The Librarian Oath

1 year ago
Muhammad Fajar

by: Muhammad Fajar

“ Baiklah, ngembaliinnya dua hari lagi ya.. “

Seorang remaja yang cukup muda mengambil stempel lalu menempelkannya ke bagian halaman belakang buku dengan mantap. Lalu memberikan buku yang tergeletak tadi ke lelaki tinggi besar di depannya.

Dia tersenyum dengan wajah yang teduh sambil melihat orang yang berhadapannya tadi pergi meninggalkan mejanya lalu ia duduk kembali. Remaja itu memiliki wajah putih bersih dan jerawat yang belum keluar, membuatnya ia tampak memiliki paras bayi. Ia benar-benar tampak muda untuk seusianya. Dengan rambut yang sedikit berantakan, ia duduk dengan tenang. Pandangannya mengarah ke seluruh ruangan besar itu. Tampak ia lebih jauh memandang seperti angannya pergi dari tempat ini.

Ruangan itu berisikan empat meja dengan luasan yang cukup besar. Setiap mejanya terdiri dari hampir enam kursi. Meja tersebut terbuat dari jati dan mengkilap jika dipandang dengan seksama. Selain itu terdapat hampir delapan bilik yang berada di satu sisi ruangan, tiap biliknya terdapat sekat yang memisahkan satu sama lain. Di pinggir ruangan itu terdapat sebuah tangga  setapak yang melingkar ke atas membantu siapapun untuk mengambil buku. Seluruh buku tertata dengan rapi di rak-rak besar yang menempel di dinding serta memutari ruangan itu.

Sebuah perpustakaan swasta yang berumur itu berdiri kokoh di sebuah kota metropolis dengan beberapa pohon rindang di sekitarnya. Pemerintah pernah mengatakan bahwa perpustakaan itu akan menjadi sebuah bukti nyata sejarah yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Itulah mengapa perpustakaan ini masih tetap beroperasi walaupun segalanya berubah digital.

Pemiliknya yang sekaligus menjadi pustakawan sudah berganti generasi tetap menolak untuk menjual bangunan serta buku-buku yang isinya ribuan itu ke pemerintah daerah maupun pemerintah negara. Beberapa tahun yang lalu, hingga presiden saat itu pernah datang untuk membicarakan hal tersebut namun sayang tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya, Daniel Rizaldi, seorang pewaris ke tujuh tongkat tersebut setelah kematian ayahnya. Ia adalah seorang remaja yang setiap harinya mengecek peminjaman buku dan  mengecapnya sendiri.

Daniel mengambil sebuah buku yang berada di rak sebelah mejanya itu, belum sempat ia membukanya, tiba-tiba seorang perempuan dengan wajah yang sendu datang ke tempatnya. Penampilannya tampak tidak trendy. Baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga. Dengan jaket hijau ber-hoodie, perempuan itu melihat sekelilingnya dengan wajah yang bingung.

“ Ada yang bisa saya bantu? “ kata Daniel.

Perempuan itu tampak bingung lalu ia mengambil secarik kertas yang ada di kantong jaketnya. Lalu dengan cepat, ia menunjukan kertas yang di atasnya sudah terbasahi tinta dengan bentuk tulisan yang teratur. Song of Missouri. Itulah isi kertas lusuh itu.

“ Oh judul ini, sebentar sebentar. “ Daniel bangkit dari kursinya dan segera berjalan.

Perempuan itu mengikutinya hingga beberapa langkah, setelah itu Daniel membalikkan badannya seraya berkata dengan senyuman yang cukup teduh,

Mbak, tunggu di situ saja. “ Daniel menunjuk ke sebuah kursi kayu di dekat meja besar.

Perempuan itu mengangguk dan segera pergi meninggalkan Daniel. Ia menarik sebuah kursi lalu duduk di sisi salah satu meja kayu itu. Daniel mencuri pandang ke arah perempuan itu, tampak ia gelisah dan tidak percaya diri. Kerap kali, ia melihat ke sekelilingnya. Setelah ia melihat orang lain yang juga duduk di sisi yang lain, pandangannya tertunduk sesekali. Lalu ia memandang ke segala penjuru kembali. Terus seperti itu.

Daniel sedikit khawatir. Namun ia tahu itu bukanlah waktu yang tepat untuk khawatir. Ia memiliki pekerjaan yang harus ia lakukan, yaitu mencari buku yang dicari oleh pengunjung. Itulah pekerjaan dari pustakawan.

Berbeda dengan perpustakaan yang telah memiliki komputer serta media lain yang canggih, perpustakaan ini sangatlah konvensional. Pustakawan berjalan dan mencari buku yang diinginkan oleh pengunjung jika ia tidak bisa menemukannya. Mengambil sebuah tangga besi yang alasnya terdapat dua roda ke bagian rak yang diinginkan. Memanjat serta mengambilnya. Begitu seterusnya. Perpustakaan yang menjulang ke atas ini tersedia banyak sekali buku dan seorang pustakawan harus bisa menghafalnya. Salah satu prinsip yang dipegang teguh dari pemilik-pemilik sebelumnya. Mereka menganggap bahwa dengan cara ini, kemampuan generasi selanjutnya tidak akan tumpul karena memaksa mereka untuk menghafalkan seluruh buku di perpustakaan itu. Ditambah lagi dengan pasokan buku baru tiap tahunnya.

Itu bukanlah hal yang sulit untuk Daniel. Seorang yang lahir serta menghabiskan hampir tujuh puluh persen waktu hidupnya di tempat ini, Daniel sendiri bisa menghafal judul ribuan buku yang terduduk di rak serta beberapa isinya. Sebuah ensiklopedia berjalan dengan nafas yang teratur. Dengan kuat, ia menarik sebuah tangga besi yang berada di pojok rak. Ia memanjatnya hingga lalu dengan cepat mengambil sebuah buku dari bagian fiksi.

Daniel tersenyum. Ia menemukan buku yang perempuan itu cari.

Dengan melihat seseorang masih mau membaca buku yang ada di sini, ia merasa bahwa keberadaannya tidak akan hilang. Sebagai tonggak generasi setelah ayahnya itu, ia bertanggung jawab akan peninggalan berharga miliknya. Sebuah perpustakaan dengan segala buku serta rahasia yang ada di dunia sebagian berada di sini. Sebuah kapsul yang bisa berpindah ke masa lalu juga terdapat di sini. Sebuah teleporter untuk memindahkan dirinya ke dunia lain seperti dunia peri, juga berada di sini.

Daniel berjalan dengan percaya diri dan menemui perempuan tadi. Ia sedang duduk lalu Daniel memberikan buku yang tadi ia pesan,

“ Ini mbak.. “ kata Daniel.

“ Te-terima ka-kasih. “ kata perempuan itu dengan gemetaran.

“ Jika ada hal yang lain, tolong beritahu saja ya.. “ jawab Daniel.

Perempuan itu tidak menjawab dan segera membuka buku itu. Daniel meninggalkannya lalu kembali ke tempatnya. Hingga terdengar suara lonceng dari arah pintu masuk. Seseorang lelaki dengan tas selempang yang terlihat berat membuka pintu tersebut dengan suara nafas yang terengah-engah. Lelaki itu mendekati Daniel dengan cepat,

“ Maaf terlambat, bos ! Tadi macet sumpah ! Pom bensinnya juga penuh ! “ katanya dengan tergesa-gesa.

Daniel menghela nafas.

“ Bukankah sudah kuberi tahu tadi bahwa ini hari Senin dan jam-jam segini, sebaiknya kau lewat rute yang memutari swalayan ? Kau ini tidak pernah mendengar apapun, sungguh. Tapi sudahlah, aku sedang dalam keadaan mood yang baik. “ balas Daniel dengan tidak mempermasalahkan hal tersebut lebih panjang.

Lelaki itu tersipu malu karena kelalaiannya lalu segera menaruh tasnya di rak sebelah meja Daniel. Sedikit merapikan rambutnya. Lalu bersiap untuk bertugas.

“ Jadi apa yang membuatmu bahagia kali ini, bos? “ tanyanya dengan semangat.

“ Cukup simple. Melihat orang-orang ini membaca di sini sungguh membuatku cukup bahagia. Jumlah pengunjung hari ini juga lebih banyak dari kemarin. Kuharap kita masih bisa bertahan untuk beberapa minggu, Juno. “ balas Daniel.

Juno tertawa kecil sambil menepuk bahu Daniel.

“ Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak, bos. Aku punya firasat yang baik bahwa tidak akan ada yang bisa menyingkirkan kita dan perpustakaan yang menjadi ahli sejarah ini. Jika pemerintah merobohkan tempat ini maka mereka benar-benar telah kehilangan akal. Apa mereka menginginkan generasinya kehilangan pengetahuan? “ kata Juno sambil membersihkan debu yang ada di pakaiannya.

“ Perkataanmu besar juga, Juno. Tapi bukankah surat itu datang lagi tadi pagi? Aku belum berani membukanya, sungguh.“ kata Daniel dengan wajah yang khawatir.

Juno mengangguk dengan lunglai.

“ Ah, kupikir saja lah nanti. Sudah kubilang tadi bahwa mood ku sedang baik. Jadi ya, aku tak akan mempermasalahkan hal ini dulu. Oh ya Juno, segeralah bersiap dan tolong tarik trolley itu dan taruh kembali buku-buku yang tertumpuk di situ.. “ jawab Daniel dengan bersemangat kembali.

“ Baiklah, bos ! Beres ! ”

Juno segera mempercepat langkahnya menuju ke tempat yang Daniel tunjuk. Ia segera menarik trolley dan mulai menaruh buku-buku tersebut di rak yang sepantasnya.

Waktu berjalan dan hampir seluruh pengunjung sudah berganti. Beberapa memutuskan membaca bukunya di ruangan itu sementara beberapa yang lain meminjamnya untuk dibaca di tempat yang lain. Cahaya oranye mulai menembus kaca jendela lalu menyoroti ruangan itu dengan perlahan. Tidak lama lagi perpustakaan akan segera tutup. Di bagian lain, Juno sudah selesai membereskan buku-buku serta merapikan kursi dan meja. Hanya satu pengunjung yang tersisa saat itu.

Daniel cukup terkejut bahwa perempuan misterius itu masih sibuk membaca. Daniel sedikit melirik bahwa lembaran bukunya hampir habis. Benar-benar pembaca buku yang cepat. Daniel cukup kagum karena jarang melihat orang yang seperti itu. Mungkin perempuan itu merupakan salah satu dari pembaca sekali duduk. Daniel masih menungguinya.

Juno yang barusan mengembalikan tangga beroda itu langsung mendekati Daniel dengan wajah yang heran sambil berbisik dengan suara yang pelan,

“ Hey, bos. Gadis itu, apa dia tidak tahu bahwa lima menit lagi, kita akan tutup? ”

“ Entahlah. Mungkin tidak. Jujur dia terlihat asing untukku. Hey, apa kau pernah melihatnya di suatu tempat, Juno? ” balas Daniel sambil sedikit berpikir.

“ Tidak, bos. Aku tidak pernah menemuinya di luar perpustakaan. Selain itu, jika di perpustakaan, aku pasti bisa mengenalinya. Tapi nope. Tidak ada hal yang familiar dengan wajahnya maupun penampilannya juga. ” jelas Juno.

Mendengar penjelasan Juno, Daniel segera berdiri dan berjalan mendekati perempuan yang daritadi masih tenggelam dalam dunianya itu. Ia melangkah dengan perlahan. Hingga akhinya ia berada di depan perempuan itu dengan batas meja kayu yang cukup besar.

“ Maaf, Mbak. Kita sebentar lagi mau tutup. Apa mau dipinjam saja bukunya? ” kata Daniel dengan sopan.

Perempuan itu menggeleng.

“ Ehm.. Tidak. Aku sudah cukup membacanya. Apa di sini ada buku berjudul Song of Eden ? ” tanyanya balik.

Daniel berpikir dalam ingatannya. Cukup mudah bagi Daniel untuk membaca seluruh indeks dari buku-buku yang ada di perpustakaannya itu karena ia tinggal di tempat ini. Berulang kali pikirannya mengurutkan seluruh nama buku yang ada di situ namun ia tidak mendapatkan buku yang perempuan itu maksud.

“ Sepertinya tidak ada, Mbak. ” kata Daniel.

Perempuan itu berdiri dan segera menyerahkan buku yang dibacanya itu ke Daniel. Ia pamit serta berterima kasih. Dengan cepat ia melangkah meninggalkan mejanya. Juno mengamatinya secara seksama sementara Daniel melihat bahunya yang kecil sudah meninggalkan pintu keluar. Langkah yang cukup cepat. Sementara Daniel yang masih membawa bukunya tadi mulai bergerak untuk segera memasukannya ke rak.

“ Sudah, biar aku saja, bos. ” sahut Juno.

Daniel memberikan buku tersebut sementara Juno menerimanya. Ia pergi ke tempat di mana Daniel mengambil bukunya tadi meninggalkan Daniel sendiri. Di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua. Setelah selesai menempatkan buku tersebut, Juno berjalan kembali menuju meja Daniel yang terletak di dekat pintu masuk.

“ Buku itu tadi, apakah buku itu memiliki seri yang lain, bos? ” tanya Juno.

Daniel berpikir sejenak.

“ Ya. Sepertinya ada tiga seri kalau tidak salah. Moschivico. Lorient dan yang terakhir Missouri. Dan hentikan berkata seperti ‘buku tadi’. Kau tahu bahwa setiap buku memiliki nyawa dari penulisnya. Sebuah karya berisikan kehidupan serta dunia buatan yang dimiliki oleh pembuatnya. Itu adalah hal yang indah.” jelas Daniel dengan sedikit sinis.

Juno tersenyum sedikit mendengar jawaban Daniel yang begitu serius itu.

“ Baiklah baiklah, bos. Jadi, bercerita tentang apa buku tadi, bos ? ” tanya Juno.

“ Kalau tidak salah sih, itu bercerita tentang kisah fantasi dari perjalanan seorang anak yang berjalan mengelilingi dunia untuk mencari segel-segel dunia yang tersebar di berbagai tempat. Segel itu berfungsi untuk—Tunggu. Jika kau ingin mengetahui isi dari buku itu, sebaiknya kau membacanya sendiri, Juno. Kau lebih baik banyak membaca. Toh, akan menambah pengetahuanmu. ” jelas Daniel kembali.

“ Ahahaha bagaimana sebuah kisah fantasi dapat menambah pengetahuanku, bos? Tapi baiklah, setidaknya aku tahu bahwa buku itu berisikan tentang hal yang menarik. Bukan hal yang membosankan. ” balas Juno.

Daniel mengambil salah satu kursi lalu duduk mendengar penjelasan Juno tersebut.

“ Kenapa kau berkata demikian? ”

Juno tersenyum lalu dengan cepat ia juga mengambil kursi yang lain lalu duduk berhadapan dengan Daniel.

“ Gadis tadi itu benar-benar seperti tenggelam di dunianya sendiri. Ah, cukup aneh kalau kukatakan. Tapi ia tampak serius namun di sisi lain benar-benar menikmatinya. ” balas Juno.

“ Oh begitu ya. Aku juga melihatnya seperti itu. Syukurlah, aku tidak sendiri. ”

“ Haa baru kali ini aku mengamatimu melihat perempuan dengan seksama, bos. ” balas Juno dengan nada menyindir.

Daniel tersipu malu dengan cepat. Telinganya sedikit memerah.

“ Ah hentikan. ”

Daniel mengajak Juno untuk membeli makanan dan mereka segera berangkat. Setelah mengunci pintu, mereka pun berjalan keluar. Udara sudah cukup berat karena langit senja telah berubah warnanya menjadi lebih gelap. Terlihat beberapa perhiasan langit mulai tampak dengan segala kilauannya. Walau belum sempurna, titik-titik yang berkelap-kelip sudah terpampang di sana. Jalanan di sekitar perpustakaan itu cukup sepi. Mereka berbincang dan tidak terasa sudah sampai di sebuah warung tidak jauh dari perpustakaan itu.

Sebuah warung kopi yang hampir seluruh pelanggannya merupakan orang yang pulang kerja. Terlihat setelan kemeja rapi itu telah dikeluarkan dari celana menandakan bahwa mereka telah melepaskan rasa stress di benak mereka. Di meja-meja terdapat beberapa camilan seperti krupuk dan makanan dengan bungkus berwarna-warni. Daniel dan Juno duduk di dekat sebuah rak kaca yang berdekatan dengan penjualnya.

Penjualnya merupakan wanita yang cukup muda. Rambutnya dikepang dua, wajahnya terlihat teduh. Kulitnya cokelat muda. Bibirnya yang merah menandakan bahwa setidaknya ia berdandan untuk melayani pelanggan. Bukan hal yang negatif namun ia hanya menghargai pelanggannya.

Sementara Juno sedikit bingung melihat Daniel yang memasang ekspresi aneh.

“ Ah, bapak nggak jualan? ” tanya Daniel kepada penjual tersebut.

“ Bapak? Oh tidak, Mas Hanafi itu kakak saya, Mas. Mas Daniel lupa terus ya. ” balas penjual itu dengan suara yang ringan.

Daniel tersenyum lalu menutup wajahnya dengan salah satu telapak tangannya. Seketika ia menunduk dan menaruh kepalanya itu di atas tangannya yang bersila. Juno mencoba menahan tawa kecilnya saat melihat sikap awkward Daniel.

Setelah memesan beberapa makanan serta minuman untuk mereka berdua, mereka segera membayarnya dan pamit meninggalkan tempat itu.

“ Kau tidak menginap? ” tanya Daniel.

“ Tidak tidak. Aku harus menemui adikku nanti. Ia sedang kemah dan aku ingin mengunjunginya malam ini. ” jelas Juno.

“ Perkemahan dekat perbatasan kota? ”

Juno mengangguk.

“ Tunggu, itu hampir tiga jam dari sini. Serius, kau mau ke sana malam seperti ini? Kau terlalu khawatir dengan adik perempuanmu itu, Juno. Aku yakin dia baik-baik saja. Dan kau tahu, dia sudah SMA. ” jawab Daniel.

“ Ya. Tapi bagaimanapun dia tetap adikku, toh ? Hahaha. ” balas Juno sambil tertawa.

Mereka pun berpisah di pintu masuk. Juno segera mengambil motornya yang berada di tempat parkir sementara Daniel segera masuk ke perpustakaan tersebut. Setelah membuka kunci, Daniel masuk dan hanya menyalakan beberapa lampu lalu mengecilkan pancaran cahayanya menjadi lebih redup.

Di dekat mejanya terdapat sebuah keranjang berisikan tumpukan kertas-kertas yang tidak beraturan. Daniel mengambilnya lalu memilah-milah kertas tersebut berdasarkan tanggalnya. Terdapat beberapa kertas yang penting saat itu, beberapa adalah kertas tagihan listrik serta air yang menunggak satu bulan. Daniel mendesah lemas saat melihatnya. Lalu ia mencari kembali kertas yang lain, ia mengambil dua amplop dari keranjang itu. Salah satunya amplop dengan stempel pemerintah daerah lalu amplop yang lain merupakan amplop pribadi yang tidak mencantumkan instansi. Hanya tertulis dari dr. Rizwan dan alamat tempat tinggalnya.

            Daniel membuka amplop pertama dari dr. Rizwan. Di dalam amplop itu terdapat sebuah surat berisikan tentang perkataan langsung dr. Rizwan. Beliau sendiri merupakan kenalan dari almarhum ayah Daniel. Seorang dokter veteran yang pernah bekerja di militer lalu keluar dan menetap di kota seberang hingga sekarang. Dengan perasaan balas budi beliau terhadap jasa almarhum ayah Daniel, dr. Rizwan lah yang menjadi sponsor dan membiayai segala kebutuhan perpustakaan itu sampai saat ini. Namun surat yang Daniel terima sekarang bukanlah berita baik.

Dr.Rizwan mengatakan bahwa ia tidak bisa membiayainya lagi.

Itu adalah rangkuman dari isi surat tersebut.

Daniel tergolak lemas mengetahui bahwa perpustakaan satu-satunya yang ia miliki saat ini sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Saat ayahnya masih ada, pembiayaan perpustakaan masih bisa teratasi, namun sekarang Daniel hanya sendiri. Ia hampir tidak bisa membiayai petugas pemeliharaan perpustakaan. Hanya tersisa dirinya sendiri dan Juno yang mungkin terpaksa membantunya karena orang tuanya juga memiliki hubungan yang baik dengan almarhum ayah Daniel.

Lalu amplop yang berasal dari pemerintah daerah itu Daniel pandang dengan sinis. Setelah berpikir beberapa kali akhirnya Daniel memutuskan untuk membukanya. Berharap isinya berubah, tidak sama seperti amplop-amplop dari pemerintah daerah sebelumnya. Saat membaca itu, Daniel tersulut emosi. Tanpa berpikir apapun, ia segera menyambar sebuah telepon tua di sudut mejanya lalu menelpon nomor yang tertera di situ.

“ Selamat malam, ada yang bisa saya bantu? ” jawab seseorang dari telepon.

“ Saya Daniel Rizaldi. Izinkan.. Tidak. Saya ingin berbicara dengan Pak Karmin Raksha. Tolong sekarang juga. ” jawab Daniel dengan tegas. Ia menggenggam tangannya tampak seperti ingin memukul sesuatu. Nafasnya tidak teratur karena emosinya yang meletup-letup.

Tak beberapa lama kemudian, suara pun berganti. Suara lelaki dewasa yang cukup berat seperti sedikit diseret mengambil alih pembicaraan.

“ Halo, ya? ”

“ Maaf sebelumnya, Pak. Tapi saya telah menerima surat yang Bapak kirim dan apa-apaan ini ?! Saya tidak bisa menerimanya sama sekali dengan keputusan sepihak semacam ini ! ” bentak Daniel.

“ Tunggu tunggu, Nak Daniel. Memang benar isi dari surat itu. Tapi saya itu, hanya menuruti perintah dari atasan. Jadi, Nak Daniel, segera ambil keputusan yang bijak dan saran saya, ya hanya saran, setujui saja. Tidak ada hal baik yang terjadi saat melawan pemerintah. Nak Daniel tahu itu, kan? ” balasnya dengan santai.

“ Tapi bukankah saya sudah mengatakan beberapa kali, wasiat ayah saya adalah untuk tidak menjual perpustakaan ini kepada pemerintah. Dan Anda menghormatinya saat itu. Kenapa sekarang berubah ? Bahkan presiden saat itu juga— ”

“ Presiden sudah berganti, Nak Daniel. Itu terjadi sekitar lima tahun yang lalu. Dengar, dengar. Keputusan itu sudah fix. Jika dalam seminggu Nak Daniel tidak menyetujui untuk menjual properti tersebut, pemerintah akan melakukan tindakan paksa. Kau tahu, saya tidak menginginkan hal yang tidak ingin saya dengar. Jadi saya harap, panggilan selanjutnya, Nak Daniel dapat mengatakan sesuatu yang membuat saya tersenyum, oke? ” pangkas orang itu panjang lebar.

Seketika telepon terputus. Badan Daniel terasa lemas.

Tujuh hari. Waktu yang tersisa untuk tempat ini. Daniel merasa bahwa kepercayaan dirinya tergoyahkan saat itu. Kepalanya terasa berat dan ia segera terduduk. Setelah badannya bisa digerakkan, ia mulai menggelar sebuah karpet setelah menggeser beberapa meja dan kursi. Menyisakan ruang yang sedikit lega di tengah ruangan itu. Setelah kematian ayahnya, Daniel lebih sering tidur di perpustakaan itu. Sebuah rumah kecil dulu yang pernah ia tinggali, telah dijual untuk kebutuhan hidup sehari-harinya. Hanya ini yang tersisa.

Daniel menatap ke langit-langit yang jauh. Bangunan yang memuncak seperti menara itu tergantung sebuah lampu antik di tengahnya. Cahayanya yang dibuat redup itu terpancar ke seluruh sisi ruangan. Kehangatan yang sempurna. Daniel menyadari bahwa cahaya itu akan hilang dalam beberapa hari ke depan. Hanya tersisa puing-puing yang akan roboh oleh mesin penghancur. Daniel menghirup nafas berulang kali namun pikirannya masih keruh.

Ia segera mengambil beberapa komik dari rak buku yang berada paling dekat dengannya. Bukan tanpa alasan, Daniel selalu tidur di tempat tertentu di ruangan itu. Setelah mengambil setumpuk komik, ia baca untuk membunuh rasa kantuknya. Ia hanya berharap menemukan solusinya esok hari. Semakin lama matanya semakin berat dan akhirnya ia pindah ke dunia mimpi. Menyisakan sebuah buku komik yang terjatuh di wajahnya.

Keesokannya, Daniel memutuskan untuk tidak membuka perpustakaan. Terlihat buku-buku komik kemarin berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Ia hanya bangkit untuk menggantungkan label closed di pintu masuk. Daniel memutuskan untuk mencari cara menyelesaikan permasalahannya. Di sisi lain, ia bertekad untuk menjaga wasiat ayahnya, untuk tidak menjual perpustakaan ini ke pemerintah tapi di sisi lainnya ia tidak bisa menyelamatkannya karena ultimatum salah seorang wakil pemerintahan daerah untuk menggusur tempat ini dalam waktu hampir seminggu ke depan.

“ Ah, ini benar-benar masalah.. ” eluh Daniel.

Dua jam kemudian, seseorang dengan keras mengetuk pintu depannya. Daniel segera berlari menuju pintu masuk dan ternyata Juno adalah orang tersebut. Ia membukakan pintu dan menyadari Juno seperti terengah-engah seperti biasa.

“ Kau.. Apa yang.. Sebenarnya.. ” kata Juno dengan kehabisan nafas.

“ Perbaiki nafasmu dulu. Mau kue? ” jawab Daniel santai.

Juno memegang dadanya sambil membuat nafasnya teratur.

“ Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Kenapa kau tutup hari ini? ” tanyanya.

“ Ah, itu. Aku sudah membaca surat dari pemerintah daerah. Dan aku belum menemukan solusinya. Jadi, ya, kututup saja dahulu. ” balas Daniel.

“ Kau—Dengar, jangan bertindak seperti ini. Aku membenci melihatmu seperti orang yang kalah. Bukalah seperti biasa. Lakukan aktifitas seperti biasa. Mungkin mereka hanya menggertak. Jadi— ”

“ Dengar Juno, donatur juga telah melepaskan tangannya pada tempat ini. Ya, aku mendapatkan suratnya bersamaan dengan surat dari pemerintah kemarin. Jadi, apa yang harus kulakukan dalam deadline itu, harus benar-benar terukur. Aku juga tidak memiliki tabungan yang banyak lagi. ” jelas Daniel dengan menaikkan nadanya.

Juno yang tidak tahan itu menggebrak meja.

“ Sialan, mereka ! Sungguh, aku tidak berharap ini terjadi begitu cepat. Maksudku, aku benci berkata seperti ini. Tapi aku tidak menginginkan tugasku melindungi perpustakaan ini berakhir seperti ini. Aku tidak bisa menyelesaikan mandat dari orang tuaku. ” Juno pun terduduk di dekat meja. Terlihat sedikit menyesal dan sedih. Ia menahan air matanya.

Daniel tersenyum. Ia menyadari bahwa keberadaan Juno di sini juga karena perintah orang tuanya. Ayah Daniel merupakan kawan lama dari ayah Juno. Saat hidup ia berhutang karena telah membantunya dalam keadaan genting saat itu. Juno sendiri diperintahkan oleh ayahnya untuk menjaga Daniel serta perpustakaan tersebut jikalau ayah Daniel meninggal. Mengetahui bahwa Daniel merupakan anak tunggal ayahnya, Juno menyanggupi tugas itu.

“ Dengar, kau sudah melakukan tugasmu dengan baik selama ini, Juno. Biarkan aku mengatasi ini sendiri. Ini merupakan tugas dari generasi pustakawan di sini. Dan dengan ini, kuputuskan bahwa kau telah selesai dengan tugas—”

“ Tidak ! ”

Daniel terkejut dengan bentakan Juno yang mulai bangkit dari kesedihannya.

“ Aku akan berdiri di tempat ini sampai akhir, bos. ” kata Juno dengan tegas.

“ Woy, tapi kau akan melawan pemerintah jika selama enam hari ini aku tidak menemukan jalan lain. Aku tidak ingin membuatmu dalam masalah. ” potong Daniel dengan bingung serta panik.

“ Pasti ada jalan lain. Percayalah. ”

Mereka pun berhenti berbicara saat itu. Seketika ikatan persahabatan mereka terjalin dalam kegentingan. Perjuangan mereka dimulai. Jika perpustakaan itu benar-benar pantas untuk dilindungi, maka Tuhan tidak akan diam melihat tempat ini hancur. Itu adalah keyakinan Daniel saat itu.

Saat siang tiba, seseorang mengetuk pintu. Sementara Juno sedang membersihkan beberapa rak yang ada di lantai atas, Daniel menghampirinya. Ia melihat dari pintu kaca tersebut, seorang perempuan misterius yang datang kemarin. Perempuan itu datang kembali. Daniel membuka pintu seraya berkata,

“ Maaf, Mbak. Kita sedang tutup. Apa ada yang diperlukan? ”

“ Ehm.. Apa kau sudah menemukan buku Song of Eden ? ” tanyanya datar.

“ Ah, kami tidak mempunyai buku itu, Mbak. ” jawab Daniel sopan.

Perempuan itu pun pergi meninggalkan perpustakaan itu. Namun hal yang aneh terjadi keesokan harinya. Walau perpustakaan masih ditutup, ia pun datang kembali. Daniel kembali membukakan pintunya.

“ Apakah kau sudah menemukannya? ” tanyanya kembali.

Daniel menjawab yang serupa.

Keesokannya, pertanyaan itu terulang kembali. Kejadian itu membuat Daniel bingung.

Kejadian itu berulang. Pertanyaan yang sama. Terus menerus.

Di hari keenam, Daniel mengetahui bahwa perempuan itu akan datang lagi. Ia menunggu di dekat pintu masuk. Apa yang ia perkiraan benar-benar terjadi. Perempuan itu datang dengan jaket hijau yang sama dengan cara jalan yang sama lalu belum sampai di depan pintu, Daniel mendahuluinya dengan berjalan keluar.

“ Apa kau akan bertanya hal yang sama lagi, Mbak? ” tanya Daniel heran.

Perempuan itu mengangguk. Daniel pun sedikit kesal akan hal itu, seketika ia pun membalasnya,

“ Dengar, kami sedang ada masalah di sini. Jadi tolong jangan datang kembali esok hari. Dan ada apa dengan buku itu? Apa buku itu benar-benar penting? Sebuah tugas dari sekolah atau bagaimana? ” tanya Daniel bertubi-tubi.

“ Itu adalah buku yang penting untukku. ” jawab perempuan itu dengan datar.

“ Aku tidak peduli ! ” jawab Daniel kesal. Ia sedikit kesal melihat perempuan itu menjawabnya dengan ekspresi yang datar. Seperti ia benar-benar mengejeknya dan menganggap keberadaan Daniel tidaklah penting saat itu.

Daniel mencoba untuk meninggalkannya. Belum selesai berbalik, perempuan itu menarik tangan Daniel. Daniel pun menghadap perempuan itu lagi. Dengan cepat, perempuan itu menggulung salah satu lengan jaketnya. Alangkah kagetnya, apa yang Daniel lihat saat itu.

Terdapat simbol-simbol magis yang tergambar unik dan memenuhi seluruh bagian lengannya. Seperti tatoo namun lebih rapi dan memiliki pola tersendiri. Ia pernah melihat hal yang seperti ini di sebuah buku tentang sihir-sihir. Walau ia sadar itu hanyalah buku fantasi, namun ia tak menyangka akan melihat hal yang sama di kehidupan nyata. Daniel terbelalak. Sementara perempuan itu berkata tegas dengan pandangan yang serius,

“ Dengar, aku tidak ingin kau sepertiku. Aku serta buku itu, adalah cara untuk menyelamatkan kondisimu sekarang. ”   

53 dukungan telah dikumpulkan

Comments