THE CONSULTANT

4 months ago
The Consultant (Sumber: Alfat Putra Ibrahim)
Alfat Putra Ibrahim

by: Alfat Putra Ibrahim

Tahukah anda jika perputaran roda bisnis dalam berbagai jenis industri ekonomi digerakan oleh sistem marketing atau pemasaran yang jitu, dalam rangka mencapai penjualan produk atau jasa yang ditargetkan dan tentunya meraup keuntungan sebesar-besarnya. Anda pasti penasaran dengan apa yang dilakukan brand-brand raksasa global, sehingga perusahaan mereka bisa memiliki pendapatan yang begitu fantastis dan menguasai pasar dunia.

Apapun produknya baik itu elektronik, property, hingga jasa transportasi sekalipun. Kunci utama meraih kesuksesan pasar berada pada nadir jantungnya, marketing. Perusahan boleh jadi memiliki teknologi yang canggih dalam mendesain produk, bahkan menggunakan akses web dari programer terkemuka. Namun bila cara penjualannya salah, maka semuanya akan sia-sia saja.

Marketing adalah segalanya, tanpa strategi dan konsep yang tepat dalam membangun pemasaran, bisnis akan runtuh seketika bila manajemen pemasarannya gagal dalam memberi keuntungan dan malah merugikan perusahaan. Untuk membangun pemasaran yang baik dan selaras dengan misi perusahan untuk meraup keuntungan, dibutuhkan arahan maupun naungan seseorang yang memiliki keahlian serta akurasi yang tepat dalam mengkonstruksikan sistem marketing yang sesuai.

Sesorang yang memiliki visi serta cerdik dalam menganalisis kondisi pasar dan potensi produk dari perusahan yang akan diberi naungan untuk mencapai kegemilangan dalam kanca bisnis global. Seseorang yang tahu menempatkan situasi dan pandai dalam mencari peluang. Ya, seseorang itu adalah saya sendiri. Nama saya adalah Don Travolt, saya adalah seoranga profesional dalam memberikan masukan serta peluang sukses bagi perusahan untuk mencapai kesusksesan pasar.

Saya adalah orang di balik layar yang ikut menyumbangkan pemikiran untuk membangun manajemen pemasaran perusahan-perusahan besar di dunia, hingga mereka menjadi raksasa korporasi seperti sekarang. Profesi yang saya lakukan bisa jadi banyak digeluti oleh orang lain. Namun tidak ada satupun yang bisa menandingi saya dalam membawa perusahan dalam mencapai kesuksesan. Kesukses perusahan adalah harga mati bagi saya.

Karenanya banyak perusahan besar yang berani menggelontorakan bayaran fantastis untuk saya, hanya untuk menjadi salah satu klien konsultasi merek dagangnya. Mungkin akan muncul pertanyan besar dibenak anda, untuk apa mahal-mahal membayar seorang konsultan bisnis, toh dalam mengatur sistematika perusahana dan pengambilan keputusan adalah hak dari pemimpin perusahan itu sendiri.

Ya, anda sah-sah saja untuk berfikir begitu. Tapi itu hanyalah pemikiran orang-orang awam yang tidak mengerti bagaimana suatu mesin bisnis bekerja dan mencetak uang. Sudah lebih dari 30 tahun saya menjadi seorang konsultan, manis, pahit, dan getir dari bidang profesi ini sudah saya rasakan. Lebih dari puluhan merek dagang terkenal dari berbagai belahan bumi saat ini, pernah menjadi klien saya.

Meraka telah merup keuntungan fantastis dari produk-produk yang mereka perdagangkan. Anda akan terheran melihat ratusan perusahan dari berbagai jenis bidang usaha yang berasal dari negara-negara yang berbeda, berbondong-bondong menginginkan jasa konsultasi saya untuk mengarahkan para pemimpin-pemimpin perusahan tersebut mengambil kebijakan atas manajemen pasarnya. Mereka bahkan menawarkan gaji yang tak mungkin didapat oleh konsultan lain dimana pun, selain saya. Itu karena saya sudah sangat diakui oleh dunia bisnis. Siapa pun yang menjadikan saya sebagai konsultan bisnisnya, pasti akan meraih kesuksesan pasar yang bahkan diluar ekspektasi perusahan itu sendiri.

Saya sangat menikmati kehidupan sebagai seorang konsultan, saya bisa bermain dalam pusaran bisnis yang semakin hari-seamakin kuat. Saya sudah memiliki jam terbang tinggi dalam pekerjaan ini, tentunya saya tidak akan sembarangan dalam menerima klien begitu saja.

Karena saya tidak menyukai klien yang terlalu rakus akan kegemilangan perusahaannya sendiri, sebaliknya saya lebih menyukai perusahan yang punya komitmen untuk memajukan industri dan meningkatkan mutu negerinya. Tawaran akan gaji sebesar apapun akan saya tolak, apabila misi perusahan tersebut tidak sesuai dengan kehendak saya.

Mungkin saat ini anda menganggap saya angkuh dan naif atas kekayan yang dilimpahkan kepada saya. Ketahuilah, dalam memasuki dekade keemapat dari profesi ini, yang saya cari bukanlah lagi semata-mata uang. Saya sudah hidup dengan bergelimangan harta, semenjak memulai karir sebagai konsultan pada usia ke 23 tahun. Saya sudah kenyang dengan kekayan, kedudukan, dan wanita. Saya hanya menunggu waktu yang tepat untuk mundur dari profesi yang mungkin sempat anda pandang sebelah mata ini. Namun sebelum waktu itu datang, saya akan membuatnya sedikit lebih menarik.

***

Irama bisnis beberapa waktu belakangan bertempo sangat kencang. Pertumbuhan bisnis-bisnis baru serta persaingan antara kompetitor yang semakin menajam, membuat dunia industri semakin menarik. Saya sebagai orang yang berperan di dalamnya, tidak mau terus-terusan menjalani peran pembantu. Saya ingin menjadi seorang protagonis yang memainkan jalan cerita. Cerita tentang dunia bisnis yang mematikan.

Selama saya menjadi seorang konsultan bisnis, sudah puluhan perusahan gulung tikar karena bisnisnya telah runtuh di tangan perusahan klien saya. Kasus seperti ini sering dialami oleh perusahan yang menjual produk yang serupa. Naas perusahan yang sempat unggul dan menumbangkan kompetitornya malah ditumbangkan oleh kompetitor lainnya yang juga memakai jasa konsultan saya.

Mungkin tidak langsung tumbang, namun perlahan tapi pasti produknya mulai ditinggalkan konsumen karena inovasi dan sistem pemasaran yang monoton selepas perusahan tersebut tidak lagi menjadi klien saya. Mereka terlalu dimanjakan oleh keadaan dan memiliki insting yang tumpul dalam mencari peluang pasar.

Sebenarnya setelah mereka tidak lagi menjadi klien saya, perusahan tersebut mencari jasa konsultan bisnis lain yang lebih fleksibel dan mudah diatur oleh mereka. Tentunya upah yang ia dapat, jauh lebih murah dibanding saya. Konsultan yang seperti itu tidak akan bertahan lama dan buktinya perusahan kliennya tumbang dibawah kaki perusahan klien saya.

Semua klien saya tahu bagaimana cara kerja saya, saya adalah orang yang tegas dan memiliki prinsip. Saya tidak akan membiarkan perusahan mengambil kebijakan tanpa sepengetahuan saya. Dalam bekerja saya cukup fleksibel, suka berdiskusi, terbuka dengan argumen yang membangun maupun ide yang rasional dan tentunya tidak dangkal. Bila perusahan tidak terima dengan cara kerja saya, saya akan meninggalkan perusahan tersebut tanpa mengambil uang sepeserpun dari mereka.

Jika anda menganggap saya terlalu berlebihan, buktinya begitu banyak perusahan yang menginginkan jasa konsultan saya. Sistem kontrak kerja yang saya buat dengan perusahan tidak seperti kebanyakan konsultan lakukan. Saya bermitra dengan klien saya jika saya ingin, namun tidak ada dicantumkan rentang waktu tertentu yang mengharuskan kemitran kerja itu berlangsung.

Bisa dibilang saya bisa bekerja sekehendak hati saya, sehingga saya tidak pernah memiliki klien tetap. Jika anda masih risih dengan itu, tentunya itu menjadi urusan anda pribadi. Pastinya begitulah cara kerja Don Travolt, yang bebas namun punya integritas dalam menanggungjawabi kliennya hingga benar-benar puas dengan hasil yang diraih perusahaannya.

Hingga saat inipun, saya terus bergulat dengan klien yang berusaha menandingi kompetitornya. Menangani kasus seperti ini memang jauh lebih mudah bagi saya, ketimbang mempersiapkan dan membangun sebuah perusahan yang masih hijau untuk meningkatkan kualitas serta taraf kerja manajemen pemasarannya. Saya mulai terbiasa dengan itu, kini saya lebih memfokuskan diri untuk membantu klien yang ingin menyaingi kompetitornya agar lebih unggul dari segi marketing.

Untuk klien yang mencoba untuk menandingi kompetitor, saya menyiapkan formulasi guna mewujudkan kemauan sang klien. Terlebih dahulu dilakukan analisis atas kelemahan sistem marketing sang kompetitor, yang kemudian kelemahan tersebut dijadikan kelebihan dan kekuatan yang diusung perusahan klien untuk menandingi kompetitornya tersebut. Sembari sang klien juga membenahi kualitas produk untuk menandingi kelayakan pasar atas persingannya dengan si kompetitor.

Seiring berjalannya waktu saya dan beberpa klien, menang dalam pertarungan memperebutkan antusiasme pasar atas produk yang serupa tersebut. Meskipun tidak membuat perusahan kompetitor chaos, paling tidak kami berhasil menurunkan angka penjualannya hingga benar-benar kandas di titik terendah. Permainnan ini pun semakin menarik, saya merasakan sebuah kesenangan yang sebelumnya tidak saya rasakan. Kini keinginan saya menjadi protagonis dari cerita tentang dunia bisnis yang mematikan, benar-benar terwujud.

Kian hari, semakin banyak tawaran yang mendatangi saya untuk terlibat dalam permainan kompetisi pasar yang gila ini. Saya mengindahkan beberapa tawaran yang menurut saya menarik. Namun berbarengan pula muncul musuh-musuh baru dalam kehidupan sosial saya. Mereka melakukan peneroran atas diri saya dan keluarga. Dugan saya komplotan penjahat tersebut berasal dari biang perusahan yang tidak senang dengan kehadiran saya sebagai konsultan yang diusung oleh kompetitornya.

Atau pihak perusahan yang sakit hati akibat saya tolak untuk bermitra dan malah jatuh dipelukan pesaingnya. Sebelumnya saya juga kerap mendapatkan musuh dikehidupan pribadi karena profesi yang saya tekuni ini. Mereka adalah perusahan-perusahan yang menyewa komplotan bandit untuk menyerang saya. Alasannya karena ketidak sukaan mereka dengan cara kerja saya yang seenaknya dan mereka bilang tidak profesional.

Padahal saya tetap mengutamakan aspek profesionalitas dalam bekerja, meskipun dengan sikap kerja saya yang seperti itu mereka nilai buruk. Tetapi tindakan mereka hanya sebatas memberikan pelajaran bagi saya dan sayapun menikmatinya, tanpa harus mendapatkan perlindungan atas diri saya ataupun memperpanjang urusan tersebut ke meja hijau.

Namun untuk yang sekarang ini jauh berbeda dari sekedar bandit yang ingin meletakan genggamannya di wajah saya. Mereka jauh lebih brutal dari yang saya duga. Mereka lebih menyeramkan dari sekedar hantu, dan mereka menginginkan nyawa saya, keluarga saya. Tapi saya di sini, dan akan tetap menjalankan permaianan ini. Terus menjalankan profesi sebagai konsultan bisnis perusahan yang berkompetisi memperebutakan kekuasaan pasar. Terus menjalankan peran protagonis dalam cerita tentang dunia bisnis yang mematikan, hingga sampai di mana cerita ini akan berakhir. Apakah dengan kebanggaan ataukah kehinaan.

***

            Jam menunjukan pukul 09.00 pagi, saya terbangun dari tempat tidur. Hari ini adalah ulang tahun saya ke 53, tapi tanpa kedua Anak dan Istri saya. Mereka pergi berlibur ke luar kota dan baru akan pulang minggu depan. Saya tidak bisa ikut, berhubung ada janji dengan klien untuk beberapa hari yang akan datang. Sembari membasuh wajah, saya memperhatikan wajah saya yang semakin tua dan penuh kerutan serta rambut yang semakin memutih dan bola mata biru saya yang dulunya berwarna cerah kini telah kusam.

Hand phone pintar saya berdering, tanda ada pesan masuk. Ternyata itu dari Stefani, anak bungsu saya yang ikut berlibur bersama Ibu dan Kakaknya. “Ayah, selamat ulang tahun. Semoga sehat selalu, kami mencintai mu.”tulisnya dengan membubuhkan tanda cinta di ujungnya. Saya pun tanpa sadar menorehkan senyuman bahagia. Tak lama berselang, Istri saya menelefon. “Sayang, bagaimana keadaan mu? Maaf kami meninggalkanmu dalam liburan kali ini,” ungkap Istri saya dengan nada sedih. “Aku baik-baik saja Merry, nikmatilah liburan kalian. Tidak perlu menghawatirkan ku. Setelah pekerjaan ku selesai, bulan depan kita akan berlibur bersama-sama lagi.”

Saya coba menjawab, dengan maksud untuk menenangkan Istri saya. “Oh iya, selamat ulang tahun sayang. Stefani sangat merindukan mu di sini, katanya dia ingin membuat pesta besar untuk mu setelah kita pulang nanti.” Ujar Istri saya dari ujung telefon, “tentu sayang, kita akan buat pesta yang sangat meriah.” Ungkap saya. “Jaga dirimu sayang, jangan lupa untuk minum vitamin.” Ujar Istri saya kemudian, belum sempat saya menjawabnya terdengar sebuah ledakan dari lantai bawah rumah saya.

Saya coba melihat dari jendela atas, terlihat kepungan asap menyelimuti bagian bawah rumah saya. Ternyata setelah saya melihat kelantai bawah, yang meledak tadinya adalah mobil digarasi rumah saya. Tertulis sebuah tulisan dalam secarik kertas bernada represif yang memaksa saya mundur dari dunia bisnis, sebagai konsultan. Saya tidak tahu bagaimana bisa mobil saya tersebut meledak dan bagaimana bisa ada tulisan seperti itu didalamnya, yang jelas ini adalah ulah dari sejumlah teroris yang disuruh oleh oknum perusahan yang tak suka dengan kehadiran saya.

Saya kembali mengambil telefon, dengan Istri saya yang masih berada di ujung suara. “Apa yang terjadi Don? Kenapa kau meninggalkan telefonnya? Apakah para peneror itu mengusik mu lagi?” Tanya Istri saya dengan irama kekhawatiran. “Tenanglah sayang, aku tidak apa-apa. Nikmatilah liburan mu dan anak-anak kita, aku mencintai mu.” Ucap saya sembari menutup telefon agar tidak memancing lebih jauh kecemasan Istri dan anak-anak saya. Seketika dalam pandangan saya, segalanya berubah digital.

Saya kemudian bersiap-siap untuk berangkat menuju perusahan klien untuk pertemuan konsultasi dan presentasi yang akan dilaksanakan siang nanti. Sembari saya mengenakan pakaian, telefon dari sesorang kembali berdering. Kali ini saya tidak tahu dari siapa karena nomor yang tertera tidak terdaftar di hand phone saya. Dengan sedikit rasa ragu, saya angkat telefon tersebut. Terdengar suara serak di ujung telefon tersebut. “Selamat siang Don Travolt, aku ingin memperingatkan mu untuk kesekian kalinya, untuk berhenti ikut campur dalam pertarungan di dunia bisnis kami.”

Ujarnya sambil melanjutkan “Kau mungkin sudah tahu siapa aku. Dengar Don, aku akan dengan sangat mudah menyingkirkan mu dari dunia ini. Tapi tidak ku lakukan karena kedengarannya tidak akan menarik.” “Siapa kau? Apa kau yang selama ini terus meneror ku? Ingat, aku tidak akan mundur dari apapun, aku akan tetap maju untuk memenangkan persaingan klien ku. Kau tidak akan bisa menghentikan ku, apa pun yang terjadi!” Pungkas saya dengan lantang.

Telefon tersebut kemudian terputus seketika. Tak lama setelahnya masuk sebuah pesan yang bertulisakan, “Ku dengar keluarga mu sedang berlibur di luar kota, aku akan menyusul mereka.” Pesan tersebut juga berasal dari kontak asing, namun berbeda dari kontak yang baru saja menelfon saya tadi. Saya coba berfikir positif, beranggapan pesan tersebut dari keluarga yang ingin menyusul liburan Istri dan anak-anak saya di luar kota. Melainkan bukan dari para teroris-teroris terkutuk tersebut.

Saya kemudian bergegas untuk berangkat menemui klien saya. Mengingat mobil saya yang rusak, saya putuskan untuk berangkat menggunakan transportasi bus. Sepanjang perjalanan, saya merasa terus di awasi oleh dua orang di dalam satu bus itu. Satu berpenampilan sederhana dan satu lainnya berpenamilan gelap serta memakai topi. Hingga saya turun di halte terdekat dengan perusahan klien tujuan saya, mereka tetap terus mengikuti. Sampai disebuah lorong gelap, mereka kemudian menciduk saya dengan membuat saya tak sadarkan diri.

Beberapa saat kemudian saya sudah kembali sadar disebuah tempat dengan keadaan terikat dan mata yang ditutup. Penutup mata saya dibuka oleh seseorang, penglihatan saya masih samar. Tak lama saya melihat seorang pria yang sudah tak asing bagi saya, pria itu adalah Steve seorang bekas CEO muda perusahaan elektronik terkemuka sekaligus mantan klien bisnis saya. “Apa kabar Don?” Ujar Steve pada saya, “apa maksud semua ini Steve? Apa yang kau lakukan pada ku?”

Tanya saya dengan nada tinggi. “Hahaha, Don Travolt. Kau tidak perlu terlalu emosional kawan, tenang saja. Aku hanya akan mengajak mu bermain-main sedikit, ini adalah permainan bisnis yang sangat kau gemari Don. Jadi, bersenang-senanglah” Ungkap Steve sembari menyodorkan sebuah senjata api di atas meja di hadapan saya.

Steve Morgan, perusahannya pernah berjaya dalam pasar dengan penjualan tertinggi berdasarkan produk yang diusung pada dua triwulan pertama dan terus meningkat hingga beberapa triwulan setelahnya. Pada saat itu saya menjadi konsultan bisnis perusahannya, hingga saya mundur pada tahun ketiga setelah kesuksesan pemasaran produknya tersebut. Steve adalah pribadi yang sulit ditebak, ia kerap memiliki sifat yang sulit dipahami dan cenderung mengarah pada prilaku Pisikopat. Sebagai seorang yang kaya raya pada saat itu, Steve menghabiskan kekayaannya untuk membeli barang-barang yang sifatnya mistis dan cenderung aneh. Karenanya saya tidak terlalu terkejut lagi dengan prilaku-prilaku anehnya dikemudian hari.

Tetapi bukan hal itu yang membuat saya mundur sebagai konsulta bisnisnya, melainkan karena saya sudah merasa cukup untuk membangun perusahan Steve dan ingin mendedikasikan kemampuan saya untuk memajukan perusahan-perusahan lainnya. Awalnya Steve tidak berkenan memutusakan kemitraan kerja dengan saya, namun ia tahu betul bagaimana pribadi saya dalam bekerja dan pada akhirnya Steve pun menyetujui keinginan saya untuk mundur dari konsultan bisnisnya.

Tak lama Steve mencari konsultan bisnis baru untuk perusahaannya, entah kenapa semakin lama perusahan miliknya malah mundur dari segi penjualan dan pada akhirnya Steve harus menjual seluruh saham perusahaannya karena ia jatuh miskin akibat terlilit hutang. Ia sempat menaruh dendam pribadi pada saya karena menurutnya mundurnya saya selaku konsultan perusahannyalah yang membuat ia bangkrut. Ia sempat hilang cukup lama, namun entah kenapa hari ini ia datang kembali. Namun perawakannya cukup menakutkan kali ini.

Saya dibawa ke sebuah ruangan hampa dengan dua sosok orang tepat di hadapan saya, bagian kepala mereka ditutup tapi saya merasa tidak asing dengan kedua sosok tersebut. Mereka membuka ikatan tangan saya dan memberikan senjata api yang tadi diberikan oleh Steve. “Don, kau harus menembak satu diantara kedua orang yang ada dihadapan mu.” Terdengar suara Steve dari arah belakang sembari ia pun melanjutkan kalimatnya. “Kau lihat layar monitor yang ada dibagian atas itu, kau bisa melihat keluarga mu yang sedang kami sandera di sana. Mereka akan mati bila kau salah memilih sasaran tembak dari dua orang yang ada di hadapan mu.”

“Bebaskan keluarga ku, bajingan!” Ujar saya dalam perasaan terkejut, marah, dan bingung. Saya coba melawan dengan senjata api yang saya pegang dengan mengarahkannya pada Steve, seketika dari arah kanan saya terlihat seorang pria tegap sedang menghadap ke arah saya dengan sebuah senjata api dengan ukuran yang lebih besar dibanding yang saya pegang saat ini. Sesaat saya pun mati kutu dalam ketakutan dibuatnya. “Jangan coba-coba untuk melawan Don. Sedikit saja kau melakukan gerakan yang salah, timah panas dari senjata api laras panjang itu akan menghujami kerongkongan mu!” Tegas Stave dengan nada ancaman.

“Buka penutup kepala mereka! Sekarang silahkan tentukan pilihan mu Don.” Ujar Steve, seraya keterkejutan saya dengan apa yang saya saksikan saat ini. Dua orang yang ada dihadapan saya saat ini adalah klien-klien bisnis saya. Mereka adalah Sonya dan Grey. Bagian mulut mereka ditutup, sehingga mereka hanya bisa berteriak dalam hening sembari menangis ketakutan. “Apa yang kau lakukan Steve? Kenapa kau menangkap klien ku? Apa yang kau inginkan dari ku, Steve?’ Tanya saya dalam kegundahan akan nasib keluarga dan klien saya.

“Hahaha … Apa kau ketakutan Don? Dengar, aku tidak menginginkan apa-apa dari mu. Aku hanya ingin bersenang-senang dengan mu, aku merindukan kau dan keuargamu, Don. Setelah kau pergi, aku jadi miskin dan tidak punya apa-apa. Ini kesalahan mu Don Travolt!” Ujar Steve sambil melanjutkan, “Tapi sudahlah, masa-masa sulit itu sudah berlalu, Don. Kini aku sudah kembali kaya raya. Bisnis ku saat ini jauh lebih menguntungkan dari sebelumnya, aku menjual narkotika, senjata dan kebahagiaan. Semua orang membutuhkan ku.” Lanjut Steve dengan wajah yang sangat riang.

“Oh, ya … aku juga mengundang beberapa klien mu, Don. Kau pasti sudah kenalkan? Sonya adalah CEO dari perusahaan dengan produk serupa dengan perusahaan ku dulu dan Greyfort adalah suaminya. Mereka menggunakan jasa konsultan mu, untuk menumbangkan bisnis ku.” Ujar Steve seraya keterkejutan saya atas ungkapanya terhadap saya. “Greyfort adalah orang yang licik, Don. Ia memberikan aku pinjaman berbunga besar yang ku gunakan untuk memperbaiki keadaan bisnis ku. Tapi aku tak sanggup melunasi hutang-hutang ku padanya, hingga aku harus merelakan perusahaan yang aku rintis bersama dengan mu, Don, untuk menutupi hutang-hutang itu.” Ungkap Steve dangan perasaan sedih.

Kini saya dihadapkan pada dilema yang sangat rumit. Satu sisi saya harus mementingkan keadaan keluarga saya, selain itu saya juga ingin menyelamatkan Sonya dan Grey dari tawanan Steve. Namun di sisi lain, nyawa saya harus menjadi taruhan atas itu semua. Kini saya harus menembak salah satu di antara mereka, saya harus siap dengan resiko apapun yang harus saya lakukan. “Aku tidak mau memperpanjang waktu lagi, Don, sekarang tembak ke arah manapun. Ingat keputusan mu menentukan apa yang akan terjadi setelahnya.” Ungkap Stave dengan lantang.

“Dengarkan aku Steve, tidak ada maksud ku sedikit untuk membuat bisnis mu bangkrut. Aku bahkan tidak tahu kondisi dibalik semua ini sebelum kau menceritakannya,” belum usai saya menyampaikan kalimat saya, Steve langsung menengahi dengan lantang. “Tembak sekarang Don Travolt!” Seketika saya menjadi ketakutan dan tidak berdaya, karena ini kali pertama saya menggunakan senjata api dan harus membunuh seseorang yang saya kenali.

Dengan perasaan yang sangat rumit saya coba mengarahkan senjata pada salah seorang yang ada disekitar saya. Saya lalu memutar ke arah Stave dengan maksud menembaknya, namun seketika senjata laras panjang dari pria di sebelah saya langsung mengarah kebagian kepala saya. Saya kira di sinilah ajal saya, akhir cerita Don Travolt sang konsultan terbaik di dunia bisnis telah tewas di tangan seorang pria bersenjata yang disewa oleh mantan kliennya.

Ternyata cerita tidak berhenti sampai disitu, pria bertubuh tegap itu tidak menembak bagian kepala saya. “Kau telah salah mengambil tindakan Don, kini kau akan merasakan akibatnya.” Ujar Stave sambil mengarahkan sebuah senjata api lainnya kearah saya. “Selamat tinggal Don Travolt,” ucap Steve seraya saya menutup mata dan mengira saya akan mati setelahnya.

Kemudian sebuah terompet berbunyi, ternyata ini semua adalah kejutan perayaan ulang tahun saya. Saya sempat kebingungan setengah mati dan meneteskan air mata tanda sedih dan bahagia. Sonya dan Grey membawakan saya kue ulang tahun, Istri dan anak-anak saya juga berada di sini sekarng. Mereka semua sukses mengerjai dan membuat saya mati ketakutan, “maafkan aku Don. Hahaha kau harus melihat wajah ketakutan mu tadi.” Ujar Steve pada saya. “Kau memang keterlaluan Steve, kau tidak berubah sedikit pun.” Ungkap saya pada Steve sambil memeluknya.

Tapi kenyataan tak selalu semanis itu. Kejutan ulang tahun yang semula dibayangkan adalah kejadian seper setengah detik sebelum peluruh dari tembakan Stave menghujami bagian perut saya dan membuat kesadaran saya mulai memudar. Saya masih menyimpan sedikit kesadaran dan tembakan demi tembakan terus di lontarkan oleh Steve, hingga Sonya dan Grey tewas begitupun saya yang tidak tahu lagi bagai mana kondisi dari Istri dan anak-anak saya.

Sesaat sebelum kematian saya tiba, saya sempat berfikir bahwa cerita tentang dunia bisnis yang mematikat memang haruslah begini adanya. Kematian yang tragis adalah ganjaran bagi kekejaman dunia ekonomi. Tapi saya coba menumbuhkan pemikiran positif disisa-sisa helaan nafas terakhir saya, paling tidak saya berhasil mewujudkan keinginan saya sebagai pemeran protagonis dalam cerita tentang dunia yang keras ini, dunia bisnis yang mematikan.

3 dukungan telah dikumpulkan

Comments