Anjlok Parah, Apa Yang Salah Dari Solo: A Star Wars Story?

6 months ago
00-d-solo-a-star-wars-story

Seperti yang mungkin kalian telah ketahui, terlepas hype yang gila-gilaan serta overall, filmnya sendiri tidak buruk (baca: watchable), mirisnya semenjak dirilis tanggal 25 Mei 2018 lalu, Solo: A Star Wars Story “rugi bandar” di tangga box-office.

Terbukti, dari total budget $250 juta, film spin-off masa muda Han Solo (Alden Ehrenreich), sejauh tulisan ini diturunkan, baru sukses mencetak total keuntungan minggu pertamanya sebesar, $ 172.2 juta atau defisit hampir $183 juta.

Sebagai perbandingan, total pendapatan minggu pertama yang diraih oleh film antologi / spin-off A Star Wars Story pertama, Rogue One, adalah $155 juta. Sedangkan total pendapatan minggu pertama yang diraih oleh Solo: A Star Wars Story adalah $84.4 juta.

Berdasarkan data tersebut, maka bisa dikatakan bahwa film yang disutradarai oleh Ron Howard (Rush) ini adalah film Star Wars paling mengecewakan di sepanjang 4 dekade perjalanan franchise ini. Tak pelak hal ini tentunya membuat kita menjadi bertanya sendiri, “mengapa Solo sampai bisa merugi besar seperti ini?”

solo: a star wars story

Kenapa sampai rugi nih Chewie? (Sumber: FilmInk)

Ada banyak faktor, namun kalau kita mau ambil 3 penyebab utamanya, Pertama, tentunya dikarenakan faktor Ehrenreich sebagai sosok Solo barunya. Ya memang, film ini mengisahkan sosok Solo sebelum bertemu Obi-Wan Kenobi (Alec Guinness) dan Luke Skywalker (Mark Hamill) di adegan awal Star Wars Episode IV: A New Hope (1977).

Jadi ya sekali lagi, logika banget apabila film ini men-cast sosok aktor muda baru. Dan to be fair, penampilan Ehrenreich sebagai si penyelundup karismatik ikonik ini sudah baik dan cukup maksimal.

Tapi let’s face it. Tetap saja kita masih terbayang sekaligus membanding-bandingkan sosoknya dengan pemeran Han Solo orisnil, Harrison Ford ketika menyaksikan dirinya.

Kedua, film yang juga dibintangi oleh “The Mother of Dragon” Emilia Clarke ini, kisahnya tidak memberikan unsur keterkaitan yang signifikan dengan film-film Star Wars sebelumnya yang akhirnya, membuat film ini terasa “hambar” dan seperti “gak guna dibuat”.

Alden Ehrenreich sebagai Han Solo (Sumber:  Bent Corner)

Alden Ehrenreich sebagai Han Solo (Sumber:  Bent Corner)

Dan yang ketiga tentunya adalah dikarenakan bombardier review baik dalam bentuk tertulis maupun audio-video. Dan seperti kita ketahui, rata-rata review yang ada memberikan penilaian negatif terhadap Solo.

Alhasil, dikarenakan masih banyak moviegoers yang kalau mau nonton, baca atau nonton review orang lain dulu, banyak yang akhirnya memutuskan untuk enggan menyaksikan film ini. Padahal lagi-lagi saya tekankan, Solo: A Star Wars Story, bukanlah film yang buruk sama sekali.

Tapi terlepas pendapat saya tersebut, nyatanya angkalah yang berbicara pada akhirnya. Dan melihat  total pendapatan yang lumayan merugikan ini, sepertinya sudah saatnya bagi Disney dan Lucas Film, untuk mempertimbangkan lagi konsep film antologi yang mereka ciptakan ini.

Pasalnya, sudah jelas banget bahwa audiens tidaklah terlalu tertarik dengan konsep antologi / stand alone ini. Rogue One, memang sukses secara pendapatan (sejauh ini sudah mencapai $1.056 miliyar). Tapi lumayan banyak juga fanboy yang tidak suka dengan film arahan oleh Gareth Edwards (Godzilla) tersebut.

Proyek Antologi adalah kesalahan? (Sumber: The Indian Express)

Proyek Antologi adalah kesalahan? (Sumber: The Indian Express)

Lalu bagaimana tanggapan Howard dan Disney sendiri dengan performa mengecewakan yang ditampilan Solo: A Star Wars Story di box-office ini? Howard melalui unggahan tweet-nya tidaklah menyangkal dengan kekecewaan yang didapatkan. Namun dirinya, tetap mencoba untuk menghadapinya secara positif.

Ironisnya, beda cerita dengan tanggapan Disney. Kepala distribusi Disney, Dave Hollis, menyatakan bahwa alasan utama kegagalan Solo, adalah dikarenakan audiens sudah “kelelahan” karena harus ke bioskop lagi dalam 3 minggu berturut-turut.

Maksudnya disini, Solo: A Star Wars Story, bisa dibilang rilisnya lumayan berdekatan dengan Avengers: Infinity War yang dirilis 27 April 2018 dan Deadpool 2 yang dirilis 18 Mei 2018 atau satu minggu sebelum Solo.

Sehingga, di dalam logika Hollis, dikarenakan ketiga film hype tinggi ini dirilis hampir berdekatan, maka otomatis, audiens pun merasa malas apabila harus membeli tiket lagi di bioskop yang alhasil, membuat jumlah keuntungan yang diperoleh Solo menjadi berkurang.

solo: a star wars story

Donald Glover, bintang bersinar di Solo: A Star Wars Story (sumber: Digital Spy)

Oke, to be fair, ada betulnya juga argumen Hollis. Dalam durasi rilis yang berdekatan tersebut, tentunya kita juga mikir-mikir untuk mengeluarkan kocek tiket lagi. Tapi, alasan ini di saat yang sama jugalah tidak sepenuhnya tepat.

Rasanya, kalau memang kualitas Solo: A Star Wars Story gokil banget, bukanlah masalah bagi audiens untuk mengeluarkan kocek tiket lagi untuk ketiga kalinya dalam jeda yang berdekatan tersebut.

Untuk kesekian kalinya saya katakan disini, Solo: A Star Wars Story bukanlah film yang buruk. Tapi memang, kalau dibandingkan dengan film-film Star Wars sebelumnya dan melihat bobot naskahnya, film ini jauh di bawah “standar internasional” franchise ini. Yap bahkan di bawah standar Rogue One. Oleh karenanya gak heran, apabila audiens dan sebagian fanboy jadi pikir-pikir lagi untuk mendukung film ini di layar lebar.

Emilia Clarke sebagai Qi’ra (sumber: Critical Hit)

Emilia Clarke sebagai Qi’ra (sumber: Critical Hit)

Lalu, melihat prestasi Solo dan Rogue One yang di bawah standar ini, jadi apakah langkah produksi film spin-off / stand alone yang dilakukan oleh Disney dan Lucas Film ini memanglah merupakan sebuah kesalahan?

Tidak juga kok. Sejujurnya banyak dari fanboy  dan bahkan mungkin audiens awam yang mengikuti franchise ini dari awal, kepingin tahu bagaimana penggambaran kisah dari salah satu karakter atau event yang belum pernah dieksplorasi di seri-seri Star Wars sebelumnya.

Dan kalau boleh jujur, banyak dari kita yang mungkin diam-diam, berterima kasih banyak dengan langkah yang dilakukan oleh Disney ini. Tapi memang, Disney dan Lucas Film, seharusnya lebih mengedepankan kualitas film yang baik dan memuaskan fans ketimbang, hanya mengedepankan uang dan target rilis semata.

Tidak mengapa apabila dalam pembuatannya, ternyata harus membutuhkan waktu lama sehingga harus mengundur jadwal rilisnya lagi. Lebih baik seperti itu, ketimbang mengejar target waktu rilis yang akhirnya malah mengecewakan seluruh pihak.

Semoga saja, rilisan film-film antologi Star Wars ke depan berikutnya, bisa lebih mengedepankan aspek yang telah disebutkan tersebut sehingga, terlepas franchise “sakral” milik George Lucas ini kini dipegang oleh si Miki Tikus, fans masih merasa excited layaknya seperti ketika melihat franchise ini pertama kali 4 dekade sebelumnya.

About Author

Marvciputra

Marvciputra

Entertainment Reviewer, WWE Lovers and Music-holic

Comments

Most
Popular

(Sumber : Koleksi pribadi)

Ketika Komik dan Seni Rupa Dipertemukan

Ada acara hits kekinian mengenai komik dan seni rupa di Jakarta, loh. .. more

(from : riaunews.com)

Bagaimana Nasib BBM Webcomics Setelah Terancam Diblokir Kemkominfo?

Bro and Sis yang suka baca komik online, pasti tahu dong kalau bulan Agustus 2017 lalu, BBM meluncurkan Webcomics milikn.. more

(source 1: m.korea.net)

Seberapa Penting Olympic Winter Games untuk Korea Selatan?

Korea Selatan lagi giat-giatnya mempromosikan Olympic Winter Games yang ke-23. Kompetisi olahraga ini nantinya bakal dia.. more

00-discovery-tour-d

Mari Megenal Sejarah Mesir Kuno Lewat Assassin’s Creed Origins

Game Assassin’s Creed Origins menampilkan fitur baru bernama Discovery Tour. Di sini gamer bisa belajar tentang sejara.. more

Plant Lily, Chit Chat Bareng Cosplayer Dari Vietnam

Jika ada yang bertanya “Eh gimana sih rasanya bertemu idola secara langsung, bisa duduk bareng dan ngobrol dalam suasa.. more