Review Film Gundala: Harapan Baru Film Superhero Indonesia

3 weeks ago
review film gundala

Masalah dari beberapa film superhero asal Indonesia adalah presentasi keseluruhannya yang sampai saat ini rasanya masih belum memuaskan. Dalam artian, film-film tersebut terasa corny dan nonsense dari sisi penceritaan. Sisi visual pun tidak bisa mengimbangi naskahnya dengan berkompromi menggunakan CG visual seadanya. Namun semua itu berubah ketika film Gundala hadir di tahun 2019 ini.

Film Gundala garapan Bumilangit dan Screenplay Pictures ini berbeda dengan film Gundala Putra Petir versi Teddy Purba tahun 1981. Merupakan film pertama dalam rangkaian Jagat Sinema Bumilangit, film Gundala yang diarahkan sutradara Joko Anwar ini bakal menghadirkan sebuah origin story superhero lokal yang diciptakan salah satu maestro komik Indonesia Hasmi.

Putra Petir

Film Gundala berkisah tentang Sancaka, pemuda yang memiliki masa lalu gelap. Ayahnya yang buruh pabrik tewas dalam sebuah demonstrasi, sementara ibunya menghilang entah kemana. Sancaka kecil bertahan hidup di jalanan hingga akhirnya tumbuh dewasa dan bekerja sebagai satpam di sebuah percetakan surat kabar.

Sejak kecil, Sancaka memiliki ketakutan akan hujan. Menurutnya, petir dan halilintar selalu mengincar dirinya. Ketakutan ini terbawa sampai dewasa, dan di satu kesempatan Sancaka memang benar-benar disambar petir saat hujan.

Petir tersebut ternyata tidak membuat Sancaka gosong, malah membuat tubuhnya semakin kuat serta menyembuhkan luka-lukanya. Hal ini dibuktikan saat Sancaka tak sengaja berurusan dengan sekelompok preman pasar. Sancaka yang sepanjang hidupnya memilih untuk apatis untuk bertahan hidup, kini memiliki kekuatan untuk menjadi seseorang yang peduli akan orang-orang di sekelilingnya.

Baca Juga: Trailer Gundala Tampilkan Asal-usul Sancaka yang Keras

Patriot Inspirator

Abimana perankan sosok Sancaka yang bimbang akan sikapnya di dunia ini. Sumber: Lasak
Abimana perankan sosok Sancaka yang bimbang akan sikapnya di dunia ini. Sumber: Lasak

Sosok karakter Gundala hadir dalam setting dunia yang cukup memprihatinkan. Indonesia digambarkan sebagai negara tanpa hukum, dengan kekerasan terjadi dimana-mana dan para politikusnya yang tidak melakukan apapun. Rakyat menjadi korbannya, dan mereka membutuhkan sosok seperti Gundala sebagai inspirasi bagi rakyat untuk berdiri membela dirinya sendiri.

Mungkin seperti itulah pesan moral yang ingin disampaikan Joko Anwar lewat film Gundala. “Negeri Ini Butuh Patriot,” begitu slogan film ini yang juga menampilkan kata kunci Patriot sebagai film pertama di Era Patriot dalam Jagat Sinema Bumilangit. Gundala sebagai film pertama dalam rangkaian film superhero garapan Bumilangit ini diharapkan bisa jadi lecut; inspirasi bangkitnya film-film superhero Indonesia lainnya yang memang sudah masuk ke dalam roadmap Jagat Sinema Bumilangit.

Usaha tersebut bukan main-main. Di tangan Joko Anwar, film Gundala terasa sangat grounded dan segar. Jika biasanya kisah-kisah superhero dijadikan media power fantasy untuk menciptakan sosok manusia super yang badass banget, Gundala justru ditampilkan sebagai superhero dengan latar belakang kerah biru.

Sancaka bukan seorang dari kalangan elit (meskipun origin story Gundala dalam komiknya merupakan seorang ilmuwan). Ia hanya seorang satpam yang berasal dari keluarga buruh. Itu pun kalau masih ada keluarganya. Meskipun melarat, Sancaka selalu menanamkan sifat peduli sehingga ketika ia mendapatkan kekuatan petir tersebut, ia menggunakannya untuk melawan ketidak adilan.

Baca Juga: Komik Origins: Gundala

Superhero Silat

Gundala tidak terlalu menggemborkan kekuatan supernya di sini. Sumber: USS Feed
Gundala tidak terlalu menggemborkan kekuatan supernya di sini. Sumber: USS Feed

Menggandeng Cecep Arief Rachman sebagai stunt coordinator, film Gundala secara mengejutkan memiliki adegan aksi yang cukup memukau. Terdapat variasi adegan berantem kolosal hingga level individual, yang mana semuanya terasa greget. Sancaka misalnya, bahkan tanpa kekuatan petirnya pun ia masih bisa menang bertarung melawan dua-tiga orang preman.

Silat memang menjadi faktor dominan dalam adegan baku hantamnya. Sebagai sebuah film origin story, Gundala seakan ingin “menyimpan” seluruh kekuatannya sehingga aksinya kebanyakan didominasi tarung jarak dekat. Dalam film ini, Sancaka belum bisa mengendalikan kekuatannya dan mencoba memahami sendiri berbagai kelebihan serta kelemahan yang ia miliki.

Joko Anwar ingin film Gundala asyik ditonton orang dewasa dan anak-anak, sehingga meskipun film ini minim penggambaran darah, namun adegan aksinya tidak melempem sama sekali. Beberapa adegan tarungnya memang terkesan cukup sadis, namun Joko Anwar sudah berusaha untuk menjaganya tetap greget dan PG-rated.

Masalah Jagat Sinema

Sancaka mendapatkan kekuatan Gundala. Sumber: Screenplay Films
Sancaka mendapatkan kekuatan Gundala. Sumber: Screenplay Films

Sejak awal, film Gundala memang didapuk untuk meng-kickstart film-film superhero Bumilangit lainnya dalam Jagat Sinema Bumilangit. Walaupun ide untuk membuat rangkaian film superhero ala MCU terdengar cukup keren, namun eksekusinya tidak segampang mengumpulkan seabrek karakter lalu menampilkannya dalam satu film crossover puncak.

Satu alasan kenapa format ala MCU berhasil, adalah karena ia fokus dulu pada karakter utama satu film tanpa terlalu banyak menyinggung karakter utama lain yang bahkan filmnya saja belum ada. Film Gundala nampaknya mengambil rute sebaliknya, dimana dunianya dulu yang dibentuk barulah memasukkan karakternya.

Sebelum film Gundala rilis tanggal 29 Agustus ini, Jagat Sinema Bumilangit telah diceritakan terbagi dalam tiga era utama: Jawara, Patriot, dan Revolusi. Sebenarnya tidak masalah jika ingin memasukkan referensi atau cameo karakter yang mungkin belum dipahami/dikenal penonton. Asal, kembali lagi ke fokus utama yaitu karakter serta ceritanya. Film Gundala memang mampu menyajikan origin story Sancaka yang bertransisi menjadi Gundala – namun sampai 2/3 filmnya saja.

Pengkor, diperankan Bront Palarae. Sumber: Screenplay Films
Pengkor, diperankan Bront Palarae. Sumber: Screenplay Films

Latar belakang karakter Sancaka hingga cara dia beradaptasi dengan perubahan tubuhnya memang ditampilkan dengan oke, namun pengembangan motivasi karakternya sayangnya agak melempem. Sancaka seakan tidak punya goal yang jelas, dimana tujuan utamanya berubah seiring dengan situasi yang ia hadapi. Ia dihadapkan dengan beberapa masalah sampai-sampai bingung ingin menyelesaikan yang mana dulu.

Akibatnya, ada plot yang tidak terselesaikan bahkan hingga akhir film. Ending film lebih terasa sebagai sebuah serial episodik dengan cliffhanger yang bikin gregetan kesal daripada bikin gregetan penasaran. Lagi-lagi ini kelemahan film dengan format cinematic universe dimana satu plot yang tak terselesaikan diharapkan bisa tuntas di film selanjutnya.

Baca Juga: Jagat Sinema Bumilangit Jilid 1 Diluncurkan

Kesimpulan

Suasana gala premiere film Gundala. Sumber: Poplicist
Suasana gala premiere film Gundala. Sumber: Poplicist

Mungkin beberapa hal yang membuat saya sedikit kecewa dengan film Gundala adalah ekspektasi yang sedikit terlalu besar. Jujur saya belum pernah menonton film Joko Anwar selain Gundala, dan dengan berbagai kritik positif dari film-film sebelumnya membuat saya optimis dengan film Gundala. Akhirnya ada film superhero Indonesia yang nggak malu-maluin, pikir saya.

Setelah berkesempatan nonton langsung film Gundala dalam media screening tanggal 28 Agustus lalu, apakah penilaian saya berubah? Rasanya tidak. Kita tidak bisa mengharapkan semua film sempurna 100%. Memang Gundala punya beberapa kelemahan, terutama di sepertiga akhir film. Namun hal itu tidak membuat Gundala masuk film pantangan para moviegoers.

It’s still a very good movie. Bagaimana cara Joko Anwar meramu origin story Gundala dan memberikannya sebuah presentasi yang matang dan well-crafted, menjadikan Gundala sebuah film superhero yang one of a kind. Kamu akan merasakan momen-momen mendebarkan, lucu, hingga mencekam. Jika kamu merupakan fans Bumilangit atau Joko Anwar, berbagai hal-hal kecil seperti easter egg dan spoof bisa jadi hiburan tersendiri.

Akhir kata, film Gundala bakal menjadi awal bagi film-film superhero Indonesia berkualitas di masa depan. Film ini bakal jadi semacam benchmark, bahwa untuk bikin film superhero yang nggak malu-maluin, minimalnya cobalah untuk bisa menyajikannya dalam kualitas setara atau lebih oke dari Gundala. Jika ada film yang mampu melakukannya, buka tidak mungkin generasi mendatang bakalan bangga menyebut Gundala sebagai superhero favoritnya.

About Author

Meka Medina

Meka Medina

Penulis cerita untuk circle Rimawarna. Biasanya suka bolak-balik antara Bandung-Jakarta, namun bisa juga teleport ke Tenggarong. Jangan tanya kenapa.

Comments

Most
Popular

(source 1: m.korea.net)

Seberapa Penting Olympic Winter Games untuk Korea Selatan?

Korea Selatan lagi giat-giatnya mempromosikan Olympic Winter Games yang ke-23. Kompetisi olahraga ini nantinya bakal dia.. more

Lowongan Kerja Programmer di Startup Ini Tidak Membutuhkan Ijazah Sama Sekali

Apakah kamu seorang drop out, tidak pernah kuliah atau memang lagi skripsi nunggu sidang namun memiliki skill programmin.. more

Ngobrol Bareng Komikus Cantik Bergenre Ganda

Yuk, ngobrol bareng komikus cantik yang multitalenta ini. Nan Nan selalu membuat ilustrasi dan komik lewat dua genre yan.. more

00-d-2001-a-space-odyssey

Film Sci-fi Klasik 2001: A Space Odyssey Kini Berusia Setengah Abad

Merayakan 50 tahun usia film 2001: A Space Odyssey, Christopher Nolan mempersembahkan versi remaster film sci-fi klasik .. more

dilan 1991

Kalahkan Infinity War, Dilan 1991 Pecahkan Rekor Box Office Indonesia

Dilan 1991 berhasil meraih 800 ribu penonton di hari pertama serta premiere. Ini adalah rekor box office Indonesia, meng.. more