Bad Times At The El Royale Memaksa Penonton Untuk Terjaga

1 week ago
00-d-Bad-Times-At-The-El-Royale

Nama Drew Goddard memang telah menjadi nama besar yang sering terlibat dalam film-film berkualitas. Setiap film, baik yang ia tulis, sutradarai hingga produseri selalu saja berhasil memberikan sesuatu yang mengejutkan. Sebut saja film The Cabin in the Woods (2012) yang berhasil mengumpulkan semua hantu dan mengkritik habis-habisan tentang adegan klise dalam film horror. Atau  perannya sebagai produser di serial Lost (1005-2008) yang berhasil memberikan banyak sudut pandang serta kejutan. Atau seperti film The Martian (2015) di mana kala itu Goddard berhasil memenangkan penghargaan Best Writing, Adapted Screenplay di Black Film Critics Circle Awards sera masuk nominasi Oscar di tahun yang sama.

Kali ini Goddard kembali membawa kisah baru sebagai penulis dan sutradara untuk film Bad Times at the El Royale ber-genre crime, drama berbalut misteri dengan cats nama-nama besar serta premis cerita yang penuh pesona.

Drew Goddard, sutradara dan penulis film Bad Times At The El Royale. Sumber: Tracking Board

Drew Goddard, sutradara dan penulis film Bad Times At The El Royale. Sumber: Tracking Board

Namun apakah cerita penuh pesona yang ditawarkan oleh Bad Times bisa bekerja dengan benar sebab durasi film ini terlampau panjang, yaitu  sekitar 140 menit, sedangkan ruang lingkup alias setting hanya terjadi di sebuah hotel bernama El Royale saja dengan tujuh karakter sentral yang mencoba ‘berlari’ memperkenalkan karakter mereka agar penonton bisa mengingat mereka dengan benar.

Alur Lambat Membuat Bad Times At The El Royale Terdengar Seperti Bedtime

Judul Bad Times sekilas terdengar seperti Bedtime yang seolah menyiratkan bahwa film ini akan berjalan lambat dan bikin mengantuk. Adegan pembukanya saja dimulai dengan scane yang cukup panjang, agak membosankan tapi membuat kita penasaran, apa yang sebenarnya akan terjadi.

Pemasalahan yang sering kali dihadapi film akhir-akhir ini adalah spoiler yang mungkin ‘tanpa sengaja’ terungkap lewat trailer yang beredar, terkadang trailer terlalu gamblang menjelaskan plot utama cerita hingga berujung pada berkurangnya kejutan saat film diputar di bioskop. Tapi hal itu tidak berlaku pada Bad Times At The El Royale. Terjaganya kerahasiaan cerita Bad Times memang menjadi kunci banyak twish yang mengasyikkan. Akan tetapi untuk bisa mencapai twish yang ada penonton diminta harus bersabar dan bertahan untuk bisa terus terjaga.

Lobby Hotel tempat semua berawal Sumber: Rotten Tomatoes

Lobby Hotel tempat semua berawal Sumber: Rotten Tomatoes

Bad Times bersetting di tahun 1968 yang bercerita tentang perjumpaan beberapa orang asing tanpa sengaja di sebuah hotel bernama El Royale. Menariknya El Royale sendiri berada di antara California dan Nevada. Jadi separuh bagian hotel berada di California dan sebagiannya lagi di Nevada.

Karakter dalam film ini punya kepribadian yang menarik, kisah hidup yang tidak terkait serta ambisi dan masalah yang sama sekali tidak saling terhubung. Saya ibaratkan ini semacam kumpulan benang berwarna warni yang perlahan diikat oleh sebuah benang merah tanpa sengaja. Memang, terdengar seperti ide buruk akan tetapi dieksekusi dengan cukup bagus dan memikat.

Jika kalian masih ingat dengan film Pulp Fiction (1994) karya Tarantino mungkin kalian akan berpikir bahwa Bad Times At The El Royale semacam versi yang dipoles dengan menampilkan adegan kejahatan yang punya nuansa hampir sama tapi dengan pendekatan yang berbeda.

Salah satu adegan super keren. Sumber: Geektyrant

Salah satu adegan super keren. Sumber: Geektyrant

Saya bisa katakan bahwa film ini mencoba untuk terus menyenangkan lewat rasa sakit, kisah masa lalu yang suram dan penuh prustasi para karakternya atas masalah mereka masing-masing. Menonton ini seperti melakukan sebuah perjalanan di mana ada banyak kesenangan disetiap bagiannya walau pada akhirnya kita semua tersadar bahwa tujuan utama dari film ini benar-benar sesuatu yang sangat sulit.

Saya sempat berpikir apakah Goddard sadar bahwa konflik utama film ini tidak punya bobot yang kuat sebab beberapa hal terus terjadi hanya karena kebetulan dan kebetulan belaka. Namun setelah memasuki bagian tengah cerita hingga akhir, barulah saya tersadar bahwa film ini memang bukan mengejar satu masalah utama, melainkan menjadikan perjalanannya sebagai pengalaman yang sangat nikmat.

Oleh sebab itu, saran saya jangan sampai ada terlewat satu scane pun sebab semua karakter tidak bergerak untuk satu tujuan yang sama.

Baca Juga: Review Film Searching – Apakah Internet Telah Menghubungkan Kita Dengan Benar?

Tujuh Karakter Yang ‘Kurang Ajar’

Tujuh karakter diperankan tujuh pemain berkelas. Sumber: Headstuff

Tujuh karakter diperankan tujuh pemain berkelas. Sumber: Headstuff

Tujuh karakter memang bukan jumlah yang sedikit meskipun durasi film ini mencapai 140 menit. Goddard harus memastikan setiap karakter punya ruang tersendiri untuk melakukan pengembangan karkater sehingga penonton tidak lupa dengan karakteristik mereka.

Nama-nama besar yang menghiasi film ini menjadi bukti bahwa Goddard tidak ingin setiap karakter malah menguap ke permukaan. Ia mencoba memastikan bahwa setiap karakter kebagian tugas mereka dengan benar.

Seperti Jeff Bridges sebagai Father Daniel Flynn, lelaki paruh baya yang sekarat dengan penyakit Alzheimer. Cynthia Erivo sebagai Darlene Sweet yang merupakan penyanyi kelas dua berambisi tapi hampir prustasi menghadapi kerasnya industri musik. Dari karakter yang diperankan oleh Cynthia Erivo inilah Bad Times punya sountrack yang kuat dan wawasan musik luar biasa.

Jon Hamm memerankan karakter Dwight Broadbeck, yang awalnya terlihat sangat mengesalkan karena sikap rasisnya. Aktor muda Lewis Pullman tampil sebagai Miles si pengurus hotel dengan pembawaan rapuh dan penakut.

Siapa sangka karakter ini berkembang lebih dalam? Sumber: Straight

Siapa sangka karakter ini berkembang lebih dalam? Sumber: Straight

Dibagian lainnya ada Dakota Johson sebagai Emily dan Cailee Spaeny sebagai Rose yang dihantui kisah kehidupan di masa lalu, dan terakhir nama Chris Hamsworth cukup menjadi gaya tarik bagi banyak orang padahal sejak kemunculannya, ia hanya terkesan seperti seorang cameo yang dipanjang-panjangkan.

Cara Goddard memperkenalkan ketujuh karakter dibagi atas tujuh bagian berbeda. Setiap bagian dibuat seperti episode atau chapter dalam sebuah novel. Formula semacam ini pernah ada dalam film Inglourious Basterds (2009) karya Tarantino dan saya rasa cara ini berjalan dengan baik pada film Bad Times At The El Royale.

Kumpulan cast yang ‘kurang ajar’ ini memang tidak mengecewakan. Setiap orang berhasil mengukuhkan kelas mereka masing-masing baik lewat dialog, emosi dan perubahan mimik wajah. Pengalaman maksimal yang ditampilkan para pemain benar-benar berhasil memberikan kejutan pada perkembangan setiap karakter yang sulit untuk ditebak.

Kesimpulan

Bad Times At The El Royale berjalan terlalu lambat dengan durasi yang terlalu panjang tapi memaksa penonton untuk terus menyimak. Setiap event kecil yang ternyata adalah menu utama, sedangkan tujuan akhirnya tidak menjadi begitu penting. Ada beberapa misteri tersembunyi hingga akhir film yang sengaja dicecerkan agar penonton bisa berasumsi, dan petunjuk atas misteri itu tersebar lewat dialog dan foto. Deretan pemain berkelas membuat emosi setiap karakter terjaga dengan baik. Ketujuh karakter sangat mudah diingat dan punya kesan tersendiri.

Namun film ini tidak cocok untuk semua orang, mungkin akan ada orang yang berpendapat bahwa ini adalah film yang sangat membosankan dan bikin ngantuk. Tapi saya tidak boleh berasumsi seperti itu, seperti saya yang juga tidak dibenarkan berasumsi tentang adegan panas yang terekam dalam sebuah gulungan film misterius di film ini.

Jika kamu pingin menyimak cerita yang lebih fast paced, kenapa nggak coba baca komik action di CIAYO Comics saja? Web komik gratis ini punya banyak banget komik action yang pas buat kamu. Penasaran? Klik gambar di bawah ini!

Banner Komik Action

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

Mengungkap Hal Tabu dalam Anime Cardcaptor Sakura

Cardcaptor Sakura bakal ditayangkan lagi tahun depan loh! Bro sis udah dengar beritanya belum?.. more

Sumber: CIAYO Comics

Know Your Judges #6: Imansyah Lubis

Juri CIAYO Comics Challenge Vol. 3 Imansyah Lubis adalah tokoh di balik industri komik, serta film Gundala! Apa Rediscov.. more

Comiket 92 (jurnalotaku.com)

“Comiket 92”, Ajang Bertemunya Para Cosplayer Jepang

Bro sis suka melihat Cosplayer? Atau malah suka Cosplay? Nah, mungkin bro sis bakal tertarik sama acara satu ini. Comic.. more

Sabrina – Chapter 6: Sexy Bikini

Perempuan Rusia itu berlarian di pinggir pantai sambil tertawa renyah. Ia memakai sexy bikini bercorak tribal... more

PENGUMUMAN: Pemenang CIAYO Comics One Shot Challenge Vol. 1

Setelah melewati seleksi ketat dan berbagai penilaian dari juri-juri handal dan berpengalaman di bidang komik, CIAYO Com.. more