Susu Vanilla

4 months ago
(Sumber: Aoi Yammi Hikari)
Aoi Yami Hikari

by: Aoi Yami Hikari

“Menjadi dewasa itu meyebalkan. Kau akan mulai memikirkan banyak hal, bertanggung jawab tentang ini dan itu, mulai memikirkan menimbun harta, menolak ukur sesuatu dari segi keuntungan yang bisa diraih.”

“Tetapi—“

“Lebih buruk dari itu, menjadi dewasa membuatmu terkadang lupa apa yang namanya imajinasi.”

“Apa?”

Tawa kecil mengalun. Bukan tawa yang menyenangkan untuk didengar. Polos sekali… Benar-benar polos. Sama seperti yang lain, sama seperti banyak pasang mata yang biasa ia lihat. Karena bagai manapun, mereka yang memang belum ternodai lah yang bisa melihatnya.

“Kau akan melupakanku, saat kau dewasa kelak.”

“Kenapa?”

Kenapa katanya? Oh, sudah berapa banyak pertanyaan yang sama dan selalu mengatakan kata ‘Kenapa?’ Sebuah senyuman kecil merekah. Wajah tampan yang dianugrahi sepasang mata sebiru air jernih dan helai rambut seputih salju menoleh.

“Karena…” Jeda beberapa detik. Kelereng safire kini terlihat begitu sedih dan terluka. “Aku tidak nyata.”

.

Susu Vanilla

Story by: Aoi Yami Hikari

.

Ruangan yang cenderung remang-remang dengan temperature rendah adalah pemandangan pertama yang terlihat mata. Cahaya memanjang yang mengintip dari balik tirai gelap yang tertutup menjadi alarm bahwa matahari telah bersinar terang di luar sana. Namun, tetap saja. Tubuh yang terbaring di atas lantai berlapis karpet itu tidak bergerak. Tubuh berbalut jaket biru dongker dan celana trining putih itu terbaring terlentang di antara kertas dan buku-buku yang berserakan di sekitarnya.

Helai rambut hitam berantakan menyentuh karpet, kulitnya pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata menandakan insomnia—atau kebiasaan nocturnal dimana ia lebih aktif di malam hari ketimbang saat matahari telah terbit. Wajah tampan, dengan rahang yang tegas terlihat lelap tertidur dengan hela nafas yang terdengar teratur.

Sosok pria berhelai seputih salju menggelengkan kepala dengan tidak percaya. Pria berkulit pucat dengan mata sebiru air melangkah mendekat, duduk berjongkok tepat di samping si Reven yang berbaring. Jari telunjuk mencolek-colek pipi tirus itu gemas.

“Hey, kau tidak kuliah?” tanya si Putih. Mencoba membangunkan Mahasiswa yang baru saja tertidur 3 jam yang lalu. Mengerjakan tugas katanya—membuat sebuah aplikasi yang harus dipersentasikan siang ini di depan kelas tetapi berakhir membaca komik-komik. “Tugasmu nanti jadi sia-sia loh.”

Gumaman mengantuk terdengar. Tangan pria itu bergerak menyingkirkan jemari yang mengganggu tidurnya. “Tidak jadi hari ini,” ucapnya dengan suara serak.

Alis si Putih terangkat. “Tidak jadi apanya?”

Sir Ridwan masih ada tugas di luar kota, kelas diganti dengan tugas,” tubuh pemuda itu berbalik—merubah posisi tidur menjadi menyamping dan memunggungi si putih. “Bangunkan aku bila sudah jam 2, aku tidak mau Ibuku mengomel—“

“Aku bukan alarmmu!” sela si Putih kesal. Perempatan muncul di kepala, menatap nyalang sosok yang masih terlihat mengantuk itu. “Harus berapa kali kubilang aku bukan Alarm atau alatmu mencari informasi, Dai! Aku—“

“Kau berisik Susu, aku mau tidur—“

“Namaku si Putih dan bukan Susu!” perempatan muncul di kepala. Kesal bukan main mendengar nada malas dan mengantuk itu. “Jangan memanggilku Vanilla juga!” tambahnya—teringat panggilan aneh yang selalu pemuda itu utarakan untuk namanya. Dai—nama si pemuda—hanya mengibas-ngibaskan tangannya. Mengusir si putih untuk segera pergi karena ia memang mengantuk. Sepasang safire mendelik jengkel. Kesal bukan main dengan pengusiran itu.

Duak!

“AKH!” Rasa sakit menjalar di area pinggang. Kantuk yang mendera seketika hilang. Si Putih, baru saja menendang pinggangnya.

“SIALAN! APA YANG KAU—“ ucapan terhenti. Sepasang mata hitam menatap sekeliling kamarnya yang sudah kosong. Umpatan lolos dari bibir itu. Sebelah tangan mengusap punggungnya yang terasa berdenyut sakit. Sosok putih sudah menghilang—melarikan diri setelah membuatnya terbangun dengan cara yang kasar. Helaan nafas terlontar. Dai menatap kamarnya yang berantakan lalu mengacak rambut gelapnya dengan fustasi. Kepalanya berdenyut sakit, ditambah rasa sakit pada area pinggang yang dibuat si Putih. Oh, terima kasih untuk sosok astral menyebalkan itu. Dai, tidak berniat melanjutkan tidurnya lagi.

äää

Membekap mulut dengan kedua tangan, tubuh berbalut jaket putih dan celana jins hitam itu menahan tawa melihat Dai yang terlihat kesal dan malas-malasan membersihkan kamarnya. Buku-buku komik berserakan, ia sedang tak ingin membereskannya. Namun apalah daya? Kantuk si Reven sudah hilang. Si Putih sukses membuatnya terbangun dengan tidak elit. Jadi, ketimbang tidak melakukan apapun, Dai memilih membereskan ruangan yang sudah 2 minggu tidak tersentuh sapu.

Agak kasihan juga sih melihat Dai yang cuma tidur beberapa jam, tetapi mau bagai mana lagi? Salahkan pemuda itu yang bertingkah menyebalkan! Si Putih jadi kesal sendiri menghadapinya. Bersedekap dada seraya duduk di kursi yang berada di depan meja komputer, si Putih sengaja tidak menunjukan wujudnya. Memperhatikan pemuda yang baru menginjak usia 20 tahun, beberapa hal masuk ke dalam pemikiran sosok pucat tak kasat mata.

Apa yang membuat Dai bisa melihatnya?

Pertanyaan yang sejak lama ia pikirkan sejak pemuda itu akil balik. Pertemuan pertama mereka saat usia si bocah hitam itu berusia 5 tahun. Berteriak memanggilnya Kakek hanya karena rambutnya yang putih. Dai kira itu uban—membuat si Putih kesal bukan kepalang dengan tingkah bocah menyebalkan ini. Wajahnya tampan dan muda seperti ini, masa dipanggil Kakek!? Oh, sejak dulu sampai sekarang, pemuda ini memang tidak berubah. Tetap menyebalkan.

Tetapi sekali lagi pertanyaan mengalun di dalam kepala. Semua anak yang melihatnya memiliki batas waktu untuk dapat melihatnya. Saat sang anak tidak bisa melihatnya kembali, otomatis semua kenangan akan menghilang—menyisakan si Putih yang hanya mengingatnya sendiri. Semuanya seperti itu. Tidak ada yang terkecuali. Perempuan dan laki-laki.

Tetapi kenapa Dai berbeda? Hal ini membuatnya kebingungan. Kebanyakan sudah tidak bisa melihatnya saat mereka sudah beranjak usia 10 tahun—sudah mengenal lingkungan sosial dan diajarkan tentang tanggung jawab. Saat mereka berlahan mengenal yang namanya lawan jenis dan hormon yang meledak-ledak.

Dai, sama dengan remaja yang lainnya, juga mengalami hal itu. Si Putih melihatnya sendiri dengan mata kepala, mengawasi dan selalu berada di sekitar pemuda ini dari tahun ke tahun. Setiap hari—setiap jam dan menit, ia akan menghabiskan waktunya di sekitar Dai. Mengikuti pemuda ini secara diam-diam. Muncul dan menghilang dari sepasang mata hitam yang selalu bisa melihatnya.

15 tahun, merupakan waktu yang singkat bagi si Putih. Oh, umurnya bahkan sudah ratusan tahun. Namun, bersama Dai, 15 tahun terasa lebih lama—lebih berarti ketimbang tahun-tahun saat ia bertemu lalu dilupakan. Karena Dai, jauh lebih lama bisa melihatnya—memanggilnya asal-asalan dan membuatnya kesal bukan kepalang. Lebih dari itu, Dai selalu menganggabnya ‘ada’.

Bagaimana bila saatnya tiba nanti?

Rasa sakit berdenyut di dada. Sesak luar biasa menusuk jantung. si Putih menelan liur paksa. Waktu… Jadi terasa menakutkan baginya.

äää

Merenggangkan tubuh lalu mengusap peluh yang ada di kening dengan punggung tangan, pemuda tinggi berkulit putih itu menatap puas kondisi kamarnya yang telah rapi. Ada kilat rasa senang dari ekspresi wajah datar itu. Well, usahanya membereskan dan menyapu ruangan ini tidaklah sia-sia.

“Jadi,” berdecak pinggang, Dai menoleh ke arah meja komputernya. “Kau berencana membuatku kurang tidur eh?”

Si Putih mengangkat kedua bahunya acuh. Ia yang duduk di kursi dengan posisi menghadap sang pemilik kamar nyengir seraya menopang dagu. Sepasang mata biru itu memperhatikan pemuda atletis yang kini duduk di kasur single bednnya dengan lelah.

“Waktunya kau mandi,” perintahnya. “Ini masih jam 10, Ibumu datang jam 2 kan?”

Helaan nafas terlontar. Dai menjatuhkan tubuhnya ke bantalan empuk kasur. “Tidur lebih dulu lebih nikmat.”

Alis pemuda bermata biru mengernyit. “Setelah ini kau akan sulit dibangunkan.”

Dai mendengus. “Yang penting kamarku bersih,” balasnya. Sepasang mata hitam terpejam. Hening menyergap ruangan besar itu. Si Putih, tidak membalas ucapannya kembali, Dai juga tidak membuka mulutnya lagi. Bukan… Bukan karena ia tidur, pemuda itu masih sadar dan belum terlelap.

“Vanilla—“

“Si putih!”

“Oke, White,” si Putih mendengus mendengarnya. Setidaknya, bukan Vanilla dan Susu. “Kau selalu bilang mengikuti anak yang bisa melihatmu,” tubuh si Reven berubah menjadi menyamping. Mata hitam menatap sosok yang masih duduk di kursi meja komputernya. “Bahkan ketika mereka melupakanmu?”

Si Putih mengangguk. “Ya,” jawabnya. “Aku selalu mengikuti mereka meski mereka sudah tidak bisa melihatku lagi.”

“Kenapa?”

Sebuah senyuman yang dipaksakan merekah. Sepasang safire memandang menerawang ke arah jendela yang terbuka. Ingatan saat wajah-wajah itu selalu tersenyum dan memanggil namanya dengan nada ceria terasa menyenangkan, namun di sisi lain juga menyakitkan. Bertemu, lalu berpisah. Siklus yang membahagiakan juga menyedihkan. Ia hanya mahluk astral yang tidak jelas terbangun dan berasal dari mana. Hanya sosok yang dianggab imajinasi—sosok yang tidak nyata dan tidak hidup, namun menyimpan semua kenangan saat namanya disebut dan dipanggil oleh mulut-mulut yang berbeda.

“Karena mereka pernah melihat dan mengingatku,” si Putih tertawa kecil. Ia kembali menoleh ke arah Dai dan mendapati sepasang arang yang menatapnya. “Kau tidak akan mengerti seberapa bahagianya aku bila salah satu dari mereka, setidaknya, sedetik saja memanggil namaku kembali. Itu sebabnya aku selalu mengikuti mereka. Siapa tahu…” Si Putih menelan liur paksa. “Siapa tahu mendadak mereka bisa melihatku lagi.”

—meski kenyataannya itu hanya menjadi harpaan kosong.

Sesak di dada kian kentara. Si Putih menghembuskan nafas kasar. Ia memalingkan wajah dan kembali menatap ke arah jendela yang terbuka. Angin berhembus lembut membuat horden yang menggantung menari indah. Namun, sedikit pun, rasa sakit yang meremas jantung tak kunjung hilang.

Menatap ekspresi wajah dan mendengar apa yang dijawab si Putih, satu kata yang masuk ke dalam kepala reven itu. Kesepaian. Dengan mudah Dai menebak perasaan apa yang menyelimuti si Putih. Ah… Sudah berapa banyak waktu pria ini lewati? Sudah berapa banyak orang yang telah ia temui dan melupakannya? Sudah berapa banyak… Kematian yang terlihat di mata biru itu? Berpisah dalam artian yang sebenarnya… Tidak akan pernah bertemu kembali.

Apa kelak aku juga akan melupakan White?

Helaan nafas kembali terlontar. Pemuda berusia 20 tahun merubah posisinya menjadi bangkit berdiri dari kasur. Ia mengacak belakang rambutnya dengan geram.

“Kau membuatku jadi tidak mau tidur lagi,” komentarnya lalu berjalan mendekati si Putih. Alis si Putih terpaut mendengarnya. Ia mendongak menatap Dai dan reflek berteriak saat pemuda itu dengan seenaknya menggeser kursi yang tengah ia duduki dan ikut duduk di kursi itu. Dai mendengus. Tentu saja tubuhnya tembus, kenapa si Putih pakai panik segala?

“Kau mau apa?” tanya si Putih. Kesal karena tempat duduknya diambil, memaksa sosok itu bangkit dan memandang tindak tanduk sang Mahasiswa. Pemuda itu menghidupkan Komputernya yang mati—membuat sosok astral mengetahui apa yang hendak Dai lakukan. “Hey! Mandi dulu!”

“Berisik!”

Perempatan muncul di kepala. Kesal dengan balasan bocah kurang ajar di depannya. “Mandi dulu bocah bau!”

“Aku tidak—Aaargghh! KAU MENCABUTNYA LANGSUNG!?”

Si Putih tertawa—mengabaikan teriakan frustasi dan panik Dai karena komputernya yang baru saja hidup mendadak menampilkan black screen. Secepat kilat, si putih menghilangkan wujudnya—semakin membuat auman kekesalan menggema di rumah kosong yang hanya berpenghuni satu orang.

äää

Dai cukup tahu dirinya tidaklah gila, ia juga sangat tahu bahwa dirinya masih waras. Bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan sosial. Meski ia cenderung tidak banyak berbicara, namun sama halnya dengan remaja dan manusia pada umumnya, si Reven memiliki beberapa teman dekat. Ia bahkan sudah memiliki seorang pacar sejak 3 bulan yang lalu. Lalu apa yang salah? Mengapa dirinya masih bisa melihat si Putih? Mengapa ia masih bisa mengingat dan mengobrol dengan si Putih selayaknya ia masih kecil? Bahkan, keberadaan mahluk astral itu sudah menjadi bagian kesehariannya.

Dai pernah memeriksakan dirinya ke Psokolog dan Psikiater—seperti apa yang si Putih sendiri sarankan. Aneh memang, tetapi si Putih benar-benar takut ada yang salah dengan otak Dai. Well, berumur di atas 10 tahun namun tetap bisa melihatnya, sosok astral itu justru jadi panik dan takut sendiri. Aneh, si Pemuda justru biasa saja—tidak sehawatir itu, tetapi si Putih justru merasa ada yang salah.

Tetapi apa kata keduanya? Ia dikira mengidap skizofrenia pada awalnya, sebuah penyakit mental yang menyebabkannya berdelusi. Hanya perkiraan sementara, sampai kedua sosok itu menggelengkan kepala dan menyatakan sang Mahasiswa sehat. Bagaimana tidak? Dai bisa bersosialisasi dengan baik, mengungkapkan emosinya dengan lugas dengan tata bahasa yang mudah dimengerti, bukan tipe yang banyak bicara memang, namun tetap di dalam taraf yang normal. 5 bulan konsultasi dengan pisikolog dan 1 tahun selalu rajin ke psikiater, Doker menyatakan perkiraannya meleset. Pemuda ini sehat.

Helaan nafas terlontar, punggung disandarkan ke bangku, iris segelap langit malam menapat layar monitor yang menyala menyilaukan. Punggung dan bahunya pegal, namun jemari tidak henti mengetik. Ada sesuatu yang mengganggunya, ada sesuatu yang harus Mahasiswa itu selesaikan. Hal… Yang sejak lama sudah ia kerjakan sejak 2 tahun lalu namun urung belum selesai juga.

“Apa yang kau lakukan?”

Dai tidak kaget lagi dengan kemunculan si Putih yang mendadak. Keadaan kamarnya yang hening namun terang membuatnya menoleh—menatap si putih yang membungkukan tubuhnya dan memandang layar monitor yang menyala. Iris sebiru air memperhatikan setiap kata yang terukir. Alisnya mengernyit dalam.

“Bukannya sudah lama tidak kau buat?”

Iris gelap kembali fokus ke depan. Tangan yang semula berada di atas keyboard berpindah menjadi di atas mouse untuk mengganti ikon aplikasi yang tertera di layar, lalu tangan kembali berpindah memegang sebuah benda yang mirip dengan pena. Mulai fokus menggambar sketsa-sketsa virtual yang membentuk beberapa panel komik.

Helaan nafas terlontar dari sosok astral. Ia berbalik memandang pintu kamar yang tertutup rapat. Mendengar teriakan seorang wanita diluar sana yang menyerukan nama anaknya untuk segera turun dan makan malam. Kelereng biru beralih memandang ke jendela kaca yang sudah tertutup rapat—dengan horden yang masih terbuka dan memamerkan suasana remang-remang taman yang disinari lampu malam di bawah sana.

“Hey, Ibumu memanggil tuh—makan malam.”

“Hmm…”

“Dai!”

“Berisik Susu—“

“Si Putih!”

“Vani—“

“White!”

“Oke, White,” helaan nafas terlontar dari si Reven. Pemuda itu bangkit berdiri sebelum meng-save pekerjaannya. Sementara si Putih mendengus jengkel seraya bersedekap dada. Menatap punggung tegap yang ogah-ogahan keluar dari kamarnya yang sudah rapi.

Blam.

Sepasang safire menyendu saat pintu tertutup. Iris sewarna air kembali menatap layar monitor. Gambar kartun pemuda dengan senyuman ceria terpampang di sana. Sosok yang digambarkan Dai sebagai tokoh di dalam ceritanya. Sosok yang… Merefleksikan dirinya.

“Karena kebetulan warna rambut dan matamu unik.”

Sebuah senyuman kecil merekah. Sepasang iris biru terpejam—menahan sesak yang membahagiakan di dada. Ah… Kenapa rasanya ia jadi ingin menangis? Dai bahkan sudah menyiapkan ini sejak pemuda itu masih SD, menggambar di kertas buku tulis. Lalu saat SMP dan SMA, pemuda itu mulai menyusun plot—berlatih menggambar dengan lebih giat hingga 2 tahun lalu… Menjadi seorang komikus. Meski hanya menjadi asisten komik, namun pemuda ini mulai menyusun kembali ceritanya sendiri—menabung sedikit demi sedikit panel cerita berwarna demi sebuah tujuan yang sejak kecil ia rencanakan.

Sebuah tujuan yang tidak diketahui apa, namun si Putih tahu… Apapun itu, akan membuatnya merasa senang. Melihat bagaimana Dai tumbuh dari kecil hingga sekarang, melihat bagaimana pemuda itu tanpa ragu selalu mengselakan waktu untuk melatih otodidak dirinya sendiri, melihat bagaimana sang Mahasiswa berlahan mencapai sesuatu yang diinginkannya. Si Putih tertawa kecil. Oh, waktu benar-benar cepat sekali berlalu. Bocah kecil menyebalkan yang seenaknya memanggilnya ‘Kakek’ sekarang menjadi sosok menjelang Dewasa yang tetap menyebalkan, dengan panggilan ‘White’ yang sekarang tersebut di mulut itu.

äää

Keheningan melingkupi ruangan terang itu. Sosok pemuda terlihat fokus dengan apa yang ada di depannya. Iris gelap meatap layar komputer sementara tangan sibuk bergerak membentuk gambar visualisasi yang akan terlihat di layar. Warna demi warna beracampur di layer yang berbeda, line telah terbuat, kata demi manambah kesan hidup telah terpasang pada setiap page. Namun jemari masih bergerak. Tangan sesekali mengetik di keyboard dan sesekali memegang kembali penanya.

Sudah berapa jam berlalu?

Dai menghentik aksinya. Kelereng hitam memandang jam yang berada di sudut kanan bawah komputer. Alis si pemuda mengernyit. Jam 01.30 dini hari. Sudah sangat larut dan berarti sudah hampir 5 jam lebih ia berada di depan komputer. Namun, ketimbang bingung dengan aksinya yang terlalu fokus hingga lupa waktu, ia lebih heran dengan keberadaan si Putih. Ke mana sosok itu? Kenapa tidak muncul mengganggunya? Biasanya bila sudah tengah malam, sosok itu akan muncul—mengganggu atau sekedar basa-basi berceloteh tentang bahaya tidur terlalu larut.

Menatap sekeliling kamar yang familier, iris gelap itu bergerak liar. Tubuh berbalik ke belakang—memandang kamarnya lebih leluasa. “Susu?” panggilnya. Jeda beberapa detik, si Reven tidak menemukan tanda-tanda keberadaan si Putih. “Vanilla?”

Hening.

Alis kian mengernyit. Aneh sekali, dipanggil Susu atau Vanilla, si putih biasanya akan menyahut marah. Berkata itu bukanlah namanya dan lain sebagainya. Tetapi… Kenapa tidak ada yang menyahut? Pergi ke mana mahluk astral itu?

“Aku selalu mengikuti mereka meski mereka sudah tidak bisa melihatku lagi.”

Jantung Dai terasa mencelos. Ucapan si Putih mendadak masuk ke dalam pikirannya. Ucapan, yang jelas mengatakan bahwa si Putih tetap akan ada di sekeliling orang yang bisa melihatnya—bukankah berarti si Putih sekarang ada di sekelilingnya? Tetapi kenapa…

Apa aku sudah tidak bisa melihat White?

Sesak luar biasa menindih dada. Pemikiran itu membuat jantungnya terasa diremas. Dai menggigit bibir bawahnya lalu langsung berbalik dan kembali menghadap layar komputer. Tangan kembali bergerak liar. Melanjutkan pekerjaan yang tertunda meski sekarang, perasaannya sungguh campur aduk. Takut dan kesal menjadi satu, namun tuntutan kian memaksa fisik sang Mahasiswa.

Ia harus menyelesaikan apa yang sudah ia kerjakan. Sekarang juga—malam ini juga.

äää

Si Putih menelan liur paksa. Sepasang kelereng biru menatap tangannya yang perlahan berubah transparan. Wajahnya memucat—tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan fisiknya. Ada perasaan takut merayap di dada, terlebih kenyataan bahwa Dai tidak bisa melihat dan mendengar suaranya. Apa yang terjadi? Sungguh, sosok astral ini tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Sejak tadi ia tidur-tiduran di kasur si Reven. Menikmati keheningan sambil berpikir atau diam-diam mengutuk dan meledek Dai yang tengah asik bekerja. Dan saat sosok itu terlihat terlalu fokus, si Putih bersumpah baru saja berteriak untuk mengagetkan Dai.

Tidak berhasil.

Sosok itu tidak terpegaruh sama sekali. Awalnya si Putih mengira Dai bercanda, hingga mendadak pemuda itu menghentikan pekerjaannya dan mulai memanggil namanya dengan salah. Si Putih sudah menyahut, berteriak kembali dan bahkan mencoba memukul sosok itu. Tidak bisa… Dai tidak bisa ia raih. Lebih parah dari itu, perlahan bagian tubuhnya mulai menghilang dan muncul dengan sendirinya. Membuat si Putih kian merasa ketakutan.

Apa ini sudah waktuku?

Satu kesimpulan dan pemikiran masuk ke dalam kepala. Tubuh putih itu gemetar ketakutan. Dirinya akan menghilang. Setelah entah sudah berapa pertemuan dan perpisahan yang ia lihat, sekarang waktunya ia… Mengakhiri segalanya? Begitu saja? Tanpa sebab yang jelas sama seperti kemunculan dirinya yang tidak jelas asal muasalnya? Kenapa sekarang dirinya harus menghilang?

Si putih menggigit bibir bawahnya. Sesak luar biasa menindih dada. Matanya terasa panas. Tidak suka dengan pemikiran ia akan berpisah dengan sang Mahasiswa. Bocah itu masih harus diawasi… Dai masih suka terlambat bangun, pemuda itu masih suka ceroboh lupa membawa kotak pensilnya, anak itu bahkan harus diingatkan untuk mengerjakan tugasnya. Bagaimana bisa ia meninggalkan Dai yang ceroboh, pemalas dan kekanakan? Bagaimana bisa ia meninggalkan pemuda yang bahkan masih belum juga dewasa di usianya yang menginjak kepala dua?

Ia masih ingin bersama Dai.

Kumohon… Jangan sekarang… Jangan sekarang…

“White?”

Kepala putih menoleh cepat. Iris biru yang berkaca-kaca menatap ke arah meja komputer. Dai masih duduk di kurisnya, namun tubuh itu sudah berbalik. Menghadap ke arahnya. Menatap wujudnya seolah benar-benar bisa melihat keberadaan si Putih.

Kelereng safire menatap sang Mahasiswa dengan tidak percaya. “Kau bisa melihatku?”

Dai tidak menjawab pertanyaan itu. Iris gelap si pemuda menatap syock si Putih yang berada di dekatnya. Samar, ia bisa melihat bahwa si Putih berlahan mulai menjadi transparan. Kaki hingga lutut telah menghilang—membuat debar jantung tidak nyaman terasa menyesakkan dada.

“Apa yang terjadi denganmu?” tanya Dai. “Kau—“ ucapan terhenti. Dai menelan liur paksa. “Apa ini waktuku? Apa ini… Apa ini saatnya aku tidak bisa melihatmu lagi?”

Si Putih terkekeh pelan mendengarnya. Ia menyeka mata—mencegah kristal cair lolos membasahi pipinya. Ucapan Dai, entah kenapa membuatnya merasa terhibur. Pemuda itu sama sepertinya. Takut.

“Tidak,” jawab si Putih. “Tubuhku… Tubuhku akan menghilang,” ia menunduk. Menatap kakinya yang telah menghilang lalu kembali menatap Dai. “Sepertinya ini memang sudah waktuku untuk menghilang,” kedua bahu terangkat acuh tak acuh. Senyuman getir merekah. “Tetapi setidaknya, aku diberikan waktu untuk mengucapkan perpisahan kan?”

Dai tidak mengatakan apapun mendengarnya. Rahangnya mengeras, kedua tangannya terkepal erat. Beberapa detik keheningan yang menyesakkan memenuhi ruangan. Sosok reven menelan liur paksa. Nafasnya terasa berat—sesak dengan kata perpisahan yang terucap dari bibir itu. Sepasang irias gelap terpejam. Dai menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara berlahan. Rasa sakit yang menggores dada tetap terasa, namun setidaknya hal ini mampu membuatnya mengendalikan emosi yang terasa meledak-ledak.

“Aku mengerti,” ucapnya pendek. “Bagaimana pun, kita tetap akan berpisah kan?”

Si Putih, sekali lagi tertawa kecil mendengar ucapan Dai yang terdengar dingin. “Apa-apaan itu? Tidak ada kata-kata manis untukku?” gerutunya geli.

Dai mendengus. “Kata-kata manis untuk laki-laki? Maaf, aku bukan homo.”

Gelak tawa si Putih meledak mendengarnya. Ia menggeleng tidak percaya bahwa Dai akan mengatakan hal itu. “Oh, aku tahu, kau kan sudah ada pacar,” mahluk astral itu tertawa namun beberapa detik kemudian, tawa itu mereda. Iris biru menatap sedih kedua tangannya yang sudah menghilang sempurna. Helaan nafas terlontar.

“Rasanya aneh sekali,” lirihnya. “Aku tidak hidup, tetapi kenapa bisa akan menghilang—“

“Kau hidup,” sela Dai. Si Putih terdiam mendengarnya. Iris biru kembali menatap sang Mahasiswa dengan bingung. “Kau memang tidak tumbuh, tidak bernafas, tidak memerlukan makanan,” jeda beberapa detik. Dai menggeser kursinya hingga menampilkan layar monitor yang menampilkan panel gambar seorang pemuda yang tersenyum ceria. Sosok berambut putih dengan sepasang iris berwarna biru.

“Tetapi kau menyimpan ingatan dari semua pertemuan dan perpisahan, kau merasakan senang dan marah, kau merasakan sedih dan malu,” sebuah senyuman kecil merekah. “Kau hidup… Karena kau bisa merasakannya.”

Jemari bergerak menggeser layar. Menampilkan nama seorang pemuda yang menjadi tokoh utama di dalam komik yang Dai gambar. “White, akan kubuat kau lebih hidup di dalam ceritaku. Di dalam ceritaku, kau akan bahagia. Tidak ada perpisahan, tidak akan ada… Yang melupakanmu. ”

Deg!

Tetesan kristal cari jatuh membasahi pipi. Sesuatu yang hangat dan menyesakkan menyelimuti hatinya. Tanpa bisa menahan diri, si Putih mengkulum senyuman. Tidak percaya dengan kata-kata yang mengalun merdu di pendengaran.

“Terima kasih,” ucap si Putih tulus. “Terima kasih Dai, terima kasih…”

Dai tersenyum mendengarnya. Ia menggelengkan kepala pelan. “Aku yang seharusnya berterima kasih,” akunya jujur. Di rumah besar ini, selama 15 tahun si Putih menemaninya. Menjadi temannya yang menyebalkan, menjadi orang tuanya yang cerewet, menjadi sahabatnya yang menyenangkan. Si Putih… Sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri—keluarganya sendiri.

Kekehan kecil terdengar. Isak tangis diiringi tawa mengalun merdu.

“Aku menyayangimu,” bisiknya pelan diiringi hembus angin yang membawa sosok putih itu benar-benar menghilang dari pandangan sepasang iris gelap yang menatapnya.

“…..”

Sepasang iris gelap menyedu. Fokusnya hilang. Untuk beberapa detik, keheningan menyergap ruangan kamar yang rapi itu. Namun, beberapa saat kemudian, sepasang mata mengerjap bingung. Sesuatu yang kosong seolah merobek jantungnya—membuatnya benar-benar ingin menangis. Sakitnya luar biasa menyiksa. Membuat perutnya ikut bergeliat aneh dan memberikan friksi yang tidak menyenangkan. Seolah-olah ada yang hilang, seolah-olah… Ada hal penting yang telah pergi. Tetapi apa…? Apa yang penting itu? Apa yang menghilang?

Sang pemuda menelan liur paksa. Debar jantungnya berdegup menyesakkan dada. Nafasanya terasa berat. Namun, saat iris gelap menatap komputer, sebuah senyuman kecil yang dipaksakan merekah. Jemari mengetik pada sebuah kolom. Kata yang harus segera ia ketik untuk menyelesaikan komik yang sudah lama ia buat.

The End.

Dua kata penutup terketik apik. Sebelah tangan kembali memegang mouse. Tools di matikan, kursor bergerak kembali untuk mengganti nama folder yang sebelumnya hanya bertuliskan ‘New Folder’. Ah… Judul apa yang harus ia ambil untuk komik pertamanya ini? Alis mengernyit. Mendadak, sesuatu yang ganjal masuk ke dalam kepala. Kekehan kecil mengalun. Ia menggeleng tidak percaya namun nama itulah yang terpikirkan di dalam kepalanya. Sebuah nama konyol, namun entah kenapa, terasa sangat cocok.

“Susu Vanilla.”

Untuk sosok berambut putih dan bermata biru. Yang bertingkah manis seperti susu, namun tidak selalu disukai padahal mengandung gizi yang baik. Susu Vanilla. Panggilan aneh untuk karakter yang telah hidup di dalam ceritanya.

äää

END

10 dukungan telah dikumpulkan

Comments