Sepenggal Kisah Sepatu Roda

3 months ago
Sumber: Carnaisy Variedo
Carnaisy Variedo

by: Carnaisy Variedo

Pagi yang indah di kediaman Ling-ling. Gadis belia berusia 17 tahun itu masih tenggelam dalam alam mimpi. Sedang asik-asiknya ia bermimpi, tiba-tiba ia harus terbangun dari tidur nyenyaknya. Teriakan sang mama yang memanggilnya dari dapur membuat gadis itu sontak membuka mata. Secara otomatis Ling-ling langsung duduk di tempat tidurnya dan mengucek kedua matanya, seakan hal itu membantunya untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih merayunya untuk kembali berbaring.

“Ling-ling, bangun! Nanti terlambat sekolah, kamu dihukum!”

Mendengar teriakan sang mama, Ling-ling tertawa kecil dan turun dari tempat tidurnya. Segera ia mandi dan memakai seragam. Wajahnya yang putih diberinya bedak tipis dan rambutnya yang panjang dibiarkannya tergerai, menutupi punggungnya. Ling-ling mengambil tasnya, memasukkan buku dan peralatan menulis yang telah dipersiapkannya semalam. Tak lupa pula ia memasukkan dompet, yang lumayan tebal, kedalamnya. Ya, Ling-ling memang anak orang berada. Ibunya memiliki salon yang cukup terkenal.

“Ya, ma. Aku udah siap kok,” ujarnya sambil keluar dari kamarnya yang bernuansa pink dan penuh dengan boneka.

“Ini, sarapan dulu. Mama sudah masak nasi goreng kesukaan kamu,” jawab mama lembut.

Ling-ling sarapan dengan tenang. Ia menikmati setiap cinta yang tertuang dalam nasi goreng buatan mamanya itu. Mamanya juga membuatkan susu putih sebagai teman sarapannya. Agak aneh, memakan nasi goreng sambil meminum susu. Namun makanan ini telah menjadi menu sarapan favoritnya.

Selesai makan, Ling-ling langsung membawa piringnya ke wastafel. Gadis itu langsung mencuci peralatan makan yang baru saja ia pakai. Selesai mencucinya, ia langsung menyusun piring dan gelas ke rak piring.

Setelah mengeringkan daerah sekitar wastafel, ia mengeringkan kedua tangannya dengan handuk kecil yang digantung di dinding. Kemudian Ling-ling berjalan ke arah rak sepatu. Ia mengambil dan memakai kaus kaki dan sepatunya. Sesudah itu, Ling-ling berjalan ke arah mamanya yang masih duduk di meja makan sambil menikmati sarapan. Ia mencium tangan dan pipi mamanya.

“Aku berangkat ya, ma.”

“Ya. Hati-hati ya, nak,” balas mama sambil membelai kepala Ling-ling.

Ling-ling mengambil kunci motor lalu pergi ke sekolah. Sampai di sekolah, ia langsung bertemu dengan 2 orang sahabatnya. Mereka berjalan menuju kelas, siap mengikuti pelajaran seharian ini.

Sepulang dari sekolah, Ling-ling langsung mengganti bajunya. Mama dan papanya sedang bekerja, sehingga rumah itu kosong melompong. Mungkin hanya perabotan rumah dan foto-foto yang bergantungan di dinding yang menandakan bahwa rumah itu masih memiliki penghuni.

Ia bosan. Kedua orang tuanya baru pulang sekitar pukul 10 malam nanti. Biasanya ia akan tidur siang. Namun kali ini ia memutuskan untuk mengambil koleksi komiknya dan menyerakkannya di tempat tidur.

Ketika ia sedang asik membaca komik, tiba-tiba IPhone-nya berbunyi. Awalnya ia hanya membiarkan saja ponselnya bordering. Ia tidak berniat untuk mengecek ponsel itu karena perhatiannya masih tertuju dengan alur cerita komik yang sangat menarik.

Namun lama kelamaan dering ponsel itu mulai mengganggunya. Sehingga akhirnya ia bergerak dari posisinya di tempat tidur dan melangkah menuju meja belajarnya. Ling-ling mengambil lalu melihat layar ponselnya. Ternyata ada telepon masuk dari temannya, Teresa.

“Ada apa, Teresa?” tanya Ling-ling malas. Maklumlah, ia belum makan siang.

“Ini.. Nanti sore mau gak ke lapangan?” Teresa terdengar sangat antusias.

“Mau ngapain?” Ling-ling jadi penasaran.

“Main sepatu roda. Kemarin aku main juga sama Monica. Seru loh! Apalagi kamu ‘kan pandai main ice skating, pasti lebih mudah!” ajak Teresa.

“Jam berapa?” tanya Ling-ling. Ia jadi tertarik dengan ajakan Teresa.

“Nanti sore, jam 4! Aku tunggu sama Monica nanti, oke?”

“Sip! Jangan ngaret ya!”

“Tenang, urusan gampang itu!”

Kemudian sambungan telepon terputus. Ia berlari ke kamar mandi kemudian membasuh dirinya. Setelah itu Ling-ling bergegas makan dan merapikan kamarnya. Tapi ia malah membiarkan tempat tidurnya. Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya.

Ia anak semata wayang. Jadi dia tidak punya adik atau kakak untuk diajak bermain. Serta tidak akan ada saudara yang mengomel padanya walaupun kamarnya terlihat seperti kapal pecah. Dan toh kedua orang tuanya pulang larut malam. Jadi ia masih bisa merapikan kamarnya sebelum papa dan mamanya pulang.

Ling-ling merasa kesepian di rumah. Memang enak menjadi anak tunggal. Ia mendapatkan curahan kasih sayang yang melimpah dari kedua orang tuanya. Namun ia kerap kali merasa bosan jika tidak ada kegiatan ekstra kulikuler atau tugas kelompok yang menantinya. Maka dari itu, jika sahabatnya mengajaknya keluar, ia pasti akan menjawab iya.

Sore itu ia menunggu temannya di lapangan seperti yang telah mereka rencanakan tadi siang. Ia memakai baju berwarna pink muda yang dipadukan dengan rok hitam selutut. Ia terlihat sangat manis sore itu. Tidak heran banyak pria sedari tadi memandangi dan menggodanya.

Sembari menunggu kedua sahabatnya, ia membeli Cappucino Cincau atau yang sering dikenal dengan capcin. Sambil minum, ia duduk dimotor dan mendengarkan musik melalui earphone putih miliknya. Ling-ling melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 3.55 sore.

Ia sedikit kesal. Ia khawatir sahabatnya akan terlambat dari waktu pertemuan mereka. Namun semua itu sirna ketika ia mendengar deru motor yang familiar. Ia mengalihkan pandangannya dan melihat kedua sahabatnya datang. Mereka berboncengan. Monica mengenakan jeans biru selutut dengan baju berwarna biru langit. Sedangkan Teresa mengenakan jeans panjang keabuan dengan kemeja kuning.

“Udah lama nunggu?” tanya Monica pada Ling-ling.

“Belum kok. Baru 10 menit aja,” jawab Ling-ling sambil melempar tempat capcin ke tong sampah di dekatnya.

“Yee, makanya! Jangan cepat banget datangnya. Oh iya, jam segini ‘kan masih agak panas. Kita jalan dulu, yuk, ke mall di depan! Nanti jam 4.50 baru kita ke lapangan lagi. Soalnya jam segini ibuk itu belum datang,” ujar Teresa panjang lebar.

“Ibuk itu? Siapa?”

“Itu loh… Ibuk yang menyewakan sepatu roda,” jelas Monica.

“Oh, ya udah..”

Akhirnya, mereka pergi ke mall. Mereka berkeliling, melihat-lihat dan membeli benda yang mereka anggap menarik. Ketiga sahabat itu tidak sadar bahwa jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ketika mereka menyadarinya, mereka segera pergi ke lapangan dan mendapati lapangan itu sudah dipenuhi oleh orang yang sedang bermain. Ling-ling, Monica dan Teresa segera pergi ke tempat ibuk yang menyewakan sepatu roda, atau kita sebut saja Buk Nina.

“Buuuk!”

“Eh, iya nak!” jawab buk Nina sambil tersenyum.

“Buk, kami sewa sepatu rodanya 3 ya!” ujar Teresa sumringah.

“Oke. Sepatunya diletak di samping ya. Supaya gak digilas motor-motoran sama mobil-mobilan.”

Mereka, tanpa berkomentar apapun, segera melakukan apa yang disuruh Buk Nina. Ketiga gadis belia itu memakai kaus kaki dan sepatu roda yang diberikan oleh Buk Nina. Kemudian mereka mulai bermain.

Sudah 2 bulan berlalu semenjak hari itu. Ling-ling, Teresa dan Monica ternyata telah kecanduan bermain sepatu roda. Hampir setiap sore, ketika mereka tidak memiliki tugas, mereka datang dan menyewa sepatu roda di tempat Buk Nina.

Namun suatu hari, mereka datang agak kesorean. Mereka datang pukul 6.30 sore. Ling-ling sempat khawatir kalau mereka tidak akan kebagian sepatu roda untuk disewa. Namun nyatanya, hari itu lumayan sepi. Dan hari itu pula, Ling-ling bertemu orang yang membuatnya jatuh hati seketika.

“Buk, itu siapa?” tanya Ling-ling.

Mata gadis itu sibuk mengikuti gerak-gerik sang pria. Pria itu bermain dengan santainya. Seakan-akan anginlah yang menggerakkan tubuhnya yang terbilang ideal. Wajahnya yang manis dan tertimpa cahaya matahari terbenam juga membuat Ling-ling tak bisa mengalihkan pandangannya dari sang pria. Wajahnya yang penuh dengan peluh tidak membuatnya terlihat jelek. Bahkan menurut pandangan seorang Ling-ling, pria itu terlihat lebih tampan.

“Oh, itu.. Dia namanya Dafa, teman anak ibuk. Kenapa? Kamu suka ya?”

“Hee? Hehehe.. Ibuk tahu aja,” jawab Ling-ling malu.

“Dafa! Sini dulu!” panggil Buk Nina.

“Apa, buk?” jawab Dafa bingung.

Dafa segera memenuhi panggilan Buk Nina. Ia langsung berjalan menuju tempat Buk Nina duduk. Senyuman kecil ia lemparkan ke arah wanita yang telah menginjak usia 40-an itu.

“Ini. Dia mau minta pin BB kamu, ada gak?” tanya Buk Nina sembari tersenyum ke arah Dafa.

Ling-ling memerah. Ia tidak pernah meminta hal itu kepada Buk Nina. Ia bermaksud untuk memintanya sendiri nanti. Namun, menurutnya, tidak ada salahnya jika Buk Nina yang meminta. Lagipula Dafa adalah teman anak Buk Nina. Sehingga kemungkinan Dafa untuk memberikan kontak personalnya akan lebih tinggi.

“Gak ada, buk,” jawab Dafa polos.

“Facebook?”

“Ga ada juga, buk,” jawab Dafa berbohong.

“Nomor hape?”

“Gak hapal, buk,” jawab Dafa, berbohong lagi.

“Hah, kamu itu ya…” kata Buk Nina sambil tersenyum.

Buk Nina tahu bahwa Dafa berbohong. Buk Nina sudah mengenal Dafa lebih kurang 6 bulan. Ditambah lagi anaknya adalah teman Dafa. Tentu lebih memudahkan Buk Nina untuk mengetahui apakah Dafa berbohong atau tidak.

Buk Nina memiliki nomor ponsel Dafa. Ia meminta nomor itu pada Dafa sendiri, untuk sesekali bertanya pada pemuda itu tentang perilaku anaknya di sekolah. Dan Dafa memberikan nomor ponselnya dengan santai. Tidak mungkin Dafa melupakan nomor ponsel yang terdiri dari dua belas angka saja.

Sejujurnya Buk Nina juga tahu bahwa Dafa sama sekali tidak tertarik dengan tipe wanita seperti Ling-ling. Jika mengambil sudut pandang pria itu, Dafa sepertinya tidak suka wanita yang dengan mudahnya menyukai orang yang belum dikenalnya bahkan sampai meminta kontak personalnya. Dan Dafa juga sepertinya tidak suka melihat Ling-ling dan teman-temannya. Mungkin Dafa menganggap mereka bertingkah sangat centil.

Rasa tidak suka terlihat jelas pada raut wajah Dafa dan nada yang digunakan pria itu tiap kali Ling-ling menyapanya. Namun sayangnya, Ling-ling tidak menangkap isyarat tidak langsung dari Dafa dan tetap saja mengejarnya. Dafa gerah, tentu. Dengan keberadaan Ling-ling yang kerap kali mencoba mendekatinya, Dafa perlahan-lahan berhenti bermain sepatu roda.

Ling-ling tidak tahu tentang hal ini. Tentu saja, Ling-ling tidak memiliki kontak personal Dafa. Untuk menghubungi pria yang telah menangkap hatinya saja ia tidak bisa. Apalagi untuk bertanya hal-hal lain pada Dafa.

Suatu hari, Ling-ling kembali lagi ke tempat Buk Nina. Ia menyewa sepatu roda, seperti biasanya. Namun setelah ia tiga kali mengitari lapangan, nampak raut wajah yang terkesan gelisah. Matanya melihat ke segala arah. Seakan mencari suatu sosok yang sudah lama tidak ia lihat. Saat ia menyerah, akhirnya ia pergi dan bertanya pada Buk Nina.

“Buk, Dafa mana sih? Kok gak nampak lagi?”

“Oh.. Dia baru masuk kuliah. Jadinya sibuk,” ujar Buk Nina santai.

“Oh…” jawab Ling-ling kecewa.

“Kenapa, Ling-ling?”

“Gak ada, buk,” jawab Ling-ling menyembunyikan rasa kecewanya.

Minggu-minggu berikutnya, Ling-ling masih saja mencari sosok Dafa. Ia bahkan datang setiap hari dan bermain selama beberapa jam, berharap agar ia dapat menemui Dafa lagi. Namun naas, Dafa tak pernah menunjukkan batang hidungnya lagi di lapangan tempat pertama kali Ling-ling melihatnya.

Setelah sekian lama tidak melihat sosok Dafa, Ling-ling tidak lagi mencari-cari pria itu. Lama-kelamaan, Ling-ling mulai melupakan rasa sesaatnya terhadap Dafa. Sebab ia sudah jarang melihat wajah pria itu.

Namun lagi, Ling-ling tetap saja Ling-ling. Setelah ia melupakan Dafa, dengan mudahnya ia suka dengan seorang pemuda yang sedang KKN.

Sore itu, sekitar pukul 5.38 sore. Ling-ling kembali pergi ke lapangan. Kali ini tanpa ditemani Monica maupun Teresa. Kedua sahabatnya itu memiliki adik yang harus mereka jaga, tidak seperti Ling-ling. Sehingga hanya Ling-ling yang bisa dengan gampangnya jalan-jalan keluar rumah.

Ketika Ling-ling sampai di tempat Buk Nina biasa menyewakan sepatu roda, matanya menangkap sesosok pria tampan. Pria tinggi itu berkulit putih bersih. Dengan rambut yang lumayan lebat seperti anggota boyband Korea. Ditambah dengan mata yang besar, membuat Ling-ling langsung terpikat melihat pria itu.

“Eh, buk. Itu siapa ya?” tanya Ling-ling penasaran.

“Oh, anak KKN dari Pekanbaru. Namanya Rizky. Kenapa emang?”

“Gak ada, buk. Suka aja,” jawab Ling-ling sambil tersenyum.

“Oh gitu,” ujar Buk Nina sekenanya sambil tersenyum.

Sebenarnya, Buk Nina juga agak aneh melihat Ling-ling yang sangat mudah suka pada pria yang baru dilihatnya. Ling-ling tidak berusaha mengenal bagaimana kepribadian pria itu sebelum mendekatinya. Tapi, mau apa lagi. Ya, manusia tidak semudah itu berubah.

Dan yang membuat Buk Nina sering geleng kepala adalah kelakukan Ling-ling tiap kali ada pria yang menarik perhatiannya. Pasti Ling-ling akan mentraktir dan membelikan ini itu pada pria yang ia suka. Ya, setelah hampir 3 bulan Ling-ling berlangganan di tempatnya, Buk Nina tahu bahwa Ling-ling berasal dari keluarga yang berkecukupan. Namun walaupun begitu, tidak mungkin Ling-ling memiliki uang yang tidak akan pernah habis.

Tiga minggu kemudian, Ling-ling kembali ke lapangan. Ia tidak bermain sepatu roda selama tiga minggu dikarenakan tugasnya yang menumpuk dan beberapa ulangan harian yang diberikan oleh gurunya. Sehingga ia harus fokus belajar agar nilainya tidak jatuh.

Setelah memasang sepatu roda dan berkeliling lapangan, ia berhenti dan membeli minuman dari pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar lapangan. Tak lupa ia juga membeli jajanan yang dijajakan di sana. Ada dadar gulung, sosis goreng, bakso goreng dan lain sebagainya.

Setelah puas membeli jajanan, ia kembali ke tempat Buk Nina. Ia mendudukkan dirinya di kursi sembari memandangi lapangan yang bermandikan cahaya keorenan. Matanya mencari sekitar dengan tatapan penasaran, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada Buk Nina.

“Buk, Rizky ke mana? Kok gak nampak?” tanya Ling-ling.

“Oh, dia balik ke Pekanbaru. Mau nyusun skripsi, katanya.”

“Oh, gitu…” jawab Ling-ling dengan nada kecewa.

Setelah mendengar jawaban yang dilontarkan Buk Nina, Ling-ling tidak langsung pulang. Ia malah bermain dulu sekitar 25 menit sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti bermain hari ini.

Setelah mengucapkan terima kasih dan membayar uang sewa pada Buk Nina, Ling-ling meninggalkan lapangan dengan langkah gontai. Buk Nina hanya bisa memandangi gadis itu dari belakang. Ia berharap bahwa anaknya tidak akan seperti Ling-ling yang sangat mudah jatuh hati pada pria yang baru ia lihat.

Setelah dua kali dikecewakan, Ling-ling jadi jarang pergi ke lapangan. Selain karena uang bulanannya yang mulai menipis, ia juga takut pada kenyataan bahwa ia sangat mudah suka pada pria yang baru saja ditemuinya. Hanya beberapa kali lagi Ling-ling, Teresa, dan Monica datang untuk bermain di lapangan. Sampai pada suatu hari, hanya Teresa dan Monica yang datang.

“Eh, Ling-ling mana?” tanya Buk Nina penasaran.

“Dia udah beli sepatu roda sendiri, buk. Jadi dia gak main ke lapangan lagi,” jawab Teresa sambil memasang sepatu roda.

“Oh gitu,” jawab Buk Nina sekenanya.

Buk Nina mungkin bisa mengerti kenapa Ling-ling lebih memilih untuk membeli sepatu roda sendiri. Menurutnya, itu karena Ling-ling tidak ingin lagi jatuh ke kebiasaan buruknya tadi. Tapi, Ling-ling tetaplah Ling-ling. Tidak semudah itu ia merubah dirinya sendiri. Namun Buk Nina berharap agar Ling-ling dapat belajar dari sepenggal kisah yang dimilikinya ini agar ia dapat lebih baik lagi.

Biarlah kisah cinta Ling-ling tetap tersimpan sebagai sepenggal kisah sepatu roda. Karena semua bermula dan berakhir dengan sepatu roda ini.

6 dukungan telah dikumpulkan

Comments