Thank You Good Bye

12 months ago
Afita G.

by: Afita G.

Buku-buku catatan dan latihan soal tertata rapi di meja. Seorang gadis sedang fokus mengerjakan kumpulan latihan soal fisika. Dia seorang diri di dalam kamarnya. Dia hanya menggunakan lampu belajarnya. Lampu kamarnya sudah dia matikan sejak 3 jam yang lalu. Jam menunjukkan pukul 11.50 malam. Gadis itu masih belum tertidur juga. Sampai jam menunjukkan waktu pukul 03.00 dini hari. Gadis itu masih sibuk berkutat dengan apa yang sedang ia kerjakan.

Hari sudah pagi. Sapaan siulan burung terdengar olehnya. Sinar matahari mencoba masuk melalui celah antara dua gorden yang menutupi jendela kamarnya. Dia meregangkan persendiannya di tempat dia duduk semalaman. Dia berjalan ke arah jendela untuk membuka gorden sekaligus jendela kaca kamarnya. Gadis itu menghirup segarnya udara pagi. Matanya menatap kosong ke langit. Sebentar lagi, masa-masa sekolahku akan berakhir. Pikirnya.

“Nak, kamu sudah bangun?” Suara ketukan pintu sekaligus seseorang dibalik pintu itu terdengar nyaring. Gadis itu menghela napas. Dia berjalan ke arah pintu.

“Iya ma, Aku sudah bangun dari tadi.” Dia menjawabnya sambil membuka pintu. Ibu gadis tersebut kini tersenyum manis dan mengusap kepala anaknya. Meskipun dia sudah tua tetapi dia tetap terlihat cantik. Gadis itu membalas senyuman ibunya. Gadis itu merangkul ibunya.

“Ayo sarapan!” Kata ibunya dengan lembut. Gadis tersebut mengangguk mengiyakan. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke ruang makan.

Setelah selesai sarapan sambil membantu ibunya mencuci piringnya gadis itu berkata, “Ma, hari ini hari ujianku yang terakhir. Doakan aku bisa melakukan yang terbaik untuk ujian hari ini ya, ma.” Ibunya tersenyum kepadanya. “Iya sayang, mama selalu mendoakan yang terbaik untuk anak mama.”

Dering telepon dari ruang keluarga terdengar nyaring. “Aku saja ma, yang mengangkatnya.” Gadis itu berlari kecil menuju asal suara deringan.

Gadis itu menggeser tombol hijau di layar handphone ibunya. Kemudian, ia mengeklik loudspeaker dan memberi jarak antara handphone dan wajahnya. Dia menanggapi video call dari kakaknya sambil duduk manis di sofa.

“Halo Nara! Apa kabar? Sudah kuduga pasti kamu yang akan mengangkatnya, hehe.” Kakak perempuannya menyapanya dari sebrang sana. Suasana di sebrang sana gelap, menunjukkan bahwa di sana masih malam. Tetapi, malam di London tidak sesepi malam di Indonesia.

“Halo kak, aku sama mama baik-baik saja, kok, nggak ada yang perlu dikhawatirin. Ngomong-ngomong apa kabar kak, kapan pulang ke Indonesia?” Gadis tersebut tersenyum ceria. Melihat dan mendengar suara kakaknya yang dirindukannya. Ibu gadis tersebut datang menghampirinya.

“Syukurlah, aku disini juga baik-baik saja kok. Bulan Juli mungkin aku baru bisa pulang. Kamu semangat ya ujiannya! Mama!” Kakaknya terkejut melihat ibunya yang tiba-tiba ada di samping adiknya. Gadis tersebut tertawa geli melihat kakaknya yang terkejut.

“Kok kakak bisa tau aku lagi ujian?” Tanya gadis tersebut kebingungan. Kakaknya tersenyum. Ibunya pun juga melakukan hal yang sama seperti kakak dari gadis tersebut. Gadis bernama Nara itu kebingungan.

“Ya, dong. kan ada mata-mata kakak di situ.” Kakaknya tersenyum jahil.

“Ah, kakak masa’ nganggap ibunya mata-mata, ibu, kan, tetap ibu.” Ibunya menanggapi pernyataan kakaknya. Nara menunjukkan ekspresi terkejut. Dia tidak menyangka bahwa ibu dan kakaknya sudah tahu kalau hari ini adalah ujian terakhirnya, padahal dia tidak pernah cerita kepada mereka sama sekali.

“Yasudahlah, pokoknya itu saja yang bisa kakak sampaikan ke kamu. Kakak sudah ngantuk banget, sekarang tengah malem disini. Semoga sukses ya adikku. Bye mama, bye adik.” kakaknya melambaikan tangannya ke layar handphonenya. Nara pun melambaikan tangannya.

“Makasih kak. Bye kak.” Kakaknya tersenyum dan mengangguk.

“Ya sudah, kalau begitu cepetan bersiap-siap ya, sayang. ibu tunggu di luar.” Ibunya mengusap kepala Nara lembut. Nara bangkit dari duduknya. Nara berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya.

Nara mematut-matut dirinya di depan cermin yang berdiri di kamarnya. Nara mengenakan atasan putih dan rok putih di bawah lutut. Dia memakaikan tambahan rompi batik biru. Dia terlihat seperti gadis SMP tapi kenyataannya dia adalaha seorang gadis SMA. Nara menyisir rambutnya yang panjangnya sampai ke siku kemudian menariknya kebelakang dan mengikatnya.

“Bismillahirahmanirrahim.” Nara mengucapkan basmalah di depan cerminnya. Dia mengambil tas selempangnya yang dia gantungkan di samping lemari pakaiannya. Dia berjalan membuka pintu dan berjalan menuruni tangga.

Ibunya yang sedari tadi sudah siap di luar menunggunya di dalam mobil yang terpakir di luar pagar. Ibunya sudah mengenakan baju dinasnya sebagai dosen di sebuah universitas swasta. Setelah mengunci pagar, Nara segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping ibunya yang sedang menghidupkan mesin mobil. Setelah Nara memakai sabuk pengamannya ibunya langsung melajukan mobilnya perlahan.

Sesampainya di depan gerbang sekolah Nara berpamitan ke ibunya. Nara keluar dari mobil lalu menarik napas dan menghembuskannya. Ia mengedarkan pandangannya, banyak siswa siswi kelas 12 berlalu lalang di depan matanya. Ada yang asik bercengkrama dengan temannya, menghafal rumus bahkan ada juga yang berjalan gontai sambil menguap. Dia berjalan dengan santai namun tetap memancarkan aura dingin sekaligus percaya dirinya. Sesampainya di depan gedung sekolah ada seseorang menepuk bahunya.

“Hai.” Sesosok remaja laki-laki tersenyum lebar. Ekspresi Nara yang biasa saja bahkan kelewat biasa itu membuat laki-laki tersebut tertawa. Nara sudah terbiasa dengan sapaan dari sahabat baiknya itu.

“Ah, maaf anda siapa ya?” Nara berpura-pura tidak mengenalnya.

“Oh, anda belum tahu nama saya ya? Hmm.. padahal saya ini lumayan populer lho. Kalau begitu perkenalkan saya Ardeo.” Laki-laki tersebut menjawabnya dengan gaya yang sok. Hal itu mengundang gelak tawa dari Nara, meskipun tidak tertawa lebar tetapi setidaknya dia terlihat tertawa. Melihat Nara tertawa pemuda yang bernama Ardeo tersebut tersenyum puas.

“Maaf sepertinya anda tidak terlalu populer, karena saya tidak mengenal anda.” Kali ini giliran Ardeo yang tertawa. Nara hanya menunjukkan sikap cueknya. Gadis itu memang dingin ketika di lingkungan luar rumah, tapi sebenarnya dia adalah gadis yang paling lembut dan manja.

“Apa kamu gak tidur lagi semalam?” Karena tinggi Nara hanya sebahunya, Ardeo menunduk dan mendekatkan mukanya ke wajah Nara. Karena sadar wajah mereka terlalu dekat, pipi mereka memerah. Ardeo langsung memalingkan wajahnya dari Nara. Begitu pula Nara. Mereka berdua diam sejenak. Mereka berjalan masuk ke gedung sekolah tanpa ada yang berbicara di antara mereka.

“Ehm.. aku tadi gak tidur lagi.” Nara tersenyum menunjukkan wajah polosnya. Ardeo tertegun. Ada sesuatu yang berdesir di hatinya. Ya, gadis itu bisa mempengaruhi siapapun yang melihat senyumannya.

“Kamu tuh ya, udah pinter tapi tetap saja maksain diri. Aneh, deh. Kalo aku mungkin pantas-pantas saja ngelakuin sistem kebut semalam.” Ardeo nyengir kuda. Nara hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah aneh yang ditunjukkan sahabatnya.

“Ya mau gimana lagi, rasanya, tuh ada yang kurang kalo gak belajar semalaman. Oh, iya, hari ini aku dapat sesi pertama kamu sesi berapa?” Nara berhenti dan mengajak Ardeo duduk di kursi taman. Ardeo duduk di samping Nara. Ardeo memejamkan matanya berpura-pura sedang berusaha mengingat.

“Aku sesi kedua. Yah, nggak bisa pulang bareng dong.” Nara hanya mengendikkan bahu dan memiringkan sudut bibirnya.

“Sebentar lagi kita lulus ya. gak kerasa hampir 3 tahun sejak awal kita kenalan. Ngomong-ngomong kamu sudah mutusin kuliah dimana?” Ardeo sedikit membungkuk tetapi pandangannya tetap menuju ke depan. Sikunya dia gunakan untuk menumpu di pahanya. Nara menengadahkan kepalanya. Dia menerawang ke langit sambil berpikir sejenak. Dia menghela napas pelan.

“Entahlah, aku masih ragu dengan hal itu, bagaimana denganmu?” Giliran Ardeo yang menghela napas. Dia menggeleng pelan .

Riiing.. Bagi peserta ujian sesi pertama harap memasuki ruangan, ujian sesi pertama akan segera dilaksanakan, riiing..

“Oh, sudah waktunya.. kalau begitu aku ke ruanganku dulu ya. sampai nanti, Ar.” Nara melambaikan tangannya lalu berlari kecil ke ruangan ujiannya yang kebetulan dekat dengan tempatnya duduk. Ardeo hanya bisa melihat punggung sahabatnya sampai gadis itu masuk ke dalam ruangan tersebut. Dia menghela napas secara kasar. Dia mengacak rambutnya sendiri dengan tangan kanannya. Kemudian dia menangkupkan kedua tangannya di mukanya.

“Maaf, Ra, sebentar lagi kita akan berpisah, dan aku takut kamu marah kepadaku. Maaf.” Tatapannya kosong. Banyak hal yang membebaninya selama ini. Setelah berdiam diri selama beberapa menit dia mengalihkan perhatiannya dengan membaca buku dari dalam tasnya. Isi buku tersebut penuh dengan coretan not balok untuk sebuah pertunjukan. Dia bersenandung pelan membaca not-not tersebut. Judul komposisi yang dia pilih saat itu adalah Nocturne No. 2 Op. 9 karya Frederic Chopin.

Setelah selesai sampai not terakhir Ardeo menutup buku kumpulan notnya dan memasukkannya ke dalam tas. Dia beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan ke dalam gedung sekolah dan menaiki tangga. Dia telah melewati lantai kelima sampai akhirnya dia sampai di rooftop gedung utama sekolahnya. Dia berbaring menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya sambil memejamkan mata.

Setelah puluhan menit berada di rooftop dan mulai merasakan teriknya sinar matahari yang membuatnya kepanasan, dia kembali turun. Dia kembali ke tempat duduknya bersama Nara pagi tadi. Karena bosan menunggu Nara yang tak kunjung keluar dari ruangan ujiannya, dia memejamkan matanya sejenak.

Riiing.. Sesi pertama ujian telah selesai, bagi peserta ujian sesi pertama harap segera meninggalkan ruangan, riiing..

Ardeo terbangun karena mendengar bel berbunyi nyaring. Dia memperbaiki posisi duduknya lalu memejamkan mata lagi. Dia berencana menjaili Nara.

Nara bergidik ngeri setelah merasakan sesuatu yang aneh. Nara bangkit dari tempat duduknya, dia sudah selesai men-submit soal ujiannya sedari tadi. Dia dan teman-temannya satu persatu keluar dari ruangan ber-AC yang penuh dengan kabel. Di luar ruangan ujian dia meregangkan tubuhnya. Nara mengedarkan pandangannya dan mendapati Ardeo sedang memejamkan matanya di kursi taman yang tadi. Nara berniat mengejutkan Ardeo. Nara mengendap-endap mencuri kesempatan untuk mengejutkan sahabatnya itu.

“Waa!” Bukannya Ardeo yang terkejut malah yang terjadi justru sebaliknya. Nara tidak tahu bahwa Ardeo dalam keadaan sadar. Nara menggembungkan pipinya. Ardeo tertawa melihat Nara yang sebal terhadapnya sedangkan Nara hanya terpaku begitu saja. Beberapa detik selanjutnya Nara meledek Ardeo dengan menjulurkan lidahnya lalu beranjak pergi dengan melangkahkan kakinya lebar-lebar. Dia meninggalkan Ardeo yang masih tertawa sambil memejamkan matanya. Ardeo yang baru menyadari bahwa Nara sudah tidak ada di sekitarnya terdiam sesaat. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut yang mampu dia jangkau. Dia melihat sekelebat bayangan Nara. Dia berdiri dan segera beranjak  menyusul Nara.

“Nara tunggu!” Ardeo berusaha mengejar Nara. Nara menghentikan langkahnya di depan kantin bersamaan dengan Ardeo yang berhasil meraih tangannya. Pada saat itu ada sesuatu yang berdesir di dalam hatinya. Nara segera melepaskan cengkraman Ardeo.

“Karena kamu tadi ngeselin jadi, kamu yang traktir aku.” Ekspresi Ardeo datar. Dia mengatakan “Hah” di dalam hatinya. Dia menggelengkan kepalanya. Ardeo mengepalkan tangannya untuk meredam emosi sesaat. Setelah itu dia menghela napas.

“Ya, anggap saja ini sebagai pengganti atas perbuatanmu tadi.” Ekspresi Datar Nara dan sikapnya yang tenang membuat Ardeo mengurungkan niatnya untuk menjitak kepala sahabatnya. “

Baiklah, kamu pesan apa?” Nara mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat kosong bagi mereka.

“Aku kayak biasanya aja, deh, aku tungggu di sana, ya?” Ardeo mengangguk. Dia pergi ke konter kantin untuk memesan bakso dan es teh untuk Nara.

“Nih, Ra. Habisin, ya.” Ardeo menyerahkan semangkuk bakso dan segelas es teh untuk Nara. Nara kebingungan karena Ardeo tidak ikut makan bakso.

“Aku habis ini ke ruangan ujian, jadi, aku makannya nanti aja.” Seakan tahu apa yang dipikirkan Nara, Ardeo menjawabnya dengan santai. Nara mengangguk lalu melahap baksonya.

Riiing… Bagi peserta ujian sesi kedua harap memasuki ruangan, ujian sesi kedua akan segera dilaksanakan, riiing..

“Tuh, kan, aku bilang juga apa. ya, sudah aku ke ruangan dulu. Sampai nanti.” Ardeo melangkahkan kakinya keluar dari kantin. Nara hanya menatap punggung sahabat yang menghilang di ujung belokan. Tidak lama kemudian dia kembali melahap baksonya.

Suasana langit tampak berubah setelah Nara menghabiskan santapannya. Dia memilih segera meninggalkan sekolah karena dia khawatir akan terjebak dalam hujan dan tidak bisa pulang sampai hujan reda. Dia menunggu taksi lewat di depan gerbang sekolahnya. Ketika taksi datang, Nara segera masuk ke dalam taksi karena di luar mulai gerimis. Di dalam taksi dia hanya berdiam diri, menatap kosong keluar jendela.

Sesampainya di rumah dia langsung menuju ke kamar. Dia berbaring di kasurnya tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu. Dia mengirim pesan singkat ke Ardeo.

Ar, sorry aku langsung pulang. Hujan. sejurus kemudian Nara terlelap.

Beberapa hari setelah ujian berakhir..

Nara berbaring di kasurnya setelah selesai merapikan kamarnya. Dia menutup matanya dengan tangan kanannya. Nara masih bimbang dengan apa yang ia tuju.

Setelah menimbang-nimbang cukup lama Nara akhirnya memutuskan apa yang akan ia tuju. Nara mengirim pesan singkat ke Ardeo.

Hey, Ar, aku sudah membuat keputusan, aku kali ini sangat yakin dengan pilihanku. Ayo kita bertemu di taman!

“Jadi, gimana? Apakah kamu sudah memutuskannya?” Nara mengangguk pasti. Suasana taman yang cukup lengang menjadi saksi percakapan mereka berdua.

“Aku mau ke fakultas kedokteran di UI. Kalau kamu bagaimana? Apa kamu juga sudah memutuskannya? Kalau sudah, kamu akan kuliah di mana?” Nara menatap Ardeo secara intens. Mengharapkan sebuah jawaban yang membuatnya bahagia. Ardeo menghela napasnya.

“Ya, aku juga sudah. Aku akan ambil beasiswa ke sekolah seni di Belgia.” Raut muka Nara seketika berubah. Dari yang awalnya sangat ceria dan bersemangat kini berubah menjadi suram.

“Bukankah, bukankah itu artinya kita akan berpisah? Kamu tidak berbohong, kan? Kamu pasti bercanda, iya, kan?” Nara menunjukkan ekspresi tidak percaya seakan-akan tangisnya akan pecah saat itu juga.

“Nggak, Ra, aku nggak bohong. aku sudah mendapat tawaran beasiswa tersebut sejak aku 14 tahun. Kamu tahu, kan kalau aku bisa bermain piano. Itu sudah menjadi passionku sejak belasan tahun yang lalu.” Ardeo berusaha meyakinkan Nara. Nara mengelengkan kepalanya dengan keras. Berharap hal ini adalah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi.

“Kalau begitu jangan pernah menemuiku sampai selesai wisuda nanti!” Air matanya sudah tak terbendung lagi. Isak tangis Nara menghiasi malam di taman yang sepi di antara mereka berdua. Nara menangis sejadi-jadinya.

“Baiklah kalau itu maumu, aku akan melakukannya. Aku tidak akan mengijinkanmu menarik kata-katamu itu!” Ardeo mengatakan hal itu dengan penuh penekanan. Dia tahu seharusnya dia tidak memperlakukan sahabatnya seperti itu, apalagi dia adalah gadis yang dia suka selama ini.

Hari wisuda…

Hari yang dinantikan telah datang. Sampai saat ini Nara dan Ardeo masih belum menemukan titik terang dari masalah yang mereka hadapi. Ada dinding tebal tak kasat mata yang memisahkan mereka berdua saat ini.

Nara dan ibunya sudah siap dengan riasan dari salon rias dan pakaian kebaya berwarna ungu dan merah muda yang serasi membuat mereka terlihat seperti kakak dan adik. Seperti biasa, ibunya melajukan mobilnya menuju sekolah Nara. Setelah ibunya memarkirkan mobilnya Nara mengajaknya ke aula.

Sebelum acara wisuda dimulai, Nara pergi ke kelasnya Ardeo. Dia ingin bertemu Ardeo saat itu juga tetapi yang dia temui justru teman-teman sekelas Ardeo. Dia menanyakan ke Rio, salah satu teman dekatnya Ardeo.

“Rio, Ardeonya ada?” Yang ditanya menggeleng, “Nih, dari Ardeo.” Rio memberinya sepucuk surat. Nara langsung membacanya.

“Nara bisa temui aku di kelasku setelah wisuda? Ardeo.” Nara tidak mengerti. Dia langsung menggenggam surat tersebut dengan erat. Dia benar-benar pusing memikirkan hal yang terjadi antara mereka berdua baru-baru ini.

Dia berlari keluar dari kelasnya Ardeo menuju ke kelasnya. Dia membiarkan ibunya menunggunya di aula. Nara berusaha menenangkan pikirannya. Dia berusaha menahan air matanya. Sesampainya di kelas dia menghentikan langkahnya. Dia menutup pintunya. Dia bertahan dalam posisi berdiri dibalik pintu.

“Tak kusangka kamu benar-benar melakukannya Ar, aku nggak habis pikir sama jalan pikirmu. Apa yang bisa aku lakukan sekarang?” Nara terdiam. Dia menarik napas sekuat-kuatnya, lalu menghembuskannya perlahan. Dia memejamkan matanya sejenak. Dia memasukkan surat yang sedari tadi dia genggam ke dalam tas kecil yang dia bawa. Setelah dia merasa benar-benar siap untuk mengikuti upacara wisuda, dia berbalik badan dan membuka pintu kelasnya. Dia melangkah pergi ke aula.

Upacara wisuda berlangsung dengan khidmat. Nama Nara dipanggil karena dia adalah siswi dengan nilai terbaik di sekolahnya. Nara maju ke panggung aula dan mendapat medali kehormatan. Rentetan acara upacara wisudanya berakhir setelah pentas seni. Setelah upacara wisuda selesai, Nara dan ibunya sudah berada di dalam mobil tetapi suasana parkiran masih ramai. Nara baru teringat tentang surat yang dia terima.

“Ma, tungguin aku ya, aku masih ada urusan di kelas.” Ibunya mengangguk mengiyakan. Nara berlari kecil menyusuri koridor yang masih ramai dengan siswa-siswi yang masih ingin menetap di sekolah.

Nara berhenti tepat di depan pintu ruang kelasnya Ardeo. Dia mengatur napas sejenak. Dia membuka pintu tersebut dan mendapati seseorang yang sangat dia rindukan.

“Ardeo.” Lirihnya. Ardeo memakai kemeja putih dan celana hitam dengan jas hitam yang disampirkan di bahunya. Suasana kelas sangat sepi, hanya ada mereka berdua di dalam kelas tersebut.

Ardeo menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Dia menatap Nara yang sedang berdiri 4 meter di depannya. Ardeo tersenyum tipis.

“Apakah kamu jelmaan dari bidadari? Kamu sangat cantik hari ini.” Pipi mereka bersemu merah tetapi pipi Nara lah yang lebih merah.

“Terima kasih sudah mau kesini Ra, jujur sebenarnya aku juga gak tahan ingin segera menemuimu, tapi aku memegang kata-kataku, dan ada sebuah hal yang ingin aku katakan, aku suka sama kamu, Ra.” Ardeo tersenyum tulus. Nara pun terkejut akan perkataan Ardeo.

“Maafkan aku yang terbawa emosi saat itu, Ar, aku benar-benar nggak bermaksud nyakitin kamu. Aku seharusnya senang mendengar penyataanmu saat itu. Aku juga suka sama kamu dan kamu tahu apa jawabanku, kan?” Nara memberikan senyuman manisnya. Ardeo menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia mengerti apa yang dimaksud.

“Terima kasih Nara.” Ardeo dan Nara tersenyum tulus.

Sejak saat itu mereka menjalani hidup mereka masing-masing. Melakukan sebuah perjalanan mengejar impian mereka yang sebentar lagi terwujud. Perlahan tapi pasti mereka melangkah maju. Segalanya berubah digital. Meskipun mereka menjejakkan kaki pada jalan yang berlawanan arah, mereka tetap terhubung karena efek digitalisasi saat ini. Tahap demi tahap mereka lalui. Nara berhasil menjadi mahasiswi kedokteran dan berhasil menjadi seorang dokter yang sukses sedangkan Andreo menjadi lulusan sekolah seni terbaik dan memulai debutnya sebagai pianis di Belgia disponsori oleh perusahaan agensi besar yang menaunginya. Banyak perubahan yang mereka alami. Nara memotong rambutnya sebahu dan Ardeo bertambah tinggi dan mengenakan kacamata. Saat ini hanya ada satu keinginan mereka. “Aku ingin bertemu denganmu.” Itulah yang mereka katakan satu sama lain.

46 dukungan telah dikumpulkan

Comments