The Breakdown

1 year ago
Jagatnata Adhipramana

by: Jagatnata Adhipramana

Di sebuah ruang baca yang tak terlalu luas, kau bisa melihat Alwi duduk di ruang baca dengan setumpuk buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Terlebih di tengah-tengah kesuntukannya mengerjakan sejumlah pesanan kliennya yang jumlahnya luar biasa, namun bayarannya tidak sebanding. Lalu tanpa terasa alarm di ponselnya berbunyi nyaring.

“Ayo Alwi!” kataku memukul pintu, membuyarkan lamunan anak kurang ambisi itu, “Waktunya prospek[1]!”

Dia pun langsung berdiri, cepat, tak lamban seperti biasanya. Aku tersenyum lebar, mengetahui setidaknya ada sedikit harapan di dalam diri anak bungsuku ini. Biasanya yang dia lakukan sepanjang hari hanyalah duduk di depan komputer sambil melakukan pekerjaan tak berguna yang ia sebut ilustrator. Absurd! Orang menggambar itu bukan pekerjaan! Itu hobi! Mereka yang mengaku sebagai seniman gambar biasanya adalah orang-orang yang hanya bisa mengeluh dan meratapi nasib, sama sekali tak mampu membangun perencanaan masa depan yang lebih baik! Pikiran mereka sempit dan kolot! Mereka memandang uang sebagai sebuah kenajisan meskipun pada nyatanya mereka tak dapat hidup tanpa uang! Bisa-bisanya anak ini terjerumus ke dalam dunia orang-orang tak punya masa depan seperti itu!

Tapi semua kesuraman ini akan segera berakhir! Sudah sebulan ini aku menatarnya baik-baik mengenai segala keterampilan pemasaran yang aku miliki. Aku tetap membiarkannya melakukan hobi tak bergunanya itu, tapi sekarang selama dua jam sehari ia mau mendengarkanku bicara soal pemasaran dan cara membuat prospek kita closing[2]. Ha! Mungkin dia sudah insaf dan mulai menyadari bahwa profesinya itu tidak mampu menghasilkan uang yang cukup bagi dirinya!

Aku pun langsung mengemasi berkas-berkasku ke dalam tas jinjing sembari menyuruh Alwi untuk bergegas, “Alwi! Cepat! Nanti kita terlambat!”

Ia pun turun dengan memakai kemeja denim merah dan celana jins biru tua. Aku membelalak tidak percaya melihat penampilannya seperti itu padahal saat ini kami hendak menemui seorang klien penting.

“Pakaian macam apa itu? Calon nasabah kita ini seorang dokter, Wi! Masa kamu mau temui dokter dengan celana jins dan kemeja denim? Pakai kemeja lengan panjang, dasi, dan celana kain sana!”

“Lho, Papi kan pernah dengar pepatah Sun Tzu ‘Kenali Musuhmu!’. Nah, Papi tahu nggak kalau Pak Dokter yang bakal kita temui ini kesehariannya suka karaoke lagu-lagu rap. Makanya aku dandan kayak gini supaya pendekatannya lebih personal gitu loh, Pi!”

Masuk akal! Pendekatan tenaga pemasaran asuransi secara konvensional sering menghadapi masalah dan menghasilkan sejumlah besar prospek tanpa closing. Siapa tahu inovasi bocah ini bisa berhasil. Siapa tahu? Dunia pemasaran terus bergerak maju dan kini telah beranjak menjadi marketing berbasis komunitas. Pendekatan pemasaran melalui komunitas yang berisi orang-orang dengan ketertarikan yang sama diklaim para trainer marketing terkemuka telah membawa hasil yang lebih baik daripada marketing konvensional, jadi percobaan Alwi tak sepenuhnya buruk, meski aku harus mewanti-wantinya untuk tidak berpenampilan seperti itu ketika kami harus menghadapi profesional senior yang sepanjang hidupnya bekerja di kantor bergengsi.

Ketika Alwi mengunci pintu rumah, aku segera berjalan ke mobil dan mencoba membuka pintunya, tapi ternyata masih terkunci.

“Alwi, buka dong pintunya!” ujarku lagi.

“Ngapain Pi? Kita kan naik motor?” jawabnya dengan ekspresi tanpa dosa.

Astaganaga! Celaka tiga belas! Ternyata penataranku dua jam sehari masih kurang untuk membuat bocah ini paham tentang apa itu pencitraan martabat! Menemui seorang dengan status sosial tinggi itu sebisa mungkin menggunakan kendaraan roda empat, kalau perlu dari merk yang ternama dan terpercaya kualitasnya supaya memberi kesan bahwa kita adalah seorang yang profesional dan dapat dipercaya. Mendatangi mereka dengan kendaraan roda dua secara tidak langsung sama saja menyatakan bahwa : ‘Ah! Kamu mah masih junior, masih miskin, masih belajar, belum layak aku percayai sebagai mitra bisnis yang setara!’. Survei membuktikan bahwa tenaga pemasaran yang tak bisa mencitrakan diri sebagai profesional akhirnya berakhir ke dalam keterpurukan alias sering gagal mendapat nasabah.

“Bodoh! Tolol! Pakai mobil lah! Kan kita mau ketemu seorang dokter! Kalau kena panas matahari, kepala Papi dan kamu bakal kelihatan kusut dan keringatan, baju juga lusuh dan basah karena keringat! Pikiranmu ke mana sih?”

“Yah Papi, kan naik motor lebih hemat dan cepat. Lagian ini jam berapa, Pi? Jam 11 siang kan? Jalanan macet Pi! Janjian dengan Pak Dokter kan jam 12 siang kan, pas jam makan siang. Kalau naik mobil nggak ngejar Pi!”

“Kamu sih gambar-gambar tidak berguna sampai siang! Harusnya kita berangkat mulai jam 9 tadi! Bodoh kamu!”

“Iya, iya, Pi. Alwi minta maaf! Kan namanya juga belajar?” jawabnya sambil nyengir.

“Kalau sudah 10 kali ‘belajar’ tapi nggak sadar-sadar itu namanya bebal!” gerutuku sembari meraih helm yang kurasa kondisinya masih cukup baik supaya tidak terlalu memalukan andai saja dokter itu melihatku dan Alwi di tempat parkir.

Alwi dengan percaya diri memakai helm bututnya, tapi aku sudah terlalu lelah untuk menegurnya. Jadi aku diam saja dan mulai naik ke jok belakang dan membiarkan Alwi memacu motornya menuju sebuah RS Swasta yang jaraknya kira-kira 1 jam perjalanan dari rumahku.

***

Jam 12 tepat aku dan Alwi tiba di halaman parkir RS. Aku langsung buru-buru turun dan menyuruh Alwi memarkir motornya sementara aku bergegas menuju lantai dua sambil setengah berlari. Ketika aku melintasi sebuah wastafel di kafetaria RS, aku segera menyadari bahwa rambutku berantakan dan dasiku kurang rapi, lekas saja aku bercermin dan menyisir rambut serta merapikan dasiku. Usai merapikan diri, kulihat Alwi yang telah menyusulku langsung mengajakku naik. Kuanggukkan kepala dan kutegapkan posturku, bersiap menghadapi seorang klien penting.

Aku pikir aku harus menunggu agak lama karena si dokter itu masih tampak memiliki pasien. Biasanya dokter-dokter akan menunggu sampai pasiennya habis baru dia akan bersedia menemui pihak lain yang memiliki kepentingan. Tapi di luar dugaan, suster yang bertugas menjadi asisten sang dokter langsung menghampiriku dan berkata, “Pak Prasetyo ya? Bapak sudah ditunggu Dokter Ridwan. Silakan masuk Pak!”

“Lho?” aku bingung, “tapi kan masih ada pasien yang lain? Biarkan saja mereka dulu!”

“Nggak apa-apa Pak, Dokter Ridwan sangat ingin bertemu Bapak.”

Maka aku pun masuk dan mendapati si dokter tampak sibuk mengetikkan di depan komputer jinjingnya sembari mengetikkan sejumlah data yang tertumpuk di hadapannya. Sang dokter tersenyum sejenak ke arahku sambil berkata, “Maaf, tunggu dulu ya Pak Pras? Saya masih masukkan data pasien nih. Sekarang segalanya berubah digital, data pasien pun digital, jadi harus dimasukkan satu per satu gitu deh. Oh ya, ngomong-ngomong putranya mana?”

Aku nyaris saja berteriak memanggil Alwi ketika kudengar suara Alwi dari bangku di sampingku ini.

Kapan dia datang kemari? Aku tak mendengar saat-saat dia membuka pintu dan masuk tadi. Tapi ah, sudahlah! Yang penting dia sudah kemari.

Jadi aku mulai membuka pertemuan kami dengan basa-basi, mengenai kesehatan si dokter, mengenai keluarga si dokter, dan kemudian disambung dengan perbincangan asyik antara Alwi dengan si dokter soal konser bintang ternama bernama Dipha Barus atau soal band lokal kota ini yang namanya ‘Coklat Karamel’ atau nama-nama kekinian semacam itu. Lalu tanpa terasa satu jam berlalu. Si Alwi tolol itu hanya berbincang kesana-kemari selama satu jam yang berharga, dan menyia-nyiakan kesempatan untuk menawarkan produk-produk terbaik perusahaan asuransi tempat kami bernaung.

Maka dari itu ketika kami kembali ke tempat parkir, aku memarahi Alwi habis-habisan, “Kamu itu tolong dong pakai waktu satu jam itu sebaik-baiknya! Lihat! Besok-besok lagi kalau kita kemari pasti dokter satu ini menghindar dari kita. Gagal itu dokter kita prospek kalau kamu terus begini!”

Si Alwi hanya tersenyum simpul dan menyerahkan helm kepadaku, aku yang dongkol memutuskan untuk mendiamkan saja putraku yang bodoh ini sampai kami tiba di rumah.

***

Lalu esok paginya aku bangun dengan kebingungan. Kemarin adalah hari Minggu. Tapi hari ini aku terbangun dan mendapati hari ini adalah hari Rabu. Aku bertanya pada Alwi, yang masih saja mengerjakan pekerjaan tidak bergunanya itu, apakah kemarin itu hari Minggu?

Ia menjawab, “Kemarin Senin, tapi Papi kemarin tidur seharian dan tidak bangun, dan pagi ini Papi robek kalendernya kebanyakan.”

Oke, aku pasti sungguh kecapekan, sampai-sampai aku tak bangun-bangun kemarin. Kulangkahkahkan kaki ke dapur dan kudapati istriku belum juga pulang dari perjalanan luar kotanya. Kuperiksa ponselku, dan semuanya tampak tenang-tenang saja, dan hal ini membuatku gusar. Kulihat sudah seminggu tidak ada laporan sama sekali dari para anak buahku mengenai laporan prospek mereka. Memang aku sebagai kepala kantor jarang ke kantor tepat waktu! Tapi apa itu bisa jadi alasan mereka malas-malasan! Ah! Sungguh bebal mental masyarakat Indonesia ini! Mereka hanya ingin sukses instan tanpa kerja keras! Mereka melamar ke kantor asuransi yang aku pimpin dengan muka memelas dan berpikir bahwa dengan memelas itu mereka akan mendapatkan klien kakap semudah mereka melamar kerja?

Maka dengan penuh kegusaran aku mengirim satu pesan pendek ke aplikasi chat kantorku, “Gimana prospeknya, BroSis? Ada yang potensial nggak? Atau ada yang sudah closing? Kok diem aja sih? Sakit gigi kah?”

Lalu kurasakan kepalaku berdenyut-denyut, sebuah gejala yang lazim kurasakan akhir-akhir ini. Alwi, meskipun sering tak berguna dalam berbagai hal lain, cukup perhatian dengan menyiapkan sarapan berupa dua tangkap roti tawar yang diolesi mentega dan selai, serta segelas teh dan sebotol kapsul yang telah diresepkan dokterku sejak lama. Aku memakan roti itu dengan rakus dan langsung menenggak dua kapsul obat. Setelah itu kuputuskan untuk mandi dan pergi ke kantor untuk memeriksa kondisi para bawahanku.

***

Aku terbangun di tengah malam, mendapati diriku dalam setelan kemeja kantor, tapi aku sama sekali tak ingat apapun yang terjadi di kantor tadi. Ponselku tergeletak di nakas di samping tempat tidurku. Kudapati tak satupun bawahanku yang membalas pesan yang aku kirim tadi pagi. Meski kesal bukan kepalang, aku memutuskan untuk tidur kembali dan berniat untuk datang ke kantor pagi-pagi besok.

Pagi itu aku sukses bangun pagi. Aku langsung saja menyambar handuk, mandi, lalu sarapan dan mengeluarkan mobil dari garasi. Mungkin karena mendengar mesin mobil dibunyikan, Alwi langsung saja beranjak bangun lalu keluar dan bertanya padaku.

“Papi mau ke mana?” tanyanya dengan mata membeliak.

“Mau ke kantor!”

“Aku ikut!” nada suaranya terdengar khawatir.

“Nggak usah! Kamu teruskan saja prospeknya dengan dokter itu!”

“Iya, aku mau ke Pak Dokter nanti siang, tapi Papi ngapain buru-buru ke kantor? Ini kan masih jam enam pagi?”

“Soalnya anak-anak buah Papi sudah mulai seenaknya sendiri! Masa Papi tanya gimana hasil prospeknya diam saja? Mana Papi lupa lagi kemarin itu Papi ngapain di kantor, jadi sekarang Papi mau ke kantor sekarang!”

“Papi nggak sarapan dulu?”

“Nggak usah!” jawabku gusar sambil mulai menyalakan mesin mobil.

Lalu tanpa kuduga, Si Alwi yang belum juga mandi atau ganti baju masuk ke mobilku dan berkata, “Kalau Papi mau ke kantor, Alwi antar.”

“Papi bisa setir sendiri!” jawabku, “Lagian kamu belum mandi kan?”

“Kalau Papi mau tunggu 10 menit, Alwi mandi sekarang, lalu Alwi sopiri Papi ke kantor.”

Deal! Sepuluh menit ya?” ucapku.

“Yaa!” Alwi pun langsung keluar dari mobil dan benar saja, dalam sepuluh menit ia sudah mengenakan pakaian rapi, berupa kemeja biru, dasi, celana panjang kain, lengkap dengan sepatu pantofel hitam mengkilat dan jas abu-abu.

Jika orang melihatnya sekilas, Alwi kini bak eksekutif muda yang telah sukses dan mapan di usianya yang belum menginjak usia 30. Sebuah kemajuan besar, aku saja takjub menyaksikan anak tak berguna itu ternyata bisa mencitrakan diri seperti ini.

“Bagus! Bagus! Akhirnya kamu bisa juga berpenampilan seperti itu! Prospek sukses closingmu bakal lebih tinggi tuh!”

Alwi tak menanggapi pujianku, ia hanya berjalan gontai menuju ke pintu pengemudi lalu mulai menyalakan mesin mobil yang sempat kumatikan tadi. Aku dengan bersemangat langsung masuk ke mobil dan menyuruh Alwi memacu mobil. Ketika mobil telah berjalan, kudapati Alwi kadang memacu mobilnya amat pelan sehingga aku harus berkali-kali memarahinya agar menginjak pedal gasnya lebih dalam. Waktu adalah uang, tapi anak ini benar-benar telah menyia-nyiakan banyak waktu sejak dulu!

***

Kami pun akhirnya sampai di kantorku. Sebuah perusahaan asuransi ternama yang mana aku dipercaya menjadi kepala cabangnya. Yah, aku memang jarang ke kantor akhir-akhir ini karena beberapa masalah kesehatan, tapi sekarang aku siap kembali untuk menatar kembali anak-anak buahku yang sudah kelewatan kurang ajarnya. Berani-beraninya mereka tidak melapor apa-apa kepadaku selama beberapa hari ini. Tampaknya mereka sudah kehilangan motivasi pemasaran mereka dan lebih memilih untuk enak-enak makan gaji buta saja! Tak bisa dimaafkan! Kalau semua orang di seluruh kantor cabang begitu semua, bisa bangkrut perusahaan kami nanti!

Aku langsung turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu kantor dengan emosi. Alwi cepat-cepat turun mengikutiku lalu memegang bahuku sambil berkata, “Kalem Pi! Kalem! Nanti darah tinggi Papi kumat lagi!”

Tapi aku sudah terlalu marah untuk mengindahkan perkataannya. Alwi memang tampak hendak menyampaikan sesuatu lebih banyak lagi tapi kata-katanya sama sekali tak kuhiraukan.  Aku berjalan cepat ke arah pintu namun tiba-tiba saja seorang sekuriti mencegatku.

“Maaf? Bapak ada keperluan apa ya?” tanya petugas sekuriti itu.

“Ada keperluan apa katamu?” emosiku meledak, “Saya ini kepala cabang di sini! Berani-beraninya kamu bertanya seperti itu! Kamu baru ya? Siapa namamu? Burhan? Kurang ajar kamu! Awas kamu! Saya akan suruh HRD memecatmu sekarang juga kalau kamu masih tidak mau minggir!”

Sekuriti itu bergeming, mengernyitkan dahi dan balik bertanya lagi, “Bapak kepala cabang sini? Apa Bapak tidak salah kantor Pak? Kepala cabang kantor ini namanya Pak Halim. Bukan Anda.”

Aku baru saja hendak menyemburkan kata-kata yang lebih kasar lagi ketika Alwi tiba-tiba menarik bahuku kuat-kuat,  “Maaf Pak, Bapak saya tampaknya memang salah kantor. Permisi! Ayo Pi! Kita pulang saja.”

Aku menepis tangannya kasar, “Pulang saja bagaimana? Ini kan jelas-jelas kantor asuransi tempat Papi kerja! Kok tiba-tiba diklaim kepala cabangnya ganti?”

“Papi! Papi coba lihat deh plang namanya!” Alwi menghela nafas dan menunjuk ke sebuah papan nama yang alamatnya benar merupakan alamat kantorku, tapi nama perusahaannya bukan.

Perusahaan ini adalah perusahaan sekuritas, bukan perusahaan asuransi. Aku terperanjat! Bagaimana  mungkin kantorku pindah tapi aku sebagai kepala cabang tidak tahu?

Aku lantas berlari kembali ke arah sekuriti yang aku bentak-bentak tadi, “Maaf Pak! Perusahaan asuransi yang dulu berkantor di sini pindah ke mana ya Pak?”

“Oh itu? Perusahaan itu sudah bangkrut setahun yang lalu Pak. Katanya habis itu direkturnya lari keluar negeri dan ruko ini dibeli perusahaan sekuritas kami deh.”

Kepalaku pening luar biasa. Samar-samar aku melihat Alwi datang dan memapahku kembali ke mobil. Di mobil aku mencoba mengatur nafas selagi Alwi menyalakan mesin dan membawaku keluar dari tempat ini.

“Alwi! Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyaku lemas.

Alwi menghela nafas panjang sekali lagi lalu menyodorkan kepadaku sebuah kalender lipat dan menunjuk tanggal yang ia lingkari. Aku mendapati tanggal itu adalah Jumat, 3 Februari 2017.  Setelah itu ia menyodorkan padaku dokumen dan brosur yang selalu aku simpan dalam tas untuk mempromosikan produk kepada calon nasabah.

“Coba Papi lihat baik-baik tanggal surat-surat itu.”

Aku memicingkan mata dan membaca satu per satu tanggal di surat itu. Surat itu bertanggal dua tahun yang lalu. Artinya promo ini sudah tak berlaku! Astaga! Kenapa aku begitu bodoh tak menyadari bahwa aku mengambil brosur promo yang salah? Tunggu! Dua tahun? Apa maksudnya ini?

“Alwi! Apa yang sebenarnya terjadi?”

Alwi hanya diam tapi aku terus mendesaknya untuk bercerita.

Maka ia pun bercerita.

“Dua tahun yang lalu perusahaan Papi bangkrut. Papi pulang ke rumah seperti mayat hidup dan kemudian mengurung diri selama sebulan. Sebulan kemudian Papi keluar, tapi tidak bisa bicara sepatah kata pun.”

“Astaga! Itu sebabnya Mamimu itu minggat dari rumah ya?” pikiranku was-was memikirkan istriku yang telah aku telantarkan tanpa aku sadari.

Alwi menatapku sendu, “Mami memang pergi, tapi Mami tidak minggat. Mami sudah berpulang ke Sang Maha Pencipta. Tiga bulan setelah Papi mengurung diri dalam kamar.”

“Kamu bercanda?!”

“Nggak! Aku nggak bercanda! Kegiatan dunia pemasaran telah menghancurkan kesehatan jiwa Papi sejak lama dan kebangkrutan perusahaan Papi itu adalah pukulan telak yang Papi tidak bisa tanggung lagi. Papi yang sekarang sudah lumayan! Sudah bisa jalan dan berdiri sekarang, tapi selama dua tahun terakhir, Papi hanya bisa duduk dan tiduran, tidak bisa bicara, hanya menatap kosong sambil sesekali meratapi entah kepergian Mami atau kegagalan Papi menjadi orang sukses dan kaya raya sampai akhir hayat! Mana janjinya perusahaan Papi tentang masa depan yang solid dengan kemerdekaan finansial sampai akhir hayat? Mana bukti dari pamflet-pamflet omong kosong perusahaan Papi yang selalu penuh senyuman itu?”

Aku terdiam, lama sekali, sementara Alwi setelah puas mengata-ngataiku ikut diam pula. Aku tersentak, menyadari bahwa sekarang hidupku dan Alwi mungkin saja menjadi beban ekonomi bagi kehidupan dua kakak tertua Alwi. Maka akupun memberanikan diri bertanya pada Alwi, “Dua kakakmu … ke mana Wi?”

“Entah di mana,” jawab Alwi pendek dan dingin.

“Tapi mereka kirim uang ke kita ya?”

“Tidak pernah sekalipun!”

“Lalu … kita selama ini makan pakai duit siapa Wi?”

“Dari duit kerjaan Alwi yang selalu Papi bilang tidak berguna itu!”

“Kenapa dua kakakmu pergi?”

“Mereka mencoba mendirikan usaha dengan sejumlah modal pinjaman hasil menggadaikan dua rumah tinggalan Papi. Tapi usaha mereka tidak berjalan lancar. Mereka bangkrut dan terlilit hutang dalam jumlah besar. Sekarang entah mereka ada di mana.”

Kepalaku pening luar biasa. Aku merasa semua jerih payahku, sumbangsihku untuk perusahaan dan keluarga kini sia-sia belaka. Citra ideal yang dahulu aku bangga-banggakan kini tercerai-berai. Diriku yang sekarang terasa tak berharga sama sekali. Tak ada lagi liburan ke luar negeri, tak ada lagi bonus puluhan juta, tak ada lagi sosok kepala cabang yang memotivasi anak-anak buahnya untuk meraih masa depan yang sukses dan gemilang. Yang ada sekarang adalah aku yang pecundang dan …. sakit jiwa!

***

Tampaknya aku tertidur lagi di perjalanan. Namun ketika aku membuka mataku kembali, kulihat aku telah berada di sebuah kamar dengan sebuah dipan, sebuah wastafel, dan sebuah meja kecil. Kamar ini dindingnya kusam, sama sekali bukan hotel apalagi kamar tidurku. Aku menoleh dan kulihat Alwi tampak duduk di sebuah kursi dekat pintu berjeruji besi. Di sampingnya duduk pula dokter RS yang kuprospek bersama Alwi beberapa minggu yang lalu.

“Pak Pras sehat?” tanya dokter itu sembari tersenyum ke arahku.

“Di mana ini Dok?” tanyaku khawatir.

“Bapak, mulai hari ini dirawat di sini dulu yaa?”

“DI MANA INI DOK! PULANGKAN SAYA!” aku mencoba bangun tapi tangan dan kakiku terikat di ranjang oleh bebat kulit.

Beberapa perawat mulai masuk dan memegangiku, sementara dokter itu menyiapkan semacam alat suntik dan membidik lenganku. Ketika alat suntik itu berhasil menancap, kurasakan kantuk datang perlahan. Kurasakan Alwi datang mendekat dan berbisik, “Maaf Pi. Alwi tinggal Papi di sini dulu ya?”

“Ke… na… pa Wi? Papi nggak mau di … sini.”

“Papi tadi ngamuk di jalan. Biar Papi nggak lukai orang dan diri Papi sendiri, Papi di sini dulu yah? Alwi janji bakal nengok Papi tiap minggu.”

“Wi! Wi! Wi! Alwi!” panggilku lemah namun rasa kantuk hebat ini benar-benar sulit dilawan lebih jauh lagi. Sayup-sayup aku mendengar suara langkah Alwi menjauh.

“Dokter, saya titip ayah saya,” itu kata terakhir yang kudengar sebelum pintu tertutup dan aku ditinggal sendiri.

[1] Prospek = kegiatan mendatangi seseorang dengan tujuan menjadikan orang itu nasabah / pengguna produk yang kita tawarkan

[2] Closing = kondisi di mana calon nasabah / pengguna produk kita setuju menggunakan jasa/produk yang kita tawarkan

32 dukungan telah dikumpulkan

Comments