Rival

1 year ago
(Sumber: chipencil.deviantart.com)
Syifa

by: Syifa

“Ah, enak sekali jadi dia ya. Nongkrong terus di cafe setiap hari. Followersnya banyak pula.” Tania bergumam di kamarnya, ia sedang melihat instantgram story seorang teman yang dipost 12 jam lalu. “Taniaaa. Mandi! Makan! Nanti telat masuk sekolah!” suara ibunya yang berasal dari ruang makan terdengar jelas hingga kamar anaknya di lantai 2. Tania bergegas mandi dan sarapan begitu melihat jam.

Anak perempuan yang baru masuk tahun pertama di SMA itu berjalan menuju sekolah. Sudah hampir jam masuk, yang artinya gerbang sekolah akan ditutup dan bagi murid telat tidak boleh masuk. Tania mencoba berlari walau tidak yakin akan terkejar. “Percuma naik angkutan umum, karena jam segini macet parah” teriaknya dalam hati. Tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang, “Hei, kamu! Mau ikut naik motor ngga?” Tania tidak kenal siswa itu, tapi ia mengenakan seragam yang sama. Dan jujur, wajah siswa yang rupawan itu membuatnya terpana pada pandangan pertama. Tania mengangguk dan mereka sampai di gerbang tepat saat bel masuk. Tania berterimakasih kepadanya, namun tak sempat bertanya nama siswa itu karena ia terburu-buru memarkir motor.

Tania berjalan lunglai di lorong kelas, masih mengantuk karena semalam begadang mengerjakan PR. Namun matanya terbelalak melihat kerumunan siswa-siswi hilir mudik dengan memegang buku tulis. “Aku lihat nomor 6 dong!” seorang siswa menarik sebuah buku tulis “Aku duluan tau! Masih nulis nomor 10 nih. Sabar dong!” kata siswa lainya. Sementara itu Tania duduk tenang di bangkunya. Ia sudah selesai megerjakan semua. “Hai, aku lihat punyamu dong. Boleh, kan? Eh iya siapa namamu?” seorang siswi berambut ikal panjang ingin meminjam bukunya. Siswi itu bernama Amel, sang selebgram yang terkenal. “Namaku Tania, nih”, ia meminjamkan bukunya sambil berbisik dalam hati, “ah, ini dia cewek femes. Padahal sudah sebulan masuk tapi masih ga kenal temannya sendiri.”

Tiba-tiba melintas ide itu di kepalanya, “Aku akan mendekati Amel agar bisa diterima di geng-nya. Lalu ikutan jadi selebgram.” Di kelas tersebut memang bisa dikatakan sudah terbagi menjadi 3 geng. Geng yang anggotanya paling terkenal dan jumlahnya banyak adalah gengnya Amel. Ketiga geng tersebut tidak terlihat bermusuhan secara langsung, namun mereka sulit berbaur ketika pembentukan kelompok secara acak.

Amel sudah selesai menyalin jawaban dari buku Tania, kini ia iseng menscroll instantgram miliknya. Tania sedikit melirik, “wah siapa itu, Mel?” Tania bertanya karena Amel senyum-senyum sendiri saat menscroll akun tersebut. “Kamu ngga tahu Nabil kelas sepuluh unggulan? Doi femes banget lho. Udah pinter, baik, ganteng. Idaman semua cewek deh.” Amel menjelaskan panjang lebar, sambil menunjukkan hapenya pada Tania.

“Ah, itu dia yang tadi memboncengiku dan menyelamatkanku dari telat masuk.” Tania bergumam dalam hati.

Ia hanya ber-“ooh” menanggapi penjelasan Amel. Berpura-pura tidak peduli, walau tidak dipungkiri ia semakin penasaran dengan sosok role model bernama Nabil itu. Awalnya hanya perasaan kagum yang mampir di hatinya. Ia tidak tahu, rasa itu perlahan membuat dirinya berubah.

Tiap pelajaran kelompok, Tania selalu bergabung dengan geng Amel. Walau mereka terdiri dari sepuluh orang, yang dapat diandalkan dalam kerja kelompok hanya ia sendiri. Walau lelah, Tania berpikir itu bukan masalah. Selama ia masih diajak main tiap pekan ke tempat belanja dan cafe terkenal dengan mereka. Dari geng itu juga ia mendapat banyak gosip soal Nabil, dan itu juga yang membuat dirinya terdorong melakukan make-over. Walau terdengar bodoh, ia berharap suatu hari Nabil akan mengenalnya. Ia tidak segan membuang uang membeli banyak kosmetik, walau ia sendiri tahu itu bukan hal yang terlalu penting bagi anak seusianya.

“Ibu, aku minta duit jajan.” Tania memohon agar ia bisa ikut jalan-jalan bersama gengnya. “Kemarin kan sudah ibu kasih untuk jatah seminggu.” Ibunya menolak memberikan. Tania kecewa, ia uring-uringan di kamar karena tak bisa ikut acara gengnya. Ia terpaksa izin absen jalan-jalan hari itu. “Baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga”, Tania merenung di dalam kamar.

Ia kira sekali absen tidak menjadi masalah. Toh, besok saat ia punya uang lagi, ia bisa ikut nongkrong-nongkrong. Tapi dugaannya salah. Sejak saat itu Amel semakin jutek, dan semakin menambah jarak. Ditambah lagi saat ujian Tania tidak memberikan contekan kepada Amel. Mereka berdua yang awalnya duduk berdekatan, kini berjauhan. Mereka juga tidak pernah satu kelompok lagi. Tania mulai mempertanyakan apa arti teman. Beruntungnya ia masih memiliki teman lain walau sedikit, yang mau menerimanya.

Siswi dengan rambut sebahu itu sedang berjalan di lorong kantin saat jam pulang sekolah, ia menemukan kartu perpustakaan. Tertulis “Aurel kelas X-1” dengan segera ia memungut kartu tersebut dan menuju kelas X-1 untuk menyerahkan pada pemiliknya. Walau ia tidak yakin akan bertemu dengan pemilik kartu karena setelah jam pulang sekolah, biasanya kelas segera kosong.

Setelah Tania menaiki tangga ke lantai 2, ia mendengar sayup-sayup suara ramai dari lorong kelas. Ia menengok ke ke dalam. Seseorang menyapanya ramah, “Halo, cari siapa?” gadis dengan ikat rambut dan kacamata itu bertanya. “Aku sedang mencari Aurel, ini kartu perpustakaannya tertinggal. Orangnya sudah pulang kah?” Tania menunjukkan barang temuannya. “Oh! Ini dia yang kucari-cari. Terimakasih ya! Oh iya perkenalkan, aku Aurel.” Gadis berkacamata itu tersenyum dan menjabat tangan Tania. “Salam kenal, aku Tania.” Mereka saling memandang, “lho, kita pernah satu SMP, kan?” Tania bertanya memastikan. Aurel berpose berpikir serius seperti Plato. Ingatannya mulai kembali, “oh iya! Kamu Tania kan, yang dulu sempet perform menyanyi dengan indah. Aku suka suaramu! Maaf, agak pelupa, aku. Kamu sekarang beda banget, Tan! Pangling aku. Hahaha. ” Aurel tertawa dan mengundang murid lain penasaran menuju pintu kelas. “Emang dasar nenek, udah pikun!” Ujar seorang murid laki-laki berkacamata. Tania dan siswa berkacamata itu saling tatap, “Oh, kamu kan yang waktu itu?” Tania memastikan. “Lho, kita pernah bertemu?” siswa itu agak heran, mencoba mengingat. “Waktu itu kamu yang memboncengiku naik motor, sampai di depan gerbang pas bel masuk. Ingat tidak?” Tania mencoba menahan gugup di depan Nabil, yang sering jadi bahan gosip gengnya dulu. “Oh! Iya betul. Kamu yang punya gantungan teddy bear di tas, kan? Aku melihatnya dari belakang saat kamu berlari.” Lalu mereka tertawa bersama. “Emang dasar kakek, udah pikun.” Aurel membalas sindiran yang tadi, ia tak mau kalah.

“Kalian lagi apa? Kok jam segini belum pulang?” selidik Tania menyapu pandangan ke seisi ruang, ia memerhatikan papan tulis yang dipenuhi coretan. “Ini lagi sesi belajar bareng, kamu mau ikutan ngga? Biasanya yang suka nimbrung anak X-1, X-2, X-3 karena kelasnya deketan. Tapi makin rame makin asik kok! Yuk?” Nabil menawari masuk. Tidak mungkin Tania menolak tawaran pangeran hatinya. Hari itu ia semakin jatuh hati saat Nabil, yang dijuluki profesor mendapat giliran menjelaskan di papan tulis. Siswi kelas X-10 yang baru pertama kali main ke kelas X-1 itu senang sekali ikut sesi belajar bersama. Walau sebagian besar waktunya ia habiskan dengan memperhatikan sang pengajar, bukan materi penjelasan soal yang diajarkan. Sejak itu ia bertekad untuk sering mampir ke kelas ini sepulang sekolah demi bertemu Nabil. Ia merasa hari itu adalah hari terindah di masa SMA, dan akan semakin indah bila ia semakin dekat dengan Nabil.

Bulan berlalu, yang diharapkan Tania benar terjadi, ia semakin dekat dengan Nabil. Saat itu ruang kelas tidak seramai biasanya, sebagian besar murid yang sering ikut sesi belajar sedang mengurus keperluan ekskul. Nabil mengambil gitar dan ia mulai memainkan lagu. Tania perpukau dengan permainannya. Ia memang pernah mendengar gosip bahwa pujaan hatinya ini multi talent, tapi baru kali ini ia melihatnya secara langsung. “Wih, Nabil kamu nambah fans baru nih”, Aurel menggoda teman semasa SMP. “Ahaha. Apasih, Rel. Aku masih amatiran gini mana mungkin punya fans”, Nabil mencoba merendah sambil memasang capo. Tiba-tiba Aurel mencetuskan ide, “eh, coba kalian duet deh!” Muka Tania memerah seketika, ia menunduk. “Dulu kan Tania pernah perform di aula sekolah. Keren banget lho!” Aurel melanjutkan meyakinkan kedunya. “Oh ya? Coba sini, Tan. Kamu bisa lagu ini ngga?” Nabil dengan spontan menunjukkan buku kumpulan lagu pop. Tania malu namun tidak bisa menolak. Ia hafal lagu itu, namun karena duet dengan pangeran hatinya, ia sering salah lirik. “Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam”, teriak Tania dalam hati, ia masih tidak mempercayai mendapat kesempatan emas.

Gosip dekatnya Tania dan Nabil menyebar cepat hingga telinga Amel. Tidak terima pangerannya diambil Tania, Amel mulai merencanakan sesuatu.

“Ih, si Tania orangnya sok imut banget sih.”

“Ih, orangnya cari muka banget ya.”

“Eh iya dia juga dapet nilai bagus terus gegara jago nyontek, lho.”

“Padahal orangnya mah ga pinter-pinter amat.”

“Eh, jangan dekat-dekat Tania, nanti ketularan penyakit caper.”

“Apaan sih si Tania seenaknya rebut gebetan orang.”

Gosip itu menyebar di medsos secepat kecepatan cahaya. Tidak jarang Tania merasa ada yang berbisik membicarakannya di belakang tiap berada di lingkungan sekolah. Ia pun sadar harus menjauh sementara dari Nabil, ia tidak akan datang ke kelas itu walau untuk belajar bersama.

Tania merasa tertekan, tidak berani bercerita ke orang tua, ia memutuskan berserita kepada Aurel, “Aku ngga tahan begini terus. Kok rasanya kayak sinetron banget sih. Padahal kan aku niat awalnya cuma mau belajar bareng kalian. Kalo gini, mending aku ngga usah masuk sekolah aja deh.” Tania terisak di kamar Aurel. Beberapa bungkus makanan ringan dan minuman dingin yang tersedia di meja tidak bisa menghibur Tania sore itu. “Sabar Tan, setelah ini kamu pasti jadi lebih kuat. Cuekin mereka aja, ngga baik jadi beban pikiran”, Aurel menawarkan tisu pada temannya yang belum berhenti menangis. “Gimana coba cara meyakinkan mereka aku nggga ada apa-apa dengan Nabil? Kami kan cuma teman latihan duet akustik. Udah. ”Tania berbicara dengan suara bergetar, lalu menghela napas. “Hmmm… yakin ngga ada apa-apa, hayo?” Aurel menggoda. “Tau ga, seminggu kamu ga dateng ikut belajar bareng, Nabil nanyain lho dengan wajah cemas. Entah karena kehilangan teman duetnya atau…” Siswi itu menggantung kalimatnya di langit-langit kamar bercat putih. “Duh, Rel. Aku tuh bukan apa-apa maupun siapa-siapa. Aku mah ga punya kelebihan apapun. Kontras banget sama doi yang serba perfect. Akademis oke, main gitar oke, anak OSIS, anak olimpiade, terus…” Tania baru sadar ia sejak tadi diperhatikan Aurel dengan ekspresi yang menjengkelkan menurutnya. “Duh, segitu perhatiannya sama yang katanya temen doang. Ehem.” Tania yang tersipu malu mendengar itu, spontan menimpuk Aurel dengan bantal dan boneka.

Ruang kamar itu hening begitu mereka lelah setelah saling memukul dengan bantal. “Aku mikirnya justru Nabil cocok dengan kamu, Rel. Sama-sama jenius, baik, role model sekolah, multi-talent, terus…” Aurel terdiam, ia pun tidak bisa mengelak dengan rasa kagumnya pada Nabil. Teman sekelasnya di X-1 itu memang selalu baik pada siapapun, termasuk dirinya yang sempat ia salah artikan sebagai suatu yang istimewa.”Nah, kalo gitu, senin depan kamu bakal ikut sesi belajar bareng lagi kan? Pas jadwalnya Nabil ngajar lho. Lumayan lho, buat persiapan UAS nanti. Ikut ya? Cuekin aja yang berisik di belakangmu, Tan! Yang penting kamu melakukan hal yang benar.” Aurel dengan sigap memotong kalimat Tania agar ia tak larut dalam lamunan. Walau dengan ekspresi ragu, Tania mengangguk dan tersenyum.

Senin itu, Tania berjalan dari ruang kelasnya, X-10 menuju X-1 yang terletak cukup jauh. Ia memberanikan diri, walau ia masih mendengar dan merasa tatapan kebencian menuju dirinya. “Hai Tania, lama tak jumpa.” Nabil berhenti menulis di papan tulis menengok ke arah pintu, dan tersenyum menyambut temannya. “E, eh iya halo Nabil. Kemarin lagi ada urusan saat pulang sekolah.” Tania duduk bersama murid lainnya dari berbagai kelas. Diskusi berlangsung selama sejam, kemudian ia membereskan tas dan alat tulis miliknya untuk bersiap pulang.

“Tan, sebentar dong. Mau nanya” Nabil menghampirinya dengan membawa tas. Tania melirik Aurel di ambang pintu yang memberikan jempolnya. Tania mencoba tetap tenang, ia ingin melempar buku pada teman curhatnya yang suka meledeknya belakangan ini. “Iya gimana, Bil?” Tanya Tania sambil menggendong tas. ”Eh, sambil jalan pulang aja deh ngobrolnya. Kelasnya mau dikunci petugas.” Begitu mereka berdua keluar, datang petugas untuk mengunci ruang kelas. Lorong pun sudah sepi. Hanya suara sepatu mereka berdua yang terdengar, beberapa murid masih berkegiatan di lapangan upacara.

“Kamu mau ngga, ikut perform bareng band aku bulan depan nanti?” Tanya siswa berkacamata itu. Seketika Tania ingin menampar dirinya sendiri untuk memastikan ini bukan mimpi.”Eh aku? Suaraku pas-pasan gini ikut perform band? Ahahaha.” Tania merespon dengan canggung. “Suaramu bagus kok, serius deh. Jadi gini, bandku dapet panggilan perform di cafe kecil bulan depan. Awalnya hanya mau nampilin akustik dan perkusi, tapi aku mengusulkan sekalian ditambah vokal. Berhubung kami baru terbentuk dan belum punya vokalis, aku rasa posisi itu cocok untuk kamu isi. Bagaimana?”

Tania semakin canggung. Walau ia pernah les vokal, ia jarang berlatih. Apalagi perform langsung di cafe. Namun ia mengangguk. “Siapa juga yang bakal menolak tawaran emas dari pangeran ini?” Pekik siswi itu dalam hati. “Sip, nanti aku kabari lagi ya. Minta nomer hapemu.” Selesai bertukar nomer handphone, Nabil menawarkan Tania untuk mengantar pulang. Tania senang bukan main, walau ia merasa agak was-was karena “it’s too good to be true”. Benar saja, dari balik kolom bangunan yang berjarak 3 meter, Amel dan kawan-kawan mengintip mereka pulang bersama. Mereka mendengus kesal, merencanakan aksi selanjutnya.

Satu bulan telah berlalu, hubungan Tania dan Nabil semakin dekat karena tiap minggu mereka latihan bersama. Kabar bahwa band tersebut akan perform telah menyebar ke saentero sekolah. Hari itu pula rencana Amel dan gengnya akan dilaksanakan.

“Kalian udah siap?” Amel menunggu sinyal untuk melancarkan aksinya. Mereka sudah menyiapkan berbagai alat untuk mencelakai Tania. Naas, Amel tak menyadari ia berdiri di depan bangunan yang masih dalam proses direnovasi. Dari lantai 3 bangunan sekolah terdapat bongkahan kayu yang siap mengenai kepalanya. Belum sempat rencana jahatnya dilaksanakan tiba-tiba, “JDAG!” Amel Ambruk dan pandangannya seketika gelap.

Kabar kecelakaan di sore itu menyebar begitu cepat. Tania mengetahui kabar tersebut keesokan pagi. Saat itu ia punya jadwal untuk tampil bersama band, namun ia juga ingin menjenguk Amel. Ia bimbang. Ia kenakan sepatu, dan melangkah pergi ke luar rumah.

Sementara itu di kamar rawat inap, Amel seorang diri memandangi langit yang cerah lewat jendela. Teman-temannya yang kemarin mengantarnya ke rumah sakit kini seluruhnya pergi untuk menonton perform band Nabil. “Amel!”, seseorang memanggil dan membuyarkan lamunannya. “E, eh Tania? Bukannya kamu ada jadwal konser sekarang? Kok kamu–” Tanya Amel sambil menerima bingkisan buah yang diterimanya. “Ah, itu gampanglah. Nabil dan bandnya tetap bisa tampil tanpa aku. Gimana keadaanmu sekarang? Apa kata dokternya? Surat untuk izin sekolah udah diurus? Kalau belum, aku bisa bantu. Lalu…” Amel tertunduk, mulai terisak, “maafkan aku Tan. Aku udah jahat banget sama kamu. Harusnya aku, aku…” sang ketua geng tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tania menawarkan tisu. “Udah mel, gak udah dipikirin lagi. Yang penting sekarang kamu sembuh, ya.” Tania tersenyum sambil mengupas apel. Tak lama kemudian kedua orang tua Amel datang. Mereka baru sampai dari perjalanan jauh luar negeri.

6 dukungan telah dikumpulkan

Comments