Ingin Mengkritik Sebuah Karya dengan Baik dan Benar? Ikuti 5 Tips Kritik Objektif Berikut Ini!

9 months ago

Industri kreatif Indonesia semakin besar hari ke hari. Setiap tahun ada banyak produk-produk kreatif rilisan kreator dalam negeri yang kualitasnya tak kalah oke dengan luar negeri. Geliat perkomikan semakin terlihat. Makin banyak animasi lokal ditayangkan di TV maupun bioskop. Game-game indie lokal berhasil menembus pasar internasional. Masih banyak lagi karya-karya lainnya yang bermunculan.

Dengan banyaknya karya-karya kreatif yang dirilis, apakah sulit untuk menemukan mana saja karya yang bagus? Para pengulas atau reviewer menjadi salah satu acuan sebelum menentukan karya mana yang ingin kita konsumsi. Word of mouth, atau testimoni penonton juga punya pengaruh yang sama kuatnya dengan pendapat seorang reviewer.

Dalam menjatuhkan kesimpulan, keduanya memberikan pendapat berupa kritikan yang memiliki bobot beragam. Sebagian orang menyampaikan kritik secara terstruktur, tepat, dan konstruktif – ini disebut sebagai sebuah kritik yang objektif. Namun, ada pula yang memberi kritik berdasarkan pengalaman pribadinya menikmati karya itu – yang ini disebut kritik subjektif.

Apakah kritik objektif lebih baik dibanding kritik subjektif? Masalahnya, masih banyak orang yang mencampurkan kritik yang subjektif dengan objektif. Kritik mendapatkan konotasi negatif karena biasa disampaikan dengan nada negatif. Kritik seakan menjadi tameng untuk menjelek-jelekkan sebuah karya. Kritik justru menjadi sarana untuk mencari validasi diri, “Oh ternyata masih ada yang lebih jelek dari aku.” Semua itu bukan kritik yang baik, jika sejak awal tidak ada niatan yang baik.

 

0x fmj

Sumber: Seesaa

 

Lalu bagaimana caranya memberikan kritik yang baik? Tentunya ada kok cara untuk memberikan kritik yang positif, membangun, dan pastinya nggak bakal menyakiti perasaan si empunya karya. Nishlan Pilay, co-founder dari Sahara Lounge Ltd. punya beberapa tips singkat untuk menyampaikan kritik yang konstruktif. Seperti apa? Langsung disimak saja ya, bro sis!

Gunakan Metode Sandwich

01 sandwich

Sumber: Freent

Metode sandwich ini nggak melibatkan sandwich betulan ya, bro sis. Maksud dari metode sandwich ini adalah kritik disusun dalam struktur berlapis layaknya sebuah sandwich. Seperti apa strukturnya?

  1. Mulai dengan menjelaskan poin-poin positif dari karya tersebut. Utarakan hal-hal yang bro sis sukai.
  2. Kemudian, lanjutkan dengan kritik. Jelaskan apa saja yang bro sis kurang sukai dan bagian mana saja yang bisa ditingkatkan.
  3. Tutup dengan kesimpulan. Jelaskan kembali hal positif di poin pertama dan berikan gambaran hasil yang bisa diharapkan jika kritik tersebut diperbaiki.

Membuka kritikan dengan menjelaskan poin-poin positif memberikan kesan bahwa bro sis memang tidak berniat untuk mengejek, namun justru memberikan dukungan dan pujian. Menjelaskan hal positif lebih dulu akan membuat kritikan bro sis selanjutnya lebih mudah dicerna karena penerima kritik akan merasa diakui. Ini bukan sekedar basa-basi, dan masih lebih baik dibanding harus memulai kritikan dengan kalimat-kalimat pedas.

Kemudian setelah menyampaikan kritikan, menutupnya dengan kesimpulan akan mengurangi kesan pahit yang diterima lewat kritik tersebut. Dengan kesimpulan pula, penerima kritik akan mendapatkan semangat untuk meluruskan kritik yang baru saja disampaikan.

Fokus Ke Objek, Bukan Ke Subjek

02 object

Sumber: Twitter

Ini adalah salah satu kesalahan dalam mengkritik karena kita menggunakan kritik sebagai sarana untuk mengejek orang lain. Coba simak contoh berikut ini.

“Gaya gambar kamu realis banget, kolot kayak komik jadul.”

Kesalahan fatal ketika bro sis nggak memisahkan antara subjek dengan objek kritikan, justru akan memberikan kesan bahwa kritik yang disampaikan merupakan bentuk ejekan pribadi. Plus, kritik yang demikian sangat tidak konstruktif.

Hal yang bisa bro sis lakukan pertama kali adalah dengan memisahkan si penerima kritik dengan karyanya. Bro sis cukup memberi masukan kepada karya tanpa perlu menyinggung pribadi si penerima kritik.

“Gaya gambar kamu realis, memang nggak salah menggambar realis tapi mungkin kurang bisa dicerna pembaca muda.”

Jadi lebih baik, kan?

Berikan Kritikan Yang Spesifik

03 specific

Sumber: Pexels

Biasanya bro sis suka mendapatkan masukan seperti, “Tingkatkan lagi ya teknik gambarnya.” Nah, bagian mananya dari teknik gambar itu yang harus ditingkatkan? “Teknik gambar” masih terlalu luas; apakah maksudnya ke teknik arsiran, line art, shading, coloring, atau yang lain?

Memberikan masukan yang spesifik akan sangat menolong bagi penerima kritik. Dengan menjelaskan kritik secara spesifik, penerima kritik dapat memahami bagian apa saja yang dapat ia tingkatkan dan perbaiki. Memberikan kritik yang ambigu justru akan membingungkan penerima kritik. Coba lihat contoh lain ini.

“Gambarnya udah oke, tapi masih ada yang kurang mantap nih. Coba diperbaiki.”

Si pemberi kritik memberikan masukan tetapi tidak spesifik di bagian mana yang harus ditingkatkan. “Kurang mantap” juga memiliki sifat subjektif dan tidak memberikan timbal balik yang bisa dijadikan dasar untuk perbaikan. Bandingkan denganyang satu ini.

“Gambarnya udah oke, tapi tebal line-nya kayaknya sama semua ya. Coba dibedakan tebal line-nya, misalnya dibedakan di area mata biar kesannya lebih tegas.”

Kritik ini sudah bagus karena selain meminimalisir kalimat-kalimat subjektif, juga mengerucutkan sumber masalah dan menunjukkan kelemahannya. Setelah masalah teridentifikasi, penerima kritik kini dapat fokus pada kelemahannya untuk ditingkatkan.

Kritikan Harus Masuk Akal

04 actionable

Sumber: Icadenza

Memberikan kritik juga tidak bisa asal. Perhatikan siapa subjek yang bro sis kritik, jangan sampai memberikan kritik yang tidak bisa ia atasi.

Misalnya seperti ini. Bro sis diminta untuk mengkritik nyanyian seseorang. Kritikan yang masuk akal adalah kritikan yang bisa dikerjakan oleh si penerima. Misalnya dalam kasus ini kritiknya adalah teknik pernafasan, intonasi, atau bahkan pilihan lagunya itu sendiri.

“Suara kamu memang keras, tapi itu karena kamu berteriak. Coba untuk lebih rileks, jangan sampai tenggorokan kamu serak.”

Kritik di atas masuk akal, karena si penerima kritik bisa mencoba usulan tersebut. Ia bisa mencoba bernyanyi lebih santai agar tidak terlihat seperti sedang berteriak.

Lalu kritik yang tidak masuk akal seperti apa? Coba simak contoh ini.

“Suara kamu ngebass, nggak bisa naik ke nada tinggi. Coba sering-sering main di nada tinggi.”

Kritik di atas tidak masuk akal karena jenis suara itu sudah bawaan lahir dan tidak bisa diubah. Ini sama saja seperti meminta Anggun untuk nyanyi lagu opera. Nggak bakalan bisa, sudah bukan takdirnya. Yang ada malah si penerima kritik jadi sakit hati dan bahkan minder. Di sini, bro sis harus punya rasa empati untuk memahami situasi dan kondisi dari si penerima kritik.

Jangan Berasumsi!

05 assume

Sumber: Execunet

Tips terakhir dalam mengkritik sebuah karya adalah, jangan berasumsi. Berasumsi sepertinya jadi salah satu penyakit masyarakat Indonesia. Seakan-akan kita harus selalu bersikap judgmental dalam setiap situasi.

Ambil contoh ada sebuah film yang punya alur berantakan. Setiap adegan tidak saling tertaut satu sama lain dan kontinuitasnya dibuat acak-acak. Kemudian, seorang menyampaikan kritik bahwa sutradara atau penulis ceritanya tidak punya pengalaman membuat film. Itu adalah sebuah asumsi karena belum tentu asumsinya benar.

Tidak hanya bohong, asumsi juga dapat dilihat sebagai bentuk penggiringan opini, dimana pengkritik berusaha untuk menciptakan wacana yang tidak benar dengan kenyataan. Asumsi juga merupakan bentuk penyerangan terhadap pribadi sang penerima kritik.

***

Kembali ke masalah sebelumnya, memang disayangkan kalau kritik pedas yang tidak objektif justru malah jadi dibiasakan. Semakin ke depan bisa saja orang-orang jadi anti kritikan. Setiap ada lomba, jurinya berkomentar sambil menghina. Ada tempat kursus tapi gurunya kasar.

Memberi kritik yang negatif dan subjektif justru bakal menurunkan semangat untuk berkembang dan berkarya. Orang akan takut dengan kritik dan menutup diri dari segala bentuk masukan. Maka dari itu, yuk belajar untuk memberi kritik yang objektif. Keras boleh, namun jangan sampai menyerang pribadi orang yang kita kritik. Dengan itu, kita akan menolong satu lagi kreator untuk berkembang lebih baik dan turut andil dalam memajukan industri kreatif Indonesia.

About Author

CIAYO Blog Team

CIAYO Blog Team

Terdiri dari bro sis yang doyan nulis. Beberapa bro yang nyumbang tulisan udah cukup lama malang melintang di dunia perkomikan. Penulis lainnya udah jadiin nulis sebagai lifestyle. Blog ini jadi basecamp buat tulisan seputar komik, pop culture, dan game. Enjoy ya bro sis!

Comments

Most
Popular

Ingin Suaramu Didengar Dunia? Kirimkan Artikelmu Ke CIAYO Blog

Jika Kamu memiliki blog, artikel atau press release yang berkaitan dengan industri kreatif dan pop culture, kami akan me.. more

Manga Koi wa Ameagari no You ni Siap Dinikmati dalam Bentuk Serial dan Film Live-Action

Versi Live-Action dari Koi wa Ameagari no You ni dirilis dalam dua tipe: serial dan film. .. more

00-d-the-incredibles-2

Jeda 14 Tahun, Apakah The Incredibles 2 Masih Tetap Badass?

14 tahun lalu, The Incredibles mampu memukau para penontonnya lewat aksi keluarga superhero ini. Kini, apakah The Incred.. more

Extinction - review

Review Film Extinction – Mencoba Bertahan Dengan Misteri

Extinction, film bergenre thriller dan sci-fi buatan Netflix yang siap menghantui mimpi-mimpimu. .. more

Game Dari Indonesia Ini Di-review Sebagai Game Casual Terbaik Di Russia

Indonesia patut berbangga, karena dewasa ini, game-game buatan anak bangsa mulai dilirik pasar Internasional. Industri y.. more