Sibling Rivalry

3 months ago
(Sumber: Rakai Asaju)
Rakai Asaju

by: Rakai Asaju

“Ya, aku sudah mulai dive-in. Terkoneksi dengan VR… virtual reality.

Perlahan, kegelapan yang dilihat Shade berubah, membentuk proyeksi rumit tiga dimensi serba hijau. Lalu dalam beberapa detik, proyeksi itu mulai membentuk menjadi sebuah koridor.

“Apalagi yang kaulihat?” Dr. Swann menghubunginya dari luar dunia VR tempat Shade berada sekarang.

“Koridor. Mirip interior stasiun luar angkasa militer,” Shade menjawab.

Koridor yang membentang di depan Shade di ruang virtual itu berwarna abu-abu terang, dengan lampu-lampu neon berwarna putih yang membentuk garis lurus di sepanjang langit-langitnya. Koridor semacam itu umum ditemui di stasiun-stasiun luar angkasa yang sekaligus berfungsi sebagai pangkalan militer.

“Wajar. Informasi terakhir dalam DNA-nya membawamu ke tempat kerjanya.” Dr. Swann membalas.

Neural synchonization 98.9%, set. Dia siap,” salah satu staf Dr. Swann yang menghadap monitor yang menunjukkan kondisi vital tubuh Shade, melaporkan.

Di depan Dr. Swann dan para stafnya, berdiri tegak sebuah silinder raksasa berdinding kaca. Silinder itu mengurung seorang pemuda berpakaian ketat hitam, yang duduk di atas kursi khusus di tengah-tengah silinder, yang mereka sebut dengan VR throne−singgasana VR. Di kepala Shade, dipasang sebuah helm khusus, yang tersambung dengan jalinan-jalinan kabel rumit di berbagai bagian tubuhnya dan kursi khusus itu.

Throne adalah sebutan untuk mesin virtual reality (VR) tercanggih yang dimiliki planet Gaiea saat ini. Dr. Swann, sang ahli VR dan para stafnya menghadap layar-layar hologram dan monitor yang memantau kondisi tubuh dan dunia VR, realitas virtual yang dimasuki Shade saat ini.

Shade adalah kadet militer tercemerlang di Gaiea, ialah yang tengah ‘menyelam’ ke realitas virtual lewat throne. Ia terlihat menggerakkan tangannya yang tersambung juga dengan sarung tangan dengan jalinan kabel yang rumit. Di dunia VR tempat ia berada saat ini, ia sedang meraba pinggangnya, lokasi dimana kedua senjata andalannya, tongkat collapsible baton hitam dan putih, biasa disampirkan dalam keadaan pendek. Di pinggangnya juga ada pistol model kuno, satu butir granat, dan sebilah pisau. Sisanya, pakaiannya sesuai kesehariannya yang biasa, rompi anti peluru, kaos hitam berkerah tinggi dan celana militer warna gurun.

Shade menatap koridor sepi di depannya. Ia sesungguhnya tak berada di koridor itu. Apa yang ia lihat, dengar dan rasakan, semua itu karena sinkronisasi digital VR throne dengan sistem syarafnya. Latihan militer dengan VR adalah sesuatu yang biasa. Tapi,program VR yang harus dijalaninya kali ini berbeda.

Ini bukanlah latihan. Ini sebuah misi.

“Baiklah Shade, kuulangi lagi. Program VR code 006 ini, adalah hasil ekstrak ingatan genetik mereka yang sudah meninggal, yang diubah ke dalam sebuah realitas virtual. Tujuannya untuk mendapatkan berbagai informasi dari orang yang sudan meninggal. Dan dalam trial ini, kami menggunakan gen Layth Mazin.”

Jantung Shade berdegup mendengar nama itu. Layth Mazin.

Legenda di Angkatan Udara Gaiea, komandan pasukan udara terhandal, ahli literatur-literatur perang, penguasa aliran bela diri kuno yang langka, dan salah satu jenderal kebanggaan planet Gaiea.

Tapi ia sudah meninggal. Sepuluh tahun yang lalu.

“Permasalahan dengan ekstrak data dari VR genetika Layth adalah program ini tak bisa dikontrol. Dua orang yang mencoba masuk ke program VR ini sebelum kau mengalami luka parah. Program ini sepertinya—dalam mekanisme yang belum bisa kami jelaskan—melawan. Mengajak duel siapapu yang masuk ke dalam realitas virtual DNA Layth.”

Shade mengangguk, mengingat briefing yang dilakukan kemarin sore.

Tampaknya, ekstrak ingatan dari sisa-sisa genetik Layth yang dikodekan sebuah program VR, menolak untuk memberikan data-data. Alih-alih, program itu menantang siapapun yang masuk ke dalam realitas virtual VGI Layth. Dua orang yang telah masuk, telah bersaksi kalau koridor itu−yang kini dimasuki Shade, dipenuhi oleh prajurit-prajurit kuno bersenjata lengkap, yang langsung berniat membunuh siapapun yang masuk.

“Kami tidak tahu apa yang akan kau hadapi di ruangan virtual itu, Shade. Kami hanya bisa memonitor apa yang kau alami di sana, kami juga tidak bisa berkomunikasi denganmu. Kaulah yang kami andalkan untuk menggali informasi dari sisa DNA Layth.”

Shade mengangguk.

“Jadi, sejauhmana aku bisa menggali informasi, tergantung pada seberapa lama aku bertahan lama di dalam program VR ini,” Shade mencoba menyimpulkan.

“Tepat sekali. Terutama karena simulasi ini beresiko tinggi. Program VR ini langsung terhubung dengan sistem-sistem syarafmu. Kau terluka di sana, kau juga terluka di dunia nyata. Tentu saja, kami akan terus memantau dan berusaha menyelamatkanmu dalam kondisi darurat.”

“Siap, aku mengerti.” Jawab Shade. Ia mulai mengamati lamat-lamat permukaan koridor di depannya. “Bukankah karena itu kalian memilihku menyelam ke dalam VR Layth?”

Dr. Swann terkekeh. “Karena hanya kau yang memiliki kemampuan mendekati almarhum Layth. Maka kau orang yang tepat untuk masuk ke dalam VR berisi ingatan Layth.”

Shade mendecih dalam hati.

Karena kalian telah mendidikku sedemikian rupa untuk menggantikannya. Untuk menjadikanku seperti Layth.

Namun disimpannya rapat-rapat pikiran itu dalam hati. Gantinya, ia merespon. “Aku siap.”

Neural synchronization… 99.98%. All set. VR code 006 Layth Mazin. Dive-in, proceed. Dalam hitungan ketiga, kau terlepas dari kami. Satu, dua…”

Shade hanya pernah mendengar kebesaran nama Layth. Ia tak pernah bertemu dengannya. Ia hanya menjumpai Layth dalam arsip-arsip tentangnya. Seseorang yang terdengar terlalu kuat dan sempurna.

Ketika mereka ingin ‘membangkitkan Layth’ dari kubur dengan mengekstrak informasi dari DNA rambut Layth, lalu mengubahnya menjadi sebuah program realitas virtual, roh Layth sepertinya tak rela. Program itu melukai siapapun yang masuk ke dalam VR hasil ekstraksi DNA-nya. Hingga Shade harus ditugaskan untuk menjajal program VGI Layth.

Kakak yang tak pernah aku temui. Kakak yang lima belas tahun lebih tua. Aku ingin tahu, bagaimana jadinya kalau kita saling bertemu. Daiyu, istrimu, masih sering membicarakanmu…

Hanya sedikit orang yang tahu kalau mereka berdua, Shade dan Layth, sebenarnya kakak beradik lain ibu.

“Tiga.”

Shade mulai melangkah menyusuri koridor itu. Tak ada pintu atau jendela, hanya dinding koridor panjang yang hening sejauh mata memandang.

Mengapa begitu sepi? Apakah Layth orang yang selalu hening dengan pikirannya sendiri…?

Shade memperlambat langkah, ketika sinar lampu di koridor itu tiba-tiba meredup.

“Kalian seharusnya membiarkanku tenang dalam kuburku. Bukankah aku sudah berkali-kali bilang pada para ilmuwan Gaiea yang lain, ada batas logika yang tak boleh dilangkahi.” Tiba-tiba pengeras suara yang terletak di pinggiran langit-langit koridor berbunyi.

Suara Layth. Shade yakin. Layth membuka komunikasi dengannya.

“Kau mau-mau saja menjalani proyek ujicoba ini, Shade. Seperti anjing militer yang patuh pada perintah.”

Shade pernah mendengar almarhum Layth Mazin terkenal sarkastik. Ternyata memang benar.

“Aku menjalankan sebuah misi, Layth.” Shade membalas suara itu.

“Kau menerjemahkan literatur-literatur kuno manuskrip militer bumi lama, dan mempelajari ilmu beladiri yang belum sempat diwariskan. Kau mati sebelum semua informasi itu terturunkan. Manuskrip militermu yang berharga itu belum selesai. Dan semasa hidup, kau terlalu sibuk untuk mengambil murid.” Panjang lebar, Shade mengutarakan alasan di balik misinya.

“Aku disini untuk merekam sisa kepingan-kepingan informasi itu darimu.”

Sekonyong-konyong terdengar suara tawa meremehkan.

“Jangan berbohong, Shade. Apakah karena alasan itu kau di sini?” Tuduh Layth.

Hati Shade mencelos. Program VGI Layth seolah bisa membaca pikiranku.

“Sebenarnya lebih karena aku penasaran.” Shade menjawab jujur. “Aku penasaran dengan orang-orang yang terus membicarakan kehebatanmu, bahkan setelah kau wafat.”

Shade mendengar Layth tertawa lagi.

“Kehebatanku masih menghantui kalian, rupanya?”

Shade mendecih. “Mungkin.”

Segalanya berubah digital, dan kalian mencoba mengangkangi kematian dengan mengkodekan ingatan genetikku dengan teknologi. Apakah sebegitu ambisiusnya kalian menginginkan literatur yang belum selesai itu, juga ilmu rahasia tentang pertarungan itu?” Layth nampaknya telah melempar kail untuk sebuah perdebatan.

“Ilmu pengetahuan harus dicari,” Shade mencoba melayani perdebatan Layth.

“Ilmu pengetahuan akan berbahaya tanpa kebijaksanaan. Aku ragu apakah kalian siap memilikinya.” Layth menjawab berberengan dengan cahaya lampu koridor berubah meredup.

Kali ini Shade tak mampu membalas.

Pertanyaan Layth bukan hanya ditujukan kepadanya. Tapi juga kepada Dr. Swann, pihak militer, pemerintah planet Gaiea yang mengirim Shade. Mereka yang memungkinkan proyek VR ekstrak ingatan genetic ini berjalan. Merekalah yang menginginkan pengetahuan yang dimiliki Layth, yang belum sempat terwariskan. Untuk motif yang Shade sendiri tak terlalu memahaminya.

Shade menghentikan langkahnya. Menatap ke langit-langit koridor, membayangkan seolah-olah Layth berada di sana.

“Biarkan aku mencoba. Aku bisa belajar.”

Hening yang mengambang di koridor itu.

“Belajar padaku, Shade? Kuberitahu satu hal,” Lampu koridor tiba-tiba meredup berubah warna. Bulu kuduk Shade berdiri, memberi tanda akan adanya bahaya. Suara derap langkah kaki terdengar dari arah berlawanan.

Sepasukan tentara berbaju zirah kuno memenuhi koridor, menyerbu dengan senjata masing-masing. Beberapa mengenakan zirah samurai, beberapa berpakaian seperti zaman dinasti Ming yang banyak disebut-sebut dalam dokumen bumi lama. Mereka mengacungkan pedang dan tombak, meraungkan teriakan-teriakan perang.

Sudah dimulai…

Shade mengambil granat di pahanya dan melemparkannya tepat ke tengah-tengah kerumunan yang mengejar, sekaligus ia berlari ke arah berlawanan sambil menjatuhkan diri, melindungi kepalanya.

Suara ledakan menggetarkan koridor.

Lalu sunyi.

Shade bangkit pelan-pelan dari tiarapnya. Kemerisik retakan reruntuhan langit-langit, terdengar seperti kerikil berjatuhan. Beberapa mayat bergeletakan di koridor.

“Jiwaku selalu penuh dengan pertempuran. Apakah kau bisa bertahan dalam kemelut semacam ini, Shade?!” Layth terdengar berteriak liar di pengeras suara, seperti orang gila.

Suara-suara teriakan perang kembali menggema, diikuti gerombolan samurai berpakaian ronin berlari menyongsong ke arah Shade, menembus kepulan asap dan mayat, memburunya.

Shade lebih otomatis dengan tongkatnya daripada pistolnya. Ia mengeluarkan tongkatnya dengan tangan kanannya, yang langsung memanjang. Tebasan pedang ganas si ronin pertaa ditangkis dengan tongkat, diikuti satu putaran tubuh, Shade menangkap tangan si ronin dan melemparnya ke arah gerombolan teman-temannyayang menyerbu. Kerumunan terpecah.

Shade melangkah maju dan satu tongkatnya menyodok dagu samurai kedua, kakinya bergeser lincah dan menebas kaki ronin ketiga yang menyerangnya dari samping. Ia berkelit menghindari ronin keempat yang menusuk lurus dengan pedang, menggebuk lengannya hingga pedang panjangnya terjatuh ke tanah. Shade berlutut menghidar serangan berikutnya, sekaligus mengambil pedang lawannya yang terjatuh itu dengan tangan kiri. Lalu bangkit cepat, sambil menyayat.

Dua ronin tumbang dengan luka lebar diagonal di tubuh mereka. Shade tak mengambil jeda. Ia kembali mengayun bergantian antara tongkat dan pedangnya, menyelesaikan beberapa lawannya yang masih berdiri.

Ketika orang terakhir berhasil ia kalahkan, Shade berteriak menantan“Apakah kau mengujiku, Layth?!” Ia melangkah siaga dengan tongkat pendek di tangan kanan, pedang katana panjang di tangan kiri. Cipratan darah mengotori rompinya.

“Kau bilang penasaran denganku, idiot.” Balas Layth di pengeras suara. “Inilah aku, yang selalu bergulat dengan diriku sendiri!”

Suara derap kaki kembali terdengar ramai menyambut Shade.

“Kau tak pernah hidup damai, kalau begitu?” Shade kembali menyiagakan badan untuk gelombang serangan berikutnya.

Lesatan pisau-pisau beterbangan menuju arahnya. Shade menangkis melindungi diri dengan pedang dan baton. Dua prajurit berpakaian Tiongkok lama yang berada di depannya, melemparkan bandul berpisau yang membelit pedang dan tongkatnya.

Shade melepaskan pegangan pedang, itu bukan senjataku, lagi pula. Tapi jangan main-main dengan tongkatku… tangan kirinya mencabut belati di belakang pinggang, melemparkannya. Tepat menancap leher si prajurit.

Shade menjejakkan kakinya ke rantai yang membelit tongkatnya, sekaligus tangan kirinya mengeluarkan tongkat keduanya yang berwarna putih. Menggebuk dengan cepat.

Lima-enam kali pukulan dalam sedetik. Sendi-sendi, titik-titik vital… suara logam menggebuk daging, derak tulang yang patah dan jeritan terdengar di sepanjang koridor. Darah-darah yang muncrat merona sempurna dalam redup nyala oranye lampu neon di langit-langit.

Shade menendang dagu prajurit terakhir yang menghalanginya, dengan kekuatan kaki yag bisa mematahkan tulang. Satu lawan banyak tak pernah membuatnya takut. Tak salah kalau orang-orang membandingkannya dengan almarhum Layth.

“Tidak pernah sedetikpun, Shade. Musuh yang terbesar adalah diri kita sendiri.” Jawab Layth.

Musuh terbesar adalah diri sendiri…?

Shade baru mengambil nafas sejenak sambil mencoba memahami kalimat Layth, ketika sebutir peluru menembus lengan kanannya.

Tubuh aslinya di dunia nyata ikut berdarah, desar. Membuat panik sebagian staf Dr. Swann. Mengetahui kalau ancaman kematian mulai nyata membayangi Shade yang tengah menyelam dalam dunia VR Layth.

Shade menjatuhkan tubuhnya ke belakang, menyadari kalau koridor ini tak memiliki dinding, pintu atau apapun yang bisa dijadikan perlindungan dari serangan senjata api. Terpaksa ia merayap menjauh. Sisi kiri dan kanannya dihujani peluru, pecahan-pecahan kecil lantai dan dinding koridor beterbangan liar tak ubahnya di tengah medan perang. Dari tembakannya yang berirama, sepertinya sebuah senapan mesin dari zaman bumi lama… meskipun saat ini Gaiea telah menggunakan yang lebih canggih, peluru-peluru itu tetaplah berbahaya.

Sial… kapan hujan peluru ini berhenti?

Baru saja ia berpikir demikian, tembakan-tembakan itu berhenti. Suara ceklak-ceklik senapan mesin yang diganti pelurunya terdengar.

Ini kesempatanku. Satu-satunya.

Shade mengangkat tubuhnya sambil mencabut pistol. Ada tumpukan karung di depannya, dengan senapan mesin dan seorang tentara yang tengah memasang serangkaian peluru senapan mesin.

Shade menembak. Dua, tiga, empat kali. Ia yakin tepat sasaran. Lalu berlindung lagi.

Hanya suara deguk pelan terdengar di depan. Lalu suara tubuh yang jatuh. Tembakan tak berlanjut.

Shade menghela nafas. Ia melemparkan tongkatnya ke depan untuk mengetahui situasi.

Tak ada yang terjadi. Sepertinya aman.

Shade bangkit pelan-pelan, berjalan waspada melewati tumpukan karung, masih menodongkan pistol. Satu prajurit masih telungkup kaku di dekat senapan mesinnya, tak terlihat hidup. Shade menghela nafas sambil menyarungkan kembali pistolnya, mengambil tongkatnya yang ia lemparkan tadi.

Shade tak suka menggunakan senjata api, meskipun ia handal menggunakannya. Hanya saja, ia harus menghormati peradaban, mengikuti kekinian yang kadang bertentangan dengan preferensinya. Ia menyobek secarik kain dari lengan bajunya, untuk menghentikan perdarahan di lengannya. Lalu meneruskan perjalanan.

Koridor mulai menikung, wanra lampu berubah putih kembali.

“Kau hebat.” Kali ini suara Layth tak lagi terdengar di pengeras suara, namun terdengar langsung dari balik tikungan itu. Shade kembali waspada.

Ia melihat Layth berdiri menyambutnya di tengah korior. Mengenakan seragam Angkatan Udara warna hitam berkerah jingga kebanggaannya. Persis seperti dalam semua foto-foto peninggalan Layth.

Shade tersenyum lebar. Antara terkesiap dan terpesona.

Wajah, postur, warna kulit dan tinggi badan mereka mirip, hampir seperti kembar. Hanya Layth, selain lebih tua, ia memiliki rambut panjang yang terjulur seadanya di belakang leher. Ia juga lebih kurus. Matanya sedikit berkantong, seperti orang-orang yang sering terjaga di malam hari.

Benar kata orang-orang. Kami sangat mirip.

“Jangan tanggung-tanggung. Keluarkan kedua tongkatmu.” Layth mendekat, menantang.

Shade menahan nafas dan degupan jantungnya yang seperti meliar tiba-tiba.

Dia hanya berjalan mendekatiku, tapi… mengapa terasa begitu mengancam?

Shade bagai terhipnotis, ia mengeluarkan kedua tongkatnya, menyongsong ke arah Layth, sembari menggebuk dengan tongkat yang ia pegang di lengan kanannya.

Layth mengeluarkan sesuatu dari pinggang, menyambut gebukan itu dengan senjata kecil yang ia keluarkan dari tangan kiri, menangkisnya ke arah luar tubuh, menimbulkan suara benturan kecil antara logam dengan logam.

A-apa itu?  

Shade terkesima dan tak menyadari Layth sudah memutar tubuh, tangannya menyelinap ke bagian bawah bahu Shade, mengunci pergerakan tubuh Shade. Siap menyanyatkan senjatanya yang kecil tajam ke leher Shade.

Di-dia mau membunuhku…

Shade menarik pegangan tongkatnya, menggetok punggung tangan Layth yang menguncinya dengan pangkal tongkat, melepaskan kunciannya.

Layth melepaskan kekangannya, namun ia sempat melakukan gerakan mencabik pelan ke siku kiri Shade, membuat Shade menjerit tertahan. Luka iris memanjang dari siku hingga pergelangan tangan, merobek daging dan otot lengan Shade nyaris mengenai pembunuh darah. Satu tongkat Shade jatuh berkelontangan ke lantai.

“A-apa itu?” Shade terkesiap. Tak menduga senjata kecil itu sangat efektif dalam menghadapi tongkatnya.

“Senjata dari bumi lama. Yang lama kalian lupakan.”

Layth menyunggingkan senyum tipis sebelum ia kembali menyerang. Melangkah cepat, tangannya yang tak memgang sejata mendorong tubuh Shade, dilanjutkan menendang. Shade menangkap kakinya dan berusaha membanting. Namun satu tangan Layth yang memegang senjata kecil itu, menyasar ketiaknya.

Shade menangkis, sekaligus menusukkan tongkat. Tapi tangan Layth menepis, meliuk cepat, dan mencabik tangannya yang lain. Membuat Shade tepaksa menjatuhkan tongkatnya yang lain. Akan sulit untuk mengontrol tongkat dengan tangan terluka. Namun lutut Shade berhasil naik dan menendang ulu hati Layth, memaksanya menjauh.

Keduanya hanya memisahkan diri beberapa detik. Lalu bergumul lagi. Terpaksa Shade melayaninya dengan tangan kosong. Shade berpikir untuk terfokus dulu bagaimana menaklukkan senjata itu dengan kedua tangan bebas tanpa tongkat, meski darah di tangannya mulai menciprat-ciprat. Ia mencoba mencengkram tangan Layth dengan tangan kiri, sekaligus meninju muka Layth.

Layth mengelak. Tubuhnya meluncur ke bawah dan kakinya mengunci kaki Shade, membuatnya jatuh terjerembab. Layth langsung mengunci lehernya Shade dari belakang, menempelkan senjata kecilnya, rapat ke leher Shade. Siap mencongkel pembuluh darah di lehernya, kalau saja Shade tak bertahan, tangannya mencengram menahan kekangan Layth.

Shade bisa merasakan nafas Layth di belakang tengkuknya.

“Kau menjatuhkan tongkatmu, melayaniku dalam pertarungan jarak dekat. Keputusan bodoh.” Desis Layth pelan, menahan Shade yang mencoba meronta. Darah mulai menetes deras dari luka di kedua lengan Shade.

“Begitu kau terpancing bertarung mengikuti gaya bertarungku, kau telah kalah…”

“A-apa ini ada dalam manuskrip…?” Shade masih berusaha bertanya, sambil berpikir bagaimana melepaskan diri dari kekangan Layth.

“Belum.” Jawab Layth. Belum sempat.

Suara pistol menyalak. Menembak paha Layth.

Layth goyah, dan kesempatan itu digunakan Shade untuk melepaskan diri. Ia masih memiliki pistol yang disembunyikan di pinggannya.

Shade mengarahkan pistolnya ke arah Layth. Darah menetes-netes dari telapak tangannya. Juga dari lukanya yang lain. Pinggang, lengan, bahu. Kalau saja Layth meneruskan serangannya tadi, ia juga nyaris kehilangan lehernya.

“Jangan bermain dengan aturan lawan…“ Shade menatap Layth tajam. “Tapi kau lupa aku masih punya pistol. Kini turuti aturanku, Layth. Kau kalah.”

Layth mengangkat kedua tangannya, seolah pertanda menyerah. Shade bisa melihat lebih jelas senjata kecil milik Layth.

Pisau kecil yang melengkung dengan ujung lancip. Shade tak pernah melihatnya sebelumnya.

“Seharusnya semua teknik persenjataan sudah tercatat dalam arsip planet Gaiea. Kami heran, bagaimana kau mendapatkan semua teknik rahasiamu…”

“Karena kalian mencari di tempat yang salah.” Tandas Layth.

“Maksudmu…?“

“Kalian melihat semuanya sebagai alat. Bukan sesuatu yang lain.”

“Sesuatu yang lain?” Shade mengerutkan kening.

“Ilmu tentang pertarungan… juga bisa memiliki berbagai nama.” Layth melangkah mendekat.

“Jangan mendekat!” Shade menembak kedua kaki Layth.

Tapi tembakan itu tak menghentikan Layth. Ia tetap maju melangkah. Bagaikan zombie yang tak kenal rasa sakit.

Shade terlambat menyadari. Ini dunia VR Layth. Di sini… ia yang berkuasa.

Shade berjengit mundur. Bimbang memutuskan haruskah ia menembak kepala Layth, atau…

Layth sudah menempelkan telapak tangannya di moncong pistol Shade.

Shade menembak. Darah muncrat dari telapak tangan Layth.

Tapi mata Layth tak berubah. Tajam menusuk, menembus jiwa polos Shade yang naif.

Kau kuat, tapi kau terlalu lugu…

“Seharusnya kau sudah memahaminya lewat pertarungan ini.” Layth menatapnya tajam. Mencengkram tangan Shade yang memegang pistol, memuntirnya. Darah menetes-netes.

“Selanjutnya… dapatkah kau dipercaya?”

Tangan Layth bergerak, mencabikkan senjata kecil itu, ke arah rahang Shade….

.

.

.

“Putus koneksi neural!” Teriak Dr. Swann.

Dr. Swann berlari ke arah throne, dimana Shade meregang dan mengerang keras. Luka-luka telah muncul di berbagai tempat di tubuhnya. Dan kini, di lehernya.

Para staf medis ikut menyerbu masuk ke dalam silinder. Dr. Swann melepas helm VR Shade, mencabuti seluruh kabel koneksi dengan cepat, menarik tubuhnya dari atas kursi VR. Para staf medis langsung memberikan pertolongan kepadanya untuk menghentikan semua perdarahan. Beruntung, Shade masih hidup. Tetapi misinya gagal.

“Kalau kau tidak bisa menghadapinya…” Dr. Swann menggigit bibirnya, menatap throne yang masih terhubung dengan program VR Layth.

“Maka, tak ada yang bisa.”

-o0o-

Planet Gaiea memiliki senja berwarna oranye mirip bumi. Manusia telah berkoloni di planet ini hampir seratus tahun tahun setelah kehancuran bumi di Bimasakti. Namun, peperangan antara koloni manusia yang mendiami berbagai planet, masih saja terjadi.

Shade paham kalau informasi dan ilmu pengetahuan tetaplah mata uang yang berharga. Gaiea menginginkan pengetahuan militer dan ilmu tarung Layth. Namun, Layth tampaknya berniat membawa semua itu bersama kematiannya.

Dr. Swann telah menyerah. Kalau Shade yang dikatakan kemampuan combat-nya mendekati level Layth saja tak mampu menghadapi VR Layth, maka tak ada siapapun yang bisa. Kegagalan Shade membuat Dr. Swann untuk menghapus program VR Layth, mengingat tak ada informasi berarti yang bisa diambil dari program itu, alih-alih malah mengancam nyawa siapapun yang mencoba memasukinya.

Luka-luka Shade telah diobati dan ia telah diperbolehkan pulang ke rumah. Namun bukannya beristirahat, Shade justru memilih menemui Daiyu, istri almarhum Layth.

“Sebenarnya aku tak setuju mereka melakukannya.” Daiyu berkeluh kesah ketika Shade bertamu ke rumahnya. “Meskipun itu hanya ingatan genetik, Layth berhak untuk meninggal dalam damai.”

“Maaf.” Shade merasa tak enak.

Daiyu menggeleng. “Tak apa. Kau hanya menjalankan perintah.”

Shade menunduk sungkan, tapi ia terlegakan dengan kebijaksanaan Daiyu.

“Kudengar Layth hampir membunuhmu di dalam VR.” Daiyu menunjukkan wajah menyesal.

Shade merenungkan pengalamannya di VR. Terlepas dari luka-luka parah yang dialaminya, Shade merasakan sesuatu yang lain.

“Sebenarnya… aku merasa ia berusaha mengajariku sesuatu. Dengan cara yang luar biasa ekstrim.”

Daiyu ikut termenung.

Lalu tiba-tiba Daiyu tersenyum lebar, seolah tiba-tiba memahami sesuatu. Ia tertawa terbahak-bahak, membuat Shade terheran-heran.

“Mengapa kau tertawa, nyonya?”

“Mungkin Layth memang meninggalkan pesan buatmu!” Daiyu berlari ke lantai atas dengan tergopoh-gopoh, dan kembali membawa sebuah kotak kayu besar yang kemudian diletakkannya dengan hati-hati di atas meja.

“Ini semua peninggalan Layth, Shade. Cobalah mengartikan pesannya, kalau ia memang ingin mengajarimu sesuatu.” Daiyu membuka kotak itu dengan khidmat.

Shade merasa mendengar suara Layth yang terngiang saat melihat isi kotak kayu itu.

Apakah kau bisa dipercaya, Shade?

Kotak itu berisi buku-buku tentang berbagai budaya di bumi lama.

Shade mengambil dua buku, yang penuh berisi tempelan dan selipan kertas berisi coretan tulisan tangan Layth.

Sun-tzu. Go-Rin-no-Sho*.

Ia belum memahami artinya, tapi rasanya seperti sebuah karya sastra yang penting.

Jadi… Layth memahami semua itu lewat peninggalan-peninggalan budaya bumi lama. Shade mengingat kata-kata Layth. Ilmu pertarungan bisa memiliki berbagai nama…

Di dalam kotak itu ternyata juga ada berbagai benda yang lain. Selain buku-buku berbagai budaya di bumi, juga ada berbagai kartu pos tua tentang sebuah negeri dengan pemandangan bagai surga. Kaldera bertumpuk yang menakjubkan, lembah dan gunung yang menghijau, danau beraneka warna, dan karang-karang alam yang menakjubkan di dasar laut.

Satu gambar menarik perhatian Shade. Sebuah lembah dengan rumah-rumah eksotis yang memiliki atap yang melengkung di kedua ujung atapnya. Beberapa orang lelaki seperti berpose menari berpasangan di halaman pekarangannya.

Shade mengerutkan kening. Pose itu mengingatkannya pada kuncian pertama yang dilakukan Layth ketika mereka bertarung.

Shade masih mengingat-ingat, ketika Daiyu mengeluarkan benda kecil yang berada di dasar kotak dengan hati-hati.

“Namanya karambiak*,”

Sebilah pisau kecil melengkung. Tajam dan lancip.

Shade terperangah.

Senjata ini… yang digunakan Layth saat melawanku.

“Sayang sekali tak ada yang tahu cara menggunakannya lagi kecuali Layth.” Timpal Daiyu.

Tanpa sadar Shade menyentuh luka di lehernya lagi. Pertarungan satu lawan satu dengan Layth masih terbayang jelas. Semua gerakan. Bagaimana Layth melawan tongkatnya dan melukainya.

Bulu kuduk Shade berdiri merinding. Rasa hormat pada almarhum Layth membuncah di dadanya, membuat dadanya tiba-tiba sesak oleh rasa haru. Ia menggumam pelan.

“Mungkin aku tahu, sedikit….”

Layth telah memberitahuku.

Fin.

Catatan pengarang:

*) Sun-Tzu adalah kitab strategi perang kuno dari Cina. Go Rin No Sho adalah buku strategi pertarungan yang ditulis oleh Miyamoto Musashi. Kurambiak adalah sebutan masyarakat Minangkabau untuk kerambit, senjata tradisional yang terdapat di daerah Sumatra.

22 dukungan telah dikumpulkan

Comments