Film Mute dari Netflix, Potensi Besar yang Penuh dengan Angan-Angan

4 months ago
Sumber: screenrant.com

Netflix memang selalu berhasil menciptakan gaya tarik yang luar biasa terhadap film-film yang mereka produksi. Judul-judul film besar, aktor dan aktris ternama, hingga pada sutradara ternama berhasil mereka “bujuk” untuk bisa menghasilakan film berkualitas yang membuat para penonton tidak ingin berhenti berlangganan saluran mereka.

Kali ini giliran Duncan Jones yang berhasil Netflix ajak  untuk menjadi sutradara dalam film berjudul “Mute”. Nama Duncan Jones cukup membuat penulis tertarik untuk menonton film ini. Beberapa film Duncan Jones seperti “Moon”, “Source Code”, dan “Warcraft: The Beginning” yang fenomenal itu, menjadi semacam gambaran bahwa “Mute” pun akan hadir dengan cerita yang seru serta twist yang tidak terduga.

Sumber: nerdist.com

Sumber: nerdist.com

Mute” adalah film sejenis “Altered Carbon” dan “Blade Runner 2049” yang mengusung genre cyberpunk. Apa yang kalian bayangkan tentang genre cyberpunk? Pasti gak jauh dari hal-hal seperti misteri, sci-fi, potret kehidupan moderen, serta kebrutalan kisah yang penuh dengan adegan sadis. “Mute” memang akan membawa kita masuk ke dunia yang demikian, namun dengan angan-angan berlebihan.

Pada mulanya “Mute” menyinggung tentang keyakinan di era yang “mungkin” keyakinan bukanlah lagi hal yang bisa dipercaya oleh banyak orang. Terdengar sangat menarik, kan! Bercerita tentang seorang lelaki bernama Leo (Alexander Skarsgard), kalau kalian tidak tahu siapa Alexander mungkin karakter Eric dalam serial “True Blood” bisa membantu kalian untuk mengenalinya.

Sumber: screenrant.com

Sumber: screenrant.com

Semasa kecil Leo mengalami kecelakaan di sebuah sungai yang menyebabkan pita suaranya rusak dan ia bisu. Pada masa itu kerusakan pita suara semacam itu bisa ditangani namun karena Leo adalah seorang Amish maka orang tuanya tidak ingin pita suara itu diganti dengan alat pengganti pita suara.

Maklum, orang Amish adalah sebuah denominasi Kristen Anabaptis yang hidup di wilayah Amerika Serikat dan Ontario, Kanada. Mereka terkenal karena pembatasannya terhadap penggunaan peralatan moderen (ini fakta!).

Sumber: www.theverge.com

Sumber: www.theverge.com

Sampai di sini potensi cerita terasa cukup bagus, genre cyberpunk dipadukan dengan kepercayaan orang Amish sungguh menjadi kombinasi yang sulit ditebak. Namun bukannya mempertahankan tema pembuka yang menarik itu, “Mute” malah meloncat pada kehidupan Leo setelah dewasa. Penulis sih masih berharap, pembuka diawal masih akan memberikan dampak yang besar pada kisah yang menjadi sajian utama film ini.

Namun apa boleh dikata, kolaborasi Michael Robert Johnson selaku screenplay dengan Duncan Jones  tidak berhasil menyuguhkan cerita yang lebih baik dan malah membuat dunia masa depan penuh potensi terasa kosong.

Tema sci-fi sebenarnya punya banyak peluang untuk menghadirkan cerita tidak terduga sebab di dunia yang futuristik banyak hal tidak masuk akal bisa dilakukan. Seperti pada “Altered Carbon” yang mengeksplorasi tentang kehidupan abadi dengan cara yang menarik namun juga memberikan gambaran bahwa hidup abadi itu banyak kelemahannya. Atau seperti “Blade Runner 2042” banyak membahas tentang kecerdasan buatan yang berkemungkinan bisa memiliki perasaan.

Sumber: nerdist.com

Sumber: nerdist.com

“Mute” berdiri dengan hal-hal yang dimiliki oleh “Altered Carbon” dan “Blade Runner 2042”. Isu tentang tentara Amerika serta pemberontakan sempat tampil lewat sebuah acara berita saat Leo sedang sarapan di sebuah restoran, atau cerita tentang pergantian bagian tubuh semacam tangan dan kaki robot juga sempat muncul beberapa kali dalam beberapa scane dan dialog. Akan tetapi “Mute” menjadikan itu semua seperti sebuah pemanis yang memang harus ada di dunia futuristik lalu mengesampingkannya begitu saja.

Bukanlah hal salah jika Duncan Jones mencoba lebih fokus pada kisah Leo untuk menemukan perempuan yang dicintainya. Romantisme memang selalu diperlukan dalam sebuah film semacam ini, akan tetapi Duncan Jones seakan lupa bahwa dia punya dunia yang lebih luas dan menarik untuk dijadikan pondasi konflik kisah cinta Leo bersama Naadirah (Seyneb Saleh).

Sumber: www.digitalspy.com

Sumber: www.digitalspy.com

Lalu mulailah “Mute” menjadi sangat membosankan. Kisah pencarian Leo pada Naadirah dicoba dibumbui dengan aksi pertarungan, namun terasa sangat aneh dan bahkan tidak masuk akal. Sebab sedari awal tidak pernah diceritakan bahwa Leo punya keahlian luar biasa dalam pertarungan. Berbeda halnya dengan “Altered Carbon” yang menceritakan tentang seorang tentara di masa lalu. Leo dengan mudah mengalahkan musuh-musuhnya. Benar-benar jadi sangat membosankan.

Penulis sendiri berpikir agak absurd soal hal ini. Mungkin saja Duncan Jones ingin menyampaikan kepada kita bahwa seseorang yang sedang jatuh cinta. bisa tiba-tiba handal dalam pertarungan. Tapi kelihatannya konyol sekali. “Cinta itu buta, tapi tidak akan membuat kalian bisa menjadi petarung yang hebat jika sebelumnya kalian bukanlah seorang petarung!”

Penulis sendiri adalah tipe penonton yang selalu berharap, jika sebuah film punya banyak hal buruk di awal dan tengah, mungkin saja dibagian akhir akan memberikan kejutan yang benar-benar tidak terduga. “Mute” memang mencoba untuk melakukan itu, dengan memberikan twist yang tidak terduga, akan tetapi penceritaan yang berputar-putar dan tidak terselamatkan membuat twist dalam “Mute” terasa tidak begitu berarti.

Menonton “Mute” seperti melakukan perjalanan ke dunia modern yang lengkap dan banyak hal luar biasa, tapi mengabaikan semua potensi itu begitu saja dan malah fokus kepada hal yang tidak penting. Untuk kali ini Netflix benar-benar tidak bisa dikatakan sukses menghadirkan sesuatu yang luar biasa. Saya rasa ini hampir mengecewakan!

Tidak ada yang sempurna memang di dunia ini, sama seperti karakter Leo yang bisu dan tidak sempurna. Walau kekuatan cinta yang tertanam di hati Leo bisa menjadi alasan kalian untuk juga percaya bahwa kalian juga ingin merasakan cinta untuk menonton film ini. Cinta yang menurut saya lebih tepat dikatakan semacam hati yang retak bagai tilda-tilda!

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

Sumber gambar: newegg.com

AMD akan Meningkatkan Produksi Graphic Card untuk Mengatasi Kelangkaan Akibat Cryptomining Seperti Bitcoin

Situasinya mungkin tidak terasa oleh publik (jika dibandingkan misalnya dengan kelangkaan bahan makanan pokok) tapi kela.. more

CIAYO Comics dan Pionicon Merilis Komik Si Juki & Mang Awung

CIAYO Comics, bekerjasama dengan Pionicon, merilis komik baru berjudul: Si Juki & Mang Awung.. more

5 Hal yang Bisa Membuatmu Penasaran dan Menonton Film The Killing of a Sacred Deer

Bro sis ada yang sudah menonton film The Killing of a Sacred Deer? Bagi yang sudah menonton, kira-kira ada gak hal-hal m.. more

(from : hdbackgroundpictures.com)

[DISTURBING KONTEN, KHUSUS 21+] 9 Serial Anime Tersadis Sepanjang Masa

Genre gore dalam anime memang tidak terlalu banyak disukai oleh para anime lovers. Namun tidak sedikit pula yang menyuka.. more

(Sumber: Themarysue.com)

Spiderman Homecoming: Spiderman Millennial Ala Tom Holland (NO SPOILERS)

Terdapat sedikit keraguan saat pihak Marvel mengumumkan bahwa Tom Holland lah yang akan memerankan tokoh utama di film S.. more