Deadpool 2 Review :  Parodi Sinisme Yang Kejam, Brutal, Namun Kocak

2 months ago

Karakter Deadpool yang diperankan oleh Ryan Reynolds merupakan contoh dari penawar kejenuhan untuk orang-orang yang mulai lelah dengan sosok pahlawan super. Seorang anti-hiro yang hadir bagaikan kanker (walau dalam film ia diceritakan memang mengidap kanker) yang terus bertumbuh, mengganggu, dan akan membuat kalian terus terusik dalam banyak hal menghibur.

Deadpool 2 tumbuh jadi semakin “mengganas” daripada film terdahulunya. Walau kemunculan pertamanya dalam X-Man Origins: Wolverine sebagai senjata mematikan tampil begitu serius dan bisu. Deadpool 2 hidup dengan promosi melimpah, bahkan terkadang muncul dari hal-hal kecil yang tidak pernah terjadi pada film lainnya. Hal ini membuat Deadpool 2 menjadi semacam mesin berkekuatan canggih yang harusnya punya kualitas sangat baik.

Ekspektasi tinggi jelas sudah disandang oleh Deadpool 2. Apalagi melihat film Marvel terakhir; Avengers: Infinity War sukses besar. Namun Deadpool 2 seolah tidak terlalu peduli dengan banyak hal, ini merujuk pada karakter Deadpool sendiri yang memang tidak terlalu peduli pada apa pun. Dan hasilnya Deadpool 2 berhasil membuat kejutan sebagai film berating R (Restriced) yang memecahkan rekor box office terbaik.

Cable yang diperankan Josh Brolin. Sumber: Movieweb

Cable yang diperankan Josh Brolin. Sumber: Movieweb

Kekurangan yang dimiliki Deadpool 2 terletak pada plot cerita yang terkadang berjalan terlalu pendek kemudian melompat pada plot yang benar-benar baru, dan seterusnya seperti itu. Lalu muncul sosok Cable yang diperankan oleh Josh Brolin dengan tampilan tua, memukau, energik, bagai Arnold  Schwarzenegger dalam film Terminator. Saya rasa semua orang tentu sangat peduli dengan Cable dan juga pasti bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya dirinya. Tapi ini film Deadpool bukan film Cable jadi kita harap memakluminya. Lagi pula seiring berjalannya film, semua orang akan terus diracuni oleh lelucon Deadpool serta aksinya yang sadis, sehingga apa yang kita pikirkan tentang Cable terasa tidak lagi terlalu penting.

Deadpool  adalah gudang lelucon, maka apa pun yang keluar dari mulut Wade Wilson, semua itu merupakan hal yang harus kita terima. Mulai dari cara lelucon itu dibangun sampai pada beberapa scane yang sengaja dibuat dengna gaya meniru film lain. Saya tidak bisa bayangkan jika ini terjadi pada film lain selain Deadpool pasti akan banyak yang mencacinya sebagai peniru yang tidak cerdas. Contoh pertama yang sangat mencolok hadir lewat opening film yang menjadikan lagu Ashes Celine Dion sebagai theme song. Jelas ingatan kalian pasti dibawa pada film-film James Bond yang selalu punya opening demikian. Dan ini berhasil membuat semua orang tertawa sebab berbagai elemen seperti kata-kata kasar bermunculan di layar.

Deadpool bersama teman lamannya Colossus. Sumber: The Verge

Deadpool bersama teman lamannya Colossus. Sumber: The Verge

Deadpool 2 punya banyak lelucon receh yang akan membuat para penonton tertawa, akan tetapi lelucon yang terkesan receh itu sering kali punya muatan di level tertentu yang tidak semua orang bisa paham. Saya cukup beruntung karena sudah cukup banyak referensi tentang film untuk bisa memahami hampir semua lelucon yang ada. Contoh mendasar saja seperti saat Deadpool berbicara soal “Martha”, jelas tidak semua orang tahu siapa yang dimaksud oleh Deadpool. Ketidakpahaman ini akan membuat keseruan film berkurang, apalagi semua lelucon receh itu terus hadir dalam sepersekian detik yang cepat.

Lelucon Deadpool selalu membangkitkan antusiasme walau semua nada yang ia lontarkan terdengar sinisme. Lelucon paling mengejutkan ialah ketika berulang-ulang kekayaan intelektual DC terus ditelanjangi oleh semesta Marvel. Mulai dari kegagalan Green Lantern hingga pada kehidupan Batman dan Superman yang berkali-kali disinggung. Saya agak heran sembari menilai keberanian para penulis skenario film ini untuk terus menjadikan film-film DC sebagai lelucon, baik itu secara gamblang, atau juga secara metafora.

Naskah Deadpool 2 ditulis oleh Rhett Reese, Paul Wernick, serta Ryan Reynolds sendiri. Mengobrak abrik semua pengetahuan ­pop-culture tentang film pahlawan super terlihat sangat jelas. Hal ini bisa menjadi sangat cerdas untuk orang-orang yang bisa memahaminya, dan bisa menjadi sesuatu yang terlewat untuk jenis penonton yang menonton hanya karena film ini sedang ramai diperbincangkan. Gurauan gelap yang Deadpool lontarkan terkadang memiliki muatan satir, semisal ia berbicara tentang rasisme, isyu politik, tapi dengan gaya yang menghujat dan sinisme.

deadpool 2

X-Force siap beraksi. Sumber: Vrandfun

Deadpool 2 juga sempat menciptakan jebakan bernama X-Force untuk penonton sehingga penonton akan berpikir bahwa film ini tidak hanya tentang Wede Wilson saja, tapi juga tentang tim X-Force itu sendiri. Kehadiran Peter (Rob Delaney), Zritgeist (Bill Skarsgard), Weasel (T.J. Miller), Bedlam (Terry Crews), dan karakter “entah siapa” yang diperankan oleh Brad Pitt. Tampil meyakinkan, kocak dengan ironisme yang berujung pada keberutalan. Saya rasa karakter Domino (Zazie Beetz) lah yang menjadikan X-Force sebenarnya sebagai sumber keberuntungan Deadpool hingga ke akhir film.

Lalu ada Russell yang diperankan oleh Julian Dennuson, dalang dari semua sumber masalah utama. Kritik Russell soal size tubuhnya muncul bagai bahan bullying yang berkali-kali hadir dan itu berhasil membuat semua orang tertawa sekaligus berpikir tentang seberapa berbahayanya sebuah bullying.

Muatan baru yang begitu kentara dalam Deadpool 2 ialah muatan emosi yang menuntut beberapa bagian terasa sangat serius, menyedihkan, lalau dipatahkan oleh kesinisan Deadpool itu sendiri. Sepertinya Marvel memang sedang suka bermain dengan muatan baru pada film-film mereka, yaitu emosional karakter pahlawan super mereka, baik itu soal kehilangan, atau juga soal kejadian gelap di masa lalu. Ini hal yang sangat bagus, walau dalam Deadpool 2 hal seperti ini bergerak dengan embel-embel yang “mengesalkan”.

Russell, sumber masalah utama dalam Deadpool 2. Sumber: Comic Book

Russell, sumber masalah utama dalam Deadpool 2. Sumber: Comic Book

Kisah kekasih Deadpool, Vanessa (Morena Baccarin) hadir begitu mengharukan, sehinggan sentimentalitas yang dimiliki Deadpool sendiri runtuh seketika. Saya mulai berpikir bahwa kredibilitas satir yang dimiliki Deadpool mulai melemah, walau pada nyatanya itu sama sekali tidak terbukti.

Untuk masalah pertarungan, Deadpool 2 masih menggunakan formula lama yang sadis, berdarah tanpa ampun. Hanya saja kali ini Deadpool 2 tampil lebih sinematis, kinetik, dan dinamis. Sepertinya kemunculan Cable jelas mengambil banyak alih untuk perihal ini. Dan sekali lagi Josh Brolin membuktikan bahwa ia berhasil menghidupkan dua karakter dalam dunia Marvel di waktu yang sangat berdekatan. Tentu banyak orang akan berharap bahwa Cable akan dibuatkan film solo, sebab kehidupan masa lalu (maksudnya masa depan) Cable masih belum terungkap.

Sutradara David Leitch haruslah merasa lega sebab Deadpool 2 berhasil memberikan hiburan yang menyenangkan. Pertaruhan tentang mengkritik film lain ternyata bukan hal yang buruk untuk dilakukan. Lalu ada Tyler Bates yang bertugas sebagai pengarah musik dalam film ini berhasil menghidupkan moment-moment tertentu dan bahkan menambah kelucuan di beberapa bagian yang sangat krusial. Saya bisa katakan bahwa Tyle Bates merupakan composer yang handal sebab sebelumnya dalam film Guardian of the Galaxy, dan John Wick pun ia berhasil menghidupkan banyak adegan dengan pemilihan musik yang tepat.

Untuk pemilihan musik ini, lagi-lagi Marvel terlihat begitu serius, terbukti seperti; Guardian of the Galaxy, Thor Raknarok, Black Panther, dan  Avengers Infinity War, elemen musik juga digarap agar terkesan memorable.

Musik yang tepat di momen yang juga pas. Sumber: The Atlantic

Musik yang tepat di momen yang juga pas. Sumber: The Atlantic

Sepertinya Deadpool 2 akan mendapatkan sekuel lagi, dan mungkin di masa depan nanti karkater ini akan terus dihidupkan dengan gaya yang baru tanpa meninggalkan semua pakem yang sudah diciptakan saat ini. Akan tetapi masa depan adalah sesuatu yang relativ seperti yang Albert Einstein kemukakan, maka semuanya bisa jadi tidak menentu. Seperti yang juga terjadi di film ini bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat relativ untuk menjadi relevan. Paling tidak waktu sudah membuat Deadpool membunuh dirinya sendiri dan berjumpa dengan hantunya Wolverine!

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

Kerja Magang Bukannya Disuruh Fotokopi Malah Disuruh Ngomik, Enak Banget!

Karena ada kok tempat kerja yang nerima anak magang dan ngajarin mereka cara kerja profesional. Wah, di mana tuh? Nih ki.. more

Sumber: redbull.com

Sukses Dengan Pokemon Go, Pokemon Kembali Merilis Game Terbarunya

Kalau kemarin kita dihebohkan dengan kehadiran game fenomenal, Pokemon Go, kali ini Pokemon kembali meliris game-nya yan.. more

(www.comifuro.net)

Comic Frontier, Comiket Ala Indonesia

Bro sis ada yang datang ke Comic Frontier? Itu loh, acara yang lebih dikenal dengan sebutan Comifuro. Tapi udah pada tau.. more

Chuunibyou demo Koi ga Shitai! Take on Me Tayang di Indonesia Tanggal 23 Mei!

Dalam Chuunibyou demo Koi ga Shitai! Take on Me, Rikka akan pindah ke Italia! Karena Yuuta tak mau berpisah dengannya, t.. more

Popularitas K-Pop dalam Dunia Musik Amerika

Sekitar lima atau tujuh tahun yang lalu muncul banyak opini dan artikel dengan pertanyaan “bisakah trend musik K-pop m.. more