Stand Alone

3 months ago
Muhammad Zikrullah

by: Muhammad Zikrullah

 

 

 

Dingin…….

 

 

 

Gelap……….

 

 

 

 

Aku berada di mana ?

 

 

 

 

Siapa saja tolong aku………

 

 

 

 

 

 

……………………….

 

 

Keringat dingin bercucuran membasahi tubuhku. Nafasku terengah-engah ringan. Tanpa sadar mataku sudah terbelalak. Aku tidak tahu apa yang kumimpikan, tapi itu sangat mengerikan. Tempat yang gelap, sunyi senyap, dan sendirian. Mimpi itu seakan memberitahuku sesuatu hal yang sangat buruk. Sembari beranjak dari kasurku dengan lemas, aku berusaha menenangkan pikiranku. Menuruni lantai bawah istana sederhana, aku terhuyung. Ku mengambil segelas air putih untuk melepaskan dahagaku yang terasa seperti padang pasir di tengah terik matahari. Ku membasuh wajahku beberapa kali seraya berharap tidak mengingat mimpi itu lagi. Sudah tiga hari ini aku memimpikan hal tersebut. Entah apa makna di baliknya, aku tidak tahu.

Aku memulai pagiku dengan normal. Sarapan seperti Encore lainnya. Sesekali aku menolehkan wajahku ke jendela besar di dekat meja makan. Mataku melihat situasi sekitar. Sembari menghabiskan sarapan, aku mengamati Cahaya Barat. Kurasa cahaya itu berasal dari daerah tetangga. Cahayanya sangatlah indah. Bagi siapa saja yang melihatnya tidak bisa memalingkan pandangannya, sama halnya denganku. Walaupun aku sudah sering melihatnya, namun aku tetap terpesona akan keindahan Cahaya Barat itu. Dinamakan Cahaya Barat karena Cahaya itu pertama kali muncul seratus tahun yang lalu di daerah Barat,Vince. Sebuah negeri yang menjadi induk peralatan masak. Siapa sangka cahaya indah itu ternyata hanya di luarnya. Seperti yang dikatakan manusia, jangan menilai buku hanya dari sampulnya. Cahaya itu sebenarnya sebuah tembakan dari Planet Digicon yang berusaha menghancurkan planet ini, Planet Origin.

Aku menghabiskan sarapanku dengan berharap aku masih bisa melihat hari esok. Sebuah harapan yang sangat kecil kemungkinannya terjadi. Setelah bersiap-siap, aku berjalan keluar dari istana bobrok ini melaksanakan tugasku sebagai Encore yang tersisa. Kurang lebih tersisa seribu Encore di planet ini. Spesies kami musnah sejak peradaban Digicon berkembang. Planet Origin adalah planet yang damai dan indah. Suasana asri dan nyaman akan terasa ketika memasuki atmosfernya. Planet kami dikenal sebagai planet penyokong kehidupan di Bumi, tempat Manusia tinggal. Namun, semuanya berubah ketika bangsa Digicon memasuki atmosfer kami. Mereka mengajak para pemimpin kami untuk bekerjasama dalam peran menyokong kehidupan manusia. Awalnya kerjasama itu berjalan sangat baik, sampai pada akhirnya mereka mulai membangun bangunan-bangunan tinggi nan modern. Robot-robot dan mesin-mesin aneh berkeliaran di mana-mana merusak ekosistem kami. Beberapa Encore diculik dan diperlakukan tidak wajar oleh mereka. Dengan kejadian ini, para pemimpin kami tentulah tidak setuju dan merasa kerjasama ini bukanlah kerjasama lagi, melainkan penjajahan. Mereka pun mengusir bangsa Digicon pergi dan mengakhiri kerjasamanya. Sejak kedatangan mereka, keseimbangan alam sudah menunjukkan gejala-gejala aneh. Namun kami terlalu bodoh untuk percaya bahwa gejala itu hanyalah bentuk penyesuaian alam dengan teknologi yang ada.

Para pemimpin yang tidak ingin pergi memulai membujuk dan merayu para pemimpin kami. Dengan segala penuh tingkah serigalanya, mereka mengeluarkan kemampuan manis mereka agar kerjasama ini terus berlanjut. Namun para pemimpin kami tetap pada pendiriannya dan menolak untuk melanjutkan kerjasama. Mereka pun pergi dan menghancurkan seluruh fasilitas yang telah mereka buat. Penghancuran yang sangat merusak alam. Kurang lebih tiga wilayah lenyap dalam penghancuran itu. Mereka pergi sambil meninggalkan sebuah pesan misterius.

 

“Hey….. Apa yang akan terjadi bila manusia mulai gila ?”

Pertanyaan itu masih terngiang samar-samar di kepalaku walaupun sudah terjadi lama sekali. Cahaya Barat kembali muncul, dengan ini sudah ada dua serangan hari ini. Aku tidak tahu seberapa lama aku bisa bertahan berpijak pada tanah ini. Meriam Alliance diluncurkan untuk menghancurkan satelit pemancar Cahaya Barat. Namun apa daya kami. Mereka terlalu maju dibandingkan dengan kami. Senjata kami tidak mempan pada armada-armada mereka. Ini bagaikan serangan lebah pada baju zirah manusia. Dengan mencengkram tombak yang kupegang, aku mengubah posisiku menjadi posisi melempar. Kulesatkan tombakku ke arah tebing tinggi di sebelah sana. Dengan kekuatan legendaris asli bangsa Encore, aku berhasil berteleportasi ke tebing tersebut. Dengan mengeluarkan Kristal api, aku mengubah tombakku menjadi tombak api. Bersiap melemparkan tombakku ke angkasa, para Pemuda Encore lainnya tidak mau kalah. Mereka malah menyerangnya duluan. Kurang lebih 25 tombak hasil bentukan berbagai Kristal menghiasi langit waktu itu. Kurang lebih sudah 75 satelit telah jatuh dan ini yang ke-76.

Bersamaan dengan jatuhnya satelit, armada pengawal satelit itu pun mendarat. Dengan membawa banyak pasukan, mereka menyerang seluruh tempat secara membabi buta. Pola serangan mereka sangatlah mudah untuk dibaca, namun sulit untuk ditembus. Ini karena persenjataan mereka yang kuat dan refleks serta daya tahan mereka sangatlah luar biasa. Kami hanya bisa menyerangnya layaknya seorang penculik. Perang antar planet pun dimulai. Walaupun kami kalah jumlah, tapi kami menang di dalam kecerdasan. Otak kami sedikit lebih maju dibandingkan mereka. Di saat yang bersamaan, kapten armada ini keluar juga. Dia adalah orang yang memberikan pertanyaan tempo hari. Sembari memandangnya dari jauh, aku memikirkan cara untuk mendekatinya.

Dia memberikan instruksi dengan gerakan tangan menyuruh seluruh pasukannya maju dan menyerang kami. Dengan majunya anak buahnya, kini ia berdiri sendiri di tempat itu. Kami yang berjumlahkan kurang lebih 14 orang, bersembunyi untuk mengurangi jatuhnya korban.

“Aku rasa mereka tidak menemukan kita di sini.” Ujarku dalam hati.

Pssssssttt……….

“Hidup Encore, kalian dengar ?” Ujar salah satu Encore.

“Tadi aku melihat mereka melewatiku. Tampaknya mereka tidak menyadari keberadaan kita. Ini kesempatan emas untuk menghabisi kapten mereka.”

Dengan membagi kelompok menjadi dua, kami berstrategi untuk menyerangnya secara berurutan. Kelompok pertama melakukan seerangan jarak dekat, dan kelompok kedua membantu dengan serangan jarak jauh sembari bersiap menggantikan posisi kelompok pertama jika mereka lelah. Aku yang berada di kelompok kedua mempersiapkan Kristal petir untuk menembaknya. Kristal petir sangat ampuh untuk menyerang jarak jauh. Di samping jarak tembaknya yang lumayan jauh, target yang terkena serangan ini akan langsung lumpuh seketika.

 

Serangan kami pun dimu-

Bang !!!!

Suara tembakan seketika mengeheningkan suasana. Mata kami tertuju pada asal serangan itu.

Serangan itu menerjang teman kami yang berada di balik batu besar di sebelah kanannya. Teman kami langsung tewas seketika.

“Huuuuhh…… melakukan serangan secara sembunyi-sembunyi itu terlalu kekanak-kanakan, kalian tahu. Untungnya aku menyuruh semua pasukanku pergi sehingga aku bisa bebas menghabisi kalian semua.” Ujar sang kapten armada tersebut.

Dengan begini rencana kami berantakan, tapi kami tetap maju dengan semangat pembebasan yang tinggi. Kelompok pertama segera melancarkan serangan. Dengan jumlah berkurang menjadi enam orang, mereka menyerangnya dengan luar biasa. Pertempuran sengit pun terjadi. Serangan demi serangan diluncurkan. Erangan teleportasi yang cepat tetap tidak bisa melumpuhkannya dengan mudah. Kelompok kedua langsung mengambil posisi dan melancarkan serangan. Dia terlihat sangat tenang menanggapi serangan kami. Entah apa yang ada di pikirannya. Dia tidak terlihat kewalahan dalam bertarung.

 

Buk !!!! Brak…. !!

 

Seketika dia melancarkan serangan yang sangat keras. Dia melompat ke belakang dan langsung memasang posisi menyerang.

 

“Akan kuubah kalian semua menjadi materi digital !” Ujarnya dengan mata tajam.

 

Dia mengeluarkan dua pistol dan mulai menembak.

 

BANG !!!….. BANG !!!!…… BANG !!!!!……

Dia berhasil melumpuhkan enam anggota kelompok kedua dengan singkat. Tidak sampai lima detik dia menyerang, dan hanya aku yang tersisa. Wajahnya berpaling dan menerjang maju. Tak kusangka dia cepat juga. Dia menyerang dan melumpuhkan kelompok pertama dengan mudahnya. Dia mengumpulkannya dan melempar mereka ke langit.

 

 

…..DIGITAL BLASTER. ENCORE GENOCYDING ARTILLERY….

 

 

 

 

BHAAAAAAAAAMMMMMMM……. !!!!!!!!!!!!

Seketika langit dipenuhi Cahaya Barat. Ternyata, anak buahnya dikirim untuk melakukan serangan yang sama di berbagai tempat. Aku hanya terdiam melihat hal ini. Akhirnya aku sadar, seluruh perjuangan kami berakhir di sini. Serangan-serangan tersebut menghanguskan seluruh daerah planet kami yang tersisa termasuk kami di dalamnya.

 

“Semuanya telah berubah menjadi digital……………” Ujarku dengan ketakutan.

Seketika aku teringat akan ucapannya waktu itu.

Dia berbalik ke arahku dan bercakap,

“Hey nak….. lama tak jumpa. Bagaimana, kau sudah temukan jawabannya. Inilah jawabannya jika manusia telah menjadi gila. Semua bendanya telah berubah menjadi digital. Hal-hal yang berbau konvensional tidaklah dibutuhkan sekarang. Seharusnya kau tahu itu kan ? Bukannya kamu punya semacam alat yang memantau manusia ?…………….”

“Huuuuuuhhhhh”

“Jika saja dahulu para moyang kalian setuju untuk bekerja sama dengan kami, kita bisa mengambil alih kehidupan manusia dan mengubahnya menjadi lebih baik. Kalian terlalu egois…. Sehingga inilah hukuman bagi kalian.” Ujarnya dengan nada mengejek.

 

“Keparat !!!!”

“BERANINYA KAU MENGUBAH SEMUA INI MENJADI DIGITAL SEPERTI DI PLANET KALIAN !!!!!”

Dengan gagah berani aku menerjangnya dengan teleportasi dan memukulnya. Anehnya dia menerima begitu saja pukulan itu. Serangan demi serangan kulancarkan kepadanya. Dia menerima serangan itu seraya tersenyum. Entah mengapa seranganku seperti tidak mempan padanya. Seluruh kristalku sudah kugunakan.

“MAAAATTTTTIIII KAAAAA-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bangggg !!!!!!!!!!

 

 

Dia menembak tepat di organ pemompa darahku.

“Huuuuuhhh…. Sudah cukup nak. Seranganmu itu hanya seperti pukulan bayi. Yang benar saja, yang seperti ini mau memenangkan perang. Heh…. Jangan membuatku tertawa. Sekarang tidurlah bersama planet menjijikkanmu di sini dan jadilah digital dengannya. Tenang saja, kisahmu tidak akan dikenang siapapun karena kalian telah……………

 

 

 

 

 

 

 

 

MUSNAH

 

 

 

 

 

 

 

 

Mereka meninggalkan kami setelah mengatak kalimat itu. Aku terkapar sembari menatap langit planet kami yang sedang hancur.

Ucapannya benar. Inilah akibatnya jika manusia telah menjadi gila. Mereka mengubah semuanya menjadi digital.

 

 

”Semuanya telah menjadi digital………………… kah ?”

 

Sembari menutup mataku, aku tidak bisa menahan sedih karena tidak bisa mempertahankan planet yang telah menjadi saksi bisu perjalanan hidupku, setidaknya aku mati sebagai pejuang yang mempertahankan harga dirinya.

Terima kasih manusia telah berpindah haluan menjadi lebih buruk.

Terima kasih karena mengubah semuanya menjadi seperti ini.

Terima kasih……………………… atas semuanya.

Terima kasih kepada para Encore yang telah membuat manusia merasakan damainya hidup, dan para Encore yang berjuang hingga akhir…..

 

 

 

TERIMA KASIH

20 dukungan telah dikumpulkan

Comments