The Beatles, 4 Rocker Jenius Liverpool yang Sukses Merevolusi Wajah Musik Dunia

6 months ago
Sumber: rte.ie

“Revolution” sekilas kata ini tidaklah lebih dari judul lagu milik The Beatles yang diambil dari album kesembilan mereka “The Beatles AKA The White Album” yang dirilis di tahun 1968.

Namun pada kenyataannya, kata tersebut secara tidak langsung, menjadi label abadi bagi grup Rock asal Liverpool, Inggris ini. Ya, semenjak kemunculan perdana mereka di tahun 1962, John Lennon, Paul McCartney, George Harrison dan Ringo Starr kerap dianggap sebagai “pahlawan revolusi” di industri musik abad 20.

“Revolusi? Apakah memang segitu besarnya pengaruh The Beatles bagi industri musik dunia?”

Penulis pun juga garuk-garuk kepala sendiri untuk mencerna maknanya, ketika pertama kali mendengarkan kalimat tersebut. Namun, sering bertambahnya usia serta ilmu-ilmu musik yang penulis dapatkan, akhirnya penulis memahami juga mengapa grup ini dianggap sebagai sosok pendobrak sekaligus perubah wajah musik dunia.

Sumber: Amazon

Sumber: Amazon

Perlu bro sis ketahui, pada pertengahan hingga akhir 50an, lanskap musik dunia (khususnya Inggris dan Amerika Serikat), terlepas masih didominasi oleh euforia genre Rock N’ Roll, secara keseluruhan, genre tersebut kala itu sudah dianggap tidak begitu “nendang” lagi.

Pasalnya selain rata-rata semua lagunya terdengar identik dan satu dimensional, juga di masa-masa tersebut sang “Raja” Rock N’ Roll, Elvis Presley, memutuskan cuti sementara dari dunia tarik suara untuk mengikuti kegiatan militer.

Di tengah-tengah kelesuan yang dirasakan ini, pada tahun 1962, tanpa angin dan tanpa hujan, lagu berjudul Love Me Do berkumandang di seluruh stasiun radio. Sontak, lagu mid- upbeat yang riang ini, membuat seluruh penikmat musik kala itu ingin mencari tahu siapakah gerangan grup yang menyanyikan lagu keren tersebut?

Dan ketika akhirnya mengetahui bahwa The Beatles yang menyanyikan, sontak seluruh penikmat musik dimanapun mereka berada, mendadak menjadi fans. Euforia yang kemudian dikenal sebagai BeetleMania ini, semakin menggila lagi ketika album perdana mereka, Please Please Me dirilis di tahun 1963.

Sumber: The Beatles

Sumber: The Beatles

Era BeetleMania kala itu terbukti menjadi euforia terbesar di dalam sejarah musik dunia. Kalau mau disamakan dengan “zaman now”, euforia ini sama seperti euforia Directioners-nya One Direction di awal 2010.

Kalau dipikir lagi, memangnya apa sih yang membuat Beatles sampai sebegitu spesialnya? Banyak faktornya, bro sis. Tapi yang paling signifikan adalah format musik serta attitude mereka yang sangat anak muda dan nge-rock banget.

Sebelum The Beatles, bisa dibilang belum ada format musik yang menggabungkan musik rock dengan vokal harmoni. Pada umumnya, format musik rock ditampilkan dengan vokal tunggal dengan sedikit backing vocal.

Typecast tersebut berubah total setelah The Beatles muncul. Seluruh personil band ikut bernyanyi bersama terlepas Lennon atau McCartney yang menjadi vokalis utamanya.

Selain itu, tidak seperti rekan-rekan musisi mereka sebelumnya, yang kalau sedang diwawancarai terlihat sangat formal dan kaku, Beatles justru terlihat sangat menikmati. Kalian bisa cek dokumentasi interview Beatles. Keempat anggota (terutama Lennon), benar-benar bersikap slengean dan bercanda terlepas serius atau tidaknya pertanyaan yang diajukan.

Nah, sikap mereka ini terbilang sangatlah sesuai dengan sikap sebagian besar anak muda tahun 60an yang kerap berontak dan cuek dengan hal apapun. Belum lagi keempatnya berwajah tampan. Maka, tidak salah bukan apabila mereka menjadi idola besar di era tersebut?

Sumber: Zoomer Radio

Sumber: Zoomer Radio

Kesuksesan Lennon cs ini, tak pelak membuka pintu bagi mereka-mereka yang juga ingin menjadi grup rock terkenal. The Kinks, The Beach Boys dan tentunya The Rolling Stones adalah beberapa nama besar band rock yang muncul paska kesuksesan Beatles. Dengan kata lain bro sis, tanpa The Beatles, dipastikan lagu (I Can’t Get No) Satisfaction milik Rolling Stones atau Good Vibrations milik The Beach Boys, tidaklah akan pernah tercipta.

Oh ya, satu hal lagi. Kalau seandainya Lennon dan McCartney kala itu tidak meneruskan karir mereka hingga 1966 serta tidak pernah mendengarkan musik-musik India, dipastikan juga album eksperimentasi mereka, Revolver  (1966), tidak akan pernah ada, yang otomatis juga membuat genre sekaligus istilah psychedelic tidak akan pernah tercipta di dalam sejarah musik dunia.

Sumber: Discogs

Sumber: Discogs

“Wah berarti pengaruh Beatles memang besar sekali ya?”

Kalau tidak besar, selain seperti yang telah penulis sebutkan tadi, band-band rock top nan legendaris lainnya tidak akan pernah lahir, sudah pasti juga, sound musik (apapun genre nya), bakalan terdengar “begitu-begitu saja” alias datar.

Lagipula, kalau misalkan tidak memiliki pengaruh besar, untuk apa juga Ratu Elizabeth II kala itu, repot-repot memberikan penghargaan tertinggi (baca: knighted) terhadap mereka?

Sumber: Read.tidal

Sumber: Read.tidal

Penulis sendiri yang merupakan fans Queen, U2 dan Stones, menganalogikan Beatles layaknya seperti “Sekolah”. Yang mana artinya disini bukan hanya benar-benar menjadi “guru musik”, namun sekolah disini juga berarti penulis harus alias wajib menyukai grup ini terlepas mungkin, terdapat beberapa lagunya yang kurang begitu disukai.

Tapi sejauh ini, mungkin hanya I Feel Fine (1964) saja yang penulis kurang sukai (well, lebih ke bosan, sih). Selebihnya, seluruh lagu The Beatles bagaikan kumpulan jukebox rock abadi yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.

Nah, bagi bro sis yang mungkin belum pernah mendengarkan atau belum sepenuhnya nge-fans dengan mereka, mending langsung saja deh kita cek deretan hits-hits nya di Youtube. Dijamin, pasti bakalan langsung berubah menjadi Beetlemania.

About Author

Marvciputra

Marvciputra

Entertainment Reviewer, WWE Lovers and Music-holic

Comments

Most
Popular

Cantika - CIAYO Comics

Cantika: Kisah Tragis Putri Ilmuwan Khilaf

Bro sis udah pada baca Cantika belum? Buat yang belum tahu nih, Cantika adalah salah satu komik thriller di CIAYO Comics.. more

00-d-his-barcode-tattoo

His Barcode Tattoo: Melihat Kematian Dari Barcode Misterius

Dimanakah His Barcode Tattoo si Sehyun? Dakota mampu melihat tanda barcode di leher semua orang yang menandakan tanggal .. more

00-d-pubg-mobile

Booming di Sekolah, PUBG Mobile dan Fortnite Dikeluhkan Para Guru

Dua game battle royale populer, PUBG Mobile dan Fortnite, menyambangi perangkat smartphone. Namun, guru-guru di sekolah .. more

Bagaimana Rasanya Kalau Idola Kita Ternyata Mantan Pria Yakuza?

Back Street Girls: Saat Idolamu adalah mantan pria Yakuza. Kira-kira seperti apa, ya?.. more

Aquaman dari film “Justice League”. Sumber gambar: screenrant.com

Citra Aquaman Lebih Bersinar Di Film Justice League? Yes or No?

Diciptakan oleh Paul Norris & Mort Weisinger, awalnya Aquaman tidak seperti yang kini terlihat. Dulu (terutama di Golden.. more