Boss WhatsApp Hengkang Dari Facebook – Ada Apa?

7 months ago

Di sebuah perusahaan besar, tidak ada yang aneh jika terjadi pergantian manajemen. Semua melakukannya. Apple melakukannya. Nintendo melakukannya. Dan saat terjadi di perusahaan sebesar Facebook, seharusnya itu juga merupakan hal yang normal dan tidak terlalu istimewa. Tapi dengan kisruh yang terjadi pasca skandal Cambridge Analytica dan masih bermasalahnya Facebook di negara sarat potensi seperti Tiongkok membuat publik bertanya-tanya: sebenarnya Facebook sedang dalam kondisi bermasalah atau tidak?

WhatsApp merupakan apps messaging paling populer saat ini di dunia. Dengan kemampuan berkirim teks, gambar serta bahkan suara (melalui protokol VoIP alias Voice over Internet Protocol) dan bersifat cross-platform alias tidak ekslusif di satu sistem saja menjadikannya sebagai aplikasi perpesanan yang paripurna.

Sumber: WhatsApp

Sumber: WhatsApp

Diciptakan tahun 2009 oleh mantan pegawai Yahoo, Brian Acton & Jan Koum, aplikasi ini secara cepat meraih popularitas sebagai aplikasi smartphone yang jauh lebih baik ketimbang SMS.

Pertumbuhan pengguna yang semakin tinggi membuat WhatsApp mengadopsi skema aplikasi berbayar dengan sistem berlangganan (dengan alasan untuk mencegah pertumbuhan yang terlalu cepat). Tapi ternyata hal itu tidak menyurutkan minat pengguna smartphone untuk menginstal dan memanfaatkan fitur-fitur di aplikasi ini.

Buktinya? Dalam postingan blog Desember 2013, pihak WhatsApp meng-klaim jumlah pengguna aktif layanan mereka ada di angka 400 juta nomer setiap bulannya. Sebuah angka yang luar biasa untuk aplikasi yang masih tergolong baru.

Mengapa WhatsApp populer sebagai pilihan messaging?

Karena aplikasi ini ringan, cepat serta aman. Privasi pengguna terjamin dengan sistem enkripsi ketat yang, secara teoritis, tidak memungkinkan adanya kebocoran data. Aplikasi ini juga hanya memakai nomer selular pengguna sebagai starting point dan tidak memiliki akses lain ke pengguna. Tidak adanya iklan bersliweran menjadi nilai tambah untuk WhatsApp sebagai aplikasi messaging yang nyaman.

Tampilan GUI WhatsApp. Sumber: TechDiscussion

Tampilan GUI WhatsApp. Sumber: TechDiscussion

Dengan valuasi di angka US$ 1,5 Milyar pada February 2014 dan masa depan cemerlang dari WhatsApp membuat Facebook kepincut untuk menguasainya.

Jadilah WhatsApp dibeli oleh Facebook dengan nilai transaksi luar biasa besar: US$ 19 Milyar! Langkah akuisisi ini terlihat oke. Pengguna aktifnya melonjak tajam ke angka 1 Milyar users dua tahun setelah akuisisi Facebook.

Tapi Facebook tentu tidak membeli WhatsApp sebesar 19 Milyar Dollar tanpa niatan menghasilkan uang. Dan darimana Facebook biasanya mendapatkan uang dari layanan mereka?

Dari iklan. Sesuatu yang tidak ada dalam rencana Brian Acton serta Jan Koum saat menciptakan aplikasi tersebut. Tapi hal ini (iklan) seakan jadi ‘pembenaran’ dari Facebook karena layanan WhatsApp mereka gratiskan sejak Januari 2016; walau sebelumnya biaya berlangganan WhatsApp sebelum dibeli Facebook hanya seharga US$ 1 per tahun.

Konflik mulai timbul dan semakin rumit di kalangan manajemen WhatsApp serta Facebook. Apalagi Facebook mulai semakin gencar memanfaatkan data pengguna demi kepentingan iklan dan ‘product marketing target’. Puncaknya adalah saat Brian Acton memutuskan angkat kaki dari manajemen WhatsApp/Facebook karena merasa sudah semakin jauh dari visi misinya saat menciptakan aplikasi messaging tersebut bersama Jan Koum.

Brian Acton. Sumber: ReCode

Brian Acton. Sumber: ReCode

Setelah hengkang, Acton bergabung dengan aplikasi messaging bernama “Signal”. Itu terjadi di tahun 2017. Koum masih berada di manajemen WhatsApp saat Acton pergi, namun banyak laporan yang menyebutkan kalau dia pun sering berbeda pendapat dengan dewan direksi Facebook mengenai cara perusahaan menghasilkan uang; yaitu lewat monetasi iklan yang berasal dari pengguna serta rencana pelemahan enkripsi WhatsApp yang selama ini berjenis end-to-end sehingga pesan hanya bisa dibaca oleh pengirim serta penerima tanpa ada celah untuk di-intercept/dibajak dari luar.

Dan akhirnya seperti prediksi banyak pihak, Jan Koum akhirnya menyusul Brian Acton keluar dari manajemen WhatsApp/Facebook beberapa waktu yang lalu.

Dalam statemen di akun Facebook-nya, Jan Koum menyebutkan kalau “Sudah saatnya untuk move on dan minggir dari dunia/bisnis IT yang selama ini digeluti”. Namun dirinya berjanji akan terus memberikan semangat untuk team WhatsApp; hanya kali ini dari sisi luar manajemen.

Jan Koum. Sumber: TheRecord

Jan Koum. Sumber: TheRecord

WhatsApp kehilangan sentuhan alumnus Stanford (Acton) dan imigran Ukraina (Koum) yang sudah melahirkan dan membesarkan aplikasi tersebut sejak 2009. Dari perusahaan startup kecil-kecilan hingga jadi perusahaan yang dibeli senilai US$ 19 Milyar.

Secara mendasar, WhatsApp kini kehilangan figur-figur yang menentang keras usaha monetasi pengguna aplikasi melalui iklan dan penggunaan data pribadi untuk tujuan pemasaran barang serta jasa. Hal-hal yang jadi bisnis utama Facebook selama ini.

Apa yang manajemen Facebook inginkan bertentangan dengan maunya pendiri WhatsApp.

Jadi apakah setelah kepergian Jan Koum (dan Brian Acton sebelumnya) WhatsApp akan mulai kebanjiran iklan? Sulit untuk tidak meyakini hal itu. Apalagi saat ini Messenger-nya Facebook saja sudah disusupi iklan-iklan yang mengganggu kenyamanan. Tapi bagaimana menyalahkan Facebook atas situasi ini? Mereka memberikan layanan gratis pada pengguna. Kompensasinya adalah iklan yang mengganggu serta terpaparnya data pribadi pengguna. Benar-benar situasi yang sulit ‘kan?

Bayar setahun US$1 versus gratis-tapi-penuh-iklan. Pilihan yang sebenarnya mudah.

About Author

Harry Rezqiano

Harry Rezqiano

Seimbangkan hidup. Tiap orang beda-beda caranya. Tapi semua orang perlu melakukannya. *Disclaimer: Tulisan ini adalah opini & pendapat pribadi serta bukan merupakan pandangan maupun kebijakan Ciayo Corp beserta afiliasinya. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial, Facebook: /HarryRezqiano | Twitter: @HarryRezqiano | Wattpad: /HarryRezqiano *

Comments

Most
Popular

HOTARU ITB: CIAYO Comics Datang Lagi ke Bandung!

Setelah mendatangi Bandung minggu lalu, CIAYO Comics akan balik lagi ke Bandung buat menghadiri HOTARU 6!.. more

00-discovery-tour-d

Mari Megenal Sejarah Mesir Kuno Lewat Assassin’s Creed Origins

Game Assassin’s Creed Origins menampilkan fitur baru bernama Discovery Tour. Di sini gamer bisa belajar tentang sejara.. more

00-d-lightnovel.id-cf11

LightNovel.ID Pamerkan Light Novel Lokal di Comic Frontier 11

LightNovel.ID akan menerbitkan berbagai light novel di Comic Frontier 11. ALLBLACK, Everna Saga dan The Golden Catalyst .. more

Movie Marathon: Diantara Aksi Penghematan dan Sungguhan Movie Maniacs

Pernah gak kalian memikirkan lagi makna sesungguhnya dari kegiatan movie marathon ini? Spesifiknya, apakah kegiatan ini .. more

00-comiconnect-gen90an

Marchella FP Berbagi Kisah Terbentuknya Generasi 90an

Marchella FP berbagi kisah Generasi 90an di CIAYO COMICONNECT Tour 2018. Ia juga sharing pengalaman menggarap buku NKCTH.. more