Blunder George Clooney Lewat Suburbicon Soal Rasisme dan Pembunuhan Paling Keji

7 months ago
sumber: www.the-arcade.ie

Mungkin banyak yang akan berpikir mengapa naskah asli yang ditulis oleh Coen Bersaudara (Joel Coen dan Ethan Coen) ini ditelantarkan begitu saja oleh mereka hingga akhirnya George Clooney memutuskan untuk menggarapnya?

Coen Bersaudara terkenal dengan film-filmnya yang seru dan cerdas. sebut saja  “Furgo”, “A Serious Man”, dan “Inside Llewyn Davis”. Oleh sebab itu, ketika kabar George Clooney akan menggarap naskah asli yang ditulis oleh Coen Bersaudara, maka banyak orang antusias dan penasaran. Akan seperti apa hasil akhirnya nanti?

Nama George Clooney memang tidak bisa diragukan lagi dalam industri perfilman Internasional. Segudang film yang dibintanginya selalu sukses dan memberikan kesan mendalam. Bahkan untuk beberapa film yang sudah disutradarainya pun, ia selalu saja menawarkan hal mengejutkan walau tema yang diangkatnya cenderung bernada sarkasme.

Coen Bersaudara dan Clooney (Sumber: www.pressherald.com)

Coen Bersaudara dan Clooney (Sumber: www.pressherald.com)

Kombinasi antara Coen Bersaudara dengan George Clooney jelas menjadi gaya tarik yang sangat besar, namun euforia penonton yang cukup besar juga harus dibayar dengan banyak kekecewaan. Hal ini membuat “Suburbicon” menjadi semacam lubang gelap yang menyesatkan. Bahkan Alissa Wilkinson sempat menulis di Vox; “Suburbicon shows what happens when a Coen brothers script goes very wrong”.

Setelah menonton film ini, saya mulai memahami mengapa “Suberbicon” menjadi sebuah “blunder” bagi George Clooney, berikut ulasannya;

“Suburbicon” adalah sebuah negara bagian di tahun 1959 yang pada awal film diperkenalkan sebagai tempat yang nyaman, indah, tenang, dan bersahabat. Potret “Suberbicon” terlihat begitu sempurna dengan simatografi yang halus memanjakan mata. Yah, hal ini memang memberikan kesan awal, bahwa film ini akan memberikan kualitas yang sangat bagus.

Sumber: www.thedailybeast.com

Sumber: www.thedailybeast.com

Lingkungan yang damai tadi pun mulai memperlihatkan kegelapannya ketika sebuah keluarga keturunan Afrika-Amerika (Keluarga Mayer) pindah kesana. Saya rasa Clonney dengan sangat gamblang memperlihatkan moralitas warga “Suberbicon” yang sangat rasis. Ia tidak segan menunjukkan tatapan sinis orang-orang pada keluarga Mayer yang terlihat sangat kuat dan tegar. Hal ini membuat saya merasa film ini seperti terjadi di Mississipi.

Perangkap pertama Clooney dengan membawa penonton pada tema rasisme terasa sangat menjanjikan. Penonton akan berpikir bahwa film ini pasti akan menjadi kritik mengigit atas masalah besar yang sejak dulu dihadapi oleh warga Amerika. Kisah beralih pada kehidupan keluarga Lodge yang merupakan tetangga belakang rumah keluarga Mayer. Pembelokan cerita pada kisah keluarga Lodge ini terasa terlalu tajam dan membuat fokus cerita terbagi menjadi dua.

Usaha Clooney untuk menciptakan benang merah antara keluarga Mayer dan Lodge dimulai lewat dua orang anak, Nicky Lodge (Noah Jupe) dan Andy Mayers (Tony Espinosa). Sekilas ini seperti perjumpaan antara dua orang dengan ras berbeda, namun saling menerima satu sama lainnya. Mungkin para penonton mulai menerka akan dibawa kemana kisah ini? Semacam perwakilan bahwa tidak semua orang kulit putih membenci kulit hitam. Pada akhirnya hal ini terasa sangat dangkal, sebab perwakilan itu terlalu sedikit dan sama sekali tidak bisa mewakili. Dan dimulailah kekacauan yang akan membuat banyak penonton gusar.

Sumber: www.foxforcefivenews.com

Sumber: www.foxforcefivenews.com

Jika kalian sama seperti saya yang pada mulanya beranggapan bahwa film ini akan lebih fokus membahas tentang kisah perjuangan hidup keluarga Mayers, maka itu adalah kesalahan besar. Sebab ruang yang diberi Clooney untuk keluarga Mayers jauh lebih sedikit daripada keluarga Lodge yang lebih banyak mendominasi, hal tidak seimbang inilah yang menurut saya menciptakan ketimpangan kentara dan membuat “Suburbicon” menjadi sangat terpuruk.

Dilihat dari premis kisah keluarga Lodge, masalah yang sedang mereka hadapi jauh lebih menarik sekaligus misterius. Kisah tentang pembunuhan yang dilakukan oleh dua orang tidak dikenal pada Rose yang diperankan oleh Julianne Moore, sebagai istri Gardner Lodge (Matt Damon) menciptakan misteri yang pada mulanya cukup menarik. Sampai akhirnya misteri itu diungkap terlalu dini dengan petunjuk yang terlalu jelas.

Kunci utama film ini ada pada karakter Nicky, saksi hidup semua tragedi yang menimpa keluarganya, bahkan saksi untuk banyak tindakan warga “Suburbicon” pada keluarga Mayers. Nicky yang pendiam, dan tengelam dalam rasa berkabung serta ketakutan membuat karakternya terlihat sangat tidak berdaya. Hingga sampai pertengahan film pun saya terus mencoba berharap bahwa kisah dua keluarga ini akan saling berhubungan secara langsung.

Sumber: www.digitaltrends.com

Sumber: www.digitaltrends.com

Kesalahan terbesar yang dimiliki film ini terletak pada dua cerita yang coba dibangun secara bersamaan tapi tidak memiliki hubungan yang kuat untuk berdiri bersama. Padahal pengembangan setiap karakternya cukup berhasil membawa kita pada hal-hal mengejutkan seperti kelucuan yang sadis.

Kehadiran Oscar Isaac sebagai Cooper dan Julianne Moore (yang memerankan dua karakter secara langsung; sebagai Rose dan saudara kembar Rose, Margaret) memberikan warna unik yang tidak terduga. Lalu ada Gary Basaraba yang menjadi Mitch (paman Nicky), dengan pembawaan skeptis terhadap kematian saudarinya, Rose. Serta Matt Damon yang memerankan karakter seorang bapak baik, ramah, namun memiliki rencana busuk dan kebrutalan dalam dirinya.

Memang tidak semua orang merasa bahwa pengembangan karakter di film ini cukup berhasil, namun bagi orang seperti saya, yang suka dengan film-film Yorgos Lanthimos, Clooney cukup berhasil mengarahkan akrotnya untuk tampil serius dengan perilaku lucu sekaligus sadis.

Akan lebih menarik jika film ini dipisah menjadi dua film berbeda. Tema rasisme yang terjadi pada keluarga Mayer sungguh berpotensi menjadi cerita yang menyentuh. Tapi apa mau dikata? Ruang untuk pengembangan cerita itu ditutupi begitu saja. Clooney hanya terus menerus menunjukkan keberutalan orang kulit putih, baik itu lewat tragedi yang menimpa keluarga Lodge hingga pada tindakan anarkisme warga “Suburbicon” yang terus berpikir bahwa Keluarga Mayers merupakan ancaman terbesar yang harus mereka singkirkan.

Sumber: www.tynesidecinema.co.uk

Sumber: www.tynesidecinema.co.uk

Clooney tidak menyisakan ruang yang tepat untuk mewakili perasaan bersalah dan manusiawi orang-orang kulit putih terhadap orang kulit hitam. Bahkan ketika hampir mencapai akhir film saat beberapa warga “Suburbicon” diwawancarai tentang kejadian mengerikan yang terjadi mereka tetap saja berpendapat bahwa semua kekacauan itu terjadi karena kehadiran keluarga Mayers.

“Suburbicon” sebenarnya cukup menarik, karena film ini didasarkan pada kejadian nyata yang terjadi pada tahun 1957, insiden yang terjadi di Levittown, Pannsylvania, di mana sebuah keluarga kulit hitam yang pindah ke lingkungan orang kulit putih, dan dikatakan sebagai penyebab terjadinya pelecahan serta kekerasan yang rasial terhadap sebuah keluarga.

Sebenarnya “Suburbicon” mencoba untuk menjadi black comedy yang penuh dengan kritik tapi menghibur, walau pada akhirnya film ini malah menampilkan kegilaan yang membingungkan, padahal semua aspek cerita yang ada sangat berpotensi untuk menjadi sangat bagus.

Jika ditanya apakah saya suka dengan film ini? Maka saya akan menjawab, suka sekaligus dangkal. Mengapa, karena saya suka semua usaha, aspek detail yang ditawarkan oleh Clooney dan berharap film seperti ini akan dibuat lagi tapi dengan sesuatu yang jauh lebih bagus, tidak dengan pembawaan yang sinisme terhadap sebuah dakwaan yang menjerumuskan.

Hem…paling tidak kita bisa melihat banyak kematian menarik yang ditampilkan bagai karma serta ketegaran orang kulit hitam yang terus ditekan oleh lingkungan sekitarnya.  Film ini bukan jenis film yang akan disarankan untuk banyak orang, karena film ini termasuk sangat segmentif untuk jenis penonton tertentu. Jadi jika kalian merasa ragu, lebih baik tidak perlu menontonnya. Ah, saya rasa kalian pasti penasaran!

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

00-d-glass

Film Glass, Sebuah Univers Yang Tidak Terduga Sekaligus Penuh Harapan Penggemar

Lewat film Glass, M. Night Shyamalan merampungkan trilogi film superhero thriller yang dimulai dari Unbreakable dan Spli.. more

Sumber: Business Insider

Siapa Bilang Penulis Nggak Bisa Sekeren Komikus? Pede Aja Kali!

Jangan sampai kita menganggap bahwa penulis itu kalah keren dengan komikus. Hei, semua yang berjuang di industri kreatif.. more

CIAYO Games Sambangi Agate Studio. Ada Apa Ya?

Beberapa waktu lalu, Tim CIAYO Games berkunjung ke Agate Studio. Nggak hanya sharing session, CIAYO Games dan Agate Stud.. more

00-d-sensei-kunshu

Film Live Action Sensei Kunshu Tayang di Jepang Agustus Mendatang

Sensei Kunshu berkisah tentang seorang siswi SMA bernama Ayuha Samaru yang mendapat masalah di restoran Gyudon. Beruntun.. more

(pm1.narvii.com)

Konohamaru VS Boruto: Siapa yang Akan Menjadi Hokage ke 8?

Hokage adalah Kage dari Desa Konohagakure, yakni gelar yang diberikan kepada seorang pemimpin desa. Hokage bertanggung j.. more