Film Indonesia dari Sumba sampai Praha

8 months ago
Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (Sumber: Variety)

Ada dua film di tahun 2017 yang mengangkat Sumba, yaitu “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” karya Mouly Surya dan “Susah Sinya”l karya Ernest Prakasa, yang kayaknya, lagi mengikuti jejak Raditya Dika, sebagai komika yang sukses membuat film. Hehe.

Film “Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak” bahkan bukan hanya menjadikan Sumba sebagai latar tempat, tapi juga mengangkat isu sosial disana. Dan film ini pun sudah keliling festival-festival film dunia, salah satunya Toronto Film Festival. Keren abis, ya!

Selain itu, ada film “Humba Dreams” karya sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana, yang meskipun masih simpang siur kapan naik ke layar lebar atau hanya akan tayang di festival, tetapi sedang dalam tahap produksi. Ditunggu saja, ya.

Susah Sinyal (sumber: hot.detik.com)

Susah Sinyal (sumber: hot.detik.com)

Laskar Pelangi dan AADC 2 

Film dapat mempunyai pengaruh besar untuk meningkatkan pariwisata tempat lokasi syuting film tersebut, sebut saja Laskar Pelangi dan Ada Apa Dengan Cinta 2 karya Riri Riza dan Mira Lesmana.

Riri Riza dan Mira Lesmana dalam set produksi Humba Dreams (sumber: entertainment.kompas.com)

Riri Riza dan Mira Lesmana dalam set produksi Humba Dreams (sumber: entertainment.kompas.com)

Dua film itu berhasil mengangkat pariwisata tempat syuting dua film tersebut, Bangka Belitung dan Yogyakarta. Laskar Pelangi bahkan membuat Bangka Belitung yang awalnya tidak banyak dikenal orang menjadi ramai di datangi banyak wisatawan. Apalagi Laskar Pelangi sempat menjadi film Indonesia terlaris! (Sebelum Warkop DKI Reborn akhirnya membuat posisinya turun)

Salah satu tempat lokasi syuting Laskar Pelangi yang biasa didatangi wisatawan sampai sekarang adalah pantai Tanjung Tinggi, pantai dengan batu-batu besar tempat Ikal, Lintang, dan Mahar dan murid-murid SD Muhammadiyah Gantong lainnya biasa bermain.

Laskar Pelangi (sumber: tribunnews.com)

Laskar Pelangi (sumber: tribunnews.com)

Pantai Tanjung Tinggi (sumber: travel.kompas.com)

Pantai Tanjung Tinggi (sumber: travel.kompas.com)

Untuk Ada Apa Dengan Cinta 2, tempat pariwisata yang berhasil diangkat adalah beberapa lokasi seru di Yogyakarta, seperti Sate Klatak Pak Bari, Istana Ratu Boko, Gereja Ayam, Punthuk Setumbu, hingga Papermoon Puppet Theater.

Tempat itu adalah tempat-tempat yang dikunjungi Rangga dan Cinta yang berawal dari pertemuan mereka yang tidak disengaja di Yogyakarta. Di tempat-tempat itu, para wisatawan melakukan napak tilas perjalanan nostalgia Rangga dan Cinta. Eaa.. Hati-hati baper, ya.

Rangga dan Cinta (sumber: rappler.com)

Rangga dan Cinta (sumber: rappler.com)

Film Indonesia Berlatar Luar Negeri

Selain tempat-tempat menarik di dalam negeri, film Indonesia akhir-akhir ini juga banyak mengambil tempat syuting di luar negeri, macam-macam topik yang diangkat; mulai kisah percintaan, biopik salah satu mantan presiden Indonesia, hingga eksil ‘65 yang terbuang.

Sebut saja Bulan Terbelah di Langit Amerika yang mengambil tempat syuting di Amerika, Killers atau Kirazu yang mengambil tempat syuting di Jepang, Rudy Habibie yang mengambil tempat syuting di Jerman, Surat dari Praha yang mengambil tempat syuting di Praha.

Tio Pasukadewo! Duh sayang banget ya harus ketangkap karena narkoba. Jangan sampai terulang lagi, ya, pak! (sumber: twitter.com)

Tio Pasukadewo! Duh sayang banget ya harus ketangkap karena narkoba. Jangan sampai terulang lagi, ya, pak! (sumber: twitter.com)

Tapi jangan salah sangka, lho. Syuting film di luar negeri ternyata cenderung lebih murah! Kok bisa? Ada beberapa alasannya.

Pertama, perijinan yang susah dan ribet, bahkan menurut seorang produser, lebih mudah mengurus perijinan film di New York daripada di Jakarta. Di New York, bahkan tidak perlu city permit untuk film yang dibuat pelajar atau mahasiswa. Widih!

Kedua, sudah ijinnya susah, sewanya mahal, pula. Ody C. Harahap, sutradara Tampan Taylor bahkan mengatakan bahwa dia pernah menghabiskan 80 juta untuk syuting di satu lokasi saja. Ketiga, sudah sewanya mahal, seringkali ada preman atau ormas minta jatah! 

Terakhir dan mungkin yang paling penting, kurangnya bantuan pemerintah untuk membuat film sebagai penarik wisatawan. Beda banget, dengan beberapa negara di luar negeri seperti Korea Selatan, Jepang, dan Singapura yang bahkan mengembalikan uang produksi sekian persen jika mempromosikan tempat wisata setempat. Syuting Susah Sinyal yang mempromosikan Sumba bahkan tidak didukung fasilitas yang memadai.

***

Kayaknya pemerintah dan Bekraf perlu banyak berbenah deh, jangan sampai sutradara kita kabur syuting ke luar negeri karena susahnya membuat film di negeri sendiri.

Tapi, kita juga jangan lupa mendukung semampu kita, masa film karya anak bangsa seperti “Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak” kemarin, cuma dapat puluhan ribu penonton? Kalah saing dengan film-film dari luar.

Jangan cuma ramai-ramai menulis di media sosial dengan tagar #DukungFilmIndonesia, eh gaktaunya film-film Indonesia yang kita dukung bukannya syuting di negeri sendiri, tapi syuting di negeri orang. Kalau bro sis sendiri gimana? Yuk, berikan komentar!

About Author

Muhammad Al Fatih Hadi

Muhammad Al Fatih Hadi

Mempunyai dua nama panggung yaitu Nocturne dan Buluidung. Book nerd, movie freak. Sedang merantau ke Al-Ain, Uni Emirat Arab, entah sebagai pelajar atau sebagai TKI. Jika tertarik menghubunginya, bisa lewat akun instagramnya @Fatihnokturnal14. Jika tidak tertarik, ya sudah.

Comments

Most
Popular

Game “Battlefield V” Diumumkan dan Akan Memiliki Beberapa Perubahan

Game terbaru dari serial Battlefield diumumkan berjudul “Battlefield V”. “Perubahan” terjadi di timeline, dimana.. more

Gal Gadot Menyelamatkan Wonder Woman dari Patty Jenkins

Wonder Woman sudah sepantasnya dibuat sempurna. Saya akan menulis review film Wonder Woman garapan Patty Jenkins sesuai .. more

Grup band J-Rock paling kondang sejagat. Sumber gambar: larc-en-ciel.com

L’Arc~en~Ciel: Grup Band J-Rock Gaek Yang Tetap Bertahan

Seharusnya grup J-Rock legendaris seperti L’Arc~en~Ciel, alias “Laruku”, tidak memerlukan introduksi lagi... more

Wonder Boven Wonder: Serasa Kembali ke Jaman Dulu!

Tuan, Nona, apakah Anda tidak penasaran, kira-kira apa aja ya yang terjadi 100 tahun yang lalu di Indonesia?.. more

00-d-wotaku-ni-koi-wa-muzukashii

Review Anime Wotaku ni koi wa Muzukashii: Ketika Otaku Jatuh Cinta

Bekerja di kantor sama, cowok-cewek ini ternyata menyadari jika mereka adalah otaku! Simak selengkapnya di Wotaku ni Koi.. more