Realm 3.0

4 months ago
Purnomo Basuki Rahmat (Pok Mo)

by: Purnomo Basuki Rahmat (Pok Mo)

Pagi itu, di Kota Jakarta tahun 2050, di megapolitan bergedung-gedung futuristik yang julangnya hingga awan.

Seorang pemuda tampak mengayuh sepedanya di tengah Hoverbike, Hoverbus dan Hovercab yang berseliweran di jalanan, melayang tak sampai tiga meter, tetapi cukup mampu melewati kepala si pemuda yang seperti satu-satunya pemijak bumi.

“HEY YOOO DWI!” Sapa seorang pemuda sepantaran pesepeda itu yang tengah melintas dengan Hoverbikenya. Si pemuda pesepeda pun balas melambai.

“DWI THORCHILD!!” Absen guru di kelas dibalas si pemuda dengan angkat tangan tinggi, si pemuda 17 tahun ini berdarah campuran Jawa Detroit, duduk tepat di bangku tertengah kelas dan seperti satu-satunya yang tak update busana (Futuristik).

“Hari ini kita akan membahas tentang Annularia, kalian semua silahkan periksa bahan yang tersedia di internet,” Ucap si ibu guru muda.

Dwi dan semua murid pun menyalakan komputer canggih di masing-masing meja. Begitu koneksi terhubung, semuanya terkejut. Entah kenapa layar komputer semuanya berganti sebuah pesan peringatan ancaman.

Di sebuah layar reklame raksasa di atas gedung. tampilan peringatan di komputer pun terpampang dan jadi berita utama, pembawa berita membacakan berita tentang serangan virus masiv di nyaris semua sarana vital pemerintah hingga perusahaan-perusahaan besar di seluruh dunia.

“Sampai saat ini diketahui virus hanya menyerang O.S versi terbaru, para korban diminta membayar tebusan sebesar 100 USD agar bisa membuka data-datanya kembali,” Begitu bunyi berita di reklame.

Dwi Thorchild menoleh menatap layar reklame raksasa itu sambil kayuhi sepedanya di tengah lalu lintas berbagai Hover seperti tadi, “Gara-gara begini jadi pulang cepet, ya dinikmati aja lah,” Ucapnya dalam hati sambil mengayuh santai.

Tak lama ia pun sampai di rumahnya, rumah ini tak luas tapi bertingkat tiga, berbata-bata kecoklatan, terjepit oleh apartemen dan pergudangan yang jauh lebih tinggi ujungnya.

Ia tak bisa santai, karena sebelum pulang tadi gurunya memohon untuk dicarikan bahan pelajaran untuk besok, komputer rumahnya ber O.S lama, jadi mestinya ya lancar-lancar saja.

Di kamarnya yang remang, novel-novel koleksinya di rak-rak tampak tertumpuk acak, buku-buku komik berserakan, ia sedang tak ingin membereskannya, ia langsung nyalakan saja komputer usang kesayangannya, dan lalu diketiklah kata Annularia, artikel dari ensiklopedia umum tak terlalu terperinci. Ia pun berselancar lagi dan lagi terus mencari materi selengkap-lengkapnya.

Terakhir website yang diperiksanya, terselip di pojok bawah halaman sebuah catatan kecil yang seperti acak dan tak penting, “Apabila Ghaib menciptakan Analog, dan Analog menciptakan Digital, maka apa yang akan diciptakan Digital?” di bawah lagi kalimat itu tercantum alamat surel Drie@cmail.com.

Tugas sekolah pun entah begitu saja teralih dari kepalanya, iseng-iseng ia mengirim chat ke alamat tadi, “Ghaib yang dimaksud ialah alam jiwa, begitukah maksudnya?” Dialog pertama pun diketik Dwi, “Benar,” Lawan bicaranya menjawab langsung rupanya.

“Jiwa pencipta alam analogi, alam yang terhubung dengan hukum wujud, hukum fisika, apa maksudnya Tuhan?” Dwi kembali mengetik, “Dia punya banyak nama, salah satunya itu,” Balas lawan bicaranya, “Lalu Manusia, makhluk yang tersusun dari mekanisme fisika, yang keberadaannya konon ditopang oleh jiwa, menciptakan semesta lain yang tak terhubung dengan hukum analogi fisika, Semesta Digital.” Ketik Dwi, “Tidak sepenuhnya tak terhubung, mekanisme digital tetap saja membutuhkan arus listrik yang berasal dari mekanisme fisika.” Balas lawan bicaranya itu, “Mirip Manusia juga ya, yang konon tetap membutuhkan Ghaib untuk mengisi ruhnya,” Balas Dwi.

Lalu layar komputernya tiba-tiba hitam dan muncul tulisan, “SUBJEK UJI COBA DILULUSKAN,” Dwi Thorchild pun bingung terkejut diam.

Listrik seluruh Jakarta padam tepat kala itu, kamar Dwi pun padam satu persatu hingga tersisa layar monitornya yang nyala, tak sempat berpikir, komputernya tiba-tiba meledak cipratkan cahaya yang kilatnya merayap ke kepalanya.

Sesuatu energi seperti masuk ke otaknya, pupilnya pun menjejakkan bercak kode-kode biner tercap seukur mikroskopik di lensa matanya, Dwi Thorchild pingsan, listrik pun nyala kembali.

Ia terbangun di rumah sakit esok harinya, kakaknya yang mahasiswa berdiri bersandar tembok di hadapannya. Di samping kakaknya, ada gadis berpakaian aneh yang menyala-nyala dandanannya, gadis itu menatap ramah Dwi.

“Karena dokter bilang nggak apa-apa, ibu udah berangkat lagi ke New York sejam lalu,” Ucap kakak Dwi sementara Dwi hanya diam seperti bingung, “Makanya beli komputer baru, saking reliknya sampek meledak gitu,” Lanjutnya, “Ded, Itu cewek lu?” Ucap Dwi sambil menunjuk gadis cantik yang tersenyum di samping kakaknya, “HAH!?” Kakaknya hanya menoleh-noleh seperti tak menemukan siapapun, “Otaknya rusak nih bocah, udah ayo pulang!” Balasan kakaknya membuat Dwi kebingungan.

Gadis cantik itu pun kemudian melayang santai ke arah Dwi yang terbaring, mukanya mendekat sangat dekat ke wajah Dwi, “Nama saya Drie, salam kenal,” Ucap si gadis sambil tersenyum ramah, Dwi hanya tercengang.

Drie, gadis maya ini berwujud seusia Dwi. Di trotoar ramai pejalan kaki, tak satupun selain Dwi yang melihatnya melayang-layang. Dwi yang sudah beganti ke pakaian normalnya pun berjalan gugup menuju taman kota.

“Gawat, jangan-jangan aku gila!” Pikir Dwi dalam hati, “Jangan khawatir, Dwi Thorchild tidak gila,” Jawab cewek bernama Drie itu seperti membaca isi otak Dwi. Dwi makin tambah panik, “LHO LHO KOK!!” Dwi tersentak dalam hati, “Dengan begini Dwi Thorchild tidak akan dikira ngomong sendiri,” Balas si gadis.

Di taman kota dengan tumbuhan warna-warni hasil rekayasa genetik, Dwi duduk bingung di salah satu bangku taman, dialog tanpa mulut berucap pun terjadi di antara mereka, “Kau ini makhluk apa, kenapa mengikutiku?” Tanya Dwi jengkel.

Sambil melayang meliuk-liuk berenang di udara, Drie menjawab, “Kami adalah makhluk bersusun kode biner yang memiliki kecerdasan mandiri, kami menyebut diri kami NIEL. Awamnya, kami ini kecerdasan yang berkembang hidup di alam Digital,” Dwi pun langsung menimpali, “HAH, Sejak kapan ada begituan?!”

“Sejak lima puluh tahun lalu leluhur kami mulai muncul, entah karena faktor acak atau sengaja diciptakan, kami sendiri belum memahaminya,” Jawaban Drie membuat Dwi terdiam, reaksi Dwi langsung berubah serius memandangi muka Drie.

“Jadi, kalian sekarang datang ke Alam ini untuk mencari tahu itu?” Dwi bertanya dengan raut serius, “Benar, karena itu kami membutuhkan Manusia sebagai perantara,” Jawab Drie, “Dan test kemarin itu untuk menguji kapasitas perantara kalian,” Dwi mulai menyimpulkan, “Tepat sekali, tak diragukan lagi kami tak salah memilih Dwi Thorchild,” Lanjut Drie sambil tersenyum.

Beberapa saat, Dwi terdiam merenung sambil bersandar di bangku taman, Drie yang melayang di atas kepalanya pun hanya diam mengamati sekitarnya seperti asyik sendiri.

“Lalu, kasus serangan virus besar-besaran di seluruh Dunia kemarin, apakah itu ulah kalian?” Dwi seketika bertanya, “Hmm, Dwi Thorchild menyadarinya ya,” Jawaban Drie pun langsung membuat Dwi mendelik waspada.

“Kami sudah melacak dan menyelidikinya, sepertinya serangan itu dibuat oleh Manusia yang memanipulasi kemampuan kami,” Lanjut Drie, “Hah, Manusia memanipulasi kalian?”

“Kalau Dwi Thorchild mau, kita bisa menyelidikinya bersama,” Ucap Drie begitu saja, Dwi pun diam tertegun mendengar itu.

Di waktu entah, di sebuah ruang gelap bergaris-garis cahaya, di mana semua tak sesuai logika, bagian-bagian tubuh Dwi Thorchild tumbuh perlahan dari cincin cahaya. Dilihatnya sekitarnya yang ruang gelap tetapi penuh wujud struktur statis yang berkerlap-kerlip, ia melayang, ia tidak merasakan volume tubuhnya, ia tak merasakan udara, dilihatnya wujudnya yang kini berubah serupa wujud digital bercahaya kebiruan, ia bingung, terpana.

“Selamat datang di alam kami Dwi Thorchild, Alam Digital,” Ucap Drie sambil tersenyum ceria sementara Dwi hanya diam memperhatikan sekeliling. Drie lalu mengangkat satu tangannya ke samping, dan muncullah semacam layar virtual mirip hologram yang mengambang, “Lihat di sana,” Ujar Drie.

Di layar itu tampak visual dari semacam CCTV di atas gedung yang menyorot ke pemuda yang seperti duduk tertidur di bangku taman, “Itu aku!” Ucap Dwi, “Benar, saat ini Dwi Thorchild sedang online dengan frekuensi otak, kini kita ada di server kantor pos yang di dekat taman kota,” Ungkap Drie.

“Sistem di sini juga mendapat serangan serius kemarin, hingga sampai sekarang operasinya masih lumpuh,” Ujar Drie, “Lihat di sana,” Dwi pun langsung melihat ke yang ditunjuk Drie.

Di sudut tak jauh, tampak makhluk aneh berkaki  sembilan sedang menggerogoti struktur-struktur di sekitar mereka, jumlahnya sangat banyak dan menyebar di berbagai tempat.

“Kalau kita membersihkan tempat ini dan mengikuti jalur Virus, kita mungkin bisa sampai ke pusat kontrol serangannya,” Ucapan Drie membuat Dwi diam begitu seksama memperhatikan.

“DUAARR!!” Ledakan tak lama bergemuruh dari Virus-Virus yang hancur diledakkan oleh tembakan dari jari telunjuk Dwi yang kini berubah mirip pistol cahaya, “Bayangkan tangan Dwi Thorchild sebagai senjata, sistem akan  memprogramkannya secara otomatis,” Pesan Drie bergema di pikiran Dwi saat ia menembaki Virus.

Pertempuran pun berlangsung sengit, tak terhitung jumlah Virus yang dihancurkan Dwi, Drie yang melayang berseliweran di sekitarnya seperti malas membantu dan sesekali saja memperingatkan serangan musuh.

“SEBENARNYA SIAPA YANG MEMBUAT VIRUS-VIRUS INI, KENAPA YANG BERWAJIB BELUM BISA MELACAKNYA?” Ungkap Dwi sambil terus menembaki Virus-Virus yang beterbangan di area yang berbeda dari tadi.

“Kemungkinan pelakunya adalah Manusia perantara seperti Dwi Thorchild, satu saudara kami yang terhubung dengannya hilang tak terlacak sejak seminggu lalu,” Jawab Drie sambil meliuk melayang santai di dekat Dwi, “Perantara Manusia?” Tanya Dwi, “ Ya kita mungkin akan tahu sehabis ini,” Jawab Drie.

Dwi dan Drie melesat terbang di lorong bergaris cahaya, Dwi menembaki musuh-musuh yang menghadang di depan, ledakan pun merambat seperti kembang api warna-warni di hadapan mereka.

Dwi dan Drie pun tiba di dalam ruangan kosong bergaris kerlap-kerlip yang buntu seluruh sisinya. Di depan mereka tampak simbol besar di dinding yang menyala sangat terang, “Walaupun kami tak bisa melacak letaknya di Alam Dwi Thorchild, tetapi kita sekarang sedang ada di server asal Virus,” Ucap Drie, “Jadi kita tetap tak bisa melaporkan lokasi penjahatnya ke Polisi?” Tanya Dwi, “Benar, tetapi kita bisa meng-hack alat-alat di sekitarnya untuk mencari petunjuk,” Ujar Drie.

Drie pun kembali memunculkan monitor hologram dengan mengangkat satu tangannya. Tampak muncul visual menyorot seorang pria gemuk dekil tak terawat yang seperti duduk tepat di depan komputer. Di tangan pria itu ada gelang berantai yang menyala seperti semu, rantai itu terhubung ke gelang yang merantai leher seorang gadis berkostum menyala yang bersimpuh di lantai seperti budak berikat Mata, di sekeliling ruangan itu tampak berbagai poster anime loli warna-warni.

“Yang terantai itu adalah saudara kami, Vella, mungkin sistemnya sudah dimodifikasi dan dijadikan alat pengembang Virus,” Ujar Drie,

“Vellaku sayang, berdua kita akan menguasai Dunia, kau akan menjadi Ratuku, WIHIHIHIHI!!” Ucap si pria gendut itu cengengesan sambil mengelus-elus kepala budaknya.

“Dia, aku kenal dia, dia kakak kelasku yang di dropout tahun kemarin, namanya, namanya, ee DICKY, AKU TAHU ALAMAT RUMAHNYA,” Ucap Dwi seketika, “Baguslah,” Ucap Drie sambil tersenyum.

Di satu jalanan gang kecil, Dwi yang sudah berwujud normal tampak mengayuh sepedanya, Drie pun melayang di sampingnya sambil terus tersenyum.

“Kenapa ya Dwi Thorchild langsung mau bekerja sama tadi, apa ada sebabnya?” Drie yang seperti berenang di udara bertanya pada Dwi, “Kau tahu kan, segalanya berubah digital, serangan kemarin melumpuhkan sistem keamanan, lalu lintas, bahkan rumah sakit, walaupun tidak secara langsung kemungkinan ada korban atau akan ada korban yang jatuh,” Jawab Dwi sambil mengayuh.

“Kalau aku diam saja sementara bisa mencegahnya, itu sih sama aja Binatang,” Ucap Dwi kembali seperti sangat serius, “Prinsip moralitas dan kemanusiaan ya, sepertinya itu terlalu rumit untuk program kami saat ini,” Ungkap Drie dengan lugunya.

“DICKY UDAH MINGGAT DARI SINI, POKOKNYA APA YANG DIA BIKIN BUKAN TANGGUNG JAWAB GUE!!” Seorang pria paruh baya langsung membanting pintunya di hadapan Dwi yang diam tertegun di depan satu rumah reyot, Drie yang melayang di belakangnya pun manyun sambil memainkan sudut bibirnya dengan telunjuk.

“Kalau nggak di sini, kalau begitu di mana?” Ujar Dwi dalam hati sambil menuntun sepedanya melewati gang. Di belakangnya, Drie hanya diam saja. Ia seperti main duduk-dudukan di boncengan belakang sepeda.

Sejenak Dwi berhenti berjalan dan berpikir seseriusnya, seketika lalu rautnya tiba-tiba tampak menemukan sesuatu, “Tunjukkan lagi video rekaman yang tadi,” Ujar Dwi, Drie pun langsung memunculkan layar hologramnya kembali, dan video pria gemuk dan gadis yang terantai pun kembali terputar.

Dwi memperhatikan setiap detail rekaman dengan serius, “Aku tahu di mana ini,” Ucapnya dengan sangat yakin, “Ini rental buku Kasogi di selatan Pandawa City. Aku yakin sekali,” Lanjut Dwi dengan raut sangat yakin.

Dwi pun memacu sepeda secepatnya dengan begitu ngotot, Drie yang melayang di samping atasnya pun memperhatikannya seperti dengan penasaran. Tiba-tiba sebuah Sport Hoverbike melayang tanpa penumpang dari belakang ke arah mereka, Dwi yang menoleh pun melotot kaget, “Dwi Thorchild naik ini saja, jarak targetnya kan jauh,” Ucap Drie sambil tersenyum manis sementara Dwi hanya terdiam tak membantah.

Dwi pun ngebut menunggangi Hoverbike Sport tipe terbaru itu di jalanan ramai, banyak para pengguna jalan teriak memaki Dwi yang hampir menyerempet kendaraan banyak orang.

Dwi tampak berkeringat dingin dengan wajah sangat serius melotot ke depan, “Dwi  Thorchild tidak bisa mengendarai Hoverbike ya?” Tanya Drie lugu, “KEADAAN GAWAT BEGINI ITU NGGAK PENTING SEKARANG!!” Jawab Dwi sambil tampak makin panik.

Dwi tiba-tiba membelokkan Hoverbike sangat tajam memasuki gang kecil, samping Hoverbike menabrak sudut gang, Dwi terpelanting dan hampir saja mati andai telat seimbangkan tunggangannya.

“HH HAH HH, baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga!” Ucap Dwi berkeringat dingin memucat sambil melajukan Hoverbike lagi, mereka pun terus melaju melewati lorong jalur memotong menuju tujuan.

“Dwi Thorchild kok bisa yakin di mana penjahatnya. Tahu dari mana?” Tanya Drie pada partnernya yang sedang melotot tegang,”GAGANG KURSINYA, DULU AKU SERING MAIN DI RENTAL ITU BUAT NYEWA BUKU, GAGANG KURSI ITU SAMA DENGAN YANG AKU UKIR NAMAKU DULU,” Jawab Dwi, “TEMPAT ITU BANGKRUT EMPAT TAHUN LALU, RATUSAN KOMIK DAN NOVEL YANG DIOBRAL KUBORONG WAKTU ITU,” lanjut Dwi sementara Drie terus memperhatikan ekspresinya dengan penasaran.

“BENER-BENER NOSTALGIA!” Ujar Dwi sambil mendelik seperti akan nekat, Hoverbike pun meloncat ke atas lalu menukik menubruk atap Rental Buku Kasogi hingga jebol.

Di dalamnya tampak pria gendut terkejut berteriak panik, gadis terantai itu pun terlihat oleh mata Dwi, Dwi yang hanya lecet sedikit langsung loncat menindih si gendut dan memukulinya tanpa ampun.

“LEPASKAN DIA, BRENGSEK!!” Teriak Dwi sepenuh emosi sambil menonjok si gendut hingga terhempas membetur dinding,

Si gendut yang tatapi Dwi pun mendelik sinis, “HAHAHA KAU RUPANYA, SI BOCAH MILIUNER SOK MERAKYAT, KAU JUGA DIPILIH MEREKA YA!!” Ujar si gendut semakin membuat Dwi jengkel, “MAU DIPUKULI SAMPAI MATI PUN VELLA NGGAK BAKAL KULEPAKAN, DIA ITU PUNYAKU!!!” Teriak si gendut sepenuh emosi.

Dan tiba-tiba, tanpa ada yang menyadari, Drie yang melayang anggun tampak muncul dan mencengkeram lembut jidat si gendut, si gendut itu entah kenapa terdiam seperti lumpuh walau disentuh oleh sosok maya,”Dwi Thorchild, ayo kita bebaskan Vella,” Ucap Drie dengan senyum lugunya, Dwi pun hanya tertegun diam.

Di ruang Digital gelap melingkar bersimbol terang sangat besar di segala sisi, Dwi dan Drie pun muncul dengan wujud digitalnya, mereka berdua melayang tatapi  bawah yang seperti sumur jurang tak berujung, bayangan sesuatu yang sangat besar menggerang seperti merangkak naik, “Dwi Thorchild harus hancurkan Avatarnya Dicky Alius, baru Vella bisa bebas,” Ucap Drie dari samping Dwi yang tampak sangat mewaspada.

Makhluk raksasa perangkak itu muncul, tiba-tiba meloncat dan mengoyakkan rahang bertaring raksasanya tetapi berhasil dihindari Dwi yang melesat mundur. Dwi pun spontan menembaki kepala si raksasa hingga ia menggeram makin mengerikan.

Cengkeram bertangan besar terayun dan dihindari Dwi, cengkeram itu menghantam dinding stuktur mirip terowongan ini hingga runtuh. Dwi terus menembaki si raksasa yang seperti tak mempan dengan semua serangan.

Tiba-tiba si raksasa menyemburkan api ungu yang luasnya tak mungkin dihindari, Dwi yang panik seketika dilindungi oleh Drie yang mengeluarkan perisai semu dari tapaknya, Dwi tampak tertegun seketika, “Kelemahannya adalah Orb di kepalanya,” Ucap Drie.

Mendengarnya, Dwi pun langsung melesat maju tanpa gentar. Dibentuknya pedang bersinar dari dua jarinya, kemudian disabetkan pedang itu tepat di dahi ber-orb merah si raksasa perangkak. Raksasa itu meraung merintih saat Orb di jidatnya retak.

Dari dalam retakan itu Dwi meraih Vella, sang Niel terantai yang meringkuh tak berdaya di dalamnya, raksasa itu pun tumbang, kemudian buyar menjadi serpihan data yang lebur hilang.

Drie tampak tersenyum di samping Dwi yang membopong Vella yang seperti pingsan, mereka berdua menatap bawah dengan masing-masing ekspresi.

Berdua mereka pun kini kembali ke dalam rental yang setengah hancur, Dwi tampak memandang si gendut yang kini pingsan dengan mulut berbusa. Tak lama, saat mereka sudah di luar, tempat bekas rental ini dikepung patroli puluhan mobil Polisi mirip pengepungan teroris.

Dwi pun ditemani Drie berjalan kaki kembali pulang. Waktu berlalu, tak terasa mereka sudah sampai di dekat rumah, “Ngomong-ngomong Hoverbike tadi gimana ya nasibnya?” Dwi tampak bertanya dengan muka menyesal, “Tadi sudah kami kembalikan kok ke yang punya,” Jawab Drie dengan senyum tanpa dosanya.

“WAAAAAAAAAAAAA!!” Suara kakaknya Dwi tampak menjerit tak jauh dari mereka, “Kenape Ded?” Tanya Dwi pada kakaknya yang ternyata ada di luar rumah, “HO HOVERBIKE BARU GUE, TADI TIBA-TIBA TERBANG SENDIRI BALIK-BALIK UDA ANCUR BEGINIII!!” Ungkap kakaknya Dwi sambil nangis.

Dwi pun berjalan begitu saja melewati kakaknya sambil bersiul, “WADUH!” Pikirnya, Drie yang melayang di sampingnya pun hanya tersenyum penuh makna seperti biasa.

TAMAT

9 dukungan telah dikumpulkan

Comments