Call Me By Your Name: Kisah Cinta yang Dinodai Setetes Tinta Abu-Abu

10 months ago
Sumber: nyblueprint.com

Diadaptasi dari novel Ande Aciman dengan judul yang sama, “Call Me by Your Name”, berhasil menciptakan ruang-ruang ambigu dengan sederetan pertanyaan yang akan membuat banyak orang bertanya-tanya tentang perasaan cinta dan keputusasaan, apakah terluka adalah jalan terbaik untuk memulai hal baru yang lebih masuk akal.

Disutradarai oleh Luca Guadagnino, sutradara dari film “A Bigger Splash” (2015) yang berhasil memenangkan 4 penghargaan di 12 nominasi dalam 14 ajang penghargaan yang berbeda. Luca berhasil menampilkan gambar yang menawan dengan latar belakang keindahan mediterania pada musim panas di pedesaan Italia. James Ivory selaku penulis skenario pun berhasil menggubah novel Aciman ke dalam dialog yang cerdas dan tidak menghilangkan nuansa kuat dalam versi novelnya.

Sumber: www.moviestruckers.com

Sumber: www.moviestruckers.com

Kali pertama tayang di Sundance Film Festival pada januari 2017, “Call Me by Your Name” banyak mendapatkan review positif dari para kritikus film. Sepak terjangnya semakin terlihat ketika sepanjang tahun 2017 hingga awal 2018, film ini terus bergilir memeriahkan Festival Film dan ajang penghargaan film. Bukti kesuksesan film ini pun ditandai dengan 42 penghargaan yang dimenangkan dan masuk dalam 3 nominasi Golden Globe 2018. Keren, ya!

Berkisah tentang Elio yang diperankan oleh Timothee Chalarnat, seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun yang tinggal di pedesaan Italia bersama kedua orang tuanya. Ayah Elio, Mr. Perlman yang dibintangi oleh Muchael Stuhlbarg adalah seorang profesor arkeologi.

Sumber: collider.com

Sumber: collider.com

Pada suatu libur musim panas, Mr. Parlman mengundang salah seorang mahasiswa berbakatnya asal Amerika untuk membantu mengurus beberapa dokumen adademik sekaligus berlibur di rumahnya yang indah. Kedatangan Oliver (diperankan oleh Armie Hammer) sebagai tamu ayah Elio menciptakan sesuatu yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Elio adalah remaja cerdas yang sedang menjalin asmara dengan seorang perempuan bernama Marzia (diperankan oleh Esther Garrel). Elio sangat suka membaca buku dan bermain piano, bahkan hari-harinya lebih banyak dihabiskan untuk membaca buku serta menggubah lagu. Namun munculnya Oliver yang  sangat periang dan menarik banyak perhatian Elio, membuat Elio mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak bisa diterimanya sendiri dengan akal sehat.

Ini adalah kisah tentang banyak pertanyaan yang ingin setiap orang tanyakan tapi tidak bisa ditanyakan kepada sembarang orang. Batasan yang ditanamkan dalam sebuah budaya serta pemikiran rasional yang sudah dicemari oleh pendapat publik secara global, membuat baik Elio atau pun Oliver merasa apa yang mereka rasakan adalah kesalahan.

Sumber: www.dailynews.com

Sumber: www.dailynews.com

Sungguh menyenangkan memang jika menonton sebuah film lalu mendapatkan cukup banyak pengetahuan tentang beberapa karya seni, demikianlah yang ditawarkan oleh “Call Me by Your Name”, buku-buku tua, musik yang bisa dibilang klasik, dengan suasana pedesaan Italia yang segar sekaligus kuno, seakan membawa penonton pada kisah keluarga bahagia yang setiap pagi menghabiskan waktu pagi mereka dengan sarapan di halaman yang asri dan nyaman.

Fokus cerita lebih kepada tarik ulur perasaan Elio dan Oliver yang terjebak dalam situasi tidak biasa. Apakah itu cinta, atau hanya sekadar perasaan suka dan saling menyayangi layaknya saudara? Namun Ibu Elio yang melihat tingkah Oliver pada Elio demikian juga sebaliknya, memahami apa yang sedang dialami oleh anaknya itu.

Kedua orang tua Elio adalah tipe orang tua yang bisa menerima apa pun pilihan yang anak mereka ambil. Bahkan Oliver pernah bilang pada Elio bahwa dia sangat beruntung memiliki kedua orang tua seperti itu. Waktu bersama mereka yang banyak dihabiskan untuk bersepeda, berenang di kolam dan sungai, mengelilingi pedesaan Italia yang indah, serta membicarakan banyak hal tentang buku dan karya seni, membuat mereka jadi saling merindukan ketika tidak berjumpa dalam kurun waktu yang singkat.

Sumber: video.vanityfair.com

Sumber: video.vanityfair.com

Kisah cinta Elio dengan Marzia pun digambarkan cukup berhasil, semacam dua remaja yang haus akan cinta dan penasaran dengan hal-hal yang bisa mereka lakukan bersama. Walau dibalik kisah cinta mereka itu tersimpan sebuah keperihan di hati Elio tentang kegelisahan dirinya yang tidak bisa memahami perasaannya atas Oliver.

Proses pencarian identitas Elio untuk menjadi dewasa, diiringi oleh perkembangan karakter lain yang juga menarik untuk diperhatikan. Bahkan sedikit kisah tentang ayah dan ibu Elio pun sempat diceritakan dan memberikan sebuah kejutan yang tidak terduga.

Tema semacam ini memang terbilang sangat tabu di negeri kita, tapi pemaknaan yang mendalam membuat film ini bisa memberikan gambaran kepada banyak orang bahwa cinta itu ada banyak jenisnya. Dan beberapa yang terlihat baik-baik saja pun pada nyatanya harus berakhir, seperti libur musim panas yang dilalui oleh Elio dan Oliver yang juga harus berakhir.

Sumber: museemagazine.com

Sumber: museemagazine.com

Apakah Elio dan Oliver menemukan jawaban tentang apa yang mereka rasakan? Apakah akhir cerita ini akan membuat mereka patah hati atau bahagia dengan segala kemungkinan serta resiko yang berani mereka perjuangkan? Atau ini hanyalah perasaan yang tidak seharusnya pernah ada dan menganggap apa yang sudah berlalu biarlah menjadi memori indah yang cukup untuk dikenang tanpa harus dibicarakan lagi?

Semua pertanyaan itu hanya akan terjawab jika kalian benar-benar ingin mengikuti setiap babak dalam film ini.

Walaupun “Call Me by Your Name” mampu dikalahkan oleh “Three Billboards Outside Ebbing, Missouri” dalam kategori Best Motion Picture – Drama di acara Golden Globe 2018, akan tetapi pertarungan sebenarnya baru saja dimulai lewat ajang Oscar 2018 dalam katagori Best Picture pada 4 Maret 2018 nanti. Jadi, gak ada salahnya untuk menonton film ini sekarang, agar kalian semua bisa memberikan penilaian apakah film ini layak untuk memenangkan katagori paling bergengsi di ajang Oscar nanti!

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

COPi Bandung Hadirkan Parade One Piece di Setiap Event Jejepangan

Bro sis yang demen sama cosplay, pernah denger COPi Bandung belum? CIAYO Blog sempet ketemu sama salah satu komunitas co.. more

instagram : zipcy

Illustrator Ini Menggambarkan Keintiman Sepasang Kekasih Lewat Karyanya

Yang Se Eun, seorang illustrator berumur 29 tahun asal Korea bakalan membuat kamu ngerasa pingin untuk jatuh cinta terus.. more

Yoh Asakura - thumb

Jika Ingin Berkarya, Lakukanlah Seperti Yoh Asakura

Mungkin banyak orang yang tidak tau dengan Yoh Asakura. Tapi karakter yang sederhana ini justru bisa menjadi inspirasi b.. more

MCU

Ditunggu – tunggu, Film Buatan Marvel ini Justru Dapet Rating Buruk!

2018 memang penuh dengan deretan film termasuk film buatan Marvel seperti  Black Panther, Avengers: Infinity War, dan.. more

maghfirare

Adelia Maghfira : Berkarya dengan Tujuan ‘Berkarya’, Bukan untuk Nyari Uang

Bro sis suka baca komik strip di Instagram ? Pastinya udah tau akun Instagram-nya Maghfirare, kan. .. more