Menertawakan Kemalangan Dalam Film A Simple Favor

4 days ago
00-d-a-simple-favor

Kombinasi antara Anna Kendrick yang jenaka dengan Blake Lively yang agak serius ternyata bekerja dengan baik dalam  A Simple Favor. Dua sisi karakter bertolak belakang menjadi kulit luar cerita yang menarik. Kisah para Ibu rumah tangga yang pada mulanya menyegarkan dibuat terjerumus ke dalam kisah gelap yang terus dan terus di kemas dengan nuansa segar, Sebuah black comedy yang sangat menyenangkan untuk ditonton.

Paul Feig selaku sutradara lagi-lagi mengangkat tentang ketangguhan para perempuan. Saya rasa Paul Feig adalah seorang pemuja feminisme, jika kalian mengikuti beberapa film garapannya tentu kalian menyadari bahwa film-film yang ia buat selalu saja menjadikan karakter perempuan lebih menonjol, sebut saja seperti film Bridesmaids, The Heat, dan Spy. Film-film itu memberikan ruang pada para perempuan. Bahkan ketika ia membuat Ghostbusters pun perempuan dijadikan sebagai pahlawan penangkap hantu.

Paul Feig selaku sutradara. Sumber: Metrosource

Paul Feig selaku sutradara. Sumber: Metrosource

Lalu apakah kisah gelap yang diselubungkan dalam A Simple Favor tidak terganggu ketika tingkah para karakter perempuannya lebih tepat disebut sedang melucu daripada memilih terlihat serius, padahal konflik dalam film ini benar-benar sangat serius?

Naskah Dari Novel Yang Populer Belum Tentu Berhasil Jadi Film

Versi novel A Simple Favor. Sumber: Saturday Nite Reader

Versi novel A Simple Favor. Sumber: Saturday Nite Reader

Ini adalah masalah besar yang sering kali terjadi ketika sebuah novel diadaptasi menjadi film. Perbandingannya tidak bisa dihindari. Ruang lingkuh durasi terkadang menjadi kendala yang membuat para penggemar novel tidak terima ketika sebuah bagian cerita dipotong pada versi filmnya.

Darcey Bell selaku penulis novelnya tentu tidak ingin karya terbaiknya dirusak, oleh sebab itu nama Jessica Sharzer selaku screenplay bisa sedikit memberikan kelegaan sebab Sharzer pernah berhasil menggarap skenario untuk film berjudul Speak (2004) yang diangkat dari novel juga dan ia memenagkan penghargaan dalam Woodstock Film Festival 2004.

A Simple Favor melakukan kerja keras di 40 menit pertama dengan meyakinkan penonton seperti apa film ini akan berjalan. Adegan perkenalan sosok Stephanie (Anna Kendrick) yang ceria, dengan pernak-pernik penuh warna mengukuhkan bahwa penonton tidak perlu terlalu serius menanggapi apa yang sedang berlangsung. Penonton terus dibuat tertawa sebelum akhirnya menyadari bahwa ada banyak ironisme dan kebusukan yang terpendam di balik kulit luar yang menghibur.

Stephanie yang ceria. Sumber: Seattle Times

Stephanie yang ceria. Sumber: Seattle Times

A Simple Favor tidak terjebak oleh nuansa crime serta thriller yang perlahan menyusupi cerita. Film ini seakan tidak peduli, terus saja bergerak dalam jalurnya sendiri dan masih terus mengundang tawa. Saya suka dengan banyak aspek kelam yang dibuat ringan sehingga penonton dengan mudah mencernanya.

Tema persahabatan juga menjadi nilai positif yang bagus. Pesan-pesan mendalam seperti ‘seberapa kenal kalian dengan seseorang yang kalian anggap sahabat’ seolah mengingatkan kita semua tapi tanpa terasa menggurui. Atau pesan sederhana yang menyiratkan bagaimana seharusnya para orang tua berprilaku agar anak mereka tidak berkata kasar dan berkelakuan tidak baik.

Ketika persahabatan dimulai. Sumber: Coffs Coast Advocate

Ketika persahabatan dimulai. Sumber: Coffs Coast Advocate

Atau hal sederhana yang tanpa kita sadari memberikan pengaruh dalam hidup lewat film yang kita tonton, buku yang kita baca, atau orang-orang yang ada di sekitar  kita. Pesan-pesan positif ini jelas menjadi nilai tambah yang mempertegas bahwa A Simple Favor bukan hanya sekedar hiburan belaka tapi juga memuat pesan-pesan penting yang bermanfaat.

Baca Juga: Film Glass, Sebuah Univers Yang Tidak Terduga Sekaligus Penuh Harapan Penggemar

Karakter A Simple favor Yang Kuat & Menyenangkan

Karakter Stephanie yang ceria dibawakan oleh Anna Kendrick dengan sangat bagus. Ibu rumah tangga sekaligus orang tua tunggal yang coba terus mencari kesibukan menyiratkan bahwa betapa kesepian dirinya. Lalu muncul Emily yang diperankan oleh Blake Lively, perempuan super modis, seorang wanita karier yang punya suami ganteng dan kehidupan mewah.

Henry Golding coba jadi suami yang baik. Sumber: AZ Central

Henry Golding coba jadi suami yang baik. Sumber: AZ Central

Kesuksesan film ini jelas tidak bisa lepas dari pendalaman kedua karakter sentral di atas yang benar-benar tampil sangat alami. Selain itu dua bocah yang memerankan Miles (Joshua Satine) anak dari Stephanie dan Nicky (Ian Ho) anak dari Emily, juga tidak kalah berhasil mencuri perhatian penonton dan habatnya kedua aktor muda ini sering kali membuat penonton tertawa. Lalu ada Henry Golding sebagai Sean, suami dari Emily yang tampil memikat sama seperti saat ia bermain dalam  film Crazy Rich Asians.

Semua karakter berhasil meyakinkan penonton bahwa cerita mengerikan yang seharusnya kelam dan berdarah ini bisa dinikmati dengan santai. Bahkan ketika adegan seseorang menabrak perempuan pun dikemas menjadi sangat lucu. Yeah, terkadang kemalangan seseorang adalah lelucuan untuk orang lain yang melihatnya.

Kesimpulan

A Simple Favor  merupakan black comedy yang bisa diterima banyak orang. Walau punya cerita yang cukup rumit, namun cara penyampaiannya yang menyegarkan membuat film ini jadi lebih mudah dicerna. Pendalam karkater berhasil, lapisan kisah luar yang sangat dekat dengan kehidupan kita, serta menghibur tanpa mengalami penurunan pesona hingga akhir.

Meski pun film ini adalah black comedy akan tetapi plot twist yang dihadirkan tidak kalah keren dari kebanyakan film thriller pada umumnya. Twist berlapis dan tidak mudah tertebak menjadi senjata kejutan yang menyenangkan hingga ke bagian akhir film.

Saya sangat suka ketika Stephanie mulai berbicara di depan kamera untuk membuat vlog tentang memasak. Kita bisa melihat bahwa ia begitu antusias, begitu bersemangat menceritakan apa yang terjadi pada hidupnya, padahal sebenarnya ia begitu kesepian. Dan dari film ini saya baru menyadari bahwasanya kita terkadang tanpa sengaja menjadi seseorang yang ‘panjat sosial’. Ya, tanpa sengaja!

Baca komik online di CIAYO Comics

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

00-d-asian-games-e-sports

Cabor E-sports Asian Games Terpilih Mengundang Pro dan Kontra!

6 cabang olahraga Asian Games e-sports telah terpilih. Banyak pihak menyampaikan pro dan kontranya. Apa saja yang jadi b.. more

Hasil Studi Banding Saya Ke Jepang: Tamparan Keras Bagi Indonesia

Beberapa waktu lalu, saya pergi ke Jepang untuk melihat Sakura. Namun saya belajar banyak hal... more

Mobil-Mobil Populer Pop Culture, Dari Mobil Donald Bebek Hingga Batman

Dalam pop culture, ada beberapa mobil terkenal di kalangan penggemarnya. Mobil-mobil ikonik tersebut ada yang memang ber.. more

00 kreator idealis ddesktop

Bro Sis Kreator Idealis? No Problem! Tapi Baca Ini Dulu!

Tidak semua kreator memilih untuk mengikuti apa yang menjadi tren pasar. Latar belakang, prinsip, dan perspektif dari ti.. more

Chammyland - CIAYO Comics

Kangen Nggak Sama Coco, Chips, dan Crocket?

Hi Guys! Masih inget nggak sama Coco, Chips, dan Crocket? Yuk, kita inget-inget lagi karakter Coco, Chips, dan Crocket i.. more