Gaming Dengan Home Console vs Gaming Dengan PC, Pilih yang Mana?

3 months ago
(Sumber: youtube)

Video Game, permainan yang mengandalkan audio, visual, gerakan motorik plus decision making yang cepat ini sangat populer di seluruh dunia sejak era 70an hingga sekarang.

Video game dulu berfungsi sebagai permainan hiburan di pusat perbelanjaan / keramaian. Arcade. Konon karena hal itulah kata ‘video game’ dan ‘arcade’ identik sebagai satu kesatuan kata dan arti. Arcade adalah video game dan video game adalah arcade. Yang sukses besar pada masanya adalah Pong (1972). Game ini sangat sukses dan digemari hingga membuat Atari, perusahaan yang memproduksi Pong, merilis versi rumahan Pong di tahun 1975.

Pong versi Arcade (Sumber: Google Images)

Pong versi Arcade (Sumber: Google Images)

Pong Home Version. (Sumber: Google Images)

Pong Home Version. (Sumber: Google Images)

Sejumlah merek dan nama mulai muncul dan saat itu yang paling fenomenal adalah perusahaan Nintendo dari Jepang. Tahun 1983 mereka menggebrak pasar video game rumahan dengan “Famicom”; singkatan untuk “Family Computer” di Jepang. Famicom sukses besar di negaranya, terjual 2.5 juta unit di tahun pertamanya saja.

Famicom Nintendo. (Sumber: Google Images)

Famicom Nintendo. (Sumber: Google Images)

Di dorong kesuksesan domestik, Nintendo menjajaki kemungkinan menjual Famicom ke pasar yang lebih luas lagi yaitu Amerika Serikat. Nintendo melakukan pendekatan kepada Atari, yang saat itu merupakan nama besar video game rumahan Amerika Serikat, untuk memakai jalur distribusi mereka. Sayangnya, kesempatan itu ditolak Atari dan itu merupakan sebuah kesalahan kalkulasi marketing yang fatal.

Ditolak Atari, Nintendo akhirnya memasarkan sendiri Famicom di Amerika. Mereka melakukan rebranding Famicom menjadi “Nintendo Entertainment System / NES” dan memasarkannya secara nasional di Amerika Serikat pada awal 1986.

NES (Sumber: Google Images)

NES (Sumber: Google Images)

Sejarah mencatat Nintendo memasarkan hingga tiga juta unit NES di dua tahun pertama mereka dipasarkan di Amerika Serikat. Sebuah kesuksesan yang luar biasa mengingat masih barunya nama mereka di pasar Amerika dan harga NES yang tinggi (US$ 199). Namun dengan dipersenjatai game “box office” seperti port arcade Super Mario Bros dl,l membuat orang begitu menyukai video game rumahan buatan Nintendo tersebut.

Atari yang malang. Untuk “menebus” kesalahan perhitungan mereka dengan Nintendo, Atari segera mengeluarkan console rumahan mereka untuk menantang dominasi NES saat itu. Atari 7800 ProSystem diproyeksikan untuk merepotkan NES di pasaran. Namun Atari gagal total karena teknologi yang mereka punya kalah jauh dari NES serta tidak adanya game “box office” seperti NES dengan Super Mario Bros di home console Atari 7800 tersebut.

Atari 7800 ProSystem. (Sumber: Google Images)

Atari 7800 ProSystem. (Sumber: Google Images)

 

Secara perlahan, home console semakin mendekati semua kualitas yang ditawarkan oleh mesin arcade. Biaya produksi dan operasional home console jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan mesin arcade. Hal ini membuat popularitas mesin arcade semakin menurun. Saat itulah, PC gaming mulai menunjukkan eksistensinya. Dan itu mereka mulai sejak era 80an.

Jangan bayangkan PC gaming di era 80an itu seperti sekarang. Jauh berbeda. Komputer di era itu sangat sederhana. Misalnya Commodore 64 yang di rilis tahun 1982.

Commodore 64. (Sumber: Google Images)

Commodore 64. (Sumber: Google Images)

IBM memperkenalkan IBM Personal Computer (cikal bakal modern PC) tahun 1981. Produk ini akhirnya jadi standard dunia.

IBM PC 1981. (Sumber: Google Images)

IBM PC 1981. (Sumber: Google Images)

Namun platform PC gaming tetap mengalami “kalah bersaing” karena dunia sedang dikuasai oleh popularitas home console; terutama di tahun 1988 hingga awal millennium. Harga yang lebih murah dan variasi permainan yang lebih beragam membuat home console “menenggelamkan” PC gaming dalam kompetisi menjadi market best seller.

Selama bertahun-tahun, “video game” adalah sinonim dan merupakan area kekuasaan dari home console. Namun akhirnya PC mendapatkan momentum nya selepas hingar bingar “Y2K Millennium”. Dengan tampilan grafis yang memukau, PC gaming mulai jadi pilihan para gamers. Tampilan grafis PC gaming lebih hebat dibandingkan dengan home console. Kenapa?

Karena dua faktor.

Pertama adalah berkat perkembangan teknologi kartu grafis PC yang pesat dari perusahaan seperti Nvidia dan AMD dengan produk-produk kartu grafis PC mereka. Faktor kedua adalah karena PC merupakan sebuah sistem dengan konsep modular/knock down/bongkar-pasang, sehingga memudahkan pemilik PC untuk mengganti sendiri bagian-bagian PC yang hendak diperbaiki ataupun di upgrade ke versi yang lebih tinggi. Tidak seperti PC, home console tidak dirancang modular. Pemilik home console dapat langsung bermain tanpa perlu memusingkan soal sistem operasi atau kartu grafis seperti PC.

Plug, and play. Itulah filosofi home console sejak pertama diciptakan.

Karena ‘keterbatasan’ itulah yang membuat beberapa gamer home console pemuja keindahan grafis mulai ‘membelot’ dan pindah platform menjadi gamer PC. Kalau kubu PC gamer meng-klaim superioritas grafis, maka kubu home console gamer akan membanggakan ‘line up games’ mereka yang luar biasa banyak dan beragam; terutama di bagian “game ekslusif”.

Dari tiga nama besar home console saat ini (Nintendo, Sony dan Microsoft), hanya Microsoft yang “bermain di dua kaki” alias punya divisi home console selain gaming PC dengan platform OS Windows. Itu mengakibatkan game dari kedua platform dari Microsoft ini nyaris serupa. Game yang muncul di home console Microsoft (hampir pasti) akan muncul di PC. Seperti misalnya game signature Microsoft yang berjudul “Halo” ataupun “Gears Of War”.

Gears Of War . (Sumber: Google Images)

Gears Of War . (Sumber: Google Images)

Di kubu Nintendo dan Sony, game ekslusif mereka tidak pernah muncul di platform manapun kecuali di console mereka sendiri. Seperti misalnya serial “Zelda” dari Nintendo atau serial “Uncharted” dari Sony.

Uncharted (Sumber: Google Images)

Uncharted (Sumber: Google Images)

Zelda Musou. (Sumber: Google Images)

Zelda Musou. (Sumber: Google Images)

Jadi…. Bottom line nya?

Bermain video game dengan home console atau dengan PC memiliki ups and downs nya sendiri-sendiri. Memiliki plus minus masing-masing.

Home console memiliki hal-hal seperti kesederhanaan dalam bermain. Tinggal hidupkan dan mulai bermain. Harga home console juga lebih murah dibandingkan PC gaming. Home console juga punya banyak games ekslusif yang menarik. Jika Anda ingin bermain game “Zelda”, suka tidak suka Anda harus membeli produk Nintendo karena jangan harap menemukan game Zelda selain di platform buatan Nintendo.

PC gaming memiliki hal-hal yang secara hardware jauh lebih baik ketimbang home console dengan format modular mereka. Dengan perkembangan teknologi kartu grafis yang cepat, PC selalu mendapatkan “the best graphic in the market” untuk game-game mereka. Kedua platform video game ini memiliki hal-hal yang membuat mereka ‘stand out’ dari saingan masing-masing.

Sebagai seorang gamer yang memiliki akses ke kedua platform ini (baik home console maupun PC), saya sulit untuk merekomendasikan salah satu di antara keduanya. Karena ya itu tadi: ada plus minus dari tiap platform. Tidak ada yang benar-benar absolute unggul dari kedua platform video game ini. Kelebihan yang satu akan dilawan oleh kelebihan di kubu sebelahnya.

Namun saya bisa mengatakan ini: Jika Anda hanya ingin bermain video game tanpa berminat merepotkan diri mengikuti perkembangan hardware, maka Anda lebih tepat untuk memilih platform home console sebagai pilihan utama untuk nge-game. Anda hanya perlu melakukan ‘plug and play’, dan sudah dapat langsung menikmati permainan video yang seru serta menyenangkan.

Tapi jika Anda gamer dengan modal (uang) cukup untuk mengikuti perkembangan teknologi hardware terbaru, mau ‘merepotkan diri’ mempelajari hal-hal teknis, dan menginginkan tampilan grafis terbaik yang pasar bisa sediakan, maka gaming dengan PC merupakan pilihan paling ideal untuk memuaskan diri Anda di dunia video game.

Pertimbangan juga ada di games yang ditawarkan. Misalnya game-game ekslusif yang hanya ada di salah satunya. Tapi tak perlu terlalu kuatir: banyak game yang diterbitkan di semua platform (disebut juga sebagai game multiplatform) seperti game Street Fighter. Atau game simulasi militer terkenal “Call Of Duty”. Atau juga game gulat profesional “WWE 2K” series.

Yang sering mengeluarkan game ekslusif adalah console dari Nintendo dan Sony. Microsoft juga ada mengeluarkan game ekslusif untuk home console mereka, tapi mereka lebih sering ‘berbagi’ dengan platform PC sebagai ‘saudara kandung’ dari home console Microsoft / XBOX platform.

Jadi, apakah seorang gamer harus memilih menjadi kubu home console atau PC?

Kalau saya bilang sih, why not both? Buat apa meng-ekslusif kan diri ke dalam kelompok “home console only” atau “PC Master Race” saja kalau itu artinya membatasi kemungkinan kita memainkan game-game yang ada di tiap platform?

Buat saya itu absurd jika harus memilih salah satu, sementara keduanya dapat memberikan kenikmatan bermain video game dengan plus-minus yang mereka miliki. Why should we choose one if we are allowed to get all?

About Author

Harry Rezqiano

Harry Rezqiano

Seimbangkan hidup. Tiap orang beda-beda caranya. Tapi semua orang perlu melakukannya. *Disclaimer: Tulisan ini adalah opini & pendapat pribadi serta bukan merupakan pandangan maupun kebijakan Ciayo Corp beserta afiliasinya. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial, Facebook: /HarryRezqiano | Twitter: @HarryRezqiano | Wattpad: /HarryRezqiano *

Comments

Most
Popular

(Sumber: cinemacafe.net)

Kalau kamu Pecinta Kucing, Kamu Harus Baca Artikel Ini

Kalau kamu suka dengan kucing, pasti bakal suka juga deh sama game mobile Neko Atsume. Sudah pernah dengar? Sebelumnya,.. more

CIAYO Comics dan Pionicon Merilis Komik Si Juki & Mang Awung

CIAYO Comics, bekerjasama dengan Pionicon, merilis komik baru berjudul: Si Juki & Mang Awung.. more

(CIAYO Pictures)

Jak-Japan Matsuri 2017 Kurang Persiapan

Jak-Japan Matsuri 2017 telah selesai diselenggarakan. Acara yang telah diadakan untuk ke-9 kalinya ini bertempat di Lapa.. more

Kerja Magang Bukannya Disuruh Fotokopi Malah Disuruh Ngomik, Enak Banget!

Karena ada kok tempat kerja yang nerima anak magang dan ngajarin mereka cara kerja profesional. Wah, di mana tuh? Nih ki.. more

Is Yuniarto, Alti Firmansyah, Ario Anindito di Meet and Greet Anime Matsuri 2017 (CIAYO Pictures)

Komikus Marvel, DC Comics, dan Garudayana Hadir di Anime Matsuri 2017

Dari ketiga komikus ini, ada yang udah lama ngerjain project nya Marvel, DC Comics, dan bahkan menghadirkan kembali kisa.. more