Bitcoin Kini Dalam Posisi Sulit di Indonesia. Mengapa?

3 months ago
Artikel-bitcoin-thumbnail

Cryptocurrency alias mata uang digital hasil penambangan digital seperti Bitcoin sudah diprediksi akan semakin booming dan memiliki pengaruh besar di sistem pembayaran global. Sistem pembayaran yang hanya melibatkan pembeli & penjual tanpa campur tangan pihak ketiga maupun otoritas keuangan (namun terawasi oleh publik melalui mekanisme pengawasan bersama dalam satu jaringan besar) ini mulai banyak dikenal dan dibicarakan publik dibandingkan saat-saat pertama kali dikenal sekitar tahun 2009 lewat “Bitcoin”.

Aktivitas cryptocurrency semakin marak. Sumber gambar: atozforex.com

Aktivitas cryptocurrency semakin marak. Sumber gambar: atozforex.com

Cryptocurrency yang hanya bisa didapat/dihasilkan dari mekanisme “penambangan digital” ini juga menyebabkan pasokan Graphic Cards dunia menjadi tidak stabil karena aksi borong yang dilakukan cryptocurrency miner alias para “penambang Bitcoin atau varian-variannya”. Gamers PC sering menyuarakan ketidaksukaan mereka pada penambang Bitcoin karena dianggap merusak kestabilan stok Graphic Cards yang dibutuhkan PC gamers. Untuk menambang cryptocurrency seperti Bitcoin memang dibutuhkan Graphic Cards PC dalam jumlah yang banyak. Semakin banyak Graphic Cards PC digunakan dalam proses penambangan, maka hasil tambang juga akan semakin banyak.

“Menambang cryptocurrency” dengan Rig khusus berkekuatan 6 Graphic Cards PC. Sumber gambar: youtube.com

“Menambang cryptocurrency” dengan Rig khusus berkekuatan 6 Graphic Cards PC. Sumber gambar: youtube.com

Perdagangan cryptocurrency sama marak dan gila dengan proses penambangannya. Harga jual cryptocurrency yang sangat tidak stabil sering membuat jantungan para pelaku cryptocurrency. Satu Bitcoin yang saat ini misalnya seharga 100 juta rupiah, mungkin nanti malam atau besok siang sudah naik 110 juta rupiah. Atau malah turun melorot ke 90 juta rupiah. Semua tergantung mekanisme pasar yang liar, brutal dan tanpa adanya regulasi dari otoritas keuangan di negara dimana trading/perdagangan Bitcoin itu terjadi.

Cryptocurrency populer seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Ripple (XPR), Litecoin (LTC), dan bahkan cryptocurrency yang awalnya berupa lelucon seperti Dogecoin (DOGE) merupakan komoditi panas perdagangan mata uang digital saat ini di berbagai belahan dunia termasuk di Republik Indonesia. Jual/beli cryptocurrency dengan menggunakan uang kartal atau uang resmi suatu negara semakin sering dan biasa.

Very currency much coin wow XD Sumber gambar: express.co.uk

Very currency much coin wow XD Sumber gambar: express.co.uk

Transaksi yang kencang dari perdagangan cryptocurrency ini lantas mulai mengusik lembaga keuangan seperti Bank dan lembaga otoritas perbankan: Bank Indonesia (BI).

Otoritas resmi perbankan Republik Indonesia. Sumber gambar: logo-share.blogspot.com

Otoritas resmi perbankan Republik Indonesia. Sumber gambar: logo-share.blogspot.com

Hal ini mungkin dipicu antara lain karena transaksi yang terjadi di ‘cryptocurrency trading’ (yang volumenya sangat besar setiap harinya) sama sekali tidak dalam pengawasan BI sehingga mungkin BI merasa ini berbahaya?

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Agusman, memperingatkan para pelaku cryptocurrency kalau ada resiko dan sanksi yang akan mereka tanggung jika tetap menjual, membeli atau memperdagangkan cryptocurrency seperti Bitcoin dll.

“Kita peringatkan, tindakan-tindakan tadi itu melanggar Undang-Undang Mata Uang dan pelanggarannya dihitung sebagai tindak pidana. Berat itu” sebut Agusman saat ditanyai oleh DetikFinance seputar perdagangan cryptocurrency di Indonesia yang semakin terbuka dan ramai.

“Cryptocurrency bukanlah alat pembayaran yang sah di RI sehingga harus dilarang dan dikategorikan ilegal” sambung Agusman lagi. Dasar argumen tersebut adalah Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang yang menyatakan “Mata uang adalah yang dikeluarkan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia dan setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran, atau kewajiban lain yang harus dipenuhi dengan uang, atau transaksi keuangan lainnya yang dilakukan di wilayah NKRI wajib menggunakan Rupiah.”

Argumen lainnya adalah Peraturan Bank Indonesia No. 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran, serta Peraturan Bank Indonesia No. 19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial. Bank Indonesia menegaskan bahwa sebagai otoritas sistem pembayaran, Bank Indonesia melarang seluruh penyelenggara jasa sistem pembayaran (prinsipal, penyelenggara switching, penyelenggara kliring, penyelenggara penyelesaian akhir, penerbit, acquirer, payment gateway, penyelenggara dompet elektronik, penyelenggara transfer dana) dan penyelenggara Teknologi Finansial di Indonesia baik Bank dan Lembaga Selain Bank untuk memproses transaksi pembayaran dengan virtual currency.

Selain melalui Bank, transaksi virtual currency adalah ilegal menurut UU Mata Uang Republik Indonesia. Sumber gambar: republika.co.id

Selain melalui Bank, transaksi virtual currency adalah ilegal menurut UU Mata Uang Republik Indonesia. Sumber gambar: republika.co.id

Saya bukan praktisi perbankan atau ekonom, dan pengetahuan saya untuk soal-soal ekonomi dan finansial pada dasarnya adalah nol besar. Tapi sebagai orang awam, saya membaca aturan dan argumen BI soal cryptocurrency seperti Bitcoin dll punya ‘exploitable hole’.

Yaitu: BI menempatkan cryptocurrency sebagai alat pembayaran bersifat virtual currency. Secara pengertian UU yang disebutkan oleh BI, virtual currency memang harus dalam loop pengawasan mereka. UU mengamanatkan hal itu.

Tapi gimana kalau argumennya “cryptocurrency hanyalah barang dagangan yang tidak digunakan sebagai alat pembayaran di wilayah hukum RI?”

Secara UU, menggunakan cryptocurrency sebagai alat bayar merupakan pelanggaran UU. Ilegal. Tapi gimana kalau cryptocurrency sebagai barang dagangan? Apakah peredaran/jual/belinya juga terkategori ilegal oleh UU dan sistem ciptaan BI? Cryptocurrency hanya ilegal saat digunakan sebagai alat bayar bersifat virtual currency. Memiliki dan memperdagangkannya bagaimana? Seharusnya lepas dari definisi yang ada dalam UU Mata Uang yang jadi pegangan otoritas keuangan seperti Bank Indonesia.

Ini berbeda misalnya seperti kepemilikan ganja. Ganja secara default adalah barang ilegal menurut UU di Indonesia. Memilikinya saja ilegal, apalagi memperdagangkannya.

Memiliki benda ini adalah ilegal menurut hukum dan UU di Republik Indonesia. Sumber gambar: scoopwhoop.com

Memiliki benda ini adalah ilegal menurut hukum dan UU di Republik Indonesia. Sumber gambar: scoopwhoop.com

Sementara memiliki cryptocurrency tidak/belum masuk kategori ilegal. Yang ilegal, menurut Undang-Undang Bank Indonesia, adalah menjual/membeli/memperdagangkan/menggunakannya sebagai alat pembayaran di wilayah hukum Republik Indonesia. Memiliki cryptocurrency seperti Bitcoin tidak/belum ilegal di RI. Menambangnya juga tidak/belum ilegal.

Memilikinya tidak/belum ilegal menurut UU Mata Uang. Sumber gambar: fortune.com

Memilikinya tidak/belum ilegal menurut UU Mata Uang. Sumber gambar: fortune.com

Jadi ini ‘exploitable hole’ yang masih bisa dijadikan argumen praktisi cryptocurrency. Jika trading cryptocurrency di RI ilegal, traders dapat melakukannya di negara lain dengan mata uang kartal non Rupiah. Menurut saya itu celah yang masih terbuka untuk di olah. Tapi mungkin saja saya terlalu sederhana melihat & menilai situasi ini karena saya melihatnya dari sudut pandang orang awam hehe.

Mungkin bro sis praktisi cryptocurrency, praktisi hukum atau praktisi perbankan bisa memberi pendapat soal ini? Kalau ada bisa disampaikan di kolom komentar ya, untuk edukasi publik. Ditunggu!

About Author

Harry Rezqiano

Harry Rezqiano

Seimbangkan hidup. Tiap orang beda-beda caranya. Tapi semua orang perlu melakukannya. *Disclaimer: Tulisan ini adalah opini & pendapat pribadi serta bukan merupakan pandangan maupun kebijakan Ciayo Corp beserta afiliasinya. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial, Facebook: /HarryRezqiano | Twitter: @HarryRezqiano | Wattpad: /HarryRezqiano *

Comments

Most
Popular

Deretan produk di event Google San Francisco 2017. Sumber gambar: bgr.com

“Made By Google, Google Pixel Event”: Event Tandingan Dari Google Untuk Apple

Apple mengadakan event peluncuran smartphone terkini mereka, iPhone X beserta iPhone 8 dan 8 Plus, yang dikritik fans A.. more

Pinterest.com

7 Film Ini Punya Plot Twist yang Bakal Bikin Kamu Tercengang Di Akhir Film!

Bagi penikmat film, plot twist seperti ini bisa dibilang sebagai sensasi tersendiri. Bagaimana kita dibawa oleh alur cer.. more

(from : riaunews.com)

Bagaimana Nasib BBM Webcomics Setelah Terancam Diblokir Kemkominfo?

Bro and Sis yang suka baca komik online, pasti tahu dong kalau bulan Agustus 2017 lalu, BBM meluncurkan Webcomics milikn.. more

Sumber: http://people.com

Selain Jumanji, Ini Dia 10 Film Wajib Tonton yang Dibintangi The Rock

Lewat film “Jumanji: Welcome to the Jungle”, nama Dwayne Johnson atau yang lebih dikenal dengan sebutan “The Rock.. more

Komikus Samurai X Ditahan Atas Tuduhan Pornografi Anak

Siapa sih yang gak kenal sama anime Samurai X. Kabar buruk datang dari sang author, Nobuhiro Watsuki... more