Anime Cel-shading: Kadang Berhasil Tapi Seringkali Tidak Berhasil

11 months ago

Di dunia animasi saat ini terdapat model grafis yang mulai semakin digunakan untuk menggantikan model grafis standar seperti hand drawing. Model grafis yang dimaksud adalah model “Cel-shading/Cel-shaded Graphic”.

Apa itu cel-shading graphic? Sejak kapan dia muncul?

“Cel-shading” secara sederhana dapat diartikan sebagai teknik yang menjadikan objek 3-D menjadi terlihat ‘rata tanpa lekukan’ seperti yang biasa ada di sebuah objek 3-D buatan program komputer.

Caranya adalah dengan menimbulkan efek atau tekstur ‘kartun’ melalui penempatan warna, shading maupun gradasi cahaya pada objek 3-D. Dengan penempatan dan permainan warna serta cahaya, sebuah objek tiga dimensi dapat terlihat seperti objek lukisan tangan yang rata dengan permukaan.

Objek juga jadi dapat terlihat lebih ‘animated’ ketimbang ‘realistically three dimensional shape’. Seakan-akan sebuah gambaran tangan di atas permukaan, sementara aslinya berupa hasil rendering komputer objek 3 dimensi.

Sebelum diberi efek shading (kiri) & setelah diberi efek (kanan). (Sumber: Wikipedia)

Teknik cel-shading ini mulai dipopulerkan oleh video game. Setidaknya dari pengalaman pribadi saya.

Walaupun bukan lahir sebagai yang pertama menggunakan grafis teknik cel-shading namun game PlayStation One berjudul “Slap Happy Rhythm Busters” (2000) buatan Polygon Magic buat saya adalah video game dengan grafis cel-shading pertama yang pernah saya mainkan. Game fighting ini terlihat ‘ngartun’ dengan feels dan kendali polygon 3-D graphics. Tekstur di Slap Happy menunjukkan seakan-akan grafis yang ada adalah hasil hand drawing. Padahal aslinya 3-D object buatan komputer dengan tekstur cel-shading.

Gameplay “Slap Happy”

Di tahun yang sama juga muncul game “Jet Set Radio” (di Amerika Serikat diedarkan dengan judul “Jet Grind Radio”) untuk console game Sega Dreamcast. Disini unsur cel-shading yang ada lebih pekat dan tegas lagi dibandingkan Slap Happy. Hal ini tentu didukung kemampuan processing Sega Dreamcast yang jauh di atas PlayStation One. Tampilan game Jet Set Radio seakan-akan sebuah show cartoon/anime dengan grafis cel-shading yang rapi dan keren.

Jet Set Radio. (Sumber: PCMag)

Trailer “Jet Set Radio”

Bagaimana dengan anime? Apakah cel-shading di anime sama bagusnya dengan di video game?

Appleseed Ex Machina. (Sumber: 8BitSoul)

Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Karena berbeda dengan video game, yang relatif repetitif dan fokus di gameplay, sebuah anime lebih dinamis dengan berbagai pergerakan yang berubah-ubah sesuai konteks. Jika adegannya heboh dan ribet (seperti adegan balapan atau berantem), grafis cel-shading buat saya jadi sebuah blunder. Entah kenapa rasanya tekstur cel-shaded terasa kaku dan kurang dinamis. Ini terasa terutama di adegan dimana kecepatan pergerakan menjadi fokus tampilan. Seperti misalnya adegan baku gebuk atau baku tembak.

Scene dari anime cel-shaded “Appleseed Ex Machina”

Tapi walau sepertinya menuai polarisasi dukungan maupun penolakan, metode gambar cel-shading untuk anime semakin sering digunakan studio anime Jepang. Ada yang sedari awal langsung menggunakan metode cel-shading di IP buatan mereka, dan ada pula yang mulai menggunakan cel-shaded graphic di anime season berikut dari anime yang sebelumnya dikenal dengan grafis hand drawn alias digambar dengan tangan secara tradisional.

Dan hasilnya bervariasi. Kadang berhasil; dalam artian anime tersebut terasa keren dan ‘pas’ dengan tampilan cel-shading graphic yang mereka berikan. Di lain waktu terasa tidak berhasil, karena hasil akhirnya terlihat kaku dan ‘kurang hidup’ jika dibandingkan metode hand drawing.

Ambil contoh salah satu anime favorite saya “Kemono Friends”. Anime ini digambarkan dengan metode cel-shaded sedari awal. Dan menurut saya berhasil menampilkan sebuah anime ringan dengan berbagai karakter cute kawaii dengan grafis cel-shaded. Saya malah merasa kalau seandainya Serval-chan & Kaban-chan digambar dengan metode standard hand drawing hasilnya belum tentu se-imut versi cel-shading.

Kemono Friends. (Sumber: OtakuUSAMagazine)

Sementara anime yang menurut saya tidak berhasil ‘hidup’ dengan teknik gambar cel-shading salah satunya adalah “Souten no Ken: Re:Genesis”. Anime spin-off “Hokuto no Ken” itu kewalahan mencoba menampilkan situasi seru sebuah kondisi pertempuran aksi bela diri dengan tampilan cel-shading. Yan Wang terlihat kaku dan aneh; walau Yu-Ling terlihat seksi dengan dress cheong-sam khas Chinese di grafis cel-shading. Tapi secara keseluruhan Souten no Ken: Re:Genesis tampak kurang keren di bagian grafisnya buat saya.

Souten no Ken: Re:Genesis. (Sumber: YouTube)

Anime-anime cel-shaded lain yang terlihat berhasil terlihat keren misalnya “Appleseed Ex Machina” (2007), Judul lainnya ada “Vexille” (2007) serta “Ghost in the Shell: Stand Alone Complex” (2002-2005). Judul-judul ini terlihat bagus dan mampu memanfaatkan teknik grafis cel-shading sehingga hasilnya menarik dan keren.

Ghost in the Shell: Stand Alone Complex. (Sumber : SuWalls)

Trailer “Ghost in the Shell: SAC”

Hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk anime-anime seperti “Berserk” (2012-2013), “Transformers: Robot in Disguise” (2015) atau “Berserk” (2016). Mereka kaku dan lifeless. Tidak menarik walaupun tentu tidak jelek. Grafis cel-shading sulit untuk dikatain “jelek!” karena memang pada dasarnya grafis model ini cakep. Sesuatu yang bisa dibilang sebagai ‘technical wonder’. Yang 20-30 tahun lalu dianggap mustahil untuk diciptakan.

Berserk (2016). (Sumber: AnimeRecap)

Opening “Berserk” (2016)

Jadi apakah grafis cel-shaded/cel-shading itu tidak bagus? Sama sekali tidak. Dengan formula dan penggunaan yang tepat, grafis model ini mampu tampil memikat penonton. Namun itu bukan tugas mudah karena tricky. Tapi bagaimanapun, cel-shading akan tetap ada serta berkembang. Sehingga mungkin suatu hari, akan sangat sulit untuk membedakan grafis cel-shading dengan grafis hand drawing.

About Author

Harry Rezqiano

Harry Rezqiano

Seimbangkan hidup. Tiap orang beda-beda caranya. Tapi semua orang perlu melakukannya. *Disclaimer: Tulisan ini adalah opini & pendapat pribadi serta bukan merupakan pandangan maupun kebijakan Ciayo Corp beserta afiliasinya. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial, Facebook: /HarryRezqiano | Twitter: @HarryRezqiano | Wattpad: /HarryRezqiano *

Comments

Most
Popular

00-d-the-incredibles-2

Jeda 14 Tahun, Apakah The Incredibles 2 Masih Tetap Badass?

14 tahun lalu, The Incredibles mampu memukau para penontonnya lewat aksi keluarga superhero ini. Kini, apakah The Incred.. more

Line Up Film Live Action yang Diadaptasi dari Animasi Disney

Siapa yang enggak tahu film animasi yang diproduksi Disney? Pernah enggak ngebayangin film animasi yang kita tonton kala.. more

my hero academia live action

My Hero Academia Live Action Tengah Digarap Studio Legendary?

Film My Hero Academia live action dikerjakan studio Legendary. Alex Garcia dan Jay Ashenfelter memproduseri adaptasi man.. more

00 arnold desktop

Hey Arnold: The Jungle Movie – Ending Bahagia Si Kepala Lonjong

Hey Arnold: The Jungle Movie nggak cuma sekedar kelanjutan dari kartun yang tamat 13 tahun lalu, namun juga memberikan s.. more

solo-a-star-wars-story-desktop

Review Solo: A Star Wars Story – Kisah Han Solo Baru Dimulai

Kisah Han Solo berakhir di The Force Awakens. Namun perjalanan hidupnya tetap abadi lewat film prekuel Solo: A Star Wars.. more