Film Tengkorak: Menyinggung Kepercayaan Manusia

4 weeks ago
00-d-film-tengkorak

Film Tengkorak merupakan pengalaman sekali seumur hidup, setidaknya buat saya. Saat film ini tayang tanggal 18 Oktober lalu untuk publik, saya merasa harus menonton film tersebut sekarang juga atau besok bisa jadi tidak ditayangkan lagi.

Bagaimana tidak, film Tengkorak memiliki aura-aura yang mirip dengan film Battle of Surabaya. Keduanya dikerjakan dalam lingkup akademisi, dimana Tengkorak merupakan produksi Sekolah Vokasi Universitas Gajah Mada dan dikerjakan oleh para mahasiswa serta dosennya. Keduanya pun dikerjakan dengan dana terbatas dan sumber daya yang ada. Begitu pula ketika rilis, Tengkorak lebih dulu malang melintang di festival film dan meraih berbagai penghargaan.

Harus diakui, film arahan dosen Yusron Fuadi ini terlihat sangat menarik karena menjual premis yang cukup bombastis. Bayangkan gempa di Yogyakarta tahun 2006 lalu ternyata menguak sebuah penemuan yang sangat mencengangkan. Sebuah fosil tengkorak manusia sepanjang dua kilometer tersembunyi di balik sebuah bukit!

Bukit tengkorak yang menggemparkan dunia. Sumber: Genmuda

Bukit tengkorak yang menggemparkan dunia. Sumber: Genmuda

Kemunculan tengkorak ini membuat seisi dunia gempar. Sains dan agama ditantang oleh kehadiran tengkorak tersebut. Pemerintah mencoba menyembunyikan hal ini, namun hal tersebut percuma saja. Langkah selanjutnya, pemerintah membentuk Balai Penelitian Bukit Tengkorak (BPBT) untuk meneliti tengkorak tersebut dan mencari tahu kebenaran di baliknya.

Di tahun 2021, penelitian BPBT terancam dihentikan karena Indonesia mendapatkan ultimatum dari IMF. Pemerintah dijanjikan akan bebas dari hutang moneter dan akan mendapatkan kompensasi uang apabila pemerintah bersedia menghancurkan fosil tengkorak tersebut. Selain itu, kemunculan sekte pemuja tengkorak serta demonstrasi serentak di berbagai kota membuat situasi negara menjadi tidak kondusif.

Niat Ani untuk magang terhenti karena terjebak dalam konflik bukit tengkorak. Sumber: Tengkorak

Niat Ani untuk magang terhenti karena terjebak dalam konflik bukit tengkorak. Sumber: Tengkorak

Kisah Tengkorak akan fokus pada sosok Ani (Eka Nusa Pertiwi), mahasiswi yang memutuskan untuk magang di BPBT untuk mencari pengalaman. Hubungan Ani dengan profesor Philip (Wolfram Stanek) yang bekerja di sana berbuntut panjang setelah satu per satu pegawai BPBT diburu oleh Tim Kamboja. Tim ini terdiri dari para preman dan orang biasa yang dibayar pemerintah untuk melenyapkan ancaman-ancaman nasional.

Saat Ani hampir dibunuh oleh seorang anggota Tim Kamboja, ia justru diselamatkan oleh anggota Tim Kamboja lain bernama Yos (Yusron Fuadi). Yos kemudian membawa Ani kabur ke tempat Letnan Jaka (Gus S. Mana) yang merupakan mentor Yos. Dalam persembunyian, Ani dan Yos harus segera mencari tahu apa yang Tim Kamboja inginkan dari Ani. Namun yang mereka tidak tahu, hal tersebut merupakan kunci dari rahasia yang menyelimuti fosil tengkorak tersebut.

Baca Juga: Seram! Kengerian Game DreadOut Segera Merambah Layar Lebar!

Ani dalam persembunyian. Sumber: Tengkorak

Ani dalam persembunyian. Sumber: Tengkorak

Meski diposisikan sebagai sebuah film indie, Tengkorak punya ide-ide ambisius dengan eksekusi yang juga penuh totalitas. Memanfaatkan budget sekitar 500 juta Rupiah, proses kreatif film Tengkorak mengandalkan berbagai teknologi dan teknik sinematografi kekinian. Kamu bisa melihat berbagai practical effect serta 3DCG yang dieksekusi lumayan baik. Angle kamera banyak mengambil adegan statis, namun memberikan semacam nuansa mencekam dari sisi auranya.

Teknik penceritaan juga menarik, dimana Yusron Fuadi memanfaatkan potongan berita dan mockumentary untuk menjelaskan setting cerita, sehingga para karakter tak perlu menjelaskannya kembali dan mereka bisa fokus pada penyelesaian konflik. Namun sayangnya, plot yang disajikan terasa cukup lemah.

Chemistry antara Ani dan Yos jadi pedang bermata dua bagi film Tengkorak. Sumber: Tengkorak

Chemistry antara Ani dan Yos jadi pedang bermata dua bagi film Tengkorak. Sumber: Tengkorak

Ada beberapa plot hole sepanjang film yang terasa tidak masuk akal. Ani jadi salah satu penyumbang terbesar masalah ini karena reaksi yang ia tampilkan sepanjang film tidak terlihat seperti seorang buronan yang nyawanya tengah diancam. Yos pun tidak punya motif yang kuat akan alasannya menyelamatkan Ani dari Tim Kamboja.

Meski demikian, dialog dan interaksi karakter harus diacungi jempol. Chemistry antara Ani dan Yos yang punya idealisme berbeda, atau hubungan ayah-anak Yos dan Jaka sangat fluid. Hampir 50% dialog dalam film Tengkorak dituturkan dalam bahasa Jawa, dan dialog yang dilontarkan benar-benar natural sampai ke misuh-misuhnya. Rasanya geli memang, tapi takjub karena kapan lagi bisa melihat film sci-fi dalam bahasa Jawa?

Kemunculan fosil tengkorak membawa keresahan bagi masyarakat. Sumber: Tengkorak

Kemunculan fosil tengkorak membawa keresahan bagi masyarakat. Sumber: Tengkorak

Walaupun masih punya cela, premis dan konsep yang disajikan film Tengkorak sangatlah segar. Tidak banyak sineas Indonesia yang berani mengangkat topik yang sangat menyinggung kepercayaan manusia akan sains dan agama. Apakah agama bisa ditakar dengan sains? Apakah sains mendukung agama? Kombinasi antara drama thriller dengan sentuhan sains fiksi serta unsur religi menjadikan Tengkorak kompleks, dan dari kompleksitas itu Tengkorak bersinar dan tenggelam.

Kenapa tenggelam? Meskipun berani mengangkat topik yang seakan tabu disentuh para sineas lokal, film Tengkorak seakan masih “ngerem” dengan tafsirannya akan sains dan agama. Yusron Fuadi seakan tahu mana saja elemen yang akan membuat orang sensitif meradang, sehingga penggambaran unsur agama di sini hanya secara eksplisit dan sekilas saja. Sampai akhir film pun, penonton tidak diberi tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik fosil tengkorak tersebut, karena apa yang membuat fosil tersebut spesial tidak pernah ditunjukkan atau dijelaskan.

Sebenarnya masih banyak yang bisa dieksplor dari Ani dan Yos, terutama dari sisi chemistry serta keyakinan mereka. Sumber: Tengkorak

Sebenarnya masih banyak yang bisa dieksplor dari Ani dan Yos, terutama dari sisi chemistry serta keyakinan mereka. Sumber: Tengkorak

Nevertheless, semua kekurangan tersebut tak menghalangi film Tengkorak untuk jadi pengalaman nonton film sekali seumur hidup. Karena ditayangkan di biskop terbatas di kota tertentu saja, kamu harus coba menontonnya jika kebetulan di kotamu ada bioskop yang menayangkan Tengkorak. Dijamin ceritanya bisa bikin tulang-tulangmu bergetar…

Kalau kamu suka dengan cerita seperti film Tengkorak, CIAYO Comics juga punya berbagai komik horror yang nuansanya nggak kalah mencekam! Kamu bisa cek ada komik horror apa saja di web komik gratis CIAYO Comics dengan mengklik gambar di bawah ini.

Banner Komik Horror

About Author

Meka Medina

Meka Medina

Penulis cerita untuk circle Rimawarna. Biasanya suka bolak-balik antara Bandung-Jakarta, namun bisa juga teleport ke Tenggarong. Jangan tanya kenapa.

Comments

Most
Popular

https://www.facebook.com/inariipb/

Inari Matsuri, Event Jejepangan Anak IPB

Gak terasa Inari Matsuri (I-M@TS) semakin dekat! I-M@TS sendiri merupakan acara yang diadakan oleh IPB Nihon Arts and Cu.. more

Bagaimana Rasanya Kalau Idola Kita Ternyata Mantan Pria Yakuza?

Back Street Girls: Saat Idolamu adalah mantan pria Yakuza. Kira-kira seperti apa, ya?.. more

00-d-soft-launching-ponimu

Apa Saja Yang Kamu Dapatkan dari Soft Launching Ponimu?

Bersama dengan soft launching Ponimu, Ponimu juga baru saja menambahkan lebih banyak konten di bulan September!.. more

[KONTEN KHUSUS 18+] Apakah Fan Service di Anime Itu Dibutuhkan???

Pernahkah kalian mendengar istilah Fan Service di anime? Istilah ini sering muncul di forum-forum pecinta manga dan anim.. more

felice blanc

Felice Blanc Hadirkan Karakter Buatan Sendiri ke Dunia Nyata

Saat CIAYO Comics berpartisipasi di event Mangafest Mythophobia November lalu, Maria Megayanti (MM) dari tim CIAYO Blog .. more