ESRB Rating: Apakah Masih Ngaruh dan Relevan untuk Diterapkan Terhadap Gamers Zaman Now ?

4 months ago
sumber: SafeWithTech

Saya yakin kalian sering banget melihat lambang-lambang yang terpampang di foto headline artikel ini setiap kali membeli CD atau DVD game. Yap, lambang-lambang ini merupakan lambang dari sistem rating kelayakan usia sebuah game yang ditentukan oleh organisasi legendaris bernama: Entertainment Software Rating Board atau ESRB.

Sistem rating yang pertama kali diperkenalkan secara resmi pada tanggal 16 September 1994 ini bertujuan untuk memberikan batas atau ketentuan usia dari sebuah game, sehingga diharapkan tidak ada lagi kontroversi anak di bawah umur yang memainkan game yang diperuntukkan bagi gamer dewasa.

Namun ironisnya, meski sudah diperkenalkan, nyatanya masih banyak saja gamer dibawah 17 tahun yang membeli game-game kontroversial saat itu seperti: Carmageddon (1997) atau Mortal Kombat (1992).

Mortal Kombat 3 (sumber: YouTube)

Mortal Kombat 3 (sumber: YouTube)

Ya, saya juga tidak mau munafik, karena waktu umur 9-10 tahun dulu juga membeli dan diperbolehkan saja untuk memainkan Mortal Kombat 3 (1995). Namun, kalau saya pikir-pikir lagi sekarang, seharusnya dulu saya mengikuti saja ketentuan lambang M (mature) yang telah diberikan terhadap Liu Kang cs ini.

Pasalnya MK 3 memanglah game yang diperuntukkan bagi gamer yang sudah benar-benar dewasa atau benar-benar matang pemikirannya. Seminim-minimnya, ya sekitar 14-15 tahun.

Melihat kenyataan ini, maka kitapun kini jadi bertanya, “Kalau rating ini dulu saja dicuekin alias gak ngaruh, lalu bagaimana situasinya terhadap gamers zaman now? Apakah sistem rating ini masih relevan untuk diterapkan?”

ESRB menjadi tidak berarti akibat cueknya orang tua dan gamer itu sendiri (sumber: wiseGEEK)

ESRB menjadi tidak berarti akibat cueknya orang tua dan gamer itu sendiri (sumber: wiseGEEK)

Tanpa perlu berbasa-basi, bisa dikatakan sistem ini sudah tidak ada efeknya sama sekali. Namun, apabila kita membicarakan masih relevan atau tidak untuk diterapkan, maka saya katakan bahwa sistem ini masih bisa atau relevan untuk terus diterapkan.

“Loh katanya sudah gak ngefek, kok dibilang masih relevan?”

Memang tidak dipungkiri, sejak pertama kali diperkenalkan 24 tahun yang lalu, rating A, M, T, AO bahkan E tidaklah terlalu digubris oleh sebagian besar gamers dan bahkan orang tua.

Dan hal ini sebagian besar dikarenakan ketidaktahuan gamer dan orang tua terhadap maksud diberikannya sistem rating ini. Kalaupun sudah tahu, keduanya kerap membela diri dengan membawa-bawa yang namanya HAM (Hak Asasi Manusia) yang spesifiknya, kebebasan untuk melakukan apa saja yang diinginkan.

Trevor Phillips, Grand Theft Auto V (sumber: Forbes)

Trevor Phillips, Grand Theft Auto V (sumber: Forbes)

Mirisnya, kedua faktor tersebut masih ada dan malah semakin menjadi di zaman now. Sebagai contoh, mari kita ambil saja franchise game open world kontroversial sepanjang masa, Grand Theft Auto (GTA). Walaupun sudah jelas-jelas sering menjadi sumber masalah dari berbagai tindakan kriminalitas anak atau remaja (terutama di Indonesia), nyatanya sampai saat ini masih sering kita temui anak SD atau SMP yang dengan cuek bin terang-terangan memainkan game ini baik di tempat rental atau rumah dengan kedua atau salah satu orang tua duduk di belakang.

Padahal developer, Rockstar Games bersama ESRB telah terang-terangan juga memberikan rating M alias 17 atau 18 tahun ke atas terhadap game ini. Nah, kalau sudah begini, lalu dimana sisi relevansi penerapan sistem ESRB ini di zaman now ?

Kalian mesti ingat pepatah yang mengatakan bahwa, tidak semua yang baik adalah baik. Dan tidak semua yang buruk adalah buruk. Jadi kalau dikaitkan dengan pembahasan ini, maka tidak semua orang tua  bahkan gamer muda yang cuek bebek dengan penempatan rating ESRB ini.

Lumayan banyak kok gamer dan orang tua yang masih peduli sekali dengan konten game yang dimainkan. Malah kalau bisa dibilang, justru bapak dan ibu zaman now lah yang jauh lebih strict dalam memberikan apapun terhadap buah hati mereka.

Sistem rating PEGI milik Eropa (sumber: ebuyclub)

Sistem rating PEGI milik Eropa (sumber: ebuyclub)

Kalau seperti itu bagaimana caranya agar orang tua dan gamer itu sendiri lebih peduli lagi dengan sistem rating yang ada di video game ini ? Sederhana. Lebih sering-sering saja buka internet untuk mendapatkan informasi lebih terkait mengenai sistem rating video game.

Selain itu, tumbuhkan kesadaran diri kalau game yang belum sesuai rating, memanglah belum layak untuk dikonsumsi. Saya yakin kalau dua langkah ini dilakukan, fungsi ESRB atau PEGI (sistem rating video game di Eropa) akan masih bisa terlihat relevan sesuai fungsinya.

Masalahnya ada di orang tua dan gamer itu sendiri, terlepas mungkin sudah diberikan wanti-wanti seperti ini, mereka masih saja bersikap “bodo amat”. Well, kalau memang demikian, mau diapakan lagi ?

Yang penting pihak ESRB dan PEGI, telah melakukan fungsinya. Kalaupun masih ada yang bersikap seperti itu, maka tentunya seluruh resiko, baik atau buruk, merupakan resiko yang harus ditanggung sendiri oleh si konsumen.

Bully (sumber: Steam Community)

Bully (sumber: Steam Community)

Namun pada akhirnya mau sedikit atau banyak yang masih mengacuhkan sistem rating ini, toh ESRB dan PEGI  masihlah akan menempelkan sistem rating mereka di setiap game baru yang akan dirilis.

Kini semuanya tinggal tergantung si konsumen saja. Apakah memang mau “nurut” dengan sistem tersebut atau tidak sama sekali. Apakah menurut kalian sistem rating video game baik itu ESRB atau PEGI memang masih ngaruh dan relevan di zaman now ? Silahkan sampaikan opini kerennya, ya!

About Author

Marvciputra

Marvciputra

Entertainment Reviewer, WWE Lovers and Music-holic

Comments

Most
Popular

8 Anime Modern yang Layak Tayang di Stasuin TV Indonesia. Mana pilihanmu?

Sejarah penayangan anime di Indonesia sudah sangat lama berlangsung. Mulai dari Dragon Ball, Doraemon, Sailor Moon, Chib.. more

Dua rival sistem operasi mobile saat ini. Sumber gambar: curzonhomecinema.com

Mengapa Fans Apple Sangat Loyal?

Mengapa mereka seloyal itu? Apa yang membuat mereka rela melakukan hal yang banyak dicibir orang di luar fans produk App.. more

Tim CIAYO Games (CIAYO Pictures)

Mau Bikin Game Sekaliber CHIPS: Monster Tap? Nih Tips dari Tim CIAYO Games!

Pengen bikin game mobile sekelas CHIPS: Monster Tap? Nih tips dari pembuatnya langsung!.. more

(www.goikuzo.com)

IkuZo! Japanese & Manga Center Dukung BL Manga Fest 2017

IkuZo! tuh apa sih? Kata ini berasal dari bahasa Jepang yang secara harfiah berarti “Let’s go!”... more

CIAYO One Shot Challenge Vol.2 Berhadiah Lebih Dari 100 Juta Rupiah!

CIAYO One Shot Challenge Vol.2 Berhadiah Lebih Dari 100 Juta Rupiah!

Setelah sukses dengan event yang pertama, CIAYO Comics One-shot Challenge Vol.2 hadir lagi dengan tantangan baru, makin .. more