Belum Mengerti Tentang Intellectual Property? Itu Tandanya Kamu Harus Kenalan Lebih Dekat!

6 months ago
00-intellectual-property-d

Industri kreatif semakin berkembang, tak heran semakin banyak istilah baru yang terasa asing di telinga kita. Istilah IP (intellectual property), salah satunya. Meskipun tak terasa asing terdengar, tetapi maknanya asing bagi sebagian orang. IP itu apa? Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan di industri kreatif.

Bagi kreator senior, istilah IP mungkin telah dipahami, baik secara definisi maupun konsepnya di dunia nyata. Namun, kita tak bisa menyangkal bahwa ada sejumlah pelaku maupun penikmat karya yang belum benar-benar memahami konsep IP secara general.

Bro sis termasuk orang yang belum tahu apa itu IP? Jangan khawatir, kami akan menjelaskannya dari dasar. Yuk, simak ulasannya!

Definisi Intellectual Property

01-idea

Sumber: Pandle

Mengutip dari definisi yang dipaparkan oleh World Intellectual Property Organization, intellectual property atau yang biasa disingkat dengan IP adalah suatu bentuk karya cipta seperti literatur, seni, atau desain yang digunakan untuk tujuan komersial.

IP ini lahir dari pemikiran sendiri, jadi bisa kita artikan sebagai karya orisinil. Sehingga, fan works tidak dapat dihitung sebagai IP dalam konteks ini.

Selain itu, karena mempunyai tujuan komersil, otomatis IP juga mengemban misi untuk memeroleh keuntungan dalam bentuk materi, yang biasanya dijadikan sebagai sumber pemasukan oleh sang kreator.

Sehingga dapat kita rumuskan: IP = karya orisinil + tujuan komersial.

Bisakah Membuat Karya yang 100% Orisinil?

Jika IP merupakan karya orisinil, apa itu berarti sebuah karya harus seratus persen orisinil jika ingin dikategorikan sebagai IP? Ini adalah pertanyaan mendasar berikutnya, sebab kami yakin banyak yang memertanyakan “orisinalitas” dari sebuah IP.

Pada dasarnya, kita bukan manusia pertama yang hidup di bumi ini, sehingga mustahil untuk mendapatkan ide yang benar-benar seratus persen orisinil. Orisinalitas IP sebenarnya tidak dinilai dari 100% keaslian kontennya, tetapi dinilai dari bagaimana kita mampu memodifikasi inspirasi hingga menawarkan sesuatu yang berbeda. Artinya, pengonsepan IP melibatkan proses berpikir untuk menjadi unik, tidak copy-paste. Bukan pula plagiat—mengklaim barang milik orang lain sebagai milik kita.

Lah, terus bedanya apa sama menyontek? Membuat IP itu terinspirasi. Perbedaan antara terinspirasi dan menyontek adalah di proses berpikirnya. Dalam konteks menyontek, kita hanya menjiplak apa yang sudah ada, tidak melibatkan proses berpikir. Namun, pada konteks terinspirasi, kita hanya mengambil sebagian konsep untuk kita modifikasi jadi sesuatu yang berbeda—ada proses berpikir.

Bahkan, dalam dunia bisnis, fenomena ini memiliki istilahnya tersendiri, yakni ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Dalam prakteknya, ATM adalah sesuatu yang legal.

Dari mana buktinya ATM itu legal? Lihatlah kebutuhan kita sehari-hari, katakanlah seperti sepeda motor. Kita bisa melihat merk-merk motor seperti Honda, Yamaha, Suzuki, BMW, Harley-Davidson, dan lain-lain. Pertanyaannya: apakah ide pembuatan sepeda motor oleh merk-merk tersebut 100% orisinil? Tidak, karena pencipta sepeda motor pertama di dunia adalah Daimler, yang lainnya hanya terinspirasi.

Apakah berarti merk-merk seperti Honda dkk ilegal? Tentu tidak.

03-poster

Apakah ini plagiat? Filmnya sudah rilis semua, lho. Sumber: Inspired Movie Posters

Tapi itu kan kebutuhan hidup! Kami butuh bukti kongkret kalau modifikasi karya/IP orang itu legal!

Oke, kita lihat Naruto. Apakah ide Naruto itu 100% orisinil? Tidak. Masashi Kishimoto sendiri mengakui bahwa manga tentang kawanan ninja itu terinspirasi dari manga Hunter x Hunter. Apakah Naruto menjadi ilegal karena terinspirasi dari ide orang lain? Tidak, bukan?

Masih kurang puas? Bagaimana dengan karya lokal? Gundala, misalnya. Hasmi, kreator Gundala, mengakui bahwa karya tentang putra petir yang ia buat merupakan hasil olahan inspirasi dari The Flash. Apakah Gundala ilegal? Tidak, malah jadi legenda di Indonesia dan di dunia perkomikan.

Ini belum ditambah dengan karakter-karakter Marvel dan DC yang saling “terinspirasi” satu sama lain. Deadpool terinspirasi dari Deathstroke, Commander Steel terinpirasi dari Captain America, Black Cat terinspirasi dari Catwoman, dan lain-lain.

Jadi, IP boleh saja terinspirasi dari ide-ide yang lain. Tetapi, kita harus menyertakan proses berpikir untuk menjadikan inspirasi-inspirasi tersebut berbeda, bukan mencuri dan meniru mentah-mentah.

Perbedaan IP dan Fan Works?

Pertanyaan berikutnya: kalau sama-sama menggunakan konsep terinspirasi, apa bedanya IP dan fan works (fan art, fan fiction)? Toh, keduanya sama-sama terinspirasi dari karya yang lain, kan?

Secara konsep, fan works berarti membuat ulang karya dengan gaya sendiri. Wujud, konsep cerita, latar belakang, maupun desainnya tidak ada yang berubah. Tidak ada yang dimodifikasi/diubah, hanya gayanya saja yang kelihatan beda. Selain itu, motif pembuatan fan works juga untuk mengekspresikan rasa suka kita terhadap sebuah karya, bukan untuk keperluan komersial, apalagi mengklaim bahwa karya itu milik kita.

Perbedaan IP dan fan works yang berikutnya adalah pada konteks komersialisasi. IP boleh dijual secara bebas, sebab kita sendiri yang punya izin. Sedangkan fan works … tidak semudah itu, bro sis!

Penjualan fan works itu bisa jadi legal atau ilegal, tergantung kreator asli yang membuat karya terkait. Bisa jadi legal jika sang kreator mengizinkan kita untuk menjual fan works. Tetapi bisa jadi ilegal jika sang kreator punya aturan yang ketat terhadap penjualan fan works, seperti yang diaplikasikan pada karya-karya milik Disney atau Marvel.

Mengenal Konsep Penjualan IP

Sebagaimana definisi yang telah kita lihat di subbab sebelumnya, bahwa IP merupakan karya orisinil yang ditujukan untuk keperluan komersial. Pertanyaan berikutnya muncul: kalau IP dibuat untuk keperluan komersial, seperti apa konsep penjualan IP?

Biar lebih gampang membayangkannya, mari kita lihat contoh. Kita akan mengambil Si Juki sebagai contoh pertama. Meski sebagian besar komik stripnya dapat kita baca secara gratis, namun karakter Si Juki ini sebenarnya mendapatkan pemasukan dari kepopulerannya. Misalnya, Si Juki endorse Pop Mie atau Si Juki endorse Bro.Do. Dari endorse tersebut, Si Juki mendapatkan pemasukan.

Upaya serupa juga dilakukan oleh Tahilalats, yang menjadi cameo untuk produk Samsung. Atau Maghfirare, yang terpilih menjadi duta penjualan produk-produk dari Oppo.

Dari luar negeri, kita bisa melihat contoh seperti DC Comics yang bekerja sama dengan Huawei saat mempromosikan film Justice League. Atau Samsung yang bekerja sama dengan MARVEL saat merilis ponsel seri Samsung Galaxy S6 Avengers Edition.

Dari berbagai macam contoh di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa “menjual ketenaran” seperti ini adalah praktek yang sangat umum dalam konsep intellectual property. Kalau pelaku kreatif besar saja melakukannya, maka bukan tidak mungkin yang lebih kecil bisa melakukannya.

Kenapa sih merk-merk besar itu mau bekerjasama dengan IP?

Jawaban paling singkatnya adalah karena IP-IP yang telah kami sebutkan tadi punya popularitas yang sangat masif. Dengan mempromosikan produk menggunakan IP yang telah populer, perusahaan akan mendapatkan calon pelanggan yang lebih banyak. Bagi perusahaan, membayar IP untuk melakukan endorse ini sama seperti mereka ngiklan, tetapi biayanya relatif lebih murah.

Selain menjual ketenaran, IP sebenarnya juga bisa dijual dalam bentuk lain, misalnya dalam wujud merchandise, game, atau film. MARVEL atau DC melakukan praktek ini. Tak hanya menjadi perusahaan penerbitan komik, mereka juga sukses menjual mainan, film, action figure, hot toys, dan game.

Pada akhirnya, membuat IP itu bukan cuma untuk menuangkan idealisme, tetapi juga masuk ke dalam ranah jualan. Tidak ada yang salah dengan kita berjualan IP, karena dari segi definisi sendiri IP punya tujuan komersial. Jangan ada lagi kata-kata semacam “berkarya kok buat jualan?” di antara kita.

About Author

S09 Gruppe

S09 Gruppe

S09 Gruppe adalah circle penyedia konten kreatif. Motto kami adalah Care the Creativity, yang berarti kami peduli pada pertumbuhan kreativitas Indonesia. Berkenaan dengan motto tersebut, kami akan selalu memberikan insight-insight kreatif terbaru serta penyemangat untuk berkarya.

Comments

Most
Popular

00-d-whatsapp-discontinue

WhatsApp Tak Bisa Lagi Digunakan Di Ponsel Tua

WhatsApp baru saja mengumumkan bahwa aplikasi ini akan berhenti beroperasi di beberapa smartphone, seperti iPhone dan An.. more

Jessica Kholinne : Melanglang Buana dari DC Comics Hingga Marvel

Dalam interview kali ini, Jessica Kholinne banyak berbagi tentang pengalaman dan tantangannya sebagai colorist profesion.. more

Dike - Rian - Melisa (Sumber: ciayo.com)

Ngobrol Sama Artist di Balik Taring Niel dan Rumah Keti

Tim Blog CIAYO Comics berkesempatan ngobrol-ngobrol sama comic artist, juga colorist & background artist Love Has Fangs.. more

Sonic Mania. Game Sonic terbaru dari Sega. Sumber gambar: youtube.com

Sonic Mania: Game Fan-made Yang Disetujui Oleh Sega

Dan dalam kasus langka, game Sonic buatan fans Sega juga ada beredar dengan supervisi dan marketing mechanism langsung d.. more