Robot Manusia

1 year ago
Sumber: A. Pradipta
A. Pradipta

by: A. Pradipta

Aku punya teman dekat. Namanya Onna. Secara kasat mata, dia perempuan. Banyak yang mengira kami sepasang kekasih. Kami sama-sama manusia yang dilahirkan dari perut mama. Kami sama-sama makhluk yang mampu beradaptasi dan peka terhadap rangsangan. Kami sama dan selalu bersama-sama. Namun jika kau perhatikan lebih lekat, semua manusia dan semua makhluk di semesta akan tahu. Dia hanya mirip manusia. Karena dia robot.

**

Pagi yang biasa, rutinitas biasa, pemandangan biasa.

Sebenarnya aku sudah muak dengan kebiasaan ini. Bangun, makan, ngampus, pulang, buang air, makan lagi, buang air lagi, tidur, bangun lagi. Sudah terlalu muak. Bosan. Seperti menunggui bulan terbelah jadi dua. Rutinitasku akan terus seperti itu, tidak akan berubah menjadi rutinitas Steve Jobs, atau rutinitas Tesla, atau mungkin rutinitas Trudeau. Rutinitas manusia super macam mereka beda denganku yang jelata ini. Mungkin setiap menit hidup mereka dihabiskan dengan melakukan hal yang tidak pernah sama, tidak rutin.

Pagi itu, seorang perempuan berambut lurus kaku duduk di halte bus depan kampus. Aku tidak tahu pasti berapa usianya, namun kutaksir sebaya denganku. Kakinya digoyang-goyang. Sepatu converse-nya tidak ditali dengan benar. Satu belitan dibiarkan menggantung berantakan.

Perempuan itu memakai kaos lengan panjang dan rok bunga-bunga selutut. Kombinasi sempurna dengan sepatunya yang boyish. Awalnya dia tidak tampak menarik buatku, hingga aku melihat sesuatu dari belakang lehernya. Dari sela rambut mediumnya yang tersibak ke depan, terlihat beberapa potong kabel tersambung dengan kumparan yang menempel di kulit tengkuknya. Orang lain terlihat tidak menyadari, tapi aku langsung paham jika perempuan itu robot.

Kuberanikan diri bertanya. Dia hanya menjawab singkat-singkat. Yang kutangkap dari percakapan pendek kami hanyalah namanya. Onna—dengan bunyi ‘zzzz’ di akhir tiap kalimatnya—begitu ia menyebut dirinya sendiri. Menurut penuturan semrawutnya, ia pelarian dari laboratorium pembuatan robot hibrida sebelum programnya di-finishing. Robot setengah matang, kesimpulanku. Penjelasan Onna yang terakhir, jujur aku tidak paham. Ia menjelaskan menggunakan bahasa ilmiah, bahasa pemrograman, yang dengan susah payah coba kumengerti. Tetap saja ujung-ujungnya aku tidak paham. Aku merasa tolol—atau aku memang tolol. Program-memrogram, koding-mengkoding, pascal-mempascal—dan semacamnya. “Program-memrogram” yang kupahami hanyalah program wajib belajar dan keluarga berencana.

Bagimu kisah ini terdengar seperti cerita fantasi atau fiksi ilmiah? Perlu dicatat jika kisah ini adalah kisah nyata.

**

Satu tahun sejak aku menemukan Onna. Yang kusadari tentang dia adalah bahwa dia robot, tapi lebih manusia daripada manusia.

Biar kujelaskan.

Pada awalnya aku berpikir jika manusia beda dengan robot. Tentu saja, dari komponen penyusun bentuk padatnya saja sudah ketahuan. Manusia terbentuk dari susunan otot, tulang, darah, DNA, dan bermacam hal biologis lain di dalamnya. Sebagai mahasiswa ilmu sosial, yang bisa kujelaskan hanya segini. Pokoknya, tubuh manusia, ya seperti yang kita lihat selama ini. Lebih banyak air dan—tentu saja—tidak sekeras alumunium dan seaneh silikon.

Beda dengan robot. Mereka dibuat dengan benda-benda keras macam radio atau mobil. Tidak ada siapapun, ilmuwan manapun di dunia ini yang mengemukakan dalil jika: manusia sama dengan robot. Dari sisi manapun. Karena mereka dibuat.

Tapi tahukah, Onna lebih manusia daripada manusia. Kujelaskan setelah ini.

Aku naik ke kamarnya di lantai dua. Terhampar pemandangan yang bukan tipikal kamar manusia cewek. Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Begitu katanya dengan cuek. Pun buku-buku lainnya.

“Kau tidak makan?” tanyaku. Kulongokkan kepala ke dalam kamarnya di lantai dua. Jangan salah, Onna juga makan nasi.

“Tidak—zzzz,” jawab Onna singkat, masih sibuk dengan buku-bukunya. Jangan salah juga, Onna suka bacaan manusia. Dia paham padanan kata, metafora, kiasan, dan singkatan.

“Tadi malam kau sudah tidak makan. Masa sekarang mau tidak makan lagi? Nanti aku yang diomeli Mama.”

“Tidak mau—zzz. Aku lagi tertarik dengan buku ini. Dengan membacanya saja aku sudah kenyang sendiri—zzz.”

Aku memutar mata. Robot sombong.

Aku lirik sampul depan buku tebal yang sedang dibacanya itu. 100 Tokoh yang Mempengaruhi Dunia. Gila, bacaannya lebih maju daripada aku. Di sekelilingnya, berserakan buku dengan tema seragam. Misteri Perang Dunia II. Miliuner dan Kontribusi untuk Dunia. Mereka yang Dibungkam Sejarah. Penemuan Unik Abad 21. Pemimpin dan Kontroversi. Aku jengah melihat judul-judul itu. Sebagai manusia, sejak lahir aku sudah dijejali kisah macam begitu. Manusia yang penuh intrik, katanya. Sampai bosan mendengarnya.

Yang menarik, Onna lebih memilih buku fisik. Suka yang berbentuk, katanya. Dia tipe pembaca konservatif di saat semua hal terdigitalisasi. Segalanya berubah digital. Mungkin karena ia merasa dirinya lebih digital daripada benda digital apapun? Entahlah.

“Atau taruh saja makanannya di meja. Nanti kalau lapar, aku makan sendiri—zzz.”

“Jangan sampai tidak makan lagi, ya. Kemarin aku sampai makan tiga kali jatahmu biar Mama tidak khawatir denganmu tauk,” ucapku sambil menaruh baki berisi makan malam ke meja kecil di ujung kasur Onna.

Aku berbalik, mendelik. Tidak ada jawaban dari Onna. Biarlah. Kadang di juga suka cuek begitu. Kuangkat bahu lalu mundur.

“Ga, apakah kamu menganggapku robot?” tiba-tiba Onna bertanya.

Langkahku langsung terhenti. Sudah satu tahun aku kenal Onna, pertama kali dia menanyakan hal macam itu padaku. Lagian, tidak ada bunyi ‘zzzz’ di belakang kalimatnya. Ganjil.

“Ga—“

“Iya. Kau robot.”

Kujawab cepat. Sekeliling mendadak sepi. Aku bisa dengar derik-derik suara mesin dari dalam tubuh Onna. Entah setan apa yang membuatku mengatakan ‘iya’ tadi seringan itu. Tapi setan itu juga membisikiku kalimat lain.

“Iya, aku anggap kau robot. Tapi, bukan robot utuh. Kamu robot yang lebih manusia dari manusia.” kataku akhirnya, lalu keluar ruangan dengan menutup pintu sepelan mungkin. Aku tidak tahu apa yang dipkirkan Onna saat ini—atau tepatnya, apa yang sedang diproses oleh software-nya. Tumbenan dia tanya hal begitu. Tarik nafas sedikit, aku membuang karbondioksida sambil berjalan ke ruang makan.

**

Tepat saat presentasi berakhir, telepon genggamku berbunyi. Aku bisa menebak siapa yang menelepon. Orang yang meneleponku ini selalu menghubungiku di saat yang tepat. Entah punya radar atau bagaimana.

“Apa?” tanyaku langsung setelah menekan tombol hijau di layar.

“Kau mau jadi robot—zzzz?”

Apa-apaan, sih, dia?

“Enggak, lah. Aku mau jadi manusia normal seperti sekarang. Yang bisa tumbuh tinggi, bisa buang gas di mana-mana, bisa mencerna makanan apapun asal enak,” jawabku cablak. Agak menyinggung ras robot sepertinya, sih, tapi aku tenang saja. Onna tidak pernah tersinggung.

“Karena kau tidak perlu program dan software, ya—zzzz?”

“Itu juga.”

“Tapi apa benar manusia sepertimu dan manusia lain di seluruh dunia tidak perlu software?”

Pertanyaan menjebak dan membingungkan. Pasti gara-gara kebanyakan baca buku manusia. Aku diam lama, berpikir.

Semakin aku mencari jawabannya, semakin aku percaya jika aku juga punya software yang ditanam di bagian terdalam tubuhku. Seluruh manusia di alam semesta punya software di tubuhnya masing-masing. Tergantung jenis dan edisi berapa yang menentukan waras atau tidaknya seorang manusia.

Semakin aku memikirkan software itu, semakin aku percaya aku juga robot. Semakin aku percaya aku adalah robot, semakin kupertanyakan kesehatan mentalku. Sepertinya softwareku harus segera di-update.

“Mungkin ada. Tapi beda dengan punyamu.”

Akhirnya jawaban ini yang aku utarakan padanya.

Aku melihat tukang es cendol yang mangkal di depan kampus. Tahu-tahu kerongkonganku kering. Apalagi cuaca akhir-akhir ini terasa lebih panas daripada cuaca saat aku SD dulu. Kata tukang ramal, ini ulah global warming. Kataku, global warming itu ulah manusia.

“Kau tahu-tahu haus setelah melihat tukang es cendol. Bukankah pikiran itu berasal dari software juga? Ada yang mengendalikan tubuhmu—zzzz… Lagipula global warming itu seratus persen ulah manusia.”

Deg. Bagaimana dia baca pikiranku?

“Onna, dengar. Kau selalu tahu aku sedang apa. Kau menelepon di saat yang sangat tepat, sangat presisi—pas setelah presentasi, atau pas sebelum baterai hand phone tiba-tiba drop. Bagaimana kau—”

“Kalau aku,” Onna memotong pertanyaanku. “Aku hanya haus saat melihat es cendol, bukan haus karena melihat tukang es cendolnya. Program robot mengatakan begitu—zzzz. Cepatlah pulang, ada yang ingin aku sampaikan…”

Tut tut tut tut.

Onna mengatakan satu kalimat dahsyat. Rasanya ada ombak besar di dalam batok kepalaku yang menghancurkan tatanan neutron di dalamnya. Bukan sekali dua kali, Onna selalu membuatku penasaran, apapun yang ia katakan.

“Ga! Ngapain bengong begitu? Kangen pacarmu yang wajahnya datar itu ya?”

Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu siapa yang berkata begitu. Aku tidak peduli. Dan rasa hausku semakin menjadi-jadi.

**

Rumah dalam keadaan sepi. Sekilas aku lihat kalender, sudah satu tahun tiga bulan sejak pertama kali aku bertemu robot unik bernama Onna. Hari ini aku memang meninggalkannya di rumah karena ia perlu mengisi baterai. Aku lupa mengisi baterainya tadi malam karena aku ketiduran. Kecapekan setelah nongkrong terlampau larut di tempat baru yang—katanya—kekinian. Baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga. Di sisi lain, aku semakin sadar jika mengikuti tren adalah kesia-siaan terbesar manusia modern. Karena pada dasarnya, tren adalah suatu paket waktu yang kebetulan mampir di dalam siklus hidup suatu generasi. Bakal lenyap di dalam kecepatan cahaya. Onna terjaga semalaman sambil membaca buku-buku manusia, tanpa diisi baterainya.

Ya, setiap hari aku ajak dia ke kampus. Sampai dia dikira istriku yang kunikahi buru-buru. Ia ikut pelajaran, meski tidak mencatat. Ia mengangguk-angguk meski tidak mengerti benar apa yang disampaikan dosen. Aku yakin dia tidak paham jalan pikiran manusia. Atau… justru manusia yang tidak mengerti jalan pikirannya?

Onna duduk di sofa ruang tamu. Ia makan keripik singkong tanpa mengeluarkan bunyi kriukannya, sambil menatap kosong ke lantai. Suara derik mesin terdengar jelas di telingaku, lebih jelas daripada bunyi kriukan keripiknya.

Perilakunya sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun yang beda, dia pakai setelan. Kemeja biru laut dirangkap blazer cokelat tua, dipadukan dengan rok cokelat tua juga, sepanjang lutut. Terlihat tidak pas dengan Onna karena semua itu adalah pakaian mamaku yang dipinjamkan untuknya. Sepatu converse yang tidak pernah dipakainya semenjak hari pertama aku menemukannya, diletakkan rapi di samping sofa dan… koper besar?

“Mau ke mana, kamu?” tanyaku pura-pura marah.

“Mau pergi. Ada yang harus dikerjakan di tempat lain—zzz,”

“Tempat lain? Aku tidak tahu kau punya saudara atau—“

“Sudah memikirkan tentang software manusia?” Pertanyaan aneh itu datang lagi.

“Aku tidak peduli. Aku juga tidak peduli apa persamaan manusia dan robot. Yang kutahu manusia dan robot itu beda, titik. Meski aku tetap tidak menemukan bagian mana yang membedakan. Apa lagi?” aku menjawab dengan sedikit kesal. Kesal karena Onna memutuskan untuk pergi ke suatu tempat secara tiba-tiba dan karena sejak tiga hari lalu, ia bertanya terus-terusan tentang beda robot dan manusia

“Jangan marah, dong—zzzz.”

“Tidak, aku tidak marah. Kau saja yang suka tanya aneh-aneh…”

“Kau memang lucu, Ga,” ujar Onna, mengatakan kalimat pujian masih tanpa ekspresi. Ia melanjutkan, “aku tanya begitu setelah membaca buku-buku yang aku beli di bazar buku manusia—zzzz.”

Yang mengenai sejarah dan macam-macam tentang dunia itu? Kataku dalam hati.

“Ya, yang itu—zzz. Dari sana, aku tersadar jika sebenarnya manusia itu sama dengan robot.”

“Sembarangan,” ucapku cepat. Onna berhenti sebentar, lalu menjumput lima keping keripik singkong dan memasukkan sekaligus ke dalam mulutnya. Mulutnya yang terbuka lebar itu memperlihatkan sendi-sendi rahang yang berasal dari besi, sekrup, per, dan komponen lain yang aku tidak tahu namanya. Setelah lama mengunyah, ia melanjutkan bicaranya.

“Baru-baru ini saja, sih, manusia sama dengan robot. Dulu cuma beberapa manusia saja yang mirip dengan robot. Tapi sekarang ini semakin banyak…”

“Kau bicara apa, sih?” aku tidak sabar. Bicaranya ngelantur, mungkin terlalu lama di-charge.

“Dari buku-buku itu aku belajar banyak mengenai manusia. Tentang apa yang disebut ambisi, kekuasaan, pemimpin, impian, kesedihan, kemarahan, nafsu, pengakuan—zzz, kebahagiaan, pengaruh, motivasi, kejahatan, sistem, pembagian, hierarki, golongan—”

Lama sekali Onna mengucapkan banyak kata yang menurutku merupakan rangkuman dari apa yang dibacanya. Pikiran robot susah diikuti.

“Intinya, manusia itu unik, suka batas-membatasi, dan punya sesuatu yang membuatnya tidak akan bisa puas, sampai kapanpun…”

Aku setuju. Meskipun aku manusia, kesimpulan robot Onna sangat tepat.

“Lalu?” tanyaku pendek. Aku tidak bisa menduga apa yang akan ia katakan sebagai conclusion.

“Ga, aku belajar banyak dari kamu selama ini—zzzz. Aku bilang jika aku melarikan diri dari lab, kan? Sebenarnya, aku tidak melarikan diri, namun sengaja dilepas karena aku robot yang serbaingintahu.”

Perkataan gadis di depanku ini berkelas. Sulit dipahami manusia asli. Manusia palsu pasti sulit menerima, dan tidak sepakat di beberapa hal.

Aku mengambil posisi duduk di sebelahnya. Selalu ada perasaan aneh tiap dekat dengan Onna. Kau juga akan merasakan hal sama jika berada di sampingnya. Dia tidak berbau robot. Suhu tubuhnya juga sama dengan saat kau duduk di samping manusia. Hanya saja, kau tidak akan mendengar detak jantung melainkan suara derik-derik mesin yang sedang bekerja.

“Kau—robot serbaingintahu,” aku mengulangi perkataan Onna.

“Profesor sengaja tidak menyempurnakan programku—belum di-finishing—lalu menyuruku keluar lab selama mungkin yang aku mau, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Karena aku robot yang selalu bertanya. Entah karena Profesor tidak bisa menjawab pertanyaanku, atau ia punya rahasia lain—zzz. Setelah aku ketemu kamu, hidup dalam keluarga kamu, ikut kuliah kamu, jalan-jalan bareng kamu, bertengkar dengan kamu, baca buku kamu, pertanyaanku terjawab.”

“Apa jawabannya?” tanyaku menerawang. Entah kenapa aku ingin memejamkan mata sembari mendengar jawaban yang ia cari tersebut. Pelan tapi pasti, aku menutup mata. Kunikmati proses kelopak mataku itu melingkupi bola mataku.

“Aku akan bilang dengan cepat dan ini—semacam rangkuman.”

“Bilang saja,” aku menyenderkan punggung di sofa, masih memejamkan mata.

“Jangan tidur, dong—zzzz,”

“Tidak, tidak. Bicara saja. Aku dengar, kok.”

Aku sudah tahu sifat Onna. Seperti yang aku bilang di awal, dia lebih manusia daripada manusia. Apa yang ia katakan akan membekas di hatimu. Dengar saja kalau tidak percaya.

“Robot itu, kalau programnya sudah di-finishing, dia akan menjadi manusia. Bukan seperti manusia, lho, tapi manusia betulan. Manusia tulen. Manusia yang utuh. Saat ini aku belum di-finishing jadi aku masih menjadi robot. Tapi…”

Sedetik jantungku rehat dari detakannya.

Onna diam sebentar. Aku taksir dia sedang makan keripik singkongnya lagi. Ada bunyi sesuatu yang tengah menggerus benda renyah.

“Tapi aku memilih tetap menjadi robot. Robot yang mirip manusia, bukan manusia yang mirip robot. Keputusan itu lebih manusiawi menurutku.”

Kini jantungku berdebar kencang. Lebih cepat daripada detakan normalku. Onna, si robot setengah matang itu… Ia tahu rahasia manusia…

“Di dunia ini, sejak dulu hingga sekarang, banyak manusia yang seperti robot. Mau saja dimasukkan software yang sudah berisi program ke dalam aliran darah mereka. Software yang berisi kekuasaan, ketamakan, penggolongan, ajaran, menurut-menurut-an…”

Sejenak dia menjeda.

“Banyak juga manusia tulen yang sengaja menciptakan robot untuk dijadikan manusia. Supaya memenuhi ambisi, keinginan, kebutuhan mereka. Ada banyak, tapi aku tidak bisa menyebutkan satu-satu karena aku berada di pihak robot.” ujarnya santai, lalu terdengar gerusan benda renyah lagi.

“Seharusnya manusia meniadakan software yang sudah duluan ditanam itu. Dihapus, dikode ulang. Biar apa? Biar pikirannya jernih, tidak terdistorsi sana-sini. Agar semuanya kembali tersadar, tidak perang-perang melulu. Tidak rebutan siapa yang paling benar melulu. Harusnya manusia tulen itu meniru robot yang mirip manusia. Memilih tidak tergantung software dan mencari ke-hakiki-an, bukan mencari kebenaran. Hehehe…”

Baru kali ini aku dengar Onna terkekeh. Setahun ini aku tidak pernah lihat wajahnya tersenyum atau tertawa. Sial, dia terkekeh saat aku menutup mata. Takut kehilangan momen, secepat kilat aku membuka mata untuk melihat wajah robotnya.

Wajah itu tidak ada di sana. Koper besar dan sepatu converse itu juga tidak ada di sana. Yang ada hanya bungkus dan remah-remah keripik singkong yang tercecer di meja dan sofa. Juga aku yang bajunya basah oleh keringat. Kata-kata Onna selalu dahsyat.

Sejenak aku diam, memutar rekaman perkataan Onna tentang manusia dan robot. Lalu kurasakan ujung bibirku tertarik. Dengan senyuman yang otomatis terjadi, aku membuat kesimpulan sendiri. Onna, tahu tentang rahasia manusia. Dia tahu jika manusia adalah makhluk congkak yang pikirannya terlalu usang. Baginya yang diciptakan oleh manusia, kesadarannya ada karena software. Namun dia memilih bebas, mencari jawaban sendiri, tanpa dibatas-batasi. Saat menemukan, ia memilihku. Memilihku untuk menjelaskan pada manusia lain, jika kita hanyalah robot mirip manusia yang software-nya harus segera diganti.

Aku merebahkan diri di atas sofa, hidungku mencari-cari bau kehadiran Onna.

Ada sebisik suara di telingaku, dan itu suaraku sendiri. Robot belajar untuk jadi manusia. Kita manusia belajar untuk jadi robot?

10 dukungan telah dikumpulkan

Comments