Fifty Shades Trilogy, Trilogi Lemah yang Kerap Mendulang Sukses di Box-Office

6 days ago
Sumber: Waterfordwhispernews

Sudah pernah membaca novelnya atau belum sama sekali, saya yakin banget pastinya bro sis merasa super hype ketika mendengar kabar Hollywood akan mengadaptasi novel trilogi erotis, Fifty Shades karya E.L. James beberapa tahun yang lalu. Wajarlah. Mengingat novelnya memiliki plot yang lumayan “panas” tentunya kita jadi ingin tahu banget apakah adaptasi filmnya, akan seberani dan sepanas novelnya atau malah justru bakalan menjadi ‘dingin atau lemah?

Dan ketika akhirnya Fifty Shades of Grey dirilis pada tanggal 13 Februari 2015, audiens serta fans novelnya lumayan terkejut ketika melihat versi filmnya, yang ternyata sangat berani untuk menghidupkan adegan-adegan BDSM panas yang terkenal di novelnya itu. Namun ironisnya, bukan karena faktor itu saja yang membuat audiens terkejut. Di saat yang sama, mereka juga sangat terkejut dengan kualitas film yang mereka dapatkan.

Sumber: grantland

Sumber: grantland

Yap benar sekali bro sis. Secara general dan universal, bagian pertama dari adaptasi Fifty Shades bisa dibilang memiliki kualitas yang tidak memuaskan alias buruk. Oke-oke, mungkin beberapa bro sis tidak setuju dengan pendapat ini. Tidak mengapa. Tapi ingat! Hampir 80-90% kritikus dan moviegoers loh yang telah menggaungkan sentimen ketidaksukaannya tersebut. Sentimen yang sama pun kembali terulang ketika sekuelnya, Fifty Shades Darker dirilis pada tahun 2017.

Dan walau saya pribadi belum menyaksikan bagian terakhirnya, Fifty Shades Freed yang telah dirilis semenjak tanggal 9 Februari 2018 lalu, berdasarkan review-review yang telah di-posting oleh media dan reviewer-reviewer Youtube top sejauh ini, terbukti bahwa bagian terakhirnya jugalah menjadi penutup yang sama buruknya.

Tapi anehnya nih bro sis, terlepas kualitas filmnya sudah jelas-jelas buruk, trilogi ini justru kerap mendulang keuntungan besar di box-office. Tak pelak kitapun jadi bertanya: “Mengapa bisa begitu ya?”

Sumber: People

Sumber: People

Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, mari kita me-review balik dulu beberapa faktor utama yang membuat film ini menjadi sangat mengecewakan. Pertama, plot film ini sangatlah datar sekali. Memang, trilogi ini merupakan tribute fan fiction dari seri vampir romantis top, Twilight Saga karya Stephenie Meyer dan ya, film ini menjual s*ks habis-habisan yang tentunya biasa memancing “gairah” audiens untuk menyaksikan filmnya. Tapi pada akhirnya justru plot yang ada, membuat film ini terlihat tidak jauh berbeda dengan film-film “semi”.

Setidaknya, Twilight masih ada unsur horror, vampir dan manusia serigala yang sukses menutupi kisah romantisnya yang super mainstream dan “lebay” itu. Nah, kalau trilogi Fifty Shades daya tariknya hanyalah wajah imut Dakota Johnson, wajah tampan Jamie Dornan dan adegan-adegan seksi yang ditampilkan.

Tapi kalau boleh jujur, adegan-adegan seksi yang ditampilkan pun sangat awkward dan menggelikan. Dan ini semua tentunya disebabkan oleh chemistry Dornan dan Johnson yang benar-benar tidak ada “percikannya” sama sekali. Saya yakin kalau chemistry keduanya cukup bagus, film ini bisa menjadi jauh lebih baik.

Sumber: GotCeleb

Sumber: GotCeleb

Nah anehnya, mengapa ketika seluruh kru sudah tahu bahwa film pertamanya mendapat respon yang buruk (saya yakin banget mereka pasti tahu), mereka tidak lantas menghentikan saja proyeknya?

Well, bro sis tidak perlu menjadi jenius film untuk menncari tahu penyebabnya. Semuanya tentu kembali ke “UUD” alias keuntungan box-office yang sangat tinggi. Tercatat, Fifty Shades of Grey sukses menghasilkan $571 juta dan Fifty Shades Darker, sukses menghasilkan hampir $382 juta.

Dan menurut kabar yang saya dapatkan, film penutupnya juga meraih keuntungan yang sama besarnya terlepas baru 3 hari ditayangkan di teater. Menurut data yang saya dapatkan, hingga tulisan ini diturunkan, Fifty Shades Freed telah sukses meraup untung hampir sebesar $140 juta.

Sumber: Variety

Sumber: Variety

Alhasil. kini kita kembali ke pertanyaan awal. Mengapa bisa sampai untung banyak seperti itu ya? Well, saya tidak mengetahui secara pasti. Tapi kalau menurut saya, hal ini difaktori oleh keinginan sebagian besar audiens (terutama audiens wanita) yang hanya ingin melihat wajah tampan Dornan saja.

Ya tidak salah dan tidak mengapa juga bro sis. Namun kalau kita pikir lagi, apa tidak sayang sudah menghabiskan biaya dan tenaga ke teater hanya untuk menyaksikan film ini dengan alasan demikian dan bukan karena untuk mengikuti plot-nya? Oke mungkin ada sebagian audiens yang memang mengikuti dan senang dengan ceritanya. Tapi ya kalau kita mau bicara jujur, sepertinya tipe audiens yang demikian untuk trilogi film ini, bisa dihitung dengan jari.

Sumber: DenofGeek

Sumber: DenofGeek

Namun ya terlepas apapun faktor / alasannya, toh pada akhirnya, dengan membludaknya jumlah audiens yang menyaksikan, seluruh bintangnya (terutama Johnson dan Dornan) makin tajir bukan?

Dan kini, mungkin yang bisa kita simpulkan dari kasus ini adalah bahwa trilogi Fifty Shades, bisa dijadikan pembelajaran atau mungkin “tamparan” keras bagi Hollywood bahwasanya, tidak semua novel sukses, lantas bisa sukses juga ketika diadaptasikan ke layar lebar. Spesifiknya, tidak semua kisah novel yang menarik dan laku di pasaran, juga akan mendulang kesuksesan yang sama ketika diadaptasikan ke layar lebar. Ada kalanya, apa yang sudah bagus di atas kertas, memang harus tetap di atas kertas.

Nah sekarang bagaimana nih pendapat bro sis dengan studi kasus ini? Silahkan sampaikan komentarnya ya!

About Author

Marvciputra

Marvciputra

Entertainment Reviewer, WWE Lovers and Music-holic

Comments

Most
Popular

Dua raksasa industri komik superheroes Amerika. Sumber gambar: medium.com

DC Comics VS Marvel Comics: Dua Tetangga Yang Jarang Akur

Kemiripan dan persamaan yang terjadi dalam komik-komik DC Comics vs Marvel Comics membentuk kubu-kubu fans garis keras y.. more

source 1: twitter @konotaromp

Kabar Terbaru Tentang Pikachu, Dari Maskot Hingga Live Action.

Bro sis sudah tahu belum, kalau Hello Kitty dan Pikachu dipilih sebagai tokoh ambassador dari kota di Jepang yaitu Osaka.. more

Berbagi Kebaikan #UntukSemua Lewat Komik

Ramadan telah tiba! Saatnya berbagi kebaikan #untuksemua. Tapi, kebaikan nggak harus dilakukan dalam bentuk materi aja, .. more

Nah, festival pasti identik dengan makanannya dong? Biasanya makanan di festival sedikit berbeda dengan menu restaurant pada umumnya. Makanan festival lebih affordable dan gak terlalu berat, layaknya hanya sebagai jajanan dan snack.

10 Makanan Populer Khas Festival Jepang. Kamu Suka yang Mana?

Nah, festival pasti identik dengan makanannya dong? Biasanya makanan di festival sedikit berbeda dengan menu restaurant .. more

(from : newweaboo.com)

Apakah Kamu Termasuk Seorang Weeaboo??

Weeaboo sering disamakan dengan Wapanese yang berarti “Want to be Japanese” atau "Japanese Wannabe" atau "orang Jepa.. more