Selepas Magrib di Sebuah Angkringan

3 months ago
Rizki Maulana A

by: Rizki Maulana A

Jamaah Salat Magrib telah pulang. Beberapa anak berlari tergopoh-gopoh meninggalkan masjid dan ada pula yang berjalan santai menuju ke sebuah angkringan di dekat masjid itu. Selain itu, ada pula yang tetap saja asyik dengan kegiatannya, berselancar di internet dengan laptop mereka, duduk manis sambil menikmati es teh, tak beranjak. Tapi, itu tidaklah dipikirkan lelaki tua separuh baya ini. Dia tetap sibuk menyiapkan angkringannya, memasukkan arang-arangnya ke tungku, sebelum membakar kemudian mengipasinya. Baginya, mereka hanyalah pelanggan kesayangannya.

Namanya Sudarsono, atau yang lebih sering dipanggil Darso –lebih terkenal dipanggil ‘Pakdhe’ (Paman—jawa). Sekarang hidup sendiri di umurnya yang menginjak 54 tahun. Anaknya kembar tiga dan sudah dewasa, tak jadi satu lagi dengan bapaknya. Istrinya sudah lama jadi pejuang devisa, malang melintang di berbagai negara teluk dan Asia lainnya—meski belakangan istrinya mengaku lebih betah untuk kerja di Taiwan. Pekerjaannya? Hanyalah seorang pedagang angkringan yang buka mulai pertengahan Ashar di emperan jalan Kota Jogja, di samping sebuah masjid. Tidaklah menarik bukan?

“Pakdhe!” Sapa seorang pria muda dari jauh. Dia berlari kecil sebelum akhirnya menempatkan dirinya di kursi panjang yang menghadap langsung dengan jajanan angkringan. Dia langganan setia Pakdhe, dan sesekali dia membantu Pakdhe menjagakan warungnya kalau Pakdhe sedang ingin ke kamar mandi, pulang menambah jumlah nasi kucing, atau salat. “Aku pesen sate ususnya lima!”

“Wolah, Mas Farel. Tumben agak cepet, Mas? Biasanya kalau gorengannya udah abis aja baru dateng,” jawab Pakdhe sambil sedikit berceloteh. Pakdhe kemudian menyajikan pesanan Farel, ditambah dua bungkus nasi kucing.

“Iya ini, ‘Dhe. Soalnya lagi nggak ada syuting,” jawab Farel.

“Walah, syuting? Loh, emangnya syuting sinetron apa, Mas? Dunia Terbakil apa Anak Jahanam, Mas?”

“Wah, bukan gitu, Pakdhe. Itu mah yang biasa disiarin TV, ‘kan? Ini aku sama timku biasanya bikin web series gitu, Dhe. Kadang-kadang kami bikin vlog juga. Nah, nanti di-upload ke YouTube, gitu.”

“Oohhh… vlog-vlog itu, toh, Mas? Oh, ya… ya… Saya tahu itu. Kadang-kadang saya nonton, tuh, punyanya Kerik, personel band punk rock itu!”

“Oohh… yang itu? Iya itu, lucu banget. Kadang-kadang menginspirasi juga. Kalau nggak, punyanya Deddy Kokbotak itu juga seru, Dhe.”

“Iya, iya. Ngomong-ngomong, kalau webseries Mas Farel apa? Biar nanti saya cek kalau lagi di rumah.”

“Itu… Surat Tanah untuk Starla. Kalau bisa di-subscribe sekalian, ya, Dhe?”

“Iya, iya. Tapi, saya lihat dulu. Kalau bagus baru saya subscribe. Saya nggak mau subscribe YouTube orang cuma gara-gara kenalan saya.”    

“Loh, Pakdhe nggak ketinggalan update begituan, toh? Wah, aku beneran kaget, lo, ini!” Tiba-tiba percakapan antara Pakdhe dan Farel disela seorang mahasiswa lain yang menempatkan duduknya di samping Farel. Dia langsung menyantap bakwan goreng.

Penampilannya benar-benar tidak karuan. Dia hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Tubuhnya gemuk, namun dalam kategori sehat. Kantung matanya tebal. Dia adalah mahasiswa yang kos dekat angkringan Pakdhe sekaligus langganannya.

“Wah, Mas Roni, tumben mampir? Butuh asupan gorengan buat bikin skripsi?” celoteh Farel, wajahnya mengejek, menyeringai jelek.

“Cih, anak kampus kemaren sore bisa-bisanya ngejek. Kalau sekarang kamu masih bisa bikin web series. Begitu tua dikit, udah kelar sampeyan!”

“Halah, aku selalu punya waktu luang, kok, Mas. Sampe besok mau lulus, pun, pasti punya waktu senggang buat sekedar ngaso-ngaso.”

“Sekarang bisa ngomong gitu. Besok-besok mati kutu kamu pas ditelepon sama orang tuamu di kampung!” Dia kemudian menirukan gaya ibunya, tentunya dengan suara yang tinggi. “Le, skripsi kamu kapan selesainya, Le? Cepet selesaikan, nanti biar cepet wisudanya, ya, Le?”

Farel malah terpingkal-pingkal mendengar Roni. “Untungnya, Nyokap nggak sampe begitu. Yang penting anaknya mandiri aja, udah seneng banget, Nyokap.”

“Cih, dasar anak dimanja mulu, akhirnya ya gini!”

“Kok, Mas Roni malah sewot, sih?!”

“Udah-udah!” Pakdhe segera mematikan sumbu perkelahian mereka. “Nggak baik bertengkar-bertengkar mulu. Yang bikin negara kita belakangan ini kelihatan kacau, ya, perselisihan kecil macam gini.”

Mereka sudah dilerai, tapi tetap saja masih merajuk. Hubungan mereka memang sering dihiasi perselisihan pendapat. Pernah sekali mereka berselisih pendapat karena berbeda pandangan politik terhadap sebuah kebijakan. Untunglah, Pakdhe sigap dan berhasil melerai mereka. Meski begitu, itulah keakraban mereka.

“Tapi beneran, lo, ‘Dhe! Aku kaget kalau Pakdhe bisa update soal YouTube begituan. Aku aja nggak pernah update soal YouTube. Ya, menurutku, sih, YouTube itu lebih parah dibanding TV. Soalnya, mereka ‘kan nggak ada KPI yang bisa kontrol gitu.”

“Heh, siapa bilang YouTube kalah sama TV? YouTube itu lebih dari TV! Asal Mas Roni tahu aja, ya!”

“Dasar kroni YouNex! A—”

“Ssssttt…!!! Udah-udah jangan bertengkar terus, toh!” Sekarang Pakdhe yang menaikkan nada bicaranya. “Malu tahu sama pelanggan lainnya!”

Gagal lagi pertengkaran mereka. Sepertinya, mereka akan kecewa kalau tidak bertengkar. Yah, seperti yang sudah dikatakan tadi, pertengkaran adalah simbol keakraban mereka.

“Ya, gini, Mas Ron. Saya ‘kan di rumah dipasangin, tuh, wifi sama anak saya yang paling besar, si Gareng itu. Dia ‘kan kerjanya di provider internet. Udah dari tujuh tahun lalu kalau nggak salah.”

“Loh, Mas Gareng itu dulu kerja di provider internet, toh? Setahuku dia cuma pengusaha distro, ‘Dhe,” sela Farel. “Terus gimana, ‘Dhe?”

“Ya gitu, saya awalnya nggak tertarik sama begituan. Tapi, malah diajarin itu sama si Mancung, anak saya kedua. Biasanya, sih, selesai kuliah. Nah, kalau pagi gitu kadang-kadang buka, awalnya buka yang nakal-nakal. Tapi, akhirnya mikir lagi, nggak ada gunanya juga saya buka begituan.”

“Ternyata, Pakdhe buka yang begituan juga? Wah… wah… Pakdhe nakalnya telat, nih!”

“Ah, nggak juga, Mas. Kata Mancung, sih, udah biasa kalau buat orang yang baru kenal internet. Apalagi, jaman segitu ‘kan belum ada blokir-blokiran dari kemkominfo. Ya, biasa, cuma gara-gara iklan di samping kiri-kanan webpage itu.”

“Bener juga, sih. Aku jaman kenal-kenal sama internet juga gitu. Biasanya buka di warnet. Mana warnetnya bau amis kalau nggak bau rokok, lagi!” timpal Roni.

“Ahahaha… saya tahu itu! Biasanya, mahasiswa dulu sukanya ngeluh gitu kalau lagi nongkrong di sini,” balas Pakdhe.

“Terus, lanjutnya gimana, Pakdhe?”

“Ya, saya terus coba-coba aja browsing gitu di Google. Cari-cari yang bisa dijadiin magnet buat anak muda dateng ke angkringan. Nah, saya terus lihat di luar negeri itu biasanya ada yang namanya internet cafe. Dari situ, saya dapat ide buat pasang wifi di angkringan saya. Ya, sekitar setahun setelah dikenalin internet sama Gareng.”

“Cuma dari situ, Pakdhe sampai kepikiran buat kasih wifi di angkringan? Wah, beneran Pakdhe itu pelopor!” puji Farel. “Aku salut, lo, Pakdhe!”

“Kalau dibilang pelopor, kayaknya nggak begitu bener. Soalnya, kalau nggak salah udah ada duluan, kok, angkringan ber-wifi di Jogja. Tapi, baru, setelah Pakdhe… baru marak yang namanya angkringan pakai wifi.”

“Lah, terus, ‘Dhe, pelanggan dari kalangan mahasiswa mulai nambah?” tanya Farel.

“Lumayan. Awalnya cuma sedikit, ya, cuma nambah tiga atau empat orang. Tapi, terus saya dikenalin Facebook sama salah satu mahasiswa S2. Nah, Pakdhe mulai di situ, promosi angkringan Pakdhe di Facebook. Padahal, awalnya Pakdhe ini cuma kelinci percobaan dia buat tesisnya. Tapi, malah keterusan dia ajarin Pakdhe sama media sosial yang terkenal, Twitter juga.”

“Kalau boleh tahu, namanya siapa, Pakdhe?” obrolan mereka tiba-tiba disela oleh seorang perempuan. Dia mencangklong sebuah tas laptop bercorak batik.

“Wah, Mbak Reisha! Silakan, duduk, Mbak.”

Reisha mengambil posisi duduknya, dia meletakkan tas laptopnya di hadapannya. Setelahnya, sebuah senyuman hangat dia pertontonkan pada kedua mahasiswa beda generasi tersebut. Tentulah, mereka berbunga-bunga melihat senyuman Reisha.

Reisha mengulangi pertanyaannya. Pakdhe kemudian melanjutkan ceritanya. “Kalau nggak salah, nama panggilannya Udin. Saya nggak tahu nama panjangnya. Katanya anak komunikasi. Dia tertarik sama angkringan Pakdhe, ya sudah, saya biarkan saja. Toh, dia kalau beli pasti borongan.”

“Orangnya brewokan nggak, Dhe? Orangnya tinggi, suaranya berat. Iya nggak, Dhe?”

“Iya, iya! Kenalannya Mbak Reisha?”

“Dia dosen saya, Dhe. Ternyata, angkringannya Pakdhe, toh, yang dimaksud! Aku baru tahu sekarang ini, lo!”

“Ooohhh… dunia emang sempit banget, ya? Ternyata si Udin udah jadi dosen. Apalagi, dosennya Mbak Reisha. Saya kaget, ternyata waktu cepet juga, ya.”

“Iya. Ahahaha…” Selepas tawa, Reisha kemudian membuka laptopnya. Dia mulai menggerak-gerakkan jari-jemarinya, melanjutkan draft artikelnya.

Bisik-bisik terdengar dari sebelah Reisha. Kedua laki-laki itu membicarakan Reisha. Terutama Roni yang terlihat sangat tertarik pada Reisha. “Siapa itu, Rel? Pelanggan tetap juga?”

“Baru belakangan ini aja, sih, dia ke sini. Tapi, dia temen sekelasku pas ospek, jadi aku udah kenal duluan. Apalagi, aku sendiri yang kenalin dia sama angkringannya Pakdhe. Yah, belakangan ini aku coba deketin dia.”

“Kok sampeyan curi start? Berani sama yang lebih tua, kamu?!”

“Apa masalahnya sama Mas Ron?! Aku kenal sama dia karena takdir! Lagian, kalau mau deketin dia juga susah. Orangnya agak dingin, sih.”

“Aku denger kamu ngomong apa, Rel. Asal tahu aja, ya.”

“Aaahh… maaf-maaf, Sha! Aku nggak ada maksud!”

Reisha memang marah, namun dia tak meninggalkan tempatnya, pun mengalihkan pandangannya dari laptopnya. Dia lebih sibuk menulis artikel yang ia buat untuk sebuah portal berita anti-mainstream yang sedang viral di media sosial, terutama kalangan terpelajar. Hanya sekali waktu ia melepaskan jarinya dari keyboard-nya, menerima pesanannnya dari Pakdhe dan mengikat rambutnya.

“Ngghhhh…” desah Reisha. Dia mengetuk-ngetukkan telunjuknya di laptopnya. Berkali-kali, dia melipat kedua lengannya, kemudian menulis lagi, kemudian melipatnya lagi. “Aahhh…” Emosi mulai menyelimuti dirinya.

“Teh gula batu, Mbak Reisha,” kata Pakdhe sambil menyuguhkan teh gula batu.

“Tapi, saya ‘kan nggak pesen, Dhe?”

“Udah terima aja. Nggak apa-apa. Toh, kalau lagi mentok, biasanya yang manis-manis dibutuhi tubuh, Mbak.”

“Makasih, lo, Pakdhe.” Reisha kemudian menyeruput teh gula batunya.

Farel beranjak dari tempat duduknya, kemudian duduk di samping Reisha. Dia penasaran akan apa yang perempuan itu sedang kerjakan. “He… toya.id? Website opini itu? Kamu jadi kontributor?” celetuk Farel. “Tentang apa, nih? Loh, soal kekinian? Aku kira kamu lebih condong soal kesetaraan gender dari penampilanmu, ternyata kamu lebih tertarik sama yang beginian, toh?”

“Baru opini yang sekarang ini aja. Aku baru sadar kalau ikut-ikutan kekinian itu sulit juga. Makanya, aku tulis how orang-orang yang biasa dianggap kampungan coba-coba kekinian. You know, lah, kaum panjat sosial begitu.”

“He…” Farel membaca sedikit tulisannya. Dia kemudian sedikit memberikan opini dan mengajak diskusi dengan Reisha. Diskusi mengalir intens, bahkan beberapa kali mereka saling menyanggah. Roni sebagai pihak yang lebih tua dan berpengalaman soal diskusi mengutarakan pula pandangannya. Alhasil, gerobak Pakdhe jadi sangat ramai.

Pakdhe tertawa kecil melihat diskusi mereka. Tawa itu pula yang memecah diskusi mereka dan seakan meminta ijin untuk ikut dalam diskusi. “Wah, kalau lihat mahasiswa pada ngobrol seru begini, saya malah senang. Soalnya, saya jadi makin tahu,” kata Pakdhe. “Salah satu alasan kenapa saya cari pelanggan mahasiswa ya ini.”

“Maksud Pakdhe?” tanya Farel.

“Mas Farel sama Mbak Reisha wajar kalau nggak tahu, soalnya masih baru aja. Coba tanya Mas Roni. Dulu angkringan masih kebanyakan diisi tukang ojek, tukang parkir, tukang becak. Ya, sekarang masih ada… tapi, udah mulai kegeser anak-anak muda. Biasanya tengah malem gitu baru keluar.

“Dulu, 20 tahun yang lalu, angkringan saya ini isinya cuma keluh-kesah orang-orang kelas bawah. Entah mereka ngomongin anak-isteri, kadang-kadang juga ngomongin harga-harga yang makin naik. Semua-semua yang disalahin pemerintah. Dianggep nggak becus atau apa. Ya, sering kali saya timpali dan juga ikut ngobrol.

“Baru sekitar sepuluh tahun lalu, wartawan, dosen, atau calon-calon pejabat mulai dateng. Ngobrolin tentang politik juga. Saya malah tergelitik buat tambah pengetahuan. Kadang-kadang saya tanya sama mereka.

“Saya memang orangnya suka cari tahu. Sukanya baca koran-koran yang saya jajakan sepulang sekolah. Apalagi rubrik opini atau kolom. Saya banyak-banyakin aja baca. Nanti, saya pilih sendiri mana yang rasanya cocok buat saya. Makanya, kalau saya bertemu sama orang-orang yang ada di balik tulisan itu, saya seneng banget.

“Kadang kala, ada mahasiswa yang dateng, beli nasi kucing. Mereka juga ngobrolin kampusnya. Saya juga jadi lebih banyak tahu, saya seneng. Karena itu juga, saya mulai menyasar mahasiswa jadi pelanggan saya. Makanya, saya pasangi wifi itu.”

“Kenapa mahasiswa, sih, Pakdhe? Nggak kejar para pejabat atau orang dinas aja, Pakdhe?” tanya Reisha.

“Mereka itu setahu saya kotor banget. Setidaknya, itu yang diomongin temen-temen wartawan. Ya, namanya juga politik, ya, Mas, Mbak. Kalau udah ngomongin duit atau proyek aja menggebu-gebu. Begitu ngomongin nasib rakyat kecil seperti saya ini langsung berubah.

“Makanya, saya lebih suka kalau ada mahasiswa yang ngobrol di tempat saya. Rasanya, kalian ini malah jadi wakil rakyat beneran. Sering ‘kan mahasiswa demo buat kami, wong cilik? Kalian kalau ngobrol di sini, debat di sini, pasti juga buat kami. Nggak jarang, lho, mahasiswa sama pejabat hadap-hadapan di sini. Hasilnya, mahasiswa menang. Karena itu, saya lebih suka sama mahasiswa. Apalagi, kalau mereka ngobrol, diskusi di gerobak saya ini.

“Mahasiswa, menurut saya, kalau menyalahkan pemerintah juga sama aja kayak tukang becak. Tapi, mereka setidaknya punya dasar. Saya malah sering denger mereka pada berantem soal data. Salah satunya Mas Roni ini. Udah berapa kali Mas? Lima kali ada, ya? Berantem soal data?”

“Iya. Tujuh kali kalau nggak salah.”

“Nah, itu. Makanya, saya malah suka begitu. Saya kasih wifi juga biar mereka bisa langsung cari data. Biar tambah seru buat diskusinya. Akhirnya, ada yang tetap merajuk, ada juga yang rujuk. Ya, begitulah hubungan manusia.”

Farel dan Reisha mengangguk. Roni memesan lagi teh gula batu. Pakdhe melayani Roni setelah menjawab WhatsApp dari anaknya yang terakhir, Bagong. Hal itu malah membuat penasaran Farel. Dia malah baru tahu kalau Pakdhe punya smartphone yang canggih.

“Loh, Pakdhe punya hape bagus juga? Beli berapa itu?”

“Ini dibeliin sama si Mancung, cuma saya buat WhatsApp sama Facebook. Kadang-kadang saya pakai Twitter buat ikutin akunnya orang-orang pinter. Sisanya, buat cari opini-opini di Google.”

Farel tercengang dengan media sosial yang dimiliki Pakdhe.

“Iya, saya punya. Instagram juga punya. Tapi, biasanya anak saya yang paling kecil, si Bagong, yang ngurus. Biasanya ke sini tiap Sabtu, potretin jajanan saya, terus dia promosikan di Instagram. Saya nggak pernah pegang kalau yang itu. Tapi, lainnya saya manfaatin sebaik-baiknya, sebutuhnya saya, saya cari info sebanyak-banyaknya. Ya, biar tambah-tambah tahu aja, sih.”

Farel menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak percaya ada orang yang menggunakan media sosial dengan sangat bijak. Pakdhe benar-benar “memanfaatkan” media sosial, tidak hanya sekadar menggunakan agar kekinian. Toh, sudah bukan usianya dan jamannya mengikuti tren.

“Iya, tuh, harusnya kayak Pakdhe gini, Rel! Nggak kayak kamu, punya semua media sosial tapi cuma buat eksis-eksisan doang!” ejek Roni.

“Iya, sih. Aku jadi ngerasa sia-sia punya semua media sosial.”

“Itu masih mending, sih. Daripada punya cuma dibuat ribut-ribut, iya ‘kan?” tambah Reisha.

Keempat orang itu kemudian tertawa.

“Ya, kaya’ kata Mbak Reisha tadi. Ikut-ikutan kekinian itu sulit. Apalagi, kalau yang lagi ‘kekinian’ itu ribut-ribut di media sosial. Jujur aja, lho, itu bikin muak, Mas, Mbak. Mending menggunakan sesuatu dengan bijak, iya ‘kan?” tambah Pakdhe. Dia memungkas dengan sebuah perkataan khasnya. “Ya, tapi, ini cuma pandangan dari penjual angkringan. Silakan kalau mau didengerin, dijadiin pelajaran, jadiin masukan. Tapi, kalau nggak juga silakan. Toh, saya cuma apa? Saya aja cuma lulusan SD, kalah jauh sama kalian yang pendidikannya tinggi. Ini cuma omongan orang awam, Mas, Mbak.”

Ketiga mahasiswa itu mengangguk, dan senyum tersimpul di wajah mereka. Setelahnya, mereka melanjutkan obrolan santai mereka untuk beberapa jam sebelum akhirnya Farel dan Roni undur diri. Tersisa Reisha yang beralasan untuk membuat sebuah tulisan baru.

***

Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Sesekali suara ayam berkokok terdengar. Pakdhe mulai mengemasi barang bawaannya, dari lincak (kursi panjang terbuat dari kayu), ceret, hingga segala macamnya. Sudah saatnya dia bergantian dengan tetangganya yang menjual gudeg.

Dia kemudian membangunkan beberapa pelanggan yang tertidur di meja, mengatakan kalau sudah waktunya tutup. Beberapa juga diminta segera undur diri. Sudah saatnya untuk menutup bisnis di pagi itu. Modemnya pun ia matikan.

Pakdhe mendorong gerobaknya kembali ke rumahnya, di kampung belakang masjid. Dia meninggalkan sebuah bangunan besar, seluas 135 m2, setinggi 7 meter dengan dua lantai. Bangunan itu? Di sanalah tempatnya berjualan, di gedung yang dibangun oleh ketiga anaknya. Bentuknya seperti dua peti kemas yang ditumpuk, namun tidak menggunakan besi sebagai temboknya. Singkatnya, tempat yang sangat nyaman untuk digunakan berselancar di internet selama yang dimau.

Melihat bangunan tersebut, dan inovasi yang telah ia lakukan, sudah seharusnya dia berhenti menjadi penjual angkringan, atau setidaknya memasrahkannya pada orang lain, kemudian mengembangkannya menjadi kafe modern seperti kata Reisha di akhir kunjungannya. “Bukannya Pakdhe tinggal nganggur aja di rumah? Nonton televisi atau YouTube di rumah. Lagian, di umur segini, kalau Pakdhe kebanyakan di luar ‘kan juga nggak bagus bagi tubuh Pakdhe?”

Pakdhe tertawa kecil. “Memang, ketiga anak Pakdhe pinter-pinter semua, kaya-kaya semua. Tapi, Pakdhe nggak mau repotin mereka. Toh, kalau saya nggak jual angkringan, cuma nganggur di rumah, ongkang-ongkang sikil, saya nggak bakal ketemu mahasiswa-mahasiswa pinter kaya Mbak Reisha, dong? Saya nggak bakal dapat ilmu yang bermanfaat, dong?”

Reisha tertawa kecil. “Pakdhe, tunggu artikel saya di toya,” katanya. “Tentang Pakdhe, kok!”

“Kabari saja kalau sudah jadi, Mbak Reisha,” jawab Pakdhe santai.

***

5 dukungan telah dikumpulkan

Comments