Game Shadow of the Colossus, Karya Seni yang Selalu Dihidupkan Kembali

10 months ago
Sumber: www.playstation.com

Bro sis pasti pernah mendengar tentang novel yang dicetak ulang meskipun ceritanya ditulis puluhan tahun yang lalu, atau film lama yang dibuat ulang dengan sentuhan baru tapi tanpa mengubah aspek utama dari ceritanya. Hal seperti ini juga terjadi pada video game, sebab video game juga merupakan media yang mencakup banyak jenis seni di dalamnya.

Semua pembuatan kembali karya seni lawas ke dalam kemasan baru tidak lain bertujuan agar generasi baru mengetahui bahwa karya seni yang dulu pernah ada masih relevan dan abadi hingga saat ini. Hal semacam ini berlaku pada banyak karya seni yang dianggap menciptakan gebrakan luar biasa dan menimbulkan kesan mendalam bagi banyak orang.

Sumber: www.playstation.com

Sumber: www.playstation.com

“Shadow of the Colossus” adalah salah satu dari sekian banyak video game yang bisa dikatakan sebagai karya seni dengan pencapaian tahap-tahap seperti yang dijelaskan di atas tadi. Shadow of the Colossus muncul pertama kali 13 tahun yang lalu dan selalu dirilis ulang dengan peningkatan kualitas sesuai perkembangan dari generasi konsol.

Dikembangkan oleh Tim Ico dari Sony Japan Studio, “Shadow of the Colossus” merupakan generasi penerus dari game di era Playstation 1 yang berjudul “Ico”. Game yang pertama kali rilis pada 18 Oktober 2005 untuk Playstation 2 ini merupakan sebuah karya seni yang luar biasa megah dengan banyak aspek sederhana.

Fokus Kepada Bagian Terpenting Saja

Sumber: www.playstation.com

Sumber: www.playstation.com

Banyak video game yang mempunyai berbagai fitur luar biasa agar gamer bisa dimanjakan dengan pengalaman bermain yang lebih bagus. Namun “Shadow of the Colossus” malah hadir dengan minim fitur tapi kaya pengalaman.

Jika biasanya sebuah video game akan menghadirkan banyak jenis musuh kecil untuk menambah keseruan atau item yang dikumpulkan agar leveling karakter menjadi semkain hebat, maka game ini justru tampil begitu casual tanpa sistem penambahan skill atau peningkatan senjata, bahkan dunia di dalam game tampil dengan sangat sepi, luas, dan misterius.

Tampilan semua aspek sederhana yang dimiliki “Shadow of the Colossus” benar-benar tidak disangka bisa menghadirkan pengalaman bermain yang luar biasa seru dan membekas. Hal ini terjadi karena “Shadow of the Colossus” hanya berfokus pada bagian terpenting dari sebuah video game dan mengesampingkan semua hal tidak penting yang terkadang terkesan memaksa.

Bercerita tentang seorang laki-laki bernama Wander, yang datang ke tempat jauh dan sepi bersama seekor kuda bernama Agro. Wander membawa seorang wanita yang tidak sadarkan diri akibat sebuah ritual di desanya. Cinta Wander pada wanita itu membawanya ke dalam petualangan yang luar biasa megah agar wanita tadi bisa kembali sadarkan diri.

Pada awalnya semua masih terasa samar, plot semakin berkembang ketika permainan mulai memasuki berbagai bagian yang menegangkan. Pembuka game menunjukkan bahwa Wander meletakkan wanita yang dibawanya di atas altar dalam sebuah kuil lalu memohon pada entitas misterius agar wanita tadi bisa kembali sadarkan diri. Maka terjadilah dialog sederhana tentang cara Wander untuk bisa menyelamatkan wanita tadi.

Wander harus melawan 16 colossi (monster) agar bisa mematahkan semacam kutukan yang menimpa wanita dambaannya. Mulailah pertualangan luar biasa melawan 16 colossi yang tersebar di 16 lokasi tanpa petunjuk di daratan luas yang sepi.

Skill Murni Milik Gamer Bukan Miliki Karakter

Sumber: www.playstation.com

Sumber: www.playstation.com

Seperti yang dikatakan di atas tadi, sistem skill karakter tidak akan berkembang. Karakter hanya dibekali dengan satu pedang, satu panah, dan seekor kuda. Sejak awal hingga akhir permainan, semua perlengkapan itu akan selalu menemani gamer dalam mengalahkan setiap colossi yang akan dilawan.

16 jenis colossi menjadi perwakilan 16 level yang harus dilalui oleh pemain. Cara mengalahkan setiap colossi secara garis besar selalu sama, yaitu menusuk bagian tertentu yang menjadi kelemahan colossi itu sendiri. Hebatnya “Shadow of the Colossus” menciptakan ragam kesulitan agar karakter bisa mencapai titik terlemah colossi dengan perlengkapan seadannya tadi.

Saat bermain, gamer akan merasakan bahwa perkembangan skill yang sebenarnya terjadi bukan pada karakter yang dimainkan, melainkan dari skill pemain yang memainkan. Bagaimana pemain bisa belajar dari keadaan lingkungan sekitar, jenis colossi, hingga pada kesigapan pemain dalam mengatur waktu yang tepat untuk melancarkan serangan. Ini memang terdengar tidak mudah, tapi justru disitulah keseruan game ini berada.

Perasaan Yang Dalam Dengan Semua Adegan Menegangkan

Sumber: www.playstation.com

Sumber: www.playstation.com

Salah satu kekuatan “Shadow of the Colossus” terdapat pada aspek perasan yang akan muncul disetiap gamer yang memainkannya. Gamer akan dibuat kagum sekaligus terasingkan karena visual wilayah yang luas benar-benar memberikan dampak megah sekaligus sepi. Memacu kuda untuk menuju tempat yang tidak pasti tanpa ada gambaran akan seperti apa colossi yang dihadapi nantinya.

Kemegahan colossi yang muncul di reruntuhan kuno pasti membuat para gamer terkagum-kagum sekaligus tidak berdaya. Namun ketika pertarungan dimulai, semangat untuk bisa menaklukan colossi muncul dengan sangat besar sebab karakter Wander punya tekat yang begitu besar agar bisa menyelamatkan wanita pujaan hatinya.

Semua perasaan yang disuntikkan untuk mendapatkan rasa simpatik yang begitu tinggi bagi para gamer berujung pada hal luar biasa yang pasti akan mencipta renungan mendalam tentang makna dari sebuah perjuangan, cinta, dan pembuktian.

Ada banyak hal yang disampaikan “Shadow of the Colossus” walau dengan bahasa yang non verbal, tapi mudah dipahami. Ini seperti sebuah pencapaian luar biasa untuk sebuah komunikasi yang lebih mengandalkan perasaan daripada kata-kata atau pun tulisan.

Karya Seni Yang Melampaui Zaman

Sumber: www.playstation.com

Sumber: www.playstation.com

Di era Playstation 2, “Shadow of the Colossus” menjadi sebuah gambaran bahwa di masa depan video game tidak hanya berkembang pada sebuah permainan yang menyenangkan, tapi juga berlaku seperti novel, film, dan musik. Oleh sebab itu untuk sebuah karya seni yang luar biasa ini, pihak Sony merilisnya kembali di Playstation 3 dengan peningkatan grafis yang lebih bagus.

Sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa megah dan wajib untuk dimainkan paling tidak sekali dalam seumur hidup.

Pada tahun 2017 kemarin, pihak Sony Japan Studio merilis game “The Last Guardian” yang merupakan lanjutan dari spiritual permainan “Shadow of the Colossus”. Walau tidak sebagus “Shadow of the Colossus”, “The Last Guardian” juga berhasil menciptakan pengalaman baru dengan pendekatan emosional lewat perasaan pemain. Di awal 2018 ini, Sony kembali merilis “Shadow of the Colossus” dalam tampilan yang luar biasa sempurna sesuai dengan kemampuan Playstation 4 yang mendukung resolusi 4K.

Inilah bukti bahwa game ini merupakan karya seni yang akan selalu hidup disetiap generasi.

~

Apakah perilisan kembali “Shadow of the Colossus” di Playstation 4 merupakan langkah yang benar? Saya rasa ini memang merupakan langkah yang paling tepat untuk menyempurnakan semua aspek yang dimiliki oleh game ini. Selain itu, hal ini juga bisa membangkitkan kembali perasaan nostalgia para gamer lama serta menarik minat gamer baru.

Sejauh ini sambutan hangat dan positif terus muncul dari banyak kalangan. “Shadow of the Colossus” akan rilis pada tanggal 6 Februari 2018. Apakah kalian pernah memainkan game ini? Merasakan sebuah kerinduan yang mendalam untuk segera mengulangi lagi pertualangan luar biasa ini?

Apa jangan-jangan bro sis benar-benar belum pernah merasakan kedahsyatan dari 16 colossi yang siap membuat kita kagum? Saya rasa ini adalah kesempatan baik yang kalian punya untuk benar-benar merasakan apa yang saya gambarkan.

About Author

Loganue Saputra Jr.

Loganue Saputra Jr.

Alfian Noor atau yang memiliki nama pena Loganue Saputra Jr. penulis novel Bersamamu dalam Batas Waktu (2014), selain suka menulis fiksi, ia juga memiliki hobi bermain video game, melukis, serta menonton film. Saat ini tinggal di Samarinda Kalimantan Timur dan aktif di Instagram @alpiannoor

Comments

Most
Popular

00-d-reverse-project

Reverse Project: Kisah Post Apocalypse Dalam Sajian Artwork dan Musik

Reverse Project menggabungkan elemen ilustrasi dan musik untuk menyampaikan cerita bertema post apocalypse... more

00-d-disorder

Disorder: Menelisik Sisi Gelap Sebuah Obsesi

Disorder menyajikan kumpulan kisah gelap dari mereka yang tidak dapat mengenali diri sendiri dan menginginkan pelampiasa.. more

[LIPUTAN] Kemeriahan Indonesia Comic Con 2017

Siapa yang tidak tahu Comic Con, pameran pop culture yang sudah dihelat di berbagai negara ini diselenggarakan juga di I.. more

CIAYO Comics One Shot Challenge Diperpanjang Guys!

CIAYO Comics One Shot Challenge diperpanjang, guys!!! Buruan bikin komiknya dan submit!.. more

00-d-komik-horor-terseram

Komik Horor Terseram yang Bisa Kamu Baca Langsung di CIAYO Comics Saat Ini Juga!

Ingin terjun ke dunia yang dapat mencekam perasaan dan membuatmu menciut? Berikut 5 komik horor terseram yang dapat kamu.. more