Apakah Hollywood Kini Memang Sedang dalam Masa Krisis Orisinalitas?

3 months ago
Sumber: Real Big Hits

Selama berabad-abad, Hollywood kerap dianggap sebagai “surga” hiburan layar lebar dunia. Wajarlah. Wilayah bagian California, AS ini, memanglah dikenal sangat produktif dalam menghasilkan film-film baru. Baik itu film drama, horor, komedi, animasi maupun genre-genre lainnya, Hollywood bisa dibilang bagaikan “keran film” yang terus mengaliri layar lebar dan layar kaca seluruh dunia. Sumber ide cerita yang didapatkan pun beragam.

Ada yang  mengadaptasi media cerita lain, seperti komik, novel dan video game. Namun lumayan banyak juga yang memang kisahnya berasal dari ide orisinil nan brilian yang dimiliki oleh para sineasnya.

Nah, ngomong-ngomong soal ide orisinil, kalau kita perhatikan secara seksama, dalam beberapa tahun belakangan, sudah lumayan sedikit film yang ide ceritanya orisinil. Yang lebih sering kita lihat sekarang justru adalah sekuel, prekuel, reboot, remake atau adaptasi dari media penceritaan lain. Melihat fenomena ini, kitapun menjadi bertanya, “Apakah Hollywood kini memang sedang dalam masa-masa krisis orisinalitas?”

Get Out. Sumber: Variety

Get Out. Sumber: Variety

Tanpa perlu berpanjang lebar, Ya bro sis. Hollywood kini bisa dibilang sedang mengalami masa krisis orisinalitas. Oke, oke bro sis. Saya sadar kok bahwa film-film seperti: Get Out (2017), Lady Bird (2017) dan The Shape of Water (2017), adalah bukti telak bahwasanya, ide kisah orisinil belumlah sepenuhnya “mati”.

Tapi yang saya tekankan disini adalah secara overall (keseluruhan). Ya seperti yang telah saya katakan tadi, dalam beberapa tahun terakhir, Hollywood sebagian besar diisi oleh film-film sekuel, prekuel, reboot, remake atau adaptasi dari media penceritaan lain. Sedangkan film cerita orisinil, lumayan bisa dihitung dengan jari. Hal ini tentunya menjadi fakta yang sangat miris. Padahal, sineas-sineas di era saat ini, sangat lebih dari mampu untuk menciptakan ide-ide orisinil yang keren nan jenius.

Kalau memang demikian, lalu mengapa krisis orisinalitas ini bisa sampai terjadi? Well ada dua faktor penyebab berkaitan disini.

Pertama, di zaman sekarang ini, bisa dibilang sangatlah sulit untuk menciptakan ide cerita yang orisinil yang langsung bisa memuaskan seluruh kalangan audiens. Alias tidak semua ide orisinil, dapat langsung disukai. Kedua, Hollywood hingga saat ini masih terus didera oleh demam genre superhero dan genre adaptasi novel laris. Nah, berdasarkan kedua faktor ini maka bisa disimpulkan seperti ini:

“Sineas, daripada nantinya berujung rugi materi dan non-materi (baca: capek hati), maka mereka pun akhirnya lebih memilih untuk membuat film yang kisahnya sudah jelas-jelas melekat / disukai oleh orang banyak.”

Sumber: A Geeky World

Batman Begins. Sumber: A Geeky World

Miris? Memang. Tetapi sekali lagi daripada si sutradara / sineas merugi, maka mereka pun mau tidak mau haruslah mengikuti keadaan yang ada tersebut. Tapi toh pada akhirnya fenomena adapatsi ini tidak sepenuhnya merugikan bukan? Coba bro sis, kalau misalkan Christopher Nolan (Memento) tidak tergoda untuk ikutan dalam rana adapatsi superhero? Dijamin trilogi The Dark Knight (2005-2012) yang klasik itu tidak akan pernah lahir dan karir perfilman Nolan pun akan begitu-begitu saja.

Sumber: Variety

Sutradara Bryan Singer dan  Patrick Stewart sebagai Charles Xavier di X-Men: Days of Future Past. Sumber: Variety

Hal yang samapun juga bisa dikatakan terhadap sutradara franchise superhero, X-Men (2000-2016), Bryan Singer. Oke memang sedikit berbeda dengan Nolan, sebelum keterlibatannya dengan para mutant Marvel, Singer memang telah lumayan harum namanya di Hollywood. The Usual Suspects (1995) dan Apt Pupil (1998) adalah dua film yang membuat nama Singer lumayan ngetop di tahun 90an. Tapi sekali lagi, tetap saja X-Men lah yang membuat sosok dan karirnya berubah 1800.

Nah, selain naskah cerita, masalah krisis orisinalitas di pembahasan ini, jugalah menyangkut ke salah satu aspek teknis perfilman yang kerap diabaikan oleh sebagian besar orang (terutama pada saat ini). Apakah bro sis bisa menerkanya?

Yap benar sekali. Poster. Iya betul bro sis, lukisan / foto yang kerap dipasang di luar papan bioskop untuk mempromosikan atau memberitahukan film yang sedang main atau akan datang itu. Bisa dikatakan layaknya ide cerita, lukisan / foto poster yang ditampilkan, dalam beberapa tahun terakhir, benar-benar tidak tampak kesan orisinalitasnya sama sekali. Bingung? Oke silahkan bro sis lihat contoh tampilan poster-poster berikut ini.

Sumber: cinemagnifique

Serupa tapi tak sama. Sumber: cinemagnifique

Sumber: Vulture

Sumber: Vulture

Bagaimana sudah paham maksudnya bukan? Ya, terlihat di dua contoh poster tersebut, hampir sebagian besar poster film saat ini memiliki desain yang sebelas-duabelas satu sama lain. Tinggal diganti judul, foto aktor dan modifikasi font, maka poster pun selesai. “Gak masalah ah, yang penting kan kualitas filmnya.” Memang kita ke bioskop untuk menyaksikan filmnya.

Tapi mari kita sekarang beranalogi dulu seperti ini. Bro sis kalau misalkan sedang berada di restoran, pastinya pernah tergoda dong untuk memakan makanan yang disajikan secara menarik di bagian layar display makanan?

Makanan yang ditampilkan terlihat sangat menarik dan bikin ngiler yang akhirnya kitapun memesan makanan itu. Nah, poster bioskop pun juga seperti itu. Apabila tampilan poster dari film dirancang semenarik dan se-fun mungkin, kitapun juga pastinya akan tergoda untuk menyaksikan filmnya bukan?

Sumber: Play.Google

Sumber: Play.Google

Saya masih ingat saat berumur 6 tahun, menyaksikan poster film Far & Away. Kala itu saya rasanya ingin sekali untuk menyaksikan filmnya. Memang kalau sekarang dilihat, poster ini sangatlah sederhana. Tapi bagi saya yang kala itu masih kecil, desain poster ini benar-benar langsung mencuri perhatian saya.

Sumber: theburr

Sumber: theburr

Satu film lagi yang tampilan posternya sukses menggoda mata saya adalah poster film slasher horror klasik 90an, Scream (1996). Nah ketika film ini dirilis, saya sudah kelas 4 SD. Memang, terlepas kala itu saya sudah berusia 9-10 tahun, tetap saja secara logika, usia saya belumlah mencukupi untuk dapat meyaksikan film ini.

Tapi dengan tampilan poster sekeren dan se-ikonik ini, bohong besar apabila saya kala itu, tidak tergoda habis-habisan untuk menyaksikan film yang dibintangi oleh Neve Campbell ini. Nah, berdasarkan kedua kisah ini, maka kita pun sekarang kembali ke pertanyaan awal: Kemanakah sekarang inspirasi keren nan orisinil untuk poster-poster bioskop ini?

Apakah memang Hollywood sudah tidak memiliki inspirasi lagi? Saya rasa tidak. Malah kalau boleh dibilang Hollywood saat ini memiliki banyak otak jenius di masing-masing bidangnya. Pastinya seluruh desainer grafis Hollywood, memiliki segudang ide super kreatif untuk desain posternya.

Lalu apa masalahnya dong? Simpel. Kita sendiri. Terlebih audiens di Amerika sana. Kebanyakan audiens disana (disini juga sih bro sis), sudah tidak begitu mempedulikan atau bahkan mengapresiasi tampilan poster yang unik nan mengundang misteri.

Padahal, tampilan poster menarik nan orisinil sangat penting peranannya seperti yang saja jelaskan tadi. Dan juga kalau dipikir, tampilan poster unik jugalah sangat baik untuk meningkatkan daya imajinasi yang kita miliki. Tapi ya mau bagaimana lagi bro sis? Zaman sudah makin berubah bukan?

Sumber: Mashable

The Emoji Movie. Sumber: Mashable

Lalu dengan melihat masih tajamnya permasalahan krisis orisinalitas ini, apakah mungkin masalah ini nantinya akan bisa terpecahkan? Menurut saya masih bisa kok walau, mungkin akan lumayan berat. Berat bagaimana? Well, selama attitude audiens zaman now masih acuh dan “manja”, jangan harap ide-ide film atau tampilan poster indah nan orisinil bisa kembali ke Hollywood.

Manja disini, mengacu pada attitude audiens yang merasa malas nonton apabila filmnya bukan superhero atau berasal dari novel / video game terkenal. Dan ketika ada film yang idenya benar-benar orisinil nan fresh, dirinya pun merasa malas untuk menyaksikannya.

Juga apabila audiens masih merasa bahwa tampilan poster tidak penting-penting banget, maka jangan protes atau mengumpat, “Posternya kok sama seperti film-film sekarang ya?” Intinya, balikkan saja kembali ke diri kita masing-masing. Nah, setelah membaca pembahasan ini, bagaimana nih pendapat kalian bro sis? Apakah kalian juga sependapat? Silahkan sampaikan komentar kerennya ya bro sis!

About Author

Marvciputra

Marvciputra

Entertainment Reviewer, WWE Lovers and Music-holic

Comments

Most
Popular

Ingin Suaramu Didengar Dunia? Kirimkan Artikelmu Ke CIAYO Blog

Jika Kamu memiliki blog, artikel atau press release yang berkaitan dengan industri kreatif dan pop culture, kami akan me.. more

Valve and Steam (Sumber: http://2.bp.blogspot.com/-NNLEB_aaNQY/VTQwGsKSSjI/AAAAAAAABeU/z-QCEDlLDEs/s1600/valve-steam.jpg)

Pro dan Kontra Kebijakan Baru Steam Direct, Yay or Nay?

Penggantian Steam Greenlight ke Steam Direct memang menimbulkan banyak pro dan kontra, ada yang setuju dan ada yang tida.. more

Sumber: http://people.com

Selain Jumanji, Ini Dia 10 Film Wajib Tonton yang Dibintangi The Rock

Lewat film “Jumanji: Welcome to the Jungle”, nama Dwayne Johnson atau yang lebih dikenal dengan sebutan “The Rock.. more

Teriakan Berdarah – File 003 Dia Kembali

Apakah ingatan masa lalu akan membuatmu lega? Setelah sekian lama sibuk dengan keseharianku, dia kembali... more

00 heartbeat desktop

In a Heartbeat: Animasi Bertema LGBT Yang Mencuri Perhatian Sosial Media

Esteban Bravo dan Beth David merilis In a Heartbeat, animasi bertema hubungan LGBT. Jagat internet merespon dengan posit.. more