Our Similar Voices

3 months ago
Our Similar Voices (Sumber: dokumentasi pribadi)
Rizki Maulana A

by: Rizki Maulana A

“Aku ingin nyanyi! Bikin orang seneng!” teriak seorang gadis kecil sambil memegang erat penghargaan berupa cakram platinum. “Makanya! Aku ingin jadi penyanyi! Aku ingin bikin orang-orang jadi rukun! Bikin orang-orang jadi seneng!”

Setelah sesi wawancara tersebut, dia kemudian disodorkan sebuah mikrofon. Dengan genggaman yang erat dan penuh percaya diri, dia naik ke atas panggung. Dia langsung mengangkat tangan kanan mungilnya ke atas, berpose layaknya seorang penyanyi dewasa. Dia kemudian menyanyikan single hits-nya sambil menari dengan koreografi yang memang sudah dilatih. Dia tak nampak seperti penyanyi cilik, lebih terlihat seperti penyanyi dewasa yang bertubuh mungil saja.

Gemerlap cahaya, teriakan fans, riuh-rendah tepuk tangan menjadi bagian hidupnya setiap hari. Tanda tangan fans, jadwal padat pun menjadi santapan sehari-hari. Meski akhirnya hanya bertahan dua tahun saja. Setelahnya, nama sang artis cilik fenomenal, Gigi Gita, yang sempat menghebohkan jagad entertainment dalam negeri tak pernah terdengar lagi. Kabar terakhir, dia mengundurkan diri karena alasan keluarganya—itu pun diwakili oleh manajernya.

***

Seorang perempuan duduk di depan layar komputernya. Sudah lebih dari 2 jam dia memilih untuk tidak bermobilitas dan hanya berkutat di depan komputernya. Sebuah aplikasi berbagi karya berupa lagu, baik orisinal mau pun cover tampil di layarnya, “Songbook”. ID name yang tertera atas nama “She’s Gone” dengan nama akun “Gita” tercantum di pojok kanan layar Songbooknya.

Gita mengklik lagi tombol refresh di perambannya. Dia memuat ulang Songbook-nya. “Like-nya makin dikit, bener kata manajer,” gumam Gita sambil membandingkan tanggapan belakangan dan dua hingga empat tahun ke belakang. Penggunaan Songbook benar-benar sudah mulai ditinggalkan. Padahal, belakangan dia sering meng-upload lagu ciptaannya. Namun, tanggapan sama saja minim. Dia melemparkan pandangannya ke cakram platinum yang dipajang di sudut kamarnya.

Belakangan, dia mendapati sebuah aplikasi yang disukai di play store—juga salah satu yang paling banyak diunduh di play store dan dibicarakan teman-teman kuliahnya. “Sing!”, sebuah aplikasi yang memang dikhususkan bagi penggunanya untuk saling beradu suara. Bisa dibilang, aplikasi duel karaoke yang dikhususkan untuk mempertemukan dua orang. Mereka beradu untuk mendapat poin yang lebih baik dalam menyanyikan sebuah lagu.

Dia langsung menjelajahi internet, mencari aplikasi “Sing! For PC” yang direkomendasikan manajernya. “Ha… kalau hapeku aja kompatibel, mungkin nggak usah download di PC segala,” keluhnya terhadap kondisi smartphone-nya yang keluaran tahu 2012. Setelah sekian menit, dia kemudian mulai memainkan aplikasi barunya. Dia membuka song database, sangat banyak lagu yang ditawarkan aplikasi dan tidak hanya terbatas pada beberapa negara saja. Bisa dibilang, hampir seluruh corak musik ada di dalamnya. Gita tentunya terkagum-kagum akan hal ini. “Nggak kayak Songbook yang cuma bisa upload lagu,” gumamnya terheran-heran.

Yang dikatakan Gita memang benar. Selain bisa berkaraoke sendiri dengan fitur “Solo”, pengguna bisa mengajak orang lain untuk berkaraoke bersama dengan sistem duel dalam “Let’s Duet!”. Dalam fitur yang terakhir ini, pengguna bisa menantang teman dalam “With Friends” atau orang yang dipilih acak “With Strangers”.

Merasa tertantang, Gita kemudian memasang headphone, mengecek kelayakan headphone-nya dan mic-nya. Dia tertantang untuk menyanyikan salah satu lagu yang ada di dalam database. Dia mulai dari chart top 50 yang ada. “Ini aja, deh.” Dia berhenti pada suatu pilihan lagu, sebuah lagu barat akustik.

Dia sengaja tidak menyalakan webcam-nya, dia mencoba melindungi privasinya. Komentar-komentar yang muncul di layarnya secara live tidak dia tanggapi dan dia fokus untuk tetap bernyanyi. Dia bernyanyi layaknya suara malaikat. Pada akhirnya, para audiens sampai tak mempedulikan penampakannya dan lebih fokus pada suaranya. Seperti itulah strateginya. “Terima kasih!” ucapnya sebagai penutup siaran pertamanya.

***

Lambat laun, nama Gita mulai terkenal. Dia sengaja berduel dengan teman-teman dunia mayanya yang kebetulan juga sedang online. Hasilnya, dia dapat lima kemenangan beruntun dari lima kesempatan. Dia dipuji habis-habisan meski tetap saja dicap penakut atau pengecut karena dia tak berani untuk menunjukkan wajahnya. Dia hanya bisa tertawa. Tertawa pahit sambil bertanya mengapa dia tak pernah mendapatkan sebuah pujian yang benar-benar tulus. Dia merasa tak dihargai sepenuh hati, sekali pun tak pernah.

Sebuah telepon datang masuk ke smartphone-nya. Dia segera mengangkat telepon masuk, rupanya dari manajernya. “Gimana? Udah ada perkembangan? CD demonya?” tanya sang manajer langsung pada topik pembicaraan. “Cih, belum apa-apa langsung tembak gitu. Pihak rekaman belum kasih balesan. Aku tunggu dulu aja. Toh, belum mendesak banget,” jawab Gita dengan sedikit kesal.

“Bukannya kamu bilang mau comeback secepatnya setelah vakum lama gara-gara kamu lagi krisis buat kuliah? Kalau biaya rekaman sama promosi ‘kan agensi bisa talangin dulu. Kamu ‘kan bisa nyanyi di kafe gitu cari masukan.”

“Sebenernya kalau dibilang aku lagi nggak mau nyanyi juga salah, soalnya belakangan aku lagi pakai ‘Sing!’. Tapi, aku agak bingung kalau harus sampai rilis lagu apalagi nyanyi di kafe.”

“Kenapa nggak sekalian rilis lagu di sana?”

“Terlanjur upload di Songbook. Apalagi, apa untungnya aku upload yang sama dari yang aku upload di Songbook.”

“Gimana kalau kamu potong lagumu yang di-upload di Songbook, terus upload di Sing? Atau kalau nggak, lagu-lagu yang kamu masukin ke demo aja,” lanjut manajer. “Sampai reff aja, ya?” balas Gita.

“Iya… nggak apa-apa! Memang gitu harusnya! Toh, lagu yang kamu upload di Songbook beda ‘kan sama yang kamu masukin di CD demo?”

“Ada beberapa yang beda, sih.”

“Nah, makanya! Ayo, lakuin! Kamu juga lagi senggang ‘kan?”

Gita tertawa kecil, menyetujui yang ditawarkan manajernya. Sebuah salam terakhir dari manajernya sebelum telepon disudahi. “Jangan lupa tersenyum!” pesannya.

Dia meng-upload beberapa lagu yang kemungkinan akan booming di aplikasi. Salah satunya berjudul “REACH”. Tidak butuh waktu lama, dia sudah bisa melihat lagunya terpampang di daftar “New Original Song” di Sing!. Tak lupa, sebuah senyuman kecil kepuasan saat mengunggah karyanya. “Kalau minat dengerin yang full version, bisa banget cek Songbook-ku di ‘She’s Gone’.” Dia juga menyertakan link-nya.

***

Pihak salah satu rekaman ingin bertemu dengan Gita soal diterima atau tidaknya CD Demo Gita tepat dua minggu setelah Gita mengunggah demo song-nya di Sing!. Sekitar pukul 14.15, di sebuah kafe gelato, Gita dan manajernya datang 15 menit terlambat dari yang dijanjikan. Gita langsung berjalan cepat setelah turun dari mobilnya dan mengarah ke meja nomor 8, meninggalkan manajernya. Seorang berkacamata dan tak memiliki rambut sudah menunggunya.

“Ah, Mbak Gita, silakan duduk,” kata si produser dengan nada yang tegas. Gita langsung mengambil posisi duduknya dan manajernya mengikutinya. Dia harap-harap cemas karena benar-benar hanya bergantung pada penghasilan dari suara emasnya. Sebuah perjudian terbesar dari hidupnya.

Si produser pun buka suara setelah dia membaca proposal yang disodorkan manajer Gita. “Ya, menarik. Memang menguntungkan untuk hidupmu, dan untuk label dan pihak ketiga juga nggak begitu bakal terbebani,” katanya setelah meninjau proposal. Dia kemudian meletakkan proposal-proposal itu dan menahannya di meja dengan kedua kepalan tangannya. “Saya juga sudah mendengarkan lagu-lagu yang Anda kirim, dan memang terdengar sangat menyejukkan hati. Untuk lagu-lagu yang bit-nya lebih tinggi juga terdengar enerjik terlepas dari liriknya yang sebenarnya menceritakan tentang patah hati. Ya… ya…” dia memuji lagu-lagu yang dikirim Gita. Tentulah Gita sumringah mendengarnya. Setiap kata-kata yang dia dengar dari pria yang duduk di hadapannya adalah secercah harapan.

“Sayangnya lagu-lagu yang Anda kirim ini terindikasi adanya plagiasi.” Sebuah kalimat yang langsung menohok Gita. “Kami tak bisa mewujudkan mimpi Anda untuk comeback.” Di saat itu pula, hujan deras mulai turun.

***

Dia segera masuk ke dalam kamarnya sambil mengerudungi dirinya dengan selimut setibanya di rumah. Duduk meringkuk di atas kursi, menatap layar laptopnya. Dia men-scroll lagunya yang di-upload belakangan dibandingkan yang diunggah Lovely Melody. Isinya hanyalah hujatan dan makian menganggap bahwa dia adalah orang yang paling hina hanya karena dia menggunggah lagu yang sama dengan (yang kemungkinan) artis idola mereka. Hanya ada beberapa orang saja yang memujinya dan membelanya. Mungkin mereka tahu kalau “She’s Gone” itu adalah Gigi Gita yang telah dewasa.

Dia dan manajernya memberikan alasan bermacam-macam dan berjuang mati-matian untuk mendapatkan surat kontrak tersebut. Akan tetapi, sang produser tak mau berjudi untuk menggaetnya dan pernyataannya itu senada dengan pihak rekaman. Nama Gita sudah terlanjur buruk, katanya. Belum lagi resiko cyber-bullying. Dia melakukan tindakan kriminal yang padahal dia sendiri secara sadar tak lakukan.

Dia menampar kedua pipinya, mencoba mengembalikan fokusnya. Dia mengejar balas dendam. Dia langsung menekan “duet!” dan mengejar si Lovely Melody lewat sistem acak dari “with strangers”. Ini imbas dari kelemahan aplikasi yang hanya “memperbolehkan” si pengguna berteman dengan “duetnya” setelah mereka menyelesaikan satu lagu. “HARUS! HARUS!! HARUS DAPET!!!” teriaknya di dalam hati.

***

Sudah tiga hari setelah dia mencoba mencari username “Lovely Melody”, hasil belum bisa dia dapati. Sudah tiga hari ini dia menantang ratusan stranger di mode duet, sampai-sampai merelakan jatah bolosnya di kampus. “Kenapa?! Kenapa?!! Kenapa?!!!” dia berteriak sambil menyesali mengapa dia tak cepat-cepat mendapatkan “Lovely Melody” sebagai musuhnya.

“Kayaknya nggak ada gunanya kalau aku jadi host. Gimana kalau aku yang jadi visitor-nya?” Dia bergerak menjadi orang yang diundang. Dia pun menyederhanakan fitur host search-nya agar persentase bertemu si Lovely Melody jadi lebih besar. Entah mengapa dia benar-benar percaya kalau dia akan mendapatkan target operasinya kali ini.

*ping! Sing! Gita menampilkan beberapa musuh yang bisa diajak duet. Dengan cepat dia men-scroll nama-nama yang menggelar hajatan. Scroll Gita berhenti di angka 135. Nama yang ia cari akhirnya muncul. Tanpa pikir panjang dia langsung menyambar nama “Lovely Melody” yang muncul di layarnya. Amarah, dendam, kekecewaan jadi satu di dalam kliknya. Dirinya semakin diselimuti emosi ketika melihat judul lagu yang dipilih “Lovely Melody”, “REACH”, salah satu lagu yang dibawa Gita masuk ke dalam CD demo dan Songbooknya. “SIALAN!!!” jeritnya di dalam hati saat aplikasi mencoba menstabilkan koneksi.

Dia mencabut kertas warna hitam yang direkatkan di webcam-nya. Untuk pertama kalinya, “She’s Gone” menampakkan dirinya dan menunjukkan bahwa dia adalah Gigi Gita yang sudah lama hilang. Meski di twitter dia mengakui di bionya bahwa dia adalah “She’s Gone”, Gita tak pernah memasang fotonya sebagai avatar. Karenanya, dia benar-benar untuk pertama kalinya muncul di jagad maya setelah liputan tentangnya saat masih SMA.

Koneksi terhubung, wajah yang pertama kali terlihat adalah si Lovely Melody. Dari penampilannya, dia adalah anak SMA yang hitz dan kemungkinan besar blasteran karena rambut pirangnya yang alami meski bertubuh orang Indonesia. Berbeda 180 derajat dengan Gita yang rambutnya acak-acakan seperti habis bangun tidur. Dia sama sekali tak kepikiran untuk dandan terlebih dahulu.

Musik pun dimulai, intro berjalan. Dengan sangat cepat, komentar-komentar dan logo hati bertebaran di sisi layar Lovely Melody, padahal dia belum menarik suaranya sama sekali. Sekitar 7 detik intro, dan lagu pun masuk ke bagian lirik. Di sanalah kejutan muncul.

Simbol hati dengan cepat bertebaran di layar Gita dan dengan cepat pula hampir menyamakan kedudukan dengan Lovely Melody. Meski begitu, komentar-komentar yang merendahkan Gita karena tampangnya yang sedang tidak karuan itu tak kalah derasnya berdatangan. Gita tak memperdulikannya dan tetap bernyanyi sekuat tenaga. Yang menjadi kejutan lagi bagi para audiens adalah karakter suara mereka yang hampir sama. Yang membedakan hanyalah Gita sedikit kesulitan karena harus bermain dengan nada satu oktaf lebih rendah dibandingkan lagu yang dibuatnya sendiri. Sialan, dia turunin oktafnya. Jadi… kelemahannya di nada-nada tinggi, ya?, katanya dalam hati.

Lagu mencapai separuhnya, masuk ke bagian interlude, dan perolehan hati Gita terpaut 35 poin dari musuhnya. Meski begitu kalau melihat Lovely Melody yang “curi start”, perolehan Gita sudah cukup bagus. Apalagi, dia berhasil memaksakan musuhnya untuk beberapa kali salah nada. Meski lagu yang dipilih adalah lagu yang dia akui sebagai lagu orisinalnya.

Perolehan hati Gita sedikit demi sedikit mendekati Lovely Melody. Di menit 2:52 dari lagu 3:42 menit, selisih hati mereka tinggal 3 saja. Perolehan Lovely Melody memang bertambah pesat, namun tak secepat Gita. Lambat laun, Gita menyamai hingga akhirnya menyusul Lovely Melody dan unggul dengan selisih 23 poin dengan sisa lagu 12 detik saja.

Lagu berhenti. Lovely Melody mendapatkan 324 poin, dia nampak tercengang karena baru pertama kalinya kalah telak 38 poin dari musuhnya. Sementara itu, Gita terlihat cukup puas meski dia tetap menatap layar dan musuhnya dengan amarah. Sesi duet pun berhenti dengan kemenangan Gita di jumlah hati, sementara sesi komentar (positif) dimenangkan Lovely Melody. Bisa dibilang, mereka menang di tempat mereka masing-masing.

Permintaan pertemanan tiba-tiba muncul di notifikasi Lovely Melody. “She’s Gone” yang memintanya. Dia dengan senang hati menerima permintaan. Kedua insan yang bersuara hampir sama (dan sebenarnya memiliki hubungan kurang baik) ini akhirnya disatukan lewat aplikasi.

***

Sudah sepuluh menit berlalu sejak kedatangan Lovely Melody di sebuah patisserie. Dia duduk di hadapan seorang perempuan yang memandanginya dengan penuh rasa sebal—ekstremnya, ia bisa saja membunuh orang di hadapannya.

Kopdar kali ini memang benar-benar mencekam. Apalagi, gemuruh petir yang menderu-deru di luar sana. Belum lagi aura yang dikeluarkan Gita pada lawan bicaranya. “E… Kak Gita?” tanya Lovely Melody sambil menelengkan kepalanya. “Ngapain kita kopdar kalau Kak Gita cuma melototin aku terus? Mana aku bisa tahu isi hati Kakak? Emangnya sinetron?”

Gita menghela nafasnya. “Aku panggil kamu ke sini karena kamu udah bikin aku susah!” Tanpa basa-basi, dia langsung menghantam Melody ke topik utama. “Kenapa kamu curi laguku? Terus kamu akui kalau itu lagu buatanmu? Kamu penyanyi profesional, ‘kan? Lovely Melody?!”

“Lagu? Yang mana, Kak? Aku kalau bikin lagu emang bikin sendiri,” balas Melody dengan nada sedikit tersinggung. “Lalu, bisa kamu jelasin lagu-lagu yang kamu upload kayak ‘REACH’ atau ‘TRANCE’? Kenapa…” Gita mengeluarkan smartphone-nya, dia menunjukkan lagu-lagu yang ia unggah di Songbook.

Dia kemudian memperdengarkan kedua lagu itu. “…kenapa lagunya sama? Dari semuanya, kecuali aransemen?” lanjut Gita menginterogasi. “Ooo… itu sih, paling cuma mirip aja,” balas Melody dengan santai. Dia sama sekali tak ada rasa bersalah di dirinya. “Paling-paling juga cuma akunya terinspirasi dikit.”

“Kamu sama sekali nggak terlintas kata ‘jiplak’? Padahal jelas-jelas yang beda cuma nada yang kamu pilih ditranspose satu oktaf sama aransemennya diganti sedikit latest pop songs. Kamu masih nggak mau ngaku?”

“Hei, hei… kenapa kita ketemuan tatap muka langsung debat gini, sih, Kak? Aku kira kamu udah dewasa karena udah kuliah, Kak.”

“Ini bukan masalah kedewasaan, dek!” Gita menggebrak mejanya. “Ini masalah hak karya intelektual seseorang! Kamu udah bikin rugi aku, tahu!” Bentakannya kali ini berhasil menyita perhatian seluruh pengunjung patisserie. “Terus kenapa? Bukannya kamu baru upload di Songbook? Apalagi, nggak ada orang yang tahu juga! Lagumu itu belum termasuk ke wilayah komersiil!” Untuk pertama kalinya, Melody memanggil Gita dengan ‘kamu’. “Semua yang ada di internet itu kepemilikan internet! Kamu nggak punya hak buat memilikinya sendiri!”

“Kamu nggak tahu ‘kan?! Aku bisa aja dapet label rekaman kalau CD demo-ku mereka terima. Tapi, gara-gara kamu curi laguku, dan lebih terkenal di internet… aku kehilangan kesempatan itu! Padahal, nilai kontraknya bisa 100 juta!”

“Bukannya kalau gitu tinggal kamu pilih lagu lain aja? Dikirim lagi pakai lagu baru?!”

“Kamu enak bisa ngomong begitu. Tapi, kamu tahu nggak? Aku sementara ini di-black list sama banyak label besar gara-gara aku dituduh menjiplak lagu yang ada di internet yang padahal itu adalah laguku! Kamu nggak tahu ‘kan rasanya dituduh curi barang sendiri gara-gara nggak ada tanda pengenal di barangmu itu?”

“Kamu ‘kan bisa pakai jalur indie! Upload lagu baru di YouTube ‘kan bisa?! Sekarang internet bisa buat kamu jadi apa aja!”

Gita menggebrak mejanya sekali lagi, kali ini dia sampai berdiri. “Heh, jalang! Kamu nggak lihat komentar yang muncul pas kita lagi duet kemarin?! Berapa banyak orang yang hina aku karena aku dianggap penjiplak LAGUKU SENDIRI?! Namaku sudah terlanjur hancur gara-gara ulahmu!

“Lagian kalau mau pakai jalur indie, mau pakai uang dari mana? Lagu-lagu yang ku-upload di Songbook itu aja pakai biaya ngutang peralatan sama studio di tempat temen! Aku bener-bener nggak punya uang! Gara-gara kamu, aku bener-bener bisa nggak punya apa-apa!

“Keluargamu kaya! Kamu bisa minta uang dari papamu yang milyarder itu setiap waktu. Aku? Buat bayar uang kuliah aja sampai jual perhiasan peninggalan ibuku! Satu-satunya jalan aku dapet uang cuma dari bakatku menyanyi soalnya aku nggak punya keahlian lain!

“Semua label nggak mau bertaruh dengan namaku karena aku sudah terlanjur dicap plagiaris, tukang curi, orang yang nggak bisa hargai karya orang lain. Mereka nggak mau kehilangan untung mereka dengan nama dan wajah baru dari ‘Gigi Gita’, si artis cilik yang sudah dewasa! Mereka nggak mau berspekulasi dan berjudi padaku yang sudah terlanjur jadi public enemy! Suara emasku yang sempat memukau orang di ‘Sing!’ saat duet denganmu akan tetep dilupakan karena publik akan tetap mempercayai isu yang terlanjur kesebar!

“Permisi!” Gita minggat dari mejanya dan langsung berlari keluar dari patisserie, diguyur hujan deras, berlari ke rumahnya dengan basah kuyup. Dia meninggalkan Melody sendirian.

Melody syok berat setelah mendengar dan melihat aksi Gita. Perbuatannya berhasil menghancurkan seseorang sampai menjadi debu. Keisengannya sampai-sampai menghancurkan impian hingga menyunat pendapatan seseorang. Dalam hatinya sudah menangis, dan tinggal tunggu waktu air mata mengucur dari sudut matanya.

Beberapa saat kemudian, manajer Gita masuk dan duduk di hadapan Melody. “Kamu… Lovely Melody—bukan, Melody Herbert Spencer Rahmawati Suwandi ‘kan?” Tak lain, dia adalah manajer Gita. “Ada beberapa yang aku ingin obrolkan denganmu. Berkenan untuk ngobrol?” Melody mendecak. “Baiklah.”

***

“GITA!!” Panggilan dari sang manajer tercinta tentunya. Dia mengkhawatirkan Gita, sudah dua minggu dia memutus kontak dengannya dan dunia luar. Akhirnya, dia menemui saja secara langsung.

“Gita!!!” Manajer membuka pintu rumahnya—yang kebetulan tak dikunci, dia melihat Gita yang duduk di lorong rumahnya, mengerudunginya dengan selimut.

“Kenapa?!” Gita malah membalas dengan keras. “Ada label yang akhirnya mau menerimamu,” kata si manajer. Dia menyodorkan proposal yang sudah ditandatangani sekaligus nilai kontraknya. “Tapi, ada syaratnya…”

Sesosok perempuan muncul dari balik pintu. Si penjahat datang dengan wajah yang penuh penyesalan. Dia sedikit menundukkan kepalanya dan sedikit memiringkannya, meski sesekali dia melirik ke arah Gita. Tubuhnya bergidik, dia merasa diteror oleh mata melotot Gita yang sengaja diarahkan padanya. Gita kemudian mempersilakan kedua tamunya masuk. Suasana menjadi semakin tegang.

Manajer menyodorkan proposal yang diajukan label sekali lagi. Dia menunggu jawaban Gita dengan wajah yang serius. “Gimana, cukup menarik ‘kan?” tanya manajer. “Yang jadi masalah satu hal…” Gita melempar proposal itu ke meja. Dia menuding Melody yang duduk di samping manajer. “Aku nggak mau kalau disuruh buat grup duo sama dia.”

“Kena—” Belum sempat manajer menyelesaikan kalimatnya, tangan Gita memaksanya untuk berhenti. “Aku rasa harusnya Mas tahu kalau dia orang yang bikin aku sengsara belakangan ini. Apalagi, belakangan ini dia malah jadi lebih terkenal daripada aku gara-gara berhasil jadi sensasi di internet. Terus dia diundang ke acara TV, jadi penyanyi spesialis cover song, digombalin sama host-nya. Aku tahu itu. Karenanya, aku nggak sudi dipadukan sama orang yang hina kayak dia.”

“Tapi, kalau nggak mau jadi duo, kamu nggak bisa ngelanjutin kuliahmu!” Manajer mencoba menyadarkan Gita dengan keadaannya. “Terus kenapa? Aku emang udah nggak niat jadi apa-apa lagi. Mati aja aku udah siap! Malahan, aku nggak usah mikirin beban hidup dan nggak jadi beban buat masyara—”

*plak! “Jangan ngomong begitu seenaknya!” bentak Melody setelah dia menampar dengan sekuat tenaga Gita. Dia berhasil sedikit melempar Gita dan memaksanya memegangi pipi kirinya. “Aku nggak mau kamu mati sia-sia cuma gara-gara hal kayak gini!”

“Kamu ngerti apa?! Anak kemarin sore yang masuk dunia hiburan nggak usah sok-sokan!”

Sekali lagi, Gita ditampar Melody. Kali ini, lebih pelan namun lebih emosional. Air mata membasahi pipi-pipi Melody. “Aku emang anak kemarin sore di dunia hiburan! Tapi, aku bukan anak kemarin sore yang mengidolakan GIGI GITA!” dia terisak dan sesekali menyeka air matanya.

Gigi Gita adalah seorang yang benar-benar menginspirasi Melody. Sempat waktu saat SD, dia merajuk tak mau sekolah karena merasa tak pernah diperhatikan kedua orang tuanya. Namun, kemauannya untuk sekolah kembali setelah melihat rekaman live concert Gigi Gita. “Aku tersihir senyummu,” katanya. Menurutnya, Gigi Gita selalu tersenyum saat menjalani kesehariannya yang padat. Bahkan saat dia terpeleset hingga keseleo di atas panggung.

Melody kemudian kembali semangat sekolah setelah permintaannya untuk selalu menonton konser Gigi Gita secara langsung dipenuhi kedua orang tuanya. Dia menjadi maniak Gigi Gita, seluruh benda yang berkaitan dengan dirinya ia beli, termasuk kedua albumnya. Dia benar-benar meniru Gigi Gita hingga mengambil les vokal agar suaranya sama dengan idolanya.

Aku nonton rekaman konsermu di CD yang dibelikan Papa. Aku lihat kamu menyanyi, menari selalu dengan senyuman. Semakin aku menonton live konsermu, aku semakin mengidolakanmu. Semua merchandise-mu aku punya! Dua album dan empat single-mu aku juga punya! Aku beberapa kali juga berdandan kayak kamu! Aku sampai ambil les nyanyi biar suaraku sama sepertimu! Tapi, apa selanjutnya?! Kamu menghilang gitu aja! Saat press conference aja kamu nggak dateng!”

“Aku terhasut bisikan kecil dari dalam hati. Aku harus menggantikan Gigi Gita, meski hanya jadi barang tiruannya. Bahkan, lagu yang ia jiplak adalah untuk mempromosikan lagi lagumu, namun apa yang terjadi di luar dugaannya dan di luar perkiraanku.

“Satu-satunya caraku menebus dosaku adalah dengan mengajakmu kembali bersinar, bersama aku. Aku tak mau jadi kacang yang lupa kulitnya,” kata Melody. Pecahlah tangis mereka. Gita-lah yang pertama memeluk Melody dan menangis sekencang-kencangnya. Melody sempat terkejut untuk beberapa saat sebelum dia membalas pelukan idolanya. Air mata mereka memiliki banyak arti, permohonan maaf, rasa terima kasih, emosi dan dendam yang lama terpendam, rasa kangen akan sosok yang pernah ia lihat sebagai dirinya, pun kangen akan penggemar tersayangnya, hingga menatap hari-hari baru di atas panggung gemerlapan bersama.

***

“Mau sampe kapan ini kopi panas, sih?” keluhnya.

Suara bel bergemerincing, tanda seorang pelanggan datang. Dia langsung membuka topi baretnya dan menempati meja yang sama dengan perempuan yang tadi disebutkan. “Sorry, Kak, aku telat!” dia meminta maaf. Rambut pirang dan dandanan yang seakan menutup dirinya, benar saja, dia adalah Lovely Melody. “Santai aja, Mel,” jawab Gita. Kehangatan ini menggambarkan bagaimana hubungan mereka sekarang.

“Baru sadar, ikut-ikutan kekinian itu sulit juga,” celetuk Gita. “Maksudnya, Kak?”

“Ini, adik tingkatku coba jadi anak panjat sosial. Eh, malah kena dampak buruknya. Dia di-bully habis-habisan di internet. Kejem juga, ya? Buat orang yang udah makan asam garam cyber bullying, aku coba semangatin dia. Tapi, kayaknya dia agak sungkan.”

“Yah… mau gimana-gimana, Kak Gita harus jadi savior buat dia juga. Kayak aku dulu, iya, nggak?”

“Bentar, ‘Kak Gita’? Maksudmu ‘kita’?”

“Ahahah…. iya, bener juga. Kita harus jadi role model bagi banyak orang sekarang. Aku baru inget.”

Hanya dalam beberapa bulan, nama duo “Metronome” menjadi trending topic baik di dunia maya mau pun dunia nyata. Hanya dengan satu single saja, duo ini berhasil merajai tangga lagu nasional baik di YouTube mau pun di radio. Wajah mereka menghiasi billboard, jeda komersial, hingga iklan di internet. Mereka juga mencoba menyemangati orang-orang dengan vlog mereka, hampir sama seperti visi-misi Gigi Gita kecil dahulu.

Faktor kedua personelnya membuat nama Metronome menjadi sangat mudah naik daun. Salah satu personel adalah penyanyi yang sedang naik daun dan yang lainnya mantan artis cilik yang kembali ke panggung hiburan tanah air. Selain itu, faktor suara yang sangat mirip membuat mereka menjadi semakin unik—dan tentunya kecantikan mereka. Background story mereka sangat menarik untuk diikuti dan dikupas oleh media infotainment. Cerita yang paling sering diulik adalah hubungan mereka yang sejatinya fans dan idola. Belum lagi, cerita mereka yang “saling menolong satu sama lain” selalu menjadi cerita dan berita yang sangat hangat.

Dampak untuk mereka sendiri pun cukup besar. Gita berhasil memurnikan namanya, sementara Melody menebus dosanya pada idolanya. Sekarang, tinggal bagaimana mereka mempertahankan hubungan mereka sebagai sahabat, penggemar-idola, serta rekan kerja.

7 dukungan telah dikumpulkan

Comments