Dragon’s Crown: Game yang Dicela dan Dipuja

3 months ago
Sumber gambar: personacentral.com

Dragon’s Crown adalah game yang menimbulkan polarisasi di antara penggemar video game. Perbedaan pendapat yang ada sama kuatnya. Sebagian memuji IP ini, sementara sisanya mencela. Semua dengan pendapat dan argumentasi mereka masing-masing. Tapi terlepas dari polarisasi tersebut, Dragon’s Crown merupakan sebuah karya seni video game yang ‘berfungsi secara tepat jika berada di segmen pasar yang sesuai’.

Untuk penulis sendiri, Dragon’s Crown adalah sebuah keberanian desain. Game ini mengambil gameplay 2D Side-Scrolling Beat ‘Em Up Role-Playing Game. Ini adalah genre yang semakin ditinggalkan oleh banyak developer video games dengan alasan kalau pasarnya sudah habis digerus oleh game 3D.

“2D Side-Scrolling is dead”, kata mereka. Dan pada satu titik, gamers mungkin harus percaya. Selama puluhan tahun ke belakang, sangat sedikit game serupa atau 2D Side-Scrolling yang dibuat oleh developers. Terbaru mungkin Cuphead? Game itu tergolong sukses di pasaran dan reviews. Jadi mengatakan genre 2D Side-Scrolling sudah mati atau tidak akan sukses merupakan sebuah kebodohan.

Cuphead menggunakan genre yang mirip dengan Dragon’s Crown (Sumber gambar: gamespot.com)

Cuphead menggunakan genre yang mirip dengan Dragon’s Crown (Sumber gambar: gamespot.com)

Developer Dragon’s Crown adalah Vanillaware Ltd. Game keluaran Vanillaware sebelumnya seperti Odin Sphere, GrimGrimoire atau Muramasa: The Demon Blade merupakan contoh bagaimana sebuah game bernuansa dua dimensi dengan sentuhan elemen RPG klasik yang seru dan menantang bisa sukses. Selain gameplay side-scrolling yang diadopsi oleh game Vanillaware ini, artwork game yang unik merupakan ciri khas lain dari Vanillaware.

Odin Sphere (Sumber gambar: pixelperfectgaming.com)

Odin Sphere (Sumber gambar: pixelperfectgaming.com)

Untuk yang sudah pernah atau familiar dengan games buatan Vanillaware, Dragon’s Crown menggunakan pola gameplay yang mirip dengan game sebelumnya. Dengan pergerakan dua dimensi kiri ke kanan ala game beat ‘em up “Bare Knuckle” (game Mega Drive) dengan konsep ala RPG seperti “Guardian Heroes” (game klasik keren Sega Saturn), Dragon’s Crown memberikan sebuah keseruan game baku gebuk namun dengan mekanisme upgrade/system/magic/item managements layaknya sebuah game RPG seperti misalnya Final Fantasy VII. Tentu tidak sedalam RPG normal namun cukup menarik dan menambah keseruan bermain.

Tampilan in-game Dragon’s Crown (Sumber gambar: comicbook.com)

Tampilan in-game Dragon’s Crown (Sumber gambar: comicbook.com)

Grafis dari Dragon’s Crown dibuat dengan metode ‘hand-drawn’ alias digambar dengan tangan. Tidak menggunakan metode modern polygonal graphic seperti di kebanyakan game modern. Hal ini menjadikan Dragon’s Crown memiliki tampilan cemerlang dan klasik. Warna-warna lukisan tangan yang dihasilkan team dibawah panduan sutradara George Kamitani (yang juga merupakan Boss alias Presiden Vanillaware Ltd.) bagaikan sebuah anime yang hidup. Sangat indah. Fans games dari Vanillaware pasti mengerti apa yang saya maksudkan.

Gameplay ketat dengan grafik cakep (Sumber gambar: pushsquare.com)

Gameplay ketat dengan grafik cakep (Sumber gambar: pushsquare.com)

Gameplay khas game beat ‘em up. Grafis ala anime. Gimana dengan storyline dari Dragon’s Crown. Mengambil setting Kingdom of Hydeland, lokasi yang sama seperti game Vanillaware lainnya, yaitu GrimGrimoire dan Odin Sphere. Tapi tentu berada dalam timeline serta areal berbeda dari kedua judul tadi. Plot utamanya tentang perjalanan pencarian “relic”, benda berkekuatan magis kuno “Dragon’s Crown” oleh sekelompok petualangan. Masing-masing dari mereka memiliki kemampuan berbeda yang akan berguna sepanjang perjalanan.

Karakter atau Job Class di Dragon’s Crown (Sumber gambar: dragons-crown.wikia.com)

Karakter atau Job Class di Dragon’s Crown (Sumber gambar: dragons-crown.wikia.com)

Karakter-karakter ini adalah:

Amazon. Wanita berkekuatan besar dengan kemampuan menggunakan senjata yang memerlukan dua tangan. Lincah dan mematikan.

Amazon (Sumber gambar: dragons-crown.wikia.com)

Amazon (Sumber gambar: dragons-crown.wikia.com)

Dwarf. Petarung kuat berotot, sehingga memungkinkan penggunaan dua senjata berbeda di setiap lengan. Sanggup mengangkat dan melempar musuh yang lebih besar dan berat.

Dwarf (Sumber gambar: destructoid.com)

Dwarf (Sumber gambar: destructoid.com)

Elf. Bertubuh langsing dan ahli menggunakan busur serta panah dibandingkan ras lainnya. Punya penampilan yang terlihat muda walau usia jauh lebih tua dari yang terlihat.

Elf (Sumber gambar: dragons-crown.wikia.com)

Elf (Sumber gambar: dragons-crown.wikia.com)

Fighter. Ahli bertempur dengan kekuatan besar, armor serta perisai kokoh. Walau memiliki kekuatan defensif yang tangguh namun juga dapat menyerang dengan senjata yang ada di tangan.

Fighter (Sumber gambar: egmnow.com)

Fighter (Sumber gambar: egmnow.com)

Sorceress. Wanita menawan dengan keahlian dark magic. Termasuk kelas support yang punya skill berguna: bisa menciptakan makanan lezat, mengendalikan tengkorak/undead atau mengubah musuh menjadi kodok. Memiliki tubuh yang tidak terlalu kuat namun punya skill magic yang hebat.

Sorceress (Sumber gambar: YouTube)

Sorceress (Sumber gambar: YouTube)

Wizard. Punya keahlian mirip Sorceress namun dengan gender pria. Kemampuan sihir dikatakan sama bagusnya dengan Sorceress.

Wizard (Sumber gambar: dualshockers.com)

Wizard (Sumber gambar: dualshockers.com)

Dragon’s Crown mendapatkan celaan seperti misalnya dari Kotaku karena desain karakter yang dianggap terlalu ‘over the top’ (terutama oleh kelompok non gamers serta feminists). Karakter Sorceress dan Amazon misalnya; karakter ini dianggap terlalu seksi sehingga mereka mencoba memaksa Vanillaware melakukan perubahan desain.

Desain George Kamitani dari Vanillaware (Sumber gambar: knowyourmeme.com)

Desain George Kamitani dari Vanillaware (Sumber gambar: knowyourmeme.com)

Namun George Kamitani, sebagai bagian desainer karakter Dragon’s Crown memberikan argumen kalau desain mereka ditujukan agar karakter game ini ‘berbeda dari game lainnya’. Tadinya mereka menggunakan desain ala “Dungeons and Dragons” dengan sentuhan inspirasi dunia J.R.R. Tolkien. Namun saat sudah jadi, karakter-karakter ini terlihat biasa-biasa saja sehingga Kamitani dan timnya memutuskan untuk melakukan perubahan desain secara radikal dan ‘exaggerate’ alias berlebihan dengan spirit khas anime.

George Kamitani dari Vanillaware (Sumber gambar: dragons-crown.wikia.com)

George Kamitani dari Vanillaware (Sumber gambar: dragons-crown.wikia.com)

Walau menyisakan omelan bagi mereka yang tidak menyukai desain karakter di Dragon’s Crown, nyatanya game ini sukses di pasaran. Metacritic memberikan skor 82/100 untuk versi PlayStation 3 dan 78/100 untuk PlayStation Vita. Famitsu memberi nilai 34/40 dan Joystiq dengan 4 ½ bintang dari 5. Sementara secara sales, Dragon’s Crown sudah terjual di angka 940.000 unit. Cukup meyakinkan!

Dicela dan dipuja gamers dunia (Sumber gambar: gematsu.com)

Dicela dan dipuja gamers dunia (Sumber gambar: gematsu.com)

Terkini, game Dragon’s Crown mendapatkan ‘make over’ alias versi Remastered untuk PlayStation 4. Diberi judul “Dragon’s Crown Pro”, game ini memiliki tampilan grafis definisi tinggi hingga resolusi 4K, soundtrack live orchestra, pilihan bahasa Inggris atau Jepang dan semua DLC yang dulu dijual terpisah. Game ini sudah rilis di Jepang pada February 2018 dan versi Amerika akan menyusul di Mei 2018.

Sudah pernah main Dragon’s Crown di PS3? Atau pengen coba yang versi Pro? Punya opini lain tentang game keren ini? Tag saya di komentar kalian, ya!

About Author

Harry Rezqiano

Harry Rezqiano

Seimbangkan hidup. Tiap orang beda-beda caranya. Tapi semua orang perlu melakukannya. *Disclaimer: Tulisan ini adalah opini & pendapat pribadi serta bukan merupakan pandangan maupun kebijakan Ciayo Corp beserta afiliasinya. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial, Facebook: /HarryRezqiano | Twitter: @HarryRezqiano | Wattpad: /HarryRezqiano *

Comments

Most
Popular

Sumber: CIAYO Pictures

CHIPS: MONSTER TAP Lolos Menjadi Salah Satu Nominasi Best Mobile Game di Archipelageek 2017

Sebagai salah satu game clicker buatan Indonesia, CHIPS: Monster Tap kembali menunjukan taringnya dengan berhasil menjad.. more

(Sumber: Screenrant)

Film Justice League ‘Snyder Cut’ : Antara Fakta, Mitos dan Harapan Kosong

Seperti semua film bioskop, Justice League juga mendapatkan versi film rumahan . Versi ini penting untuk meredam ketidak.. more

00-d-infinity-war

Di Jepang, Infinity War Kalah Ramai Dibanding Detektif Conan!

Avengers: Infinity War merajai berbagai tangga box office, kecuali di Jepang. Ternyata, film superhero ini kalah melawan.. more

Anime Matsuri X CIAYO Comics

CIAYO Comics, sebagai salah satu platform komik digital pun turut berpartisipasi di event Anime Matsuri kali ini. .. more

Suasana Natal. Sumber gambar: southernliving.com

Beberapa Tontonan Keluarga Menyambut Musim Liburan Natal. Yang ke-5 Bikin Nostalgia!

Berikut beberapa film bernuansa Natal yang asik dan seru untuk ditonton beramai-ramai sambil berkumpul bersama orang-ora.. more