Fist of the North Star & Girls’ Last Tour: Dua Pendekatan Berbeda Untuk Kisah Dunia Post Apocalyptic

10 months ago
Sumber gambar: littleanimeblog.com

Manga (dan anime) Jepang sudah terkenal dengan berbagai jenis tema yang mereka angkat menjadi sebuah hiburan visual. Mulai dari android cewek yang bisa berubah wujud jadi jagoan seksi hingga tema yang sebenarnya termasuk suram namun bisa dibuat jadi menarik.

Contoh tema yang seperti ini adalah tema “post apocalypse/apocalyptic” atau dalam bahasa Indonesia sederhananya “pasca kiamat”.

Dunia post apocalypse tentu bukanlah tema baru di jagad hiburan dunia. Film-film Hollywood sudah sering mengangkat tema ini. Post apocalypse merupakan kondisi dimana dunia dalam keadaan berubah total dari tatanan sosial sebelumnya akibat suatu kejadian yang besar dan parah. Bisa berupa perang atau wabah. Intinya sesuatu yang diibaratkan ‘sebuah kiamat’ untuk dunia yang kita kenali sebelumnya.

Ilustrasi post apocalyptic America. Sumber gambar: pinterest.com

Ilustrasi post apocalyptic America. Sumber gambar: pinterest.com

Contoh film dengan tema seperti ini misalnya film klasik Mel Gibson “Mad Max”. Dunia di film itu merupakan contoh mudah seperti apa kondisi ‘post apocalyptic world’. Gersang, suram dan penuh bahaya di berbagai sudut. Ada juga film yang uniknya berasal dari manga Jepang Gunnm/Alita yang juga ber-setting dunia pasca kiamat. Kedua film itu merupakan bagian dari berbagai judul film bertema post apocalypse lain yang diciptakan Hollywood.

Film klasik Mad Max. Sumber gambar: imagesyoulike.com

Film klasik Mad Max. Sumber gambar: imagesyoulike.com

Alita (atau Gunnm) tentu bukan satu-satunya manga dengan tema post apocalypse yang dibuat mangaka Jepang. Dari begitu banyak judul, di tulisan ini saya akan fokus pada dua judul manga yang sama-sama bertema post apocalyptic namun dengan pendekatan (baik cerita, grafis serta tone) berbeda satu sama lainnya. Dua manga tersebut adalah Fist of the North Star / Hokuto no Ken 北斗の拳  dan Girls’ Last Tour / Shoujo Shuumatsu Ryokou 少女終末旅行 .

Hokuto no Ken. Sumber gambar: youtube.com

Hokuto no Ken. Sumber gambar: youtube.com

Shoujo Shuumatsu Ryokou. Sumber gambar: otakubase.altervista.org

Shoujo Shuumatsu Ryokou. Sumber gambar: otakubase.altervista.org

Dikenal di Indonesia dengan judul “Tinju Bintang Utara”, Hokuto no Ken adalah sebuah manga ber-setting dunia pasca kiamat akibat perang nuklir. Manga ini terinspirasi dari film “Mad Max”. Ceritanya sendiri tentang perjalanan Kenshiro, pewaris ilmu bela diri ‘Hokuto Shinken’ yang mematikan. Hokuto Shinken memiliki kemampuan membunuh lawan dengan memanfaatkan titik-titik vital di tubuh manusia (mirip teknik akupuntur). Tubuh manusia yang terkena pukulan atau tendangan Hokuto Shinken akan meledak berkeping-keping.

Hokuto Shinken Hyakuretsu Ken. Sumber gambar: hokuto.wikia.com

Hokuto Shinken Hyakuretsu Ken. Sumber gambar: hokuto.wikia.com

Dalam perjalanannya Kenshiro akan menolong golongan lemah yang teraniaya kelompok-kelompok brutal yang banyak tersebar di berbagai tempat. Perampok, pembunuh dan berbagai jenis penjahat berkeliaran di dunia yang kini menganut hukum rimba: Siapa yang kuat akan memangsa yang lemah. Kenshiro juga akan bertemu saudara-saudara seperguruannya (dan berkonfrontasi dengan mereka) selain para satria ilmu bela diri aliran lain selain Hokuto Shinken.

Manga shonen dengan background post apocalyptic world. Sumber gambar: pinterest.com

Manga shonen dengan background post apocalyptic world. Sumber gambar: pinterest.com

Bagaimana dengan Girls’ Last Tour?

Girls’ Last Tour. Sumber gambar: steamcommunity.com

Girls’ Last Tour. Sumber gambar: steamcommunity.com

Kisah di manga ini juga ber-setting dunia ‘pasca kiamat’, namun situasi yang digambarkan berbeda dengan Hokuto no Ken. Dunia di Girls’ Last Tour digambarkan sepi. Tokoh utama di manga ini hanya ada dua gadis muda, Yuuri dan Chito, dimana mereka melakukan perjalanan dengan Kettenkrad (sejenis becak bermotor modifikasi). Dunia dimana Yuuri dan Chito berada tidak hancur lebur seperti Hokuto no Ken, namun dunia itu kosong melompong. Dan juga gersang. Jadi kedua gadis ini mencari makanan dari sisa-sisa peninggalan yang ada (ransum & makanan kalengan). Tidak diketahui apa penyebab pasti dunia jadi seperti itu walau di adegan-adegan flashback terlihat adanya peperangan (berbeda dengan Hokuto no Ken yang secara eksplisit menerangkan kalau perang nuklir adalah penyebab hancurnya peradaban manusia).

Perang memang merusak peradaban. Sumber gambar: boards.fireden.net

Perang memang merusak peradaban. Sumber gambar: boards.fireden.net

Dunia di Girls’ Last Tour tidak memiliki penghuni manusia. Sepanjang kisah sejak awal hingga tamat, manusia lain yang ditemui Yuuri dan Chito hanya dua orang saja. Selain mereka, tidak ada manusia lain. Dunia kosong melompong. Keduanya juga harus menghadapi berbagai rintangan seperti stok makanan menipis hingga cuaca buruk badai salju. Bukan kondisi mudah untuk kedua gadis remaja seperti mereka.

Berdua bersama Kettenkrad menembus badai salju. Sumber gambar: aminoapps.com

Berdua bersama Kettenkrad menembus badai salju. Sumber gambar: aminoapps.com

Mana yang lebih keren/menarik, Fist of the North Star atau Girls’ Last Tour?

Wah… Saya tidak dapat memutuskan. Saya sudah kenal Hokuto no Ken sejak lama (manga ini rilis pertama 1983 namun masuk ke Indonesia dalam format bajakan di era 90an) dan tentu saja ngefans manga shonen karya Buronson & Tetsuo Hara itu. Saya langsung suka dengan Girls’ Last Tour justru saat pertama melihat halaman terakhir dari manga ini tahun lalu. Alias halaman sebelum tamat. Muatan emosi di manga ini buat saya terasa keren banget walaupun gambarnya saat itu terlihat generik.

Battlecry klasik Kenshiro. Aaatatatatatattata! Sumber gambar: tumblr.com

Battlecry klasik Kenshiro. Aaatatatatatattata! Sumber gambar: tumblr.com

Bukan; ini bukan halaman terakhir manga Girls’ Last Tour. Sumber gambar: steemit.com

Bukan; ini bukan halaman terakhir manga Girls’ Last Tour. Sumber gambar: steemit.com

Memang antara Hokuto no Ken dengan Shoujo Shuumatsu Ryokou ini punya perbedaan signifikan di bagian grafis. Hokuto punya grafis dengan garis-garis keras dengan efek ‘brutal’ yang senada dengan tema kekerasan di dalamnya. Sementara Shoujo punya grafis halus, santai walau tidak kurang garis tegas yang bagus. Pertama melihatnya saya kira manga ini buatan mangaka “Azumanga Daioh”, walau ternyata saya salah: mangaka Girls’ Last Tour adalah Tsukumizu.

Manga & anime yang ini jelas bukan manga post apocalyptic. Sumber gambar: pinterest.com

Manga & anime yang ini jelas bukan manga post apocalyptic. Sumber gambar: pinterest.com

Sama-sama membawa tema / memiliki backgroud dunia pasca kiamat alias post apocalyptic, Hokuto no Ken dan Shoujo Shuumatsu Ryokou punya pendekatan berbeda saat menceritakan perjalanan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Saya merekomendasikan keduanya untuk dibaca penggemar manga. Tapi mungkin grafis di kedua judul ini tidak untuk selera semua orang. Beberapa akan menganggap grafik Fist of the North Star tidak menarik, atau melihat Girls’ Last Tour sebagai manga generik karena desain moe alias kawaii alias imut-imut dari Yuuri dan Chito. Tapi saya berani bilang kalau kedua judul ini punya muatan oke yang seru untuk diikuti sampai selesai.

Bro sis lebih suka yang mana? Atau punya pilihan judul sendiri? Jangan lupa tag saya di komentar bro sis ya!

About Author

Harry Rezqiano

Harry Rezqiano

Seimbangkan hidup. Tiap orang beda-beda caranya. Tapi semua orang perlu melakukannya. *Disclaimer: Tulisan ini adalah opini & pendapat pribadi serta bukan merupakan pandangan maupun kebijakan Ciayo Corp beserta afiliasinya. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial, Facebook: /HarryRezqiano | Twitter: @HarryRezqiano | Wattpad: /HarryRezqiano *

Comments

Most
Popular

Canti Clarinta. Sumber: Canti Clarinta

Canti Clarita, Illustrator Fan art Kpop Dengan Kearifan Budaya Lokal

Pernah melihat fan art buatan fans kpop? Mungkin kamu sudah biasa. Nah, gimana kalau melihat fan art kpop dengan kearifa.. more

Manga Terpopuler di Indonesia - Youtube

Dari Daftar Manga Terpopuler di Indonesia pada 2018, Adakah Manga Favoritmu?

Kalau ditanya apa manga favorit kalian, mungkin langsung bisa dijawab. Tapi kalau manga terpopuler di Indonesia? Hmm, s.. more

Sumber: FOX

Beginilah Jika Foto Seratus Tahun yang Lalu Dibuat Berwarna

Seperti yang banyak orang tahu, era awal penggunaan plat film dalam fotografi menghasilkan hitam putih, atau saat ini di.. more

Joss Whedon dan Zack Snyder. Sumber gambar: bleedingcool.com

Pergantian Mendadak Kursi Sutradara Justice League yang Tidak Terduga, Mau Tahu Alasannya?

Saat pembuatan sebuah film, posisi sutradara merupakan posisi yang sangat penting. Tahukah bro sis, kalau film Justice L.. more

13 Reasons Why. (Sumber: tumblr)

Film Ini Menceritakan Berbagai Macam Cara Bunuh Diri

13 Reasons Why adalah salah satu TV series controversial yang hadir dengan genre slice of life di tahun 2017. Di rilis o.. more