Cabor E-sports Asian Games Terpilih Mengundang Pro dan Kontra!

2 months ago
00-d-asian-games-e-sports

Seperti sudah diberitakan sebelumnya, game MOBA Arena of Valor terpilih sebagai salah satu game yang dipertandingkan dalam Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Cabang olahraga e-sports dalam Asian Games dipertandingkan sebagai cabor ekshibisi dan tidak memperebutkan medali. Berdasarkan keterangan dari Olympic Council of Asia (OCA) tahun 2017 lalu, e-sports direncanakan baru akan menjadi cabor resmi pada Asian Games 2022 di Hangzhou, Cina.

Mengikuti AoV, 5 game lainnya pun dipilih untuk berlaga di kompetisi Asian Games 2018. Kelima game tersebut adalah game MOBA komputer League of Legends, game sepak bola Pro Evolution Soccer, game RTS Starcraft II, game strategi kartu Hearthstone, serta game strategi mobile Clash Royale. Keenam game tersebut dipilih langsung oleh Asian Electronic Sports Federation (AESF), bersama OCA dan Indonesia Asian Games Organizing Committee (INASGOC).

Paska diumumkannya judul-judul game tersebut, baik netizen dan sesama atlit e-sport memberikan komentarnya. Banyak yang mengapresiasi masuknya e-sports ke dalam event olahraga setingkat Asian Games, karena menjadi bukti bahwa e-sports kini sudah mendapatkan tempat di hati masyarakat awam. Meski demikian, tak sedikit pula yang mengeluhkan dan mengkritik transparansi dari pemilihan game serta atlit yang bakal berlaga di Asian Games.

Sumber: Tribun News

Sumber: Tribun News

Diawali dengan terpilihnya game MOBA ponsel AoV alih-alih Mobile Legends yang lebih populer di Indonesia, jagat komentar internet sudah diramaikan oleh para netizen. Pemilihan AoV sebenarnya cukup masuk akal karena penetrasi basis pemainnya lebih merata di seluruh kawasan Asia dibanding Mobile Legends. Meski demikian, netizen tetap mengungkapkan perasaannya terkait masalah ini.

Topik ini semakin hangat dibicarakan begitu 5 game lainnya diumumkan untuk menemani AoV. Situasi semakin memanas hingga masalah pro-kontra cabor e-sports ini masuk ke kanal berita mainstream.

Sumber: Imaginaction

Sumber: Imaginaction

Salah satu kejutan dari seleksi game tersebut adalah terpilihnya League of Legends alih-alih DOTA 2. Andrew Tobias selaku salah satu penggiat dalam skena DOTA 2 di Indonesia mengaku cukup kaget dan sedikit kecewa dengan keputusan tersebut. “Kecewa sedikit ada, tapi sedikit saja tidak banyak. Karena dilihat dari sisi penyelenggaraan Asian Games eksibisi game yang pertama kali diadakan di Indonesia,” ungkap Andrew.

Menurut Andrew, fanbase DOTA 2 di Indonesia jumlahnya sangat banyak melebihi fanbase League of Legends. “Kalau mau mengikuti penggemar dan penikmat e-sports di Indonesia pasti ya otomatis harusnya Dota 2. Tapi di sini juga mau gimana pun LoL punya kans yang cukup besar untuk menang. Meskipun penikmatnya sedikit,” lanjut Andrew.

Andrew juga menambahkan, yang dimaksud kans adalah meskipun memiliki basis penggemar yang lebih kecil, Indonesia masih memiliki tim yang kuat dan berprestasi seperti Bigetron dan Head Hunters. Di akhir, Andrew menghimbau bahwa apapun game yang dipertandingkan di Asian Games nanti, ia akan tetap mendukung penyelenggaraannya.

Sumber: Geek

Sumber: Geek

Lain DOTA 2, lain pula Hearthstone yang juga punya masalahnya sendiri. Sempat beredar kabar bahwa seleksi atlit Hearthstone untuk mewakili Indonesia dinilai tidak transparan. Hal ini diketahui setelah Farando Prakoso dari komunitas Hearthstone Indonesia mengeluhkan prosedur seleksi yang ditetapkan oleh Indonesia eSports Association (IeSPA) selaku regulator e-sports di Indonesia.

“IeSPA tidak melaksanakan asas transparansi, yaitu memilih yang mereka sebut atlit tanpa melalui proses seleksi yang jelas. Dimana mereka menunjuk sebuah komunitas game, yaitu Blizzard Gamer indonesia yang tidak mempunyai prestasi dan anggota yang berkualifakasi menjadi wakil Indonesia,” beber Farando.

Farando mengungkapkan bahwa proses kualifikasi atlit yang ditetapkan IeSPA hanya berdasarkan survei yang diedarkan lewat email. Atlit yang berminat diminta untuk memberikan informasi seperti rank tertinggi, waktu bermain terakhir kali, daftar teman, serta kelengkapan kartu.

Sumber: Duniaku

Sumber: Duniaku

“Dan yang terparah mereka hanya membuka pendaftaran hanya selama dua hari, dengan slot hanya 16. Tanpa memberikan kesempatan kepada gamer daerah untuk diseleksi atau diberikan kesempatan. Bahkan peraturan, hadiah dan kejelasan tidak diberikan oleh IeSPA dan Blizzard Gamer Indonesia,” lanjut Farando. Ia menambahkan, kejadian ini telah mencederai prestasi komunitas Hearthstone, dan dianggap sebagai sebuah komoditas politik bagi IeSPA dan Blizard Gamer Indonesia, Formi, serta Kemenpora.

Menanggapi tuduhan Farando, pihak IeSPA pun segera mengklarifikasi. “Mengenai HSID (Hearthstone Indonesia) sebenarnya itu dulu satu wadah dengan Blizzard Gamers Indonesia. Mungkin karena ada perbedaan nilai jadi mereka terpecah,” ujar Steven Tija selaku humas IeSPA. IeSPA sendiri menunjuk komunitas Blizzard Gamers Indonesia untuk menyeleksi atlit Hearthstone dan Starcraft II.

Lain Steven, lain pula Sekjen IeSPA Prana Adisapoetra, yang menambahkan bahwa pemain yang terseleksi sebenarnya masih bagian dari HSID dan juga Blizzard Gamers Indonesia.  “Jadi awal drama ini, keliatan kalau orang HSID enggak suka kalau akhirnya IeSPA yang berjalan dengan Blizzgamers. Padahal pihak IeSPA juga terbuka untuk HSID. Yang penting ada obrolan lah, jangan langsung posting bikin gaduh di sosial media, apalagi bilang suatu pembodohan,” ujar Prana.

Hal yang sama pun diamini oleh ketua umum Eddy Lim, yang mengungkapkan bahwa para panitia juga merupakan bagian dari dua komunitas tersebut. “Sebenarnya secara komunitas tidak ada masalah sama sekali, karena komunitas itu tetap satu, walaupun follow beberapa grup Facebook. Hanya saja adminnya HSID yang lagi cari sensasi,” terang Eddy.


Dari dua kasus di atas, nampak bisa dilihat bahwa ternyata masih ada pelaku e-sports di Indonesia yang mengedepankan ego mereka dibanding kemajuan skena e-sports secara keseluruhan. Padahal jika ingin memajukan e-sport di Indonesia, semua orang harus bisa mengambil posisi suportif tanpa mementingkan kepentingan pribadi maupun kelompok/fanbase.

Cabor game yang dipilih oleh organisasi olahraga nasional dan internasional tentunya sudah melalui pertimbangan matang untuk memastikan semua negara di Asia dapat berpartisipasi. DOTA 2 dan Mobile Legends bisa dikatakan sebagai MOBA terpopuler di Indonesia, namun apakah di negara lain pun demikian?

Begitu pula dengan proses seleksi atlit e-sports, yang alangkah baiknya jika ditangani langsung oleh IeSPA secara independen tanpa pengaruh dari organisasi dan komunitas manapun. Hal ini bertujuan agar proses seleksi berjalan seobjektif mungkin, dan membuka kesempatan bagi atlit independen/non komunitas untuk ikut mengukur kemampuan mereka.

asian games e-sports

Sumber: GGWP

Hanya tinggal sekitar 3 bulan lagi menjelang pembukaan Asian Games 2018. Semoga semua atlit Indonesia yang bertanding, baik di cabor bermedali maupun cabor ekshibisi seperti e-sport, dapat memperjuangkan yang terbaik demi nama harum Indonesia. Mari lupakan perbedaan sejenak demi mengibarkan bendera merah putih di atas podium!

About Author

Meka Medina

Meka Medina

Penulis cerita untuk circle Rimawarna. Biasanya suka bolak-balik antara Bandung-Jakarta, namun bisa juga teleport ke Tenggarong. Jangan tanya kenapa.

Comments

Most
Popular

The Fate of the Furious (Fast and Furious 8) Hambar Tanpa Paul Walker

The Fate of the Furious yang tak lain merupakan seri dari Fast and Furious ke-8, kabarnya merupakan awal dari trilogy ya.. more

Sumber: japantimes

Inilah Hal Yang Wajib Dipatuhi Oleh Orang Jepang dan Korea Saat Bekerja

Di Jepang, orang yang bekerja di kantor, biasanya punya budaya untuk makan malam bersama. Wajar memang. Tapi dalam makan.. more

Sumber: WikiHow

Hati-hati, Attitude Jelek Bisa Menghancurkan Karir Berkarya!

Attitude, inilah satu hal yang tidak boleh gagal kita pahami dalam kehidupan berkarya... more

(Sumber : duniaku.net)

“Battle of The Toys 2017”, Ajak Nostalgia Para Pecinta Mainan

Bro sis, pas kecil suka main apa aja sih? Ada yang suka ngoleksi mainan? Kalau iya, mungkin bro sis udah gak asing denga.. more

Sumber: static.srcdn.com & counter-currents.com

Pesan Moral Sutradara Zootopia dan Suicide Squad di Malam Oscars 2017

Tiap tahun, gelaran Oscars selalu punya kejutan yang spektakuler. Tahun ini apa ya?.. more