Tren

7 months ago
Sumber: pexels.com
Lumi

by: Lumi

Gawat. Temanku terkena hype!

Maksudku, ia berusaha—terlalu keras—untuk mengikuti tren yang sedang ada. Memang, sih. Riwayat hidupnya selama sekolah begitu kurang pergaulan dan minim informasi terkini. Terutama yang berhubungan dengan anak muda. Sehingga, sekarang ia bertekad untuk melakukan make over dan mulai peduli dengan hal yang seperti itu.

Maksudku lagi, ikut-ikutan kekinian ‘kan susah. Apalagi kalau seseorang tidak terbiasa melakukan hal itu. Pasti akan terasa sangat mengganggu.

Paling tidak, itu yang kusampaikan pada teman terdekatku, Tania. Sebagai teman yang telah bersamanya sedari sekolah menengah atas, opiniku ini sangat penting. Sayang sekali kalau dia begitu keras kepala dan seringkali menolak untuk mendengarkan.

“Nggak bisa begitu, Anya. Aku udah bener-bener bertekad sebelumnya kalau harus berusaha untuk memerhatikan tren! Minimal mencobanya!,” kilahnya.

“Ingat. Mencoba-coba narkoba itu tidak baik.”

“Itu beda lagi, astaga! Konteks di sini murni buat pergaulan yang positif. Bukan sekedar latah seperti itu!”

Kepalaku menggeleng pelan. Ia masih memandangku dengan kesal karena tidak mampu memahami pemikirannya. Maaf. Sebagai teman yang baik, sudah tugasku untuk memberinya rambu-rambu dalam menentukan keputusan.

“Oke. Lebih baik kita ambil kesimpulan bahwa ikut tren itu penting, namun dalam batas wajar. Dalam hal ini, lebih memerhatikan pakaian dan tahu isu-isu terkini adalah hal yang positif. Namun, kalau tren tersebut mengarah pada hal-hal yang buruk lebih baik kita segera menjauhinya,” simpulku panjang lebar. Tania langsung tersenyum lebar mendengarnya.

“Nah, jangan kaku gitu dong. Memangnya kenapa sih kalau aku ikut-ikutan tren gitu?”

“Soalnya ini, nih.” Aku mengambil smartphone yang daritadi tergeletak di meja lobi fakultas, mencari-cari informasi terkait dan menunjukkannya kepada Tania. “Meski aneh, tapi banyak orang yang mengikuti tren ini di luar sana. Misalnya, tren buah alpukat. Di sini mereka berusaha untuk menusuk buah tersebut dengan pisau sampai tembus melukai tangan. Ah, ini! yang sempat trending kemarin. Blue whale challenge—“

“Yang ujung-ujungnya bunuh diri itu? Nggak, lah! Aku tahu yang mana tren aman atau nggak, kali?! Tolong, kita ini udah kuliah,” cibir Tania. “Aku pasti bisa jaga diri.”

Aku mengangguk setuju dengannya. Memang kita harus memerhatikan kekinian yang tidak jelas maknanya. Bahkan, ada beberapa di antaranya menarik orang dengan halus. Begitu sadar, mereka tidak bisa lepas dari tren tersebut. Sungguh mengerikan!

“Ya, betul sekali. Kita harus benar-benar memilah apa yang buruk dan baik untuk diri kita masing-masing, Intinya, kita harus ekstra hati-hati sama yang namanya tren. Dengan kemajuan teknologi yang seperti ini, entah apalagi yang bakal viral kedepannya. Lihat! Tren apalagi ini?! Mereka membunuh orang yang dekat dengannya dan meng-upload-nya sebagai bukti keanggotaan. Ngeri!”

“Ih, lebih baik kamu kurang-kurangin lihat seperti itu, Anya. Yang ada cuma bikin parno. Pokoknya kita harus pandai-pandai menjaga diri kita aja. Betul?”

Akhirnya Tania mau mendengarkanku di akhir percakapan kami. Aku merasa bahwa jika anak ini tidak diawasi, bisa-bisa ia berjalan di jalur yang salah. Bukan berarti aku tidak percaya dengannya, namun aku hanya berusaha berhati-hati sebagai teman baik.

Beberapa lama kemudian aku merasa bahwa Tania harus diingatkan kembali. Berkat keinginannya yang kuat untuk berubah dan mau bergaul lebih, ia sekarang mempunyai banyak lingkaran pertemanan. Tidak jarang pula Tania membawaku untuk menghabiskan waktu bersama dengan berbagai jenis teman-temannya. Tetapi ada satu hal yang membuatku tidak nyaman.

Ada satu kelompoknya yang bisa menyeret Tania ke lembah keburukan.

“Eh, ikutan yuk jalan sama anak-anak. Ke tempat biasanya,” ajak Tania.

Aku tahu betul apa maksud dari ajakannya. Pasti berasal dari kelompok bermain yang tidak tahu aturan itu. Bayangkan, tawaran untuk menarik Tania ke tempat yang tidak bagus dan remang-remang terus bermunculan. Apalagi dengan jam keluar rumah yang tidak menentu. Sering kali aku mendengarkan laporan dari penghuni kos lain kalau Tania tidak pernah pulang di bawah jam dua belas malam. Hal yang seperti itu benar-benar membuatku resah.

Sebagai teman yang baik, aku bertanya kepadanya ketika kelas usai.

“Kamu kemarin ke mana? Kok nggak ada di kos?” tanyaku ketus. Ia hanya memandangku dengan tatapan heran.

“Ooh, iya. Maaf, lupa kasih tahu. Hehe,” timpalnya enteng sembari mengatupkan kedua tangannya di depan wajah. “Biasa, lagi jalan sama anak-anak. Mereka ‘kan kalau main sampai malem gitu.”

Aku menghela nafas panjang di hadapannya. “Hati-hati, loh. Main sampai malem banget itu nggak baik. Tetangga kosan juga khawatir sama kamu.”

“Ngapain dengerin omongan mereka? Bantu di kehidupan aku aja nggak. Haha, biarin aja deh, Anya. Mereka hobi ngomongin orang lain soalnya.”

“Tania! Ini demi kebaikan kamu. Aku tahu punya teman banyak itu menyenangkan, tapi kita juga harus selalu waspada!”

“Apaan, sih. Kok kamu jadi sewot begitu.”

Aku duduk di sebelahnya dan mendesah pelan, memandang kedua matanya begitu dalam. “Tania. Ini bukan perkara apa kata orang. Aku benar-benar khawatir sama kamu. Aku harap kamu bisa mengerti.”

Ia terpaku, tidak menyangka bahwa aku akan berbicara seserius ini. Kemudian, ia memalingkan wajahnya dan memandang ke luar jendela.

Beberapa saat kemudian tidak ada kata yang tertukar di antara kami. Hanya keheningan sore hari dan hiruk pikuk beberapa orang yang berada di kelas maupun di lorong gedung. Mungkin Tania sangat keberatan dengan pendapatku barusan. Namun, tidak apa-apa. Sebagai teman yang baik dan mau peduli kepadanya, aku akan melakukan hal yang benar meski ia membenciku sekalipun.

Perhatian kami berdua sempat terfokus pada pembicaraan beberapa orang yang duduk tidak jauh dari kami. Terdiri dari dua orang laki-laki dan perempuan yang membicarakan semua hal yang bisa mereka pikirkan. Namun, ketika mereka sampai pada satu topik yang menarik, kami berdua terdiam mendengarkan. Sebuah tren yang telah memasuki kota ini, tren pembunuhan dan memamerkannya di internet.

Penasaran dengan kebenaran atas isu yang mereka bicarakan, jemariku langsung sigap membuka informasi yang terkait. Ternyata benar. Ada beberapa investigasi polisi yang menyatakan adanya beberapa pembunuhan dengan alasan yang tidak jelas serta beberapa konten media yang menampilkan pembunuhan itu. Dengan kata lain, ancaman besar akan datang jika aku dan Tania tidak berhati-hati dalam bergaulan kami.

“Kamu denger itu, ‘kan. Tania?” bisikku.

“Ya, denger,” tanggapnya ketus, masih memalingkan muka. Melihatnya seperti itu, mungkin sudah waktunya kalau aku memberikan ruang untuk dirinya sendiri.

“Baiklah kalau begitu. Aku harap kamu masih bisa mengontrol pergaulanmu. Jujur aja, aku nggak nyaman kalau kamu terus menerus bertindak tidak layak seperti itu,” ujarku sembari bergegas dari kelas.

Berkat pembicaraan kita saat itu, Tania berusaha untuk lebih memerhatikan dirinya. Pulang tidak lebih dari jam sepuluh malam, lebih memerhatikan materi-materi kuliah dan memilah ajakan temannya yang sekiranya bermanfaat atau tidak. Hatiku begitu bahagia melihat dirinya yang seperti itu. Tentu saja, karena saranku sebagai teman baik benar-benar didengarkannya.

Sampai kemudian tibalah hari itu. Ia bersikap berbeda dari biasanya dan memintaku datang ke kos-kosan. Ketika jemariku mengetuk pintunya pelan, Tania hanya membukanya sedikit dan mengintip di balik pintu.

“Tania?”

“Nggak ada yang ikutin kamu, ‘kan?” Suara Tania terdengar lirih dan bergetar.

“Hah? Kayaknya nggak. kenapa—“

Tiba-tiba saja ia menarikku ke dalam dan segera mengunci pintunya. Nafasnya begitu tersengal-sengal. Pandangan matanya kadang-kadang terlihat tidak fokus. Baju tidurnya juga terlihat acak-acakana. Tania berada di kondisi yang memprihatinkan.

“Kayaknya… aku harus mengaku sama kamu, Anya…”

Dadaku berdegub kencang. Apa yang salah dengan anaknya? Mengapa ia terlihat sekacau ini?

“Kamu kenapa?”

“Maaf. Aku kena arus. Jadinya sekarang aku jadi pecandu…”

Leherku begitu kelu untuk melanjutkan. “Pecandu?”

“Iya,” ia berusaha untuk mengatur nafasnya. “Aku pakai narkoba, Anya.”

Seketika itu juga hatiku hancur, tidak memercayai teman terdekatku telah terjemus sebegitu dalamnya. Tania berlutut, bersandar lemas pada pintu kayu kosan dan mengerang pelan. Aku hanya bisa memeluknya untuk sementara dengan mata yang sembab karena masih belum mampu menerima semua ini.

Apa yang salah dengan sikapku selama ini?

Setelah Tania mendapatkan dosis harian yang seharusnya ia konsumsi, tubuhnya perlahan-lahan tenang kembali. Ia meminta maaf terus menerus padaku, mengakui kesalahannya untuk mengabaikan nasihatku atau semacamnya. Tania memekik pilu, meratapi apa yang telah terjadi padanya.

Jujur saja. Saat itu aku tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Apa yang dikatakan olehnya hanya mampu kumengerti sekitar dua puluh persennya saja. Sisanya? Entahlah.

“Maafkan aku, Anya.”

“…ya,” jawabku datar.

Menurut pengakuan Tania, ia terbawa arus oleh kumpulan pertemanan yang dulu sering membuatnya pulang malam. Meski ia sempat membatasi hubungannya dengan mereka, perlahan-lahan Tania terseret juga. Tanpa sepengetahuanku, Tania sering mendatangi tempat-tempat hiburan malam yang penuh dengan hingar bingar fana. Suasana gemerlap dan remang-remang di saat bersamaan, serta kehebohan dan keseruan yang terjadi di dalamnya membawa gadis ini terbuai dengan hiburan puncak dunia.

Tanpa ia sadari, Tania telah menggunakan benda candu, jenis heroin. Awalnya sang teman menyarankan sesuatu mencurigakan berbentuk serbuk padanya. Namun, saat itu Tania sedang mabuk dan mengakibatkan dirinya tidak bisa berpikir jernih. Ketika ia sadari, gadis itu telah menjadi pengguna tetap obat tersebut.

Sekarang ia khawatir karena terdapat rumor akan adanya penangkapan masal di diskotik tempat ia mendapatkan heroin, sehingga kembali ke sana merupakan ide buruk. Apa yang ia konsumsi barusan juga merupakan stok terakhirnya, ditambah lagi hutang yang menumpuk untuk mendapatkan barang laknat itu. Merasa kalut apa yang harus ia lakukan sekarang, Tania memanggilku ke sini untuk meminta bantuan.

“Karena itu… mungkin kamu bisa bantu, Anya. Yang penting… jangan bilang siapa-siapa… ya?” pintanya memelas.

Aku tidak mampu untuk berkata sesuatu sekarang. Hanya bisa memandanginya dengan begitu dalam.

“Anya? Ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu? Anya?”

“Nggak, nggak ada apa-apa. Aku bakal usahain bantu kamu. Tapi, nggak bisa sekarang. Aku butuh menenangkan diri dulu. Bye.”

Terburu-buru, aku segera pergi dari kamar Tania. Telingaku menghiraukan pekikan pelan yang terus menerus memangil namaku. Namun, kakiku terus melangkah menjauh. Lebih baik aku menjaga jarak dulu dan mendinginkan kepalaku. Sehingga, pasti nanti akan terpikirkan bagaimana solusi akan permasalahan ini.

Serta cara untuk menjaga Tania selama-lamanya.

Beberapa hari setelah pertemuan itu, apa yang dikatakan oleh teman terdekatku menjadi kenyataan. Polisi menggrebek dan menangkap beberapa pelaku terkait kasus narkoba di diskotik tersebut. Beberapa hari ini terlihat mobil polisi yang membunyikan sirenenya dengan berisik berlalu lalang. Aku bisa melihatnya dari apartemenku yang berada di lantai lima, menyaksikan lampu biru dan merah saling memancar satu sama lain mengintimidasi siapapun yang merasa bersalah.

Mereka benar-benar mencari semua pengguna dan pengedarnya, termasuk Tania. Namun, apa yang mereka temukan hanyalah kamar kosan yang kosong. Memang ada beberapa barang bukti yang mengarah pada penggunaan obat-obatan terlarang, namun keberadaan Tania sama sekali hilang.

Aku memandang nanar ke mobil-mobil itu, menyaksikan mereka sedang berhenti di salah satu sudut jalan. Tidak lama kemudian, para polisi melanjutkan investigasi mereka dan menjauh dari sini.

Kututup tirai itu dan berbalik, berjalan memasuki salah satu kamar yang tidak jauh dari jendela. Tidak lupa kukunci kamar itu dari dalam sehingga tidak ada lagi yang bisa menggangguku.

“Ya. Karena itu, aku nggak suka sama tren baru. Dipikir-pikir, mengikuti kekinian yang nggak cocok dengan diri kita itu merepotkan,” gumamku sendiri melihat tubuh Tania yang menggantung di sudut ruangan. “Makanya jangan pakai obat-obatan kalau nggak bisa mengontrolnya.”

Tubuhnya bersimbah darah. Kedua tangannya terikat dengan tali tambang dan menjadi tumpu yang menahan beratnya. Aku memerhatikan tubuhnya sekali lagi dan menyiapkan kameraku, berusaha mengambil gambar yang paling bagus di antara lainnya. Usai berjibaku dengan sudut dan pencahayaan yang begitu merepotkan, akhirnya aku mendapatkan satu foto spesial.

“Nah, dengan begini aku nggak bakal dikeluarkan dari grup. Harus minta maaf juga soalnya nggak bisa aktif karena sibuk sama kuliah,” gerutuku pelan sembari memindahkan data dari kamera menuju laptop.

Dengan begini, kau akan selalu kulindungi, Tania. Tidak perlu lagi susah-susah mengikuti tren yang baru dan menyusahkan. Cukup menjadi koleksiku dalam kebiasaan lamaku yang tabu.

Hah, tidak kusangka. Baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga.

423 dukungan telah dikumpulkan

Comments