Penyelam Pikiran

5 months ago
(Sumber: Saya Grad)
Saya Grad

by: Saya Grad

Memahami manusia sangatlah sulit, walaupun kita bisa membaca pikirannya.

Aku, karyawan biasa di sebuah perusahaan Teknologi Informasi yang juga biasa-biasa saja, memiliki kemampuan yang tak biasa. Entah sejak kapan, aku bisa membaca pikiran orang lain. Bukan hanya apa yang sedang dipikirkan pada saat itu, namun aku mampu menelusuri tiap-tiap sel dalam otak yang digunakan untuk menyimpan ingatan tentang sesuatu yang, seringkali, si pemilik pikiran pun tak mampu mengingatnya kembali. Karena tak terlalu ingin berurusan dengan manusia, makanya aku mengambil kuliah di jurusan Teknik dan kini bekerja sesuai dengan bidang studiku.

Aku, sebagai individu yang hidup di kota besar, menyadari kalau aku tak bisa sepenuhnya lepas dari hubungan dengan manusia. Makanya semenjak kuliah, aku merintis usaha sampingan, berupa jual beli pakaian di berbagai toko online, sebagai jalan untuk memahami isi pikiran manusia. Interaksi dengan manusia pun sering kulakukan walau tak bertatap muka.

Aku, sebagai manusia yang sadar akan kebutuhan teknologi, berusaha mengikuti segala perkembangan dunia. Apapun informasi yang kudapat selalu kubagikan lewat segala media sosial yang kumiliki, sehingga aku menjadi pusat informasi terbaru oleh teman-teman di dunia maya. Dampak positifnya, daganganku semakin laris. Karena selain memberikan informasi, aku juga ikut menyebarkan kegiatan usahaku di media sosial. Namun tanpa sadar, aku menjadi budak teknologi. Di tiap waktu, aku tak bisa lepas dari ponsel ataupun laptopku.

Baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga. Perlahan aku mengurangi berbagi informasi yang tak terlalu penting dan lebih terfokus pada pengembangan usaha sampinganku. Hingga kini, aku hanya memiliki 3 media sosial yang aktif, sedikit apabila dibandingkan dengan teman-temanku yang mengaku kekinian dan memiliki 7 hingga 8 media sosial yang selalu diperbarui tiap hari.

Aku, yang tinggal di pinggiran kota dan bekerja di pusat kota, tumbuh menjadi masyarakat komuter dengan berangkat pagi dan pulang sore setiap hari kerja. Itupun aku tak bisa lekas beristirahat. Aku masih harus mengemasi barang pesanan para pembeli kemudian dikirimkan ke agen jasa pengiriman. Barulah setelah itu aku bisa beristirahat.

Aku, yang tak bosan menjalani rutinitas, seringkali diejek teman-teman kantorku yang menganggap kalau aku adalah orang yang membosankan dan kurang bersosialisasi walaupun aku terhitung karyawan baru. Seperti di hari Jumat sore ini, salah seorang rekan kerjaku hendak berkaraoke bersama teman-temannya dan ingin mengajakku supaya lebih ramai. Namun seperti biasa, aku menolak. “Aku nggak bisa kalau hari ini. Lagi banyak pesanan nih, nggak enak kalau terlambat kirim.”

Joni, temanku yang mengajakku, menghela napas sembari menyampirkan tas ranselnya di bahu, “ya sudahlah, kapan-kapan saja. Tapi kalau hari libur bisa kan?” Dalam pikirannya, jelas sekali kalau Joni menganggapku orang yang kaku.

“Diusahakan ya, yang penting sudah gajian dan ada ceweknya juga, biar seru.” Aku tertawa lebar, pun Joni.

“Hari ini juga ada ceweknya sih, hahaha.” Joni tertawa sembari melenggang ke luar kantor, meninggalkan aku yang sedang memasukkan laptop ke dalam ransel.

Masih ada orang lain di kantor yang belum pulang. Aku berpamitan dan berjalan ke luar, tak lupa melambaikan tangan pada petugas keamanan yang ada di pos jaga tak jauh dari pintu masuk. Kantorku berada di ruko yang posisinya tak jauh dari stasiun, hanya setengah kilometer. Alhasil setiap hari aku selalu menggunakan moda transportasi kereta untuk bekerja. Selain lebih hemat, juga bebas macet. Satu-satunya hambatan yang terjadi apabila ada gangguan teknis, itupun jarang sekali terjadi. Namun aku harus siap berdesak-desakan ketika berangkat dan pulang kerja. Banyak karyawan yang menggunakan jasa kereta untuk perjalanannya, sama sepertiku.

Sembari berjalan ke stasiun, aku memasang earphone. Aku selalu menutupi telingaku untuk meredam kemampuanku yang tak mau berhenti membaca pikiran seseorang. Hanya dengan melihat mata orang lain saja, aku dapat menyelami pikiran mereka. Dalam sekejap aku sudah mengerti alur yang harus ditelusuri dalam otak orang lain dan bisa mengetahui apapun yang tersimpan di dalamnya. Dengan menyumbat telingaku inilah aku berusaha menyibukkan otakku sendiri supaya tak sengaja masuk dan menyalin pikiran orang yang kutatap.

Ada alasan lain mengapa aku tak menggunakan kemampuanku di saat ini. Padahal justru saat pulang kerja seperti saat inilah aku bertemu dan melihat orang banyak. Namun karena aku menjumpai orang yang itu-itu saja ataupun memiliki jalan pikiran yang mirip, aku cepat bosan dan seringkali menyesal telah menerobos ke dalam otak mereka. Buang-buang waktu saja.

Sepanjang perjalanan menuju stasiun hingga duduk di peron, hampir semua orang yang kulihat sudah kubaca pikirannya. Mulai dari pedagang gorengan di pinggir jalan tak jauh dari stasiun, tukang parkir, hingga petugas pengawal kereta api, semuanya sudah kuketahui isi otak dan jalan pikirannya. Ketika aku berdiri di peron 1 tempat menunggu kereta yang menuju ke rumahku pun hampir semua penumpang pernah kutemui. Hanya segelintir orang yang belum pernah kususupi otaknya dan langsung kulakukan supaya tak membuatku penasaran. Cukup sekelebat pandang dan sekedipan mata, tuntaslah sudah kubaca pikiran semua orang yang berada di stasiun ini.

“…lebih baik aku mati.”

Jantungku serasa berhenti berdetak sewaktu aku mendengar kata itu dalam pikiranku. Siapa yang berpikiran seperti itu barusan? Aku langsung memperhatikan sekeliling. Lebih banyak pria di sini, sedangkan aku yakin kalau pikiran tadi berasal dari seorang wanita, tapi siapa?

Aku bergeser, berjalan mencari posisi yang lebih lengang supaya aku bisa memperhatikan sekitar dengan lebih jelas dan leluasa. Sambil menoleh ke kanan dan kiri, aku mencari pemilik pikiran yang membuatku penasaran.

Jika aku tidak salah, wanita itu sedang berpikir tentang kematian. Mungkin dia sedang memikirkan orang terdekatnya yang sudah wafat, atau kemungkinan terburuk, dia putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya. Semoga saja ini hanya pikiran burukku saja.

Tak mungkin mencari seorang wanita di dalam keramaian seperti ini. Lebih mudah mencari seekor kutu di dalam sekarung beras daripada mencari orang yang tak kukenal sebelumnya walau pernah kutemui, entah kapan.

Aku mencoba mengingat-ingat situasi tadi, yang membuatku bisa membaca pikiran wanita itu. Dari posisiku tadi yang berdiri tak jauh dari pintu masuk, banyak orang yang berlalu-lalang Barangkali dia sedang berjalan ke peron tujuannya, atau bisa juga dia sudah keluar dari area stasiun. Namun aku tetap berusaha mencari.

Kemungkinan terbesar ada di bagian ujung peron, posisi yang paling banyak ditempati wanita—posisi rangkaian kereta khusus wanita. Aku langsung menuju bagian utara stasiun. Aku yakin kalau wanita itu berada di sekitar sini. Untuk berada di posisi sepertiku sekarang, harus melewati posisiku tadi. Tak mungkin ke arah sebaliknya.

Ketemu! Wanita itu berada di peron seberang, sedang berdiri menunggu kereta yang mengarah ke jantung kota. Parasnya menawan, dengan mata sayu yang sesekali terpicing sewaktu sinar mentari senja mengarah tepat ke wajahnya, alis tipis lurus yang rapi—hasil pekerjaan pensil alis, hidung berukuran sedang, sesuai dengan bibir tipis yang sesekali membuka supaya gigi putihnya bisa mengintip melihat dunia.

Saking terpesona, aku hampir lupa untuk menyusup ke dalam pikirannya. Aku harus mengintip ke dalam pikiran wanita manis itu supaya dapat mengetahui apa yang dipikirkannya saat itu juga. Kulepas earphone dan kusampirkan di leher, kemudian kembali memperhatikan wanita itu.

Mutiara Kamelia. Mutia nama panggilannya. Indah sekali namanya, sesuai dengan rambut hitam legamnya yang dibiarkan tergerai sepunggung, berkilauan bak Mutiara dan sesekali berkibar diterpa angin sepoi-sepoi pengusir hawa panas kota. Meihatnya, aku jadi teringat akan Cornelia, kekasihku yang wafat beberapa bulan lalu. Mereka berdua memiliki paras sendu yang mirip, hingga membuatku makin penasaran akan isi kepalanya.

“Aku benci kepada semuanya. Mulai dari teman kantor, bos, hingga Erik.” Saat ini batin wanita itu sedang bergolak. Erik adalah kekasih wanita itu, yang lantas membuatku sedikit kecewa, meski tak menghentikanku membaca pikirannya.

“Bahkan tadi waktu aku meneleponnya, cewek yang mengangkat. Katanya sih dia pacarnya. Jadi selama ini aku dibodohi olehnya. Katanya dia hanya mencintaiku dan akan menikahiku. Pantas saja kalau tiap kutanya kapan dia mau melamarku, tidak pernah ada jawaban yang pasti. Padahal sudah kukenalkan pada Papa dan Mama. Aku juga membantah Papa yang awalnya melarang hubungan kami. Sudah kurayu sampai hati Papa luluh, tapi begini jadinya.” Menarik sekali. Pandanganku semakin tak bisa lepas darinya.

“Tadi manajer memarahiku atas kesalahan yang sebenarnya tidak kulakukan. Waktu audit bulanan, temanku iseng mengganti nominal di salah satu laporan pemasukan. Jelas saja laporannya langsung berantakan. Meskipun temanku sudah meminta maaf, tetap saja perbuatannya keterlaluan. Bahkan manajerku mengancam akan memecatku apabila terulang lagi. Itu yang tidak bisa kumaafkan.” Mutia membuka tas jinjingnya dan minum teh dalam kemasan botol hingga tandas, lalu membuangnya ke tempat sampah bertuliskan daur ulang.

“Untungnya temanku punya kebiasaan suka menaruh sepatu kerjanya di kolong meja kantor. Semoga tidak ada yang tahu kalau aku menggunakannya untuk menghantam bos hingga tewas sewaktu dia baru keluar dari kamar mandi waktu dia akan pulang. Mungkin teman-teman yang lain heran, kenapa aku pulang terburu-buru. Kubilang saja sudah ditunggu pacarku, beres.” Kulihat Mutia menarik sudut bibirnya. Aku yang sedang minum air mineral langsung saja terbatuk-batuk. Beberapa orang menengok ke arahku.

“Mungkin saat ini di kantor sudah ramai dengan polisi dan orang-orang sekitar yang penasaran akan apa yang terjadi. Biarlah, toh aku juga sudah berniat untuk mati dalam waktu dekat ini, bagaimanapun caranya.” Wanita manis itu kini memasang wajah datar, tangannya dilipat seperti sedang memikirkan sesuatu.

Sementara itu, terdengar suara pengumuman dari pengeras suara stasiun. “Jalur dua akan segera masuk kereta api Krakatau yang melintas langsung. Harap mundur dari jalur dua.” Mutiara Kamelia langsung menengok kearah utara, arah dimana kereta akan datang.

“Kebetulan sekali, mungkin memang sudah takdirku untuk mati sekarang.” Wanita berwajah sendu itu tersenyum tipis sambil melihat jam tangannya. “Tidak kuduga kalau harus mati dengan cara begini. Boleh juga. Mati dengan cara sensasional bisa membuatku tidak akan dilupakan oleh orang lain.”

Aku langsung merinding, ngeri membayangkannya. Wanita itu akan lompat pada saat kereta lewat. Aku masih berharap kalau itu hanya pikiran burukku saja, tapi posisi berdiri Mutiara Kamelia—di tepian garis kuning penanda batas aman— menandakan kalau dia benar-benar berniat ingin melompat dan menabrakkan dirinya ke depan kereta yang berjalan kencang.

Aku langsung bertindak cepat dengan memberikan sugesti kepada petugas pengawal kereta api yang berdiri tak terlalu jauh dari Mutia. Berhasil! Petugas itu langsung berjalan menghampiri Mutia.

Namun agaknya Mutia awas akan sekitarnya. Dia langsung bergeser menjauh dari petugas itu. “Mau apa petugas ini berjalan ke arahku? Mengganggu saja.” Gerutunya dalam hati. Rencanaku gagal. Tak mungkin aku menyuruh petugas itu berjalan lebih dekat lagi. Aku hanya bisa memberi perintah supaya dia lebih waspada dan membunyikan peluitnya.

Sementara itu pengeras suara mengumumkan lagi, “Jalur dua akan segera masuk Kereta Api Krakatau berjalan langsung. Harap menjaga jarak dengan berada di belakang garis aman.” Peluit ditiupkan oleh petugas pengawal kereta api yang berjaga di tiap-tiap ujung peron. Orang-orang yang berada di peron dua mulai mundur mengambil jarak, begitupun Mutiara Kamelia. Tapi meskipun begitu, dia berada di barisan paling depan. Dia hanya pura-pura bergeser namun kakinya masih menginjak garis kuning penanda batas aman yang berjarak hanya limapuluh senti dari ujung peron.

“Aku jangan sampai kelihatan mencurigakan. Nanti kalau kereta sudah sangat dekat, baru aku melompat, supaya lebih cepat dan tidak terasa sakit.” pikir Mutiara Kamelia. Tubuhku kembali menggigil.

Di kejauhan tampak kereta berjalan dengan cepat dengan suaranya yang lantang. Terlambat.

Saat itu Mutiara Kamelia sudah bersiap akan lompat. Otot-otot di betis kirinya terasa menegang pertanda dia mulai ancang-ancang. Tanpa sadar aku mengangkat tangan kananku ke arahnya. Aku ingin berteriak tapi sepertinya tidak akan sempat lagi. Secara refleks aku memalingkan muka sambil memejamkan mata.

Aneh, tidak ada bunyi apa-apa selain suara kereta yang lewat. Jika Mutia menabrakkan diri ke depan kereta, seharusnya ada suara benturan ataupun pekikan penumpang lain. Aku langsung melihat lagi ke arahnya saat kereta sudah lewat. Ternyata wanita sendu itu masih ada disana, memandang heran ke arahku.

“Laki-laki itu mengganggu saja. Gara-gara tingkah lakunya tadi, aku jadi kehilangan konsentrasi dan malah memperhatikannya.” Wanita itu menggerutu dalam hati. Syukurlah, tindakan bodohku tadi rupanya berhasil mengalihkan perhatiannya.

Tubuhku langsung bergerak ke jalur penyeberangan antar peron. Tak kupedulikan orang-orang sekitar yang juga memperhatikanku. Dalam pikiranku hanya ada satu tujuan: Mutia harus diselamatkan. Jangan sampai dia bunuh diri hanya karena menghadapi beban hidupnya.

Aku sudah pernah kehilangan Cornelia, wanita yang sangat kucintai. Dia juga seorang penyelam pikiran, mati karena bunuh diri, meski terlihat seperti kematian biasa bagi orang lain. Kami, yang diberi kekuatan menyelami pikiran orang lain, harus kuat secara mental jika tidak ingin mati muda karena beban pikiran orang lain yang tersimpan dalam pikiran kami. Cornelia mati karena menyimpan beban pikiranku, pria yang sangat dicintainya. Jadi, secara tidak langsung, aku yang membunuhnya.

Rasa tak ingin kehilangan orang yang dicintai itulah yang kini membuatku tergerak untuk membantu Mutia. Aku tak ingin orang-orang di sekitarnya bersedih karena kehilangan dirinya. Apalagi dia berniat mati dengan tragis di usia produktif. Orang kantornya mungkin bisa mengganti dirinya dengan karyawan lain, tapi keluarganya akan sangat kehilangannya.

Mutia, wanita yang kini berada di hadapanku, termangu memperhatikanku. Keinginannya untuk bunuh diri kini telah tergantikan dengan rasa penasaran akan pria tinggi kurus yang menatapnya, aku.

“Maaf, bisa kita bicara sebentar?” Aku membuka pembicaraan.

Mutia memalingkan wajah, sekejap menatap awan yang berarak menutupi cahaya mentari senja. Begitu awan sudah pergi dan cahaya oranye senja kembali bertebaran, wanita manis ini kembali menatapku. “Untuk apa kita berbicara? Memangnya ada yang perlu dibicarakan?”

Aku menghalau cahaya matahari yang menyilaukan mataku. Sepertinya Mutia masih ragu. Dia bimbang akan maksudku menghampirinya dan mengajaknya bicara. Segera saja kuberi masukan ke dalam pikirannya: aku sudah mengetahui niatnya bunuh diri.

Usahaku tak sia-sia. Dia terhenyak kaget walau sekejap kemudian wajahnya tampak melankoli seperti sebelumnya. Kali ini aku tak mengulang pertanyaanku, tapi langsung mengajaknya, “kita mengobrol di sana saja ya.” Kutunjuk kedai roti yang ada di dekat pintu keluar masuk stasiun.

Mutia mengangguk perlahan. Pikirannya masih menyimpan keraguan namun tak urung langkahnya menjajariku yang berjalan perlahan.

Melewati terowongan penyeberangan peron, kami tiba di kedai roti yang aromanya tercium ke seluruh penjuru stasiun. Kami mengambil posisi duduk di paling dalam. “Mau pesan apa?”

Jawaban akan pertanyaanku tadi sangat singkat dan khas wanita, “terserah kamu.”

Aku ke kasir dan memesan dua buah roti, dua botol teh yang bermerek sama dengan yang Mutia minum sebelumnya, juga dua kaleng soda. Aku membawa pesanan dengan nampan dan menaruh di meja. Mutia sedikit terkejut, matanya terbelalak. “Mau pesta?”

Aku berdehem. “Soalnya aku nggak tahu kamu mau pesan apa. Makanya aku pesankan ini. Nanti bisa dibawa pulang kalau misalnya ada sisa.”

Mutia mengangguk kecil, kemudian membuka tutup botol teh tanpa melihat sedikitpun ke arahku. Dia memasukkan sedotan ke dalam botol dan mulai mereguk tehnya perlahan. Tanpa sadar aku tertawa kecil.

“Kenapa ketawa?” Mutia kini menatapku heran.

“Nggak. Rasanya aneh waktu lihat kamu minum pakai sedotan. Padahal sebelumnya kamu minum langsung dari botol.”

Mendengar penjelasanku, wajah wanita melankolis itu bersemu. Dia mengalihkan pandangannya ke arah kereta yang baru masuk stasiun. Kereta tujuannya, seharusnya. “Kamu mau bicara apa? Aku masih ada perlu.”

“Wah, sabar dulu, Nona. Nggak baik kalau berbicara tanpa memperkenalkan diri lebih dulu. Ito, Panggraito.” Tanganku terjulur, namun tak ada respon apa-apa dari Mutia. Aku melipat tanganku di atas meja dan sedikit mencondongkan tubuhku ke depan, sedikit mendekat ke wajah Mutia sembari berbisik. “Kenapa kamu mau bunuh diri?”

Mutia terhenyak dan menatapku sejenak, kemudian pandangannya berkelana ke setiap sudut ruangan. Tangan kanannya mengusap leher dan tengkuknya yang putih mulus. Batinnya bergolak, antara harus menceritakan masalahnya kepada orang yang tidak dikenal ataupun tetap menyimpannya dalam-dalam. Aku sudah tahu semuanya. Walau begitu aku tetap ingin mendengar kisahnya dari mulutnya sendiri.

Tangan Mutia kini menopang dagunya. Matanya memandangku tajam. “Kamu benar-benar mau tahu? Tapi aku nggak bisa bercerita semuanya, hanya intinya saja.” Dia berpikir kalau tatapannya yang bagaikan pisau bisa membunuh usahaku mengorek informasi dirinya, tapi anggukanku membuyarkan anggapannya.

“Nggak apa-apa. Begitu lebih baik, daripada hanya dipendam sendirian.” Aku menyobek roti dan mengunyahnya perlahan, siap mendengarkan kisah Mutia.

“Aku bukan orang yang pandai bercerita.” Mutia menghela napas dan mulai bertutur, “Pacarku memiliki kekasih lain padahal aku sudah benar-benar serius dengan dia. Ditambah lagi, temanku yang iseng hampir membuat aku dipecat. Persoalan sederhana, bukan? Sederhana bagi orang lain, tapi rumit jika diri sendiri yang mengalaminya.”

Aku mengambil sekaleng soda, mengelap bagian atasnya dengan tisu, kemudian membuka tutupnya. Terdengar suara desisan. Setelah kupastikan taka da busa yang keluar dari kaleng, aku mereguknya perlahan. Baru setelah kutaruh kaleng di atas meja, kembali kuberikan pertanyaan kedua pada Mutia, “Lalu apa yang kamu inginkan?”

Mutia tampak tak siap menghadapi pertanyaanku. “Apa maksud kamu?”

“Kalau kamu anggap persoalanmu dipandang sederhana oleh orang lain, bagaimana kalau kamu berpikir seperti orang lain itu? Apa yang kamu inginkan? Kamu mau bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Pertanyaan seperti itu akan selalu muncul. Untuk persoalanmu, hanya kamu yang tahu jawabannya. Salau satu petunjuknya adalah pertanyaanku tadi.”

“Apa yang aku inginkan, ya?” Mutia mengulang pertanyaanku sembari pandangannya mengarah ke parkiran, meski aku yakin kalau pikirannya sedang berkelana.

“Misalkan, kamu ingin mengakhiri hubungan dengan pacarmu, juga keluar dari pekerjaanmu dengan cara mengundurkan diri. Yang paling penting, keputusanmu bisa membuat dirimu lebih tenang dan bahagia.”

“Bahagia?” Matanya terpicing menatapku. “Apa itu bahagia? Yang aku lihat, kamu sendiri belum tentu bahagia.”

Aku gelagapan. “Setidaknya, aku sedang berusaha mencari kebahagiaanku sendiri.”

Mutia menyedot teh dalam botolnya sembari berpikir. Keheningan hadir sebagai pihak ketiga di antara kami selama beberapa menit. Aku sendiri mencoba mengalihkan pandangan darinya, membiarkan otaknya berpikir bebas tanpa terjajah olehku. Kebahagiaan seseorang harus ditentukan oleh orang itu sendiri.

“Terimakasih atas sarannya. Aku mungkin belum bisa menentukan apa yang aku inginkan, tapi akan aku pikirkan lebih lanjut.” Mutia mengambil buku dari dalam tasnya, kemudian menuliskan sesuatu lalu menyobek kertas yang sudah dicorat-coretnya. Kertas itu lalu disodorkan padaku. “Mungkin kamu bisa bantu aku di lain waktu. Ini nomor ponselku. Tolong disimpan.”

Dahiku berkerut. Baru kali ini ada wanita yang memberikan nomor ponselnya duluan padaku. Tak urung kuambil kertas itu dan membacanya sejenak. “Mutia. Namamu bagus.”

Wanita yang baru saja kusebut namanya itu hanya mengangkat bahu. Lekas kukeluarkan kartu namaku dan kuberikan padanya. Mutia membacanya dalam hati, kemudian memasukkan kartu namaku ke saku kemejanya. Wanita manis itu lalu mengacungkan sebungkur roti yang sejak tadi belum tersentuh. “Ini untukku kan? Aku bawa ya. Terimakasih.” Dalam sekejap roti itu berpindah ke dalam tas jinjingnya, beserta sebotol teh yang belum tandas diminum.

Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berlalu dari hadapanku. Meninggalkan samar aroma parfum stroberi yang wanginya lekas tersapu aroma roti yang terus dipanggang oleh karyawan toko. Aku masih duduk sembari mencuil roti. Kertas bertuliskan nama dan nomor ponsel Mutia kutaruh di meja. Aku masih belum memutuskan apa-apa. Kalau ada perlu, biar dia yang menghubungiku.

Ponselku berbunyi, ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Mungkin ada orang yang ingin membeli barang daganganku. Tapi rasanya aku pernah mengenal nomor ini. Mutia! Cepat sekali dia mengirimiku pesan.

Aku pikir hanya pesan biasa, hanya tes kontak seperti yang dilakukan orang lain. Tapi isi pesan yang tak bisa dibilang singkat ini jauh lebih mengagetkanku daripada keputusannya untuk bunuh diri.

“Penyelam pikiran? Bagus juga julukanmu untuk kemampuan yang kamu miliki itu. Tapi sepertinya kamu belum bisa belajar dari kematian pacarmu. Cepat kendalikan kemampuanmu atau kamu bisa mati. Bukan olehku, tentu saja. Aku justru mau berterimakasih dan ingin bertemu kembali denganmu. Sampai jumpa lagi.”

Tidak mungkin…

Bogor, Mei-Juli 2017

Saya Grad

18 dukungan telah dikumpulkan

Comments