Se’eng Pembawa Petaka

8 months ago
Koleksi Pribadi (Art by Anak Agung Shela Irvani)
Jagatnata Adhipramana

by: Jagatnata Adhipramana

“Lagai badannya besar, tapi aneh akalnya pendek.”

Semua orang di paguron[1] kami tahu arti olok-olok itu. Olok-olok yang kami tujukan pada seorang kakak seperguruan kami yang badannya tinggi besar namun akalnya benar-benar pendek. Olok-olok mengenai dirinya terus berlangsung meski si empunya nama telah dinyatakan lulus bertahun-tahun yang lalu. Tapi siapa sangka buah karma buruk itu datangnya cepat? Aku yang termasuk seorang yang getol mengolok-olok si kakak seperguruan itu malah terjebak dalam kesulitan yang amat besar. Kesulitan yang membuatku was-was apakah nyawaku masih kurang untuk mengganti kerugian tersebut.

******

Kisah ini bermula ketika seorang kerabat Sang Prabhu Kadatwan Pakuan Galuh bermaksud merayakan peringatan hari lahir putranya sekaligus menjodohkan putranya tersebut dengan seorang gadis dari kalangan yang sederajat dengan dirinya menggunakan ritual adat setempat yang disebut Parebut Se’eng. Konon si mempelai lelaki dan mempelai perempuan itu telah ditakdirkan berjodoh sejak lahir sebab para sangkala manutiras – ahli penanggalan dan pemberian nama – sepakat sekata mengatakan bahwa calon mempelai pria yang lahir pada Wuku Jungjungwang itu sungguh berjodoh dengan calon mempelai perempuan yang berwuku Warig Agung. Ditambah lagi kedua orangtua mereka telah kenal dekat sejak lama sehingga sejatinya sungguh tiada halangan bagi keduanya untuk dipersatukan dalam ikatan pernikahan.

Namun ada satu masalah menghadang. Sang calon mempelai pria, bocah 18 warsa[2] yang selalu memasang wajah cemberut itumenghendaki diadakannya Parebut Se’eng sebagai hadiah ulang tahunnya sekaligus pengesahan acara pertunangannya dengan gadis yang akan menjadi calon istrinya. Bukan permintaan sulit bagi sang ayah dan calon mertuanya andaikan saja permintaannya ini permintaan biasa. Masalahnya, ia menghendaki Parebut Se’eng ini dilakukan oleh dua pandeka[3] tangguh dari dua Kadatwan[4] yang berbeda. Yang satu haruslah dari pulau seberang barat, Suwarnabhumi, dan yang satu lagi haruslah dari Dipantara, pulau tempat ia dilahirkan.

Dan permintaan pangeran muda yang aneh itu lantas sampai juga kepada para tua-tua Tembayat. Entah seberapa besar pengaruh si pangeran Galuh itu tiba-tiba oleh Sang Nata Samrat Cakrawartin – Sang Maharaja dari segenap raja-raja penguasa kadatwan– segenap Tuan Guru dan Mahasiddhi yang bertugas di masing-masing wanua[5] segera dimintai saran mengenai siapa yang sebaiknya dipilih mewakili dua wilayah : Dipantara dan Suwarnabhumi. Hasil pemilihannya … ya kok kebetulan aku yang dipilih mewakili Dipantara! Sementara itu dari Suwarnabhumi, para tua-tua Tembayat yang ada di sana belum memberi jawaban.

Tapi karena takut para pangeran Galuh itu keburu tidak sabar, segera saja Tuan Guruku menyuruh aku lekas berangkat ke Galuh, tepatnya di daerah Purabatu.

Jadi di sinilah aku, di tempat kediaman para pangeran Galuh yang berhias janur-janur kuning, aneka kertas warna-warni, aneka bunga dari sepenjuru Kemaharajaan, kain-kain bermotif, dan tak lupa juga sejumlah pandita baik Pandita Iswara maupun Kasogatan yang diundang untuk memberkati acara dan memohon pertolongan Para Hyang dan Para Abdi Tathagatha agar acara ini berjalan lancar.

Singkat cerita mereka menyambutku dengan penuh ketergesaan. Segera saja aku disuruh mengganti pakaianku dengan pakaian ala pandeka : kemeja panjang hitam, celana hitam, ikat kepala, dan kain gringsing motif parang yang diikatkan di pinggang. Setelah itu mereka menyodorkan padaku sebuah se’eng, yakni sebuah periuk nasi berbentuk panjang yang ujung atas dan bawahnya melebar bak alat musik yang disebut ‘terompet’ oleh orang-orang dari Daratan Barat namun menyempit di bagian tengahnya, berbahan dasar perunggu yang dilapis perak Parebut Se’eng berarti acara memperebutkan se’eng oleh dua jawara atau ahli berkelahi tangan kosong, satu jawara mewakili pihak laki-laki dan satu lagi mewakili pihak perempuan. Jawara dari pihak perempuan akan membawa se’eng pada awal acara dan jawara pihak laki-laki harus merebutnya kemudian mempersembahkannya kepada calon mempelai laki-laki yang kemudian akan menghantarkannya kepada calon mertuanya sebagai bukti bahwa Para Hyang berkenan merestui pernikahan mereka. Namun jika jawara pihak laki-laki gagal merebut se’eng artinya acara lamaran itu batal dan biasanya sih itu akan berkembang menjadi adu jotos masal antar kedua keluarga.

Panita memberitahuku bahwa aku di sini akan mewakili pihak mempelai perempuan. Bagus! Itu artinya aku tak perlu bertarung lama-lama! Aku enggan berlama-lama di sini, soalnya ini sebenarnya waktu liburku sekaligus hari ulang tahunku, harusnya aku bisa berplesir ke tempat lain seperti pantai atau pasar malam, bukan berada di acara konyol seperti ini! Kuputuskan setelah adu tiga atau empat jurus dengan jawara mempelai laki-laki, aku akan menyerah.

Sayangnya ide bagusku itu pupus begitu saja ketika seorang pembesar istana Galuh mendekatiku dan berkata, “Pangeran kecil kami ingin melihat acara pertarungan yang bagus. Kami memberi waktu Nanda Pandeka berdua bertarung sampai dua jam. Meskipun nanti Nanda mengalah tolong usahakan Nanda tidak langsung kalah begitu saja. Kalau sampai Nanda mengecewakan kami maka ….,” pembesar itu hanya memberi isyarat jari telunjuk tangan yang ditarik melintang melintasi leher.

“MAMPUS!” batinku.

Permintaan para Rakyan-Rakyan Kadatwan ini makin aneh saja dari waktu ke waktu. Mengingat lawanku katanya Pandeka dari Suwarnabhumi aku jadi bertanya-tanya sanggupkah aku melayaninya selama dua jam? Sebab terakhir kali aku adu ilmu dengan seorang Pandeka Suwarnabhumi yang katanya di kediamannya dia masih nomor tujuh saja aku sudah ngos-ngosan.

“Maaf Nanda Pandeka! Lawan Nanda sudah tiba!” seorang prajurit penjaga masuk ke dalam ruangan tempat aku bersiap dan langsung memintaku menuju lapangan.

Sampurasun hadirin sekalian!” suara pembawa acara yang dikeraskan berkali-kali lipat oleh sejumlah pelantang suara di alun-alun itu memekakkan telingaku.

“Sebagai ungkapan syukur atas dirgahayu[6] Rakai Cakrasoma sekaligus merayakan pertunangan Rakai Cakrasoma dengan Dyah Ayu Indraduri maka dengan ini Rakai Dyah Ranawisesa selaku Tuan Rumah menghadirkan Parebut Se’eng! Dengan jawara-jawara pilihan dari Dipantara dan Suwarnabhumi!”

Semua hadirin bersorak riuh sementara aku menunggu dengan penasaran siapa lawanku nanti.

“Baik kedua jawara adalah murid Sang Ajar Windusana, yang mewakili mempelai perempuan adalah Pandeka Nomor Tiga di Kajoran sementara yang mewakili mempelai laki-laki adalah Pandeka Nomor Satu di Palas Pasemah! Siapa yang menang atau kalah ditentukan oleh skor yang akan terpampang di layar yang ada di atas saya.”

Oh ya, penilaiannya menggunakan skor digital di layar elektronik ya? Yah segalanya berubah digital, termasuk cara menghitung nilai di ajang adu tanding seperti ini. Tapi tunggu! Si pembawa acara tadi bilang Palas Pasemah? Sepertinya aku kenal satu-dua pendekar yang bertugas di sana, tapi yang pernah satu seperguruan dengan aku? Firasatku mulai terasa tidak enak.

“Haaalooooo, Dirgahayu Adik BIMAAAA!!!!!” terdengar suara besar dan keras dari seberang lapangan yang bisa kudengar dengan jelas padahal jarak antara aku dan dia lebih dari seratus langkah.

“MAMPUS!” aku mengumpat ketika melihat sosok pria muda dengan perawakan kekar dan tinggi dua meter muncul dan mengkonfirmasi kekhawatiranku sedari tadi. Yang jadi lawanku adalah Lagai ‘Si Otak Pandir’.

Pada dasarnya Parebut Se’eng adalah pertarungan pura-pura. Sebisa mungkin kita tidak boleh membuat lawan kita cedera berat. Tapi dengan dua instruksi yang saling bertentangan barusan yakni pertarungan seru selama dua jam dan dilarang membuat lawan luka berat entah bagaimana otak pandir Lagai akan menerjemahkannya.

Sejatinya Lagai tidaklah jahat, tapi di perguruan kami dia terkenal hanya bisa menyelesaikan satu dari dua atau tiga perintah yang diberikan guru kami. Katakanlah guru kami memerintahkan Lagai beradu tanding dengan murid baru dengan peringatan untuk sedikit mengurangi tenaganya karena lawannya masih amatir, maka hasilnya adalah murid baru tadi pasti cedera berat karena Lagai menggunakan setidaknya sepuluh jurus tingkat atas dalam adu ilmu. Atau ketika guru kami menyuruh masing-masing dari kami menimba air di puncak bukit dan harus kembali sebelum tengah hari, Lagai pasti baru kembali sore harinya karena dia menganggap tengah hari itu ‘masih pagi’.

Tapi Lagai juga adalah murid terkuat Sang Ajar Windusana, jika disuruh melabrak musuh sekuat apapun Lagai nyaris tak pernah gagal. Nah masalahnya sekarang yang jadi musuhnya itu aku dan aku khawatir pada seberapa kuat Lagai akan melabrakku.

Peluit dibunyikan, aku dan Lagai saling menangkupkan tangan, memberi hormat pada lawan kemudian memasang kuda-kuda. Lagai masih memasang tampang cengar-cengir menyebalkan. Tapi sumpah mati! Aku sungguh dibuat menyesal karena lebih fokus pada rasa sebalku terhadap tampang Lagai ketimbang mewaspadai serangan pertamanya.

Belum juga lewat 10 tarikan nafas sejak kami berdiri berhadap-hadapan, kudapati sosok Lagai sudah memudar. Bajul[7]! Aku lupa kalau Lagai memiliki aji panglimunan, sehingga sosoknya memudar dari mataku. Aku segera menghindar dengan memindahkan kaki kananku selangkah ke kanan. Tepat waktu! Kepalan tangan Lagai nyaris saja menghancurkan persendian bahu kiriku.

Aku menunduk dan menabrakkan bahu kiriku ke tubuh Lagai, mengenai tepat di perutnya. Ia bergeming, tak bergeser sedikitpun, malah aku yang kena hantam di bagian punggung sehingga jatuh tersungkur di tanah basah berumput. Aku segera melakukan gerakan menghindar karena sesuai dugaanku, Lagai langsung saja melancarkan pukulan bertubi-tubi ke tanah tempat aku terbaring tadi. Untung saja aku telah berhasil menghindar dengan elakan kaki yang sedikit banyak berhasil menangkis pukulan Lagai dan memberiku kesempatan untuk berdiri kembali.

Se’eng berlapis perak yang Lagai sampirkan di punggungku masih saja tersampir kokoh. Tapi dengan aksi Lagai yang brutal dan gila-gilaan siapa yang bakal tahu bagaimana nasib se’eng yang aku bawa ini beberapa menit lagi? Apakah akan pecah berantakan? Atau aku yang justru pecah berantakan?

Demi mencegah se’eng mahal ini pecah, aku tancapkan se’eng itu di atas tanah sementara aku sendiri menerjang Lagai kembali dengan posisi tangan mengepal, mengarah ke ulu hati Lagai. Sesuai dugaanku, Lagai tidak langsung mengincar se’eng yang harusnya kami perebutkan tapi lebih tertarik baku hantam frontal denganku.

Pukulanku urung mengenai Lagai. Aku terpaksa berkelit hanya sesaat sebelum Lagai mendaratkan tebasan kakinya yang dulu mampu memotong pohon kelapa menjadi dua saat masih berguru dahulu. Benar saja! Waktu tapak kaki Lagai menghantam tanah kudengar suara gemuruh keras disertai angin kencang yang menerbangkan segala batu dan kerikil dari tempatnya semula. Para penonton tampak terkesiap sementara papan nilai di atas sang pembawa acara masih menunjukkan skor kami sama-sama nol karena dari tadi belum ada satupun dari kami yang serangannya masuk.

Kami berdua menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan tenaga yang sempat terbuang sia-sia sejak beberapa saat yang lalu. Aku lihat Lagai melirik ke arah se’eng yang tadi sengaja aku tancapkan ke tanah. Dengan melompat bak harimau, ia menyambar se’eng tersebut lalu menghantamkannya ke tanah dan langsung saja sejumlah kepalan tangan tembus pandang terbentuk di hadapan Lagai.

Aku membeliak! Lagai menggabungkan efek dari dentuman kundalini miliknya serta unsur perak dan tembaga dalam se’eng tersebut untuk memanggil ‘Tangan-Tangan hantu’, jurus tingkat tinggi yang hanya dikuasai sedikit murid terpilih Sang Ajar Windusana. Hantaman satu Tangan Hantu mampu membuat seorang biasa muntah darah dan Lagai barusan membentuk setidaknya tujuh Tangan Hantu!!!!

Aku menarik keluar keris pusaka warisan guruku, kutarik ia keluar dari warangka[8]nya. Kuletakkan ia di hadapan dahiku dan kukonsentrasikan seluruh kundalini milikku ke dalam keris lurus itu.

Motif ular kembar di bilah kerisku memancarkan cahaya keperakan dan ketika Tangan-Tangan Hantu Lagai mulai mendekat ke arahku. Aku sabetkan senjata bilah lurus itu ke satu Tangan Hantu dan tangan itu pun segera lenyap. Aku sabetkan lagi ke Tangan Hantu lain dan tangan ini pun sirna. Satu Tangan Hantu tak kuasa aku hancurkan, maka aku berkelit, membiarkan ia lewat dan menghancurkan sebuah beton berukir penghias taman. Ketika aku berhasil berada cukup dekat dengan Lagai, ia tampak menggabungkan Tangan Hantu miliknya yang masih tersisa menjadi sebuah tameng kokoh yang lazimnya tak tertembus serangan apapun.

Lazimnya!

Tapi dengan senjata yang ada di tanganku, lain ceritanya!

Kundalini yang terkumpul dalam kerisku masih cukup banyak tersisa, karena itu tanpa ragu kutusukkan senjata itu ke tameng Tangan Hantu Lagai dan percikan kilat besar akibat gesekan kundalini kami berdua pun muncul tanpa bisa terhindarkan lagi.

Percikan itu semakin lama semakin besar dan panas. Dan pada satu titik, aku turut mempercepat percikan itu ke titik kritisnya dengan melancarkan pukulan bermuatan kundalini ke pusat gesekan. Walhasil sebuah dentuman dahsyat pun tak terhindarkan lagi.

Angin panas, debu, serpihan batu dan kaca berhamburan ke segala penjuru. Dan di sini kudapati Lagai kini terbaring di tanah sambil memegang se’eng di tangannya dengan tanganku mengepal dan menyentuh salah satu sisi se’eng.

“Dirgahayu Adi Bima!” ujar Lagai sambil nyengir kuda ketika aku berhasil merobohkannya.

Aku menarik nafas lega sesaat karena berhasil menyelamatkan diriku dari cedera parah. Tapi kelegaanku tak berlangsung lama. Tiba-tiba saja se’eng di tangan Lagai yang tak sengaja kena pukulanku kini hancur berkeping-keping.

Aku terperanjat tapi Lagai masih bisa-bisanya berucap, “Selamat! Akhirnya kamu berhasil kalahkan aku! Sang Ajar Windusana pasti senang!”

Dewa Ratu! Oke, memang aku dari dulu ingin mengalahkan Lagai, tapi tidak di sini juga kali! Menyaksikan se’eng lapis perak yang berharga itu tak sengaja kuhancurkan dan jawara mempelai laki-laki kebanggan mereka kukalahkan seluruh hadirin membuka mulutnya tanpa suara – sebuah ekspresi ketidakpercayaan akan apa yang barusan terjadi. Keheningan itu berlangsung cukup lama sebelum suara terbahak si pangeran kecil yang diwakili oleh Lagai itu terdengar. Pangeran kecil itu bertepuk tangan riuh dan tersenyum lebar sembari berkata, “Pertarungan yang bagus Kanda Bima dan Kanda Lagai! Aku senang dan puas dengan pertarungan kalian! Aku juga sangat puas dengan hasilnya! Dengan ini Para Hyang telah menunjukkan kehendak mereka! Aku dan Dyah Ayu Indraduri sungguh bukan jodoh. Karena itu saya mohon pada orangtua kami berdua untuk membatalkan saja acara pertunangan kami ini.”

“Tunggu! Memang Para Hyang senang memberikan petunjuk lewat kehidupan sehari-hari. Tapi aku rasa tidak terlalu gegabah jika Tuanku katakan kekalahan jawara andalan Tuanku adalah sebuah petunjuk dari para Hyang bahwa pernikahan Tuanku tak layak dilangsungkan!” bantah seorang pandita Iswara berpakaian jubah kulit kayu coklat.

“O begitu? Tapi lihat saja Rama Pandita. Se’eng yang telah ditempa para pande terbaik Galuh kini hancur menjadi serpihan. Tidak pernah o Rama, ini terjadi sebelumnya. Seganas dan seseru apapun pertarungan antar jawara tak pernah sekalipun se’eng hancur seperti ini. Jika bukan petunjuk para Hyang maka apa ini Rama Pandita? Kebetulan belaka kah?”

“Kami sarankan Tuanku Pangeran jangan tergesa mengambil keputusan. Biarlah para sangkala manutiras bersidang dan mengambil keputusan atas petunjuk ini selama beberapa saat,” usul seorang Pandita Kasogatan berkepala plontos.

******

Aku hanya bisa duduk penuh rasa was-was mengharap-harap bahwa akhirnya Si Pangeran Kecil itu akan tetap ditunangkan dengan gadis yang dipilihkan orangtuanya sebagaimana rencana semula. Sebab kalau sampai acara pertunangan ini gagal maka alamat akan banyak hal-hal tidak mengenakkan yang harus aku alami ke depannya.

“Haaaiii! Kenapa cemberut dan murung begitu Adik Bima?” Lagai masih saja bersikap cuek dan tidak tahu diri bahkan setelah kejadian barusan, “Jangan cemberut begitu lah! Ini hari ulang tahun kamu! Ayo makan! Aku tadi ambil dua kotak!” dengan santainya ia menyodorkan sekotak makanan dari panitia acara kepadaku.

Aku hanya bisa tersenyum sebagai tanda terima kasih lalu kembali menantikan keputusannya dengan was-was.

Akhirnya setelah menunggu sampai tengah hari, para sangkala manuritas keluar dari sanggar tempat mereka berdiskusi lalu mengumumkan keputusan yang mengejutkan : pertunangan ini tidak direstui para Hyang. Pecahnya se’eng telah menandakan hal tersebut. Semua pihak diharapkan menerima keputusan ini dengan lapang dada.

“Astaga!” aku tertunduk lesu, “Apa yang habis ini akan terjadi padaku?”

“Hum, hum, barusan aku dapat pesan dari Tembayat. Soal kamu, Dik,” kata Lagai.

“Apa pesannya?” tanyaku pada Lagai dengan tatapan khawatir.

“Kamu tidak perlu pulang ke Kajoran. Kamu sekarang tugasnya di Tanah Lima Puluh Desa, Suwarnabhumi. Jadi kamu nanti ikut aku pulang ke Suwarnabhumi. Asyik kan?”

Aku menelan ludah, “Kamu … akan jadi rekan saya di sana?”

“Aaaaa, tidak. Sayangnya tidak. Wilayahku Palas Pasemah. Lima Puluh Desa itu wilayah orang lain.”

Ah baguslah! Aku sekarang bisa menarik nafas lega. Pindah tugas ke manapun, kerjasama dengan siapapun, aku bersedia asal tidak satu wilayah lagi dengan Si Pandir Lagai! Sudah cukup dia membawa penderitaan sepanjang hidupku! Dewa Ratu! Semoga aku takkan pernah berurusan lagi dengannya lebih-lebih berurusan soal adu jotos seperti ini!!

—————————————————-

[1] Paguron = perguruan

[2] Warsa = tahun

[3] Pandeka = Pendekar, ahli beladiri

[4] Kadatwan = daerah administratif setara provinsi, dipimpin seorang raja

[5] Wanua = Daerah administratif di bawah kadatwan

[6] Dirgahayu = peringatan hari lahir

[7] Bajul = buaya (kata umpatan)

[8] Warangka = sarung keris

44 dukungan telah dikumpulkan

Comments