.

“Dimakan, Sam. Dingin nggak enak,” suruh Amanda yang bakso tahunya sudah habis setengah.

“Amanda… kamu percaya aku, kan? KAMU PERCAYA AKU, KAN, KALAU AKU MEMANG MELIHAT BUKU YANG TERBUAT DARI KERTAS! PERCAYA, KAN?! PERCAYA, KAN, KALAU BENDA ITU MEMANG ADA?!” pekik Sam tiba-tiba. Sambil mengguncang-guncangkan bahu Amanda.

Amanda hanya mengangguk-angguk sambil berjengit mundur karena ngeri, Sam membuatnya terpojok di tembok. Meja yang mereka tempati memang yang dekat tembok.

“Percaya, kan, Manda?! Percaya aku, kan?!”

Dennis bangkit dari tempatnya di hadapan Amanda, meninggalkan batagornya yang hampir habis. Ia memposisikan diri di belakang Sam yang memojokkan Amanda lalu menariknya menjauh dari gadis poni yang terlihat tidak nyaman itu.

“Kamu pindah! Aku nggak mau Manda ketularan halusinasi kamu itu!” Dennis menarik Sam agar duduk di tempatnya sementara ia sendiri pindah ke bangku sebelahnya. Membuat Sam yang kini duduk berhadap-hadapan dengan Amanda. Tak lupa, Dennis menarik batagornya dan menaruh sup jagung Sam di depan pemiliknya.

“Itu bukan buku kali, tas kecil semacam pouch yang bentuknya kayak buku saja?”

“Amanda….. aku lihat sendiri pakai mataku. Buku itu terbuka, lembarannya terlihat—Ah, ya ampun, aku sudah berapa kali bilang, sih? Kalian masih saja nggak percaya!” Sam menepuk keningnya. “Dan Sevira sudah seminggu menghilang. Nggak masuk sekolah. Pasti ada hubungannya dengan kejadian itu!”

“Mungkin dia sakit. Dia kan musuhan sama matahari, bisa jadi lagi parah.” Dennis berpendapat.

“Nggak, dia menghilang, pasti ada sesuatu. Aku mau cari tau rumahnya, di mana dia tinggal, berasal dari mana dia. Ini mencurigakan.”

“Kok, ya, punya sahabat, tuh, hobinya ngurusin hal misterius,” Dennis mengeluh. “Manda, kamu, kan teman sebangkunya. Masa nggak tau dia ke mana?” sambungnya.

Amanda menggeleng. Sam mendesah dan mulai memakan sup jagungnya.

“Kok, aku ngerasa teringat sesuatu, ya?” Sam kembali berpikir, ia terhenti makan sup jagung karena merogoh ponselnya. Ia berkutat dengan ponselnya lalu membiarkannya di atas meja selagi menunggu koneksi sambil kembali makan.

Batagor Dennis sudah habis, Bakso tahu Amanda hampir habis. Sam kembali berkutat dengan ponselnya.

“Cepetan, ah! Bentar lagi bel, nih…” seru Dennis.

“Sebentar, sebentar. Menurut mitos, Perpustakaan Murni itu berada di sebuah pulau terpencil di utara. Dan mitos ini nggak cuma beredar di Indonesia. Lihat, artikel berbahasa asing juga ada yang mengulas mitos ini.” Sam menunjukkan ponselnya kepada Dennis dan Amanda.

“Originali Bibliotheca?” baca Amanda.

“Itu penyebutan internasional untuk Perpustakaan Murni,” jelas Sam lalu menarik ponselnya dari hadapan Amanda.

“Terus, di mana hubungannya Sevira Norterina sama Originali Bibliotheca?” tanya Dennis.

“Hmm… Tunggu, tunggu, rasanya nggak asing. Sevira… Sevira… Oh! Sebira! Atau Sabira! Kalian tau Pulau Sebira? Atau Pulau Sabira? Yang mana saja sama. Tapi, kalian tau, kan? Pasti itu! Pasti itu!” Sam memekik seperti baru dijatuhi wahyu dari Tuhan.

“Itu salah satu pulau di kepulauan seribu. Terus, kenapa?” ujar Dennis datar.

“Oke, gini. Pulau Sebira itu salah satu pulau di kepulauan seribu yang terletak paling utara. Ini sesuai dengan mitos yang bilang kalau Perpustakaan Murni itu terletak di sebuah pulau di utara. Dan kepulauan seribu itu, kan, pulaunya kecil-kecil. Pulau Sebira udah kecil, paling jauh juga di utara, cocok kalau disebut pulau terpencil di utara. Ya, kan?”

“Iya, terus—”

“Terus, hubungannya sama Sevira, coba perhatiin namanya, Sevira… Sebira… mirip kan? Dan nama belakangnya Norterina? Waktu zaman kolonial Belanda, pulau itu dijuluki Noord Wachter yang artinya Penjaga Utara—ya, karena letaknya. Perhatiin lagi, Noterina… norter… mungkin dari NOoRd wachTER? Atau Norter dari nort, north! Pokoknya nama belakangnya berhubungan sama utara! Nggak salah lagi, Sevira pasti berasal dari Pulau Sebira!”

“Imajinasimu luas banget, sih!” Dennis melotot.

“Aku yakin, Perpustakaan Murni itu pasti benar-benar ada! Dan pasti itu ada di sana, di Pulau Sebira, sebuah pulau terpencil di utara! Sevira berasal dari pulau itu, makanya dia punya buku dari kertas karena perpustakaan benar-benar ada di sana!”

“Terus, kamu mau apa?” timpal Amanda.

“Aku mau ke sana!”

“HAH?!” Dennis dan Amanda berseru berbarengan.

“Gila, ya, kamu? Tau sendiri Pulau Sebira itu paling utara Kepulauan Seribu. Malah lebih dekat dari Bangka Belitung, lho! Bisa berjam-jam ke sana! Mau naik apa?!” cerocos Amanda.

***

Subuh-subuh ketiganya sudah berada di pelabuhan Muara Angke. Para petualang, penjelajah, atau pedagang yang menggunakan kapal mungkin sudah berulang kali mengatakan bahwa samudra adalah tempat yang tak terduga, dan Samudra yang ini memang benar-benar tak terduga. Dennis dan Amanda sudah berusaha keras melarang sahabat mereka melakukan perjalanan gila ini. Meski begitu, sejam yang lalu keduanya mendapat telepon dari Sam yang mengatakan sedang bersiap untuk pergi. Sontak, panggilan itu membuat nyawa keduanya yang masih belum kembali langsung merasuki raga yang masih dirundung kantuk.

“Aku nggak minta kalian ikut, kok,” ujar Sam.

“Jangan gila, deh, Sam!” bentak Dennis. “Kalau kamu bukan sahabatku, aku sih bakal langsung seret kamu ke RSJ pas kita ketemu tadi.” Dennis melihat Amanda di sampingnya yang menggigil karena hembusan angin laut. “Kamu jangan ikut! Aku ikut cuma buat mastiin kalau sahabatku memang tolol!” Meski Dennis sangat menentang rasa penasaran Sam terhadap yang satu ini, tetap saja ia tidak bisa membiarkan sahabatnya pergi sendiri.

“Nggak! Aku tetap ikut! Bahkan kalau kamu nggak ikut, aku bakal tetap ikut Sam! Lagian Sevira teman sebangkuku, aku juga penasaran.”

“Oke, oke, ingat baik-baik, jadi aku di sini karena dua alasan. Yang pertama, untuk memastikan ketololan sahabatku yang laki-laki. Yang kedua, untuk menjaga sahabatku yang perempuan. Kalau dua alasan itu hilang, aku bakal lompat ke Laut Jawa dan berenang kembali ke sini.”

“Omong-omong kita naik apa ke sana?” Amanda ingat Sam belum membahas soal transportasi.

Sam melihat sekitar sampai akhirnya menemukan sesuatu. “Ah, itu dia! Ayo, kita akan menumpang perahu nelayan!”

“Hah?! Ya, mungkin para penjelajah itu benar, samudra bukanlah sesuatu yang baik,” Dennis mendesah. Ia dan Amanda mau tidak mau mengikuti Sam.

***

Mereka sampai saat matahari hampir tenggelam. Nelayan yang memberi tumpangan merupakan nelayan dari Pulau Harapan dan akan menjemput mereka esok hari.

“Jadi kita berkemah di pinggir pantai?” Dennis baru saja menurunkan bawaannya. Mereka membawa barang dan perbekalan selayaknya untuk berkemah.

“Nggak, kita jalan terus, kalau sudah malam baru berkemah.” Sam berjalan memasuki pulau.

“Oke.” Dennis kembali memakai tasnya dengan benar dan mengikuti Sam.

Mereka terus berjalan ke arah utara. Menurut Sam, jika pulaunya dikatakan berada di utara, pasti begitu juga dengan perpustakaannya. Langit semakin gelap hingga matahari akhirnya tenggelam di barat, tapi Sam belum berkeinginan untuk istirahat.

“Eh, berhenti!” seru Amanda yang jalan paling belakang. “Kayaknya kita sudah lewat sini tiga kali deh?” ia menunjuk sebuah bidang tanah bertuliskan ‘hello’. “Aku yang menulis itu tadi, 15 menitan yang lalu. Dan bentuk tangkai di sana, aku sudah lihat dua kali sebelumnya.” Kemudian ia menunjuk sebuah tangkai di sebuah pohon.

“Hah?! Jadi dua jam kita jalan dari tadi cuma mutar-mutar di tempat yang sama?!” protes Dennis.

“Kayaknya, sih, gitu,” lirih Amanda.

“Tapi, kompasnya nggak berubah kok dari tadi,” Sam menggoyang-goyangkan kompas di tangannya. “Lihat, utara tetap ke sana, kan?”

“Aku capek! Pengen istirahat dulu,” Amanda bersandar pada sebuah pohon.

Sam melihat arloji. “Baru juga jam delapanan. Nanti sajalah.”

“Kamu yakin mau lanjut? Ini sudah gelap lho. Dan dari tadi kita mungkin diisengin sama penunggu di sini.”

“Sejak kapan seorang Tuan Masuk Akal percaya hal nggak masuk akal?” ledek Sam membuat Dennis merengut kesal. “Sudahlah kita jalan dulu saja sampai ketemu tempat yang enak buat pasang tenda.”

Mereka kembali berjalan sampai akhirnya menemukan tanah lapang untuk membangun tenda. Setelah beristirahat sambil memakan perbekalan, tadinya Sam ingin kembali melihat-lihat sekitar—meski bilang sekitar yang dia maksud tentu saja arah utara—tapi Dennis melarangnya karena malam semakin gelap dan bulan tertutup awan. Pukul sepuluh Dennis menyuruh semuanya beristirahat agar bisa bangun pagi-pagi untuk melanjutkan perjalanan.

Saking antusianya Sam pada pencarian ini, ia kesulitan tidur. Ia dapat mendengar sendiri dengkuran halus Dennis dan napas tenang Amanda menandakan kedua sobatnya itu sudah terjun ke alam lain. Akhirnya Sam memutuskan keluar tenda, berpikir angin malam bisa membuatnya mengantuk. Ia menghangatkan diri di perapian. Kemudian angin berhembus, Sam melihat ke arah utara. Dalam pandangannya, tanamanan di kiri dan kanan jalan setapak di sana membuka jalan. Sam merasa terpikat. Ia menggeleng-geleng dan memukul-mukul wajahnya, menyadarkan diri dari ilusi.

Amanda terbangun ketika mendengar suara ranting patah. Tidak menemukan Sam di dalam tenda, gadis itu pun keluar. Ia melihat Sam berjalan ke arah utara.

“SAM!” panggilnya. “SAMUDRA!” Sam tidak menggubrisnya.

Cepat-cepat Amanda kembali ke tenda untuk membangunkan Dennis. “Dennis, Dennis bangun! Cepat bangun!”

“Hmm??” bukannya bangun, Dennis malah berbalik membelakangi Amanda.

“Ih, Dennis! Banguuuuuuuunnnnnnnnn!!!!!! Sam pergi ke arah utara lagi!!!” Amanda menarik Dennis, berusaha membuatnya terduduk.

“Udah gede, biarinin aja.” Dennis mengigau, matanya masih terpejam. Ia hampir merebahkan tubuhnya lagi jika saja Amanda tak menahannya.

“Ih, Dennis! Sam, nggak nyahut panggilan aku! Kalau dia kenapa-kenapa gimana?!”

Barulah saat itu mata Dennis terbelalak. “HAH?!” ia meraih kacamata di atas tasnya dan memakainya cepat. “Apa?! Sam?!”

Keduanya cepat-cepat keluar tenda. Dennis mendekati jalan setapak ke arah utara. Tidak terlihat sesosok manusia di sana. “SAM!” panggilnya. “SAMUDRA!” tidak ada jawaban.

***

Sam terus menelusuri jalan setapak itu. Ia merasa alam mengarahkannya ke suatu tempat. Seolah kakinya bergerak sendiri tanpa ia inginkan, seperti tahu harus ke mana. Setelah cukup jauh, Sam baru merasakan pegal pada kakinya. Ia jatuh berlutut. Saat menatap ke depan, matanya melebar.

Sebuah bangunan yang tampak sudah kuno. Sangat besar dan tingi, berwarna krem, memiliki banyak pilar. Penampakan bangunan di hadapannya membuatnya melongo.

“Mungkinkah ini perpustakaan itu?” gumam Sam. Ia bangkit dan menaiki anak tangga untuk mencapai teras. Setelah menekuri pintu besar di hadapannya beberapa saat, Sam mendorongnya pelan-pelan.

***

“Sam ke mana sih?!” Amanda jongkok dan bersandar di sebuah pohon. Selagi Dennis menyorot area sekitar dengan senter, gadis itu duduk di akar-akar yang mencuat. Keduanya meninggalkan kemah hanya dengan bawaan seadanya. Dua buah senter dan satu botol minum.

“Aku berusaha nyari jejak sepatu di tanah, nih,” ujar Dennis.

Bosan dan lelah, Amanda mengorek tanah dengan ranting. Lama kelamaan, tanah itu membentuk lubang dan mulai menampakkan sesuatu. Amanda terus menggali hingga akhirnya benda tersebut terlihat utuh. “Dennis lihat!” pekiknya. Amanda menarik benda dari galiannya. “Ini buku, kan?! Buku cetak! Dari kertas!”

Dennis menghampiri Amanda dengan ekspresi tak percaya. Ia merebut buku tersebut. “Ini yang selama ini Sam cari?! Benda ini sungguhan ada?!”

“Bisa jadi! Pasti di sekitar sini masih ada yang terkubur. Ayo cari!” Amanda mulai mencari daerah galian lainnya.

***

Di hadapannya terhampar ruangan luas dengan langit-langit yang tinggi, dihiasi lampu kristal yang digantung tinggi bersinar terang. Ada beberapa lantai ke atas. Rak-rak tinggi dan besar memenuhi ruangan itu. Bukan arsip-arsip digital seperti perpustakaan yang selama ini sering ia lihat, melainkan buku-buku cetak yang terbuat dari kertas. Mitos itu terhampar nyata di hadapannya.

“Hallooooo …..???” sapa Sam. “Ada orang?” Sam menelusuri ruangan itu, memastikan setiap pojok apakah ada yang dapat ditemuinya.

Di suatu sudut ia menemukan sesuatu, atau seseorang, membelakanginya menghadap ke jendela. Rambut emasnya bergelombang mencapai punggung. Gaun putih orang itu berada hingga bawah lutut. Di sekitarnya berserakan buku-buku.

“Hai, permisi …” sapa Sam.

Makhluk itu berbalik, menaruh sembarang buku yang sedang dipegangnya ke atas tumpukan yang lain, menatap Sam datar seolah tak terkejut kediamannya diganggu. “Samudra?”

“Sevira?!” pekik Sam. Lalu matanya teralih pada telinga Sevira. Telinga itu runcing di bagian ujung atasnya. “Telinga kamu …”

“Oh, ini.” Sevira menyentuh telinganya.

“Itu, kan, telinga peri! Sevira, kamu peri?! Kamu manusia peri?! Semacam elf?! Seperti Legolas di Lord of The Rings?! Iya?!” Sam heboh. “Jadi, selama ini kamu pakai jubah bertudung untuk menutupi rambut emas dan telinga runcingmu?”

Sevira masih terdiam. Sam melihat sekitar hingga kembali menatap Sevira. “Itu, itu komik versi cetak?!” Tunjuknya pada buku-buku di sekitar Sevira.

“Ternyata kamu berhasil datang ke sini.”

“Ini, ini membingungkan buatku. Tolong jelaskan semua ini,” pinta Sam.

Sevira melangkah mendekati Sam, membiarkan buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Ia melewati Sam dan memilih salah satu kursi perpustakaan untuk duduk. Sam mengikutinya. “Akan saya ceritakan suatu kisah …

“Kamu tahu, 4 abad yang lalu, abad 21, saat teknologi berkembang dengan pesat, saat itu hampir semua hal yang ada di dunia ini perlahan-lahan beralih ke dalam bentuk digital. Hampir merata di seluruh dunia, perkembangannya pesat. 100 tahun setelah itu teknologi benar-benar semakin canggih, merata di seluruh dunia karena Asosiasi Desa Global—organisasi dunia yang bergerak dalam bidang virtual—bekerjasama dengan pemerintah seluruh negara di dunia untuk melakukan digitalisasi, terutama dalam bidang buku dan ilmu pengetahuan. Semua diakses secara digital. Terlebih lagi karena orang-orang pun mulai beralih ke digital, penerbit serta percetakan dan toko buku banyak yang mengalami kebangkrutan. Banyak buku yang tertimbun di gudang mereka akhirnya dibakar karena tidak laku meski sudah diskon besar-besaran. Sejak itu sampai pada abad 23, buku-buku cetak, yang terbuat dari kertas mengalami kelangkaan, sangat sulit didapatkan.

“Melihat krisis ini, Thoth mengambil tindakan dan mengumpulkan semua buku cetak yang tersisa dan menciptakan Perpustakaan Murni di sini. Maksudnya perpustakaan yang benar-benar perpustakaan seperti pada mulanya. Berisi buku-buku fisik yang dapat disentuh. Dia lalu meminta saya untuk menjadi penjaga tempat ini. Cerita pun menyebar dari orang-orang yang memang sangat mencintai buku, beratus tahun kemudian menjadi sebuah mitos.”

“Tunggu, Thoth yang kamu maksud itu dewa menulis dan ilmu pengetahuan Mesir? Dia yang sudah menulis ribuan buku dan merupakan pelindung bagi semua juru tulis? Dan kamu ini, peri penunggu Pulau Sebira? Kamu berasal dari sini?”

Sevira mengangguk. “Dia menciptakan perpustakaan itu di sini. Dengan sihirnya, tidak sembarang orang bisa menemukan tempat ini. Tapi kamu bisa.”

“Jadi, aku bukan orang sembarangan?”

“Kamu tahu? Keajaiban hanya bekerja kepada mereka yang mempercayainya. Kamu begitu percaya pada keberadaan buku dan perpustakaan—dalam bentuk aslinya—di saat dunia nggak percaya. Mungkin karena itu Thoth berbaik hati mengizinkanmu menemukan tempat ini.”

“Sebenarnya aku ke pulau ini bersama Dennis dan Amanda. Dan tadi, sebelum kami mendirikan tenda, kami sempat memutari tempat yang sama sampai tiga kali. Padahal terus berjalan ke utara. Kenapa?”

“Mereka nggak percaya, kan? Mungkin itu salah satu cara Thoth melindungi wilayah ini. Mungkin, ya, saya nggak begitu kenal Thoth. Kami berhubungan seperlunya saja. Tapi, akhirnya kamu bisa ke sini tanpa mereka. Alam pasti juga telah membimbing kamu.”

Pintu kembali terbuka, Dennis dan Amanda jatuh berlutut sambil melepaskan begitu saja buku-buku yang mereka temukan ke lantai.

“Apapun, siapapun, terserah, aku capek. Jelasin semua ini!!!” pekik Dennis.

“Habis…” Amanda menggulirkan botol air mineral setelah meneguk habis isinya.

Sam segera membantu Dennis dan Amanda. Setelah itu ia menjelaskan ulang kepada mereka apa yang telah Sevira jelaskan. Dennis dan Amanda tampak tidak percaya.

“Waktu Amanda ajak saya ke perpustakaan, saya kira dia ngajak ke tempat seperti ini, saya masih berharap tempat itu masih ada di dunia. Tapi ternyata perpustakaan sekolah yang sudah didigitalisasi. Karena itu saya nggak terbiasa menggunakan teknologi. Sejak dunia diciptakan saya ada di sini, menjadi peri penjaga Pulau Sebira. Ketika Thoth meminta saya menjaga perpustakaan ini, dia meminta saya sesekali berbaur dengan manusia dan melaporkan perkembangan kepadanya. Sudah 300 tahun saya menjaga tempat ini. Tapi, saya tetap nggak terbiasa. Saya baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga.”

“Terus waktu Sam bilang tabrakan sama kamu itu, benda yang jatuh itu benar buku?” tanya Dennis.

Sevira mengangguk. “Saya suka bawa salah satu buku koleksi di sini ke sekolah, karena kadang saya bosan. Waktu itu setelah bel pulang saya ke halaman belakang untuk menghabiskan waktu dengan membaca. Bosan kalau di pulau ini. Terus lupa waktu, jadinya terburu-buru karena takut dikunciin Pak Satpam. Jadinya, tabrakan sama Sam. Bukunya jatuh karena saya nggak sempat masukin ke tas.”

“Sekarang kalian percaya, kan sama semua ini? Semua hal yang aku cari nggak sia-sia atau ilusi semata, kan? Perpustakaan Murni itu ada! Originali Biliotheca itu nyata! Dan terletak di Indonesia!” desak Sam pada Dennis dan Amanda.

Amanda hanya mengamati sekitar karena merasa terpana. Dennis garuk-garuk kepala, membuat rambutnya berantakan.

“Aku masih setengah percaya. Ini pasti mimpi! Ini, ini di luar akal banget!”

“Buku-buku yang kami temukan, kenapa bisa terkubur begitu?” tanya Amanda.

Sevira melihat buku-buku yang dibawa Dennis dan Amanda masih tergeletak di depan pintu. “Oh, saya kadang suka baca-baca di hutan sekitar. Dan kadang meletakkan buku sembarangan. Yang terkubur itu pasti sudah belasan atau puluhan tahun lalu saya bacanya. Thoth nggak keberatan. Lagipula, dengan kalian yang menemukan semua buku itu, itu membuat kalian seenggaknya sedikit percaya dan akhirnya bisa menemukan tempat ini, kan?

“Dan sebenarnya, Perpustakaan Murni nggak cuma berada di Indonesia. Originali Bibliotheca ada satu di setiap negara. Thoth yang menciptakan semua itu. Semuanya memiliki penjaga. 100 tahun sekali kami mengadakan pertemuan yang dipimpin oleh Thoth.”

“HAH?! Benar-benar gila!”

“Serius?!”

“Jadi, yang terakhir dan satu-satunya tersisa itu maksudnya terakhir tersisa di setiap negara?!”

Sevira mengangguk.

“Ini, ini luar biasa! Ini keren banget! Dunia harus tau!” seru Sam. “Tapi keberadaannya benar-benar tersembunyi karena dilindungi kekuatan Thoth, ya? Gimana, ya, supaya banyak yang bisa melihat sendiri perpustakaan ini?”

“Entahlah. Hanya Thoth yang memiliki wewenang. Jika dia mau, dia bisa saja melepaskan sihirnya sehingga siapapun yang datang ke pulau ini bisa menemukan perpustakaan ini.”

“Kamu nggak tau caranya?” tanya Amanda.

Sevira menggeleng. “Yang saya tau, keajaiban dan hal-hal di luar kuasa manusia lainnya hanya bekerja kepada mereka yang mempercayainya.”

15 dukungan telah dikumpulkan

Comments