Save The Little Girl

6 months ago
Cawit

by: Cawit

Baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga.

Kanto Jepang.

11 November 2027

02:14

Aku mendeteksi signal peringatan yang tertanam dalam program dalam tubuhku. Peringatan itu bukan di tunjukkan untukku agar menyelamatkan diri, melainkan agar aku bisa menyelamatkan orang lain. Aku di ciptakan oleh manusia yang bernama Profesor Nagato. Dia adalah pembuat robot terkenal di daerah Kanto Jepang. Aku memiliki nama, lebih tepatnya sebutan untuk karya Profesor Nagato, S.212. Aku memiliki lengan, kaki dan mata layaknya manusia. Hanya saja kaki dan tanganku terbuat dari besi dan alumunium, dan mataku hanya dua buah lensa yang dapat menangkap berbagai macam warna dan bentuk yang bisa kutangkap melalui Chip Program dalam tubuhku. Programku bisa membedakan benda dan mahluk hidup dari hawa panas suhu badan mereka yang disebut Human View.

13:24

Aku berjalan mengitari sudut jalan kota. Di sepanjang jalan aku tidak bisa merasakan hawa panas kebaradaan mahluk hidup. Hanya ada benda yang menyerupai manusia tergeletak di sepanjang jalan. Aku tidak tahu itu manusia atau bukan, tapi aku tidak bisa merasakan hawa panas dari benda itu. Meski terdeteksi radiasi nuklir di segala arah, tapi aku tidak menemukan kerusakan dalam program dalam tubuhku. Kini aku terhenti di bangunan dua lantai yang masih tampak kokoh. Meski kecil, tapi aku mendeteksi hawa panas di dalam bangunan itu.

Setelah aku masuk, hawa panas itu semakin kuat. Hawa panas itu berdiameter 125.443 cm. Menurut program dalam tubuhku, manusia ini bejenis kelamin perempuan dan berumur sekitar 8 tahun. Manusia itu tengah duduk di bawah tangga menghadap ke benda yang aku temukan sebelumnya. Benda itu ada dua. Benda pertama berdiameter 175.445 cm dan benda ke dua berdiameter 167.442 cm. Setelah mengaktifkan mode pandangan biasa, dua benda itu memiliki ciri yang berbeda. Benda pertama berambut pendek dan benda kedua berambut panjang. Sensorku tidak merasakan radiasi nuklir yang begitu kuat di ruangan kamar tempat gadis itu duduk. Programku hanya mengharuskan menyelamatkan hawa panas manusia yang sudah melemah, dan gadis itu masih dalam keadaan normal pada umumnya.

Aku keluar dari bangunan itu, mencari keberadaan mahluk hidup lainnya untuk dibawa ke rumah sakit terdekat. Peringatan radiasi molekul nuklir kembali aktif setelah aku keluar dari bangunan itu. Kini sensorku merasakan hawa panas tidak jauh dari hawa panas yang kutemukan sebelumnya. Setelah mendekat, hawa panas itu berbentuk hewan berkaki empat. Untuk hewan, programku tidak di lengkapi dengan data menyeluruh. Jadi aku tidak bisa membedakan jenis atau gender dari hewan itu. Hawa panas dari hewan itu sangat lemah, dan programku mengharuskan aku untuk membawanya ke rumah sakit terdekat yang dapat terdeteksi dari map dalam data programku. Jarak rumah sakit terdekat bagi hewan hanya 193.337 m dari sini. Tangan yang dibuat Profesor Nagato mempermudahku mengangkat berbagai jenis benda. Setelah kuangkat, hewan ini memiliki berat 04.564 kg. Kakiku juga memudahkan aku untuk berjalan menyusuri jalan-jalan terjal. Setelah berjalan sepanjang 23.664 m hewan itu berubah menjadi benda yang tidak memiliki hawa panas seperti yang sering ku temukan sebelumnya. Dengan otomatis tanganku melepaskan benda yang tadinya mempunyai hawa panas.

19:36

Programku kembali mengharuskan untuk mencari kebaradaan hawa panas dari mahluk hidup. Rute pencarianku hanya mencakup jalan raya Kanto Jepang, dan dengan otomatis aku kembali di bangunan lantai dua tempat hawa panas manusia dengan diameter 125.443Cm. Programku mengharuskan untuk menghapiri setiap kebaradaan hawa panas jika dalam situasi darurat seperti sekarang. Setelah aku masuk manusia itu masih duduk, tapi dengan tiga piring dan tiga gelas yang di letakan di antara dua benda dan manusia itu. Manusia itu memasang aktivitas wajah tersenyum kepada dua benda yang tidak memiliki hawa panas setelah melakukan aktivitas minum terhadap gelas kosong yang sedang di genggamnya.

12 November 2027

05:44

Aku kembali aktif setelah programku mengaktifkan Sleep Mode. Sensorku kini mendeteksi radiasi aktif nuklir di ruangan tempat manusia itu berada. Mode Human View langsung aktif seketika, tapi hawa panas dari manusia itu masih normal sehingga tidak ada sensor peringatan yang mengharuskan aku membawanya. Dalam mode pengelihatan biasa, kulihat manusia itu tengah merebahkan tubuhnya di antara dua benda kemarin. Meski senyawa aktif nuklir mulai terdeteksi masuk ke dalam ruangan, tapi sensorku tidak menangkap senyawa itu dalam tubuh manusia tersebut. Programku mengaktifkan Mode Siaga karena ada kemungkinan 46.38% bahwa manusia itu akan terinfeksi radiasi dari senyawa aktif nuklir.

06:55

Manusia itu bangun dan kembali melakukan aktivitas menjamu tamu pada dua benda itu. Kini manusia itu hanya mengambil dua piring dan setumpuk roti yang sudah terkontaminasi oleh senyawa aktif nuklir. Manusia itu menaruh roti satu roti di masing-masing piring yang di taruh di hadapan dua benda itu. Manusia itu sedang menunggu agar dua benda itu memakan roti tersebut. Setelah agak lama menunggu, kini manusia itu mengambil satu roti di atas piring lalu melakukan aktivitas mengunyah dan memuntahkan. Manusia itu memuntahkan kunyahan roti itu di atas sendok yang dia pegang sebelum melakukan aktivitas mengunyah. Manusia itu mendekat ke arah benda yang berdiameter 167.442 cm dan mendekatkan sendoknya ke bagian benda yang terdapat rambut yang biasa di miliki manusia berjenis kelamin perempuan. Setelah tampak gagal melakukan aktivitas menyuapi terhadap benda itu, manusia itu pun menangis. Tiba-tiba mikrofonku menangkap adanya aktivitas percakapan. Komponen Mikrofon ini sangat penting agar dapat menyimpan data dalam bentuk suara.

“Mamah, cepat makan. Mamahkan belum makan dari kemarin. Adek berjanji akan makan roti ini setelah mamah dan Papah memakannya.”

Program dalam tubuhku langsung memproses penyampaian suara dari manusia itu. Data dalam tubuhku menerima beberapa kata dasar. Dan tidak ada perintah dalam penyampaian suara dari manusia itu.

09:16

Kini sensor tanda bahaya dalam tubuhku aktif setelah hawa panas dari tubuh manusia itu melemah. Otomatis tubuhku pun mendekat pada sumber hawa panas dari manusia itu. Tanganku dengan mudah mengangkat tubuh manusia dengan berat 12.339 kg. Manusia itu dalam aktivitas tertidur. Dan setelah aku pergi 08.947 m dari bangunan tadi, manusia itu melakukan aktivitas berontak. Tanganku tidak bisa menggenggam benda dengan kuat, alhasil manusia itu pun terlepas dari pangkuanku. Bateraiku terlalu lemah untuk bisa berjalan cepat mengikuti manusia itu, tapi sensorku bisa mengikuti keberadaan hawa panas miliknya. Manusia itu kembali ke bangunan itu dan menghampiri dua benda seperti sebelumnya. Kali ini manusia itu melakukan aktivitas memeluk pada dua benda tersebut. Mikrofonku kembali mendeteksi adanya aktivitas suara.

“Mamah, Papah, cepat bangun. Jangan tinggalkan Adek sendirian.”

Programku kembali memeriksa penyampaian dari manusia itu. Dan tidak ada kata perintah dari ucapannya. Aku memegang bagian tangan kanan dari manusia itu. Dan manusia itu melakukan aktivitas mendorong terhadap tubuhku dan membuat bagian telapak kaki dari kaki kananku terlepas. Mungkin ini di akibatkan aktivitas ledakan kemarin dan membuat bagian tubuhku menjadi lebih longgar. Aku pun kesulitan berdiri karena lepasnya bagian telapak kakiku. Programku kembali mengharuskan membawa manusia itu ke rumah sakit terdekat. Dan setelah tiga kali dorongan yang di lakukan manusia itu terhadapku, akhirnya tubuh manusia itu terjatuh. Hawa panasnya terus melemah disertai senyawa aktif yang mulai menyebar di tubuhnya. Perlahan warna merah dan kuning sebagai tanda hawa panasnya mulai dialiri warna biru gelap tanda radiasi nuklir. Kini dengan mudah aku membawanya untuk di bawa ke rumah sakit terdekat. Rumah sakit terdekat sekitar 438.338 m dari tempat bangunan itu, dan akan memakan waktu 07.33 jam karena hilangnya bagian telapak kaki kananku.

12:47

Di sepanjang jalan mikrofonku terus menangkap penyampain kata dari manusia itu dengan aktivitas wajah tertidur.

“Mamah, Papah”

Hingga setelang waktu 07:55 menit, manusia itu pun bangun. Kepalan tangannya melakukan aktivitas pukulan lemah terhadap dadaku. Kini penyampaian katanya berubah menjadi kata “Lepaskan” Meski itu adalah kata perintah, tapi programku tidak memperbolehkan melepaskan mahluk hidup yang terkena aktivitas sakit.

“Hei robot, jawab pertanyaanku”

Di sertai perintah suara itu, pukulan pelannya langsung berhenti seketika. Dan aku langsung menerima perintah suaranya.

“Baik Tuan”

“Apa aku sedang bemimpi”

Programku langsung mencari jawaban dari data percakapan manusia yang ku simpan. Dan mimpi yang ada di dataku adalah aktivitas pengelihatan manusia dalam tidurnya.

“Tidak Tuan”

“Ini pasti mimpi, dan saat aku terbangun, orang tuaku pasti sedang berada di sisiku dan memelukku”

Yang ku pahami dari perkataan itu hanya pertanyaan mimpi.

“Tidak tuan, ini bukan mimpi”

“Kau bohong, lalu kenapa semua orang tergeletak di sana tidak sadarkan diri. Ini pasti mimpi buruk”

“Tidak tuan, ini bukan mimpi”

Kini manusia itu kembali melakukan aktivitas tertidur.

“Kau robot rusak, ini pasti mimpi”

Dataku tidak bisa menemukan jawaban untuk perkataan dari manusia itu yang menyatakan aku robot rusak. Meski telapak kaki kananku telah lepas, tapi programku tidak mendeteksi adanya kerusakan di bagian penerimaan data.

16:49

Kami pun sampai di depan pintu gerbang rumah sakit. Programku langsung memerintahkan untuk membawanya ke ruang dokter dengan segera. Setelah masuk ke lantai satu rumah sakit, aku tetap tidak bisa menangkap hawa panas mahluk hidup lainnya. Hanya banyak benda tergeletak dengan bentuk menyerupai manusia seperti sebelumnya. Tubuhku cukup kesulitan untuk menuruti perintah dari program untuk membawa manusia itu ke ruang dokter di ujung bangunan rumah sakit karena tertutup barang-barang yang menghalangi jalan pintu menuju ruangan dokter tersebut. Aku tidak biasa melepaskan manusia yang kubawa untuk memindahkan barang yang menghalangi jalanku. Setelah memeriksa jalan lainnya, kini aku dan programku menemukan jalan yang lebih mudah. Hawa panas dari manusia itu terus melemah dan signal gawat darurat terus muncul di layar kacaku. Tapi karena lepasnya tepalak kaki kananku membuat program berjalanku sangat terganggu.

Setelah sampai di ruangan dokter, programku meletakkan manusia itu di atas ranjang yang terdapat di pinggir meja kerja seoarng dokter. Di sebelah meja itu terdapat kursi yang terhalangi oleh benda yang mirip manusia. Benda itu memakai jas putih dengan inframerah di kartu tanda pengenal yang terpasang di saku depan jas yang biasanya di pakai oleh seorang dokter. Setelah aku meletakkan manusia itu aku menunggu perintah selanjutnya yang biasa di berikan setelah aku membawa korban selamat dari bencana gempa atau kebakaran. Aku menunggu sampai waktu 06:23 menit perintah tersebut. Dan dengan jelas menyaksikan hawa panas dari manusia yang ku selamatkan menghilang.

Epilog.

“Apa aku sudah terbangun dari mimpi ini?”

Saat kubukakan mata, aku melihat cahaya matahari menyinari seluruh ruangam kamarku. Kulihat kedua orang tuaku sedang tersenyum ke arahku saat aku terbangun. Mereka tidak berbicara, mereka hanya menatapku dengan tersenyum.

“Mamah, Papah. Tadi Adek mimpi buruk. Adek melihat Mamah dan Papah tidak sadarkan diri di depan rumah kita. Lalu adek membawa menarik Mamah dan Papah masuk ke ruangan tempat Papah membuat penemuan unik. Dan ada robot aneh yang terus memandangi kita di ruangan itu”

“Papah tahu. Sekarang, kamu harus buka matamu dan ucapkan terima kasih pada robot itu ya!”

“Membuka mata?”

Apa maksudnya itu?

*****

“Cepat berikan listrik kejut!”

Suara siapa itu, aku mendengar banyak suara di sekitarku. Meski pandanganku kabur, aku dapat melihat banyak orang tersenyum bahagia setelah aku mengucap pelan nama.

“Mamah, Papah”

End.

 

4 dukungan telah dikumpulkan

Comments