Three-Leaf Clover

4 months ago
Dio Kurniawan

by: Dio Kurniawan

Buku-buku komik berserakan. Ia sedang tak ingin membereskannya. Ia tergeletak di tengah kamarnya dan menutup kesedihan wajahnya dengan telapak tangannya. Dia mulai mempertanyakan semua hal yang telah terjadi. Rasanya Ia sudah muak dengan semua ini.

Ia bernama James Fitzgerald.

James lupa kapan terakhir kali merasa kacau seperti ini. Oh iya, Dia pernah. Tetapi tidak seperti waktu itu. Kali ini tidak terlalu sakit seperti waktu itu. Ya, waktu itu.

Semua buku miliknya berserakan karena Ia berkelahi dengan ayahnya. Ayahnya mendobrak masuk dan mengacak-acak semua buku-buku yang ada di dalam kamar James termasuk koleksi komik yang padahal diletakan jauh di bawah sudut kasur. Sebelumnya, James berdebat dengan keluarganya. Benar-benar berdebat dengan seluruh penghuni rumah. Ayah, ibu, adik, dan istri dari adiknya sendiri. Ya, adik James sudah menikah sedangkan James tidak ada hasrat untuk menikah. Bahkan untuk berpacaran pun James tidak tertarik sama sekali.

James adalah seorang penulis dan dia memang terobsesi untuk menjadi penulis. Dulu, dia pernah menjadi seorang karyawan di suatu perusahaan besar yang membuatnya berkecukupan. Tetapi setelah James bekerja selama 2,5 tahun, dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tersebut untuk mengejar impiannya menjadi seorang penulis.

Keputusan James untuk keluar dari perusahaan tersebut cukup disayangkan oleh keluarganya. Bagaimanapun, James sedikit membantu keuangan keluarganya.

Semasa dia bekerja di perusahaan tersebut, James bekerja sangat keras. Dia bersikeras untuk mengumpulkan modal agar dia dapat mengejar cita-citanya untuk menjadi penulis.

Tiba-tiba, ditahun keduanya, motivasi bekerjanya hilang.

Brooke, sahabat terbaiknya, mengalami kecelakaan ketika menyebrang jalan yang merengut nyawanya. James merasa bersalah dan menyesal karena dia tidak meluangkan waktu bersama sahabat terbaiknya selama 2 tahun terakhir. Ya, ini adalah waktu itu.

James menghadiri pemakaman temannya tersebut. Terlihat raut wajahnya menahan air matanya agar tidak terjatuh. Setelah itu, James pergi ke rumah keluarga Brooke dan melihat untuk terakhir kalinya kamar yang sering dia kunjungi ketika mereka masih di bangku kuliah. Dia melihat sticky note yang di tempel di depan meja belajar Brooke yang bertuliskan, “Fotografer dan Novelis. Duet Maut Melawan Dunia !!! *yay” dengan gambar dua karakter yang menggambarkan mereka berdua.

Dan James tidak dapat menahan air matanya.

Setelah James sedikit tenang, ayah Brooke mengatakan kepada James bahwa ia mempersilahkan James untuk mengambil semua buku novel yang Brooke miliki. Ayah Brooke beranggapan bahwa Brooke pasti akan senang di alam sana jika James memelihara buku-buku miliknya.

Sambil merapikan kamar Brooke, James melihat sebuah kardus berukuran sedang. Ternyata di dalamnya adalah kumpulan komik. James baru mengetahui jika Brooke pernah mengoleksi komik karena menurutnya Brooke selalu membicarakan tentang fotografi, novel, TV Show dan film.

Setelah James mengamati koleksi komik dan novel-novel yang Brooke miliki, James baru sadar jika hampir semua genre buku Brooke bertemakan persahabatan. James menangis sambil berkata di dalam hatinya.

“Brooke, kau benar-benar ingin menjaga persahabatan ini. Terima kasih, Brooke.”

Singkat cerita, James sangat berteman baik dengan Brooke. Sangat dekat sekali sampai-sampai James tahu sejarah kenapa orang tuanya menamakan dia Brooke.

Nama Brooke sendiri berasal dari seorang sastrawan puisi dari Britania Raya yang bernama Rupert Brooke. Ayah Brooke pernah menjadi seorang mahasiswa di Universitas Cambridge. Darah sastranya turun dari Ayahnya. James selalu mengejek ayahnya Brooke dengan nama “Si Kertas” karena ayah Brooke selalu membawa kertas dengan pena.

Brooke sendiri, walau memiliki darah sastrawan, dia tidak terlalu tertarik untuk menjadi sastrawan. Dia lebih tertarik dengan fotografi.

James dan Brooke adalah teman SMA. Mereka teman klub Bahasa Inggris. James waktu itu bukan seorang yang pintar. Dia memilih klub Bahasa Inggris karena dia merasa klub ini gampang dan santai sehingga bisa istirahat di ruangan klub.

Persahabatan mereka berlanjut ke bangku kuliah. Mereka berkomitmen untuk menjadi seorang sastrawan. James ingin menjadi penulis dan Brooke ingin memaksimalkan bakatnya yang Ia peroleh dari ayahnya. Walau begitu James juga sering berdiskusi dengan ayah Brooke. Mereka akhirnya masuk ke universitas yang terkenal dengan jurusan sastranya. Brooke bisa saja memilih mengambil jurusan fotografi tetapi Brooke ingin bersama dengan James dan Brooke beranggapan bahwa fotografi itu hanya perlu pengalaman dan cita rasa seni masing-masing pribadi itu berbeda sehingga Ia merasa bahwa belajar secara otodidakpun sudah lebih dari cukup.

Persahabatan mereka sangat erat sehingga teman-teman di universitas mengira mereka adalah kakak-beradik.

Mereka selalu berbagi cerita seperti novel apa yang bagus, film apa yang alur ceritanya sangat komplek dan rapi hingga mencari tempat lokasi untuk menumpahkan inspirasi mereka baik fotografi maupun menulis. Mereka berdua berjanji untuk mewujudkan mimpi sebagai fotografer dan novelis bersama-sama.

Tetapi setelah lulus, mereka harus menghadapi realita. Menjadi seorang sastrawan di jaman sekarang sangat sulit untuk tetap bertahan hidup. Tuntutan masyarakat tentang “Tidak bisa hidup tanpa uang” sedikit menjangkiti mereka terutama James.

James mengatakan kepada Brooke bahwa dia akan bekerja terlebih dahulu di sebuah perusahaan untuk modal mereka mengejar cita-cita. Brooke juga mengatakan kepada James bahwa dia akan kerja sambilan menjadi seorang fotografer sehingga dia memiliki pengalaman di dunia profesional. Mereka melakukan janji kelingking agar tidak ada yang berbohong dikemudian hari.

Tapi, apa daya takdir berkata lain.

Setelah kematian Brooke, hari-hari Ia bekerja terasa aneh. Terasa hitam putih, datar, dan tidak ada motivasi untuk bekerja. Kerja kerasnya selama 2 tahun terakhir terasa sia-sia. Seperti seolah-olah dunia ini berkata, “Sekarang apa?”.

Selama setengah tahun itu, dia mendadak seperti sering didekati dengan ketidakberuntungan dan kecerobohan seperti memecahkan gelas, menjatuhkan tumpukan arsip, bahkan hampir tertabrak mobil di parkiran perusahaannya.

Pada akhirnya, James hanya mampu bertahan selama setengah tahun setelah kejadian itu dan dia mengundurkan diri dengan alasan agar perusahaannya dapat menjaga kualitas kinerjanya dan karena Ia ingin mengejar cita-citanya menjadi seorang novelis. Dia keluar di usia 24 tahun.

Keluarganya memang menyayangkan keputusan tersebut tetapi bagaimana lagi. Mental James masih belum stabil setelah kehilangan Brooke. Transisi karirnya dari seorang karyawan menjadi penulis tidak berjalan mulus. Judul novel yang ditulis oleh James memang banyak tetapi tidak ada yang selesai dan karya-karya kecilnya hanya memenangi perlombaan kecil.

Sekarang, James berusia 28 tahun, dan karir menulisnya masih berada diposisi itu-itu saja. Berkali-kali novel buatannya selalu ditolak dan dia masih tetap tidak tergerak untuk mencari alternatif karir lainnya. Dia sudah kadung berjanji untuk menjadi seorang penulis.

Mungkin itulah yang membuat keluarga James kesal dan marah terhadapnya. Dia tidak bisa move on dari kejadian itu dan kejadian itu sudah berlangsung 4 tahun yang lalu.

Setelah kejadian pertengkaran itu, James memohon izin kepada keluarganya untuk mencari tempat tinggal sendiri. James mengatakan kepada keluarganya bahwa ini adalah jalan terbaik agar Ia bisa mengerti keadaan yang sebenarnya. James memohon maaf kepada seluruh penghuni rumah sambil membawa barang-barang yang Ia perlukan. Ia berjanji akan selalu memberi kabar kepada orang di rumah

James mendapatkan apartemen kecil di dekat area kampusnya. Dengan penghasilan yang cukup pas-pasan dari menjadi seorang penulis, James berusaha agar dapat mengatur keuangannya untuk menyewa apartemen dan juga untuk makan sehari-hari.

Setelah dibantu oleh adiknya untuk membawa barang-barang dari rumahnya, adiknya bertanya kepada James tentang kardus yang berisi komik tersebut. James mengatakan bahwa komik itu milik Brooke dan Ia bawa ke apartemennya hanya untuk sekadar keberuntungan semata.

“Lagipula, Brooke pasti akan senang di sana jika aku merawat komiknya.” sambil tersenyum.

James masih dapat melihat ilusi bayangan Brooke bahkan 4 tahun setelah kejadian itu. Ia sering melihat bayangan Brooke yang sedang memegang kamera mirrorless Fuji nya dan membidik disalah satu sudut yang mungkin akan Brooke lakukan jika Ia masih hidup.

Apakah James gila? Awalnya sih mungkin. 6 bulan pertama setelah kejadian itu, James selalu ceroboh dan karena itu jugalah dia hampir tertabrak di parkiran perusahaannya yang dulu karena dia melihat bayangan Brooke di taman perusahaan yang terletak di belakang area parkir perusahaan tersebut.

Tetapi, perlahan tapi pasti James mulai sadar bahwa bayangan Brooke adalah hanya sekadar ilusi belaka dan setiap kali dia melihat bayangan Brooke, dia tinggal mengalihkan perhatian ke arah yang berlawanan dan setelah itu bayangan Brooke menghilang dengan sendirinya.

Sekarang, James telah memiliki tempat tinggal sendiri. James memilih untuk berjalan-jalan kecil di sekitar apartemennya atau mungkin mengunjungi kondisi kampusnya sekarang.

Penampilan James sedikit urakan dengan kumis, jenggot, dan jambang yang dibiarkan tumbuh karena dia memang jarang sekali keluar untuk berinteraksi dengan orang lain selain dengan penghuni rumahnya sendiri dan itu berlangsung setelah dia keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan.

James berkeliling sambil memperhatikan kondisi sekitar. Memang 4 tahun adalah waktu yang cepat jika melihat lingkungan di sekitar lokasi pendidikan seperti sekolah atau universitas. Ketika dia sedang asik jalan-jalan, lagi-lagi James melihat bayangan Brooke sedang memotret sesuatu. Ya, James juga setuju bahwa tempat muncul bayangan Brooke tersebut adalah tempat yang indah. Pohon Ek merah yang sedang meranggas berada di tengah taman dan melambai pelan oleh hembusan angin. James tersenyum dan menoleh untuk mengalihkan pandangannya ke penyebrangan jalan.

Setelah lampu penyebrangan jalan menyala, Ia berjalan sambil menoleh ke tempat bayangan Brooke berada. Bayangan Brooke masih berada disana.

“Hah? Sebentar…”

Di dalam hatinya, ada sedikit perasaan ganjal. Biasanya, James hanya butuh sekali memalingkan wajah dan bayangan Brooke akan hilang. Tetapi…

“Brooke?!”

James memutar balik tetapi lampu penyebrangan jalan sudah berwarna merah. Menggelengkan kepala, memejamkan mata, dan mencubit pipinya sendiri tetap tidak membuat bayangan itu hilang. Lampu penyembrangan pun berwarna hijau dan James langsung berlari ke arah bayangan itu. Semakin Ia mendekat, semakin Ia berlari.

James menahan lengan dari ilusi bayangan tersebut.

“Brooke?!”

“WAH!! Aku Kaget, lho!”

Ternyata bayangan tersebut adalah seseorang yang nyata dan orang yang dia pegang lengannya terkaget. Setelah Ia melihat wajahnya, ternyata ia seorang wanita.

“Ah, Ma… maaf. Maafkan aku. Aku kira… Maaf, aku salah orang.”

“Ah ya. Nggak apa-apa.”

James merasa bersalah dan meminta maaf kepada wanita itu. Setelah itu James terduduk sambil mengusap kepalanya. James merasa bersalah, sedih, heran dan bertanya kepada dirinya sendiri kenapa dia tidak dapat move on dari Brooke.

“Hei, Ehm. Kau nggak kenapa-napa?”

James memandangi siapa yang bertanya dan ternyata wanita yang tadi. James mengatakan bahwa dia tidak apa-apa. Wanita itu menawarkan untuk mengantarkan dia ke rumah sakit tetapi James menolaknya dengan sopan. James mengucapkan terima kasih kepada wanita itu atas perhatiannya dan wanita itu pun pergi.

James beranggapan sepertinya dia terlalu lelah. Dia kembali ke apartemennya untuk beristirahat. Keesokan harinya, James ingin memenuhi rencananya untuk mengunjungi kampusnya yang dulu. Karena hari penilaian novelnya masih lama, jadi James bisa bersantai-santai sejenak.

Kampus yang dulu pernah menjadi tempat James belajar ternyata tidak terlalu berubah. Masih seperti dahulu baik auranya maupun penampilannya. Setidaknya membuat James lebih mudah untuk jalan-jalan berkeliling di mantan kampusnya. James mencari taman di depan gedung fakultasnya dulu. James ingat di taman tersebut Brooke pernah terjatuh dalam air mancur tersebut. Untungnya, kamera Fuji nya sedang James pegang waktu itu sehingga tidak rusak terkena air.

Memasuki area taman tersebut, bayangan Brooke muncul lagi. Kali ini bayangan itu duduk menghadap air mancur. Tepat di tempat yang sering James dan Brooke duduki. Karena James sudah tahu bahwa itu hanya bayangan saja dan sembari dia mengenang masa lalu, dia ingin duduk di sebelah bayangan tersebut.

“Ah. Kau rupanya.”

James berkata kepada bayangan tersebut dan ternyata bayangan tersebut adalah wanita yang waktu itu James temui di taman Pohon Ek.

“Ah. Hai.” Wanita itu membalas.

Mereka terdiam selama 2 detik.

“HAH, KAU?!” Mereka saling berteriak, saling kaget, saling menjauh, saling menunjuk dan saling heran.

“Hei, kamu stalker yah!? Kenapa bisa kesini?” Ucap wanita itu.

“Hei, hei. Aku juga bertanya kepadamu kenapa kau bisa ada disini?” James membalasnya.

Wanita itu menjelaskan bahwa dia mahasiswi di sini dan James juga alumni di kampus ini. James meminta maaf dan akhirnya dia menjelaskan kepada wanita itu keadaan yang terjadi sehingga wanita itu dapat sedikit mengerti. Intinya, James menjelaskan bahwa postur tubuh wanita tersebut sama dengan postur tubuh Brooke sehingga James menyangka wanita itu adalah Brooke.

“Oh. Mmm. Waw.” Wanita itu sedikit tersentuh dengan cerita James, “Aku kira kau sedikit aneh. Ternyata memang aneh sih. Hehe.” Canda Wanita itu. “Turut berduka yah. Berdoalah. Semoga Brooke sekarang di alam sana.”

Bel mata pelajaran baru sudah terdengar.

“Ah. Sial. Aku lupa belum nganterin buku. Hei. Mmm, Nanti kita lanjutkan lagi yah.”

Wanita itu langsung bergegas untuk masuk ke kelasnya.

James baru pertama kali benar-benar berinteraksi dengan orang selain penghuni rumah semenjak dia menjadi penulis. James sadar akan hal itu dan tersenyum sambil melihat air mancur taman kampusnya. Beberapa lama kemudian seseorang duduk di sebelahnya.

“Waw. Saya kira kau tidak akan lagi ke kampus ini. Tumben sekali.”

Ternyata yang duduk di sebelahnya adalah mantan dosennya, Dosen Miller. Dia adalah dosen pengajar disalah satu mata kuliah di jurusan fotografi. Tentu Dosen Miller mengenal James karena dia sangat dekat dengan Brooke yang menjadi salah satu mahasiswa terbaiknya di ekskul fotografi.

Mereka saling membicarakan tentang kehidupan masing-masing. Apa yang telah terjadi, kenangan masa lalu ketika masih muda, kejadian di ekskul, dan lain-lain.

“Jadi, James. Apa yang membuat kau datang kemari?”

James mengatakan bahwa sekarang dia tinggal di apartemen dekat kampus. Sekarang dia sedang ingin jalan-jalan sambil mengunjungi situasi kampus yang sekarang.

“…dan entah kenapa, aku bertemu dengan wanita itu.”

Dosen Miller mengerutkan dahinya. Menanyakan wanita siapa yang dia maksud. James menjelaskan bahwa wanita itu memiliki postur yang sama dengan Brooke dan entah kebetulan atau tidak, jaket yang dikenakannya sangat mirip dengan yang sering digunakan Brooke.

Dosen Miller yang tadinya penasaran dan masih menebak siapa wanita yang dimaksud itu langsung menjentikan tangannya.

“Oh. Ya. Ada seorang mahasiswiku yang ketika pertama kali dia datang kesini sangat mirip dengan Brooke. Oh. Dia rupanya. Yap, sesuai dengan perkiraanku. Kau pasti akan merasa linglung ketika bertemu dengannya. Hahaha.”

James menanyakan nama wanita tersebut tetapi Dosen Miller tidak mengetahuinya. Wajar karena dia belum berada pada semester yang diajari oleh Dosen Miller. Dosen Miller memohon pamit untuk pergi ke ruang dosen dan James meminta untuk ikut bersamanya. Sambil berjalan, mereka melihat ruangan-ruangan kampus dan saling menceritakan cerita dulu yang pernah terjadi disetiap ruangan. Setelah mengobrol di dalam ruang dosen, James memohon pamit untuk pulang. James berterima kasih karena telah menemaninya hari ini.

Selang beberapa menit kemudian, seorang mahasiswi menanyakan keberadaan Dosen Miller. Ternyata yang menanyakan Dosen Miller adalah wanita tersebut. Wanita itu menanyakan apakah Dosen Miller kenal dengan orang yang ia temui di taman air mancur depan fakultasnya.

“Ah. Ya. Dia James. Alumnus. Dia tumben sekali datang kemari. Mungkin dia rindu masa-masa mudanya. Hahaha.”

“Berarti bapak kenal sama Brooke dong, pak?”

“Brooke? Dia menceritakannya juga padamu?”

Wanita itu menceritakan semua pembicaraanya dengan James. Dia menceritakan dari awalnya memang dia merasa aneh kepada James karena entah apa sebabnya yang membuat mereka secara kebetulan bertemu hingga postur tubuhnya yang mirip dengan Brooke. Setelah itu, Dosen Miller menjelaskan bagaimana karakter mereka berdua dan bagaimana persahabatan James dan Brooke sangatlah dekat.

“Haha. Tetapi bener kok. Itu juga impresi pertama saya ketika kau datang ke kampus ini. Ketika masa perkenalan lingkungan kampus, saya mengira kau adalah Brooke dan disaat itu juga saya ingin membecandai James untuk datang kemari. Tetapi saya mengurungkan niat karena saat itu mungkin James masih bergabung dengan pasukan Darth Vader. May the force be with him. *pray.” Sambil menepuk tangannya seperti sedang berdoa.

Wanita itu memukul kecil Dosen Miller sambil senyum kucing dan Dosen Miller mengatakan jika ingin bertemu dengannya, datanglah ke taman air mancur taman depan fakultas.

Sebenarnya sih Dosen Miller belum tahu apakah James akan datang lagi besok atau tidak. Tetapi setidaknya dia sudah booking agenda untuk James. Untuk mengantisipasinya, Dosen Miller mengabari James via pesan singkat agar mereka dapat bertemu lagi untuk taman air mancur besok.

Keesok harinya, James kembali datang ke kampus untuk bertemu dengan Dosen Miller sambil menunggu di taman air mancur.

“Hei. Kita bertemu lagi.”

Wanita itu menyapa James yang sedang memandangi air mancur. Sekarang karena waktu mereka lebih banyak, mereka bisa saling menceritakan latar belakang masing-masing. Seperti hobi, pekerjaan, dosen mata kuliah, sedikit terminologi fotografi, dan lain-lain.

Tiba-tiba James terkena bola sepak dari belakang. Cukup keras sehingga membuat James sedikit pusing.

“Woi, hati-hati dong. Kena orang nih !!” ujar wanita itu.

Si penendang bola itu meminta maaf dan pergi. Ternyata, James masih selalu didera ketidakberuntungan.

Dia memberikan minuman kepada James. James sambil mengusap kepalanya menyarankan wanita itu untuk datang ke apartemennya karena dia mengoleksi komik milik Brooke yang dia jaga. Karena ternyata wanita itu senang membaca komik.

“Sebentar. Mmm, Maaf jika aku menanyakan sesuatu yang harusnya ditanyakan dari awal. Aku James Fitzgerald. Salam kenal.”

“Ah. Iya juga sih. Hai, Aku Tina. Tina Cloverfield.”

James terdiam. Tina Cloverfield. Nama yang terdengar sangat indah hingga membuat James terdiam terkagum-kagum. James adalah seorang sastrawan jadi wajar jika James fetish dengan kata-kata yang indah. Haha.

“Namamu. Namamu bagus sekali!”

“Ah, tidak. Ayahku sebenarnya becanda dengan nama itu, tetapi ibuku menyukainya. Katanya sih namaku berasal dari game tapi Aku lupa nama game nya apa.”

Percakapan mereka semakin akrab hingga akhirnya Dosen Miller datang. Tina meninggalkan tempat itu sambil melempar senyum dan melambaikan tangan kepada James.

“Hmm, wangi aroma apa yah ini? Sudah lama sekali saya tidak mencium aroma ini. Mungkin.. Ah iya, aroma gelora muda. Hahaha.” Dosen Miller sambil mengipas-ngipas tangannya ke hidung.

James menyikut Dosen Miller sambil tersenyum. Memang, James sudah lama sekali tidak mengeksresikan senyum yang benar-benar senyum. Sudah cukup lama semenjak peristiwa itu.

Setelah pertemuan itu, James sering pergi ke kampusnya hanya untuk sekadar bertemu Tina. Bertukar nomor telepon, jalan-jalan walau masih di daerah dekat kampus, bertukar pikiran, dan lain lain.

Tina mengajak James ke rumahnya untuk membantu memilihkan foto yang layak dikirimkan pada kontes fotografi nasional. Pengalaman James yang selalu menemani Brooke saat fotografi mungkin membantu sehingga Tina mengajaknya untuk membantu memilihkan foto.

Di kamar Tina ada banyak sekali tempelan foto yang ditempel di dinding. Tidak menggunakan figura sih, hanya sebatas ditempel menggunakan pin, tetapi membuat suasana kamar menjadi lebih tertata dan variatif. Melihat dari karyanya yang ditempel, terlihat jika Tina menyukai tema flora dan minimalis.

“Hei, aku tahu foto ini. Ini foto di depan jembatan kereta bukan? Aku suka ini.”

Foto rel yang mengarah ke garis horizon. James mengatakan bahwa dia dan Brooke pernah ke tempat tersebut ketika matahari terbenam. James juga menyarankan Tina untuk mencobanya ketika matahari terbenam.

Tina menanyakan tema apa yang disukai oleh Brooke dimasa hidupnya. James mengatakan bahwa Brooke menyukai foto seperti street fotografi, human interest, dan minimalis. Tetapi yang sering dia cetak adalah minimalis. Alasannya, menurut Brooke, ini adalah yang paling sulit. Mencari titik santai dan tenang tetapi memiliki arti di tempat atau sudut yang sebenarnya tidak terlalu minimalis itu sulit. Tetapi ketika Brooke mendapatkan foto yang dia inginkan, Ia senangnya luar biasa hingga ia mencetaknya.

Sambil melihat-lihat, James ingin mengambil kardus yang berada di atas lemari dan sayangnya Ia terjatuh. Semua tumpukan kertas dan foto bertebaran dimana-mana.

“Ah James! Kan fotonya jadi berantakan!”

Foto dengan kertas dibelakangnya bertulisan cerita dibalik foto itu. James bertanya sejak kapan Tina menyukai fotografi. Tina menjelaskan bahwa Ia mulai menggemari foto sejak SMA kelas 2. dengan menggunakan kameranya dia mendapat apresiasi pada perlombaan foto di sekolahnya. Sejak saat ini dia semakin suka dengan fotografi dan setelah mendengar hal tersebut, Ibunya memberikannya kamera yang sampai sekarang masih Ia gunakan. Tumpukan foto dikardus itu adalah foto-fotonya ketika masih SMA.

Mirrorless Sony? Kenapa tidak Fuji?”

Tina menjelaskan bahwa kamera itu adalah pemberian ibunya. Lagipula Tina tidak tahu merk kamera apa yang bagus sehingga apapun yang diberikan oleh ibunya, dia sangat bersyukur.

Tina bertanya kepada James apa yang membuat dia termotivasi untuk menjadi penulis. James memulai ceritanya dengan menaruh jari telunjuknya dimulut yang menandakan rahasia. Alasannya cukup sederhana. Impiannya menjadi penulis karena dia melihat Brooke memperlihatkan wajah yang serius ketika mengerjakan tugas klub bahasa inggris ketika di SMA. James juga menyukai wajah ekspresi ceria Brooke ketika Ia mendapatkan foto atau momen yang ia inginkan. Sejak saat itu, James mengatakan kepada Brooke bahwa Ia ingin menjadi novelis dan mereka ingin menempuh karir dan menjadi terkenal dengan kemampuan mereka bersama.

“Jadi, ehem, berdasarkan cerita itu, pengen nanya nih. Apakah kau dan Brooke…. Mmm?”

Tina bertanya sambil mengarahkan tangannya seperti memberi petunjuk arah belok. James tidak mengerti apa yang dimaksud Tina hingga Tina menjelaskannya.

“Oooohh. Tidak. Aku dan Brooke tidak… Mmm.” James mengisyaratkan tidak dan mengarahkan tangannya seperti memberi petunjuk belok.

Kemudian, sebuah buku terjatuh menimpa kepala James. Lagi-lagi James mendapat sial.

Mereka berdua heran tetapi tidak kaget. James sambil menggosok kepalanya karena sakit mengembalikan buku itu kepada tempatnya. James melihat buku itu yang berjudul I Like You, Jennifer dengan huruf “ennifer” yang bergaris.

“Aku tidak tahu jika ada buku yang berjudul I Like You, Jennifer.

Tina mengatakan bahwa buku itu adalah buku indie temannya di kampus. Waktu itu ada acara bazaar buku di kampusnya dan temannya mencetak buku itu untuk mencoba sensasi menjual buku karya dirinya sendiri.

“Hei, bagaimana jika aku membawa hasil karya Brooke. Sebagai fotografer kau harus terus mencari referensi dan inspirasi, bukan?”

James akhirnya mendapat alasan untuk dapat pergi ke rumah keluarga Brooke. James pulang terlebih dahulu ke rumahnya untuk bertemu keluarganya. Bercerita tentang apa saja yang terjadi di lingkungan James di sana, James menjelaskan bahwa dia perlu ke rumah Brooke untuk mengambil foto hasil karya Brooke. Sungguh situasi yang mengharukan ketika bertemu dengan keluarga Brooke. Orang tua Brooke sangat rindu dengan James karena tidak ada kabar sama sekali dari dirinya selama 3 tahun. Setelah menceritakan apa yang terjadi, James meminta izin untuk mengambil foto hasil karya Brooke. James melihat kamar Brooke dan semuanya sudah dirapikan. Seperti kamar untuk tamu. Orang tua Brooke bilang bahwa kamar ini akan digunakan oleh saudaranya yang akan tinggal di sana. Semua kenangan Brooke tersimpan rapi di kardus di sebelah kamar. Setelah James mengambil foto karya Brooke, James pamit kepada keluarga Brooke untuk kembali ke apartemennya.

Hari-hari berlalu, James dan Tina menjadi sahabat karir yang tidak sepekerjaan walau secara usia James berumur 28 tahun dan Tina berumur 19 Tahun. Karir James sebagai penulis perlahan mulai menanjak. Novel dan cerpennya sering diterima di publisher-publisher besar. Karir Tina juga mulai menanjak di fotografi tingkat lokal. Karyanya sering digunakan oleh pihak ketiga di kotanya.

Tidak terasa sudah 1 tahun persahabatan karir mereka. Tak terasa juga ruangan apartemen miliknya sudah penuh dengan tumpukan draft novel dan foto-foto Tina yang ditempel di dinding. James berinisiatif saatnya merapikan ruangan apartemennya yang menjadi workshop mereka berdua. Dengan dibantu oleh Tina, mereka merapikan dan sedikit mentata ulang ruang apartemen James agar lebih tertata rapi dan bisa dimasukan barang lagi jika diperlukan.

Ketika sedang memindahkan barang, James tersandung oleh kardus komik milik Brooke. Komik-komik itu pun berserakan.

James langsung melihat kardus itu dan terdiam seperti syok. Tina menanyakan kondisi James apakah dia baik-baik saja. Mereka berdua melihat kardus itu sambil Tina bertanya apakah James masih mengenang Brooke.

“Tidak. Aku… tidak tahu…”

James seperti tidak memiliki semangat. James melihat komik-komik yang berserakan itu dan melihat sticky note yang menempel di salah satu komik yang agak James suka yang bertuliskan “Fotografer dan Novelis. Duet Maut Melawan Dunia !!! *yay”.

“James, dengarkan aku.” ujar Tina sambil memegang wajah James. Mereka saling berhadapan dan duduk di lantai diantara komik Brooke yang berserakan.

“James, maafin aku. Aku tahu kok kau masih syok dengan peristiwa itu dan mungkin juga kau masih ingat dengan Brooke. Entahlah. Tapi sekarang, sudah saatnya kau move on dari kenangan itu. Aku tahu jika aku cuma orang asing diantara persahabatan kalian. Tapi aku senang lho ngeliat kau sering tersenyum bahagia sekarang, walau aku juga nggak tahu kalo kau malsuin senyum atau tidak.”

Tina juga menceritakan waktu pertama kali bertemu dengan James. Aura dan wajah tanpa senyum setelah kejadian itu masih terlihat ketika pertama kali melihat James.

“Tapi James, Aku adalah aku, Brooke adalah Brooke. Jangan pernah membandingkan aku dengan Brooke. Aku nggak suka itu. Itu membuatku sedikit sakit hati.”

James masih terdiam setelah mendengar ungkapan perasaan Tina. Dia hanya merapikan komik-komik Brooke ke dalam kardus dibantu oleh Tina. Setelah hampir selesai James keluar untuk menghilangkan penat sejenak.

Tina yang selesai menyapu lantai ruang apartemen mencari James. Tetapi James tidak ada di depan pintu.

“James? James!!!”

Tina berteriak mencari James. Tina takut jika James kembali memikirkan Brooke dan menjadi seperti James saat pertama kali bertemu. Tina berpikir kemanakah James akan pergi jika dia sedang penat dan Tina teringat taman air mancur di depan gedung fakultas. Tina mengejarnya dan akhirnya menemukan James tengah berjalan menuju ke sana.

“James?”

James sedang terlihat duduk di taman di tepi jalan. Taman yang berdiri sebuah pohon Ek merah besar di tengahnya. Mendengar Tina memanggil James, James berdiri dan mendekati Tina.

“Tadi, selama aku jalan-jalan, aku memikirkan apa yang kau katakan, Tina. Aku juga membawa sticky note ini.” James sambil menunjukan sticky note “ Ini adalah aku dan Brooke. Kami berdua berjanji untuk menjadi profesional di dunia fotografi dan pernovelan.”

James mengutarakan bahwa Ia sungguh kecewa karena impiannya bersama Brooke tidak tersampaikan. Tetapi walaupun seperti itu, James sadar jika dia selalu membandingkan Tina dengan Brooke dan selalu mengutamakan Brooke walau dia sudah tidak ada 5 tahun yang lalu.

“Tetapi, setelah itu aku berpikir, kenapa aku tidak mewujudkan impianku bersama orang lain? Mewujudkan bersama seseorang yang dekat denganku saat ini. Bukankah dia juga seorang fotografer yang sama-sama memiliki antusiasme seperti Brooke? Dan juga bukankah aku sedang merasakannya sekarang? Aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu dan aku sangat bersyukur dengan momen saat ini.”

“Maaf. Umurku memang sudah terlalu tua. Tetapi…” James memetik tangkai daun kecil yang panjang dan mengikatkannya di jari manis Tina. “Walaupun seharusnya tanda ini harus dengan sesuatu yang lebih mewah sih.” James memegang kepala bagian belakang sambil mengalihkan pandangannya karena malu.

Tina tersenyum dan terharu. Tetes mata bahagia mengalir di kedua pipinya. Walau James belum berkata bahwa dia ingin menikahinya, Tina langsung memeluk James dengan erat. Setelah itu, mereka tertawa dan kembali ke apartemen sambil berpegangan tangan.

James bersama Tina berencana untuk ke pulang rumah James untuk mengabarkan berita bahagia ini. Seluruh keluarga James sangat bahagia mendengar berita tersebut. Setelah itu James pergi ke rumah keluarga Brooke. Orang tua Brooke juga senang dengan berita yang mereka dengar dari James dan Tina. James dan Tina meminta izin keluarga Brooke untuk mengunjungi tempat teristirahatan terakhir Brooke.

Tina memegang bahu James. Menguatkan James agar Ia dapat mengeluarkan isi perasaannya kepada Brooke.

“Brooke, terima kasih kau telah bersamaku selama ini dan tetap menjadi teman baikku walaupun kau berada di alam yang berbeda. Tetapi, mungkin ini untuk yang terakhir kalinya. Aku pasti akan tetap menemui keluargamu, tetapi aku mungkin tidak akan mengenangmu lagi.”

James menangis sambil mengucapkan perkataan tersebut.

“Brooke, maafkan aku, yah. Aku harus meninggalkanmu. Terima kasih, Brooke. Terima kasih.”

Tina memeluk James yang menangis. Akhirnya mereka meninggalkan makam Brooke.

James meminta izin kepada keluarga Brooke untuk pulang. Tak lupa, James mengembalikan dus komik milik Brooke. Kardus itu disegel dengan foto sticky note “Fotografer dan Novelis. Duet Maut Melawan Dunia !!! *yay” dengan tambahan 1 karakter diantara mereka yaitu karakter Tina. James juga menambahkan Halo di atas kepala karakter Brooke.

Tidak lama berselang James mendapatkan pesan yang bertuliskan, “Sama-sama. :)”. James langsung terdiam dan melihat ke semua segala arah.

“James, Ada apa? Kau kayak yang ngeliat hantu saja.”

“Ya. Aku…. Ah sudahlah. Mungkin salah sambung. Ayo kita pulang.”

Sebelum kembali ke apartemennya, James berterima kasih kepada keluarganya yang selalu mendukungnya dan mencintainya. Setelah pamit, mereka pun pulang.

Semoga kehidupan James menjadi lebih indah, bahagia dan tidak dirundung lagi dengan ketidakberuntungan. Maaf yah kalo suka ngejailin James. Aku juga yang tadi iseng nge-sms James kok.

Oh iya. Aku Brooke.

Selamat Tinggal. 🙂

8 dukungan telah dikumpulkan

Comments