Pandora yang Terjebak dalam Kisah

8 months ago
Restya Mahara

by: Restya Mahara

“Berdasarkan mitologi Yunani, pada awalnya manusia diciptakan dengan empat lengan, empat kaki, dan dua buah kepala dengan dua wajah yang berbeda. Zeus yang takut akan kekuatan para manusia lalu memisahkan para manusia sehingga terciptalah manusia yang seperti kita kenal sekarang. Dengan dua lengan, dua kaki, dan satu buah kepala. Tidak sampai di situ, Zeus kemudian mengutuk para manusia ini untuk menghabiskan waktu mereka untuk saling mencari setengah diri mereka yang telah dipisah paksa oleh Zeus. Sepanjang hidupnya, manusia akan terus mencari twin soul mereka.”

***

Layar komputer miliknya berkedip-kedip. Tidak, tunggu, bukan layarnya yang berkedip tapi matanya. Tepat pukul 12 tengah malam, ia sudah terlalu kelelahan untuk melanjutkan ceritanya. Ia pun bangkit dari duduknya dan merebahkan diri di tempat tidur. Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Tidak sekarang. Tidak saat ini.

Ia melirik ke samping tempat tidurnya, tempat di mana buku-buku komik berserakan. Ia mengambil asal salah satu komik tersebut lalu matanya langsung tertuju pada salah satu kalimat yang tertera di halaman tersebut.

Two souls don’t just meet by accident

Ia menggumam.

Pikirannya melayang jauh.

Tentu saja hal tersebut benar. Dua jiwa bertemu bukan tanpa alasan. Ia paham betul itu. Hal itu juga yang pertama kali terbesit di dalam kepalanya saat bertemu sosok wanita tersebut.

Pandora Statia.

Namanya begitu unik, begitu indah menurut dirinya. Mudah diingat, sama seperti sosok pemilik nama tersebut. Begitu mudah diingat, tapi begitu sulit dilupakan. Pandora Statia adalah… twin soul dirinya. Sosok yang seumur hidup susah payah ia cari keberadaannya. Sepertinya Zeus memang tidak main-main ketika memisahkan manusia dahulu kala. Karena saat ini, ia terpisah begitu jauh dengan Pandora Statia walau sudah berhasil menemukan sosoknya.

Pandora Statia, merupakan manusia yang tercipta dalam salah satu komik yang sedang berserakan di dalam kamarnya. Ia tak sengaja menemukannya saat sedang membaca halaman demi halaman dalam komik tersebut. Saat itulah tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat dan… ia menemukannya. Separuh jiwanya yang lain juga seluruh memori yang dahulu telah Zeus rebut darinya dan Pandora.

Sudah sejak dua hari yang lalu Pandora hilang begitu saja. Tidak di komik asalnya, tidak di seri komik lanjutannya, tidak di mana-mana. Sejak dua hari yang lalu pula ia mencari ke mana sosok Pandora pergi. Ia akan melumat seluruh halaman komik yang ia punya, melihatnya perlahan dan terus mencari tanpa henti. Tapi sia-sia.

Pandora Statia hilang.

Ia tidak tahu harus berbuat apa selain terus mencari.

***

Pertemuan pertama ia dan Pandora begitu singkat, namun begitu tertanam di ingatan dalam kepalanya. Saat itu ia sedang membaca salah satu komik yang baru saja ia beli di toko buku langganan dekat rumahnya. Komik aksi tentang mitologi Yunani. Buku pertama karena ia saja baru pertama kali melihatnya. Begitu asing, tapi entah kenapa terasa begitu dekat.

Ia pertama kali bertemu mata dengan Pandora saat membuka halaman tentang kisah penciptaan Pandora. Di dalam panel komik tersebut banyak dewa-dewi sedang berkumpul dengan tujuan satu, menciptakan manusia pertama. Instruksi diberikan oleh Zeus, entah kenapa ia ingin menciptakan manusia perempuan pertama.

Saat Pandora tercipta dan membuka matanya pada panel selanjutnya, matanya langsung bertemu mata laki-laki yang sedang membaca kisahnya. Saat itu pula mereka berdua merasa ada yang aneh. Mereka seperti sudah saling mengenal selama ribuan tahun lamanya, entah tak bisa diperkirakan. Mereka lantas tertawa senang sembari menitikkan sedikit air mata di sela-selanya saat pertemuan pertama tersebut terjadi.

Pandora mengulurkan tangan mengajaknya berkenalan—walaupun ia sudah mengetahui siapa sosok yang sedang mengenggam komik yang berkisah tentang dirinya tersebut. Begitu tangan Pandora hendak ia raih, di panel selanjutnya Zeus menyadarinya dan ia pun merobek kertas komik itu dengan petir yang sedari tadi berada di tangan kirinya.

“Kalian tidak seharusnya bertemu!” seru Zeus dengan suara yang menggelegar.

Sejak saat itu dimulailah pertemuan diam-diam antara dirinya dan Pandora.

***

Mereka bertemu diam-diam sesuai dengan kode-kode rahasia yang diberikan oleh Pandora di sudut-sudut komik. Tersembunyi dan hanya laki-laki itu dan Pandora yang mengetahui lokasi dan makna dari kode rahasia tersebut. Melalui kode-kode rahasia tersebut mereka akan bertemu di halaman-halaman komik tertentu di mana tidak terlihat adanya keberadaan Zeus di mana pun.

Ada panel-panel rahasia yang sengaja dikosongkan agar Pandora bisa menyelinap di sana dan bertemu dengan laki-laki pemujanya tersebut. Lalu mereka akan menghabiskan waktu semalaman hingga pagi datang untuk mengobrol dan membicarakan apa saja yang tengah mereka pikirkan saat itu.

Suatu hari, Pandora mengutarakan pikirannya. Dia lelah berada di dalam komik. Ia lelah harus bersembunyi terus di halaman demi halaman komik yang laki-laki itu punya hanya untuk menghindari kejaran Zeus. Pandora takut suatu hari nanti laki-laki itu akan kehilangan minat untuk membaca kisahnya dan meninggalkannya begitu saja. Meninggalkan dirinya untuk menjadi lusuh dan menguning di dalam rak buku tanpa pernah disentuh lagi. Meninggalkannya sendirian untuk dilupakan dan termakan oleh rayap. Meninggalkannya sendiri dalam halaman gelap tanpa terkena cahaya sedikit pun.

Pandora ingin mengubah semua itu. Pandora ingin bebas. Dia tidak lagi suka berada di dalam panel-panel sempit dengan ruang untuk balon kata yang sangat sedikit untuknya berbincang dengan laki-laki tersebut. Dia ingin pergi dari komik tersebut tapi tidak tahu harus ke mana. Sang laki-laki tersebut pun ikut bingung dibuatnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu Pandora. Tapi ia berjanji satu hal pada Pandora, bahwa ia akan selalu menyempatkan waktu setiap harinya untuk selalu bertemu dengan Pandora dalam halaman-halaman rahasia tempat mereka biasa bertemu. Ia berjanji bahwa hari-hari Pandora akan selalu bercahaya karena ia yang akan membuka halaman komik untuk bertemu dengannya.

Mengetahui hal itu, Pandora tersenyum sambil mengangguk. Senyumnya lalu hilang sekejap sesaat setelah petir Zeus menyambar ke panel di sebelah panel tempat Pandora berada.

Mereka ketahuan.

***

Segalanya berubah digital,” ia bergumam sekali lagi sembari membuka matanya. Buku komik yang berisi kisah Pandora masih ia genggam di tangan kanannya.

Ia bangkit dari rebahannya dan duduk di pinggir tempat tidurnya, seakan baru saja mengingat sesuatu yang penting.

Dua hari yang lalu ia mengatakan pada Pandora bahwa saat ini segala sesuatu telah berubah menjadi digital. Ada banyak aspek kehidupan manusia yang sudah pindah ke bentuk digital, tak terkecuali dengan komik. Saat itu Pandora mendengarkannya dengan seksama. Seperti biasanya, mereka berdua saling lempar tatap saat sedang berbincang satu sama lain seakan-akan lawan bicaranya akan tiba-tiba pergi jika mereka tidak saling melempar pandang.

Ia mengingat-ingat lagi apa yang terjadi setelah itu.

Pandora seperti sedang memikirkan sesuatu dan wajahnya berubah menjadi lebih serius. Saat ia bertanya ada apa, Pandora hanya menggeleng sembari tersenyum. Mereka lalu secara bersamaan melirik ke pinggir buku komik yang mulai usang, sedikit terbakar di sana-sini karena pernah terkena lemparan petir dari Zeus.

“Zeus tidak akan pernah berhenti,” ujar Pandora.

Ia mengangguk setuju. Tapi ia tetap tidak tahu harus bagaimana.

Saat ia kembali memejamkan mata dan berusaha mengingat-ingat apa lagi yang terjadi setelahnya, terdengar suara nyaring dari layar komputernya. Lalu terdengar sebuah suara dari speaker yang terhubung dengan komputernya.

“Halo? Apa kamu bisa mendengarku?” Tanya suara itu.

Ia segera bangkit dari pinggir tempat tidurnya dan berjalan ke arah komputernya. Sesaat setelah ia menyalakan komputernya, matanya langsung terbelalak tak percaya ketika ia melihat apa yang sedang berada di hadapannya.

Pandora Statia, kini muncul dan dapat bergerak bebas di dalam layar komputernya. Masih dalam satu cerita yang sama, namun bentuk yang berbeda. Pandora kini memiliki warna, terlihat lebih bercahaya, lebih bahagia, kini ia bahkan bisa mendengar suara Pandora.

“Kamu? Kenapa bisa berada di sini? Bagaimana caranya?” ia berseru kesenangan. Suaranya agak tercekat di tenggorokan, masih karena merasa terkejut.

“Aku bertanya pada Athena bagaimana caranya agar bisa mengubah semua cerita yang ada menjadi bentuk digital. Ternyata ia sudah dari dahulu tahu bagaimana caranya, hanya saja memang tidak tertarik untuk melakukannya karena prosesnya yang sulit dan memakan waktu,” Pandora bercerita dengan bersemangat sembari dirinya terus bergerak sehingga membuat halaman yang muncul dalam layar komputer ikut bergerak perlahan ke bawah.

“Tadinya aku bersikeras dan mengatakan pada Athena bahwa aku ingin tetap mencobanya. Athena tadinya sempat melarangku karena ada kemungkinan tidak akan berhasil. Selain itu para manusia di internet katanya banyak yang berkelakuan mirip dengan para titan. Setelah terperangkap dan hampir gagal menerbitkan ceritaku sendiri ke dalam bentuk digital, aku baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga,” Pandora lalu menutup kalimatnya dengan tawa.

Halaman terakhir kini sudah habis ia scroll. Tidak ada ruang lagi untuk Pandora bercerita minggu ini. Ia dan Pandora pun memutuskan untuk kembali bertemu minggu depan di halaman yang sama dan waktu yang sama.

Setidaknya, kali ini, jika mereka berdua saling rindu, mereka bisa mengulang pertemuan mereka kapan saja dan di mana saja asalkan ada perangkat digital yang menyertai.

Sementara ini, mereka aman dari ancaman Zeus yang masih bersikeras ingin memisahkan mereka berdua. Mungkin, Zeus yang tua merasa kebingungan untuk mengubah dirinya sendiri menjadi digital.

Mungkin.

***

21 dukungan telah dikumpulkan

Comments