Benda-Benda ‘Kuno’ yang Masih Populer di Jepang

9 months ago

Jepang. Negara yang kita tahu merupakan negara maju. Pesatnya perkembangan teknologi dunia boleh dibilang lahir / ada di negara dengan julukan “Negeri Matahari Terbit” ini.

Sebut saja mulai dari kereta api super cepat Shinkansen (jarak antara Jakarta-Bandung bisa jadi hanya selama mendengarkan satu album Ayumi Hamasaki) hingga toilet canggih yang bisa melakukan hal-hal ajaib yang toilet di Indonesia tidak sanggup lakukan. Hehehe.

Belum lagi jika kita membicarakan Jepang dengan kultur robotnya yang canggih atau berbagai jenis video game yang mereka sudah/akan ciptakan. Yang semakin menegaskan kalau negara Jepang = negara canggih. High tech nation. Tidak ada tempat untuk hal-hal ataupun teknologi kuno di Jepang.

Benarkah demikian?

Pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Karena ternyata di negara secanggih Jepang, ada beberapa benda yang sudah dianggap kuno di negara lain (seperti Amerika atau bahkan Indonesia sekalipun) masih lazim digunakan di Jepang. Apa saja benda-benda yang dimaksud?

Telepon Genggam Basic/Feature Phone/Flip-type Mobile

Bahkan L pun memakainya…. Sumber gambar: crunchyroll.com

Bahkan L pun memakainya…. Sumber gambar: crunchyroll.com

Di saat orang-orang Indonesia malu kalau belum memakai smartphone, populasi pemakai telepon lipat (identik sebagai telepon genggam yang hanya punya kemampuan dasar seperti menelpon dan sms) di negara Jepang tetap tinggi.

Dalam angka statistik tahun 2015 tercatat lebih dari 20% pengguna telepon selular adalah pemakai telepon lipat. Kepopuleran “flip phone” yang masih cukup tinggi itu juga bisa dilihat misalnya di manga ataupun anime, di mana kita bisa melihat seorang karakter memakai ‘gara-kei’ (sebutan untuk telepon lipat klasik itu). Belum dapat dipastikan kapan era telepon lipat ini akan sepenuhnya berakhir di Jepang, tapi yang jelas tidak dalam waktu dekat.

Mesin Fax/Facsimile

Masih dijual di berbagai toko elektronik Jepang. Sumber gambar: kotaku.com

Masih dijual di berbagai toko elektronik Jepang. Sumber gambar: kotaku.com

Persis seperti telepon lipat, mesin fax juga sudah banyak ditinggalkan orang di negara lain. Tapi tidak di Jepang. Kultur masyarakatnya yang terbiasa menulis menjadikan orang-orang di sana (terutama generasi tua yang malas belajar hal-hal modern seperti e-mail) masih menyukai penggunaan mesin fax sebagai sarana berkirim dokumen.

Tidak hanya untuk kantor, menurut Sharp (yang masih menjual mesin fax untuk pasar domestik) mesin fax juga masih diminati oleh pengguna rumahan. Mesin fax memberikan hal yang tidak bisa didapatkan dari e-mail, yaitu dokumentasi tulisan tangan di atas secarik kertas yang langsung dapat diterima tanpa harus mencari mesin printer lagi.

(Toko) CD Musik

Tower Records di Tokyo, Jepang. Sumber gambar: fortune.com

Tower Records di Tokyo, Jepang. Sumber gambar: fortune.com

Bro sis masih pergi ke toko musik?

Dulu saya paling doyan ke toko kaset dan CD (seperti Pan Audio Medan atau Disc Tara). Sampai sekarang saya juga selalu prefer “hardcopy”, alias CD, jika ingin menikmati musik. Perkembangan musik digital yang pesat (termasuk kemudahan membajak lagu dari internet) membuat pamor CD musik semakin redup hingga kini masuk kategori ‘kuno’ di banyak negara.

Tapi tidak di Jepang! Walau layanan streaming musik seperti Spotify merajalela, namun toko CD musik seperti Tower Records masih beroperasi dengan revenue/keuntungan dari penjualan musik dalam bentuk fisik sebesar $500 juta per tahun dari 85 toko mereka. Sulit untuk menebak mengapa CD musik masih populer di sana, tapi mungkin karena regulasi pemerintah yang baik mendukung format ini atau karena memang kualitas suara CD secara nyata memang lebih unggul dari format digital kompresi seperti mp3 atau lainnya.

Rental DVD

Lapak rental DVD Tsutaya. Sumber gambar: wikipedia.org

Lapak rental DVD Tsutaya. Sumber gambar: wikipedia.org

Ini juga merupakan anomali di negara secanggih Jepang.

Pasar DVD rental (termasuk Blu-ray) tetap marak di Jepang. Bisnis yang di banyak negara sudah kolaps ini, ternyata masih sehat dan profitable di sana. Kesadaran hukum tinggi membuat orang Jepang lebih memilih menyewa film ketimbang membajaknya. Dan tak hanya retail penyewaan seperti Tsutaya yang menawarkan rental DVD pada konsumen (termasuk dalam format digital), skema yang sama juga dilakukan e-commerce shop seperti Rakuten yang menawarkan fitur rental DVD dalam bentuk mail order.

Surat Kabar/Koran

Budaya membaca di Jepang mungkin yang terbaik di dunia. Sumber gambar: babymetal.net

Budaya membaca di Jepang mungkin yang terbaik di dunia. Sumber gambar: babymetal.net

Walau belum benar-benar ‘mati’ tapi kini di banyak negara bisnis surat kabar adalah bisnis yang sekarat.

Banyak yang mengalihkan usahanya ke bidang lain. Namun di Jepang, bisnis surat kabar tetap kuat. Dengan populasi yang hanya sekitar 127 juta jiwa, surat kabar tetap jadi sarana warga untuk mendapatkan berita yang komprehensif. Surat kabar Yomiuri Shimbun (terbesar di Jepang) punya 10 juta pelanggan setia. Itu sebuah jumlah yang luar biasa di era internet seperti sekarang, di mana orang cukup melihat lewat web browser untuk berita terkini di dunia.

Jadi secanggih-canggihnya negara super maju seperti Jepang, di sana tetap memakai dan menghargai hal-hal baik, yang buat bangsa lain sudah dianggap kuno atau ketinggalan jaman. Ini sedikit banyak menunjukkan kultur masyarakat Jepang yang unik dan menghargai hal-hal / tradisi lama yang mengakar di tengah-tengah mereka.

Kira-kira apa lagi ya, hal-hal atau benda-benda kuno yang masih populer di Jepang tapi sudah dianggap masa lalu oleh negara lain? Bro sis bisa tambahin di kolom komentar ya.

About Author

Harry Rezqiano

Harry Rezqiano

Seimbangkan hidup. Tiap orang beda-beda caranya. Tapi semua orang perlu melakukannya. *Disclaimer: Tulisan ini adalah opini & pendapat pribadi serta bukan merupakan pandangan maupun kebijakan Ciayo Corp beserta afiliasinya. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial, Facebook: /HarryRezqiano | Twitter: @HarryRezqiano | Wattpad: /HarryRezqiano *

Comments

Most
Popular

Sabrina – Chapter 8: Makan Malam di Jimbaran

Mobil Vincent berhenti di sebuah restoran pinggir pantai Jimbaran. Makan malam macam apa ini, pikir Sabrina... more

https://www.facebook.com/inariipb/

Inari Matsuri, Event Jejepangan Anak IPB

Gak terasa Inari Matsuri (I-M@TS) semakin dekat! I-M@TS sendiri merupakan acara yang diadakan oleh IPB Nihon Arts and Cu.. more

sumber: www.tripwiremagazine.co.uk

Film Unsane, Ketika Film Psychology Thriller Dibuat Menggunakan Kamera iPhone7 Plus

Gimana jadinya kalau handphone digunakan untuk membuat sebuah film? Mungkin Unsane bisa menjadi jawabannya... more

Google Play Indonesia Games Contest 2017

Final Google Play Indonesia Games Contest berlangsung pada Rabu, 26 April 2017 yang bertempat di The Warehouse, Plaza In.. more

Ngomik Berbagi Kebaikan untuk #PejuangExtraordinary

Ngomik Untuk Berbagi Kebaikan Dengan #PejuangExtraordinary

Kebaikan dapat disalurkan melalui media apa saja. Asalkan ada niat baik yang ikhlas, pasti ada jalannya. Misalnya nih, a.. more