Sebuah Jurnal: Aethereum Obscura

4 months ago
Inri

by: Inri

Jurnal.

Kepunyaan: Thomas J. Wakenshaw.

Catatan: jurnal ini adalah hadiah dari Tuan Dionysius. Maka isi jurnal ini saya persembahkan untuk beliau.

***

 Canterbury, Inggris.

Februari, 1789.

Saya mencatat, sejernih yang saya bisa, supaya diketahui oleh anak dan generasi-generasi seterusnya bagaimana caranya melayani majikan dengan sempurna dan sejujur hati.

Telah bertahun-tahun saya melayani Tuan Dionysius. Meski banyak kalangan menganggap beliau lemah dan agak sinting, saya bilang majikan saya adil dan pemurah. Jesus, beliau malah mengangkat saya jadi saisnya. Saya, Thomas si Buangan ini! Dulunya orang gampang melihat saya meleter dan mengacau di pinggiran Dover, ya, di bar-barnya yang penuh awak kapal dan pelaut lupa darat. Saya cuma pemabuk cacat, tak ada harapan bekerja—kaki saya putus sehabis perang setahun yang lalu. Sudah habis-habisan angkat senjata dan mortar, Massachusetts malah menang… Inggris pecundang. Pulang-pulang saya cuma bawa kaki pincang. Ha ha. Anne, istri saya, sampai-sampai sudah tidak sudi melihat saya lagi.

Tapi Tuan Dionysius Carradine berpendapat lain.

Sungguh kalian bisa menilai hati orang baik dalam sekali lihat. Padahal beliau ini Uskup Dover, gelar juga mentereng. Right Reverend—setara Earl kalau saya berani taksir. Alih-alih memalingkan muka, beliau malah membayari ahli pertukangan untuk membuatkan saya kaki palsu. Memberi pakaian layak, menyuruh saya membersihkan diri seperti para gentlemen di London. Baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga. Tak alang kepalang. Oleh Tuan Dionysius saya dipekerjakan jadi sais kereta kuda pribadi. Upah; delapan shilling per minggu. Saya juga diberi tempat tinggal, makan dua kali sehari. Bahkan oleh Nyonya Carradine saya diperbolehkan makan sayur. Sayur-mayur! Sebuah kemewahan di masa-masa sulit seperti ini.

Semoga Tuhan memberkati Tuan Dionysius beserta istri dan anaknya. Sepanjang masa.

***

Dover, Inggris.

November, 1792.

Penyihir sialan! Berani mereka, hah!

Mereka patut dibakar hidup-hidup. Diburu sampai empat abad rupanya tidak serta-merta bikin para penyihir ini tobat. Makin diburu malah makin menyelinap ke sudut-sudut terpencil. Persis kecoa yang konon putus kepala saja masih bisa keliaran kesana kemari.

Tapi siapa nyana, kaum rendah ini berhasil menghasut kawan-kawan lama di Dover supaya ikut-ikutan menyentuh sihir. Mulai dari John, Jake, lalu Thomas Inglesby, lalu Thomas Ackerfield. Semua!

Yang paling tidak bisa saya maafkan adalah pemimpin kaum ini. Anne, mantan istri saya itu, ternyata dialah penyihir Dover selama ini. Anne!

Wanita jalang itu biangnya!

Beruntung Provinsi Canterbury masih memiliki Tuan Dionysius. Saya tak tahu bagaimana jadinya kalau tidak ada beliau. Beliau bahkan bersedia melacak para penyihir sialan ini meski tidak didukung Gereja Anglikan secara langsung. Menemukan mereka. Seret, rantai, bakar. Tidak pakai gilotin karena satu-satunya cara menumpas titisan setan ya cuma disucikan pakai api, titik. Saya saksikan sendiri mereka menjerit. Menggeliat, memohon-mohon untuk dilepas ditengah tontonan seluruh Dover. Mau mati saja masih berani menggonggong, hah! Ingin marah kalau diingat.

Penyihir-penyihir ini layak mendapatkan semua siksaan neraka, menurut hemat saya.

Sekarang tengah malam. Baru saja saya bertolak dari area penyucian para penyihir itu. Mengantar Tuan Dionysius tentu saja. Malam ini beliau beristirahat di Priorat Dover, sementara saya menulisi lagi jurnal usang ini. Dihitung-hitung, di musim dingin ini pertanda sepuluh tahun pengabdian saya untuk keluarga Carradine. Sepuluh tahun menjadi sais Tuan Dionysius, Nyonya Carradine, dan anaknya Christophorus. Sepuluh tahun mengantar beliau ke segala penjuru—Weald, Romney Marsh, Ashford, Dover, Thanet, Faversham, Sittingbourne, sampai kepulauan Sheppey…

Sepuluh tahun melihat beliau menunaikan tugasnya dalam Gereja Anglikan. Dipikir-pikir jabatan Tuan Dionysius tinggi sekali. Sebagai Uskup Dover beliaulah tangan kanan Uskup Canterbury secara langsung. Bayangkan. Perlu saya sebutkan bahwa saya berbangga punya Tuan yang sedemikian rendah hati sekalipun jabatannya mengilap macam sepatu baru disemir.

Ah, saya mau lepas kaki palsu ini sebentar. Cukup di sini dulu.

***

Tenterden, Inggris.

Desember, 1794.

Tahun ini Tuan Dionysius sudah bukan Uskup Dover.

Jabatannya dilepas, jadi sekarang beliau hanya pendeta biasa. Parokinya sekarang di sini, di Tenterden. Dari gereja saja cuma setengah mil dari kediaman Carradine di Sandy Lane. Rute perjalanan sudah bukan lagi antar-kota, tapi cuma rumah-gereja, rumah-gereja, rumah-gereja. Malah Tuan Dionysius lebih sering berjalan kaki. Maka tugas saya jadi jarang-jarang. Kecuali kalau beliau ingin berkunjung ke rumah saudaranya di Maidstone, tapi itu sekali sebulanan.

Tak ada lagi Katedral Canterbury. Tak ada lagi Perburuan Penyihir. Itu sudah berbulan-bulan yang lalu. Damai sentosa, saya pikir. Begini juga baik.

Hari ini: Kamis. Musim gugur yang cerah, sedikit berangin. Tahun seribu tujuh ratus sembilan puluh empat. Tepat setahun masa berkabung kematian Nyonya Carradine.

Saya sedang di luar. Lapangan kuda di kiri, perkebunan anggur di kanan. Hijau berderet sepanjang sapuan mata. Saya lihat Sir Liam sedang membantu mengangkut barel anggur, luar biasa sekali beratnya, pasti. Dengar-dengar tanah yang saya injak ini turun-temurun dimiliki leluhur Tuan Dionysius. Padahal perkebunan ini tak ada ujungnya; di balik kebun anggur itu masih ada kebun anggur lagi. Tak alang kepalang, berhektar-hektar! Luar biasa berkah Tuhan untuk majikan saya.

Kebetulan hari ini Tuan Dionysius hendak mengunjungi Maidstone lagi.

***

Sudah malam. Tuan Dionysius hilang? Para pekerja kebun, governess, juru masak, bahkan si penjaga kandang kuda, semua sudah saya tanyai. Semuanya tak ada yang tahu. Mereka malah menatap saya seolah saya hantu. Atau merekanya yang hantu tapi saya tak sadar? Waduh.

Apa saya sedang bermimpi?

***

Hari ini saya belum mati.

Secepat-cepatnya saya tulisi ini agar ingatan saya tidak kabur. Sudah lima kali saya mandi; saya harap itu cukup. Ini gara-gara peristiwa barusan di bawah tanah. Mari saya runut dari awal sejelas-jelasnya (supaya saya sendiri gampang membaca, dan tidak lupa!).

Oleh sebab Tuan Dionysius menghilang, saya mencari ke dalam. Seharusnya saya tak pernah menginjakkan kaki ke rumah tua milik Carradine ini, saya tahu. Rumah ini besar, dengan belasan kamar, mudah untuk tersesat. Entah bagaimana saya terdampar di pintu tingkap menuju ruang bawah tanah. Tidak seperti biasanya pintu itu terbuka sedikit. Dulu saya sering diwanti, jangan masuk kalau tidak mau dipecat, Thomas! Tapi saya sedang terpikir tentang tugas saya mengantar Tuan Dionysius ke Maidstone. Jadilah saya menuruni tangga curam itu sambil bawa lampu minyak. Supaya berjaga-jaga.

Baunya sangat aneh di bawah. Mirip bau bangkai busuk, tapi tidak menyengat, cuma mengambang-ambang di udara. Pantaslah. Sebab yang saya temukan di dasar ruang bawah tanah itu cuma mayat… ya. Mayat.

Jesus, tangan saya gemetar menulis ini. Di ruang panjang itu saya menyaksikan ratusan mayat pucat, beberapa terpejam, beberapa menatap saya seolah. Ditata dan ditumpuk di pinggir dalam sebaris lurus meski agak tidak rapi. Sekelebat saya lihat ada mayat separo-badan. Jesus. Mayat tanpa kepala, mayat berkepala tapi tak bertelinga, mayat yang masih lengkap tapi berongga mata kosong. Mayat tak bergigi. Mayat tak berahang. Beberapa dari bangkai adalah milik para penyihir yang diberangus api. Tak ada selembar benang yang menutupi tubuh-tubuh itu. Waktu itu (dan sampai sekarang) perut saya tak kuat, demi apapun sungguhan tidak kuat. Tapi obor-obor di dinding mendadak menyala. Saya ingat saya kebingungan. Sihir? Di rumah ini?

Lalu saya dengar langkah kaki.

Ada orang.

Saya kalap. Jika tertangkap, besar kemungkinan saya ikut dicacah lalu dijadikan tambahan dekorasi. Saya peras otak sekuat raga. Mengingat masa-masa perang… ya. Waktu itu saya tidak jadi ditombak para Perancis karena satu alasan: saya berhasil berpura-pura mati. Saya pikir, tidak ada cara lain.

Jadi saya lepas seluruh pakaian saya. Rasa-rasanya harga diri tak ada nilainya kalau diri sendiri nanti mati, kan? Saya lepas petticoat, pantalon, bot Wellington—semuanya, tak bersisa. Saya simpan di sudut paling gelap bersama lampu minyak yang buru-buru saya matikan. Lalu saya panjat tumpukan daging itu dan membaringkan tubuh di antara mereka. O, Bunda Maria penyayang… Thomas tua ini harus menyaru jadi mayat… saya perhatikan mayat di depan saya itu lehernya berlubang. Mulutnya penuh darah kering. Saya tidak tahu dan tidak mau tahu jika ada belatung di dalamnya.

Tapi yang paling menyeramkan adalah matanya. Jesus. Sungguh saya ini bekas tentara. Kematian perkara biasa. Mayat ya cuma mayat, saya tahu, tapi tetap saja. Tengkuk saya macam dicium hantu. Tak bisa digambarkan betapa dinginnya.

Makin dekat suara tap, tap, tap. Saya tahan-tahankan napas. Memejam mata… langkah kaki bergema… lalu… senyap.

“Ysabel.”

Sampai sekarang saya belum bisa percaya kalau itu suara Tuan Dionysius. Tapi kedengarannya memang mirip? Belum pernah saya dengar beliau memanggil siapa pun seperti itu selain istrinya.

Beliau bicara lagi, “Bagaimana kabarmu?”

Hening…

“Senang mendengarnya. Aku harap kau tidak terlalu kedinginan.”

Ada bunyi-bunyian air diguyur ke dalam gelas. Telinga saya berusaha keras menangkap kalimat balasan. Tidak mungkin Tuan Dionysius berbicara dengan udara kosong?

“Kabarku…? Hmm.” Suara gelas diletakkan. “Dunia memperlakukanku dengan baik, amat baik. Panen melimpah. Christophorus lulus Oxford. Uskup Canterbury masih menganggapku tangan kanannya. Hanya saja Alastair…”

Alastair. Saya duga ini Tuan Alastair Carradine, Earl of Maidstone ketiga. Saudara kandung Tuan Dionysius yang lebih tua.

“Aku mendengar banyak… ketidakpuasan.” Katanya lagi. Sejenak senyap. “Ya. Benar. Tapi Carlisle sudah menunjuknya jadi penerus keluarga. Tak ada yang bisa diperbaiki.”

Saya beranikan membuka mata sedikit. Sayangnya, dasar pelupa, saya malah bertatap muka dengan mayat membelalak tadi. Beruntung saya tidak mengumpat, kalau iya—mampus. Saya perhatikan, satu-satunya cara melihat keadaan adalah dengan mengintip lewat lubang leher mayat di depan wajah saya. Lord Jesus. Sampai mencari-cari kemanapun saya tetap tidak bisa menemukan cara lain. Terpaksa…

Percakapan masih belum usai.

“Tidak, tentu saja tidak, Ysabel, dear.” Nada bicara beliau menyiratkan sayang, seakan sedang menasehati bocah polos. “Aku sudah berjanji pada Carlisle agar tidak membunuh Alastair. Kuharap dia mati karena tersedak kekuasaannya sendiri.”

Di saat ini saya berhasil menyamakan posisi mata dengan lubang leher yang saya sebut barusan. Sangat tidak nyaman, harus saya bilang, dan diulang, sangat tidak nyaman. Belum lagi sangat menjijikkan kalau diingat-ingat. Setidaknya lewat penglihatan minim itu saya berhasil mengira-ngira keadaan ruangan dan merencanakan bagaimana kabur nanti. Tapi… saya… lebih cemas akan Tuan Dionysius dan percakapannya.

Kalau ini memang benar Tuan Dionysius, maksud saya.

“Sayang,” katanya lagi, “orang-orang menganggap aku sebagai seorang pendeta yang penuh kasih. Penyayang. Penggembala yang rendah hati.”

Ada suara-suara lain. Saya dengarkan baik-baik. Terdengar seperti sesenggukan? Asalnya dari pojokan ruangan tempat Tuan Dionysius berdiri, jadi saya tidak bisa betul-betul memastikan. Saya tidak ingin memikirkan yang tidak-tidak. Tapi perkataan Tuan Dionysius selanjutnya amat mencekam.

“Uskup pengasih yang murah hati, etcetera. Itulah Dionysius Carradine. Tapi pembantai? Tidak. Tidak, itu terlalu dekat dengan kenyataan. Apa artinya berpura-pura jadi pendeta selama 20 tahun kalau begitu?”

Ada seseorang selain Tuan Dionysius. Saya yakin. Orang itu menjerit lemah sebelum ada bunyi seperti saat juru masak memisah daging dengan pisau besarnya. Lalu jeritannya berubah jadi berdeguk-deguk, sampai perlahan senyap. Mati! Kata ‘terguncang’ saja tidak bisa menggambarkan keadaan saya.

“Penyihir yang menyamar menjadi pendeta. The Right Reverend Dionysius Carradine. Benar-benar sandiwara yang hebat.”

Tuan Dionysius penyihir?! Demi Tuhan! Saya melihat api di pojok ruangan perlahan bergerak. Beringsut ke arah Tuan Dionysius yang kini jelas sekali bermain-main dengan api. Beliau mengendalikan api dengan begitu lihainya, saya tidak bisa memercayai mata kepala saya sendiri.

“Sebutlah aku monster. Toh aku yang menggorok semua mayat busuk ini.”

Pada saat ini saya hampir tidak bisa berhenti gemetaran. Rasanya mau terkencing-kencing di celana, tapi saya ingat, saya tidak pakai celana… Jesus. Saya takut. Sungguh takut.

“Ahh. Aku hanya menyalurkan hobi.” Suara daging jatuh kedengaran di sini. Perlu dicatat bahwa saya bisa menahan muntah dengan sempurna. “Lagipula, kau tak bisa menyangkal bahwa aku berhasil mengangkat nama keluarga Carradine. Melindungi apa yang harus dilindungi—tak hanya Carradine, tapi juga semua yang bekerja padaku. Liam. Thomas. Matthew.”

Nah. Saya ingin berpikir sebentar.

Saya sungguh tidak tahu bagaimana harus bereaksi terhadap perkataan beliau yang ini (karena itulah saya menuliskan ini, untuk menimbang-nimbang). Jadi Tuan Dionysius bersedia membunuh demi… saya? Begitu maksudnya? Atau apa? Ya Tuhan. Otak saya ini persis kincir tua yang dipaksa bekerja—lama-lama bisa macet mendadak. Lalu meledak. Muncrat.

Tapi jelas sekali Tuan Dionysius bersungguh-sungguh berkata seperti itu. Terharu? Sesungguhnya iya. Tak ada orang yang pernah sepeduli ini dengan saya. Saya, yang tiap hari dianggap sampah; Thomas si Buangan.

Sebaiknya saya melanjutkan lagi, kembali ke ruang jahanam itu tadi.

Tuan Dionysius masih berdebat dengan sesuatu (atau seseorang) yang tidak bersuara, lagi tidak kelihatan. Sampai pada kalimat ini saya baru bisa menangkap perkataannya, “Mungkin Alastair sebaiknya melakukan Perburuan Penyihir… ya. Ya, tentu. Mengalihkan perhatian khalayak ramai ke orang lain bisa jadi jalan keluar yang bagus. Seperti yang dulu kulakukan. Kasus terakhir di Dover, bukan? Kau ingat?”

Saya masih ingat.

“Mereka hanya penyihir rendahan. Memakai kemampuannya untuk merampok, memperkaya diri. Mereka pantas mati.”

Ya, mereka pantas mati.

“Seret, rantai, bakar…”

Benar. Bakar.

“Aku tak sabar untuk mengunjungi Alastair di Maidstone. Hari ini hari Rabu, bukan?”

Bukan, Tuan.

“Kamis?! Tsk… sial. Thomas pasti sedang menunggu di atas.”

Thomas sedang menunggu di sini, Tuan, kedinginan pula.

“Tapi hari sudah petang. Apakah bijaksana…” Beliau berhenti seolah mendengarkan sesuatu. “Bagaimana, Ysabel? Tunda keberangkatan? Thomas barangkali sudah menanti sampai ketiduran. Hmm. Biarkan dia istirahat—aku setuju, besok saja…”

Akhirnya Tuan Dionysius berbalik dan pergi. Akhirnya, akhirnya, akhirnya. Puji Tuhan beribu kali. Saya selamat. Itu yang terpenting. Saya tunggu beberapa menit dahulu untuk memastikan keadaan, baru saya berani bergerak mengambil semua barang untuk segera keluar dari ruangan itu…

Dan akhirnya saya di sini, mencatat pengalaman gila ini (setelah mandi lima kali dan melumuri jidat pakai air suci dari St Mildred). Saya yakin ini semua mimpi buruk, saya harap begitu. Tidak mungkin majikan saya yang baik dan pemurah itu menyimpan rahasia sebegini besar. Pertama-tama, beliau menyelamatkan saya dari label cacat seumur hidup. Ini pantas dibayar nyawa, saya tahu. Saya berhutang nyawa. Beliau juga memberi pekerjaan, memberi saya tujuan hidup, menaungi saya di bawah atap rumahnya dan amat bertanggung jawab sebagai majikan.

Di sisi lain saya baru menemukan bahwa beliau adalah pembunuh. Ratusan mayat itu buah tangan beliau. Belum lagi desas-desus itu ternyata benar; Tuan Dionysius amat sinting. Beliau bicara dengan istri sendiri yang sudah mati! Atau, jangan-jangan istrinya malah dihidupkan pakai keilmuan sihirnya?

Bagaimana ini? Saya sungguh tak tahu. Adakah sebaiknya saya melaporkan beliau? Ke siapa? Apa saya berani menggigit tangan yang sudah memberi saya sumber pangan? Apa saya bisa mengkhianati Tuan Dionysius dan masih berani menatap cermin tanpa berjengit?

Memangnya saya sendiri tidak punya salah sampai sebegitu congkaknya melaporkan majikan sendiri? Yang sudah begitu berjasa, yang sudah mengangkat derajat hidup orang rendahan seperti saya?

.

.

.

Saya kira manusia memang tak ada yang sempurna.

***

Sepulang dari Maidstone saya bilang dengan segenap jiwaraga (walau agak gemetaran) bahwa apapun yang terjadi, saya akan tetap loyal pada beliau.

Saya ingat, Tuan Dionysius tidak menjawab sebentar. Ada pikiran aneh bahwa beliau paham maksud perkataan saya lebih dari yang saya maksudkan, tapi…

“Aku tahu, Thomas.”

Lalu beliau menepuk pundak saya, sebelum berbalik dan menapaki undak-undakan menuju pintu kediamannya yang bisu.

=====

END

=====

 

 

11 dukungan telah dikumpulkan

Comments