GoPro Hampir Bangkrut? From Zero to “Hero” and Back to Zero Again

3 months ago
Sumber gambar: cnet.com

Jika 5-10 tahun lalu seseorang mengatakan “GoPro akan segera bangkut!” maka orang tersebut mungkin akan ditertawakan.

GoPro, Inc. (atau dulunya bernama Woodman Labs, Inc) adalah perusahaan pelopor produk yang kini populer disebut sebagai “Action Cam”. Produk flagship perusahaan ini, GoPro HERO series, merupakan kamera tangguh untuk kegiatan outdoor. Dan itu semua terjadi karena passion seorang pria yang doyan surfing, Nick Woodman.

Nick Woodman dan GoPro Hero 3 Session. Sumber gambar: usatoday.com

Nick Woodman dan GoPro Hero 3 Session. Sumber gambar: usatoday.com

Waktu itu tahun 2002, dan Nick sedang berlibur ke Australia untuk bermain surfing. Saat itu dia ingin mengabadikan aksi-aksi surfing dia dengan foto-foto layaknya surfer pro, tapi dia mengalami kesulitan untuk mewujudkannya. Fotografer tidak dapat mengabadikan aksinya karena jarak yang berubah-ubah, dan peralatan kamera yang mampu mendukung tugas itu juga berharga sangat mahal.

Belajar dari pengalaman itu, Woodman bercita-cita untuk membuat kamera outdoor yang cukup kecil namun tangguh dan mudah digunakan serta punya kualitas yang mumpuni. Filosofi itulah yang membuat Woodman mendirikan perusahaan dan memproduksi kamera outdoor yang sesuai keinginannya tersebut. Itulah saat kelahiran “Action Cam GoPro”.

Kamera pertamanya masih menggunakan film 35 mm. Itu terjadi tahun 2004. Kamera GoPro pertama itu dipamerkan di event pameran dagang San Diego’s Action Sports Retailer. Kamera tersebut menarik perhatian publik karena bentuk desain dan fungsinya yang tergolong baru di bagian kamera sport. Di tahun pertamanya kamera ini bisa laku terjual hingga $150.000. Angka cukup lumayan untuk pemain baru di bisnis kamera yang penuh sesak pemain/merk lama.

Original GoPro Hero. Sumber gambar: crystaldive.com

Original GoPro Hero. Sumber gambar: crystaldive.com

Kamera Aksi yang keren banget. Sumber gambar: forbes.com

Kamera Aksi yang keren banget. Sumber gambar: forbes.com

Dua tahun kemudian Woodman dan perusahaan startup-nya itu memperkenalkan kamera GoPro Hero Digital pertama mereka yang sanggup merekam video sepanjang 10 detik. Kamera ini juga laku keras dan terjual senilai $800.000. Tahun berikutnya, total sales kamera GoPro mereka tembus sampai $3.4 juta.

GoPro Hero Digital. Sumber gambar: slashgear.com

GoPro Hero Digital. Sumber gambar: slashgear.com

Setelahnya GoPro secara rutin melakukan upgrade pada produk mereka dengan menambahkan fitur-fitur modern seperti durasi kemampuan merekam yang lebih panjang, megapixel yang lebih besar, hingga support perekaman di resolusi super tajam seperti 4K.

Produk flagship GoPro saat ini. Sumber gambar: steves-digicams.com

Produk flagship GoPro saat ini. Sumber gambar: steves-digicams.com

GoPro juga sempat “bermain-main” dengan bisnis ’consumer drone’ walau akhirnya mundur teratur dari situ. GoPro Karma Drone diluncurkan bulan Oktober 2016. Di bulan berikutnya GoPro melakukan recall product alias penarikan produk dari pasaran karena masalah baterai. Laporan yang ada menyebutkan kalau GoPro Karma, yang dijual seharga $799 itu, bisa mendadak kehilangan sumber arus dari baterai dan menyebabkan drone itu jatuh karena tidak bertenaga. Perusahaan kemudian mengumumkan kalau Karma sudah beres dari masalah dan beredar kembali di toko-toko sejak Februari 2017. Tapi sepertinya reputasi dan kepercayaan publik pada produk ini sudah menurun (dan bahkan hilang), sehingga di bulan Januari 2018 kemarin GoPro mengumumkan kalau mereka melakukan diskontinyu produk pada GoPro Karma dan keluar/berhenti dari bisnis drone.

GoPro Karma drone. Sumber gambar: discoverglobal.co.ukGoPro Karma drone. Sumber gambar: discoverglobal.co.uk

GoPro Karma drone. Sumber gambar: discoverglobal.co.uk

GoPro Karma drone terlihat keren saat mengudara. Sumber gambar: gopro.com

GoPro Karma drone terlihat keren saat mengudara. Sumber gambar: gopro.com

Masalah tidak hanya datang dari drone Karma untuk GoPro.

Nilai saham mereka terus melorot jatuh, selaras dengan performa perusahaan yang makin turun. Margin keuntungan juga mengalami masalah serius. Bahkan mereka sampai perlu melakukan restrukturisasi. Tidak hanya di bagian proyeksi keuntungan, namun juga di jumlah pegawai dan harga retail produk mereka. PHK bertahap terus menghantui manajemen dan karyawan GoPro. Sekitar 20% dari jumlah karyawan sudah mengalami PHK dan ini belum menjamin karyawan yang lain akan selamat. Nick Woodman, founder & CEO GoPro, Inc. dalam sebuah wawancara terbaru mengatakan kalau dia terbuka pada opsi bekerja sama dengan seseorang/perusahaan lain atau malah membeli perusahaannya sekalian.

Produk mereka bagus. Tapi penjualannya terus menurun. Sumber gambar: detik.com

Produk mereka bagus. Tapi penjualannya terus menurun. Sumber gambar: detik.com

Menurut analisa yang ada, masalah GoPro bukan (hanya) di harga retail mereka yang tergolong tinggi. Kamera flagship mereka, GoPro Hero 6 Black, kini dijual dengan harga $399 setelah sebelumnya di $499. Salah satu “masalah” mereka ada di kualitas. Action camera mereka terlalu bagus. Terlalu bagus sehingga orang malas melakukan upgrade. Pemilik GoPro Hero 4 melihat GoPro Hero 5 hampir tidak ada bedanya sehingga mereka tetap memakai Go

Spek yang tidak terlalu jauh. Sumber gambar: phandroid.com

Spek yang tidak terlalu jauh. Sumber gambar: phandroid.com

 Design juga tidak terlalu berbeda. Sumber gambar: youtube.com

Design juga tidak terlalu berbeda. Sumber gambar: youtube.com

Sepertinya Apple lebih pintar di bagian ini; karena mereka tetap bisa menjual produk upgrade walaupun tidak banyak perubahan yang dibawa. Untuk bagian ini GoPro perlu belajar lagi ke manajemen Apple tentang bagaimana membentuk fans loyal.

Deretan iPhone 10 tahun terakhir. Sumber gambar: mercurynews.com

Deretan iPhone 10 tahun terakhir. Sumber gambar: mercurynews.com

Dengan harga saham yang jatuh hingga 30% (menurut bursa saham NASDAQ), pemangkasan karyawan secara kontinyu, dan performa perusahaan yang terus menurun akibat penjualan produk yang seret membuat GoPro, Inc. harus melupakan independensi dan bergantung pada bantuan yang datang. Walau sampai hari ini belum nampak bala bantuan yang akan datang menyuntikkan dana segar ke perusahaan, tapi GoPro mungkin boleh berharap kalau mereka akan mendapatkan bantuan tersebut. Karena bagaimanapun, produk kamera outdoor GoPro memang berkualitas tinggi dan bisa menarik minat investor. Walau harga produk mereka tidak terlalu ramah pada rekening bank.

Bro sis punya kamera GoPro? Kualitasnya memang oke yah? Boleh komen di bawah jika punya opini soal GoPro!

About Author

Harry Rezqiano

Harry Rezqiano

Seimbangkan hidup. Tiap orang beda-beda caranya. Tapi semua orang perlu melakukannya. *Disclaimer: Tulisan ini adalah opini & pendapat pribadi serta bukan merupakan pandangan maupun kebijakan Ciayo Corp beserta afiliasinya. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial, Facebook: /HarryRezqiano | Twitter: @HarryRezqiano | Wattpad: /HarryRezqiano *

Comments

Most
Popular

(Sumber : Facebook @theghiblifamily)

List Film Ghibli yang Tayang Tahun 2018

Ghibli Studio juga akan kembali menayangkan beberapa film animasi terbaik mereka di Indonesia. Bro sis pecinta film Ghib.. more

Line Up Film Live Action yang Diadaptasi dari Animasi Disney

Siapa yang enggak tahu film animasi yang diproduksi Disney? Pernah enggak ngebayangin film animasi yang kita tonton kala.. more

Sumber: Eze Nkiri

Uwe Boll, Tersangka Utama Gagalnya Adaptasi Film Video Game

Kenapa ada anggapan kalau film adaptasi dari video game selalu jelek? Mungkin alasannya bisa ditanyakan ke sutradara yan.. more

Ataribox. Console terbaru dari Atari yang mencoba mencari momentum. Sumber gambar: techradar.com

Ataribox: Usaha Sia-Sia Atari Di Persaingan Sengit Console Masa Kini?

Atari. Pada masanya dulu, merk ini sangat berkuasa di jagat video game dunia. Jauh sebelum dunia video game yang kini.. more