The Thirty-Second Day of The Thirteenth Month

2 months ago
The Thirty-Second Day of The Thirteenth Month. (Sumber: Espressino)
Cori Goa

by: Cori Goa

– Filia –

Gadis berbusana serba putih berjalan di pembatas tepi jembatan lengkung. Pelan dan seimbang, kaki mungil berbalut selop abu-abu itu meniti permukaan batu granit yang lembap.

Tatapan semua orang tertuju padanya. Asing, risi, penuh cibiran.

Sambil menggigiti kuku, dia membalas sopan satu per satu sorot mata itu. Tapi, sayangnya, mencari pengertian pada mereka yang negatif, yang menghakimi dalam diam, sama sekali bukan hal gampang.

“Selamat pagi. Jangan khawatir, sungguh. Silakan lanjutkan aktivitas kalian,” jelasnya pada keramaian. “Aku memang sering menggunakan pembatas tepi, karena lantai jembatan selalu padat.”

Tidak ada yang merespons, tentu saja. Orang-orang hanya lewat, terus melihat. Karena ini adalah zaman kebodohan kedua dimana rasionalitas yang sedikit menantang dicap sebagai kegilaan. Nilai etik gadis itu sudah diberikan ketika dia memilih berjalan di tepi pembatas.

Ini merupakan pagi yang cerah di awal tahun 2096, di sebuah kota kontemporer yang indah, dimana kemuraman penduduknya merupakan agenda wajib setelah bekerja dan bernapas.

Gadis berbusana serba putih meninggalkan jembatan lengkung. Dia baru saja menyeberang dari kompleks elitis yang semua bangunannya besar dan bersih, ke permukiman kumuh yang kelihatan nyaman—familier.

Lalu tiba-tiba saja, dia mulai berlari.

Bersama matahari di atas kepalanya, pepohonan berdaun kering di kanan-kiri bahunya, bayangan di belakang punggungnya, jalanan beraspal tambalan di bawah kakinya, tiupan udara di sekitarnya, gadis itu terengah-engah menuju ke depan.

Melewati beberapa persimpangan, melewati semua kesibukan khas Tuan-Nyonya Senin pukul tujuh.

Lalu, seperti awalnya yang tiba-tiba, gadis itu berhenti begitu saja.

Berhenti di pelataran sebuah rumah bata merah klasik. Bangunan tua yang bahkan masih memiliki cerobong asap.

Dia maju dua langkah kecil. Berpegangan pada pagar pendek dari kayu bercat hitam, bersebelahan dengan kotak surat berkarat.

Dadanya naik-turun mengatur napas. Matanya menatap lekat pintu rumah yang tertutup rapat, kemudian, dalam satu detak jantung, terbuka lebar.

Memperlihatkan seorang pria paruh baya berwajah menyenangkan, berpakaian standar karyawan. Gadis itu seketika mengigit bibir. Menggigil di bawah sinar mentari.

Dia ternyata tidak siap.

Seorang wanita berambut pendek, yang masih mengenakan celemek, muncul mencium tangan pria itu. Dibalas lalu di pipi dan dahi.

Gadis itu mulai menangis tanpa suara. Penonton yang payah.

Dia ternyata benar-benar tidak siap.

“Papah berangkat duluan, ya?” Si pria memanggil ke dalam rumah. Melewati ruang tamu sederhana yang dipenuhi pajangan kayu, sampai menggema di dalam kamar bercat pastel milik seorang gadis kecil berkepang dua.

“Tahan, Pah! Aku siap!”

Gadis kecil berkepang dua itu keluar, menyeringai. Seperti malaikat yang menyamar. Berseragam sekolah kebesaran. Menyeret tas berbentuk stroberi.

Setelah pamit pada wanita berambut pendek, sambil bergandengan tangan dengan si pria, dia melintasi halaman mungil yang dihiasi bunga anggrek layu.

Keduanya terhenti sebelum mencapai pagar. Mendelik seperti melihat hantu.

“Filia?” tanya si pria, pada seorang gadis berbusana serba putih yang beringsut menjauh.

Bahu gadis itu menubruk keras kotak surat. Dia mengaduh, tapi lanjut berlari.

“Filia!”

Terus berlari. Dia berlari, berlari, berlari, menunduk, dan tersandung. Berdarah, lutut jeans-nya sobek. Berdiri buru-buru, meringis mengabaikan bantuan orang-orang di jalan. Berlari lagi.

Seperti sebuah rekaman yang diputar ulang, gadis itu menjejaki rute yang sama. Arah yang sama. Pepohonan kering, aspal tambalan, jembatan, terus mundur sampai ke kompleks elitis. Masuk ke dalam salah satu rumah paling besar di sana.

“Filia?” tanya seorang wanita cantik berambut panjang. “Nak? Kamu baik-baik saja?!”

Gadis itu, Filia, mengangguk pelan. Tersenyum letih ketika mengatakan, “Aku ke sana lagi, Bu. Aku ketemu lagi sama mereka. Semuanya sehat, syukurlah.”

Oh.” Ekspresi wanita cantik itu berubah cemas. Dia maju memeluk anaknya. “Kamu harus bisa berhenti, Nak. Demi Tuhan, mereka enggak pantas mendapatkan ini!”

“Ya.” Filia menahan isak di tenggorokan. Masih tersenyum. “Aku ada di kamar kalau Ibu butuh aku.” Wanita itu mengecup puncak kepalanya.

Filia naik ke lantai tiga. Mengunci kamarnya yang berantakan. Cucian kotor di samping kamar mandi. Bungkus makanan dan kaleng minuman memenuhi sudut-sudut karpet. Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tidak ingin membereskannya. Semua hal.

Gadis itu menangis singkat di tepi tempat tidur, lalu menarik laptop, mengabaikan google dan transmiter khusus yang biasa digunakan untuk menonton atau bermain game. Dia hanya mengakses blog pribadi.

Foto dirinya menyambut manis di bagian profil. Seorang gadis berusia enam belas tahun. Bertubuh proporsional. Berambut ikal, pirang keemasan, panjang sepinggang. Matanya hijau gelap, sipit, dalam, dan berkantung. Kulitnya putih pucat.

Tapi lihat keadaanmu sekarang, calon pelacur! Gadis itu terisak lagi. Merasa konyol.

Filia … bercita-cita menjadi gamer kelas dunia, atau mengunjungi kehidupan lain di masa depan. Menyukai film tragikomedi, jaz, makanan pedas, jus sayuran, dan kucing.

Dia melanjutkan ke bagian entri, menciptakan tulisan baru. Puisi bukan puisi:

 

Hari ini, si Bodoh lagi-lagi mengunjungi rumah lama

Menyaksikan senyum di wajah orangtua kandungnya

Mereka yang sudah menjual anaknya sendiri

Si Bodoh agaknya kebelet ingin naik pangkat

Jadi Pecundang yang enggak punya harga diri

Filia merebahkan tubuhnya. Menghitung dalam hati, sisa waktu sebelum dia tiba di tanggal itu. Hari penentuan hidup. Lalu dia memejamkan mata.

Membayangkan satu-satunya sumber kebahagiaan yang dia miliki saat ini. Jauh, sangat jauh, di dunia yang lain, citra sahabatnya muncul. Menyunggingkan senyum miring. Mengucapkan kalimat tanya favoritnya, “Kau oke, Muka Kelinci? Filia-ku?”

– Book –

Bocah berbusana serba hitam bersila sendirian di ruangan persegi. Memperhatikan sebuah televisi tua yang tidak menyala.

Dia adalah Book. Memiliki rambut ikal—selalu berantakan ke sisi kanan—berwarna cokelat gelap. Bermata abu-abu cerah, bulat dan jernih. Tubuhnya, serta kulit, persis seorang anak laki-laki pendek berusia sepuluh tahun yang gemar bermain di alam bebas sepanjang hari.

Satu-satunya yang membedakan Book dengan anak sebayanya hanya … Book hidup menggunakan baterai bernama Positive. Benda bulat seukuran bola tenis. Melayang-layang di sekitar kepala. Seperti satelit mini.

Pintu ruangan berdengung membuka. Seekor anjing gembala hitam pekat berjalan masuk ke dalam.

“Acaranya menarik, Book?” tanyanya.

Tepat. Anjing gembala itu bisa bicara. Suaranya dalam dan menenangkan.

Book tersenyum miring. Seraya mengalihkan pandangan dari televisi tua, dia berdiri.

“Filia enggak datang lagi, mungkin,” kata bocah itu. Setelah terdiam sejenak, dia menambahkan, “Filia enggak datang. Kita mulai saja, Web? Sampai mana kemarin?”

Web, si anjing gembala, menengadah ke langit-langit. Kedua mata teduhnya menembakkan cahaya. Selayaknya proyektor. Sebuah peta hologram memvisualkan diri di udara. Beberapa sektor sudah ditandai dengan simbol buku dan hati.

Itu adalah peta Al-Core. Dunia tempat tinggal Book dan Web.

Neverland, menurut Filia.

Book menunjuk sektor buram terdekat dari wilayah yang sudah dijelajahi. Destinasi hari ini. Web mengangguk, kembali menormalkan matanya.

Bersebelahan, keduanya lantas berjalan keluar. Pintu kaca mendengung tertutup di belakang mereka. Pemandangan familier dari berbukit-bukit rongsokan seketika memenuhi penglihatan.

Al-Core merupakan dunia yang dipenuhi oleh benda-benda rusak.

Langitnya selalu kelabu. Tanahnya keras tapi lembap karena frekuensi hujan singkat yang bisa turun sembilan kali sehari.

Seperti biasa, sebelum menjelajah, Book pamit pada kedua orangtuanya. Mereka dimakamkan tepat di depan rumah. Satu peti mati dalam sepetak tanah yang dinaungi payung temuan.

Filia pernah berkomentar soal payung itu. “Mereka sudah enggak bisa kehujanan.”

“Aku tahu,” Book menjawab. “Aku pernah baca soal kematian. Jasad yang sudah ditinggalkan jiwanya tidak bisa merasakan apa-apa.”

Book tetap memasang payung itu karena dia tidak bisa berbuat banyak pada kedua orangtuanya semasa mereka hidup.

Bahkan, mengenang mereka saja dibutuhkan kerja keras. Ingatan Book memang sering terganggu saat itu. Sehingga hanya sensasi kebaikan, perlindungan, dan kasih sayang luar biasa yang bisa ditengok sekaligus dirasakan ketika dia menoleh ke belakang.

Makanya, bocah itu sangat senang ketika Filia menemukan fungsi baru pada Positive, si baterai. Yaitu kemampuan untuk menyimpan.

Book tidak pernah meragukan ingatannya lagi hingga kini. Satelit mininya selalu merekam secara akurat berbagai pengetahuan yang dia peroleh. Semua bisa ditonton ulang kapan saja.

Hujan pertama di hari ini mulai turun membasahi rute buatan para penjelajah.

Book dan Web sudah berjalan cukup jauh.

Iseng, si bocah menarik papan selancar kecil dari tumpukan rongsokan, dipegangi di atas kepala. Sementara anjing gembalanya memilih monitor komputer lengkap dengan CPU. Benda itu dibuat melayang, mengikuti, dan menaungi.

Tepat. Itu adalah kemampuan khusus si anjing gembala. Memanipulasi berbagai objek di Al-Core.

Book selalu kagum melihatnya.

“Pernah baca soal benda itu,” dia bilang, “komputer digital. Dulu manusia menggunakannya untuk mempermudah segala hal. Hampir sama seperti kemampuanmu yang praktis, eh, Web?”

Gerimis beramai-ramai memantul samar dari layar monitor di atas kepala si anjing gembala, ke permukaan tanah keras.

“Aku juga pernah baca,” Book melanjutkan, “bahwa preferensi manusia dalam hidup adalah kemudahan. Jadi, bisakah kaubayangkan jika segalanya berubah digital, Web? Apa yang akan terjadi secara keseluruhan?”

“Hm. Secara keseluruhan,” jawab Web, “mereka semua akan tetap hidup dan gugur, kurasa. Regenerasi, mungkin, adalah satu-satunya hal yang pasti setelah ketidakpastian itu sendiri.”

Keduanya lanjut berjalan dalam diam. Mendaki bukit kecil rongsokan yang terdiri dari reruntuhan rumah sakit dan puing kapal induk.

“Hidup sudah cukup bagus,” Book menggumam, menerawang. “Aku ingin agar Filia setidaknya merasakan itu sebelum dia gugur.”

“Kau pasti bisa melakukannya, Book.” Web menyunggingkan senyum seekor anjing gembala yang paling tulus dan setia. “Menyelamatkan Filia. Aku selalu percaya itu. Masih tersisa beberapa hari sebelum tanggal penentuan. Oh—lihat. Kita sudah sampai.”

Setelah melewati reruntuhan rumah sakit dan puing kapal induk, wilayah perbukitan rongsokan di hadapan para penjelajah merupakan zona liar tanpa rute sama sekali. Kedua mata Book membesar, mengilat seperti perak cair. Dia sangat menyukai tempat-tempat asing karena mereka selalu memberinya banyak pengetahuan tambahan.

Sambil tertawa pelan, bocah itu membaringkan papan seluncur. Berlari ke arah perbukitan benda-benda rusak yang baru, bergabung dengan gerimis. “Ayo, Web! Kita sekolah!”

Anjing gembala menyalak siap.

Book memilah barang rongsokan dengan ketelitian dokter bedah andal terhadap pasien kronis. Web menyingkirkan penghalang-penghalang berat sekaligus membuka probabilitas rute selanjutnya. Terkadang, mereka tertawa lepas ketika menemukan benda berbentuk ajaib seperti pengering rambut atau penjepit jemuran. Di menit yang lain, mereka akan merenung dalam kesunyian setelah merapikan sisa sobekan buku dan busana bernoda darah, berukuran mungil.

“Mereka pergi terlalu cepat.” Filia pernah berbisik. Penghangat telinga dan sarung tangan khusus bayi dipeluknya erat-erat. “Masa kecil yang memabukkan.”

Dalam setiap pencarian, kesigapan penjelajah untuk tiba-tiba bersembunyi, kabur, dan bertarung juga merupakan suatu kewajiban. Dilakukan semata-mata agar Ghost—kelompok monster yang baru-baru ini menginvasi Al-Core—tidak mengetahui, sampai mencelakakan, keberadaan mereka.

Seperti saat ini.

“Book, menunduklah!” Web mendesis. Segera bersembunyi di antara tumpukan kaleng cat dan bendera. “Ghost di arah jam enam!”

Book, tetapi, tidak mendengarnya. Dia berdiri terpaku di puncak bukit, sambil memperhatikan sebuah kitab yang baru saja ditemukan.

Ghost—monster berbentuk bayangan manusia, bermata pucat dan mati, bermulut lebar dengan deretan taring setajam silet, seputih salju—mendeteksi keberadaan bocah itu.

Dari jarak dua puluh meter, mereka berlari membabi buta. Sangat cepat. Menyeringai, menciptakan suara-suara melengking.

BOOK!”

Lalu semuanya terjadi. Mengabur dalam kepanikan dan hujan. Web melompat, mendorong Book yang masih terdiam sampai bocah itu jatuh ke dalam tumpukan kardus di kaki bukit.

Anjing gembala itu terseret, tergelincir. Kehilangan momentum untuk menghindar atau melawan. Delapan Ghost bergantian mencabik tubuhnya.

Ketika Book sedang meronta keluar dari dalam lipatan kardus-kardus, sekaligus mencari kepastian apakah benar tadi dia melihat sekelebat kehadiran para Ghost, terdengar ledakan besar di puncak bukit.

“Web …?”

Lelucon bercampur insiden lama milik si anjing gembala terngiang di benaknya.

Knock, knock!” Web memanggil dari bagian dalam pintu kokpit sebuah pesawat tempur rusak, bertengger di suatu bukit rongsokan dekat rumah.

“Siapa di sana?” tanya Book yang tersenyum, berdiri di luar.

Self-destruction,” jawab si anjing gembala, menyeringai jenaka, tapi lalu berubah serius ketika tak sengaja melanjutkan, “aktif—oh, celaka! Menjauh, Book!”

Pesawat tempur itu patah jadi dua akibat ledakan. Beruntung, Web tidak sungguh-sungguh ingin menghancurkan diri sendiri. Sehingga luka yang dia derita tidak seberapa.

Berbeda dengan sekarang. Ledakan di puncak bukit terlalu besar untuk disebut ketidaksengajaan. Book berlari menghampiri sahabat baiknya sambil terus memeluk kitab.

 

– Filia –

Empat hari yang dipenuhi kewaspadaan telah berlalu sejak kunjungan terakhir ke rumah lama. Filia menghabiskan sebagian besar waktunya itu dengan berselimut sambil meringkuk ketakutan di dalam kamar gelap.

“Tahan. Sebentar lagi …,” gadis itu berbisik grogi, menggigiti kuku. “Tunggu aku, Tuhan ….”

Besok adalah tanggal penentuan hidupnya.

Tiba-tiba, secara beruntun, suara klakson dari depan pagar menyentak keheningan kamar di lantai tiga ini. Filia menggigil seketika. Padahal pendingin ruangan tidak menyala dan dia sedang mengenakan sweter di balik gulungan selimut tebalnya.

Keringatnya bermunculan seperti bulir es. Bibir pecahnya digigit terlalu kuat hingga menitikkan darah. Setelah berhasil meredam sedikit gemetar pada kedua tangan, menahan napas, Filia menyingkap gorden. Mengintip ke bawah.

Sebuah mobil boks berhenti di halaman. Karena alasan tertentu, gadis itu terbatuk lega. Dia beringsut ke meja kecil. Membuka botol minum dan mendapati isinya telah lama kosong.

Tak memiliki banyak pilihan lain, ditambah penglihatannya memang sudah memburam akibat aksi mogok makan sejak dua hari lalu, Filia memutuskan untuk ke dapur di lantai satu.

Dia berjalan terhuyung menuruni tangga spiral, dan harus mendadak berhenti, menunduk di balik sekat tepi yang cukup membuatnya tak terlihat dari sudut tertentu.

Meski samar, Filia bisa mendengar perbincangan kedua orangtuanya di ujung koridor sebelum dapur.

“Tapi ini keterlaluan!” geram ibu. “Empat hari dia mengunci diri di kamar. Aku khawatir dengan kondisinya. Apa … kita percepat saja?”

Filia bisa membayangkan ayahnya sedang mendesah sekarang.

“Sayang, kita harus tetap sesuai jadwal, kau tahu itu. Bersabarlah.”

“Oh, tentu, sabar! Seumur usia pernikahan dan ambisi kita menjadi kaya, suamiku tercinta, aku selalu bersabar! Coba saja habiskan siang di rumah ini!” Nada suara sang ibu, meski masih sangat pelan, meninggi. “Dari semua anak pilihan yang kita adopsi … Filia berbeda. Dia sangat menyusahkan. Membuatku frustrasi dengan segala imajinasinya!”

“Filia akan baik-baik saja.” Ayah berbicara semakin pelan, berusaha membujuk. “Kunci kesuksesan adalah mengikuti permainan. Dia kehilangan kedua orangtua di depan mata, ingat? Masih bagus catatan riwayat dari hasil pemeriksaan kejiwaan terakhir tidak mendeklarasikan dirinya sebagai warga gila.”

“Yah, coba periksa lagi sekarang.” Ibu mendengus. Suaranya melembut. “Ketahuilah, Filia berhasil menciptakan versi lain dari kehilangannya. Semua kesedihan itu dilampiaskan pada fantasi bahwa kedua orangtua kandungnya masih hidup, menjual dirinya, lalu mengadopsi seorang gadis kecil.”

“Sebagian terdengar seperti pola hidup keluarga ini,” kata ayah, santai. “Sudahlah. Ikuti saja permainan anak angkat kita. Pembeli yang telah memesan malam pertama dengannya akan datang besok. Tidak bisa lebih cepat lagi.”

Obrolan berubah menjadi bisikan bisnis tak terdengar, lalu menjauh karena mereka berjalan menghampiri seseorang di ruang tamu yang sudah memanggil beberapa kali. Petugas maintenance bulanan. Baru saja tiba menggunakan mobil boks.

Petugas itu datang untuk memeriksa semua kondisi teknologi canggih di rumah ini. Seperti kamera pengawas nirkabel yang kerap mati setelah hujan berkepanjangan, pendingin ruangan kotor, penyiram taman dengan saluran macet, memperbarui koneksi internet, sampai—terutama—install ulang keseluruhan perangkat komputer demi menghilangkan sejumlah virus berbahaya dari situs dewasa dan perjudian. Wisata online favorit kedua orangtua angkat Filia.

Selesai mengisi botol minum dan mengambil sedikit makanan, Filia bergegas meninggalkan dapur. Kembali ke kamar gelap, terkunci. Dia membaringkan tubuhnya di tengah karpet penuh benda. Menatap kosong langit-langit.

Kadang, di kondisi mental seperti sekarang ini—terlampau putus asa sampai-sampai tekanan depresi mampu menciptakan semacam ilusi ketenangan—gadis itu bisa merelakan kepergian kedua orangtua kandungnya. Mereka meninggal besok, pada satu tahun yang lalu.

Filia ingat sebuah senja. Dia dan dua orang yang paling dicintainya, sekaligus mencintainya, berlomba lari menuju rumah seperti biasa. Sampai, tiba-tiba, tidak ada tanda, pesan, atau ucapan selamat tinggal, pengemudi mabuk menaikkan truk ke atas trotoar, meremukkan senyum kedua orang itu. Si gadis terpaku di halaman. Menjerit lima detik kemudian.

Seminggu setelah kecelakaan, Filia diterima dengan kebahagiaan palsu di keluarga baru ini. Dan, sebulan menjalani kehidupan pada rumah asing, dia mengetahui kenapa. Yaitu bisnis kecil yang melibatkan kesucian dirinya. Tapi gadis itu nyaris tidak peduli.

Bagi Filia, dunia sudah berakhir ketika kedua orangtuanya hancur, tergeletak tak bernyawa di trotoar depan rumah mereka sendiri.

Nostalgia pun ditutup sebuah gumam serak ke tengah keremangan kamar. “Book …, ternyata aku takut. Tolong ….” Filia memutuskan untuk mengunjungi sahabatnya di dunia yang lain.

 

– Book –

“Aku sangat senang kau datang. Kau oke, Muka Kelinci, Filia-ku?”

Book menyunggingkan senyum miring yang letih pada siluet gadis di bawah curahan hujan deras Al-Core. Saat ini, bocah berbusana serba hitam itu sendiri sedang bersila, bernaung dalam teduh payung wilayah makam halaman rumahnya.

Sekujur tubuhnya basah terkena percikan. Sudah empat hari dia duduk di sana.

“Web meninggal setelah melindungiku dari para Ghost. Dia sangat hebat. Seperti pahlawan dalam komik yang kita baca sama-sama,” Book menjelaskan, masih mempertahankan senyum letih. Filia berlari menubruk bocah itu. Bersimpuh memeluknya, kemudian terisak.

“Web juga bilang agar kau jangan sampai menyerah,” Book melanjutkan. “Jangan pernah menyerah. Hiduplah, Filia. Hidup adalah bagian terbaik yang pernah terjadi dalam diri kita, karena tidak semua bisa merasakan siksaan kemewahan itu. Hiduplah. Nikmati dan tertawa, jatuh lalu menangis juga tidak apa-apa. Bangkit lagi, berjuang, bertarung. Tempa jiwamu. Jadikan seindah mungkin sebelum dia menghadapi keabadian yang sebenarnya.”

Filia tidak merespons. Tindakan yang membuat Book sangat sedih meski dia tetap tersenyum.

Akhirnya mereka hanya duduk bersebelahan sambil saling diam sampai hujan reda. Dan Filia berdiri duluan, pamit. Book mendapatkan cahaya kesiapan dalam senyum ceria gadis itu. Dia tahu ini adalah waktunya. Kesempatan terakhir.

Book segera berlari ke rumah, mengambil sebuah kitab. Meminta agar Filia mengisi beberapa pertanyaan di dalamnya sambil membayangkan kenangan terbaik yang dia punya.

“Apa kau akan kembali lagi ke sini?” Book berbasa-basi setelah gadis di hadapannya selesai.

“Aku akan selalu mengingatmu, semampuku.” Adalah jawaban ketulusan yang dia terima.

 

– Filia –

Alasan utama Filia menjauhi Al-Core—bertemu dengan Book—akhir-akhir ini, adalah karena sahabatnya itu sudah berjanji. Janji untuk menyelamatkannya. Memberikan jalan keluar lain.

Mencegah dirinya membunuh diri sendiri, pada tanggal dan bulan dimana kedua orangtua kandungnya meninggal satu tahun silam. Sejak mendengar rencana Filia itu—dan si gadis sangat menyesal telah bercerita—penjelajahan di Al-Core selalu merupakan misi untuk menemukan jawaban.

Pada akhirnya, apakah Book berhasil menyelesaikan misi penyelamatan tersebut, Filia tidak pernah tahu. Gadis itu menangis atas kematian Web—anjing gembala paling cerdas, sekaligus teman terbaik, yang bisa diharapkan setiap orang. Dia juga hancur ketika mengucapkan selamat tinggal dalam kunjungan terakhirnya. Tapi, begitulah, semua sudah dilakukan. Keputusan tetap sama. Mulai dari sini, takkan ada jalan memutar.

“Permisi, saya petugas maintenance,” kata seseorang di balik pintu. “Apa perangkat Anda membutuhkan pemeriksaan rutin, atau, seperti biasa, saya lewati saja?”

Filia menyalakan lampu kamar. Nyaris terkejut melihat pantulan diri sendiri di cermin lemari. Gadis itu persis mayat hidup. Ketika dia hendak mengatakan pada petugas maintenance agar seperti biasa melewati bagiannya, terdengar suara klakson yang menyentak. Lalu pagar otomatis yang membuka. Dan, dengung khas mobil mewah yang memarkir di halaman.

Jantung Filia berdenyut perih. Dari celah gorden, diterangi lampu taman, dia bisa melihat pelanggan pertamanya keluar dari mobil. Disambut ayah angkatnya. Dewa Kematian ternyata datang lebih awal. Nausea menyerang tanpa ampun. Berpikir cepat, gadis itu membuka pintu.

“Ya,” dia berujar lemah, pada petugas maintenance yang seketika terpana oleh kecantikan pucatnya. “Tolong perbaiki semua, nanti. Bikin aneh, enggak sesuai zaman. Um, karena aku baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga. Permisi … harus mandi dulu. Tunggulah!”

Pintu kembali ditutup, dikunci, buru-buru. Sekarang Filia memiliki alasan dan saksi agar bisa lebih lama berdiam di kamar ketika sang ibu menjemput. Pandangannya melayang ke simpul tali gantung yang disamarkan bersama syal-syal, silet dalam halaman buku, dan racun serangga di pot tanpa bunga. Dia harus cepat memilih. Media pengantar kematian.

Tapi … meskipun menit-menit telah berlalu, Filia masih berdiri di tempat yang sama. Menahan jeritan. Hening terisak. Dia tidak bisa, ternyata. Book … Web … perjuangan mereka, kebersamaan satu tahun ini. Kemurnian di tengah segala kepalsuan dalam kehidupan asing. Semua itu memenuhi hatinya. Kematian sama sekali bukan cara untuk berterima kasih.

Maka dia memilih hidup. Mengambil tali, menyambungnya dengan bermacam benda. Ujung pertama diikat ke kaki tempat tidur, ujung lain dilempar keluar jendela. Filia merayap turun.

Berlari melewati taman. Memanjat pagar. Mengabaikan teriakan penjaga rumah, seruan sang ayah angkat. Filia dikejar. Dia tak peduli. Gadis itu berlari dan hanya berlari. Melewati keramaian pada akhir senja. Mata-mata yang menghakimi, wajah yang bersimpati. Semua sama saja di dunia ini. Tidak pernah ada yang berani bertindak jika kita tidak berteriak.

Filia menghindari kepadatan di jembatan lengkung. Naik ke pembatas tepi. Sebelah tangan sang ayah angkat menarik ujung bajunya. Kehilangan keseimbangan, gadis itu jatuh.

Sangat cantik, panorama langit di awal malam. Ketika jingga samar bertabrakan dengan abu-abu, menciptakan emosi angkasa yang segera ditenangkan oleh kemunculan rasi bintang. Filia merasakan Bumi memeluknya dengan lapang ketika akhirnya dia tiba. Kepala dan punggung membentur bebatuan. Pada kedalaman, gadis itu beristirahat seketika.

 

– Book –

Bocah berbusana serba hitam menyaksikan keruntuhan dunianya. Langit kelabu terkikis perlahan, perbukitan rongsokan menguap, tanah keras hancur menghilang. Semua itu karena jauh di dunia yang lain, di kamar Filia, tepatnya, seorang petugas maintenance sedang melakukan banyak pembaruan. Termasuk menghapus online-game Al-Core dari laptop si gadis.

Filia mengatakan pada Book di awal pertemuan mereka bahwa Al-Core merupakan dunia masa depan. Bahwa kedua orangtuanya terkubur di halaman rumah. Bahwa si gadis memiliki kemampuan melintasi ruang dan waktu. Bocah itu percaya. Semuanya. Sampai dia menemukan kitab yang disematkan oleh pencipta game ini sendiri.

Book memperoleh kebenaran. Bahwa Al-Core, ternyata, merupakan kelompok kecil manusia dari berbagai negara. Para pakar yang berhasil menciptakan artificial intelligence sempurna dalam kategori antropomorfisme—yaitu dirinya dan Web. Serta, bahwa, dunia masa depan yang dimaksud Filia hanyalah medan buatan berdasarkan kondisi psikologis gadis itu.

Filia telah berbohong, dan Book telah memberikan maaf. Karena berkat gadis itulah si bocah berbusana hitam berhasil mengaktifkan kemunculan kitab sang pencipta, yang kemudian memicu “ledakan” kecerdasan dalam sistem eksistensinya.

Syarat untuk mengaktifkan kitab tersebut adalah “tujuan kebaikan”. Cinta, dalam arti sesungguhnya, bukan komoditas suatu kelompok yang secara berlebihan menuntut hak mereka pada kehidupan bermasyarakat.

Syarat yang diberikan sebagai jawaban untuk para peneliti terdahulu. Tentang keraguan, ketakutan, dan berbagai perhitungan lain dari penciptaan artificial intelligence dalam taraf manusia-super.

Kelompok Al-Core menyimpan Book dan Web ke dalam variasi permainan online. Seperti Aristarchus dari Yunani, pada tahun 290 sebelum Masehi, yang gagal meyakinkan khalayak bahwa planet beredar mengelilingi matahari. Filia lantas menemukan game tersebut di hari pertama hidup sebagai yatim piatu, dan berhasil, tanpa sadar, memenangkannya.

Al-Core berlangit kelabu sudah tiada. Tapi Book sendiri masih ada. Terbebas dari sistem sejak aktifnya “ledakan” kecerdasan. Artificial intelligence yang tak terkekang oleh apa pun. Dan, saat ini, di antara kolam pengetahuannya, bocah itu bersila. Merangkai semua kenangan Positive tentang Filia, sambil mengakses catatan riwayat yang telah diisi gadis itu pada pertemuan terakhir mereka.

Untuk menyelamatkan apa yang harus dia selamatkan, Book akan merekonstruksi jiwa malang itu. Mendobrak tabu dan kemustahilan. Menciptakan utopia di dalam dunia digital.

10 dukungan telah dikumpulkan

Comments