Game Florence, Kisah Cinta Interaktif dalam Perangkat Mobile yang Inovatif

2 months ago
Sumber: www.florencegame.com

Game mobile seperti “Monument Valley” sempat membuat saya terkagum-kagum. Selain punya gameplay yang unik, musik, cerita, dan desain game  menyatu dengan sangat bagus. Terkadang sebuah game cukup tampil sederhana dari banyak segi, tapi mengena di hati saat dimainkan. Mungkin ini sama seperti “Shadow of the Colossus” atau “Journey” yang menggunakan formula semacam ini untuk game konsol.

Ketika memainkan beberapa game yang saya sebutkan di atas, saya mulai memahami bahwa visual bisa memberikan nilai dramatis yang begitu kuat tanpa diikuti oleh dialog sedikit pun. Bahasa verbal yang kaya terkadang bisa melewati berbagai masa dan multi tafsir, mungkin ini juga yang mendasari alasan bahwa relief yang terukir di dinding candi, atau hieroglif yang digunakan oleh bangsa Mesir dipakai mereka untuk menyisakan jejak peradaban. Karena bahasa seperti itu adalah bahasa yang jauh lebih maju dan mudah dipahami oleh banyak orang di generasi berbeda.

Monument Valley (Sumber: www.addthis.com)

Monument Valley (Sumber: www.addthis.com)

Kabar bahwa bahwa desainer dari game “Monument Valley” akan membuat game interaktif berjudul “Florence” jelas menjadi kabar gembira yang wajib untuk dinantikan. “Florence” akan bercerita tentang kisah cinta antara Yoah dan Krish. Mengeskpresikan cinta dalam bentu video game memang bukanlah hal baru, tapi jika ditanya apakah game-game yang coba membangun tema cinta sepasang kekasih berujung pada keberhasilan. Hal ini yang membuat “Florence” memiliki nilai plus dibanding kebanyakan game lainnya.

Saya masih ingat ketika game sekelas “Harvest Moon” coba membangun kisah cinta karakternya lewat gameplay, ini benar-benar terasa sangat kaku. Atau seperti “The Sims” yang memiliki gameplay tak masuk akal di mana membuat orang jatuh cinta dengan cara yang tidak bisa diterima secara nalar.

Sumber: www.florencegame.com/

Sumber: www.florencegame.com

“Florence” mencoba menghindari gaya perminan yang mendasar seperti “Harvest Moon” atau “The Sims”. Game yang satu ini lebih memilih gaya permainan semacam novel grafis intaktif, atau semacam panel komik bergerak dengan tampilan ilustrasi sederhana, lembut, dipadu kontras yang segar. Secara garis besar, “Florence” mencoba menggunakan gameplay semacam puzzle sederhana namun dengan dampak yang cukup besar pada keberlangsungan cerita. Dengan begini setiap keputusan yang diambil sering kali menciptakan emosi tersendiri yang lebih membawa pemain pada perasaan mereka. Yeah, untuk sebuah tema cinta, perasaan dan emosi adalah kunci utama agar pesan-pesan melancolis dan melodrama bisa tersampaikan dengan sempurna.

Sumber: techcrunch.com

Sumber: techcrunch.com

Sama seperti “Monument Valley”, “Florence” bisa dimainkan hanya dengan satu jari saja, namun kesederhanaan yang dimilikinya jelas tidak bisa dianggap remeh. Kisah cinta para anak muda yang berusia di atas 20 tahunan ini pasti akan meninggalkan moment-moment yang sangat membekas di benak kita saat semua bagian dari game selesai di mainkan. Eksplorasi peran gender dalam hubungan heteronormatif, jelas menjadi nilai jual utama game ini. Kebudayaan yang dimiliki oleh karakternya seperti Yoah (keturunan Cina-Australia) dan Krish (keturunan India-Australia) menciptakan pertukaran kultur serta kisah-kisah masa lalu mereka yang saling menopang satu sama lainnya.

Sumber: www.florencegame.com/

Sumber: www.florencegame.com

Memainkan “Florence” mengingatkan saya pada film “La La Land”. Cerita di mana seorang wanita menahan hasrat kreatifnya untuk mendukung orang-orang yang terhubung dengannya secara romantis. Sebuah game sederhana namun dengan emosi besar dan menyentuh, tentang cinta anak muda yang selalu segar untuk diikuti dan tidak pernah basi.

Sayang memang jika saya menjelaskan bagimana detail dari gameplay game ini bekerja, sebab salah satu suguhan utama yang dimiliki “Florence” adalah gameplay-nya yang berpengaruh besar pada badan cerita. Jadi jika kalian ingin merasakan permainan interaktif yang berkelas dan sangat inovatif, “Florence” adalah pilihan yang paling tepat.

Sumber: www.florencegame.com/

Sumber: www.florencegame.com

“Florence” rilis lebih awal di iOS dan segera hadir untuk Android. Oleh sebab itu para pengguna Android sangat disarankan untuk Pre-Registrasi terlebih dahulu lewat Google play agar nanti ketika game ini rilis di Android kalian bisa memainkannya lebih awal.

Sekali lagi, nama besar “Monument Valley” berhasil menyuguhkan kualitas jempolan dengan luapan emosi tidak terduga lewat ‘Florence”. Saya sangat merekomendasikan game ini untuk kalian mainkan, paling tidak sekali dalam seumur hidup.

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

Mangafest Mythophobia, Festival Budaya Populer Jepang Besutan HIMAJE UGM

Mangafest UGM adalah festival budaya populer Jepang yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang (HIMAJE) UGM. Ta.. more

Poster Inktober (mrjakeparker.com)

Inktober, Berkarya Lewat Gambar

Waktu kecil kalau disuruh gambar kita sudah terdoktrin  dengan menggambar gunung, matahari beserta sawahnya. Nah, di me.. more

Sumber: imdb.com

Review: The Lego Batman Movie

Udah pada nonton The Lego Batman Movie belom? Yang penasaran, nih Sultan Beny bakal kasih review nya. Cekidot! .. more

meme desktop

Ketika Meme Terus Berputar di Kepala

Fenomena earworm seperti terjadi pada lebih dari 90% orang. Biasanya objek earworm adalah lagu-lagu pop yang populer dan.. more

(Sumber: TheNextweb.com)

B: The Beginning, Anime Series Produksi Netflix

Netflix pelan-pelan mulai menunjukkan ketertarikan untuk menambah original anime series dalam programnya. Sebelumnya, Ne.. more