Vipers

5 months ago
Muhammad Fajar Susanto

by: Muhammad Fajar Susanto

“ Dia adalah seseorang paling sempurna yang pernah aku temukan. ”

Kata-kata itu membangunkannya. Di pagi buta di mana seluruh burung belum berkicau dan ayam-ayam masih bersiap membasahi tenggorokannya. Kepalanya terasa pusing dan ia meninggalkan kasurnya yang berantakan itu. Tumpukan bantal dan gunting yang tak beraturan terlihat seperti lukisan abstrak. Lebih tepatnya, sebuah lukisan seni abstrak yang tidak laku terjual.

Dia menatap wajahnya di depan kaca yang terpasang pada lemarinya. Wajahnya sedikit pucat, terdapat kantung mata yang tebal di bawah matanya. Ia tidur jam satu pagi dan bangun jam tiga pagi. Dua jam tidur setiap hari, apa yang kau harapkan. Pemilik insomnia tingkat sedang adalah alasan ia mengakhiri harinya seperti itu. Adalah hal yang sangat langka, jika ia bisa tidur lebih dari dua jam di waktu malam.

Saat ia sedang mengecek matanya sendiri melewati cermin, tiba-tiba suara ponsel berdering. Lagu klasik berbunyi dengan merdu. Baru kali ini, lelaki ini menggunakan lagu klasik untuk membangunkannya dan menidurkannya. Tapi tampaknya itu sama sekali tak mempan. Sepertinya matanya kebal.

Ia mengangkatnya.

“ Ram, saranmu gagal. ” katanya dengan sedikit kesal.

“ Eh iya kah? Kukira itu akan berhasil. Tapi sungguh, lagu dengan tempo pelan dan beberapa alat musik, melodi yang menawan seperti biola membuat otak manusia rileks. Tunggu, kau manusia, kan? ” balas seseorang dari telepon tersebut.

“ Serius kututup nih.. ” gertak lelaki itu yang tampak matanya merah.

“ Iyaya sorry lah, Dzul. Begini, aku ada tugas nih dari ibu negara pagi ini. Jadi bisakah kau membuka pintu pagar Jay-ex ? Kunci sudah kumasukkan di jaketmu kemarin kok. ” lanjutnya dengan nada yang tergesa-gesa.

“ Baik!—Tunggu, kau sudah merencanakan ini dari kemarin, Ram? Kau ini—”

“ Dah, ya makasih, Dzul. Ciao ! ”

Seketika ponsel itu ditutup dan tidak ada percakapan lagi. Laki-laki dengan rambut berantakan itu sedikit geram. Dengan cepat ia mengecek jaketnya yang merupakan jaket kelasnya dari SMA. Sungguh loyalitas yang luar biasa. Atau lelaki ini sama sekali tidak peduli dengan penampilannya. Dzul selalu diberitahu untuk mengganti penampilannya walaupun ia pernah mencobanya. Menggunakan pomade, menggunakan sepatu yang berwarna sama dengan sabuk atau kemejanya ataupun mencukur di barbershop, yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Dzul tidak tahan. Baru sadar, ikut-ikutan kekinian rupanya sulit juga. Jadi, dia memutuskan untuk tidak mengubah style nya.

Di jaket tersebut terdapat bordiran bertuliskan ‘Dzoel’. Nama yang zaman dulu ditulis dengan unik. Jika mengetahui nama-nama temannya maka sungguh akan lebih terkejut. Bagaimana nama yang terdiri dari empat huruf bisa ditulis menjadi delapan huruf bahkan lebih. Selain itu ada juga yang identitas jaketnya bukanlah namanya melainkan julukan yang entah itu mereka dapat dari dunia mana.

Namanya Dzul. Dzulkarnaen. Didapat nama tersebut karena nama seorang ksatria yang gagah berani. Ksatria gagah yang berhasil menguasai beberapa wilayah dengan ketangguhan serta pasukan yang setia dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Berdasarkan cerita tersebut, lelaki yang mendapatkan nama ini diharapkan menjadi seorang dengan wibawa serta kemampuan untuk menguasai segala yang ada di depannya. Bagaimana seseorang bisa menguasai segala yang ada di depannya dan mendapatkan kemenangan? Mereka bisa memprediksi masa depan. Mungkin hal konyol tapi pendapat seperti itu tetap ada.

Dzul telah membaca cerita itu berulang kali namun ia tak mendapatkan apa-apa yang membuat Dzulkarnaen di masa lalu serta Dzul di masa sekarang sama. Tidak sama sekali.

“ Kurang ajar. Seenak udel nya saja. ” batin Dzul membara.

Setelah menyiapkan pakaiannya, Dzul segera membereskan seprei kasurnya yang merupakan kasur tingkat. Ia merapikannya dengan teliti. Dzul selalu tidur di bawah dan hanya itu yang akan ia bereskan. Setelah itu, ia mandi dan dengan cepat ia sudah siap.

Dzul keluar dari kamarnya dan melihat ibunya sedang mempersiapkan makanan.

“ Kau benar-benar bangun pagi, nak. Dah, makan dulu ayo. ” kata ibunya.

Dzul pun menolak.

“ Ah, tidak bun. Nanti aja pas makan siang, Dzul bakal balik. Ini Dzul sedang keburu-buru. Bapak belum bangun, ya? ” jelas Dzul agar tidak kena omelan.

“ Belum. Mungkin sebentar lagi. Yaudah, hati-hati, nak. ”

Ibunya akhirnya merelakan anaknya itu pergi. Di meja tersebut terdapat empat buah piring kosong yang lauknya sedang dipersiapkan. Sesuai dengan jumlah kursinya yang warnanya masih sedikit mengkilap.

Dzul segera memanaskan motornya dan setelah segalanya siap, ia segera pergi ke tempat kerjanya. Tempat kerjanya merupakan sebuah kantor pengiriman paket. Di mana ia bekerja dalam menerima barang untuk dikirimkan dan juga mencatat seluruh hal berkaitan dengan paket-paket yang ada di tempatnya itu.

Sebelum ia sampai, ia melewati sebuah pertigaan yang sangat istimewa untuknya. Pertigaan ini berbeda dengan jalan-jalan lainnya. Di pojok pertigaan tersebut, berdiri sebuah rumah berpagar tembok yang disemen. Dzul selalu memperlambat laju kendaraannya untuk mendapatkan timing yang pas. Jika ia beruntung, ia akan melihat seorang wanita dengan rambut panjang terurai berdiri di depan sambil menikmati udara segar.

Kali ini ia mendapatkan keberuntungannya.

Wanita tersebut berdiri sambil tersenyum merasakan sejuknya udara pagi. Sinar matahari terberkas ke salah satu bagian pipinya yang bulat. Matanya memandang jauh ke arah jalan di mana Dzul akan melewatinya. Earphone berwarna putih menggantung di telinganya, membuat bertanya-tanya, melodi apa yang sedang ia dengarkan. Selain itu, kaos putih serta celana pendeknya yang santai adalah pakaian yang cukup pas untuk pagi itu.

Dzul melihat ke arah wanita tersebut. Wanita ini merupakan sosok pujaan hatinya entah sudah beberapa lama. Sejak ia pindah ke rumahnya sekarang, Dzul melewati jalanan ini cukup sering. Namun ia tak selalu mendapatkan keberuntungan bertemu dengannya. Dzul sendiri tidak pernah berbicara dengannya dan hanya memandanginya dari jauh. Sebuah perasaan kasih dari seseorang yang misterius. Ia selalu berharap bahwa ia bisa mengirimkan sebuah paket ke rumahnya lalu bertemu serta bercakap dengannya dengan cara yang wajar. Tidak terlihat ingin dekat dengannya.

Seekor ular yang selalu bertindak lihai serta penuh dengan strategi. Dzul tidak ingin terlihat bahwa ia mendekatinya, jadi ia selalu memikirkan cara yang casual untuk memulai pembicaraan. Terlalu memikirkan hal detail. Karena pemikiran dan idealisme yang rumit itu, ia menunggu sampai sekarang dan belum ada kesempatan yang terbentuk.

Namun Dzul cukup senang bisa melihatnya kali ini. Setidaknya ini akan menjadi hari yang baik. Semangatnya terpompa seiring seringai kebahagiaannya sepanjang perjalanan.

Saat sampai di tempat kerjanya, Dzul segera membuka gembok pintu dan mengangkat gerai sambil bersenandung dengan bahagia. Ia segera mengambil sapu dan membersihkan halaman yang penuh dengan daun berguguran. Hari ini mood nya sedang baik, ia sedikit membayangkan kejadian tadi lalu beberapa kejadian romantis lainnya. Dzul tertawa sendiri.

Setelah selesai ia berganti pakaian dan tempat itu sudah siap untuk beroperasi. Seorang lelaki tiba dengan jaket kulit serta suara vespa yang cukup berisik. Dzul keluar dan menengok bahwa ia mengenali lelaki tersebut.

“ Sudah selesai urusannya, Ram? ” tanya Dzul.

“ Ya, begitulah. Ah, jarang-jarang kau tak mengeluh, bro ? Ada hal baik? ” tanya Ram.

“ Kau tahu gadis di pertigaan yang pernah kuceritakan dulu? ”

“ Ya. Kau selalu membicarakan dia. Gimana gimana ? ”

“ Tadi aku berjumpa dengannya. Sumpah, ia cantik banget. Seperti seorang malaikat yang muncul di suatu pagi lalu memandang seluruh— ”

“ Oke oke. Kau bicara dengannya ? ” potong Ram.

Dzul menggeleng. Ram sedikit menghembuskan nafasnya dengan kecewa.

“ Dengar, bicaralah dengannya, Dzul. Kau tahu sudah berapa lama kau memperhatikannya? Melompatlah sedikit. Keluar dari tempurungmu. Lakukan tendangan yang bisa mengubah rutinitasmu.. ” jelas Ram dengan sedikit menasehati.

Dzul memikirkan perkataan Ram yang memang lebih memiliki pengalaman.

“ Iya, aku tahu. Hey, aku hanya menunggu jikalau ada paket mengarah ke rumahnya, maka aku bisa bicara dengannya! Kemungkinannya mungkin sedikit, tapi ya itu adalah cara yang paling casual. ” balas Dzul.

Ram segera masuk dan membuka jaketnya. Ia tampak sudah memakai seragam lalu mengambil kursi di mana ia biasa duduk untuk menjalankan rutinitas pekerjaannya. Sementara Dzul duduk di sebelahnya mengetahui bahwa pembicaraan mereka belum selesai. Ram mengambil sebuah kertas berisikan daftar absen lalu menandatanganinya.

“ Kenapa kau selalu mencari cara yang kemungkinannya paling kecil? ” tanya Ram.

“ Karena itu akan terasa nikmat sekali. Mungkin? ” tanya Dzul menggantung.

Ram tersenyum kecut.

Tiba-tiba terdengar suara kendaraan dari bagian depan kantor.

“ Aku cek dulu. ” potong Ram.

Dzul memikirkan apa yang Ram katakan barusan. Ia menyadari bahwa semua akan berjalan dengan lancar dan cepat jika ia memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu kepada gadis pujaannya itu. Tapi rasa sesak di dadanya itu tiba-tiba mulai menyerangnya dengan cepat. Pikirannya keruh dan rasa pusing di kepalanya muncul. Dzul mengambil sebuah kursi lalu duduk sambil menenangkan dirinya.

“ Ah, aku telah menemukan jawabannya. ” batin Dzul.

Beberapa saat kemudian, Ram datang dan menyerahkan sebuah kertas berisikan beberapa tabel serta daftar tentang identitas barang-barang. Sebuah truk pengiriman barang telah datang dari pusat. Lalu pengemudi dan petugas dari truk itu turun dan memindahkan seluruh barangnya ke ruangan yang lebih dalam. Dzul dan Ram segera membantu mereka.

Barang-barang tersebut cukup banyak dan terlihat menggunung. Mereka memindahkannya dengan hati-hati. Setelah selesai, mereka diberi sebuah kertas lagi berisikan alamat-alamat, walaupun di kumpulan barang tersebut sudah tertempel identitas penerima. Kertas tersebut memudahkan Dzul dan Ram untuk menggolongkan barang-barang tersebut berdasarkan region alamatnya.

Dzul menerima dan sedikit membaca beberapa hingga akhirnya ia terkejut.

“ Hoi, Ram. Kau tahu bahwa kemungkinan yang kecil pun bisa terwujud? ”

Ram yang terkejut segera mendekati Dzul yang daritadi tersenyum-senyum. Dengan cepat, Ram melihat tulisan yang Dzul tunjuk dengan jari telunjuknya.

“ Woh, seriusan ini ?! ” kata Ram terkejut.

“ Iya, serius ! ” jawab Dzul gembira.

“ Alamat ini berdekatan dengan rumahmu. Jangan bilang, ini alamat rumah gadis itu ? ” tanya Ram.

Dzul mengangguk dengan mantap.

“ Ahahaha takdir benar-benar sangat misterius.. ”

Dzul segera membereskan seluruh kardus itu dengan bersemangat. Ia mengelompokkannya dengan cepat. Beberapa barang, ia sudah masukkan ke dalam kantung yang tergantung di motor pengiriman itu. Ia segera mengecek kembali beberapa barang yang akan ia kirimkan sesegera mungkin.

Ia melihat kembali barang yang ia kirimkan ke rumah gadis itu. Di situ tertera namanya. Barang yang terbungkus lakban itu, Dzul pandang terus menerus. Ia penasaran dan terus penasaran. Namun sebagai petugas pengiriman, ia tidak boleh membukanya. Jadi ia hanya menelan perasaan keingintahuannya.

Tapi yang penting bukan barangnya. Ia akan bertemu dengan gadis pujaannya. Butuh beberapa bulan akhirnya kesempatan ini datang juga. Dzul segera bergegas dan berangkat untuk mengirimkan barang-barang ke tempat tujuan.

Setelah selesai, maka tersisalah satu kardus dengan tujuan alamat yang Dzul tunggu selama ini. Ia sampai di depan rumah tersebut. Dzul tak melihat sedikitpun gadis pujaannya. Ia mengetuk pintu dan sesosok wanita paruh baya keluar.

“ Masuk dulu, mas. ” katanya dengan lembut.

“ Tidak, tidak bu, saya hanya membutuhkan tanda tangan di kertas ini. Coba dicek dulu. ”

“ Oh ya mas, saya panggil si bapaknya dulu. Mas nya duduk dulu. ”

Wanita paruh baya itu pergi ke ruangan yang lebih dalam. Sementara Dzul duduk dengan rasa penantian yang luar biasa. Ia sedikit melirik ke sana kemari, seakan radarnya dalam keadaan yang fungsional. Hatinya menunggu gadis pujaannya itu. Terasa semakin berdebar di tiap detiknya, membuat pikirannya sedikit kacau. Ia mengatur nafasnya.

Tidak butuh waktu yang lama, sebuah pintu tepat di belakang kursi duduk Dzul terbuka. Ia membalikkan badannya sedikit sambil melihat kejadian itu. Sebuah pintu berwarna merah muda dengan gantungan kecil bertuliskan ‘Tyra’. Detak jantung Dzul melompat sedikit seraya melihat wanita pujaannya itu keluar.

“ Jadi, namanya Tyra.. ” batin Dzul.

Setelah itu ia kembali menghadap ke depan karena sungguh jantungnya terasa mau copot saat itu. Nafasnya berat dan tidak beraturan. Mungkin efek dari jarangnya ia bertemu dengan perempuan membuatnya menjadi menyedihkan seperti ini. Lalu dengan cepat, tiba-tiba Dzul mendengar sebuah langkah kaki yang semakin lama semakin keras. Hentakan kulit kaki biasa terhadap ubin yang khas suaranya.

Tyra langsung duduk di kursi yang sama dengan Dzul tanpa memamerkan ekspresi terkejut. Sementara Dzul yang di sebelahnya, menyadari kehadiran seorang wanita pujaannya itu,  mulai berkeringat dingin. Ia sempat menahan nafas beberapa kali karena groginya. Di sisi lain, Tyra hanya bersenandung merdu sambil melihat ke depan. Padahal seharusnya ia bisa melihat Dzul yang dari tadi sudah duduk di tempat itu dahulu. Ia tidak merasa aneh sedikitpun.

Dzul yang selalu menyamakan dirinya sebagai ular itu, pikirannya mulai bergerak. Ia terus menimbang apa saatnya ini menyerang untuk memperkenalkan dirinya, atau ia masih harus menunggu mencari kondisi yang lebih tepat lagi. Di pikirannya hanya berputar sebuah dadu yang belum berhenti. Sementara matanya yang berusaha tajam melihat seksama gadis pujaannya itu, benar-benar memang terlihat cantik. Dzul membuang mukanya untuk bernafas sedikit.

Setelah itu dari dalam rumah, seorang wanita tua itu keluar seraya berkata sambil berjalan dan membawa lembaran bukti penerimaan barang.

“ Jadi ini saya tanda tangan di sini saja? ”

Dzul yang duduk segera menjawabnya dengan suara yang mantap,

“ Iya bu. ”

Kejadian itu membuat Tyra tiba-tiba terkejut. Tyra segera menjauhkan tempat duduknya dan mengambil bantal persegi yang ada di kursi tamu itu, lalu memukulkannya secara tidak beraturan dan beruntun ke arah Dzul. Sementara Dzul hanya bisa melindungi dengan tangannya.

“ Eh nak.. Tenang, tenang… ”

Wanita tua itu segera mempercepat kakinya seraya melerai mereka dan menjauhkan Tyra. Lalu Tyra berjalan menuju kamarnya kembali meninggalkan mereka berdua. Dzul sedikit merasa bersalah karena ia sempat melihat mata Tyra tadi sedikit berkaca-kaca. Entah mengapa, Dzul tidak tahu dan ia penasaran.

“ Maaf bu, saya merasa bersalah.. ” kata Dzul.

Wanita tua itu tersenyum.

“ Tidak apa-apa nak. Dia bukannya membencimu, hanya saja dia tidak bisa melihat keberadaanmu saat itu. Ia hanya terkejut. Jadi jangan merasa bersalah.. ”

“ Tidak bisa melihat keberadaan saya? Maksudnya dia.. ? ”

Wanita tua itu sedikit melegakan nafasnya. Menjawab berat pertanyaan Dzul.

“ Iya, dia buta. ”

Perkataan itu langsung membuat hati Dzul tertusuk. Bagaimana tidak, bayangan dan sosok gadis yang ia sukai, hancur seketika. Ilusi akan kesempurnaan gadis pujaannya itu seketika pecah dan menjadi puing-puing kecil. Dzul tidak bisa melanjutkan pembicaraan itu, dia masih terpukul. Matanya tidak fokus, pikirannya terbang entah ke mana. Tiba-tiba ia sudah berada di jalan menuju ke kantornya lagi.

Saat sampai, ia melihat kawannya Ram sedang mengurusi sebuah paket yang hendak dikirim oleh pelanggan. Ram melirik sedikit, melihat kawannya seperti pikirannya tertabrak oleh kereta. Ia terlihat seperti zombie yang tidak menggubris apa yang ada di depannya. Dzul duduk di sebuah kursi yang ada di bagian belakang kantor dengan pikiran yang kacau.

Dia menghabiskan waktu cukup lama untuk mengejar gadis itu. Ia menolak untuk dipertemukan dengan gadis yang orang tuanya pernah akan dikenalkan. Hanya untuk gadis yang ia pikir akan menjadi bagian dari masa depannya. Seorang yang menemaninya dalam mengemudikan kapal kehidupannya. Namun perasaan itu berhenti aktif, tidak bisa ia bayangkan kembali apa yang akan ia lakukan esok hari.

Apakah Dzul masih akan mencari kesempatan untuk melihat gadis itu lagi?

Apakah dia masih berniat?

Di tengah lamunannya, seseorang menepuk bahunya yang sedikit keras itu.

“ Hey, Romeo, bagaimana tadi? ” Ram memberikan segelas air putih sebagai balasannya esok pagi.

“ Kau tahu, takdir memang sangat misterius.. ” balas Dzul dengan senyum kecilnya.

Dzul menerima air putih itu dan segera meminumnya dengan cepat. Setidaknya otaknya dapat segar kembali karena kandungan di dalam air putih itu.

“ Namanya Tyra. Ia memang sungguh cantik. Tapi satu hal, dia buta. ”

Seketika Ram terdiam. Ia tidak bisa mengomentari pernyataan Dzul. Wajahnya berubah seakan ia merasakan duka yang didapat Dzul. Namun sayang, kawannya lebih merasakan sakitnya. Menimbang perasan yang telah ia miliki selama beberapa waktu ini.

“ Jadi apa yang akan kau lakukan? Kau bisa menghentikan dirimu sendiri dan kau tahu itu adalah cara yang paling mudah, waktu akan mengembalikan perasaanmu seperti semula, atau kau, ingin melakukan hal yang lebih sulit. Itu terserah padamu, kawan. Ada dua pintu di depanmu sekarang. ” tanya Ram.

Dzul terdiam. Tiba-tiba di dalam pikirannya, terdengar seseorang yang membisikkan sesuatu hal.

“ Dia adalah seseorang paling sempurna yang pernah aku temukan. ”

Hembus suara itu perlahan. Dzul menutup matanya. Ia memang dari awal telah mengetahui siapa orang yang mengatakan hal ini. Benar, ia adalah kakaknya. Ia merasa pikiran dan kenangan masa lalunya berjalan secara perlahan. Lalu ia mengingat kakaknya berkata demikian.

Sebuah cerita cinta yang benar-benar sempurna. Kakak Dzul, Rais, ia menemukan seseorang pujaannya. Ia adalah gadis yang ceria, pintar dan sopan saat itu. Memiliki karir yang luar biasa dan pernah sempat menjadi model. Kecantikan yang luar biasa. Menaikkan ekspektasi Dzul karena bagaimanapun dari dulu, mereka berdua sering berlomba akan suatu hal.

Seseorang yang memiliki karir di suatu bank swasta. Setidaknya itu adalah pekerjaan yang cukup memiliki nama untuk Rais. Ia tidak akan malu dengan gadis tersebut. Bagaiamanapun keluarga Rais, menerimanya dengan tangan yang hangat. Gadis ini akan menjadi kebanggaan keluarga ini dan sumber kebahagiaan Rais.

Dzul ikut tersenyum akan pilihan kakaknya.

Tidak butuh waktu yang lama, mereka menikah. Pernikahan itu membuat iri seluruh yang hadir di resepsi itu. Seorang laki-laki yang sudah memiliki gelar S2 di usianya yang muda, wajah yang tampan, tinggi yang ideal sementara mempelai wanitanya, gadis dengan paras yang cantik serta tinggi semampai, memiliki pendidikan serta karir yang bagus. Seperti cerita dalam dongeng antara pangeran dan permaisuri.

Dzul ikut tersenyum akan pilihan kakaknya. Dzul menyadari bahwa itu adalah pilihan yang tepat.

Namun tidak butuh waktu yang lama, hingga kejadian yang tidak diduga terjadi. Di suatu siang bolong, Rais meminta izin untuk tidak masuk kerja karena sakit saat itu. Sementara Dzul adalah satu-satunya orang yang dikabari akan hal itu. Rais meminta untuk dibelikan beberapa obat di apotek dengan mengirimkan pesan ke ponsel Dzul. Ia menyanggupinya karena hari itu, Dzul tidak memiliki kelas kuliah.

Rumah Rais sendiri tidaklah jauh dengan rumah keluarganya. Hanya beberapa blok, setidaknya masih dalam kompleks yang berdekatan. Dzul sampai dan ia menelpon kembali namun tidak ada yang mengangkat. Mengetahui bahwa kakaknya terkadang sering bermain-main dengannya, ia segera masuk melewati pagar, mengetuk pintu secara perlahan. Namun tetap tidak ada yang menjawab.

Dengan dorongan kecil, pintu tersebut memang tidak terkunci. Dzul masuk dengan cukup santai.

“ Kak ! Kak ! ” Dzul berteriak berulang kali. Namun tetap tidak ada yang menjawabnya. Ia masuk ke dalam lagi dan menemukan sebuah ruang makan yang berantakan. Beberapa pecahan piring serta gelas berserakan hampir memenuhi lantai seperti ranjau di medan pertempuran. Seketika Dzul waspada dan segera berjalan lebih dalam untuk mengetahui apa yang terjadi.

Di ruangan paling belakang terdapat sebuah gudang yang tidak terpakai, pintunya terbuka sedikit. Dzul menelan ludahnya beberapa kali sebelum menuju ke tempat yang tak pernah dipakai itu.

“ Kak, ini obatnya sudah kubawa.. ” kata Dzul dari luar ruangan.

Namun tak ada yang menjawab. Hingga akhirnya, keingintahuannya menusuk ke lubuk hatinya secara perlahan. Dzul memantapkan diri untuk membuka gudang itu. Dan apa yang ia lihat adalah hal yang tidak pernah dikira selama hidupnya.

Kakaknya tewas tergantung. Ia bunuh diri.

Dzul terperanjat kaget. Obat yang diminta itu terjatuh di lantai, mengeluarkan suara botol yang pecah dan sedikit menggenang. Pandangan yang ia dapatkan saat itu tidak pernah bisa menghilangkan traumanya sama sekali. Tidak untuk Dzul serta tidak untuk keluarganya. Terutama ibunya. Ibu Dzul masih menganggap Rais hidup, ia mengalami trauma yang berkepanjangan hingga pikirannya menipunya hingga sekarang.

Kasur tingkat itu tidak pernah dibuang. Setiap hari selalu menyiapkan makanan untuk empat orang. Begitu seterusnya. Saat malam tiba, beliau hanya duduk di belakang dan terkadang menangis. Dzul tidak ingin melihatnya seperti itu. Ia memutuskan untuk mencari kerja di kota ini. Mengurangi ekspektasi atas ijazahnya tapi tak apa, setidaknya Dzul berpikir bahwa ia bekerja kepada Tuhan untuk menjaga orang tuanya, khususnya ibunya.

“ Hoi, kau tak apa? ” sentuh Ram.

Dzul kaget dan bangun dari lamunannya.

“ Kau tahu, sepertinya aku akan terus berjalan di jalan ini. Entahlah, kakakku menemukan orang yang sempurna tapi tidak memiliki kisah yang sempurna. Mungkin, dia bukanlah perempuan yang sempurna, tidak, aku tidak mencari perempuan yang sempurna. Aku mencari seseorang yang bisa membuatku bahagia.. ” jelas Dzul panjang.

Ram tertawa kecil.

“ Kata-katamu cheesy banget, sumpah. Tapi kau tahu bahwa ular tidak memiliki penglihatan yang sempurna namun sebagai gantinya ia mendapatkan insting di atas normal. Kalian berdua, sungguh, pasti akan memiliki kesamaan.. ” balas Ram.

Dzul tersenyum kecil. Ia mengangkat kepalanya sambil menengok jam. Sebentar lagi makan siang dan ia akan kembali ke rumah untuk menemani ibunya makan. Ram pergi dari tempat itu disusul Dzul.

Saat ia melangkah keluar, ia menyadari bahwa ia telah memilih jalan yang sulit.

Tapi satu hal, ia pasti tidak akan menyesalinya.

23 dukungan telah dikumpulkan

Comments